Anda di halaman 1dari 18

PERENCANAAN PAJAK ( Tax Planning )

A. KATA PENGANTAR

Persepsi pengusaha (wajib pajak) tentang pajak akan mempengaruhi tindakannya dalam memenuhi
kewajiban perpajakan. Secara umum, dalam dunia bisnis, persepsi tentang pajak dapat dibedakan
menjadi dua yaitu:
(1) pajak sebagai bentuk pembagian laba (distribution of profits), dan
(2) pajak sebagai beban/biaya (expenses)

Dalam hal pajak dipersepsikan oleh Wajib Pajak sebagai pembagian laba maka negara diasumsikan
sebagaimana layaknya pemegang saham (= stock holders, walaupun kenyataannya negara bukanlah
sebagai lembaga profit sharing) atas perusahaan (baik badan dan orang pribadi) yang menjadi
penduduknya atau berusaha di wilayah kedaulatannya. Dengan mengikuti persepsi ini, pengusaha
diasumsikan akan berusaha sebaik mungkin untuk sukses dan memperoleh keuntungan yang besar.
Dengan keuntungan yang besar, perusahaan selanjutnya akan mampu membagikan dividen (=pajak)
kepada pemegang saham (=negara) dalam jumlah yang besar. Semakin besar pajak yang dibayar,
pengusaha akan merasa semakin berhasil dalam mengelola perusahaan.

Namun dalam praktiknya, sebagian besar, pengusaha mempersepsikan pajak sebagai beban/biaya
sehingga pajak, sebagai biaya, sedapat mungkin pun harus diminimalkan untuk mencapai laba yang
optimal atau maksimal. Dengan kata lain, tujuan pengusaha mengikuti persepsi ini diarahkan pada
“bagaimana membuat pajak perusahaan menjadi lebih kecil dari yang seharusnya”. Persepsi yang
seperti ini pada dasarnya selaras dengan adagium atau pandangan yang lazim diterima dalam dunia
perpajakan yang menyatakan bahwa pada dasarnya tidak ada orang yang membayar pajak dengan
sukarela. Pembayaran pajak umumnya dianggap sebagai kewajiban (liability), sehingga, secara
rasional cenderung diusahakan untuk dihindari atau paling tidak dikurangi. Usaha meminimalkan pajak,
dilakukan oleh pengusaha melalui berbagai cara, metode dan teknik tertentu sesuai dengan kondisi
dan lingkungan perusahaan. Secara umum, usaha-usaha tersebut dapat digolongkan pada 2 bagian
besar, yaitu: tax avoidance (penghindaran pajak) dan tax evation (pelanggaran pajak).

Tax avoidance diartikan sebagai usaha meminimalkan pajak dengan memanfaatkan celah-celah
hukum yang terdapat dalam peraturan atau ketentuan perpajakan. Karena dilakukan dengan
memanfaatkan celah-celah hukum, maka usaha meminimalkan pajak seperti ini, secara hukum, adalah
legal dan tidak dapat dipermasalahkan oleh administrasi pajak. Berbeda dengan itu, tax evation adalah
usaha meminimalkan pajak dengan cara melanggar peraturan dan ketentuan pajak sehingga dapat
digolongkan pada pelanggaran hukum. Namun, apapun cara dan metode yang dipilih Wajib Pajak, dari
aspek penerimaan Negara, baik tax evation maupun tax avoidance akan mengakibatkan dampak yang
sama, yaitu: berkurangnya jumlah penerimaan Negara melalui pajak.
Dalam arti yang lebih sempit, usaha untuk meminimalkan pembayaran pajak dengan memanfaatkan
celah-celah hukum disebut juga sebagai perencanaan pajak (tax planning). Namun demikian, tidak
seluruh ahli pajak setuju bahwa perencanaan pajak diartikan sebagai upaya yang ditujukan semata-
mata untuk tujuan meminimalkan pajak. Menurut Scholes dan Woleson, perencanaan pajak yang
efektif juga harus memperhitungkan besarnya pengorbanan sumber daya (baca:beban) wajib pajak
untuk merekayasa keadaan, kejadian atau peristiwa perpajakan agar pajak menjadi minimal. Beban
dalam hal ini tidak hanya yang bersifat material (bisa diukur dengan nilai uang) tetapi juga yang
immaterial (misalnya: waktu yang tersita, perasaan khawatir (psikis) akan bermasalah dalam
pemeriksaan pajak, dll). Maka dalam praktik perpajakan yang lebih mutakhir, tax planning dipahami
dengan lebih positif dan dalam konteks yang lebih luas. Perencanaan pajak diartikan sebagai upaya
untuk mengeliminir pemboroson sumber daya dengan cara memenuhi kewajiban perpajakan secara
lengkap, benar dan tepat waktu sehingga terhindar dari sanksi – sanksi perpajakan baik administrasi
maupun pidana. Dalam tinjauan seperti itu, perencanaan pajak menjadi lebih dekat dengan manajemen
pajak. Oleh sebab itu, sering juga dikatakan bahwa perencanaan pajak adalah jalan awal menuju
manajemen pajak (catatan: secara sederhana perencanaan adalah satu fungsi dari empat fungsi
manajemen, yaitu: perencanaan - planning, pengorganisasian - organizing, pelaksanaan - actuating
dan pengendalian - controlling).

B. BEBERAPA TEKNIK PERENCANAAN PAJAK DI INDONESIA

Paper berikut ini akan membahas beberapa teknik perencanaan pajak yang umum dilakukan di
Indonesia. Seiring dengan perkembangan dunia bisnis dan perpajakan, tentu teknik perencanaan pajak
juga akan berkembang mengikuti ketentuan dan peraturan pajak yang berlaku. Oleh sebab itu, pada
dasarnya perencanaan pajak yang dilakukan perusahaan tidak mungkin sama terus-menerus.
Perencanaan pajak akan berubah atau berganti sesuai dengan dinamika bisnis dan perkembangan
ketentuan pajak yang terkait. Namun demikian, untuk memberikan gambaran mengenai cara dan
metode perencanaan pajak, teknik-teknik berikut ini diharapkan dapat mewakili teknik-teknik yang
umum dilakukan. Penerapan teknik-teknik, dengan demikian, hanyalah contoh-contoh untuk membuka
wawasan bagi para pembaca bahwa dengan melakukan perencanaan pajak, terdapat kemungkinan
beban pajak yang harus ditanggung perusahaan bisa menjadi lebih kecil. Penyajian bentuk
perencanaan pajak dalam paper ini di bagi menurut 3 Undang-Undang Pajak yang berlaku, yaitu:
1. Pajak Penghasilan
2. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang mewah
3. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

Perencanaan pajak dengan demikian, pada dasarnya, mungkin juga dilakukan pada jenis pajak yang
lain (misalnya: PBB, BPHTB, Bea Masuk dan Pajak Daerah) yang tidak diuraikan dalam Modul ini.

PAJAK PENGHASILAN

1. Memilih Bentuk Usaha

Salah satu pertimbangan yang dilakukan pengusaha sebelum menjalankan usaha adalah memilih
bentuk usaha apakah sebagai badan atau perorangan. Struktur tarif yang berbeda untuk kedua bentuk
usaha tersebut menyebabkan konsekuensi bagi besarnya jumlah pajak yang harus dibayar.
Berdasarkan struktur tarif Pasal 17 UU PPh, diketahui bahwa terdapat perbedaan tarif antara Wajib
Pajak Orang Pribadi dan Badan. Struktur tarif yang bertingkat (progressive tax) yang dikenakan pada
Wajib Pajak Orang Pribadi dan tariff tunggal pada WP Badan memberikan alternatif bagi WP apakah
harus memilih menjadi WP Orang Pribadi atau Badan. Struktur tarif pasal 17 UU PPh adalah sebagai
berikut (Tabel 1)

Tabel 1
Perbandingan PPh antara Wajib Pajak Orang Pribadi dengan Badan

No. Bentuk Penghasilan Kena Pajak


Usaha Tarif

50.000.000 5%
1 Orang Sd 250.000.000 15%
Pribadi Sd 500.000.000 25%
Diatas 500.000.000 30%

2 Badan Tiap level penghasilan 25%


Berdasarkan Tabel 1 di atas dapat dihitung bahwa PPh yang akan dibayar WP OP dan Badan akan
sama besarnya pada saat Penghasilan Kena Pajak Rp. 1.100.000.000,-. Pada titik tersebut tersebut
baik WP OP maupun Badan akan sama-sama terutang PPh sebesar Rp. 275.000.000,-. Namun, dalam
hal penghasilan telah melebihi Rp. 1.100.000.000,- maka PPh terutang bagi Wajib Pajak Orang Pribadi
akan menjadi lebih besar dari pada WP Badan sehingga lebih menguntungkan apabila memilih bentuk
usaha Orang Pribadi daripada Badan (faktor yang lain dianggap sama).
Contoh: pada titik Penghasilan Kena Pajak Rp. 1.200.000.000, masing-masing bentuk usaha akan
terutang PPh sebagai berikut (PPh OP lebih besar Rp. 5.000.000,-):

PPh Orang Pribadi = (50.000.000 x 5%) + (200.000.000 x 15%) + (250.000.000 x 25%)


+ (700.000.000 x 30 %)
= Rp. 305.000.000,-

PPh Badan = 1.200.000.000 x 25%


= Rp. 300.000.000,-
2. Memilih Tempat Usaha

Peraturan perpajakan memberikan fasilitas perpajakan atas lokasi tertentu dan bidang-bidang usaha
tertentu. Pasal 31 A UU no 17 dan PP 147 Tahun 2000 tentang perlakuan perpajakan di Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) memberikan fasilitas perpajakan bagi Wajib Pajak yang
berinvestasi di daerah-daerah yang merupakan KAPET. Fasilatas-fasilitas yang dapat dijadikan insentif
pajak oleh WP adalah, antara lain:

1. Pengurangan penghasilan netto sebesar 30% dalam jangka waktu 6 tahun dari jumlah penanaman
modal dalam aktiva tetap yang dapat disusutkan maupun yang tidak dapat disusutkan ( = 5%
pertahun)
2. Penyusutan dan amortisasi yang dipercepat, yaitu 4 tahun untuk tempat usaha yang umum
menjadi hanya 2 tahun untuk tempat usaha di KAPET. Hal ini akan mendorong terjadinya
percepatan dalam pengembalian modal.
3. Kompensasi kerugian lebih lama, yaitu sampai dengan 10 tahun. Tempat usaha yang umum hanya
memberikan kesempatan tahun untuk kompensasi kerugian.
4. Tarif PPh pasal 26 atas dividen hanya 10 % sedangkan tariff PPh pasal 26 secara umum adalah
20%.
3. Obyek Pajak

Obyek Pajak Penghasilan sebagaimana diatur dalam pasal 4 (1) UU PPh adalah penghasilan yang
didefinisikan sebagai setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk
konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan dengan nama dan dalam
bentuk apapun. Berdasarkan definisi tersebut tampak bahwa UU PPh menganut prinsip pemajakan
atas penghasilan dalam pengertian yang luas yaitu kemampuan ekonomis. Pengertian ini tidak
mengharuskan adanya sumber penghasilan (source of income). Apapun yang menambah kemampuan
ekonomis Wajib Pajak dapat dikategorikan sebagai penghasilan (misalnya: penghapusan utang).

Pengertian penghasilan yang sangat luas seperti disebutkan di atas menyebabkan sangat sulit untuk
menghindari pengenaan pajak. Perencanaan pajak yang mungkin dilakukan dapat dikelompokkan
menjadi 3, yaitu:

1. Merubah bentuk penghasilan dari satu tipe menjadi tipe lainnya (converting income from one type
to another)

Perencanaan ini dapat dilakukan dengan cara memilih bentuk badan usaha yang tepat. Untuk
kondisi tertentu, badan usaha dalam bentuk persekutuan komanditer (CV) lebih menguntungkan
dari pada Perseroan Terbatas (PT). Pada badan usaha yang berbentuk PT akan terjadi pemajakan
dua kali (double taxation) yaitu pajak atas laba perusahaan dan pajak atas dividen yang dibagikan
kepada pemilik. Pada bentuk usaha CV, bagian laba yang diperoleh oleh anggota persekutuan
bukanlah obyek pajak.
2. Penggeseran penghasilan dari kantong yang satu ke lainnya (shifting income from one pocket to
another)

Perencanaan pajak dilakukan dengan cara menggeser penghasilan ke perusahaan lain dalam grup
sehingga jumlah pajak akan lebih kecil. Penggeseran penghasilan dapat dilakukan kepada
perusahaan afiliasi yang mengalami kerugian atau kepada perusahaan di luar negeri yang tarif
pajaknya lebih rendah.

3. Penggeseran penghasilan dari satu period ke periode lainnya (shifting income from one time period
to another)

Perencanaan pajak dilakukan dengan cara menyebar penghasilan ke beberapa tahun untuk
menghindari pengenaan progresivitas tarif pajak. Penyebaran penghasilan misalnya dapat
dilakukan dengan cara, misalnya: penjualan cicilan (installment sales). Pergeseran penghasilan
juga dilakukan untuk menghindari beban pajak yang terlalu besar pada satu tahun pajak.
Pergeseran dengan demikian merupakan penundaan pembayaran pajak tahun ini ke tahun-tahun
berikutnya.
4. Tarif Pajak

Tarif pajak bersifat progresif juga dapat menimbulkan adanya peluang untuk mengurangi besarnya
pajak, misalnya:

(1) Memecah perusahaan menjadi 2 atau lebih untuk mengurangi progresivitas tarif pajak. Setiap
pemecahan akan mengakibatkan penghasilan kena pajak akan dikenakan dari tarif yang
terendah lebih dahulu. Penghematan pajak diperoleh dari selisih tarif (tarif yang seharusnya
dikenakan jika penghasilan diakui dalam 1 perusahaan dengan tarif yang dikenakakan dari
tingkat paling rendah jika penghasilan dibagi ke 2 perusahaan atau lebih). Contoh: Dalam UU
PPh Tahun 2000, saat tariff PPh Badan masih bertingkat, maka bertambahnya 1 perusahaan
akan menyebabkan penghematan pajak sebesar Rp 25.000.000,-

(2) Dalam hal perusahaan mempekerjakan pegawai yang penghasilan kena pajaknya melebihi Rp
500.000.000,- maka pegawai tersebut akan dikenakan tarif 30%. Untuk kondisi seperti ini,
penghematan pajak akan diperoleh dengan meningkatkan kompensasi kepada pegawai
tersebut dalam bentuk natura daripada dalam bentuk tunai. Jika perusahaan memberi
kompensasi dalam bentuk natura, maka beban tersebut tidak diperkenankan sebagai
pengurang penghasilan sehingga perusahaan akan terkena pajak 25%. Namun jika diberikan
dalam bentuk tunai kepada pegawai, maka pegawai tersebut akan terkena pajak 30%. Dengan
demikian pemberian kompensasi kepada pegawai dalam bentuk natura akan menyebabkan
penghematan pajak sebesar 5%.

5. Biaya yang diperbolehkan mengurangi penghasilan kena pajak

UU PPh memberikan hak bagi wajib pajak (yang menyelenggarakan pembukuan) untuk mengurangkan
biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan. Pasal 6 UU
PPh mengatur biaya yang dapat dikurangkan, sedangkan Pasal 9 mengatur yang tidak diperkenankan
untuk dikurangkan. Ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan dalam rangka perencanaan pajak
menyangkut biaya-biaya, namun dalam paper ini akan dibahas beberapa peluang antara lain:

1. Pembelian bahan

Pembelian bahan baku dapat dimanfaatkan dalam perencanaan pajak untuk menggeser beban
dari satu perusahaan ke perusahaan lain dalam satu group sehingga dapat mengurangi
besarnya pajak secara keseluruhan. Dalam praktiknya, hal ini dilakukan dengan menciptakan
transaksi antara perusahaan yang menjadi profit center dengan perusahaan cost center.
Namun demikian dalam perencanaan pajak seperti ini harus memperhatikan masalah
hubungan istimewa dalam penentuan harga transfer (transfer pricing) sebagaimana diatur
dalam pasal 18 UU PPh
2. Upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi dan tunjangan

Pemberian tunjangan dalam bentuk tunai akan menyebabkan pertambahan beban pajak bagi
karyawan. Bagi buruh kecil, akan lebih menguntungkan pemberian tunjangan dalam bentuk
natura daripada tunai karena tidak akan terkena pajak. Selanjutnya UU PPh pasal 9 (1) huruf e
dan Kep Dirjen Pajak nomor Kep-545/PJ./2000 memungkinkan adanya pemberian natura yang
tidak kena pajak bagi karyawan namun tetap dapat dibiayakan oleh perusahaan.

3. Biaya beasiswa, magang dan pendidikan

Biaya ini adalah pengurang penghasilan bagi perusahaan, namun merupakan obyek PPh bagi
karyawan yang mendapatkan beasiswa. Berdasarkan Pasal 7 huruf a Kep Dirjen nomor Kep-
545/PJ./2000 disebutkan bahwa pembayaran asuransi dari asuransi bea siswa tidak termasuk
obyek PPh Pasal 21. Dengan demikian, apabila biaya beasiswa dan pendidikan karyawan
dilakukan melalui asuransi pendidikan maka baik perusahaan maupun karyawan akan bebas
dari pajak.

4. Merger dan revaluasi aktiva tetap

Berdasarkan Surat Edaran Dirjen Pajak nomor SE-21/Pj.42/1999 dinyatakan bahwa bila
sebuah perusahaan rugi dan merger dengan perusahaan laba maka akumulasi dapat dialihkan
ke perusahaan hasil merger dengan syarat perusahaan rugi tersebut sebelumnya melakukan
revaluasi aktiva tetap. Revaluasi aktiva tetap pada umumnya akan menghasilkan capital gains
yang dapat mengurangi akumulasi kerugian. Peluang yang dimiliki dalam perencanaan pajak
adalah dengan cara membuat merger terbalik yaitu perusahaan laba bergabung dengan
perusahaan rugi. Dengan cara ini, kompensasi kerugian tetap akan dinikmati oleh perusahaan
gabungan karena perusahaan laba tidak harus melakukan revaluasi aktiva tetap.

5. Penilaian persediaan

Peraturan perpajakan memberikan 2 alternatif dalam penilaian persediaan, yaitu metode rata-
rata dan FIFO dan harus diterapkan secara konsisten. Berdasarkan literature dinyatakan
bahwa apabila harga cenderung naik, maka metode nilai rata-rata akan memberikan harga
pokok yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode FIFO. Selanjutnya, harga pokok yang
tinggi akan menyebabkan berkurangnya pajak yang harus dibayar.
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI dan PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG
MEWAH

6. Pengusaha Kena Pajak (PKP) vs Non PKP

Berdasarkan UU PPN, pengusaha dengan peredaran kurang dari Rp.600.000.000 pertahun


dapat memilih untuk menjadi Pengusaha Kena Pajak atau tidak menjadi PKP. Bagi PKP, harga
barang menjadi lebih tinggi karena ada unsur PPN. Harga yang lebih tinggi akan menyebabkan
revenue yang rendah. Sementara itu, bagi Non PKP harga lebih rendah yang akan
menyebabkan revenue menjadi lebih besar. Bagi pengusaha yang peredarannya telah
melebihi batasan Rp 600.000.000, namun ingin tetap menjadi Non PKP, maka perencanaan
pajak dapat dilakukan dengan cara memecah perusahaan menjadi 2 atau lebih sehingga total
peredaran masing-masing pengusaha setelah dipecah tetap tidak melebihi batasan Rp
600.000.000,-

7. Faktur Pajak

Dalam rangka perencanaan pajak, maka memaksimalkan pajak masukan dapat dilakukan
dengan cara membeli BKP/JKP dari PKP. Faktur pajak yang diperoleh dari PKP tersebut dapat
dikreditkan untuk mengurangi beban PPN atas pajak keluaran.

8. Saat Penyerahan Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak

Perencanaan pajak dilakukan dengan cara mempertimbangkan saat penyerahan (penerimaan


uang) dengan batas waktu pelaporan ke kantor pajak. Semakin besar rentang antara saat
penyerahan dengan saat pelaporan, maka pengusaha akan semakin diuntungkan dari sisi
cashflows. Dengan kata lain pengusaha akan semakin lama menahan pajak di tangannya
sebelum disetorkan ke kas Negara

9. Membeli saham perusahaan vs membeli asset

Berdasarkan UU PPN, maka pembelian sebagian atau seluruh aktiva perusahaan adalah
merupakan penyerahan kena pajak sehingga terutang PPN. Oleh sebab itu, dalam hal
pengusaha ingin melakukan akuisisi terhadap perusahaan lain, akan lebih menguntungkan jika
dilakukan dengan cara membeli saham perusahaan yang bukan merupakan Barang Kena
Pajak.
KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

Perencanaan pajak dalam Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan pada dasarnya
menyangkut masalah-masalah umum di luar masalah aturan material sebagaimana diatur dalam
UU PPh dan UU PPN. Dalam paper ini, akan diuraikan beberapa masalah yang dapat dijadikan
peluang dalam perencanaan pajak sehingga kinerja perusahaan meningkat.

10. Menghindari sanksi administrasi

Dalam melaksanakan kewajiban perpajakan, perusahaan harus mengikuti peraturan-peraturan


perpajakan yang berlaku. Kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan peraturan akan
menyebabkan dikenakannya sanksi administrasi berupa bunga, kenaikan dan denda serta
sanksi pidana berupa denda, kurungan dan penjara. Perencanaan pajak diarahkan untuk
menghindari dikenakannya sanksi-sanksi pajak dengan cara melaksanakan kewajiban
perpajakan perusahaan secara benar dan tepat waktu.

Dalam hal sanksi administrasi, perencanaan pajak mendapatkan peluang untuk terjadinya
pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi sebagaimana diatur dalam Pasal 36 UU
KUP, yang tata cara pelaksanaannya diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan nomor KMK-
542/KMK.04/2000. Untuk mendapatkan peluang tersebut, perusahaan dianjurkan menunjukkan
sifat koperatif dan itikad baik dalam menyelesaikan permasalahan pajaknya dengan
menjelaskan alasan-alasan dan bukti-bukti pendukung.

11. Memilih Pembukuan atau Pencatatan

Pembukuan dan pencatatan diatur dalam Pasal 28 UU KUP dan Pasa 14 UU PPh. Alternatif
untuk memilih melakukan pembukuan hanya berlaku bagi pengusaha yang mempunyai
peredaran usaha kurang dari Rp 600.000.000,- pertahun. Untuk perusahaan dengan
peredaran di atas Rp 600.000.000,- diwajibkan untuk melakukan pembukuan.

Dari sisi biaya maka melakukan pencatatan akan lebih murah daripada melakukan
pembukuan. Namun dari sisi perpajakan, pencatatan mempunyai kekurangan dibandingkan
dengan pembukuan yaitu:
a. pencatatan tidak mengenal adanya rugi, karena penghasilan kena pajak ditetapkan dari
penghasilan bruto
b. sebagai konsekuensi dari butir a, dengan memilih menggunakan pencatatan maka tidak
terdapat pula kompensasi kerugian
c. tidak dapat melakukan restitusi PPh
d. kemungkinan pajak yang dibayar lebih besar jika dibandingkan dengan melakukan
pembukuan dimana seluruh biaya untuk memperoleh, menagih dan memelihara
penghasilan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
12. Menghadapi Pemeriksaan

Pemeriksaan dilakukan dlam rangka pengawasan sistem self assessment. Pemeriksaan pajak
diatur dalam Pasal 29 KUP dan tata caranya diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan nomor
545/KMK.04/2000. Dalam rangka pemeriksaan, perencanaan pajak yang dapat dilakukan
adalah bersikap koperatif terhadap pemeriksaan seperti: menyediakan dokumen dan data
pembukuan yang diminta, menjawab pertanyaan pemeriksa disertai bukti yang mendukung
dan meminta penjelasan kepada pemeriksa mengenai alasan-alasan dilakukannya koreksi.
Dengan sikap koperatif, maka wajib pajak memiliki kesempatan menyamakan persepsi dengan
pemeriksa mengenai penerapan peraturan perpajakan
PEMERIKSAAN PAJAK

1. Definisi Pemeriksaan Pajak


menurut Pasal 1 angka 25 UU No. 16 Tahun 2009 ( Ketentuan Umum Dan Tata Cara
Perpajakan ) adalah Serangkaian menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau
bukti yang dilaksanakan secara obyektif dan profesional berdasarkan suatu standar
pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk
tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Berdasarkan pasal 29 ayat 1 UU No. 16 Tahun 2009 ( KUP ), dinyatakan bahwa “Direktur
Jenderal Pajak berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan WP dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan
peraturan perpajakan”.
Pemeriksaan dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak atau
tenaga ahli yang ditunjuk Direktur Jenderal pajak, yang diberi tugas, wewenang, dan tanggung
jawab untuk melaksanakan pemeriksaan

2. Laporan pemeriksaan Pajak


adalah Laporan yang berisi tentang pelaksanaan dan hasil pemeriksaan yang disusun oleh
Pemeriksa Pajak secara ringkas dan jelas serta sesuai dengan lingkup dan tujuan
Pemeriksaan.
Laporan Pemeriksaan juga merupakan pertanggung jawaban atas suatu pemeriksaan, baik
pertanggungjawaban kepada struktur vertikal internal dalam suatu unit pemeriksaan, maupun
pertanggungjawaban kepada pihak eksternal serta sebagai dasar untuk penerbitan produk
hukum perpajakan,yaitu Surat Ketetapan Pajak ( SKP ).

3. Tujuan Pemeriksaan Pajak adalah terdiri dari :


3.1. Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dapat meliputi satu, beberapa, atau
seluruh jenis pajak, baik untuk satu atau beberapa Masa pajak, Bagian Tahun Pajak atau
Tahun Pajak dalam tahun-tahun lalu maupun tahun berjalan, yaitu pemeriksaan atas
Wajib pajak :
a. Yang mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak (restitusi
)
b. Menyampaikan Surat Pemberitahuan yang menyatakan Lebih Bayar, termasuk
pengembalian pendahuluan kelebihan pajak.
c. Menyampaikan Surat Pemberitahuan yang menyatakan Rugi
d. Tidak menyampaikan atau menyampaikan Surat Pemberitahuan tetapi melampaui
jangka waktu yang telah ditetapkan dalam Surat Tegoran
e. Melakukan penggabungan, peleburan, pemekaran, likuidasi, pembubaran atau akan
meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya
f. Menyampaikan Surat Pemberitahuan yang memenuhi kriteria seleksi berdasarkan
hasil analisis risiko ( risk based selection ) mengindikasikan adanya kewajiban
perpajakan Wajib pajak yang tidak dipenuhi sesuai ketentuan perundang-undangan
perpajakan.

Hasil dari pemeriksaan dengan tujuan menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
tersebut akan diterbitkan produk hukum berupa Surat Ketetapan Pajak, kecuali ditemukan
adanya indikasi tindak pidana bidang perpajakan yang selanjutnya akan ditindak lanjuti dengan
penyidikan pajak.

3.2 Pemeriksaan Untuk Tujuan lain


Pemeriksaan dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-
undanganperpajakan dapat meliputi penentuan, pencocokan atau pengumpulan materi yang
berkaitan dengan tujuan pemeriksaan, dengan kriteria sbb :
a. Pemberian NPWP secara jabatan
b. Penghapusan NPWP
c. Pengukuhan/pencabutan PKP
d. WP mengajukan keberatan
e. Penyusunan Norma Penghitungan penghasilan
f. Pencocokan data/keterangan
g. Penentuan WP didaerah terpencil.
h. Penentuan tempat terutang PPN
i. Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak
j. penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang jangka waktu kompensasi kerugian
sehubungan dengan pemberian fasilitas perpajakan
4. Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan dapat dilakukan di Kantor Unit Pemeriksa Pajak ( Pemeriksaan Kantor ) atau
ditempat/lokasi WP ( Pemeriksaan Lapangan ) yang ruang lingkup pemeriksaannya dapat
meliputi satu jenis pajak atau beberapa jenis pajak baik untuk tahun – tahun yang lalu atau
untuk tahun berjalan

5 Wewenang dan Kewajiban Pemeriksa Pajak :

5.1 Pemeriksa Pajak berwenang ;


o Memanggil WP untuk datang ke DJP dengan menggunakan surat perintah panggilan.
o Melihat / meminjam buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasar
pembukuan/pencatatan dan dokumen lain termasuk data yang dikelola secara
elektronik, yang berhubungan dengan penghasilan, kegiatan usaha, pekerjaan bebas
WP atau obyek yang terutang pajak.
o Mengakses data elektronik
o Memasuki dan memeriksa tempat atau ruang , barang bergerak/tidak bergerak yang
diduga digunakan untuk menyimpan buku/catatan, dokumen yang menjadi dasar
pembukuan
o Meminta kepada WP untuk memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaaan
o Menyediakan tenaga atau peralatan atas biaya WP apabila dalam mengakses data
membutuhkan peralatan /keahlian khusus.
o Memberi kesempatan kepada pemeriksa pajak untuk membuka barang bergerak /
tidak bergerak.
o Menyediakan ruangan khusus tempat dilakukan pemeriksaan lapangan dalam hal
buku, catatan, dokumen sangat banyak.
o Melakukan penyegelan tempat atau ruang tertentu serta barang bergerak/tidak
bergerak yang diduga merupakan tempat penyimpanan dokumen, buku-buku dan data
lainnya yang berkenaan dengan pembukuan usaha.
o Meminta keterangan lisan / tertulis kepada WP
o Meminjam kertas kerja pemeriksaan yang dibuat Akuntan Publik
o Meminta keterangan / bukti dari pihak ke3 yang mempunyai hubungan dengan WP
yang diperiksa.
5.2 Pemeriksa Pajak berkewajiban :
o Menyampaikan pemberitahuan secara tertulis tentang akan dilakukannya pemeriksaan
kepada Wajib pajak.
o Memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa
o Menjelaskan alasan dan tujuan Pemeriksaan
o Memperlihatkan Surat Tugas apabila tim Pemriksa mngalami perubahan
o Menyampaikan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan
o Memberikan Hak Hadir kepada WP dalam rangka Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
o Melakukan pembinaan, petunjuk kepada WP dalam memenuhi kewajiban
perpajakannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
o Mengembalikan buku, dokumen, catatan lainnya tentang pembukuan yang telah
dipinjam.
o Merahasiakan kepada pihak lain yang tidak berhak segala sesuatu yang diketahui atau
diberitahukan kepadanya oleh wajib pajak dalam rangka pemeriksaan.

6. Hak dan Kewajiban Wajib Pajak


6.1 Hak Wajib Pajak
o Meminta kepada pemeriksa pajak untuk memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa
Pajak dan Surat Perintah Pemeriksaan
o Meminta kepada pemeriksa pajak untuk memberitahukan secara tetulis sehubungan
dengan pelaksanaan pemeriksaan.
o Meminta pemeriksa pajak untuk memberikan penjelasan tentang alasan dan tujuan
pemeriksaan.
o Meminta pemeriksa pajak untuk memperlihatkan surat tugas.
o Menerima surat pemberitahuan hasil pemeriksaan
o Menghadiri pembahasan akhir hasil pemeriksaan dalam jangka waktu yang telah
ditentukan.
o Mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan dalam hal terdapat perbedaan
pendapat antara WP dengan pemeriksa.
o Memberikan pendapat dan penilaian atas pelaksanaan pemeriksaan oleh pemeriksa
pajak dengan mengisi formulir Kuessioner Pemeriksaan.
6.2 Kewajiban Wajib Pajak :
o Memenuhi panggilan untuk menghadiri Pemeriksaan sesuai dengan waktu yang
ditentukan.
o Memperlihatkan / meminjamkan buku /catatan, dokumen yang berhubungan dengan
penghasilan, kegiatan usaha, pekerjaan bebas WP, atau obyek yang terutang pajak.
o Memberi bantuan guna kelancaran Pemeriksaan
o Memberi kesempatan untuk mengakses data yang dikelola secara elektronik didalam
PL
o Memberi kesempatan untuk memasuki dan memeriksa tempat atau ruang, barang
yang diduga patut digunakan untuk menyimpan buku, catatan, dokumen, uang dan
barang yang dapat memberikan petunjuk tentang penghasilan yan diperoleh, kegiatan
usaha, pekerjaan bebas WP, atau obyek yang terutang pajak.
o Memberi bantuan guna kelncaran pemeriksaan, antara lain berupa :
- tenaga / peralatan atas biaya WP dalam mengakses data elektronik.
- membuka kesempatan kepada pemeriksa untuk membuka barang
- Menyediakan ruangan khusus untuk pemeriksaan
o Menyampaikan tanggapan secara tertulis atas surat pemberitahuan hasil pemeriksaan
o Meminjamkan kertas kerja pemeriksaan yang dibuat Akuntan Publik
o Memberikan keterangan lisan/ tertulis.

7. Pelaksanaan Pemeriksaan Pajak

7.1. Peminjaman dokumen, buku-buku, data, catatan-catatan serta data lainnya yang
berkenaan dengan pembukuan usaha wajib pajak.
Tujuan :
Untuk mendapatkan informasi yang diperlukan guna menguji kebenaran atas
penghitungan serta pelaporan pajak-pajak yang telah dilaporkan wajib pajak dalam Surat
Pemberitahuan.

7.2. Memberitahukan Hasil Pemeriksaan Kepada Wajib Pajak


Tujuan :
menjelaskan mengenai temuan dan koreksi fiskal dari hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan kepada wajib pajak.
Pelaksanaan :
1. Memberitahukan secara tertulis koreksi fiskal dan penghitungan pajak terutang
kepada Wajib Pajak.
2. Melakukan pembahasan atas temuan dan koreksi fiskal serta penghitungan pajak
terutang dengan Wajib Pajak.
3. Memberikan kesempatan kepada Wajib Pajak untuk menyampaikan pendapat,
sanggahan, persetujuan atau meminta penjelasan lebih lanjut mengenai temuan
dan koreksi fiskal yang telah dilakukan.

7.3. Melakukan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan


Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan (Closing Conference) adalah pembahasan yang
dilakukan antara Pemeriksa Pajak dan Wajib Pajak atas temuan selama pemeriksaan,
dan hasil bahasan temuan tersebut baik yang disetujui maupun yang tidak disetujui
dituangkan dalam Berita Acara Hasil Pemeriksaan yang ditandatangani oleh Pemeriksa
Pajak dan Wajib Pajak.
Tujuan :
melakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan adalah sebagai upaya memperoleh
pendapat yang sama dengan Wajib Pajak atas temuan pemeriksaan dan koreksi fiskal
terhadap seluruh jenis pajak yang diperiksa. Hasil pembahasan tersebut dituangkan
dalam Berita Acara Hasil Pemeriksaan yang harus ditandatangani oleh Wajib Pajak dan
Pemeriksa disertai lampiran yang menyebutkan jumlah koreksi dan jumlah pajak
terutang yang disetujui oleh Wajib Pajak dan Pemeriksa.

8. Pemeriksaan Pajak yang ditinjak lanjuti dengan Pemeriksaan

Bukti Permulaan dan Penyidikan

Sebagai tindak lanjut dari hasil pemeriksaan baik pemeriksaan Kantor maupun
Pemeriksaan Lapangan yang menghasilkan indikasi bahwa wajib pajak diduga telah
melakukan tinda pidana di bidang perpajakan maka pemeriksaan yang sedang berjalan
tersebut dapat ditingkatkan menjadi pemeriksaan Bukti Permulaan.
8.1 Pengertian Pemeriksaan Bukti Permulaan
adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti permulaan tentang
adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan.
8.2 Alasan dilakukannya Pemeriksaan Bukti Permulaan
Pemeriksaan Kantor dan Lapangan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dapat diusulkan ke Pemeriksaan Bukti Permulaan apabila :
1. Pada saat pelaksanaan pemeriksaan ditemukan adanya indikasi tindak pidana di
bidang perpajakan, mis ; penerbitan dan penggunaan faktur pajak fiktif, wajib pajak
tidak melaporkan penghasilan kena pajaknya dengan benar dll
2. Pada saat wajib pajak badan diperiksa tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
yang dimaksud dalam pasal 8 (4) Per Dirjend N0. 19/PJ/2008 tanggal 2 Mei 2008
yaitu, wajib pajak yang diperiksa tidak memberikan data, dokumen pembukuan
yang cukup sehingga pemeriksa tidak dapat menghitung besarnya penghasilan
kena pajak.
3. Wajib pajak menolak untuk dilakukan pemeriksaan dan/atau pegawai wajib pajak
menolak membantu kelancaran pemeriksaan.

Uraian lebih lanjut tentang pemeriksaan Bukti Permulaan ( proses pemeriksaan


selanjutnya ) tidak dibahas dalam modul ini.
PENUTUP

Dengan mengetahui pentingnya mempelajari Akuntansi Pajak, Perencanaan Pajak dan Pemeriksaan
Pajak, maka pemenuhan kewajiban perpajakan tidak lagi menjadi hal yang membingungkan, serta
meminimalisasi adanya usaha penghindaran pajak (tax avoidance), tetapi dimaksudkan agar
perusahaan menjadi lebih efektif dan efisien dalam memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Efisiensi yang dimaksudkan adalah agar perusahaan mampu melakukan pengeluaran sehemat
mungkin namun tidak melanggar ketentuan perpajakan yang ada, salah satunya dengan melakukan
pembukuan dan administrasi yang tertib dan baik, memantau perkembangan peraturan dan ketentuan
pajak sehingga dapat dengan segera mengadopsinya dalam perusahaan, dll.

Berkaitan dengan bahasan diatas maka paling tidak ada 3 (tiga) faktor yang harus diperhatikan oleh
penentu kebijakan dalam menentukan kebijakan perpajakannya, yaitu :
1) tidak melanggar ketentuan perpajakan;
2) secara bisnis masuk akal; dan
3) bukti-bukti pendukung harus memadai