Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

Osteoartritis (OA) berasal dari bahasa Yunani yaitu osteo yang berarti
tulang, arthro yang berarti sendi dan itis yang berarti inflamasi.1 Osteoartritis
merupakan penyakit penyakit sendi degeneratif yang belum diketahui secara pasti
penyebabnya, ditandai dengan kerusakan rawan sendi dan tulang subkondral
secara bertingkat dan menyebabkan nyeri pada sendi..1,2
Di Indonesia, OA merupakan penyakit reumatik yang paling banyak
ditemui dibandingkan kasus penyakit reumatik lainnya. Berdasarkan data Badan
Kesehatan Dunia (WHO), penduduk yang mengalami gangguan OA di Indonesia
tercatat mencapai 5% pada usia <40 tahun, 30% pada usia 40-60 tahun, dan 65%
pada usia >61 tahun. Untuk osteoarthritis lutut prevalensinya cukup tinggi yaitu
15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita.5
Osteoartritis dapat menyebabkan disfungsi dan disabilitas yang dapat
menghambat atau menganggu aktifitas sehari-hari bahkan dapat menimbulkan
kecacatan fisik bagi penderitanya. Untuk itu diperlukan tindakan penanggulangan
yang berupa tindakan rehabilitasi terapi dengan intervensi fisioterapi dari
rehabilitasi medik.
Oleh karena insiden osteoarthritis cukup tinggi dan pentingnya tindakan
rehabilitasi terapi pada pasien osteoarthritis, maka kami memilih kasus Pain in
Genu etcausa Osteoarthritis Genu Dextra sebagai Laporan Kasus.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Definisi
Osteoartritis berasal dari kata Yunani, yaitu osteo yang berarti tulang,
arthro yaitu sendi dan itis berarti radang atau inflamasi. Osteoartritis (OA) adalah
suatu kelainan sendi kronis (jangka lama) dimana terjadi proses pelemahan dan
disintegrasi dari tulang rawan sendi yang disertai dengan pertumbuhan tulang dan
tulang rawan baru pada sendi sehingga fungsi sendi berkurang bahkan sampai
hilang. Kelainan ini merupakan suatu proses degeneratif pada sendi yang dapat
mengenai satu atau lebih sendi. Setiap sendi memiliki resiko untuk terserang OA.
Daerah yang paling sering terserang OA adalah lutut, panggul, vertebra dan
pergelangan kaki.1,3

II. 2. Anatomi
Tulang pembentuk sendi lutut
Sendi lutut dibentuk oleh tulang femur, tulang tibia fibula dan tulang patella
yaitu:3
a. Tulang Femur
Tulang femur merupakan tulang pipa terpanjang dan tersebar di
dalam tulang kerangka pada bagian pangkal yang berhubungan dengan
asetabulum membentuk kepala sendi yang disebut kaput femoris. Di
sebelah atas dan bawah dari kolumna femoris terdapat taju yang disebut
trokhanter mayor dan trokantor minor, di bagian unjung membentuk
persendian lutut, terdapat dua tonjolan yang disebut kondilus medianus
dan kondilus lateralis. Diantara kedua kondilus ini terdapat lekukan
tempat letaknya tulang tempurung lutut (patella) yang disebut dengan
fossa kondilus.
b. Tulang Tibia
Tulang tibia merupakan tulang yang bentuknya lebih kecil, pada
bagian pangakal melekat pada tulang fibula, pada bagian ujung
membentuk persendian dengan tulang pangakan kaki dan terdapat taju
yang disebut tulang malleolus medianus.

2
c. Tulang Fibula
Tulang fibula merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang
paha yang membentuk persendian lutut dengan tulang femur pada bagian
ujungnya terdapat tonjolan yang disebut tulang malleolus lateralis atau
mata kaki luar.
d. Tulang Patella
Pada gerakan fleksi dan ekstensi patella akan bergerak pada tulang
femur. Jarak patella dengan tibia saat terjadi gerakan adalah tetap dan
yang berubah hanya jarak patella dan femur. Fungsi patella di samping
sebagai perekatan otot-otot atau tendon adalah sebagai pengungkit sendi
lutut. Pada kondisi 90 derajat kedudukan patella diantara kedua kondilus
femur dan saat ekstensi maka patella terletak pada permukaan anterior
femur.

Gambar 1. Anatomi sendi lutut normal3

Ligamentum
Untuk fungsi stabilisasi pasif sendi lutut dilakukan oleh ligamen.
Ligamen-ligamen yang terdapat pada sendi lutut adalah ligamen
cruciatum yang dibagi menjadi dua yaitu ligamen kruciatum anterior dan
ligamen cruciatum posterior. Ligamen collateral yang juga dibagi menjadi
dua bagian yaitu ligamen kollateral medial dan ligamen kollateral lateral.

3
Ligamen kruciatum merupakan ligamen terkuat pada sendi lutut.
Dinamakan ligamen cruciatum karena saling menyilang antara satu
dengan yang lain. Ligamen ini berada pada bagian depan dan belakang
sesuai dengan perlekatan pada tibia. Fungsi ligamen ini adalah menjaga
gerakan pada sendi lutut, membatasi gerakan ekstensi dan mencegah
gerakan rotasi pada posisi ekstensi, juga menjaga gerakan slide ke depan
dan ke belakang femur pada tibia dan sebagai stabilisasi bagian depan dan
belakang sendi lutut.

Gambar 2. Anatomi sendi lutut normal3

a) Ligamen kruciatum anterior


Ligamen kruciatum anterior membentang dari bagian anterior
fossa intercondyloid tibia melekat pada bagian lateral kondylus femur
yang berfungsi untuk mencegah gerakan slide tibia ke anterior terhadap
femur, menahan eksorotasi tibia pada saat fleksi lutut, mencegah
hiperekstensi lutut dan membantu saat rolling dan gliding sendi lutut.
b) Ligamen kruciatum posterior
Ligamen kruciatum posterior merupakan ligamen yang lebih
pendek dibanding dengan ligamen kruciatum anterior. Ligamen ini
berbentuk kipas membentang dari bagian posterior tibia ke bagian depan

4
atas dari fossa intercondyloid tibia dan melekat pada bagian luar depan
kondylus medialis femur. Ligamen ini berfungsi untuk mengontrol
gerakan slide tibia ke belakang terhadap femur, mencegah hiperekstensi
lutut dan memelihara stabilitas sendi lutut.
c) Ligamen kolateral medial
Ligamen kollateral medial merupakan ligamen yang lebar, datar
dan membranosus bandnya terletak pada sisi tengah sendi lutut. Ligamen
ini terletak lebih posterior di permukaan medial sendi tibiofemoral yang
melekat di atas epicondylus medial femur di bawah tuberculum adduktor
dan ke bawah menuju kondylus medial tibia serta pada medial meniscus.
Ligamen ini sering mengalami cidera dan fungsinya untuk menjaga
gerakan ekstensi dan mencegah gerakan ke arah luar.
d) Ligamen kolateral lateral
Ligamen kollateral lateral merupakan ligamen yang kuat dan
melekat di atas epicondylus femur dan di bawah permukaan luar caput
fibula. Fungsi ligamen ini adalah untuk mengawasi gerakan ekstensi dan
mencegah gerakan ke arah medial. Dalam gerak fleksi lutut ligamen ini
melindungi sisi lateral lutut.

Kapsul Sendi
Tulang-tulang pembentuk sendi dihubungkan satu dengan lainnya
oleh selubung yang disebut kapsula artikularis sebagai pembungkus yang
mengelilingi permukaan-permukaan sendi dan membungkus rapat ruang
sendi yang terdapat diantara tulang-tulang tersebut. Lapisan luar kapsila
arikularis (lamina fibrosa) merupakan salah satu struktur penting yang
mengikat tulang-tulang pembentuk sendi. Lamina fibrosa dapat menahan
regangan yang kuat. Lapisan dalam kapsula artikularis (lamina synovial)
dibentuk oleh membrane synovial yang mensekresikan cairan sinovial
(synovia) ke dalam ruang sendi ujung artikular tulang masanya membesar
dan mempunyai lapisan luar tulang yang tipis tetapi padat (kompakta),
disebelah dalamnya terdapat anyaman tulang spongiosa. Kapsul sendi

5
lutut ini termasuk jaringan fibrosus yang avascular sehingga jika cedera
sulit proses penyembuhan.
a. Cartilago articularis/tulang rawan
Pada sebagian besar sendi orang dewasa berjenis kartilago hyaline
dan merupakan jaringan yang avascular, alymphatic dan aneural yang
menutupi permukaan pesendian dari tulang panjang. Melekat pada tulang
subchondral. Fungsi dari cartilago articularis adalah sebagai bantalan
penutup tulang pada sendi sinovial, yang memungkinkan :
- Menahan tekanan pada permukaan persendian.
- Mentransmisikan dan mendistribusikan beban yang meningkat.
- Mempertahankan kontak dengan tahanan gesek minimal.
b. Meniscus
Meniscus merupakan jaringan lunak, menisces pada sendi lutut
adalah meniscus lateralis. Adapun fungsi meniscus adalah (1) penyebaran
pembebanan (2) peredam kejut (shock absorber) (3) mempermudah
gerakan rotasi (4) mengurangi gerakan dan stabilisator setiap penekanan
akan diserap oleh meniscus dan diteruskan ke sebuah sendi.
c. Bursa
Bursa adalah kantong yang berisi cairan yang berfungsi menjaga
agar tidak terjadi gesekan secara langsung mungkin otot dengan otot, otot
dengan tulang dan otot dengan kulit. Ada beberapa bursa yang terdapat
pada sendi lutut antara lain : (1) bursa popliteus, (2) bursa suprapatellaris,
(3) bursa infrapatellaris, (4) bursa subcutan prapatelaris, (5) busra sub
patellaris.6

6
Gambar 3. Anatomi sendi lutut normal dan OA6

II.3. Epidemiologi
Osteoartritis merupakan penyakit sendi pada orang dewasa yang paling
umum ditemukan di dunia. Satu dari tiga orang dewasa memiliki tanda-tanda
radiologis terhadap osteoartritis. OA pada lutut merupakan tipe OA yang paling
sering dijumpai. Penelitian epidemiologi menemukan bahwa kelompok umur 60-
64 tahun sebanyak 22%. Pada pria dengan kelompok umur yang sama, dijumpai
23% menderita OA pada lutut kanan, sementara 16,3% sisanya didapati menderita
OA pada lutut kiri. Berbeda halnya pada wanita yang terdistribusi merata, dengan
insiden OA pada lutut kanan sebanyak 24,2% dan pada lutut kiri sebanyak
24,7%.3

II.4. Etiologi
Sampai saat belum diketahui dengan pasti penyebab dari osteoartritis,
tetapi ada beberapa faktor resiko yang berhubungan dengan penyakit osteoartritis.4

a. Usia
Faktor resiko yang paling utama pada penyakit osteartritis adalah usia,
biasanya mengenai usia dewasa madya hingga lansia, tetapi sering pada
usia lebih dari 50 tahun. Prevalensi dan beratnya osteoartritis akan

7
meningkat sesuai dengan pertumbuhan umur, namun osteoartritis bukan
terjadi akibat pertumbuhan usia saja, melainkan juga dapat terjadi akibat
perubahan pada tulang rawan sendi.4

b. Jenis Kelamin
Prevalensi osteoartritis lebih meningkat pada jenis kelamin wanita
dibanding dengan pria, 3,2% : 3%. Diperkirakan hal ini terjadi akibat
perbedaan bentuk pinggul antara pria dan wanita.4

c. Faktor Herediter
Faktor herediter juga berpengaruh terhadap kejadian osteoartritis, misalnya
pada seorang ibu dengan osteoartritis pada sendi lutut, maka kemungkinan
anaknya berpeluang 3 kali lebih sering untuk terkena penyakit yang sama.4

d. Obesitas
Obesitas merupakan faktor risiko osteoartritis yang dapat dimodifikasi.
Selama berjalan, setengah berat badan bertumpu pada sendi lutut oleh
karena itu peningkatan berat badan akan melipat gandakan beban sendi
lutut saat berjalan.4

e. Trauma, Pekerjaan dan Olahraga


Cedera sendi pinggul akan menimbulkan perubahan retikular pada sendi
sehingga berdampak pada kejadian penyakit osteoartritis. Selain itu
pekerjaan yang berat akan menjadi penentu beratnya osteoartritis yang
dialami.4

II.5. Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis seperti nyeri pada sendi yang terkena terutama sewaktu
bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan, mula-mula terasa kaku,
kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang dengan istirahat. Terdapat hambatan
pada pergerakan sendi, kaku pagi, pembengkakan sendi dan perubahan gaya
berjalan.1

8
Lebih lanjut terdapat pembengkakan sendi dan krepitasi tulang. Daerah
predileksi OA biasanya mengenai sendi – sendi penyangga tubuh seperti di pada
lutut. Selain itu dapat juga terjadi pada sendi karpometakarpal I,
metatarsofalangeal I, apofiseal tulang belakang, lutut dan paha. Tanda-tanda
peradangan pada sendi tersebut tidak menonjol dan timbul belakangan, mungkin
dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri tekan, gangguan gerak, rasa
hangat dan kemerahan.3,4

II.6. Patofisiologi
Berdasarkan penyebabnya osteoartritis diklasifikasikan menjadi dua
kelompok, yaitu osteoartritis primer dan osteoartritis sekunder. Osteoartritis
primer disebut idiopatik karena disebabkan oleh faktor genetik yaitu dengan
adanya abnormalitas kolagen sehingga mudah rusak. Sedangkan osteoartritis
sekunder adalah penyakit yang didasari kelainan endokrin, inflamasi, metabolik,
pertumbuhan, mikro dan makro trauma, imobilitas yang terlalu lama serta faktor
risiko lainnya, seperti obesitas.4,5
Osteoartritis merupakan gangguan keseimbangan dari metabolisme
kartilago dengan kerusakan struktur yang penyebabnya masih belum diketahui.
Kondrosit adalah sel yang tugasnya membentuk proteglikan dan kolagen pada
rawan sendi. Osteoartritis terjadi akibat kondrosit gagal mensintesis matriks yang
berkualitas dan tidak mampu memelihara keseimbangan antara degradasi dan
sintesis matriks ekstraseluler termasuk produksi kolagen tipe I, III, VI dan X yang
berlebihan dan sintesis proteoglikan yang pendek. Hal tersebut menyebabkan
terjadinya perubahan pada diameter dan orientasi dari serat kolagen yang
mengubah biomekanik dari tulang rawan, sehingga tulang rawan sendi kehilangan
sifat kompresibilitasnya.6
Selain kondrosit, sinoviosit juga berperan pada patogenesis osteoartritis,
terutama setelah terjadi sinovitis, yang menyebabkan nyeri dan perasaan tidak
nyaman. Sinoviosit yang mengalami peradangan akan menghasilkan Matrix
Metalloproteinases (MMPs) dan berbagai sitokin yang akan dilepaskan ke dalam
rongga sendi dan merusak matriks rawan sendi serta mengaktifkan kondrosit.
Pada akhirnya tulang subkondral juga akan ikut berperan, dimana osteoblas akan

9
terangsang dan menghasilkan enzim proteolitik rawan sendi.4,5 Peningkatan
enzim-enzim yang merusak matriks tulang rawan sendi mengakibatkan terjadi
kerusakan fokal tilang rawan sendi secara progresif dan pembentukan tulang baru
pada dasar lesi tulang rawan sendi.6
Osteoartritis disebut sebagai penyakit degeneratif karena dengan
bertambahnya usia terjadi perubahan rawan sendi glikosiaminoglikan menjadi
memendek sehingga kemampuan proteoglikan untuk menahan air menjadi
berkurang. Hal ini akan mengakibatkan fungsi rawan sendi sebagai bantalan
terhadap beban sendi akan berkurang. Selain itu jaringan kolagen juga menjadi
patah-patah yang mengakibatkan timbulnya fisur pada rawan sendi.5

II.7. Diagnosis
Diagnosis pada osteoartritis didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik
serta pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis akan didapatkan gejala-gejala yang
sudah berlangsung lama, tetapi berkembang secara perlahan-lahan. 2 Gejala utama
adalah nyeri pada sendi yang terkena, terutama pada waktu bergerak. Awal mula
terasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang dengan istirahat. Terdapat
hambatan pada gerak sendi, biasanya semakin bertambah berat sejalan dengan
bertambahnya rasa nyeri. Kaku pada pagi hari dapat timbul setelah imobilisasi,
seperti duduk dalam waktu yang cukup lama atau setelah bangun tidur. Krepitasi
atau rasa gemeretak pada sendi yang sakit juga menjadi keluhan dari penderita
osteoartritis.1,4,5

Tes-tes provokasi yang dapat dilakukan untuk memeriksa sendi lutut:4,5,6,7


1. Tes McMurray
Tes ini merupakan tindakan pemeriksaan untuk mengungkapkan lesi
meniskus. Pada tes ini penderita berbaring terlentang. Dengan satu tangan
pemeriksa memegang tumit penderita dan tangan lainnya memegang lutut.
Tungkai kemudian ditekuk pada sendi lutut. Tungkai bawah eksorotasi/
endorotasi dan secara perlahan-lahan diekstensikan. Kalau terdengar bunyi
“klek‟ atau teraba sewaktu lutut diluruskan, maka meniskus medial atau
bagian posteriornya yang mungkin terobek.6

10
Gambar 4. Pemeriksaan McMurray

2. Anterior Drawer Test


Merupakan suatu tes untuk mendeteksi ruptur pada ligamen cruciatum lutut.
Penderita harus dalam posisi terlentang dengan panggul fleksi 45˚.Lutut fleksi
dan kedua kaki sejajar. Caranya dengan menggerakan tulang tibia ke atas
maka akan terjadi gerakan hiperekstresi sendi lutut dan sendi lutut akan terasa
kendor. Posisi pemeriksa di depan kaki penderita. Jika terdorong lebih dari
normal, artinya tes drawer positif.6

Gambar 5. Pemeriksaan Anterior Drawer Test

3. Posterior Drawer Test


Posterior Drawer Test sama halnya dengan Anterior Drawer Test, hanya saja
menggenggam tibia kemudian didorong kearah belakang.6

11
Gambar 6. Pemeriksaan Posterior Drawer Test

4. Lachman Test
Test Lachman dikelola dengan meletakkan lutut pada posisi fleksi kira-kira
dalam sudut 300, dengan tungkai diputar secara eksternal. Satu tangan dari
pemeriksaan menstabilkan tungkai bawah dengan memegang bagian akhir
atau ujung distal dari tungkai atas, dan tangan yang lain memegang bagian
proksimal dari tulang tibia, kemudian usahakan untuk digerakkan ke arah
anterior.6

Gambar 7. Pemeriksaan Lachman

5. Apley Compresion Test


Tes ini dilakukan untuk menentukan nyeri lutut yang disebabkan oleh
robeknya meniskus. Penderita dalam posisi berbaring tengkurap lalu tungkai
bawah ditekukkan pada sendi lutut kemudian dilakukan penekanan pada tumit
pasien. Penekanan dilanjutkan sambil memutar tungkai ke arah dalam
(endorotasi) dan luar (eksorotasi). Apabila pasien merasakan nyeri di samping
medial atau lateral garis persendian lutut maka lesi pada meniskus medial dan
lateral sangat mungkin ada.6

12
Gambar 8. Pemeriksaan Apley Compresion Test

6. Apley Distraction Test


Tes ini dilakukan untuk membedakan lesi meniskal atau ligamental pada
persendian lutut.Tindakan pemeriksaan ini merupakan kelanjutan dari Appley
Comppresion Test. Lakukan distraksi pada sendi lutut sambil memutar tungkai
bawah keluar dan kedalam dan lakukan fiksasi. Apabila pada distraksi
eksorotasi dan endorotasi itu terdapat nyeri maka hal tersebut disebabkan oleh
lesi di ligamen.6

Gambar 9. Pemeriksaan Apley Distraction Test


Pemeriksaan Penunjang:6,7
 Pemeriksaan radiologi foto polos lutut
 Pemeriksaan laboratorium darah
 Analisa cairan sendi

13
Diagnosis banding Osteoartritis
Sejumlah gangguan memiliki gambaran yang mirip dengan Osteoartritis,
beberapa tampak sebagai monoartritis dan yang lainnya sebagai poliartritis yang
mempengaruhi sendi jari.
1. Nekrosis Avaskuler
Osteonekrosis idiopatik menyebabkan nyeri sendi dan efusi lokal. Diagnosis
awal berdasarkan hasil MRI. Hasil sinar X selanjutnya biasanya patognomonik;
namun, setelah kerusakan tulang terjadi, perubahan pencitraan sinar X dapat
terlihat berbeda dengan Osteoartritis. Perbedaan utama adalah pada osteonekrosis,
tulang rawan artikular masih bertahan saat terjadi deformitas dan kerusakan tulang
yang progresif, sedangkan pada Osteoartritis hilangnya tulang rawan artikular
mendahului kerusakan tulang.
2. Artropati inflamasi
Rheumatoid arthritis, spondilitis ankilosis dan penyakit Reiter kemungkinan
mulai terjadi pada satu atau dua sendi besar.Terjadinya cepat dan ada tanda tanda
lokal peradangan.Hasil pencitraan dengan sinar X menunjukkan arthritis
didominasi atrofi atau erosi. Cepat atau lambat sendi lain juga akan terpengaruh
dan muncul gejala sistemik.
3. Poliartritis jari
Poliartikular Osteoartritis menyerupai gangguan lain yang mempengaruhi
sendi jari (lihat gambar 5.10). Pengamatan dari dekat menunjukkan beberapa
perbedaan. Nodal Osteoartritis terutama menyerang sendi proksimal.Psoriatik
arthritis adalah murni artropati destruktif tanpa nodus interfalangeal.Gout tofaseus
dapat menyebabkan penonjolan pada jari, dimana tonjolan tonjolan ini bukanlah
osteofit melainkan tofi. Pada pemeriksaan dengan sinar X akan terlihat
perbedaannya.
4. Diffuseidiopatic skeletal hyperostosis (DISH)
Ini adalah gangguan yang cukup sering menyerang orang paruh baya,
ditandai dengan proliferasi tulang pada ligament dan insersi tendon di sekitar
sendi perifer serta diskus invertebralis (Resnick et al., 1975).Pada pemeriksaan
sinar X terlihat tonjolan tulang besar yang sering dikira osteofit. DISH dan
Osteoartritis sering muncul bersamaan, tapi pada DISH tonjolan tulang

14
terdistribusi secara simetris, terutama di sepanjang apofisis panggul dan seluruh
kolumna vertebra. DISH biasanya muncul tanpa gejala.

A. Pemeriksaan Radiologis5,6
Derajat kerusakan sendi berdasarkan gambaran radiologis kriteria Kellgren
& Lawrence :6,7

(A) (B)

(C) (D)
Gambar 10. Kriteri Kellgren and Lawrence
(A) Derajat 1. (B) Derajat 2. (C) Derejat 3. (D )Derajat 4

1. Derajat 0 : radiologi normal.


2. Derajat 1 : penyempitan celah sendi meragukan.
3. Derajat 2 : osteofit dan penyempitan celah sendi yang jelas.
4. Derajat 3 : osteofit sedang dan multipel, penyempitan celah sendi,
sklerosis sedang dan kemungkinan deformitas kontur tulang.
5. Derajat 4 : osteofit yang besar, penyempitan celah sendi yang nyata,
sklerosis yang berat dan deformitas kontur tulang yang nyata.

15
The American College of Rheumatology menyusun kriteria diagnosis OA
lutut idiopatik berdasarkan pemeriksaan klinis dan radiologi sebagai berikut:7
Klinis dan Laboratorium Klinis dan radiologi Klinis
Nyeri lutut + minimal 5 Nyeri lutut + minimal 1 Nyeri lutut + minimal 3
dari 9 berikut : dari 3 berikut: dari 6 berikut :
 Umur > 50 tahun  umur> 50 tahun  umur> 50 tahun
 stiffness < 30 menit  stiffness < 30 menit  stiffness < 30 menit
 krepitasi  krepitasi + osteofit  krepitasi
 nyeri pada tulang  nyeri pada tulang
 pelebaran tulang  pelebaran tulang
 tidak hangat pada  tidak hangat pada
perabaan perabaan
 LED < 40mm/jam
 Rheumatoid factor
<1:40
 Cairan sinovial :
jernih, viscous,
leukosit <2000/mm3

II.8. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan osteoartritis adalah:7,8,9
1. Menghilangkan rasa nyeri
2. Mengurangi disabilitas
3. Memperbaiki fungsi sendi yang terkena
4. Menghambat progresifitas
Penatalaksanaan OA terdiri dari pengobatan/medikamentosa yang terdiri
dari analgesik dan anti inflamasi (sering digunakan NSAID) dan program
rehabilitasi medik. Program rehabilitasi medik yang sering dilakukan pada OA
dapat berupa:8,10
1. Fisioterapi
a. Terapi panas superfisial

16
Terapi panas superfisial yaitu panas hanya mengenai kutis atau jaringan sub
kutis saja (Hot pack, infra merah, kompres air hangat, paraffin bath)
Sedangkan terapi panas dalam, yaitu panas dapat menembus sampai ke
jaringan yang lebih dalam yang sampai ke otot,tulang, dan sendi Diatermi
gelombang mikro (MWD), Diatermi gelombang pendek (SWD), Diatermi
gelombang suara ultra (USD). Pada kasus OA digunakan SWD (short wave
diathermi) dan USD (ultra sound diathermi).8
b. Terapi dingin
Terapi dingin digunakan untuk melancarkan sirkulasi darah, mengurangi
peradangan, mengurangi spasme otot dan kekakuan sendi sehingga dapat
mengurangi nyeri. Dapat juga menggunakan es yangdikompreskan pada
sendi yang nyeri. Terapi dingin dapat berupa cryotherapy, kompres es dan
masase es.8
c. Terapi listrik
Yang digunakan adalah TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation).
TENS merupakan modalitas yang digunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan nyeri melalui peningkatan ambang rangsang nyeri.8
d. Hidroterapi
Hidroterapi bermanfaat untuk memberi latihan. Daya apung air akan
membuat ringan bagian atau ekstermitas yang direndam sehingga sendi
lebih mudah digerakan. Suhu air yang hangat akan membantu mengurangi
nyeri, relaksasi otot dan memberi rasa nyaman.8
e. Latihan penguatan otot
Latihan diketahui dapat meningkatkan dan mempertahankan pergerakan
sendi, menguatkan otot, meningkatkan ketahanan statik dan dinamik dan
meningkatkan fungsi yang menyeluruh.Latihan terdiri dari latihan pasif,
aktif, ketahanan, peregangan dan rekreasi.9
f. Ortotik Prostetik
Digunakan untuk mengembalikan fungsi, mencegah dan mengoreksi
kecacatan, menyangga berat badan dan menunjang anggota tubuh yang
sakit. Pada penderita OA biasa dilakukan rencana penggunaan knee brace
atau knee support.9

17
g. Terapi okupasi
Terapi okupasi meliputi latihan koordinasi aktivitas kehidupan sehari-
hari(AKS) untuk memberikan latihan pengembalian fungsi sehingga
penderita bisa melakukan kembali kegiatan/perkerjaan normalnya.9
h. Psikologi
Terapi psikologi diperlukan untuk pemberian motivasi dan penanaman
sugesti positif terhadap pasien agar mendapatkan kepercayaan dirinya
kembali untuk melakukan kegiatan sehari-hari.9
i. Sosial medik
Tujuannya adalah menyelesaikan/memecahkan masalah sosial yang
berkaitan dengan penyakit penderita, seperti masalah penderita dalam
keluarga maupun lingkungan masyarakat.9

BAB III
LAPORAN KASUS

18
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. R M
Tanggal Lahir : 6-10-1962
Umur : 56
No. RM : 210886
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kayu Batu
Agama : Kristen
Suku : Papua
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT
Tanggal Pemeriksaan : 5-11-2018

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Nyeri pada lutut kanan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang kepoli rehab medik dikonsulkan dari poli anestesi dengan
keluhan nyeri lutut sebelah kanan, nyeri dirasakan sejak ± 1 tahun, dan memberat
sejak 2 minggu yang lalu. Nyeri dirasakan memberat saat beraktivitas kadang dan
saat diistrahatkan nyeri berkurang. Ketika cuaca dingin dirasakan tambah nyeri
Kalau pas nyeri pasien susah berjalan. Nyeri yang dirasakan kadang sampe buat
kaki kaku susah digerakkan apalagi pas pagi hari. Kaki sebelah kanan dirasakan
bengkak. Pasien pernah ke poli nyeri untuk di sunti pada lututnya. Pasien pernah
terpleset sehingga kaki luka lecet. Dikeluarga pasien tidak ada yang mengalami
penyakit seperti pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu


- Riwayat Tekanan darah tinggi tidak ada

19
- Riwayat trauma ada (tahun 2015)
- Riwayat Kencing manis tidak ada
- Riwayat Penyakit Jantung tidak ada
- Riwayat Asma tidak ada
-Riwayat Pengobatan Paru tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga


Hanya penderita yang sakit seperti ini.
Riwayat Kebiasaan
Penderita merupakan ibu rumah tangga, perkerjaan sehari-hari berupa
menyapu, memasak (berdiri lama) dan mencuci. Penderita juga sering berbelanja
di pasar dengan berjalan kaki dan membawa keranjang belanja yang cukup berat.

Riwayat Sosisal Ekonomi


Penderita tinggal di rumah dengan suami di rumah berlantai satu, jumlah
kamar 2 dengan toilet jongkok. Sumber air adalah sumur bor atau pompa.

Riwayat Psikologis
Penderita merasa cemas dengan penyakit yang di derita karena penderita
takut penyakitnya bertambah parah, tidak dapat disembuhkan dan memperhambat
perkerjaan sehari-hari.

PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis

20
Kesadaran : Composmentis
Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
Tekanan Darah : 130/90mmHg
Nadi : 78 x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36,6oC
SpO2 : 99%
Berat Badan : 70kg
Tinggi Badan : 156 cm
BMI : 28,76 ( overweight)
STATUS GENERALIS
Kepala : Konjungtiva anemis ( - ), sklera ikterik ( - ), pupil bulat
isokor
diameter 3mm kiri = 3mm kanan, reflex cahaya ( +/+)
Leher : Trakea letak ditengah, pembesaran KGB ( - )
Thoraks : Simetris, retraksi ( - )
Cor : Bising ( - )
Pulmo : Ronkhi ( -/- ) Wheezing ( -/-)
Abdomen : Datar, lemas, bunyi usus ( + ) normal
Hepar/Lien : Tidak teraba
Ekstremitas : Ekstremitas superior : Akral hangat , capillary refill
<2 detik

2. Status Lokalis Regio Genu


Inspeksi : Deformitas ( -/- ) , kemerahan ( +/ -), atrofi ( -/+),
edema (+/ -)
Palpasi : Teraba hangat ( +/- ), Krepitasi ( +/ +)
Movement : Nyeri gerak ( +/+ )

21
3.

Lingkup Gerak Sendi (LGS) regio


genu dekstra dan sinistra

Dekstra Sinistra
Normal
Aktif Pasif Aktif Pasif
Fleksi 0-110º 0-110º 0-110º 0-110º 0 - 1350
Ekstensi 0-0º 0-0º 0-0º 00

22
Dekstra Sinistra Normal
Q angle 180 180 13-18º
Lingkar Paha 42 cm 41 cm

4. Status Motorik

Ekstremitas Inferior
Status Motorik
Dekstra Sinistra

Gerakan Normal Normal


Kekuatan otot 5/5/5/5 5/5/5/5
Tonus otot Normal Normal
Refleks fisiologis Normal Normal
Refleks patologis - -

5. Sensibilitas

Ekstremitas Inferior
Sensibilitas
Dekstra Sinistra
Eksteroseptif Normal Normal
Proprioseptif Normal Normal

6. Tes Provokasi
Pemeriksaan Dekstra Sinistra

Anterior drawer test - -

Posterior drawer test - -

McMurray’s test - -

Apley grinding test - -


Apley distraction test - -

23
RESUME
Seorang wanita 56 tahun datang dengan keluhan nyeri pada lutut kanan
sejak kurang lebih 1tahun yang lalu dan bertambah berat sejak 2 minggu terakhir.
Nyeri dirasakan hilang timbul, timbul saat berganti posisi (dari duduk ke berdiri
dan sari berdiri ke duduk) atau saat duduk dan berdiri terlalu lama. Nyeri
berkurang bila pasien beristirahat. Terdapat kaku pada pagi hari.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan edema dan nyeri gerak pada genu
dextra. Terdapat pula keterbatsan LGS genu (fleksi- ekstensi genu dextra : 0-
110º ; sinistra: 0-110º). Visual Analogue Scale dextra 6, sinistra 4.

DIAGNOSIS
Diagnosa klinik : Osteoartritis genu dextra
Diagnosa Etiologi : Degeneratif
Diagnosa Topis : Kartilago genu dextra
Diagnosa fungsional :
Impairment : Nyeri lutut kanan
Keterbatasan lingkup gerak sendi
Disabilitas : Gangguan aktifitas kehidupan sehari-hari
Handicap : tidak ada

PROBLEM
- Keterbatasan lingkup gerak sendi ( LGS ) genu dekstra
- Atrofi otot quadriceps region genu sinistra

PROGRAM
a. Fisioterapi
Evaluasi :
 Nyeri regio genu dekstra VAS genu dekstra 6
 Keterbatasan LGS genu dekstra

24
 Gangguan AKS seperti berdiri lama, duduk lama, perpindahan
posisi dari duduk ke berdiri dan dari berdiri ke duduk
Program :
 Terapi dingin pada genu dekstra
 Ultasound regio genu sinistra
 Latihan LGS aktif genu bilateral sesuai toleransi pasien
 Stretching musculus quadriceps dan hamstring
 Strengthening musculus quadriceps dan hamstring dengan
menggunakan sepeda statis
b. Okupasi Terapi :
Evaluasi :
 Nyeri regio genu dekstra, VAS genu dekstra 6 dan sinistra 4
 Gangguan AKS seperti berdiri lama, duduk lama, perpindahan
posisi dari duduk ke berdiri dan dari berdiri ke duduk, kesulitan
dalam toileting.
Program :
 Latihan atau edukasi melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-
hari dengan prinsip mengurangi beban pada sendi lutut (joint
protection).
c. Ortotik Prostetik
Evaluasi :
 Nyeri regio genu dekstra dan sinistra, VAS genu dekstra 6 dan
sinistra 4
 Gangguan AKS seperti berdiri lama, duduk lama, perpindahan
posisi dari duduk ke berdiri dan dari berdiri ke duduk, kesulitan
dalam toileting.
 Deformitas (-) tetapi terdapat masalah obesitas
Program :
 Rencana pemakaian Knee Brace, lutut kiri dan kanan

d. Psikologi
Evaluasi :

25
 Penderita merasa cemas terhadap penyakit yang diderita
Program :
 Memberi dukungan pada penderita agar rajin mengikuti terapi
dan kontrol secara teratur. Memberi dukungan mental pada
penderita agar tidak cemas dengan penyakit yang diderita.
e. Home Program dan Edukasi
 Mengurangi aktivitas yang berdampak besar pada lutut seperti naik
turun tangga, berjalan lama, serta berdiri dalam waktu yang lama.
 Posisi kaki lebih banyak diluruskan saat duduk (jangan ditekuk).
 Mengganti toilet jongkok dengan toilet duduk atau memodifikasi
toilet jongkok dengan kursi yang dilubangi.
 Kompres dengan es pada lutut.
 Kontrol ke poli rehabilitasi medic secara rutin
 Kontrol ke poli gizi untuk perencanaan diet

PROGNOSIS
Qua ad vitam : dubia ad bonam
Qua ad sanationam : dubia ad bonam
Qua ad functionam : dubia ad bonam

26
BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien merupakan seorang wanita berumur 56 tahun, datang dengan keluhan


nyeri pada lutut kanan sejak kurang lebih 1tahun yang lalu dan bertambah berat
sejak 2 minggu terakhir. Nyeri dirasakan hilang timbul yang muncul saat berganti
posisi (dari duduk ke berdiri dan sari berdiri ke duduk) atau saat duduk dan berdiri
terlalu lama. Nyeri dirasakan berkurang bila pasien beristirahat. Terdapat kaku
pada pagi hari. Penderita merupakan ibu rumah tangga, perkerjaan sehari-hari
berupa menyapu, memasak (berdiri lama) dan mencuci. Penderita juga sering
berbelanja di pasar dengan berjalan kaki dan membawa keranjang belanja yang
cukup berat. Pada tahun 2015 pasien pernah jatuh dan lututnya terbentur.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan edema dan nyeri gerak pada genu dextra.
Terdapat pula keterbatasan LGS genu (fleksi- ekstensi genu dextra : 0-110º ;
sinistra: 0-110º). Visual Analogue Scale dextra 6, sinistra 4.

27
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis dengan
penyakit Osteoartritis. Osteoartritis (OA) adalah suatu kelainan sendi kronis
(jangka lama) dimana terjadi proses pelemahan dan disintegrasi dari tulang rawan
sendi yang disertai dengan pertumbuhan tulang dan tulang rawan baru pada sendi
sehingga fungsi sendi berkurang bahkan sampai hilang. Kelainan ini merupakan
suatu proses degeneratif pada sendi yang dapat mengenai satu atau lebih sendi.
Daerah yang paling sering terserang OA adalah lutut, panggul, vertebra dan
pergelangan kaki.
Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti penyebab dari osteoartritis,
tetapi ada beberapa faktor resiko yang berhubungan dengan penyakit osteoartritis
antara lain usia, jenis kelamin dimana wanita lebih sering terkena ketimbang pria,
faktor herediter, obesitas, riwayat trauma, beban pekerjaan dan olahraga yang
terlalu berat.
The American College of Rheumatology menyusun kriteria diagnosis OA
lutut idiopatik berdasarkan pemeriksaan klinis dan radiologi sebagai berikut:7
Klinis dan Laboratorium Klinis dan radiologi Klinis
Nyeri lutut + minimal 5 Nyeri lutut + minimal 1 Nyeri lutut + minimal 3
dari 9 berikut : dari 3 berikut: dari 6 berikut :
 Umur > 50 tahun  umur> 50 tahun  umur> 50 tahun
 stiffness < 30 menit  stiffness < 30 menit  stiffness < 30 menit
 krepitasi  krepitasi + osteofit  krepitasi
 nyeri pada tulang  nyeri pada tulang
 pelebaran tulang  pelebaran tulang
 tidak hangat pada  tidak hangat pada
perabaan perabaan
 LED < 40mm/jam
 Rheumatoid factor
<1:40
 Cairan sinovial :
jernih, viscous,
leukosit <2000/mm3

28
Penatalaksanaan OA terdiri dari pengobatan/medikamentosa yang terdiri
dari analgesik dan anti inflamasi (sering digunakan NSAID) dan program
rehabilitasi medik.
Pasien ini direncanakan menjalani fisioterapi untuk mengevaluasi nyeri
regio genu dekstra, keterbatasan LGS genu dekstra, gangguan AKS seperti berdiri
lama, duduk lama, perpindahan posisi dari duduk ke berdiri dan sebaliknya
dengan program terapi dingin pada genu dekstra, Ultasound regio genu sinistra,
latihan LGS aktif genu bilateral sesuai toleransi pasien, stretching musculus
quadriceps dan hamstring, strengthening musculus quadriceps dan hamstring
dengan menggunakan sepeda statis. Pada terapi okupasi untuk mengevaluasi nyeri
regio genu dekstra, VAS genu dekstra 6 dan sinistra 4 serta gangguan AKS seperti
berdiri lama, duduk lama, perpindahan posisi dari duduk ke berdiri maupun
sebalinya, dan kesulitan dalam toileting, pasien diberi edukasi dan latihan
melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan prinsip mengurangi beban
pada sendi lutut (joint protection). Pasien direncanakan pemakaian Knee Brace
lutut kiri dan kanan untuk membantu gangguan AKS yang dialami pasien dan
mengurangi dampak dari kondisi obesitas pasien pada daerah sendi. Selain itu
pasien juga diedukasi untuk menngurangi aktivitas yang berdampak besar pada
lutut seperti naik turun tangga, berjalan lama, serta berdiri dalam waktu yang
lama. Posisi kaki lebih banyak diluruskan saat duduk (jangan ditekuk). Mengganti
toilet jongkok dengan toilet duduk atau memodifikasi toilet jongkok dengan kursi
yang dilubangi. Kompres dengan es pada lutut, kontrol ke poli rehabilitasi medic
secara rutin dan kontrol ke poli gizi untuk perencanaan diet

29
BAB V
KESIMPULAN

Osteoartritis (OA) adalah suatu kelainan sendi kronis (jangka lama)


dimana terjadi proses pelemahan dan disintegrasi dari tulang rawan sendi
yang disertai dengan pertumbuhan tulang dan tulang rawan baru pada sendi
sehingga fungsi sendi berkurang bahkan sampai hilang.
Osteoarthritis dapat menyebabkan kecacatan pada penderita jika tidak
mendapatkan tatalaksana yang tepat. Penatalaksanaan rehabilitasi medik pada
pasien ini dapat dilakukan dengan program latihan stretching dan penguatan
otot quadriceps.

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Rosjad C. Kelainan Degeneratif Tulang dan Sendi. Dalam : Pengantar Ilmu


Bedah Ortopedi. Ujung Pandang : Bintang Lamumpatue, 2003;1197-235.
2. Braunwald E, Fauci AS, et al. Degenerative joint disease. In:
Harrison‟smanual of medicine 15 thed. Boston: McGraw-Hill:
2012;748-49.
3. Vogelgesang S. Osteoartritis. In: West SG, editor. Rheumatology secrets,2nd
edition. Philadelphia: Hanley & Belfus Inc, 2002;365-74.
4. Erwinanti E. Perbandingan terapi osteoartritis lutut menggunakan SWD
dengan atau tanpa latihan di RSUP Dr. Kariadi Semarang [skripsi]. Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang; 2010.
5. Reni H. Masduchi. Rehabilitasi Nyeri pada Sendi Degeneratif. SMF/Bagian
Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RSU dr.Soetomo/FK UNAIR. PKB
Rehabilitasi Medik, Surabaya: 2005

31
6. Vogelgesang S. Osteoarthritis. In: West SG, editor. Rheumatology secrets,2nd
edition. Philadelphia: Hanley & Belfus Inc, 2012;365-74.

32