Anda di halaman 1dari 53

Klasifikasi Cekungan

Klasifikasi cekungan berdasarkan tektonik lempeng telah banyak dikembang


kan oleh banyak penulis. Morgan (1968), Le Pichon (1968), Isak et al (1968),
Dickinson (1974) dan lain-lainnya telah memberikan pemahaman dasar tentang
pengelompokan tatanan tektonik cekunganyang mengunakan elemen dasar dari
batas lempeng di konsep tektonik lempeng, sepertitumbukan (convergent ),
pemekaran (divergent ), pergeseran (transform)

Beberapa klasifikasicekungan berdasarkan tektonik lempeng telah ditulis


antara lain Klemme (1980), Bally danSnalson (1980) yang dimodifikasi oleh John
(1984), Stoneley (1981), Kingston et al. (1983),Helwig (1985).Tatanan tektonik
cekungan yang timbul dari tiga batas lempeng dan fitur-fitur
ikutannyatelah menjadi dasar untuk klasifikasi cekungan (Klemme, 1980; Stoneley
, 1981) yangkelihatan menawarkan kerangka klasifikasi obyektif dan
komprehensif.
Namundemikian penggunaan pengelompokan tektonik untuk cekungan kada
ng mengesampingkan perubahanvariasi dan kekomplekan evolusi tektonik stratigra
finya, atau terkadang satu rangkaiancekungan yang panjang berassosiasi dengan
subduksi dianggap sebagai satu jenis cekungandengan asal usul yang sama.

 Klasifikasi Klemme (1980) terlihat tidak konsisten dari sudut tektonik


lempengdengan dimasukannya delta sebagai salah satu klasifikasi cekungan,
dan kerak samudera tidakdipertimbangkan sebagai pembentuk cekungan.
 Bally dan Snalson (1980), John (1984)memberikan pendekatan yang lebih
lengkap dengan memasukan parameter tektonik cekunganyang lebih luas,
memasukan parameter mekanikal, termal, litologi penyusun. Klasifikasi
Ballytelah dicoba diterapkan namun terlihat bahwa penerapan lebih
applikatif di pinggir benuadengan skala yang luas.
 Stoneley (1981) menawarkan klasifikasi dengan mempertimbangkan posisi t
ektonik, bentuk dan mekanikal cekungan serta kreteria modifikasi yaitu pre-
basin litosfir, geometridan peristiwa post- basin. Klasifikasi ini
terkesan sangat terpadu namun belum menjawab bagaimana sebuah
cekungan dapat berubah secara vertikal sesuai evolusi tektonik
stratigrafinya.Unsur sediment fan dan erosional membuat penerapan
klasifikasi ini sedikit campur adukdengan terminologi sedimentologi.
 Klasifikasi Kingston et al. (1983) menawarkan klasifikasi cekungan yang
lebih terbukadan dapat menjawab perubahan cekungan akibat evolusi
tektonik stratigrafi. Klasifikasi inimenawarkan penamaan dalam skala luas
dan luwes sampai ke dalam skala sub basin untuk keperluan lebih detail,
sehingga terkesan rumit. Pemakaian istilah baru yang terdengar asing
Lingkungan Pengendapan
LINGKUNGAN PENGENDAPAN

Lingkungan pengendapan adalah bagian dari permukaan bumi dimana proses fisik,
kimia dan biologi berbeda dengan daerah yang berbatasan dengannya (Selley,
1988). Sedangkan menurut Boggs (1995) lingkungan pengendapan adalah
karakteristik dari suatu tatanan geomorfik dimana proses fisik, kimia dan biologi
berlangsung yang menghasilkan suatu jenis endapan sedimen tertentu. Nichols
(1999) menambahkan yang dimaksud dengan proses tersebut adalah proses yang
berlangsung selama proses pembentukan, transportasi dan pengendapan sedimen.
Perbedaan fisik dapat berupa elemen statis ataupun dinamis. Elemen statis antara
lain geometri cekungan, material endapan, kedalaman air dan suhu, sedangkan
elemen dinamis adalah energi, kecepatan dan arah pengendapan serta variasi angin,
ombak dan air. Termasuk dalam perbedaan kimia adalah komposisi dari cairan
pembawa sedimen, geokimia dari batuan asal di daerah tangkapan air (oksidasi dan
reduksi (Eh), keasaman (Ph), salinitas, kandungan karbon dioksida dan oksigen
dari air, presipitasi dan solusi mineral). Sedangkan perbedaan biologi tentu saja
perbedaan pada fauna dan flora di tempat sedimen diendapkan maupun daerah
sepanjang perjalanannya sebelum diendapkan.
Permukaan bumi mempunyai morfologi yang sangat beragam, mulai dari
pegunungan, lembah sungai, pedataran, padang pasir (desert), delta sampai ke laut.
Dengan analogi pembagian ini, lingkungan pengendapan secara garis besar dapat
dibagi menjadi tiga kelompok, yakni darat (misalnya sungai, danau dan gurun),
peralihan (atau daerah transisi antara darat dan laut; seperti delta, lagun dan daerah
pasang surut) dan laut. Banyak penulis membagi lingkungan pengendapan
berdasarkan versi masing-masing. Selley (1988) misalnya, membagi lingkungan
pengendapan menjadi 3 bagian besar: darat, peralihan dan laut . Namun beberapa
penulis lain membagi lingkungan pengendapan ini langsung menjadi lebih rinci
lagi. Lingkungan pengendapan tidak akan dapat ditafsirkan secara akurat hanya
berdasarkan suatu aspek fisik dari batuan saja. Maka dari itu untuk menganalisis
lingkungan pengendapan harus ditinjau mengenai struktur sedimen, ukuran butir
(grain size), kandungan fosil (bentuk dan jejaknya), kandungan mineral, runtunan
tegak dan hubungan lateralnya, geometri serta distribusi batuannya.

Fasies merupakan bagian yang sangat penting dalam mempelajari ilmu


sedimentologi. Boggs (1995) mengatakan bahwa dalam mempelajari lingkungan
pengendapan sangat penting untuk memahami dan membedakan dengan jelas
antara lingkungan sedimentasi (sedimentary environment) dengan lingkungan
facies (facies environment). Lingkungan sedimentasi dicirikan oleh sifat fisik,
kimia dan biologi yang khusus yang beroperasi menghasilkan tubuh batuan yang
dicirikan oleh tekstur, struktur dan komposisi yang spesifik. Sedangkan facies
menunjuk kepada unit stratigrafi yang dibedakan oleh litologi, struktur dan
karakteristik organik yang terdeteksi di lapangan. Kata fasies didefinisikan yang
berbeda-beda oleh banyak penulis. Namun demikian umumnya mereka sepakat
bahwa fasies merupakan ciri dari suatu satuan batuan sedimen. Ciri-ciri ini dapat
berupa ciri fisik, kimia dan biologi, seperti ukuran tubuh sedimen, struktur
sedimen, besar dan bentuk butir, warna serta kandungan biologi dari batuan
sedimen tersebut. Sebagai contoh, fasies batupasir sedang bersilangsiur (cross-bed
medium sandstone facies). Beberapa contoh istilah fasies yang dititikberatkan pada
kepentingannya:

Litofasies: didasarkan pada ciri fisik dan kimia pada suatu batuan Biofasies:
didasarkan pada kandungan fauna dan flora pada batuan Iknofasies: difokuskan
pada fosil jejak dalam batuan
Berbekal pada ciri-ciri fisik, kimia dan biologi dapat dikonstruksi lingkungan
dimana suatu runtunan batuan sedimen diendapkan. Proses rekonstruksi tersebut
disebut analisa fasies.

Klasifikasi lingkungan pengendapan (Selley, 1988)


1. Terestrial Padang pasir (desert)
2. Glasial
3. Daratan
4. Sungai
5. Encer (aqueous) Rawa (paludal)
6. Lakustrin
7. Delta
8. Peralihan
9. Estuarin
10. Lagun
11. Litoral (intertidal)
12. Reef
13. Laut
14. Neritik ( kedalaman 0-200 m)
15. Batial ( kedalaman 200-2000 m)
16. Abisal ( kedalaman > 2000 m)

LINGKUNGAN SUNGAI
Berdasarkan morfologinya sistem sungai dikelompokan menjadi 4 tipe sungai,
sungai lurus (straight), sungai teranyam (braided), sungai anastomasing, dan sungai
kekelok (meandering).

Gambar : Klasifikasi Sungai


1. Sungai Lurus (Straight)
Sungai lurus umumnya berada pada daerah bertopografi terjal mempunyai energi
aliran kuat atau deras. Energi yang kuat ini berdampak pada intensitas erosi
vertikal yang tinggi, jauh lebih besar dibandingkan erosi mendatarnya. Kondisi
seperti itu membuat sungai jenis ini mempunyai pengendapan sedimen yang
lemah, sehingga alirannya lurus tidak berbelok-belok (low sinuosity). Karena
kemampuan sedimentasi yang kecil inilah maka sungai tipe ini jarang yang
meninggalakan endapan tebal. Sungai tipe ini biasanya dijumpai pada daerah
pegunungan, yang mempunyai topografi tajam. Sungai lurus ini sangat jarang
dijumpai dan biasanya dijumpai pada jarak yang sangat pendek.

2. Sungai Kekelok (Meandering)


Sungai kekelok adalah sungai yang alirannya berkelok-kelok atau berbelok-belok .
Leopold dan Wolman (1957) dalam Reineck dan Singh (1980) menyebut sungai
meandering jika sinuosity-nya lebih dari 1.5. Pada sungai tipe ini erosi secara
umum lemah sehingga pengendapan sedimen kuat. Erosi horisontalnya lebih besar
dibandingkan erosi vertikal, perbedaan ini semakin besar pada waktu banjir. Hal
ini menyebabkan aliran sungai sering berpindah tempat secara mendatar. Ini terjadi
karena adanya pengikisan tepi sungai oleh aliran air utama yang pada daerah
kelokan sungai pinggir luar dan pengendapan pada kelokan tepi dalam. Kalau
proses ini berlangsung lama akan mengakibatkan aliran sungai semakin bengkok.
Pada kondisi tertentu bengkokan ini terputus, sehingga terjadinya danau bekas
aliran sungai yang berbentuk tapal kuda atau oxbow lake.

3. Sungai Teranyam (Braided)


Sungai teranyam umumnya terdapat pada daerah datar dengan energi arus
alirannya lemah dan batuan di sekitarnya lunak. Sungai tipe ini bercirikan debit air
dan pengendapan sedimen tinggi. Daerah yang rata menyebabkan aliran dengan
mudah belok karena adanya benda yang merintangi aliran sungai utama.
Tipe sungai teranyam dapat dibedakan dari sungai kekelok dengan sedikitnya
jumlah lengkungan sungai, dan banyaknya pulau-pulau kecil di tengah sungai yang
disebut gosong. Sungai teranyam akan terbentuk dalam kondisi dimana sungai
mempunyai fluktuasi dischard besar dan cepat, kecepatan pasokan sedimen yang
tinggi yang umumnya berbutir kasar, tebing mudah tererosi dan tidak kohesif
(Cant, 1982). Biasanya tipe sungai teranyam ini diapit oleh bukit di kiri dan
kanannya. Endapannya selain berasal dari material sungai juga berasal dari hasil
erosi pada bukit-bukit yang mengapitnya yang kemudian terbawa masuk ke dalam
sungai. Runtunan endapan sungai teranyam ini biasanya dengan pemilahan dan
kelulusan yang baik, sehingga bagus sekali untuk batuan waduk (reservoir).
Umumnya tipe sungai teranyam didominasi oleh pulau-pulau kecil (gosong)
berbagai ukuran yang dibentuk oleh pasir dan krikil. Pola aliran sungai teranyam
terkonsentrasi pada zona aliran utama. Jika sedang banjir sungai ini banyak
material yang terbawa terhambat pada tengah sungai baik berupa batang
pepohonan ataupun ranting-ranting pepohonan. Akibat sering terjadinya banjir
maka di sepanjang bantaran sungai terdapat lumpur yang mendominasi hampir di
sepanjang bantaran sungai.

4. Sungai Anastomasing
Sungai anastomasing terjadi karena adanya dua aliran sungai yang bercabang-
cabang, dimana cabang yang satu dengan cabang yang lain bertemu kembali pada
titik dan kemudian bersatu kembali pada titik yang lain membentuk satu aliran.
Energi alir sungai tipe ini rendah. Ada perbedaan yang jelas antara sungai
teranyam dan sungai anastomosing. Pada sungai teranyam (braided), aliran sungai
menyebar dan kemudian bersatu kembali menyatu masih dalam lembah sungai
tersebut yang lebar. Sedangkan untuk sungai anastomasing adalah beberapa sungai
yang terbagi menjadi beberapa cabang sungai kecil dan bertemu kembali pada
induk sungai pada jarak tertentu . Pada daerah onggokan sungai sering diendapkan
material halus dan biasanya ditutupi oleh vegetasi.

LACUSTRIN
Lacustrin atau danau adalah suatu lingkungan tempat berkumpulnya air yang tidak
berhubungan dengan laut. Lingkungan ini bervariasi dalam kedalaman, lebar dan
salinitas yang berkisar dari air tawar hingga hipersaline. Pada lingkungan ini juga
dijumpai adanya delta, barried island hingga kipas bawah air yang diendapkan
dengan arus turbidit. Danau juga mengendapkan klastika dan endapan karbonat
termasuk oolit dan terumbu dari alga. Pada daerah beriklim kering dapat terbentuk
endapan evaporit. Endapan danau ini dibedakan dari endapan laut dari kandungan
fosil dan aspek geokimianya.

Danau dapat terbentuk melalui beberapa mekanisme, yaitu berupa pergerakan


tektonik sebagai pensesaran dan pemekaran; proses glasiasi seperti ice scouring,
ice damming dan moraine damming (penyumbatan oleh batu); pergerakan tanah
atau hasil dari aktifitas volkanik sebagai penyumbatan lava atau danau kawah hasil
peledakan.

Visher (1965) dan Kukal (1971) dalam selley (1988) membagi lingkungan
lacustrin menjadi dua yaitu danau permanen dan danau ephemeral . Danau
permanen mempunyai 4 model dan danau ephemeral mempunyai 2 model seperti
yang terlihat pada gambar.

Gambar : Profil Lacustrine

DANAU PERMANEN
Danau permanen model pertama adalah danau yang terisi oleh endapan klastika
yang terletak di daerah pegunungan. Danau ini mempunyai hubungan dengan
lingkungan delta sungai yang berkembang ke arah danau dengan mengendapkan
pasir dan sedimen suspensi berukuran halus. Ciri dari endapan danau ini dan juga
endapan model lainnya adalah berupa varve yaitu laminasi lempung yang reguler.
Pada endapan danau periglasial, varves berbentuk perselingan antara lempung dan
lanau. Lanau diendapkan pada saat mencairnya es, sedangkan lempung diendapkan
pada musim dingin dimana tidak ada air sungai yang mengallir ke danau. Contoh
danau ini adalah Danau Costance dan Danau Zug di Pegunungan Alpen.

Danau permanen model kedua adalah danau yang terletak di dataran rendah
dengan iklim yang hangat. Material yang dibawa oleh sungai dalam jumlah yang
sedikit. Endapan karbonat terbentuk pada daerah yang jauh dari mulut sungai
disekitar pantai. Cangkang-cangkang molluska dijumpai pada endapan pantai,
yang dapat membentuk kalkarenit jika energi gelombang cukup besar. Kearah
dalam dijumpai adanya ganggang merah berkomposisi gampingan. Contoh danau
ini adalah Danau Schonau di Jerman dan Danau Great Ploner di Kanada Selatan.
Danau permanen model ketiga adalah danau dengan endapan sapropelite (lempung
kaya akan organik) pada bagian dalam yang dikelilingi oleh karbonat di daerah
dangkal. Endapan pantai berupa ganggang dan molluska.

Danau permanen model ke empat dicirikan oleh adanya marsh pada daerah
dangkal yang kearah dalam menjadi sapropelite. Contoh dari danau ini adalah
Danau Gytta di Utara Kanada.

DANAU EPHERMAL
Danau ephemeral adalah danau yang terbentuk dalam jangka waktu yang pendek di
daerah gurun dengan iklim yang panas. Hujan hanya terjadi sesekali dalam
setahun.
Danau playa antar-gunung pada bagian dekat pegunungan berupa fan alluvial
piedmont yang kearah luar berubah menjadi pasir dan lempung. Ciri dari danau
playa ini adalah lempung berwarna merah-coklat yang setempat disisipi oleh lanau
dan gamping. Contoh danau ini adalah Danau Qa Saleb dan Qa Disi di Jordania.
Karena adanya pengaruh evaporasi, danau ephemeral ini dapat membentuk
endapan evaporite pada lingkungan sabkha. Contoh dari danau ini adalah Danau
Soda di Amerika Utara dan di Gurun Sahara dan Arab.

LAGUN ( LAGOON )
Lagun adalah suatu kawasan berair dangkal yang masih berhubungan dengan laut
lepas, dibatasi oleh suatu punggungan memanjang (barrier) dan relatif sejajar
dengan pantai (Gambar VII.15). Maka dari itu lagun umumnya tidak luas dan
dangkal dengan energi rendah. Beberapa lagun yang dianggap besar, misalnya
Leeward Lagoon di Bahama luasnya hanya 10.000 km dengan kedalaman + 10 m
(Jordan, 1978, dalam Bruce W. Sellwood, 1990).

Akibat terhalang oleh tanggul, maka pergerakan air di lagun dipengaruhi oleh arus
pasang surut yang keluar/masuk lewat celah tanggul (inlet). Kawasan tersebut
secara klasik dikelompokkan sebagi daerah peralihan darat - laut (Pettijohn, 1957),
dengan salinitas air dari tawar (fresh water) sampai sangat asin (hypersalin).
Keragaman salinitas tersebut akibat adanya pengaruh kondisi hidrologi, iklim dan
jenis material batuan yang diendapkan di lagun. Lagun di daerah kering memiliki
salinitas yang lebih tinggi dibanding dengan lagun di daerah basah (humid), hal ini
dikarenakan kurangnya air tawar yang masuk ke daerah itu.
Berdasarkan batasan-batasan tersebut diatas maka batuan sedimen lagun sepintas
kurang berarti dalam aspek geologi. Akan tetapi bila diamati lebih rinci mengenai
aspek lingkungan pengendapannya, lagun akan dapat bertindak sebagai penyekat
perangkap stratigrafi minyak.

Transportasi material sedimen di lagun dilakukan oleh, air pasang energi ombak,
angin yang dengan sendirinya dikendalikan iklim sehingga akan mempengaruhi
kondisi biologi dan kimia lagun. Endapan delta (tidal delta) dapat terbentuk
dibagian ujung alur pemisah tanggul, yaitu didalam lagun atau dibagian laut
terbuka (Boggs, 1995). Material delta tersebut agak kasar sebagai sisipan pada
fraksi halus, yaitu bila terjadi aktifitas gelombang besar yang mengerosi tanggul
dan terendapkan di lagun melalui celah tersebut.

Bentuk dan Genesa Lagun


Bentuk dan genesa lagun berkaitan erat dengan genesa tanggul (barrier), sehingga
dalam hal ini mencirikan pula kondisi geologi dan fisiografi daerah lagun. Bentuk
lagun umunnya memanjang relatif sejajar dengan garis panti sedangkan yang
dibatasi oleh atol reef bentuk lagunnya relatif melingkar.

Bentuk lagun yang memanjang sejajar garis pantai terjadi apabila tanggul relatif
sejajar dengan garis pantai yang disusun oleh reef ataupun berupa sedimen klasik
yang lain misalnya satuan batu pasir. Lagun yang dibatasi atol reef terbentuk
relatip bersamaan dengan pembentukan atol, akibat proses penurunan dasar
cekungan (tempat reef tumbuh) kecepatnya seimbang dengan pembentukan reef.
Kondisi muka-laut juga berpengaruh terhadap lagun. Pada laut yang konstan maka
dibagian bawah lagun akan terendapkan sedimen klastik halus yang kemudian
ditutupi oleh rawa - rawa dengan ketebalan mencapai setengah tinggi air pasang.
Kontak antara batuan sedimen dan batuan di bawahnya adalah horizontal. Satuan
batuan fraksi halus dengan sisipan batubara muda (peat) di daerah rawa akan
berhubungan saling menjari dengan batupasir di daerah tanggul. Selain itu batuan
sedimen lagun yang menebal ke atas dan menumpang di bagian atas shoreface
biasanya terjadi menyertai proses transgresi. Lagun juga dapat terbentuk pada
daerah tektonik estuarine (Fairbridge RW, 1980 dalam Boggs, 1995) yang
disebabkan oleh aktivitas tektonik sehingga terjadi pengangkatan di bagian tepi
pantai dan membelakangi bagian rendahan yang membentuk lagun.

Lingkungan Pengendapan
Lingkungan lagun karena ada tanggul maka berenergi rendah sehingga material
yang diendapkan berupa fraksi halus, kadang juga dijumpai batupasir dan
batulumpur. Beberapa lagun yang tidak bertindak sebagai muara sungai, maka
material yang diendapkan didominasi oleh material marin. Material pengisi lagun
dapat berasal dari erosi barrier (wash over) yang berukuran pasir dan lebih kasar.
Apabila ada penghalang berupa reef, dapat juga dijumpai pecahan-pecahan
cangkang di bagian backbarier atau di tidal delta. Akibat angin partikel halus dari
tanggul dapat terangkut dan diendapkan di lagun. Angin tersebut dapat juga
menyebabkan terjadinya gelombang pasang yang menerpa garis pantai dan
menimbulkan energi tinggi sehingga terjadi pengikisan dan pengendapan fraksi
kasar. Struktur sedimen yang berkembang umumnya pejal (pada batulempung abu-
abu gelap) dengan sisipan tipis batupasir halus (batulempung Formasi Lidah di
Kendang Timur), gelembur - gelombang dengan beberapa internal small scale
cross lamination yang melibatkan batulempung pasiran. Struktur bioturbasi sering
dijumpai pada batulempung pasiran (siltstone) yang bersisipan batupasir dibagian
dasar lagun (Boggs, 1995). Batupasir tersebut ditafsirkan sebagai hasil endapan
angin, umumnya berstruktur perarian sejajar dan kadang juga berstruktur ripple
cross-lamination.

DELTA

Gambar : Lingkungan Delta


Kata Delta digunakan pertama kali oleh Filosof Yunani yang bernama Herodotus
pada tahun 490 SM, dalam penelitiannya pada suatu bidang segitiga yang dibentuk
oleh oleh alluvial pada muara Sungai Nil.
Sebagian besar Delta modern saat ini berbentuk segitiga dan sebagian besar
bentuknya tidak beraturan . Bila dibandingkan dengan Delta yang pertama kali
dinyatakan oleh Herodotus pada sungai nil. Ada istilah lain dari Delta adalah
seperti yang dikemukakan oleh Elliot dan Bhatacharya (Allen, 1994) adalah
“Discrette shoreline proturberance formed when a river enters an ocean or other
large body of water”.

Proses pembentukan delta adalah akibat akumulasi dari sedimen fluvial (sungai)
pada “lacustrine” atau “marine coastline”. Delta merupakan sebuah lingkungan
yang sangat komplek dimana beberapa faktor utama mengontrol proses distribusi
sedimen dan morfologi delta, faktor-faktor tersebut adalah regime sungai, pasang
surut (tide), gelombang, iklim, kedalaman air dan subsiden (Tucker, 1981). Untuk
membentuk sebuah delta, sungai harus mensuplai sedimen secara cukup untuk
membentuk akumulasi aktif, dalam hal ini prograding system. Secara sederhana ini
berarti bahwa jumlah sedimen yang diendapkan harus lebih banyak dibandingkan
dengan sedimen yang terkena dampak gelombang dan pasang surut. Dalam
beberapa kasus, pengendapan sedimen fluvial ini banyak berubah karena faktor
diatas, sehingga banyak ditemukan variasi karakteristik pengendapan sedimennya,
meliputi distributary channels, river-mouth bars, interdistributary bays, tidal flat,
tidal ridges, beaches, eolian dunes, swamps, marshes dan evavorites flats
(Coleman, 1982).
Ketika sebuah sungai memasuki laut dan terjadi penurunan kecepatan secara
drastis, yang diakibatkan bertemunya arus sungai dengan gelombang, maka
endapan-endapan yang dibawanya akan terendapkan secara cepat dan terbentuklah
sebuah delta.

Deposit (endapan) pada delta purba telah diteliti dalam urutan umur stratigrafi, dan
sedimen yang ada di delta sangat penting dalam pencarian minyak, gas, batubara
dan uranium. Delta - delta modern saat ini berada pada semua kontinen kecuali
Antartica. Bentuk delta yang besar diakibatkan oleh sistem drainase yang aktif
dengan kandungan sedimen yang tinggi.

Klasifikasi dan pengendapan delta


Berdasarkan sumber endapannya, secara mendasar delta dapat dibedakan menjadi
dua jenis (Nemec, 1990 dalam Boggs, 1995), yaitu:
1. Non Alluvial Delta
a. Pyroklastik delta
b. Lava delta
2. Alluvial Delta
a. River Delta
Pembentukannya dari deposit sungai tunggal.
b. Braidplain Delta
Pembentukannya dari sistem deposit aliran “teranyam”
c. Alluvial fan Delta
Pembentukannya pada lereng yang curam dikaki gunung yang luas yang dibawa
air.
d. Scree-apron deltas
Terbentuk ketika endapan scree memasuki air.

Pada tahun 1975, M.O Hayes (Allen & Coadou, 1982) mengemukakan sebuah
konsep tentang klasifikasi coastal yang didasarkan pada hubungan antara kisaran
pasang surut (mikrotidal, mesotidal dan makrotidal) dan proses sedimentologi.
Pada tahun 1975, Galloway (Allen & Coadou, 1982) menggunakan konsep in
dalam penerapannya terhadap aluvial delta, sehingga disimpulkan klasifikasi delta
berdasarkan pada delta front regime dibagi menjadi tiga , yaitu :
1. Fluvial-dominated Delta
2. Tide-dominated Delta
3. Wave-dominated Delta

Fisiografi Delta
Berdasarkan fisiografinya, delta dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian utama ,
yaitu :
1. Delta plain
2. Front Delta
3. Prodelta
Gambar : Fisografi Delta dan Litologi

Gambar : Gambar : Fisografi Delta dan Litologi


Delta plain
Delta plain merupakan bagian kearah darat dari suatu delta. Umumnya terdiri dari
endapan marsh dan rawa yang berbutir halus seperti serpih dan bahan-bahan
organik (batubara). Delta plain merupakan bagian dari delta yang karakteristik
lingkungannya didominasi oleh proses fluvial dan tidal. Pada delta plain sangat
jarang ditemukan adanya aktivitas dari gelombang yang sangat besar. Daerah delta
plain ini ditoreh (incised) oleh fluvial distributaries dengan kedalaman berkisar
dari 5 – 30 m. Pada distributaries channel ini sering terendapkan endapan batupasir
channel-fill yang sangat baik untuk reservoir (Allen & Coadou, 1982).

Delta front
Delta front merupakan daerah dimana endapan sedimen dari sungai bergerak
memasuki cekungan dan berasosiasi/berinteraksi dengan proses cekungan
(basinal). Akibat adanya perubahan pada kondisi hidrolik, maka sedimen dari
sungai akan memasuki cekungan dan terjadi penurunan kecepatan secara tiba-tiba
yang menyebabkan diendapkannya material-material dari sungai tersebut.
Kemudian material-material tersebut akan didistribusikan dan dipengaruhi oleh
proses basinal. Umumnya pasir yang diendapkan pada daerah ini terendapkan pada
distributary inlet sebagai bar. Konfigurasi dan karakteristik dari bar ini umumnya
sangat cocok sebagai reservoir, didukung dengan aktivitas laut yang
mempengaruhinya (Allen & Coadou, 1982).

Prodelta
Prodelta adalah bagian delta yang paling menjauh kearah laut atau sering disebut
pula sebagai delta front slope. Endapan prodelta biasanya dicirikan dengan
endapan berbutir halus seperti lempung dan lanau. Pada daerah ini sering
ditemukan zona lumpur (mud zone) tanpa kehadiran pasir. Batupasir umumnya
terendapkan pada delta front khususnya pada daerah distributary inlet, sehingga
pada daerah prodelta hanya diendapkan suspensi halus. Endapan-endapan prodelta
merupakan transisi kepada shelf-mud deposite. Endapan prodelta umumnya sulit
dibedakan dengan shelf-mud deposite. Keduanya hanya dapat dibedakan ketika
adanya suatu data runtutan vertikal dan horisontal yang baik (Reineck & Singh,
1980).

ESTUARIN
Beberapa ahli geologi mengemukakan beberapa pengertian yang bermacam-
macam tentang estuarin. Pritchard, 1967 (Reineck & Singh, 1980) mengemukakan
bahwa estuarin adalah “a semi-enclosed coastal body of water which has a free
connection with the open sea and within which sea water is measurably diluted
with fresh water derived from land drainage”. Ada dua faktor penting yang
mengontrol aktivitas di estuarin, yaitu volume air pada saat pasang surut dan
volume air tawar (fresh water) serta bentuk estuarin. Endapan sedimen pada
lingkungan estuarin dibawa dua aktivitas, yaitu oleh arus sungai dan dari laut
terbuka. Transpor sedimen dari laut lepas akan sangat tergantung dari rasio besaran
tidal dan disharge sungai. Estuarin diklasifikasikan menjadi tiga daerah yaitu :
1. Marine atau lower estuarin, yaitu estuarine yang secara bebas berhubungan
dengan laut bebas, sehingga karakteristik air laut sangat terasa pada daerah ini.
2. Middle estuarin, yaitu daerah dimana terjadi percampuran antara fresh water dan
air asin secara seimbang.
3. Fluvial atau upper estuarin, yaitu daerah estuarin dimana fresh water lebih
mendominasi, tetapi tidal masih masih berpengaruh (harian)
Marine atau lower estuarin adalah estuarine yang secara bebas berhubungan
dengan laut bebas, sehingga karakteristik air laut sangat terasa pada daerah ini.
Daerah dimana terjadi percampuran antara fresh water dan air asin secara
seimbang disebut middle estuarin. Sedangkan fluvial atau upper estuarin, yaitu
daerah estuarin dimana fresh water lebih mendominasi, tetapi tidal masih masih
berpengaruh (harian). Friendman & Sanders (1978) dalam Reineck & Singh
mengungkapkan bahwa pada fluvial estuarin konsentrasi suspensi yang
terendapkan lebih kecil (<160mg/l) dibanding pada sungai yang membentuk delta.
Gambar VII.31 Skema system lingkungan pengendapan estuarin yang sangat
dipengaruhi gelombang (Dalrymple, 1992) Berdasarkan aktivitas dari tidal yang
mempengaruhinya, estuarin dapat diklasifikasikan menjadi tiga (Hayes, 1976
dalam Reading, 1978), yaitu :
1. Mikrotidal estuarin
2. Mesotidal estuarin
3. Makrotidal estuarin
Pada mikrotidal estuarin, perkembangan daerahnya sering ditandai dengan
kemampuan disharge dari sungai untuk menahan arus tidal yang masuk ke dalam
sungai, meskipun kadang-kadang pada saat disharge sungai sangat kecil, arus tidal
dapat masuk sampai ke sungai. Pada mesotidal estuarin, efektivitas dari tidal lebih
efektif dibanding pada mikrotidal, khususnya ini terjadi pada sungai bagian bawah.
Pada makrotidal estuarin sering ditemukan funnel shaped dan linier tidal sand
ridges. Arus tidal sangat efektif dalam sirkulasi daerah ini, serta endapan suspensi
umumnya diendapkan pada dataran (flats) intertidal pada daerah batas estuarin
(Reading, 1978). Endapan pada daerah estuarin umumnya aggradational dengan
alas biasanya berupa lapisan erosional hasil scour pada mulut sungai. Hal ini
berbeda dengan endapan delta yang umumnya progadational yang sering
menunjukan urutan mengkasar keatas. Pada daerah estuarin yang sangat
dipengaruhi oleh tidal, endapannya akan sangat sulit dibedakan dengan daerah
lingkungan pengendapan tidal, untuk membedakannya harus didapat informasi dan
runtunan endapan secara lengkap (Nichols, 1999).

TIDAL FLAT
Tidal flat merupakan lingkungan yang terbentuk pada energi gelombang laut yang
rendah dan umumnya terjadi pada daerah dengan daerah pantai mesotidal dan
makrotidal. Pasang surut dengan amplitudo yang besar umumnya terjadi pada
pantai dengan permukaan air yang sangat besar/luas. Danau dan cekungan laut
kecil yang terpisah dari laut terbuka biasanya hanya mengalami efek yang kecil
dari pasang surut ini, seperti pada laut mediterania yang ketinggian pasang
surutnya hanya berkisar dari 10 – 20 cm. Luas dari daerah tidal flat ini berkisar
antara beberapa kilometer sampai 25 km (Boggs, 1995). Berdasarkan pada
elevasinya terhadap tinggi rendahnya pasang surut, lingkungan tidal flat dapat
dibagi menjadi tiga zona, yaitu subtidal, intertidal dan supratidal . Pembagian serta
hubungan antara zona-zona pada lingkungan tidal flat (Boggs, 1995) Zona subtidal
meliputi daerah dibawah rata-rata level pasang surut yang rendah dan biasanya
selalu digenangi air secara terus menerus. Zona ini sangat dipengaruhi oleh tidal
channel dan pengaruh gelombang laut, sehingga pada daerah ini sering diendapkan
bedload dengan ukuran pasir (sand flat). Pada zona ini sering terbentuk subtidal bar
dan shoal. Pengendapan pada daerah subtidal utamanya terjadi oleh akresi lateral
dari sedimen pasiran pada tidal channel dan bar. Migrasi pada tidal channel ini
sama dengan yang terjadi pada lingkungan sungai meandering. Zona intertidal
meliputi daerah dengan level pasang surut rendah sampai tinggi. Endapannya dapat
tersingkap antara satu atau dua kali dalam sehari, tergantung dari kondisi pasang
surut dan angin lokal. Pada daerah ini biasanya tidak tumbuh vegetasi yang baik,
karena adanya aktifitas air laut yang cukup sering (Boggs, 1995). Karena intertidal
merupakan daerah perbatasan antara pasang surut yang tinggi dan rendah, sehinnga
merupakan daerah pencampuran antara akresi lateral dan pengendapan suspensi,
maka daerah ini umumnya tersusun oleh endapan yang berkisar dari lumpur pada
daerah batas pasang surut tinggi sampai pasir pada batas pasang surut rendah (mix
flat). Pada daerah dengan pasang surut lemah disertai adanya aktivitas ombak pada
endapan pasir intertidal dapat menyebabkan terbentuknya asimetri dan simetri
ripples. Facies intertidal didominasi oleh perselingan lempung, lanau dan pasir
yang memperlihatkan struktur flaser, wavy dan lapisan lentikular. Facies seperti ini
menunjukan adanya fluktuasi yang konstan dengan kondisi energi yang rendah
(Reading, 1978) Zona supratidal berada diatas rata-rata level pasang surut yang
tinggi. Karena letaknya yang lebih dominan ke arah darat, zona ini sangat
dipengaruhi oleh iklim. Pada daerah sedang, daerah ini kadang-kadang ditutupi
oleh endapan marsh garam , dengan perselingan antara lempung dan lanau (mud
flat) serta sering terkena bioturbasi (skolithtos). Pada daerah beriklim kering sering
terbentuk endapan evaporit flat. Daerah ini umumnya ditoreh oleh tidal channel
(incised tidal channel) yang membawa endapan bedload di sepanjang alur
sungainya. Pengendapan pada tidal channel umumnya sangat dipengaruhi oleh arus
tidal sendiri, sedangkan pada daerah datar di sekitarnya (tidal flat),
pengendapannya akan dipengaruhi pula oleh aktivitas dari gelombang yang
diakibatkan oleh air ataupun angin. Suksesi endapan pada lingkungan tidal flat
umumnya memperlihatkan sistem progadasi dengan penghalusan ke atas sebagai
refleksi dari batupasir pada pasang surut rendah (subtidal) ke lumpur pada pasang
surut tinggi (supratidal dan intertidal bagian atas). Blok diagram silisiklastik pada
lingkungan tidal flat (Dalrymple, 1992 dalam Walker & James, 1992)

Gambar : Model Tidal Flat, Tucker


Gambar : Model Lain Dari Tidal Flat
NERITIK (Shelf Environment)
Daerah shelf merupakan daerah lingkungan pengendapan yang berada diantara
daerah laut dangkal sampai batas shelf break . Heckel (1967) dalam Boggs (1995)
membagi lingkungan shelf ini menjadi dua jenis, perikontinental (marginal) dan
epikontinental (epeiric).
Perikontinental shelf adalah lingkungan laut dangkal yang terutama menempati
daerah di sekitar batas kontinen (transitional crust) shelf dengan laut dalam.
Perikontinental seringkali kehilangan sebagian besar dari endapan sedimennya
(pasir dan material berbutir halus lainnya), karena endapan-endapan tersebut
bergerak memasuki laut dalam dengan proses arus traksi dan pergerakan graviti
(gravity mass movement). Karena keberadaannya di daerah kerak transisi
(transitional crust), perikontinental juga sering menunjukan penurunan
(subsidence) yang besar, khususnya pada tahap awal pembentukan cekungan, yang
dapat mengakibatkan terbentuknya endapan yan tebal pada daerah ini (Einsele,
1992). Sedangkan epikontinental adalah lingkungan laut yang berada pada daerah
kontinen (daratan) dengan sisi-sisinya dibatasi oleh beberapa daratan. Daerah ini
biasanya dibentuk jauh dari pusat badai (storm) dan arus laut, sehingga seringkali
terproteksi dengan baik dari kedua pengaruh tersebut. Jika sebagian dari daerah
epeiric ini tertutup, maka ini akan semakin tidak dipengaruhi oleh gelombang dan
arus tidal.
Skema penampang lingkungan pengendapan laut (Boggs, 1995) Ada enam faktor
yang mempengaruhi proses sedimentasi pada lingkungan shelf (Reading, 1978),
yaitu : 1. kecepatan dan tipe suplai sedimen 2. tipe dan intensitas dari hidrolika
regime shelf 3. fluktuasi muka air laut 4. iklim 5. interaksi binatang – sedimen 6.
faktor kimia Pasir shelf modern sebagian besar (70%) adalah berupa relict
sedimen, meskipun kadang-kadang daerah shelf ini menerima secara langsung
suplai pasir dari luar daerah, seperti dari mulut sungai pada saat banjir dan dari
pantai pada saat badai (Drake et al, 1972 dalam Reading, 1978). Endapan sedimen
pada lingkungan shelf modern umumnya sangat didominasi oleh lumpur dan pasir,
meskipun kadang-kadang dijumpai bongkah-bongkah relict pada beberapa daerah.
Ada empat tipe arus (current) yang mempengaruhi proses sedimentasi pada daerah
shelf (Swift et al, 1971 dalam Boggs, 1995), yaitu :
1. Arus tidal
2. Arus karena badai (storm)
3. Pengaruh gangguan arus lautan
4. Arus density
Sehingga berdasarkan pada proses yang mendominasinya, lingkungan shelf ini
secara dibagi menjadi dua tipe (Nichols, 1999), yaitu shelf didominasi tidal (tide
dominated shelves) dan shelf didominasi badai (storm dominated shelves). Pada
lingkungan shelf modern pada umumnya tidak ada yang didominasi oleh pengaruh
arus density.
Shelf yang didominasi oleh arus tidal ditandai dengan kehadiran tidal dengan
kecepatan berkisar dari 50 sampai 150 cm/det (Boggs, 1995). Sedangkan Reading
(1978) mengungkapkan bahwa beberapa shelf modern mempunyai ketinggian tidal
antara 3 – 4m dengan maksimum kecepatan permukaan arusnya antara 60 sampai
>100 cm/det. Endapan yang khas yang dihasilkan pada daerah dominasi pasang
surut ini adalah endapan-endapan reworking in situ berupa linear ridge batupasir
(sand ribbons), sand waves (dunes), sand patches dan mud zones. Orientasi dari
sand ridges tersebut umumnya paralel dengan arah arus tidal dengan kemiringan
pada daerah muka sekitar 50. Umumnya batupasir pada shelf tide ini ditandai
dengan kehadiran cross bedding baik berupa small-scale cross bedding ataupun
ripple cross bedding.

Shelf yang didominasi storm dicirikan dengan kecepatan tidal yang rendah (<25
m/det). Pada daerah ini biasanya sangat sedikit terjadi pengendapan sedimen
berbutir kasar, kecuali pada saat terjadi badai yang intensif. Kondisi storm dapat
mempengaruhi sedimentasi pada kedalaman 20 – 50 m. pada saat terjadi badai,
daerah shelf ini menjadi area pengendapan lumpur dari suspensi. Material klastik
berbutir halus dibawa menuju daerah ini dari mulut sungai dalam kondisi suspensi
oleh geostrphik dan arus yang disebabkan angin (Nichols, 1999). Storm juga dapat
mengakibatkan perubahan (rework) pada dasar endapan sedimen yang telah
diendapkan terlebih dahulu. Pada suksesi daerah laut dangkal dengan pengaruh
storm akan dicirikan dengan simetrikal (wave) laminasi bergelombang (ripple),
hummocky dan stratifikasi horisontal yang kadang-kadang tidak jelas terlihat
karena prose bioturbasi.

8 Oceanic (Deep-water Environment)


Sekitar 70% daerah bumi ini merupakan daerah cekungan laut dengan alas kerak
samudra tipe basaltis. Daerah cekungan laut dalam merupakan daerah yang pada
bagian atanya dibatasi oleh lingkungan shelf pada zona break, secara topografi
ditandai dengan kemiringan yang curam (lebih besar) dibandingkan dengan shelf.
Berdasarkan dari fisiografinya, lingkungan laut dalam ini dibagi menjadi tiga
daerah yaitu,
1. continental slope,
2. continental rise dan
3. cekungan laut dalam .

Prinsip elemen dari Kontinental margin (Drake, C.L dan Burk, 1974 dalam Boggs,
1995) Lereng benua (continental slope) dan continental rise merupakan
perpanjangan dari shelf break. Kedalaman lereng benua bermula dari shelf break
dengan kedalaman rata-rata 130 m sampai dengan 1500-4000 m. Kemiringan pada
lereng benua ini sekitar 40, walaupun ada variasi pada lingkungan delta (20) dan
pada lingkungan koral (450) (Boggs, 1995). Sedangkan kemiringan pada
continental rise biasanya lebih kecil dibandingkan kemiringan pada lereng benua.
Karena lerengnya yang cukup curam dibandingkan paparan, pada lereng benua ini
sering merupakan daerah dari pergerakan arus turbidit. Continental rise biasanya
tidak akan ada pada daerah convergen atau aktif margin dimana subduksi
berlangsung. Morfologi pada lereng benua ini sering menunjukan bentuk cembung,
kecuali pada daerah-daerah yang yang mempunyai stuktur sangat aktif. Volume
endapan sedimen yang dapat mencapai lereng benua dan continental rise ini akan
sangat bergantung pada lebarnya shelf dan jumlah sedimen yang ada. Continental
rise dan cekungan laut dalam membentuk sekitar 80% dari total dasar laut. Bagian
lebih dalam dari continental slope dibagi menjadi dua fisiografi, yaitu :
1. Lantai Samudra (ocean floor), yang dikarakteristikan dengan kehadiran dataran
abisal, perbukitan abisal (< 1 km) dan gunungapi laut (> 1 km)
2. Oceanic Ridges
Dataran abisal merupakan daerah yang relatif sangat datar, kadang-kadang menjadi
sedikit bergelombang karena adanya seamount. Beberapa dataran abisal juga
kadang-kadang terpotong oleh channel-channel laut dalam. Pada pusat cekungan
laut dalam biasanya terendapkan sedimen dari material pelagik. Mid-oceanic
ridges memanjang sejauh 60.000 km dan menutupi sekitar 30 – 35% dari luas
lautan.

Transport Laut Dalam


Aliran turbidit merupakan salah satu jenis aliran yang sangat banyak dilakukan
kajian oleh para peneliti. Aliran turbidit pada prinsipnya dapat terjadi pada
berbagai macam lingkungan pengendapan, tetapi aliran turbidit lebih sering
ditemukan pada lingkungan laut dalam. Pada lingkungan laut dalam sebenarnya
terdapat beberapa proses transpor yang dapat terjadi (Boggs, 1995), yaitu :
1. Transport suspensi dekat permukaan oleh air dan angin
2. Transport nepheloid-layer
3. Transport arus tidal pada submarine canyon
4. Aliran sedimen gravitasi
5. Transpor oleh arus geostrophic contour
6. Transport oleh floating ice
Transport oleh aliran gravitasi adalah transpor yang mendominasi dan banyak
dijadikan kajian sejak beberapa tahun kebelakang. Sedimen dengan aliran gravitasi
merupakan material-material yang bergerak di bawah pengaruh gravitasi. Aliran
gravitasi ini secara prinsip terbagi menjadi empat tipe dengan karakteristik
endapannya masing-masing.Keempat tipe tersebut adalah :
1. Aliran arus turbidit
2. Aliran sedimen liquefied
3. Aliran butiran (Grain Flow)
4. Aliran Debris (Debris Flow)
Kuenen dan Migliori (1950) dalam Allen (1978) memvisualisasikan aliran turbidit
sebagai aliran suspensi pasir dan lumpur dengan densitas yang tinggi serta gravitasi
mencapai 1,5 – 2,0. Ketika aliran melambat dan cairan turbulence berkurang, maka
aliran turbidit akan kelebihan beban, dan diendapkanlah butiran-butiran kasar.
Beberapa percobaan menunjukan bahwa aliran turbidit secara umum terbagi
menjadi empat bagian, yaitu kepala, leher, tubuh dan ekor. Pengendapan dengan
aliran turbidit merupakan suatu proses yang sangat cepat, sehingga tidak terjadi
pemilahan dari butiran secara baik, kecuali pada grading yang normal pada sekuen
Bouma (Nichols, 1999). Pasir yang terendapkan oleh aliran turbidit umumnya
lebih banyak berukuran lempung, mereka sering diklasifikasikan sebagai wackes
dalam klasifikasi Pettijohn.

Kipas Laut Dalam


Ngarai (canyons) pada shelf merupakan tempat masuknya aliran air dan sedimen
ke dalam laut dalam (Gambar VII. 37). Hal ini dapat dianalogikan dengan
pembentukan alluvial fan. Pada setting laut dalam, morfologi kipas juga dapat
terbentuk, menyebar dari ngarai-ngarai dan membentuk menyerupai kerucut (cone)
pada lantai samudera. Morfologi tersebut terkenal dengan sebutan kipas bawah laut
(submarine fans). Ukuran dari kipas bawah laut ini sangat bervariasi, terbentang
mulai dari beberapa kilometer sampai 2000 km (Stow, 1985).

Proses sedimentasi yang terjadi pada kipas bawah laut ini umumnya didominasi
oleh sistem aliran turbidit yang membawa material-material dari shelf melalui
ngarai-ngarai. Proses sedimentasi ini membentuk trend yang sangat umum, dimana
material yang kasar akan terendapkan dekat dengan sumber dan material yang
halus akan terendapkan pada bagian distal dari kipas. Kipas bawah laut modern
dan turbidit purba terbagi ke dalam tiga bagian, proximal (upper fan), medial (mid
fan) dan distal (lower fan).

Upper fan berada pada kedalaman beberapa meter sampai puluhan meter dengan
lebar bisa mencapai ratusan meter. Kecepatan aliran yang sangat cepat pada daerah
ini menyebabkan endapan yang terbentuk berupa endapan tipis, tanpa struktur
sedimen atau perlapisan batuan yang kasar (Nichols, 1999). Jika didasarkan pada
sekuen endapan turbidit dari Bouma, maka pada daerah ini banyak ditemukan
endapan dengan tipe sekuen “a”, sedangkan pada overbank upper fan dan channel
sering ditemukan sekuen Bouma bagian atas (Tcde atau Tde). Pada daerah mid fan,
aliran turbidit menyebar dari bgian atas kipas (upper fan). Pada daerah ini endapan
turbidit membentuk lobe (cuping) yang menutupi hampir seluruh daerah ini. Unit
stratigrafi yang terbentuk pada mid fan lobe ini, idealnya berupa sekuen mengkasar
ke atas (coarsening-up) serta adanya unit-unit channel. Pada mid fan lobe ini sering
ditemukan sekuen boma secara lengkap “ Ta-e dan Tb-e”. Kadang-kadang aliran
turbidit yang mengalir dari upper fan dan melintasi mid fan dapat pula mencapai
daerah lower fan. Daerah lower fan merupakan daerah terluar dari kipas bawah
laut, dimana material yang diendapkan pada daerah ini umumnya berupa pasir
halus, lanau dan lempung. Lapisan tipis dari aliran turbidit ini akan membentuk
divisi Tcde dan Tde. Hemipelagic sedimen akan bertambah pada daerah ini seiring
dengan menurunnya proporsi endapan turbidit (Nichols, 1999).

SEDIMENTASI ANGIN
Di samping air, angin merupakan salah satu energi yang dapat mengikis dan
mengangkut bahan-bahan untuk diendapkan, khususnya pada daerah yang
mempunyai iklim kering dan semi kering. Angin terjadi karena perbedaan
temperatur antara dua daerah yang berbeda di muka bumi akibat ketidakseragaman
pemanasan kedua tempat oleh sinar matahari yang menimbulkan beda tekanan.
Kekuatan angin ditentukan oleh besarnya beda tekanan pada kedua tempat dan
jarak antara kedua tempat tersebut (Sukendar Asikin, 1978). Kekuatan angin akan
bertambah dengan bertambahnya jarak. Gerakannya akan laminer jika perlahan
dan turbulen bila cepat. Endapan sedimen yang berasal dari proses pengendapan
oleh angin disebut endapan eolian.

PENGENDAPAN ANGIN
Menurut Allen (1970), endapan oleh angin (eolian) dapat terjadi pada :
a. Daerah gurun, dimana iklimnya tropis, subtropis dan lintang tengah.
b. Daerah disekitar, outwash plain pada endapan glasial dan tudung es pada daerah
lintang tinggi.
c. Di daerah pantai, di puncak pulau penghalang (barrier island) atau di muka
pantai terbuka dalam berbagai iklim.
Gurun terjadi pada lintang tengah dan rendah yang berhubungan dengan daerah
yang tertutup dengan curah hujan dari 30 cm. Daerahnya kira-kira 20 % - 25% dari
total daratan sekarang (Boggs, 1995). Gurun modern yang terbesar dengan panjang
12.000 km dan lebar 3.000 km terletak antara Afrika Utara dan Asia Tengah.
Dengan gurun lain yang luas adalah Australia Tengah, berukuran 1500 - 3000 km.
Gurun yang berukuran kecil berada di Afrika baratdaya, Chili - Peru dan
Patagonia, dan di baratnya Afrika Utara.
Pelapukan di gurun terjadi secara mekanis dan kimiawi. Pelapukan mekanis
tergantung pada perubahan gradien temperatur oleh pemanasan pada siang hari dan
pendinginan pada malam hari. Perbedaan temperatur permukaan batuan pada
waktu siang dan malam dapat mencapai 50° C. Pada kondisi seperti ini batuan
secara perlahan akan rekah dan pecah. Butiran tersebut akan terbawa oleh angin
dan diendapkan sebagai bukit pasir.
Bukit pasir dapat pula terbentuk di muka pantai. Meskipun demikian hanya terjadi
pada pantai pada daerah kering dimana vegetasi (tumbuhan) tidak ada. Angin
kering yang kuat dengan arah tegak lurus pantai secara aktif memindahkan pasir
menjadi gundukan pasir. Hanya sedikit gugusan bukit pasir di muka pantai yang
terjadi pada daerah curah hujan rendah. Selain itu, endapan angin dapat pula terjadi
pada outwash plain dari arus air es glasial yang ditemukan pada daerah lintang
tinggi.
Allen (1970) menggambarkan bahwa angin mengangkut sedimen secara suspensi
dan saltasi atau merayap dipermukaan (surface creep).

Butiran yang halus (0 - 0,2 mm ) akan diangkat secara suspensi, yaitu sedimen
dibawa oleh angin tanpa terjadi kontak dengan lapisan. Angin bertiup melalui
alluvium yang mengering dan membawa butiran terbang di udara Lanau lempung
adalah contoh batuan yang dapat diangkut dengan cara suspensi. Bahan ini
umumnya akan diangkut melalui jarak yang lebih jauh.
Cara kedua adalah saltasi dimana butiran dengan ukuran yang lebih besar (0,2 - 2
mm) akan diangkut dengan cara menggelinding, bergeser dan bertumbukan. Bila
angin bertiup di atas permukaan pasri, maka kalau cukup kuat butiran pasir akan
melaju melalui seretan lompatan yang panjang. Jika mendarat mereka akan
terpantul dan meloncat kembali ke udara dan akan melontarkan butiran pasir
lainnya. Batupasir sangat halus adalah yang pertama dapat dipindahkan dengan
saltasi.

Pengangkutan bahan yang berukuran pasir ini disebut sand storm. Pasir umumnya
terdiri dari mineral kwarsa yang membulat. Butiran demikian akan mampu
melompat dengan mudah bila terbentur dengan bahan yang keras seperti butiran
pasir lainnya atau kerakal . Gambar 2 menunjukkan trajektori saltasi dari butiran
batupasir, dimana butiran yang lebih kecil akan mempunyai trajektori yang lebih
panjang dari pada butiran yang benar.

Studi tentang kecepatan ambang yang dibutuhkan untuk memulai pergerakan butir
menunjukkan bahwa kecepatan ambang bertambah dengan bertambahnya ukuran
butir. Butiran yang lebih kecil akan mempunyai kecepatan awal yang lebih kecil
dari pada butiran yang besar.
Proses pemindahan bahan-bahan oleh angin dapat terjadi dengan 2 cara, yaitu
deflasi dan abrasi (Sukendar Asikin, 1978).

 Deflasi adalah proses pemindahan bahan dengan cara menyapu bahan- bahan
Yang ringan. Proses ini menghasilkan relief di gurun-gurun pasir. Deflasi dapat
pula menyebabkan lekukan yang dalam hingga beberapa ratus meter di bawah
permukaan laut. Kalau mencapai batas permukaan air tanah, maka akan
membentuk oase (mata air di gurun)

 Abrasi adalah pengikisan oleh angin yang menggunakan bahan yang diangkutnya
sebagai senjata. Daerahnya tidak luas. Contohnya adalah batuan bentuk jamur yang
terjadi karena bahan yang diangkut tidak merata. Dibagian bawah lebih banyak dan
lebih kasar dibandingkan dengan diatasnya.

3. Macam Endapan Oleh Angin

Bahan yang diangkut oleh angin akan menimbulkan tiga macam endapan yang
sangat berbeda (Boggs, 1995) yaitu :
• Endapan lanau (silt), kadang-kadang disebut loess yang berasal dari sumber yang
cukup jauh.
• Endapan pasir yang terpilah sangat baik.
• Endapan lag (lag deposit), terdiri dari partikel berukuran gravel yang diangkut
oleh angin dengan kecepatan yang cukup besar.

Endapan gurun dapat dikelompokkan ke dalam 3 sublingkungan pengendapan


utama yaitu bukti pasir (sand dune), interdune dan sand sheet.

3.1 Bukit pasir (sand dune)

Lingkungan bukit pasir pada umumnya yang diangkut dan diendapkan adalah pasir
yang diakumulasi dalam berbagai bentuk dune . Sand dune (bukit pasir) dapat
dibagi menjadi 4 tipe morfologi utama (Selley, 1988), yaitu :

a. Barchan atau lunate dune, adalah bukit pasir yang paling indah. Bentuknya
cembung terhadap arah angin umum (utama dengan kedua titik ujungnya seperti
tanduk, dimana pada kedua arah tersebut kekuatan angin berkurang. Barchan
mempunyai
muka gelincir yang curam pada sisi cekung. Barchan terjadi pada daerah yang
terisola
(tertutup) atau disekitar sudut pantai. Pada permukaan yang turun biasanya ditutupi
oleh lumpur (mud) atau granula. Hal ini menunjukkan bahwa barchan/lunate
dunate terbentuk terbentuk dimana pengangkutan pasir lebih sedikit.

b. Tipe stellate, piramida atau Matterhorn. Terdiri dari rangkaian sinus, tajam,
punggung pasir yang tinggi, yang bergabung bersama-sama dalam satu puncak
yang tinggi. Angin selalu meniup bulu-bulu pasir di puncak peramida, membuat
dune tampak seperti berasap. Stellate dune kadang-kadang ratusan meter tingginya,
terbentuk pada batas pasir laut dan jebel, menandakan titik interferensi dari arus
angin dengan topografi yang resistan.

c. Longitudinal atau Seif dune. Bentuknya panjang, tipis dengan batas punggung
yang jelas. Dune secara individu dapat mencapai 200 km panjangnya, kadang-
kadang dapat konvergen pada perbatasan seif dimana arah angin berkurang.
Tingginya dapat mencapai 100 km dan batas dune lebarnya sampai 1 atau 2 km,
dengan daerah interdune yang datar, terdiri dari pasir atau gravel.

d. Tranversal dune, bentuknya kursus atau sinusoidal ramping dengan puncak


tegak lurus arah angin rata - rata. Muka gelincir yang curam terdapat pada arah
angin yang berkurang. Transversal dune jarang terjadi pada permukaan deflasi.
Tranversal dune adalah tipe berkelompok, naik pada bagian belakang dari dune
berikutnya.

3.2 Interdune

Interdune adalah antara dua dune, dibatasi oleh bukit pasir atau sand sheet.
Interdune dapat terdeflasi (erosi) atau pengendapan. Sedikit sekali sedimen yang
terakulasi pada interdune yang terdeflasi. Daerah interdune dapat meliputi dua arah
endapan angin dan sedimen diangkut dan diendapkan oleh arus di daerah paparan.

3.3 Sand Sheet

Sand sheet adalah badan pasir yang berundulasi dari datar sampai tegas yang
terdapat di sekitar lapangan bukit pasir. Dicirikan oleh kemiringan yang rendah
(00-200). Lingkungan sand sheet berada di pinggiran bukit pasir.

4. Bentuk Perlapisan

Wilson (1991, 1992) dalam Walker (1992) menyatakan ada tiga skala utama
bentuk perlapisan pada endapan eolin yaitu ripple, dune dan draa. Ripple yang
disebabkan oleh angin lebih datar dari pada yang disebabkan oleh air dan biasanya
mempunyai garis puncak yang lebih regular. Bentuk perlapisan dune lebih besar
dari pada ripple dan ketinggiannya bervariasi dari 0,1 sampai 100 meter. Bentuk
perlapisan draa adalah perlapisan pasir yang besar antara 20 sampai 450 meter
tingginya dan dicirikan oleh melampiskan keatas (superimpose) dari dune yang
lebih kecil. Tabel- 1 adalah klasifikasi perlapisan endapan eolian.

5. Tekstur

Tekstur meliputi bentuk, ukuran dan susunan butir. Batupasir eolian mempunyai 3
sublingkungan pengendapan (Walker, 1992) yang membedakan 3 macam tekstur
pada endapan eolian, yaitu :

• terpilah baik sampai dengan sangat baik pada batupasr halus yang terjadi pada
sublingkungan pantai.
• terpilah sedang sampai baik pada batupasir dune di darat yang berbutir baik.
• terpilah jelek pada batupasir interdune dan serir.

Bukit pasir bervariasi dalam ukuran butir dari 1,6 - 0,1 mm. Endapan bukit pasir
umumnya terdiri dari tekstur pasir yang terpilah baik dan kebundaran baik juga
;kaya akan kwarsa. Endapan bukit pasir di pantai mungkin kaya akan mineral berat
dan fragmen batuan yang tidak stabil. Bukit pasir di pantai yang terjadi didaerah
tropis banyak mengandung ooid, fragmen cangkang, atau butiran karbonat lainnya.
Bukit pasir yang terdapat di daerah gurun dapat mengandung gypsum seperti
White Sand, New Mexico

6. Struktur Sedimen

Pengangkutan dan pengendapan oleh angin membentuk tipe struktur sedimen


ripple, dune dan silang siur (cross-bed) seperti yang dihasilkan pada pengangkutan
oleh air (Boggs, 1995). Struktur sedimen yang terdapat pada bukit pasir adalah :

 kumpulan perlapisan silang (cross-strata) berukuran sedang sampai besar, yang


cirinya terdapat pada muka kemiringan arah sari angin bertiup pada sudut 300 -
340 .
 kumpulan perlapisan silang tabular-planar dalam arah vertikal yang terdapat pada
bagian bawah.
 bidang batas antara kumpulan individu dan perlapisan silang yang umumnya
horinsontal atau miring dengan sudut rendah.
-
Tipe geometri struktur bagian dalam barchan dapat dilihat pada gambar-4. Selain
itu beberapa jenis struktur sedimen internal pada skala kecil dapat pula berbentuk
perarian lapisan datar (plane -bed lamination), perarian bergelombang (rippleform
lamination),ripple-foreset cross lamination, climbing ripple, grainfall lamination
dan sandflow cross -strata.

Pada bukit pasir yang kecil terdapat perarian silang siur tunggal (single cross
lamination)
dan perlapisan silang siur yang tebal terdapat pada lapisan pasir yang cukup tebal.
Struktur sedimen yang besar tidak tampak pada inti pemboran, sehingga struktur
sedimen seolah-olah massive. Pengeboran melalui tranversal dan lunate dune
mengungkapkan bahwa beberapa kumpulan dari puncak bukit pasir dipisahkan
oleh permukaan erosi dan lapisan datar. Heterogenenitas perlapisan ini
menggambarkan variasi yang tidak menentu dari morfologi bukit pasir secara
kasar. Perlapisan silang siur diendapkan saat migrasi angin rendah pada muka
gelincir dan unit perlapisan datar dan subhorisontal diendapkan pada sisi belakang
dari bukit pasir.

Endapan interdune dicirikan oleh perlapisan dengan sudut kemiringan yang rendah
(< 100 ) karena interdune terbentuk oleh proses migrasi dari bukit pasir, banyak
terdapat bioturbasi yang merusak struktur perlapisan. Sedimen yang diendapkan
pada interdune dapat mencakup dua macam endapan yaitu subaquaeous dan
subaerial, tergantung pada iklim dimana mereka diendapkan, basah, kering atau
daerah yang banyak terjadi penguapan.

Endapan pada interdune kering dibentuk oleh ripple karena proses pengangkutan
oleh angin. Endapannya relatif kasar, bimodal dan terpilah jelek dengan
kemiringan yang tegas, lapisannya membentuk perarian yang jelek. Endapannya
banyak mengandung bioturbasi yang merupakan hasil acak binatang maupun bekas
tumbuhan.

Pada interdune yang terjadi di daerah basah dekat dengan danau, silt dan clay
terperangkap oleh badan yang semipermanen. Endapan ini dapat mengandung
spesies organisme air tawar seperti gastrododa, pelesipoda, diatome dan ostracoda
(Boggs, 1995). Dapat pula terbentuk bioturbasi seperti jejak kaki binatang.

Endapan sheet sand juga mengandung kemiringan yang tegas atau permukaan
iregular dari erosi beberapa meter panjangnya, terdapat jejak bioturbasi yang
disebabkan oleh serangga atau tumbuhan, struktur cut-and-fill pada skala kecil,
kemiringan yang tegas, lapisan perarian yang jelek sebagai hasil dari perbatasan
pengendapan grainfall, diskontinu, lapisan tipis pasir kasar yang interkalasi dengan
pasir halus, dan kadang-kadang interkalasi dengan endapan eolian yang
mempunyai sudut besar Gb.5 menunjukkan distribusi dan hubungan stratigrafi dari
sheet sand dan endapan bukit pasir eolian.

7. Model Perlapisan dan Batas Permukaan

Hasil perlapisan dari migrasi bentuk lapisan sebagai pendakian/undakan pasir


mempunyai sudut dan arah yang berbeda-beda (Gb.II). Model perlapisan yang
sederhana meliputi sistem bentuk lapisan termigrasi dengan sederhana dan bentuk
kumpulan arsitektur yang sederhana. Sebagai contoh bukit pasir tranversal migrasi
melewati gurun dari lapisan silang siur tabular (tabular cross-bed) dipisahkan oleh
permukaan bidang planar. Transversal dune migrasi melalui transversal draa dari
bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks, termasuk permukaan orde
kedua pada kemiringan arah angin berkurang. Meskipun demikian, bentuk lapisan
dibangun oleh perpindahan pasir dan juga disebabkan oleh keberadaan struktur
perbahan angin meyebabkan perubahan bentuk perlapisan yang ada dan perubahan
bentuk lapisan juga berinteraksi dengan angin untuk menghasilkan bermacam-
macam bentuk keseimbangan.

GLASIAL
Pengertian tentang sistem pengendapan glasial dan macam - macam bentuknya
penting dalam aplikasi. Pertama, data kandungan endapan glasial dapat digunakan
menyelesaikan masalah tentang proses - proses geologi yang terjadi. Kedua,
endapan glasial merupakan dasar untuk mempelajari lingkungan geologi. Dengan
adanya investigasi karakteristik teknik geologi, pedoman hydrogeological, dan arus
transportasi dalam sistem pengendapan glasial. Sistem pengendapan glasial
merupakan suatu pendorong dalam penyelidikan tentang sistem pengendapan
glasial ini juga merupakan pendorong untuk mempelajari / mengetahui tentang
letak dari pengendapan klastik dan karbonat dari suatu reservoar hidrokarbon pada
tahun 1950 - an

Setelah mempelajari aspek - aspek dari glasial dan hubungannya satu sama lain,
kemudian diaplikasikan kedalam ilmu geologi ekonomi atau hasil penyelidikan
geologi yang bernilai ekonomi. Selain itu diketahui pula bahwa dalam sistem
pengendapan glasial juga membawa serta endapan -endapan mineral dan
bermacam - macam batuan yang dibungkus oleh es. (Placer ; Eyles, 1990), dan
sistem pengendapan glasial digunakan juga dalam penyelidikan untuk endapan
mineral yang terdapat pada pelindung / pembungkusnya sendiri. (drift prospecting ;
Dilabio and Coker, 1989). Dimana diketahui pula bahwa lapisan batu dari glasial
mempunyai kebiasaan digunakan dalam geologi minyak, tetapi kandungan dari
Paleozoic glasial lebih penting / berarti digunakan dalam penyelidikan minyak dan
gas, seperti : Australia, Argentina, Brasil, Bolivia, Saudi Arabia, Yordan dan
Oman. (Levll et al, 1988; Franca and Potter, 1991). Banyak orang berpikiran
bahwa fasies dari pengendapan glasial masih karakteristik yang unik. Ini
disebabkan oleh campuran yang tidak tersotir dengan baik, semua ukuran ada,
mulai dari bongkah - bongkah / batu - batu besar sampai kelempung, Kadang -
kadang endapannya tepat pada glasier dan lapisan - lapisan esnya. Bagaimana
sedimen yang mempunyai penampilan singkapan sama dapat memberikan sebuah
endapan luas baik itu lingkungan glasial dan nonglasial “Term diamitct” akan
digunakan untuk sebuah deskripsi, masa nongenetic betul - betul dari fasies yang
sortirannya kurang baik tanpa memperhatikan asal mulanya. Hanya dengan diamict
dapat diketahui endapan yang langsung pada “ice glasier” dapat diidentifikasi
dengan baik. Suatu permasalahan pokok dalam mempelajari stratigrafinya adalah
untuk menentukan apakah fasies diamict spesifik sumbernya dari glasial atau
nonglasial. Banyak contoh dalam literatur dimana sedimen itu mula - mula terjadi
dan dapat ditunjukkan berasal dari sumber nonglasial. Diamict hanya tipe fasies
dalam keadaan biasa dan produksinya dari lingkungan pengendapan dalam sebuah
luas daerah tertentu dan juga pengaruh iklim. Dalam keadaan biasa tidak mungkin
kita berkesimpulan bahwa sumber sebuah diamict berasal dari sebuah singkapan
tunggal dan kecil. Yang penting selalu diperhatikan adalah hubungan antara facies
dalam stratigrafi.

Agar dapat memperkirakan tanda - tanda untuk lingkungan pengendapan


digunakan refensi asosiasi fasies. Dengan pendekatan yang dasar dapat ditarik
kesimpulan bahwa itu adalah produksi facies diamict, sebagai contoh, aliran
sedimen oleh gaya berat, yang cenderung faciesnya dipengaruhi oleh arus turbidit.
Dimana asosiasi fasies ini berubah - rubah pada lingkungan pengendapan yang
berbeda, dalam model 3 dimensi dapat memperlihatkan endapan dengan jelas.
Untuk interprestasi yang baik memerlukan profil defosit vertikal secara terinci,
bersama - sama dengan informasi variasi lateral dan geometri deposit diluar
singkapan lokal. Umumnya. Asosiasi glasial fasies beserta lingkungan
pengendapannya terjadi khususnya pada sungai, danau, darat yang berbatu dan
pada kemiringan. Dalam kebanyakan kasus glasier yang mempunyai volume besar
diberikan oleh lingkungan pengendapan dilaut atau lacustrine basin, dimana
sedimen glasial primer lebih banyak bekerja dibandingkan proses sedimen
nonglasial yang berbeda dan pengaruh lingkungan glasial dapat diidentifikasi dan
juga asosiasi - asosiasi fasiesnya. Sistem pengendapan glasial dapat terlihat dengan
jelas pada geometri 3 dimensi, dimana proses hubungan fasiesnya mencatat bahwa
elemen paleogemorphic basin yang terbesar. Berdasarkan pemisahan dan krnologis
lingkage, sistem pengendapan ini diidentifikasi menjadi dua bagian yaitu
glacioterrestrial dan glaciomarine

Sistem Glacioterestrial Tract.

Lingkungan pengendapan glacioterestrial dapat dibedakan atas 4 jenis yaitu :

1. Subglacial
2. Supraglacial
3. Glaciolacustrine
4. Glaciofluvial

Substrate relief dan lingkungan tektonik adalah berperan sebagai dasar dalam
pengendapan glacialteretrial ini. Menurut hasil penyelidikan bahwa pertumbuhan
lembar - lembar es dibumi ini dalam jumlah yang besar, tetapi kurang yang
mengandung endapan - endapan. Glacial itu aktif pada basin akibat tektonik.
Dalam jumlah yang besar ternyata glacial besar dari sedimen ocean basin. Iklim
juga mempengaruhi endapan glacial terrestrial ditepi es.

Posisi Glacioteretrial Pada Low - Relief.

Glasil low - relief ini ditunjukkan dengan baik dengan adanya distribusi glasial
deposit pleistocene seperti yang terjadi di Amerika bagian utara. (gambar 2,3)
Beberapa sistem pengendapan pada low - relief yang dapat terjadi dapat dilihat
pada gambar 1.

1. Sistem Pengendapan Subglacial

Kondisi / keadaan didasar lembaran - lembaran es yang besar akanberubah luasnya


yang diakibatkan oleh perbedaan temperatur es dan kecepatannya. Untuk es yang
dasarnya basah dimana kondisi tertutup oleh tekanan titik lebur es, es tersebut
meluncur serta berakhir pada substrate. (gambar 4a,b). Sedangkan dalam kondisi
dasar yang kering es tetap pada lapisan Frozen dan kebanyakan berpindah /
bergeraknya juga menyebabkan perubahan bentuk pada bagian dalamnya.
Sedangkan deposit fasies subglasial diamict pada prinsipnya terjadi/terdapat
dibawah bagian dasar es yang basah. (gambar 4c,d). Runtuhan Englacial didalam
transportasi sebuah lapisan basal tipis (1m) itu terdiri dari lapisan - lapisan es yang
tidak rata. Abrasi yang kuat itu terjadi diantara kedua partikel dalam lapisan dasar,
dan diantara partikel dengan substrate. Runtuhan itu saling bertubrukan dengan
lapisan, dapat membentuk subtratelagi sebagai akibat dari tekanan cairan dan yang
dikeluarkan dari es. Sedangkan ciri dari “Glacially - shaped Clasts” dapat dilihat
pada gambar 5. Kelanjutan dari produksi lodgement membuat lapisan lentircular
menjadi tebal. (gambar 6,7,8). Pada yang poros yang panjang “Clast” mempunyai
penjajaran pararel yang lebih kuatyang ditimbulkan oleh aliran es. Pengukuran
poros yang panjang berorientasi dengan sedikit clasts memberikan sebuah indikasi
aliran es lansung yang cepat. Letak dari “lodgement till” ditentukan oleh lokal dan
regional unconformity dan cenderung mempunyai geometri regional “ sheet - like”
(gambar 6,7). Dimana ketebalan totalnya tidak melebihi dari 50 meter Unit
“lentircular till” yang kuat terjadi didalam bentuk “sheet - like”. Hubunganya
merupakan potongan menyilang dan tumpang tindih sebagi akibat dari erosi pada
substrate dalam merespon perubahan kecepatan gerak dari es. Perubahan aliran
lengsung dari es dan runtuhan dari litologi yang berbeda hasilnya dapat dilihat
sebagai suatu tumpukan dari beberapa “lodgement till” yang berlapis keatas selama
sebuah glaciation tunggal. (gambar 6). Setiap unit till mengandung clasts dan
matrix dari perbedaan sumber lapisan batuan (bedrock). Penekanan ini dibutuhkan
untuk ketelitian dalam interprestasi maju/ mundurnya siklus dari “multiple - till”
stratigrafi. Adanya tanah bercampur batu kerikil pada chanel sebagai hasil dari
sungai - sungai kecil yang kering, juga kumpulan dari komponen-komponen dari
stratigrafi subglasial (gambar 6) Chanel mempunyai sebuah planah pada
permukaan bagian atas yang memotong diamict, dimana berorientasi pada aliran es
langsung yang subparalel dan hubungan genetik dengan “ekers ridges” (gambar 6).
Oleh karena itu kehadiran fasies glaciofluvial didalam lingkungan “lodgement -
till” tidak terlalu penting sebagai petunjuk mundurnya glacier.

2. Sistem Pengendapan Supraglasial

Bagian luar dari tepi lembaran - lembaran es biasanya merupakan batas dimana
sisa daerah yang luas dari tofografi bukit-bukit kecil terdiri dari sedimen-sedimen
yang bervariasi dengan geometri komplek. Selama proses glaciation yang terakhir,
perluasan dari es berhenti sekitar seperempat kilometer seperti yang terjadi di
Amerika bagian utara

(gambar 2,3). Perbedaan tekanan yang kuat antara “upglacier” yang aktif dengan
penghalang - penghalang oleh bagian tepi es menghasilkan perlipatan yang
kompleks dan perlapisan runtuhan basal yang tebal (gambar 9). Dimana “melt-out
till” bersama dengan perkembangan fasies “diamict” pada permukaan es adalah
asosiasi dengan topografi bukit-bukit kecil yang khusus dimana itu merupakan data
kompleks dari pemisahan tepi-tepi es. (gambar 10 d). Jika bagian luar dari tepi es
yang tipis menjadi “frozen” pada substrate maka lempengan dari “bedrock” yang
besar juga glaciotectonized boleh tidak ikut dengan proses tersebut. Ini adalah
pergerakan dari es tidak melakukan luncuran pada basal, tetapi terjadi deformasi
dibawah substrate sedimen. Apabila proses ini tidak berjalan lagi, maka bentuk ini
menjadi menutup oleh runtuhan-runtuhan englasial pada permukaan es. (gambar
9,10a,b,c). Penutupan ini tidak stabil dan pergerakan sedimen akibat aliran
gravitasi untuk kedalam basin yang berbentuk ketel, merupakan generasi
penutupan oleh pencairan es pada suatu tempat tertentu. (gambar 10b,c). Dimana
pencairan kearah bawah lebih cepat oleh produksi tofografi daerah rendah
“diamict” supraglacial pada prosese sedimentasi ulang secara umum diakibatkan
oleh aliran dari reruntuhan - reruntuhan yang ada, serta mempunyai lapisan berupa
“clast” yang pararel dengan arah alirannya, dimana “clast” itu merupakan
rancangan dari lapisan-lapisan paling atas, bagian-bagian berbentuk rakit dan
fragmen-fragmen dari sedimen yang sudah lebih dulu, juga channelnya berbentuk
bagian yang menyilang, terdapat geometri lenticular yang mengalami penebalan
pada “down-slope” serta ketidak hadirin relief pada perlapisan atas dari permukaan
dan adanya suatu kecendrungan untuk mengisi tofografi yang rendah. Massive dan
lapisan kasar dari fasies “diamict” berpengaruh, dimana fasies lapisan - lapisan
kasar sebagai hasil dari aliran massive yang tipis pada lapisan diatasnya. Dimana
fasies “ diamict” adalah merupakan “interbedded” dengan “glaciofluvial” dan
fasies “lacustrine”. Ini merupakan basal yang ada pada bagian atas sebagai hasil
dari “melt-out till” (gambar 9), yang boleh menutup lapisan batuan berbentuk rakit
pada bagian atas yang sekarang merupakan pembentuk dari dasar es. Kondisinya
berada dibawah sehingga struktur englasial berupa perlipatan dari rangkaian
runtuhan basal yang merupakan kelanjutan dari “melt-out” dalam bentuk
perlapisan berhubungan serta berorientasi melintang sebagai pembentuk aliran es
langsung (Shaw, 1979).

3. Sistem Pengendapan Glaciolacustrine.

Kolam glaciolacustrine sebagai hasil dari erosi glacial, disrupsi glacial bekas
sistem drainase dan mengeluarkan / menghasilkan air akibat proses pencairan
dalam jumlah yang besar. Berubahnya basin dari daerah yang sempit/terbatas,
menyerupai tipe pegunungan dalam daerah high - relief, daratan yang luas dalam
skala danau berada dibagian dalam dari seaways. Danau yang luas dalam statical
yang sama menekan evaluasi bagian dalam dari daratan oleh lembaran es. Danau
Agassiz adalah contoh yang terkenal, yang luasnya kira - kira 1.000.000 km2
terdapat di Amerika bagian utara (Teller and Clayton, 1983). Sebuah perbedaan
yang sederhana antara kontak es dengan badan danau dapat dilihat pada gambar
dilihat pada gambar (11). Satu dari banyak karakteristik dari fasies glaciolcustrine,
yang setiap tahun produksinya berantai dimana ukuran butirnya sangat kontras
sebagai hasil dari kondisi sedimen yang berbeda dalam musim dingin dan musim
panas. Dimana diketahui jika musim panas lapisannya kebanyakan terdiri dari sand
dan silt, sedangkan pada musim dingin lapisannya terdiri dari cly (lempung).
Untuk model klasik formasi varve dalam non ice - contact danau-danau glacial
menegaskan pengaruh musim kuat sangat kuat, misalnya pada musim panas tepi -
tepi es pada supraglacial mencair sehingga endapan - endapannya dapat berpindah.
Mencairnya supraglacial sangat berarti dalam menahan musim dingin. Dibawah
pengaruh ini sedimentasinya didominasi oleh perkembangan delta yang berbentuk
kipas, bulat dan menonjol. Dalam musim panas, sedimen dibebani kerapatan
dibawah aliran. Tanda - tanda dari fasies lithologi suatu endapan itu menjadi jelas
dalam setiap musim panas yang merupakan musim mencairnya es, (gambar 12)
dan pencatatan mulai berawal dari penambahan dan menurunnya kerapatan aliran
bawah yang aktif (Ashley, 1975). Pada musim panas tanda dari lapisan tipis
dikategorikan ke dalam jenis silt dengan bungkus oleh ripple dan ripple - drift yang
tipis dan mengalami laminasi yang menyilang. Bagian dasar umumnya kasar,
tajam dan perlapisannya boleh meratakan tanah (gambar 12,13D). Kandungan /
endapannya boleh dari multiple lamination yang mewakili endapan sebuah getaran
tunggal. Boleh juga kontribusi kecil itu merupakan material pelagic dari interflow
atau overflow yang menyerupai bulu atau sedimen yang melayang-layang. Unit
lempung (clay) hitam boleh juga memperlihatkan indikasi tingkatan deposit normal
yang merupakan sedimen melayang-layang dibawah pembungkus es yang
menutupi danau. Ketebalan dari perlapisan umumnya seragam bersilangan dengan
basin tetapi kandungan endapannya boleh “massive atau”cross-stratified sand” dan
laminasi silt yang pada musim dingin menarik turun tingkatkan danau dan delta
foreslope merosot turun. (gambar 12). Liang dan jejak fosil umumnya dijumpai
pada perlapisan saat musim panas. Tetapi bukan pada musim dingin. Pada
kenyataannya sistem pengendapan yang ada. Banyaknya perlapisan
menggambarkan suatu perbangingan tunggal atau ganda dari unit kelas atau
kualitas dari silt dan clay dengan divisi-visi yang tertentu. Ini boleh mempunyai
deposit dengan bagian-bagian yang berlainan dan mempunyai ciri - ciri khusus
berdasarkan arus turbiditnya dengan kontrol musiman yang kurang jelas. Penarikan
kesimpulan ini boleh boleh dikatakan kurang tepat jika bagian perlapisan yang
diakibatkan oleh turbidit pada daerah pusat itu berlainan. Bagaimana “thin-
bedded” yang turbidit boleh juga “interbedded” dengan perlapisan yang dikontrol
secara musiman dan memerlukan studi lapangan yang detail (Ashely, 1975). Ciri-
ciri untuk danau yang bukan “ice-contact” dalam basin “low - relief” dimana
sedimentasinya semata - mata ditentukan oleh musim dimana mencairnya
permukaan lembaran-lembaran es. Sedangkan didalam “high-relief” basin dari
danau itu berada pada “zona” pegunungan. Model sedimentasi dari danau glacial
“ice-contact” sangat mengecewakan karena mempersulit pekerjaan dari bagian
logistik pada danau “proglacial” yang modern dan basin danau modrn yang
uikurannya kecil dibandingkan dengan pleistocene contoh-contoh yang lebih tua.
Perluasan dari deposit glaciolacustrine pleistocene itu dapat dilihat disekitar danau-
danau besar yang modern di Amerika utara adalah sangat penting untuk studi
sedimentasi dalam skala besar, khusus danau “ice-contact” didalam posisi “low-
relief”. (gambar 14,15). “Diamict” adalah butiran yang halus dan mempunyai
geometri sebuah “blanket-like”, dimana mengalami penebalan pada tofografi
rendah dan penipisan pada daerah yang sangat tinggi. Dimana pada bagian dalam,
“diamict” mempunyai susunan komplek berupa massive dan fasies yang berlapis-
lapis. (gambar 13e,14,15) fasies “diamict” massive sebagai hasil dari lapisan deras,
sehingga sedimennya melayang-layang dan rakit-rakit es runtuh diatas dasar basin.
Stratifikasi yang berikutnya boleh berkembang oleh proses pekerjaan ulang dari
sedimen ini akibat arus yang menarik atau perulangan sedimentasi pada “down-
slope”. “diamict” biasanya adalah “overlain” pada unit-unit chanel yang berupa
laminasi lumpur-lumpur lempung, kemungkinan asalmula turbidit, kandungan dari
“dropstone”. (gambar 13c). ini adalah perubahan :ovelain” oleh pengkasaran
bagian atas yang berjalan dengan baik pada “ripple-laminated”, planar dan tembus
dan tembus ke pasir “cross-bedded” yang menurut catatan letaknya pada pada
progadasi delta yang merupakan akumulasi “diamict”

4. Sistem Pengendapan Glaciofluvial.

Sistem pengendapannya membuat kandungan yang diatas mempunyai berarti bagi


deposit dari sedimen-sedimen glacial sungai-sungai “melt-water”. (gambar 16)
Ditepi es proses agradasi biasanya cukup deras sehingga menutupi bagian-bagian
dari tepi es. Ini mengantarkan struktur deformasi dalam ukuran butir-butir kasar,
lapisan kasar atau lapisan massive pada saat menutupi cairan es yang berikutnya.
Lubang dari permukaan “out - wash” ditutupi oleh es yang mencair, dimana
perluasannya dapat mencapai seperempat kilometer. Ini merupakan sisi “eskers”
atau kontak es yang kompleks dari jajar “diamict” (gambar 9) Dimana sungai-
sungai dari glacial “out -wash” ini kebanyakan bertipe “multiple-channel” atau
“Teranyam”. Depositnya umunya didominasi bentuk dasar yang luas, dimana
perluasannya itu merupakan sebuah aliran tunggal serta dapat berfungsi sebagai
transportasi sedimen sepanjang tahun. Pengaruh angin dalam menghadirkan
vegetasi, sebagai hasilnya adanya deposit akibat gerakan angin yaitu silt dan pasir.
Dimana akumulasi dari “peat” yang tebal dapat menghasilkan batu bara. Proses
glaciofluvial adalah penting karena boleh melengkapi pekerjaan ulang/kembali dari
deposit sedimen pada glacier (gambar 16). Data-data dari bentuk endapan
menunjukkan kehadiran dari es dapat menghancurkan/merusakkan. Ini adalah
sebuah masalah dalam interprestasi deposit-deposit pada jaman dahulu/kuno,
karena deposit-deposit sungai teranyam terjadi dalam posisi/kedudukan dari
banyak deposit. Sebuah hubungan glasial boleh menjadi sangat sulit, jika tidak
mungkin diidentifikasi bukti/tanda harus mencari dari kehadiran atau ketidak
hadirin iklim dingin struktur periglacial, atau dari kejadian glasial dari clast yang
tajam-tajam, (gambar 5) dan kerut-kerut. Ini adalah masalah terutama dalam
kedudukan high-relief.

Sistem Glaciomarine Tract.

Sebuah bagian sederhana sistem pengendapan “glacial marine” yang membedakan


posisi continental self dari continental slope dan teluk yang sepit dan panjang
diantara karang

yang tinggi. Dapat juga dipakai untuk menentukan tepi dari es apakah
lingkungannya didominasi oleh proses glasial atau proses marine, (gambar 17).
Iklim regional adalah kontrol yang lain dan penting karena berhubungan dengan
volume es yang mencair dilingkungan marine. Lingkungan laut yang sederhana
dicontohkan dengan terdapatnya volume dalam jumlah yang besar dari cairan es
dan lumpur yang langsung mengisi paparan, (gambar 1). Lingkungan sediment-
nourished dapat bertentangan dengan sediment-starved dalam hal hal posisi, itu
adalah tipe frozen yang besar didaerah kutub masukan “melt-water” adalah sama
sekali terbatas sehingga “deposition” kimia dan biogenic” relatife menjadi penting,
ini terdapat di Antarctica, (gambar 18, Domack, 1988). Dengan jelas, bahwa
penebalan deposit “glaciomarine” sederhana/sedang pada daerah laut adalah
mungkin karena terlindungi oleh batu-batuan.

LINGKUNGAN TERUMBU (REEF)

Terumbu atau reef merupakan lingkungan yang unik yang sangat berbeda dari
bagian lingkungan pengendapan lainnya di lingkungan paparan (shelf). Terumbu
ini umumnya dijumpai pada bagian pinggir platform paparan luar (outer-shelf)
yang hampir menerus sepanjang arah pantai, sehingga merupakan penghalang yang
efektif terhadap gerakan gelombang yang melintasi paparan tersebut. Disamping
terumbu berkembang seperti massa yang menyusur sepanjang garis pantai diatas,
juga dapat berkembang sebagai “patch” yang terisolir dalam paparan bagian dalam
atau inner-shelf .
Istilah lain untuk terumbu ini, ada yang menyebutnya dengan “carbonate buildup”
atau “bioherm”. Tetapi para pekerja karbonat tidak menyetujui penggunaan istilah
terumbu hanya dibatasi untuk carbonat-buildup atau inti yang kaku, pertumbuhan
koloni organisme, atau carbonat - buildup lainnya yang tidak memiliki inti
kerangka yang kaku. Wilson (1975) menggunakan istilah carbonat-buildup untuk
tubuh yang secara lokal, terbatas secara lateral, merupakan hasil proses relief
tofografi, dan tanpa mengaitkan dengan hiasan pembentuk internalnya.
Sebelumnya Dunham (1970) mencoba memberikan solusi dilema peristilahan ini
dengan mengusulkan dua tipe terumbu, yaitu :

(a) Terumbu Ecologik : adalah terumbu yang dicirikan oleh bentuk kaku, struktur
tofografi yang tahan terhadap gelombang, dihasilkan oleh pembentukan aktif dan
pengikatan sedimen organisme.
(b) Terumbu Stratigrafi : dicirikan oleh batuan yang tebal, terbatas secara lateral,
dan merupakan batuan karbonat yang buruk sampai sangat buruk.

Selanjutnya Longman (1981) memodifikasi definisi Heckel (1974), yang


mengatakan bahwa terumbu sebagai karbonat yang tumbuh dipengaruhi secara
biologi dan juga mempengaruhi secara biologi dan juga mempengaruhi daerah
sekitarnya.

TERUMBU MODEREN DAN LINGKUNGAN TERUMBU


Letak Pengendapan

Kebanyakan terumbu terbentuk dalam lingkungan air dangkal,berupa terumbu


linier yang hampir kontinyu disepanjang tepi platform dan disebut juga sebagai
“barrier-reef” “Fringing - reef”, letaknya berlawanan dengan garis pantai yang
terbentuk akibat paparan yang sangat sempit. Sedangkan terumbu berbentuk
seperti donat disebut “Atolls”, dimana bagian luarnya merupakan penghalang
gelombang lagoon yang dilingkarinya dan terumbu yang lebih kecil lagi dan
terisolisasi dinamakan “patch-reef” “pinnacle-reef, atau “table - reef” yang
terbentuk sepanjang beberapa tepi paparan, tersebar pada paparan tengah (midle-
shelf)

Disamping dalam air dangkal, terumbu juga dapat dijumpai dalam air yang lebih
dalam, seperti “mound” yang terbentuk secara organik dengan panjang 100 m dan
tinggi 50 m (Neuman, Kofoed), dan Keller, 1977) “Mound” ini mengandung
lumpur yang mengikat atau menyemen berbagai organisme air dalam, seperti :
crinoid, ahermatypic hexacoral dan sponga.
II.2 Organisme Terumbu

Hampir semua terumbu tersusun oleh koral, meskipun banyak organisme lain yang
turut menyumbang, seperti alga biru - hijau (cyanobacteria, alga merah coralline,
alga hijau, kerangka foramnifera, brozoa, sponga, dan moluska (Heckel, 1974;
James dan Macintyre, 1985). Dalam sejarah waktu geologi, beberapa kelompok
organisme yang membentuk terumbu meliputi : archaeocyathids, stromatoporoids,
fenestethid bryozoans, dan rudistid clams. Meskipun demikian, koral merupakan
dominan terumbu modern, dan ada dua jenis koral, yaitu :

(a) Hermatypic (zoanthellae) hexacoral : merupakan koral utama air dangkal yang
melakukan hubungan simbiotik dengan beberapa macam organisme unicelluler
terutama alga, yang kemudian dinakan secara kolektif sebagai zooxanthellae. Alga
ini hidup dalam atau antara kehidupan sel koral dan mendapatkan energi dari
proses photosistesis (Cowen, 1988). Selama proses photosintesis alga ini
melepaskan CO2, sehingga membutuhkan sinar matahari, oleh karenanya coral
hermatypic ini terbatas hidupnya hanya dalam air sangat dangkal.
(b) Ahermatypic (azooxanthellae coral : coral ini hidupnya tidak terbatas pada air
dangkal saja, tetapi dapat tersebar hingga pada kedalaman melebihi 2000m (stanley
dan Cairs, 1988) dan jarang mempunyai hubungan simbotis, sehingga merupakan
organisme utama sekarang yang membentuk “carbonat-buildup” dalam air yang
lebih dalam.

Bentuk pertumbuhan terumbu yang terbentuk oleh organisme sangat dipengaruhi


oleh energi air yang bekerja terhadap terumbu tersebut. Organisme yang hidup
dalam energi air yang rendah akan cenderung menghasilkan terumbu terbentuk
delicate, branching, dan plate-like. Sedangkan yang hidup dalam zona energi air
yang lebih tinggi, terumbu cenderung berkembang membentuk hemisperical,
encruting, dan tabular (Gambar II-I) dan biasanya lebih baik untuk untuk bertahan
terhadap aksi gelombang yang kuat.

II.3. Lingkungan Terumbu Energi Tinggi

II.3.I Lingkungan Terumbu Energi Tinggi

Pada gambar II-2, ditunjukkan secara skematik pembagian sub-fasies terumbu


platform (platform margin reef), terdiri dari bagian inti tengah “Reef-framework”,
yang berangsur kearah terumbu. Pada bagian lebih atas mendekati datar dan
dangkal terdiri dari “reef-slope”, dan “fore-reef talus” berupa akumulasi jatuhan
terumbu. Pada bagian lebih atas mendekati datar dan dangkal terdiri dari “reef-flat”
dan lebih kearah darat berupa “back-reef coral algal sands “ dan “endapan lagoon
sub-tidal” (Longman, M.W., 1981).

Secara fisiografis, James (1983) membagi terumbu kedalam zona “fore-reef”,


“reef-front”, “reef-crest’ “reef-flat” dan “back-ref” . Masing-masing zona dicirikan
oleh jenis material karbonat berbeda (Gambar II-3), sebagai berikut :

• Kata “rudstone”, “floatstone”, “bafflestone” “bindstone” dan “frameston” mula-


mula digunakan oleh Emery dan Klovan (1971) sebagai modifikasi klasifikasi batu
gamping yang diusulkan oleh Dunham (1962)
• “Floatstone” dan “rudstone” adalah butiran karbonat yang tidak terikat san
mengandung lebih dari 10 % butiran berukuran lebih dari 2 mm, beda keduanya
adalah “floatsone” merupakan mud-suported, sedangkan “rudstone’” adalah grain-
suported.
• “Bufflestone” adalah komponen karbonat yang terbentuk pada waktu
pengendapan berupa tangkai atau batang organisme yang terperangkap kedalan
sedimen oleh aktifitas buffle. “Binstone” terbentuk selama pengendapan oleh
pengerasan dan terikat organisme, seperti pengererasan foraminifera dan bryozoas,
sedangkan “framestone” tersusun oleh organisme seperti lokal yang membentuk
struktur kerangka yang kaku.

Energi air, proses sedimentasi utama, jenis organisme, persentase komponen


kerangka, ukuran butiran serta pemilahan sedimen berubah-ubah dalam setiap zona
(fasies) terumbu. Pada tabel II-1 diperlihatkan ringkasan karakteristik seperti itu
untuk setiap fasies atau zona yang ditunjukkan pada gambar II-2. Pada zona “reef-
crest” dimana energi air paling tinggi, maka persentase kandungan kerangka paling
tinggi. Kemudian pada kedua arah “fore-reef” dan “back-reef” energi air akan
menurun, yang diikuti oleh penurunnan kandungan kerangka. Perlu diperhatikan
bahwa seluruh komponen kerangka terumbu biasanya sangat lebih kecil
volumenya dari pada volume kandungan non-kerangka.

Longman (1981) membandingkan struktur terumbu dengan mudah, yang memiliki


inti tengah atau kerangka dikelilingi oleh “edible fruit”. Fraksi non-kerangka
terumbu terdiri dari organisme seperti echinodermata, alga hijau, dan moluska
tidak membentuk struktur kerangka, bersamaan dengan pecahan bioklas dari
terumbu yang terkena aktivitas gelombang dan dalam zona terumbu dengan energi
lebih rendah, beberapa lumpur gamping (lime mud). Zona fore-reef, talus-slope,
dan back-reef coral algal sands seluruhnya tersusun oleh kandungan non-kerangka
yang terdiri dari terutama bioklas dan beberapa organisme yang relatif hidup pada
zona ini.

II.3.2 Lingkungan atau Fasies terumbu Energi Rendah

Pada lingkungan energi tinggi, fasies moderen terumbu type tepi platform
umumnya terdiri dari inti kerangka tengah yang mengandung sebagianbesar coral
dan coralline alga. Inti berangsur ke arah laut melalui zona fore-reef talus sampai
lumpur gamping pada air yang lebih dalam atau shales. Dan ke arah darat melalui
back-reef coral algal sand sampai endapan lagoon dengan butiran yang lebih halus.
Model ini menyajikan alasan yang baik untuk perkembangan terumbu energi tinggi
dalam banyak posisi; meskipun beberapa bentuk terumbu energi yang lebih randah
juga dijumpai.

Pembagian zona karakteristik terumbu energi rendah tidak begitu baik berkembang
seperti terumbu energi tinggi dan terumbu cenderung membentuk bidang datar
melingkar sampai elip. Pertumbuhan organisme pada terumbu energi rendah
umumnya didominasi oleh bentuk-bentuk delicate, branching (gambar II-I), dan
tersusun oleh pasir dan lumpur karbonat yang sederhana dengan organisme yang
sangat mirip bagi komposisi organisme tipe terumbu (James, 1984). Bentuk
pertumbuhan (buildups) energi rendah lainnya tersusun sebagian besar oleh
organisme non-terumbu yang terdiri dari tiang-tiang fragmen skeletal berbentuk
gundukan atau “mound” dan / atau lumpur gamping bioklastik yang kaya
organisme skeletal dengan sedikit organisme boundstone. Bentuk struktur
semacam ini dinamakan “reef-mound” atau “simply-mound”.

James dan Bourque (1992) mengelompokkan “mound” seperti diatas kedalaman


tiga tipe utama, yaitu :
(a) Microbial-mounds, yang mengandung calcimicrobes, stromatolities, dan
thrombolities.
(b) Skeletal-mounds, mengandung sisa-sisa organisme yang terperangkap atau
buffed dalam lumpur.
(c) Mud-mounds, terbentuk oleh akumulasi lumpur plus berbagai sejumlah fosil.

III. TERUMBU PURBA

Terumbu purba biasanya dapat dibagi hanya menjadi fasies utama yaitu :
(a) Inti - terumbu (“reef-core”), terdiri dari kerangka terumbu masif, tak berlapis,
organisme pembentuk terumbu yang terkandung tersemen dalam matriks lumpur
gamping atau lime mud.
(b) Sayap-terumbu (“reef-flank”), biasanya terdiri dari gamping konglomeratan
atau breksi taluis, berlapis, pemilahan buruk, dan atau gamping pasiran yang
menipis dan miring menjauhi inti-terumbu.
(c) “Inter-reef”, mengandung butiran halus, gamping lumpuran sub-tidal, atau
kemungkinan lumpur silisiklastik.

Salah satu contoh yang baik yang menggambarkan karakteristik umum kompleks
terumbu purba adalah “carbonat-buildup di bagaian utara Meksixo disebut dengan
Golden Lane ‘ Atol”, yang memperlihatkan perubahan biofasies dan lithofasies
(Wilson, 1975). Pada bagian inti terumbu yang berada beberapa puluh meter diatas
fasies karbonat yang lebih dalam, terdiri dari “rudistid clams”, “colonial corals”,
“stromatoporoids”, dan “encrusting algae”. Beransur kearah pantai, terumbu
berupa “oolitic-biogenic grainstone” sampai mikrit “back-reef” “foraminiferal
grainstone”, dan “bioturbated wackstone” dengan fauna menunjukkan sirkulasi
terbatas, dan lebih kearah pantai berubah kedalam fasies yang lebih terbatas, dan
lebih kearah pantai perubah kedalam fasies yang lebih terbatas berupa endapan
evaporit. Selanjutnya kearah laut (basinward), fasies terumbu berubah ke fasies
sayap-terumbu (“reef-flank”) yang terdiri dari interklastik kasar sampai boulder
biogenik yang tertanam dalam mikrit, dan lebih kedalam lagi fasies terdiri dari
batugamping mikrit dengan fauna organisme pelagik.
Kandungan organisme pembentuk terumbu juga tergantung pada umur terumbu
tersebut. Organisme utama pembentuk terumbu purba sangat berbeda dengan
organisme terumbu moderen. Koral hermtypic yang mendominasi pembentukan
terumbu koral moderen, pertama-tama muncul pada umur Mesozoik dan bukan
komponen terumbu yang lebih tua. Terumbu yang lebih tua dari Mesozoik
umumnya didominasi oleh organisme pembentuk terumbu lainnya seperti : koral
tabular, “stromatoporoids”, “hydrozoans”, “sponga”, “encrusting bryzoa”,
“coralline algae”, dan “blue-green algae” (Stanley dan Fagerstrom, 1988).

KLASIFIKASI CEKUNGAN SEDIMEN


Pembentukan cekungan sedimen erat hubungannya dengan gerakan kerak dan
proses tektonik yang dialami lempeng. Ingersol dan Busby (1995) menunjukkan
bahwa cekungan sedimen dapat terbentuk dalam 4 (empat) tataan tektonik:
divergen, intraplate, konvergen dan transform). Menurut Dickinson, 1974 dan
Miall, 1999; klasifikasi cekungan sedimen dapat berdasarkan pada:

1. tipe dari kerak dimana cekungan berada,


2. posisi cekungan terhadap tepi lempeng,
3. untuk cekungan yang berada dekat dengan tepi lempeng, tipe interaksi lempeng
yang terjadi selama sedimentasi,
4. Waktu pembentukan dan basin fill terhadap tektonik yang berlangsung,
5. Bentuk cekungan.

Selley (1988) memberikan klasifikasi cekungan sedimen secara sederhana seperti


dalam Tabel. , sedang Boggs (2001) membagi cekungan sedimen lebih rinci dan
lebih komplit.

Mekanisme penendatan disariakan dari Dickinson (1993 dan Ingersol dan Busby
(1995)

Penipisan kerak (crustal Perenggangan, erosi selama pengangkatan, dan


thinning): penarikan akibat magmatisme

Penebalan mantel Pendinginan litosper yang diikuti penghentian


litosper (mantle- perenggangan atau pemanasan akibat peleburan
lithospheric thickening): adiabatik atau naiknya lelehan astenosper

Pembebanan batuan Kompensasi isostatik lokal dari kerak dan


sedimen dan perenggangan litosper regional, tergantung
gunungapi(sedimentary kegetasan litosper, selama sedimentasi dan
and volcanic loading): kegiatan gunungapi

Pembenan Kompensasi isostatik lokal dari kerak dan


tektonik(tectonic perenggangan litosper regional, tergantung
loading): kegetasan dibawah litosper, selama pensesaran
naik (overthrusting) dan/atau tarikan
(underpulling)

Pembenan subkerak kelenturan litosper selama underthrusting dari


(subcrustal loading): litosper padat

Aliran pengaruh dinamik aliran astenosper, umumnya


astenosper(asthenospheric karena penunjaman litosper
flow):

Penambahan berat Peningkatan berat jenis kerak akibat perubahan


kerak(crustal tekanan/ temperatur dan/atau pengalihan tempat
densification): kerak berberat-jenis tinggi ke kerak berberat-jenis
rendah

Klasifikasi cekungan sedimen (Selley, 1988)

PROSES PENYEBAB TIPE CEKUNGAN TATAAN TEKTONIK


LEMPENG
TERBENTUKNYA

Crustal sag Cekungan intrakraton Intra-plate collapse

Puntir (tension) Epicratonic downward Tepian lempeng pasif


(passive plate margin)
Rift
Sea-floor spreading
Tekanan (compression) Palung (trench) Subduksi (tepian lempeng
aktif)
Busur depan (fore-arc)

Busur belakang (back-


arc)

Wrenching Strike-slip Gerakan mendatar


lempeng

Klasifikasi cekungan menurut Boggs (2001)

TATAAN TIPE CEKUNGAN


TECTONIK

Divergen Rift: terrestrial rift valleys; proto-oceanic rift valleys

Antar- Cekungan beralaskan kerak benua/peralihan: cekungan


lempeng intrakraton, paparan benua, sembulan benua (continental
rises) dan undak, pematang benua.

Cekungan beralaskan kerak samodra: cekungan samodra


aktif, kepulauan samodra, dataran tinggi dan bukit aseismik
(aseismic rigde and plateau)

Konvergen Cekungan akibat subduksi: palung, cekungan lereng palung,


cekungan busur depan, cekungan intra-busur, cekungan busur
belakang.
Cekungan akibat tabrakan: cekungan retroac
forels, peripheral foreland basin, cekungan punggung babi
(piggyback basin), broken forland

Tranform Cekungan akibat sesar


mendatar: cekungan transextensional, transpressional,
transrotaional

Hybrid Cekungan akibat berbagai sebab: cekungan-


cekungan intracontinental wrench, aulacogen, impactogen,
successor

Buku ini tidak membahas secara rinci semua jenis cekungan sedimen, akan tetapi
beberapa cekungan yang dianggap penting di Indonesia akan dibahas secara
singkat di bawah ini (sebagian besar disarikan dari Boggs, 2001).

Cekungan Intrakraton (Intracratonic Basin)


Cekungan intrakraton umumnya cukup besar terletak di tengah suatu benua yang
jauh dari tepian lempeng. Subsiden pada cekungan jenis ini umumnya disebabkan
oleh penebalan mantel-litosfir dan bembebanan oleh batuan sedimen atau
gunungapi (Boggs, 2001). Beberapa cekungan intrakraton ini diisi oleh endapan
klastika laut, karbonat, atau sedimen evaporit yang diendapkan mulai dari laut
epikontinental sampai darat. Cekungan tua jenis ini di antaranya adalah Cekungan
Amadeus dan Carpentaria di Australia, Cekungan Parana di Amerika Latin, dan
Cekungan Paris di Perancis. Sedangkan contoh cekungan modern jenis ini adalah
Cekungan Chad di Afrika.

Renggang (Rift)
Cekungan akibat perenggangan ini umumnya sempit tetapi memanjang, dibatasi
oleh lembah patahan. Ukuran berkisar dari beberapa km sampai sangat lebar
seperti pada Sistem Renggangan Afrika Timur, dimana mempunyai lebar 30-40 km
dan panjang hampir 300 km. Cekungan ini dapat terbentuk oleh berbagai tataan
tektonik, namun yang paling umum oleh divergen. Perenggangan lempeng benua
seperti antara Amerika Utara dan Eropa terjadi pada Trias menghasilkan
Punggungan Tengah Atlantik (Mid-Atlantic Ridge). Sistem renggangan pada
Afrika Timur merupakan contoh sistem renggangan modern.

Aulakogen (Aulacogen)

Aulakogen adalah jenis khusus dari renggangan yang menyudut besar terhadap
tepian benua, dimana umumnya dianggap sebagai renggangan tetapi gagal dan
kemudian diaktifkan kembali selama tektonik konvergen. Palung yang sempit tapi
panjang dapat menggapai sampai kraton benua dengan sudut besar dari lajur sesar.
Sedimen yang mengisi cekungan jenis ini dapat berupa sedimen darat (misalnya
kipas aluvium), endapan paparan, dan endapan yang lebih dalam seperti endapan
turbit. Contoh aulakogen di antaranya Renggangan Reelfoot yang berumur
Paleozoik dimana Sungai Misisipi mengalir dan Palung Benue yang berumur
Kapur dimana Sungai Niger membelahnya.

Cekungan tepian benua


Cekungan tepian benua dicirikan oleh kehadiran baji yang sangat besar dari
sedimen yang ke arah laut dibatasi oleh lereng landai dari benua dan sembulan.
Ketidakterusan struktur dijumpai di bawah sistem ini, antara kerak benua normal
dan kerak peralihan. Sedimen terendapkan pada sistem ini: pada paparan berupa
pasir neritik dangkal, lumpur, kabonat dan endapan evaporasi; pada lerengan
terdiri atas lumpur hemipelagik; dan pada sembulan benua berupa endapan turbit.
Cekungan renggangan (rift basin) dapat berhubungan dengan cekungan tepian
benua. Contoh yang baik dari cekungan jenis ini adalah pantai Amerika dan bagian
selatan-timur Kanada (Cekungan Blake Plateau, Palung Lembah Baltimor,
Cekungan George Bank dan Cekungan Nova Scotian) yang terbentuk pada akhir
Trias- awal Jura oleh renggangan dan terpisahnya Pangea. Beberapa cekungan itu
terpisahkan dari laut membentuk lapisan tebal dari endapan klastik arkosik dan
endapan lakustrin; berselingan dengan batuan gunungapi basa. Cekungan yang lain
berhubungan dengan laut, membentuk sedimen yang berkisar dari endapan
evaporit sampai delta, turbit, dan serpih hitam.

Cekungan berhubungan dengan subduksi

Subduksi ditunjukkan dengan aktifnya tepian benus yang mana umumnya dicirikan
oleh adanya palung laut dalam, busur gunungapi aktif, rumpang parit-busur (arc-
trench gap) yang memisahkan ke duanya. Tataan subduksi terjadi lebih banyak
pada tepian benua dibandingkan pada besur samodra.

Sedimen terendapkan pada sistem subduksi ini lebih dikuasai oleh endapan
silisiklastik yang umumnya berupa batuan gunungapi berasal dari busur
gunungapi. Endapan ini dapat berupa pasir dan lumpur yang terendapkan pada
paparan, lumpur dan endapan turbit terendapkan dalam air yang lebih dapam pada
lereng, cekungan, dan parit. Sedimen pada parit dapat berupa endapan terigen yang
terangkut oleh arus turbit dari daratan, bersamaan dengan sedimen dari lempeng
samodra yang tersubduksikan. Ini umumnya membentuk kompleks akrasi. Batuan
campuraduk (melange) dapat terbentuk pada daerah akrasi ini, yang dicirikan oleh
percampuran dari batuan berbagai jenis yang tertanam pada masa dasar yang
mengkilap (sheared matrix).

Contoh yang baik dari sistem subduksi ini adalah subduksi Sumatra, Jepang, Peru,
Chili dan Amerika Tengah. Contoh cekungan busur muka purba di antaranya
adalah cekungan busur muka Great Valley, Kalifornia; Midland Valley, Inggris
dan Coastal range, Taiwan. Contoh cekungan busur belakang di antaranya terjadi
pada Jura Akhir – Awal Kapur terbentuk di belakang Busur Andean di Chili
selatan.

Cekungan berhubungan patahan mendatar/transform

Patahan yang dapat membentuk cekungan ini adalah patahan mendatar yang
menoreh dalam kerak sampai membatasai dua lempeng yang berbeda (transform
fault) dan patahan yang terbatas dalam suatu lempeng dan hanya menoreh bagian
atas kerak (Sylvester, 1988). Cekungan yang berhubungan dengan patahan
mendatar regional terbentuk sepanjang punggung pemekaran, sepanjang batas
patahan antar lempeng, pada tepian benua dan daratan dalam lempeng benua.
Gerakan sepanjang patahan mendatar regional dapat membentuk berbagai
cekungan nendatar (pull-apart basin). Cekungan yang dibentuk karena patahan
mendatar umumnya kecil, garis tengahnya hanya beberapa puluh kilometer,
walaupun ada beberapa yang sampai 50 km. Karena patahan mendatar terbentuk
pada berbagai tataan geologi, cekungan ini dapat diisi sedimen laut maupun darat.
Ketebalan sedimen cenderung sangat tebal, karena kecepatan sedimentasi yang
tinggi yang dihasilkan oleh erosi dari daerah sekitarnya yang berelevasi tinggi, dan
boleh jadi ditandai dengan banyaknya perubahan fasies secara lokal. Di Indonesia
Cekungan jenis ini banyak terdapat sepanjang Patahan Sumatra.
TEKNIK ANALISA CEKUNGAN

Sedimen yang mengisi suatu cekungan merupakan faktor yang sangat penting
untuk dipelajari dalam analisa cekungan sedimen yang bersangkutan. Sedimen
tersebut dipelajari bagaimana proses terbentuknya, sifat batuan dan aspek
ekonominya. Proses pembentukan sedimen meliputi pelapukan, erosi, transportasi
dan pengendapan, sifat-sifat fisik, kimia dan biologi batuan; lingkungan
pengendapan, dan posisi stratigrafi. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses
pengendapan dan sifat sedimen adalah:

1. litologi batuan induk, akan sangat mempengaruhi komposisi sedimen yang


berasal dari batuan tersebut;
2. topografi dan iklim dimana batuan induk berada, mempengaruhi kecepatan
denudasi yang menghasilkan sedimen yang kemudian diendapkan dalam
cekungan;
3. kecepatan penurunan cekungan bersamaan dengan kecepatan
kenaikan/penurunan muka laut; dan
4. ukuran dan bentuk dari cekungan.

Analisa cekungan merupakan hasil interpretasi yang berdasarkan pada proses


sedimentasi, stratigrafi, fasies dan sistem pengendapan, peleoseanografi,
paleogeografi, iklim purba, analisa muka laut, dan petrografi/mineralogi (Klein,
1995; Boggs, 2001). Penelitian sedimentologi dan analisa cekungan sekarang ini
ditikberatkan pada analisa fasies sedimen, siklus subsiden, perubahan muka laut,
pola sirkulasi air laut, iklim purba, dan sejarah kehidupan.

Model pengendapan semakin meningkat digunakan untuk mengetahui lebih baik


tentang pengisian cekungan dan pengaruh berbagai parameter pengisian cekungan
seperti pasokan sedimen, besar butir, kecepatan penurunan cekungan, dan
perubahan muka laut.

Sebagai bahan untuk analisa cekungan, dibutuhkan berbagai data, mulai data dari
singkapan sampai data bawah permukaan. Data tersebut termasuk data hasil
pemboran dalam, studi polarisasi magnetik dan eksplorasi geofisika. Pembahasan
berikut ini secara singkat akan diketengahkan teknik analisa cekungan yang umum
dilakukan.

Penampang Stratigrafi
Data lengkap dan akurat tentang sedimen dari singkapan maupun inti bor, baik
ketebalan maupun litologi setiap himpunan sedimen, merupakan hal yang sangat
penting untuk interpretasi sejarah bumi. Untuk menghimpun data tersebut
diperlukan pengukuran dan pemerian secara teliti dan akurat pada singkapan
dan/atau inti bor. Kegiatan menghimpun data ini jamak disebut pembuatan
penampang stratigrafi terukur, yang meliputi pemerian litologi, sufat-sifat
perlapisan, dan kenampakan lainnya dari batuan. Pemakaian teknik tertentu dalam
melakukan pengukuran penampang stratigrafi sangat tergantung pada kegunaan
hasil pengukuran dan keadaan singkapan diukur di alam. Kottlowski (1965)
menunjukkan beberapa cara dan peralatan untuk melakukan pembuatan
penampang stratigrafi.

Sejumlah penampang stratigrafi dapat dipakai dalam pembuatan penampang


melintang stratigrafi yang sangat bermanfaat dalam korelasi stratigrafi, interpretasi
struktur dan perubahan fasies yang boleh jadi diikuti oleh perubahan dari
lingkungan dan arti ekonomis. Penampang melintang digambarkan segai ilustrasi
yang menggambarkan keadaan lokal dari suatu cekungan, sering pula disiapkan
dalam rangka pembuatan peta fasies, atau bahkan menggambarkan runtunan
stratigrafi seluruh cekungan. Pada umumnya penampang stratigrafi
menggambarkan dua demensi dari litologi dan/atau ciri struktur dari suatu unit
stratigrafi atau unit yang memotong suatu wilayah geografi.

Diagram Pagar
Informasi stratigrafi dapat pula disajikan dalam diagram pagar yang
menggambarkan pandangan tiga dimensi stratigrafi dari suatu daerah atau wilayah
tertentu. Dengan cara ini hubungan antar satuan stratigrafi dapat dilihat dengan
jelas. Sayangnya, bagian pagar depan akan menutup sebagian belakangnya;
sehingga menyulitkan pembuat untuk menyuguhkan gambar yang baik dan jelas.

Peta Struktur
Untuk menggambarkan bentuk dan orientasi cekungan serta geometri pengisian
cekungan diperlukan peta struktur. Pada dasarnya, kontur pada peta ini adalah
kumpulan titik-titik yang mempunyai elevasi sama dari bagian atas atau bawah
suatu datum tertentu. Struktur lokal seperti antiklin dan sinklin dapat dengan
mudah dikenali pada peta jenis ini. Peta struktur ini sangat berguna dalam
eksplorasi baik hidrokarbon maupun mineral dan batubara. Dasar cekungan dapat
digambarkan dengan peta ini, apabila menggunakan datum bagian bawah lapisan
tertua pengisi cekungan yang bersangkutan. Dengan begitu topografi purba dapat
diinterpretasi dengan mudah.
Peta Isopak
Peta isopak adalah suatu peta yang konturnya menghubungkan titik-titik yang
mempunyai ketebalan sama dari suatu lapisan atau satuan batuan. Ketebalan suatu
satuan batuan tergantung dari kecepatan pasokan sedimen dan ruang yang tersedia
pada cekungan. Ruang pada cekungan merupakan fungsi dari geometri cekungan
dan kecepatan subsiden cekungan. Bagian yang menebal secara abnormal
merupakan pusat pengendapan, sebaliknya yang menipis abnormal adalah daerah
yang sebelum pengendapan merupakan tinggian atau sudah lebih banyak tererosi
setelah pengendapan. Dengan peta jenis ini dapat digambarkan keadaan cekungan
sebelum dan selama pengendapan, sehingga apabila dilakukan analisa peta isopak
untuk setiap satuan pada cekungan dimana mereka diendapkan, akan mendapatkan
informasi perubahan struktur cekungan dari waktu ke waktu.

Peta Paleogeologi
Peta paleogeologi adalah peta yang menggambarkan kondisi geologi tertentu di
bawah atau di atas suatu unit tertentu. Sebagai contoh, kita dapat mengupas semua
satuan batuan mulai dari unit stratigrafi tertentu untuk melihat satuan batuan di
bawah unit stratigrafi tertentu tersebut. Kemudian kita gambarkan peta geologi di
atas alas satauan batuan tersebut. Peta semacam ini disebut peta superkrop
(supercrop map). Dengan yang cara sama, satuan batuan di atas suatu formasi atau
tubuh batuan tertentu dapat pula digambarkan. Peta superkrop umumnya dibuat
pada batas ketidakselarasan, tetapi dapat pula dibuat pada suatu satuan batuan yang
mempunyai ciri tertentu. Manfaat peta jenis ini adalah untuk interpretasi pola
aliran purba, pola pengisian cekungan, pergeseran garis pantai, penimbunan secara
gradual dari paleotopografi.

Peta Litofasies
Peta fasies menggambarkan vareasi sifat litologi atau biolofi dari satuan stratigrafi
tertentu (Boggs, 2001). Peta fasies yang umum dipakai adalah peta litofasies
dimana menyajikan beberapa aspek komposisi dan tekstur batuan. Peta litofasies
yang umum dipakai adalah:
a. peta perbandingan klastik (clastic-ratio map) dan
b. peta litofasies tiga komponen.
Peta perbadingan klastik menunjukkan kontur dari perbandingan klastik yang
sebanding. Sedangkan perbandingan klastik adalah perbandingan dari jumlah
kumulatif ketebalan endapan klastik dan jumlah kumulatif endapan non-klastik,
sebagai contoh:

(konglomerat + batupasir + serpih)


------------------------------------------
(batugamping + dolomit + evaporit + batubara)

Peta jenis ini sangat bermafaat untuk melihat hubungan litologi dengan tepi
cekungan dimana sedimen tersebut diendapkan. Tentu saja bagian yang nilai
perbandingan klastiknya relatif tinggi menunjukan bagian tersebut dekat dengan
asal batuan atau sangat mungkin tepi cekungan. Sedangkan bagian yang nilai
perbandingan klastiknya rendah menunjukkan bagian tersebut relatif jauh dari tepi
cekungan. Dengan peta ini juga dapat diketahui arah tranportasi sedimen secara
regional dalam cekungan itu.

Peta litofasies tiga komponen menyajikan rata-rata atau pola kelimpahan relatif
dalam suatu satuan stratigrafi dari tiga komponen litofasies (Boggs, 2001).

Analisa Arus Purba


Analisa arus purba adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengetahui arah
aliran dari arus purba pembawa sedimen ke dalam suatu cekungan pengendapan
(Boggs, 2001). Tentu saja, dengan teknik ini akan diketahui juga arah kemiringan
lereng purba baik lokal maupun secara regional dan sekaligus asal dari sedimen
yang terendapkan.

Analisa arus purba dapat dilakukan dengan mempelajari secara mendalam dari
berbagai struktur sedimen, seperti silang siur, alur sungai, dan ripple mark.
Geometri dan kecenderungan dari suatu unit batuan sering dapat membantu untuk
interpretasi lingkungan pengendapan dan arah arus purba. Orientasi dari kepingan
batuan berbutir besar (seperti kerakal dan brangkal), ketebalan lapisan, vareasi
litologi dalam suatu lapisan dapat dipakai untuk interpretasi arah arus purba dan
lokasi asal atau sumber batuan.

Studi Provenan (Asalmuasal) Batuan


Komposisi dari suatu batuan sedimen klastika yang mengisi suatu cekungan sangat
dipengaruhi oleh komosisi batuan sumbernya. Komposisi itu tentu saja juga
dipengaruhi oleh pelapukan dan iklim daerah yang bersangkutan. Studi provenan
meliputi: (a) Komposisi litologi dari asal batuan, (b) tataan tektonik dari daerah
asal batuan, dan (c) iklim, topografi, dan kemiringan daerah asal batuan (Boggs,
2001).

Vareasi litologi dari batuan asal dipelajari dari berbagai jenis mineral dan kepingan
batuan yang dijumpai pada suatu batuan sedimen klastika.