Anda di halaman 1dari 16

1. Jelaskan pengertian istilah Reservoir Geomechanics?

Reservoir Geomechanics merupakan suatu penelitian yang terintegrasi mengenai kondisi


suatu tekanan (stress), pore pressure dan properti fisik dari resevoar, rekahan dan sesar,
batuan penutup serta suatu formasi yang mengalami pembebanan (overburden).
Interaksi antara kondisi geologi dengan keteknikan dan praktek produksi
 Kondisi dari in-situ stress
 Kekuatan batuan
 Orientasi arah lapisan
 Tekanan pori
 Distribusi rekahan dan sesar
 Lintasan sumur bor
 Mud weight

Konsep resevoir geomechanics dalam industri perminyakan:


a) Keteknikan pemboran untuk :
 Pemboran untuk mengurangi biaya dan kerusakan formasi
 Perkembangan hydrofract
 Penempatan (posis) sumur (arah dan penyimpangan (deviation), sidetracks)
 Stabilitas sumur bor selama pemboran (berat lumpur dan arah pemboran)
 Stabilitas reservoir jangka panjang (sand production)
b) Dalam bidang geologi:
 Fault Seal Integrity
 Pembagian reservoir
 Mengoptimalisasi pengairan dari fracture reservoir
 Migrasi hidrokarbon

2. Gambarkan dan jelaskan hubungan antara vertical stress dan horizontal stress untuk
sistem sesar dalam konsep geomekanika?

Gambar 2.1. Stress dalam konsep geomekanika

Dalam konsep Geomekanika, stress yang bekerja pada batuan dilambangkan dengan S V
dengan gaya yang bekerja secara vertikal (tekanan dari atas atau pembebanan) dan SHmax &
SHmin dengan gaya yang bekerja horizontal.
Stress dapat dipahami sebagai yang paling besar (S1), medium (S2), dan yang paling kecil (S3)
yang dalam konsep geomekanika dapat diaplikasikan menjadi (Sv, S Hmax, dan S hmin).

1
Secara umum stress regime adalah :
 Relaxed atau bukan tektonik, maka vertical stress (Sv) adalah σ1
 Rezim sesar normal : vertical stress (Sv) adalah σ1
 Rezim sesar geser : vertical stress (Sv) adalah σ2
 Rezim sesar naik : vertical stress (Sv) adalah σ3

Gambar 2.2. Skema untuk besar stress relatif pada sesar normal, sesar strike-slip dan sesar naik.

Dari gambar diatas, maka didapat nilai stress dari yang terbesar hingga yang paling kecil
adalah sebagai berikut:
Sesar Normal : SV > SHmax > SHmin
Sesar Naik : SHmax > SHmin > SV
Sesar Geser : SHmax > SV > SHmin
Atau dapat disusun dalam bentuk tabel, seperti pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.1. Besar stress relatif dan rezim fault

Dalam konsep geomekanika yang menitik beratkan pada studi insitu stress, stress regime dan
mekanika sesar sangat dibutuhkan karena masing-masing rezim sesar akan memberikan arah
dan besaran tegasan maksimum yang berbeda dan pola pembentukan rekahan.
2
3. Jelaskan dan gambarkan perbedaan tensile, hybrid and compressive fractures?

Gambar 3.1. Jenis rekahan. A) tipe 1, rekahan membuka (extension fracture); B) tipe 2, rekahan
menggerus (shear fracture), C) tipe 3, rekahan menggerus-membuka (hybrid fracture). Gambar
dimodifikasi dari modifikasi oleh Davis dan Renolds ( 1996) dari Atkinson (1987).

Rekahan (fracture) adalah setiap bidang discontinous yang tidak mengalami pergeseran yang
signifikan. Rekahan secara umum terbagi 3 yaitu : rekahan terbuka (extension fracture) dan
disebut rekahan tipe 1 (opening), rekahan menggerus (shear fracture) disebut dengan rekahan
tipe 2 (sliding). Namun ada jenis rekahan lain yang terbentuk, dimana rekahan jenis ini secara
mekanik sangat spesifik karena terbentuk oleh gabungan 2 jenis rekahan diatas, rekahan ini
disebut rekahan menggerus-membuka (hybrid joint) dan disebut rekahan tipe 3 (hybrid)
(Atkinson, 1987; Engeler, 1987). Rekahan tipe 1 terbentuk oleh tegasan tension, rekahan ini
terbentuk dengan membuka yang tegak lurus terhadap bidang bukaan, tidak ada unsur gerus
(shear) didalamnya sehingga secara konsep rekahan tipe 1 tidak disebabkan oleh proses
tektonik.

Gambar 3.2. Jenis rekahan yang terbentuk pada diagram Mohr (Modifikasi dari Fossen, 2010).

Pada Diagram Mohr , rekahan Mode I terbentuk pada titik critical tensile stress (T), titik ini
tidak mempunyai nilai shear stress (σS =0), ia hanya mempunyai nilai normal stress (σN).
Rekahan Mode II terbentuk pada zona shear fracture, yaitu digaris coloumb criterion.
Sedangkan Rekahan Mode III terbentuk pada zona hybrid fracture, yaitu titik critical

3
compression stress (C), titik ini tidak mempunyai nilai normal stress (σN =0), ia hanya
mempunyai nilai shear stress (σS).

Gambar 3.3. Kemungkinan jenis rekahan yang terbentuk pada diagram Mohr dalam beberapa kondisi
(Twiss and Moores, 1992).

Penjelasan dari masing-masing kemungkinan yang dapat terbentuk adalah sebagai berikut:
Tensile Fracture
Tension fracture, lingkaran Mohr pada tension fracture menyinggung kurva failure envelope
di titik T 0 yaitu pada sudut 2θ sebesar 180 0, atau θ = 900, sehingga yang terjadi adalah hanya
tensional stress dengan perekahan pada bidang tegak lurus σ 1 tanpa adanya shearing.
Tensile fracture terjadi apabila stress dalam hal ini tensile (stress negatif atau σ3) melewati
atau sama dengan kekuatan regangan atau tensile strength (T0) dari material atau batuan.
Dalam diagram Mohr daerah stabil dan tidak stabil untuk tensile fracture disebut sebagai
tension fracture envelope.
σn = T0
Dimana σn adalah harga normal stress kritis yang diperlukan untuk membuat fracture. Dalam
uniaxial tension σn adalah σ3. Jadi dapat dikatakan dari persamaan diatas bahwa batuan akan
pecah dalam bentuk fracture Mode I (extension) apabila harga stress utama terkecil (least
principal stress) sama atau lebih besar dari kekuatan tensile (T0) dari batuan tersebut.

4
Gambar 3.4. Tensile fracture.

Menghasilkan tensional stress dengan rekahan pada bidang tegak lurus σ 1 tanpa adanya
shearing, terjadi jika lingkaran Mohr pada tension fracture menyinggung kurva failure
envelope di titik T0 (tensile fracture) yaitu pada sudut 2θ sebesar 180 0, atau θ = 900.

Hybrid Fracture
Hybrid fracture, lingkaran Mohr menyinggung failure envelope di titik σn, σs pada daerah σn
negatif. Kurva failure envelope pada σ n negatif merupakan daerah tension. Stress yang terjadi
pada fracture ini adalah stress tensional dan compressional.

Gambar 3.5. Hybrid fracture.

Menghasilkan stress tensional dan compressional, terjadi jika lingkaran Mohr menyinggung
failure envelope di titik σ n, dengan σs pada daerah σ n bernilai negatif. Kurva failure envelope
pada σ n negatif merupakan daerah tensional.

Compressive Fracture
Shear fracture terbentuk dalam kondisi kompresi, batuan dikompresi dengan confining
pressure (σ1) dan (σ3) yang berbeda-beda.

Hukum Fracture Coulomb


Hukum Coulomb adalah hukum pecahnya batuan dalam kondisi kompresi yang didasarkan
pada model mekanika dinamis yang dikembangkan oleh Coulomb (1773) dan Mohr (1900).
Hukum ini menggambarkan hubungan linear antara ketinggian dan lereng atau kecuramandari
amplop fracture untuk bantuan dalam kompresi.
σc = σ0 + σn . tan ɸ
Hukum Coulomb untuk fracture dapat digunakan untuk meramal kondisi dimana suatu shear
fracture akan terbentuk dalam kompresi.
5
Gambar 3.6. Kondisi compressive fracture (dimodifikasi dari Davis and Reynolds, 1996)

Shear fracture, disini lingkaran Mohr menyinggung failure envelope di titik σn, σs pada
daerah σn positif, dengan demikian yang terjadi adalah compressional stress.

Gambar 3.7. Shear fracture.

Menghasilkan compressional stress, terjadi jika lingkaran Mohr menyinggung failure


envelope di titik σ n, dengan σs pada daerah σ n positif.

4. Jelaskan istilah-istilah dibawah ini :


a) Mean stress
Mean stress adalah besar rata-rata dari tegasan maksimum (σ1) dan tegasan minimum (σ3)
atau jika diplot pada diagram Mohr maka besarnya adalah nilai dari pusat lingkaran
diagram Mohr.

6
Gambar 4.1. Diagram Mohr sebagai penggambaran stress yang bekerja pada batuan.

b) Differential stress
Differential stress adalah pengukuran pada stress yang menyebabkan bentuk lingkaran
mohr berubah yang merupakan nilai selisih principal stress maksimum terhadap principal
stress minimum. Differential stress σd = (σ1 - σ3). Nilai ini sangat penting dalam studi
fracture formation dibanding nilai σ2.

Gambar 4.2. Differential stress.

c) Tensile strength
Tensile strength adalah besaran tegangan tarikan maksimum yang dapat ditahan sebuah
benda sebelum mengalami rekahan terbuka atau tensile fracture atau jika diplot pada
diagram Mohr batuan yang mengalami tensile fracture maka To adalah besar tensile
strength.

7
Gambar 4.3. Plot diagram Mohr untuk batuan yang telah mengalami rekahan.

d) Compressive strength
Compressive strength adalah besaran tegangan kompresional maksimum yang dapat
ditahan sebuah benda sebelum mengalami compressive fracture atau jika diplot pada
diagram Mohr adalah titik lingkaran Mohr menyentuh failure envelope.

Gambar 4.5. Gaya diberikan mengarah satu sama lain akan mengurangi volume

Kekuatan yang merupakan stress maksimum dimana batuan dapat menahannya, setelah
nilai ini dilewati batuan mungkin masih bisa bertahan dan mampu menahan beberapa
kapasitas beban yang disebut residual strength.

Gambar 4.4. Peak strength and residual strength (Hudson & Harrison, 2007).

8
e) Friction
Friction adalah besar gaya yang melawan arah shear stress akibat dari gaya hambat suatu
permukaan benda yang tidak rata secara mikroskopis.
Friction menentukan batas nilai kedua stress (σ1 dan σ3) dan arah dari sesar untuk
mengalami pergeseran (sinistral atau dekstral).

Gambar 4.5. Friction.

f) Internal angle of friction


Internal angle of friction adalah besar beda sudut antara 2ϴ dan sudut 900 saat lingkaran
menyentuh failure envelope atau pada saat terjadi rekahan pada batuan . Jika sudut
yang dibentuk cenderung datar maka material atau batuan akan sulit pecah, begitu juga
sebaliknya.

Gambar 4.6. Internal angle of friction.

g) Pore pressure
Pore Pressure adalah besar tekanan yang berada pada fluida di dalam rongga atau pori
batuan formasi. Secara sederhana, formulasi dari tekanan pori adalah:
Pp = ρf g d

9
dimana Pp adalah tekanan pori, g adala percepatan gravitasi, ρf adalah densitas fluida, dan
d adalah tinggi kolom fluida.
Nilai dari pore pressure pada suatu kedalaman biasanya didefenisikan sebagai hubungan
terhadap hydrostatic atau normal pressure, tekanan yang diasosiasikan dengan kolom air
dari permukaan bumi sampai pada suatu kedalaman target. Hydrostatic pore pressure

bertambah dengan kedalaman pada angka 10MPa/km atau 0,44 psi/ft (tergatung

dari salinitas). Hydrostatic pore pressure memenuhi sebuah pori yang terbuka
dan terkoneksi dan fracture yang berhubungan dari permukaan bumi hingga suatu
kedalaman sebagai tempat dilakukannya pengukuran:

Pore pressure dapat melebihi nilai hydrostatic pada volume confined pori pada suatu
kedalaman. Secara konseptual, bagian atas pore pressure adalah overburden stress, Sv, dan
biasanya pore pressure diekspresikan dalam terminologi λp, dimana λp = Pp/Sv,
perbandingan antara pore pressure terhadap stress vertikal. Lithostatic pore pressure
berarti bahwa tekanan dalam pori-pori batuan bernilai sama dengan berat overburden
stress Sv.

h) Confining pressure
Confining pressure adalah besar tekanan yang sama dari segala arah (uniform stress)
seperti tekanan litologi yang mencegah batuan untuk merekah. Jika confining pressure
tinggi maka batuan akan sulit untuk mengalami rekahan dan sebaliknya. Gradien tekanan
bernilai 1 kilobar/3.3 km burial dalam kerak.
Confining pressure memberikan tekanan dari segala arah. Batuan yang terkubur
merupakan subjek confining pressure, dimana tekanan diaplikasikan sama besar pada
semua arah. Confining pressure mengakibatkan ruang antara butir mineral tertutup,
menghasilkan batuan terkompaksi dengan densitas yang lebih besar.

Gambar 4.7. Confining pressure.

10
i) Hydraulic fractures
Hydraulic Fractures adalah rekahan yang terbentuk akibat penambahan besar tekanan pori
dengan cara memberikan tekanan fluida pada dinding sumur. Penambahan tekanan pori
akan memperkecil besar normal stress sehingga jika diplot pada diagram Mohr, batuan
akan lebih cepat menyentuh failure envelope sehingga terjadi rekahan.

j) Leak of test
Leak of test adalah proses menambahkan tekanan dengan memasukkan lumpur pemboran
ke dalam sumur untuk dicatat tekanan serta jumlah lumpur yang masuk sehingga dapat
dilakukan analisis untuk mengetahui Shmin yang searah dengan terbentuknya hydraulic
fracture.
Pada Leak of testing, bagian borehole di lapis dan kemudian fluida dipompa masuk ke
bagian yang terlapisi. Saat tekanan fluida melampaui principal stress minimum σ3, σ3
efektif akan bernilai negatif (tensile) menyebabkan fracture dapat membuka. Metode ini
dapat mengukur besar dan arah dari σ3 jika induced fracture dapat digambarkan.

k) Lithostatic stress
Lithostatic stress adalah stress akibat pembebanan batuan yang berada di atasnya (over
burden). Semakin tebal dan semakin besar densitas dari batuan yang berada di atasnya
maka akan makin besar lithostatic stress. Besar dari lithostatic stress ini dapat dihitung
sebagai berikut:
σ=ρgh
dimana ρ adalah densitas batuan (over burden rock), g adalah percepatan gravitasi, dan h
adalah tebal batuan.
Penting untuk diketahui bahwa kerak tetap stabil di bawah pengaruh stress yang berasal
dari beban di atasnya selama periode geologi tertentu. Deformasi ductile yang perlahan
menyebabkan kerak berlaku seperti fluida berat.

l) Conductive fractures
Identifikasi fractures didasarkan pada observasi kontras resistivity pada host rock untuk
alat elektrik (diklasifikasikan sebagai conductive atau resistive fracture).
Conductive fractures adalah jenis rekahan yang bersifat konduktif karena mengalami
infiltrasi oleh lumpur pemboran karena tidak terisi oleh mineral.
Conductive fracture umumnya adalah bersifat terbuka akan tetapi dapat terisi oleh clay
(kasusnya jarang, walaupun fracture ini dapat terisi oleh mineral konduktif lainnya).

11
Gambar 4.8. Karakteristik rekahan tergantung dari kontras resistivity dalam water-based mud.

m) Resistive fractures
Resistive fractures adalah jenis rekahan yang bersifat resistif karena telah terisi oleh
mineral sehingga tidak terjadi infiltrasi oleh lumpur pemboran.
Dengan kehadiran open fracture, mud filtrate melakukan penetrasi dari lubang sumur
masuk ke ruang fracture dan semakin dalam ke formasi. Jika kemudian kontras resistivity
antara resistivity mud filtrate dan resistivity formasi bernilai cukup besar, maka alat
logging elektrik akan membaca bagian dalam tersebut adalah sebagai zona fracture. Alat
logging elektrik (seperti microlog, ML dan micro spherical focused log, MSFL) dapat
mengindikasikan zona open fracture dengan pembacaan resistivity rendah, dalam hal ini
mud filtrate dengan sifat konduktif yang mengisi fracture. Sedangkan jika resistivity yang
terbaca bernilai tinggi, bisa merupakan healed fracture atau merupakan fracture yang terisi
mineral atau mineralized fracture (Laongsakul and Dürrast, 2011).
Identifikasi fractures didasarkan pada observasi kontras resistivity pada host rock untuk
alat elektrik (diklasifikasikan sebagai conductive atau resistive fracture). Resistive fracture
dapat terisi oleh mineral resistif seperti kalsit dan kuarsa.

Gambar 4.9. Healed fracture atau resistive fracture.


12
n) Borehole breakout
Borehole breakout adalah pembesaran pada lubang bor akibat stress yang bekerja pada
lubang tersebut. Pada sumur yang vertikal, borehole breakout ini terjadi pada arah stress
horizontal yang minimum. Breakout pada lubang bor dipicu oleh maksimum stress yang
ada yang melebihi kekuatan tekanan (compressive strength) dari suatu batuan. Apabila
nilai Sv dan Shmin diketahui, maka dapat menggunakan data azimuth dan lebar breakouts
yang didapatkan dari hasil citra akustik (acoustic image) untuk menghitung nilai Shmax.
Borehole breakout merupakan sebuah bukti dari stress anisotropy dan disebabkan oleh
shear rupture pada dinding borehole. Untuk mendapatkan arah stress yang baik
dibutuhkan sumur vertikal (sekitar 100) inklinasi.

Gambar 4.10. Borehole breakout.

o) Overpressure zone
Overpressure zone adalah zona bertekanan tinggi (anomali) yang jauh lebih besar dari
garis plot prediksi tekanan geostatik terhadap kedalaman. Kehadiran zona ini umumnya
akibat fluida bertekanan tinggi yang terperangkap dalam batuan.

5. Jelaskan secara singkat langkah-langkah untuk menentukan dan memprediksi kondisi


stress sebuah reservoir dikedalaman?
Pengukuran stress telah dilakukan di banyak daerah diseluruh
dunia menggunakan berbagai teknik. Stress pada kondisi di kedalaman dapat dipahami
sebagai yang paling besar (S1), medium (S2), dan yang paling kecil (S3) yang diaplikasikan
menjadi (Sv, S Hmax, dan S hmin). Gaya yang bekerja adalah gaya vertikal (Sv) dan dua gaya yang
bekerja horizontal (S Hmax, dan S hmin).Sebuah gambaran umum dari strategi yang digunakan
untuk karakteristik stress field adalah sebagai berikut:

 Dengan asumsi bahwa overburden adalah tegangan utama (yang biasanya terjadi), Sv dapat
ditentukan dari integrasi kepadatan log. Integrasi antara densitas batuan yang terekam pada
log densitas dengan besarnya gaya gravitasi menyatakan besarnya tegasan overburden
yang dialami oleh suatu lapisan pada kedalaman tertentu. Hal ini bisa dituliskan dengan
persamaan :

13
Dimana Sv adalah tegasan vertikal, 𝜌 𝑧 adalah berat jenis sebagai fungsi kedalaman yang
terekan oleh log densitas, g adalah percepatan gravitasi konstan dan 𝜌 adalah rata-rata
berat jenis lapisan diatasnya (overburden), dan z adalah kedalaman dari data log
densitas.Pada area offshore, persamaannya diperbaiki untuk kedalaman air, yaitu :

Dimana 𝜌w adalah berat jenis air (~ 1 gm/cm3, 1.0SG) sebagai fungsi kedalaman dan zw
adalah kedalaman air.
 Orientasi dari tegasan utama ditentukan dari pengamatan lubang bor, indikator geologi
sekarang dan mekanisme fokal gempabumi. Dari pengamatan rekahan yang terbentuk
akibat pemboran yang terbentuk pada batuan yang homogen dan elastic yang disebabkan
karena adanya konsentrasi tekanan di sekitar sumur pemboran yang melebihi kekuatan
batuan akibat aktivitas pemboran. Rekahan ini terjadi jika tegasan vertikal (Sv) merupakan
salah satu bagian dari tegasan utama dan arahnya relatif sejajar dengan sumur pemboran.
Kenampakan rekahan akibat pemboran dapat berupa breakout maupun induced fracture.
Arah (orientation) tegasan utama (S hmax) dapat ditentukan dengan menggunakan log
kaliper terhadap breakout. Dan dengan perkembangan teknologi menghadirkan pembacaan
akustik atau ultrasonik dengan borehole televiewer, sedangkan yang lainnya menggunakan
alat perekam gambar secara elektrik berdasarkan perbedaan resistivitas. Ukuran rekahan
induced yang dapat dibaca oleh kedua alat ini semakin kecil, selain itu bentuk breakout
pun dapat terlihat dengan jelas.
 Besaran (magnitude) tegasan utama (S hmax) dapat ditentukan berdasarkan data breakout dan
induced fracture yang juga dapat memperkirakan kekuatan batuan. Konsentrasi elastic
stress di sekitar sumur pemboran ditentukan berdasarkan persamaan Kirsch. Terjadinya
rekahan dipengaruhi oleh tiga tegasan (dua berarah horisontal dan satu berarah vertikal),
kekuatan batuan, temperatur, tekanan pori, dan tekanan lumpur pemboran. Pada sumur
pemboran vertikal dimana salah satu dari tegasan berarah vertikal, hubungan dari tegasan
utama dapat dituliskan sebagai berikut:
σθθ = Shmin + SHmax – 2(SHmax – Shmin) cos 2θ – 2 P0 – ΔP – σ ΔT
Dimana θ adalah sudut yang diukur dari arah tegasan horizontal maksimum (Shmax). Sh min
merupakan besar tegasan horizontal minimum, P0 adalah tekanan pori, ΔP merupakan
selisih antara berat lumpur dengan tekanan pori, dan σ ΔT merupakan total dari tegasan
akibat perubahan suhu karena pendinginan pada lubang pemboran sebesar ΔT.
Berdasarkan persamaan diatas, harga maksimum akan didapatkan pada saat θ = 90 0 , 2700
atau pada saat arahnya sejajar dengan SH maks, Sehingga:
σθθ max = 3 SHmax – Shmin – 2 P0 – ΔP – σ ΔT
Konsentrasi tegasan kompresif terkecil akan muncul pada arah tegasanhorizontal
maksimum dan akan membentuk induced fracture pada dinding sumur pengeboran. Pada
saat sumbu pemboran sejajar dengan salah satu tegasan utama, dinding rekahan tensile ini
akan berada tegak lurus dengan arah breakout. Pada sumur yang vertikal, induced fracture
akan paralel dengan sumur pemboran dan terjadi pada arah dimana konsentrasi tegasan
minimum. Gejala ini hanya terjadi pada dinding sumur pemboran dan tidak berdampak
luas pada formasi batuan, kecuali jika tekanan dari lumpur pemboran melebihi tegasan
utama minimum. Dari persamaan dimana σ θθ min akan sama dengan tekanan lumpur pada

14
saat pengeboran / P mud, untuk saat ini σΔT diabaikan dan ΔT ~ 0 maka dapat ditulis
persamaan dimana induced fracture terbentuk sebagai berikut:
Pmud = 3 Shmin – SHmax – P0
Berdasarkan persamaan diatas maka apabila terjadi induced fracture dan kita mengetahui
besaran tegasan horizontal minimum, tekanan pori, dan tekanan lumpur pemboran pada
kedalaman tersebut maka tegasan horizontal maksimum bisa didapat.
 S3 (yang sesuai dengan S hmin, kecuali dalam rezim sesar naik) diperoleh dari Mini-fracs dan
leak-off test (LOT) atau extended leak-off test X-LOT merupakan modifikasi dari LOT
yang memberikan tambahan data untuk tegasan yang terjadi.
 Tekanan pori, Pp, adalah baik diukur secara langsung melalui DST, RFT, atau uji alir pada
sumur yang telah di produksi. Atau diperkirakan dari log geofisika atau data seismik.
 Dengan parameter ini, hanya perlu untuk membatasi S Hmax karena memiliki perkiraan yang
dapat diandalkan dari tensor stres lengkap sebagai bagian dari komprehensif geomekanika
model bawah permukaan. Kendala pada kekuatan gesek lempeng memberikan batasan
umum tentang SHmax (sebagai fungsi dari kedalaman dan tekanan pori). Setelah
pengamatan kegagalan lubang sumur (breakouts dan pengeboran induced tensile fracture)
memungkinkan untuk perkiraan yang lebih tepat S Hmax.

6. Faktor apa yang mengontrol kondisi stress sebuah reservoir dikeladaman dan jelaskan?
a) Tekanan Pori (Pp)
Tekanan pori dapat ditentukan melalui pengukuran langsung seperti melalui DST, RFT,
atau uji alir pada sumur yang telah di produksi.
b) Arah Tegasan Horizontal Maksimum
Pengamatan terhadap rekahan yang terbentuk akibat pemboran untuk mengetahui arah
tegasan horisontal maksimum telah banyak dilakukan (Barton dkk., 1998; Castillo dkk.,
2000). Rekahan yang terbentuk akibat pemboran terjadi pada batuan yang homogen dan
elastik karena adanya konsentrasi tekanan di sekitar sumur pemboran yang melebihi
kekuatan batuan akibat aktivitas pemboran. Rekahan ini terjadi jika tegasan vertikal
merupakan salah satu bagian dari tegasan utama dan arahnya relatif sejajar dengan sumur
pemboran. Kenampakan rekahan akibat pemboran dapat berupa breakout maupun rekahan
induced. Arah tegasan utama dapat diperoleh dengan menggunakan log kaliper, namun
meskipun lengan kaliper dapat menentukan arah dari breakout, tetapi informasi yang
diperoleh mengenai bentuk lubangnya sangat sedikit. Perkembangan teknologi
menghadirkan pembacaan akustik atau ultrasonik dengan Borehole televiewer, sedangkan
yang lainnya menggunakan alat perekam gambar secara elektrik berdasarkan perbedaan
resistivitas. Ukuran rekahan induced yang dapat dibaca oleh kedua alat ini semakin kecil,
selain itu bentuk breakout pun dapat terlihat dengan jelas. Kenampakan-kenampakan akan
breakout, rekahan induced, washout, rekahan dan lapisan.
Arah breakout dan rekahan induced akan saling tegak lurus dimana breakout akan
terbentuk pada arah tegasan horisontal minimum sedangkan rekahan induced akan
terbentuk pada arah tegasan horisontal maksimum.

15
Gambar 7.1. Penampakan geometri rekahan, breakout, washout, dan rekahan tensile di lubang sumur
pada log gambar. (Geomechanics International, 2000)

c) Plate-Driving Forces
Plate driving forces memiliki arah yang tetap pada area yang luas. Plate driving forces
disebabkan oleh variasi efek, termasuk gaya dorong dari mid ocean ridges, slab pull
dimana lempeng disubduksi, gaya hambat kolisi pada batas lempeng konvergen seperti di
Trinidad atau Himalaya, gaya sepanjang transform fault dimana lempeng bergerak secara
lateral satu dengan yang lainnya serperti sesar San Andreas di California, penarikan
(suction) di atas zona subduksi seperti di timur laut Australia.
d) Topographic Loads
Topographic loads dapat disebabkan oleh rantai pengunungan besar seperti Canadian
Rockies atau Himalayas dikarenakan penambahan atau pengurangan beban akibat
lembaran es atau perubahan muka laut. Kategori ini termasuk beban gravitasi seperti yang
berkaitan dengan sedimentasi dalam basin dan beban ekstensional lereng bawah dalam
sikuen pengendapan aktif.
e) Lithosperic Buoyancy
Oleh karena litosfer memiliki densitas yang lebih rendah dibanding astenosfer yang ada di
bawahnya, litosfer mengapung pada material di bawahnya yaitu astenosfer, dan beban
sedimen dan perubahan lateral dalam ketebalan litosfer atau densitas mengakibatkan gaya
pelengkungan (bending forces) berkembang.
f) Flexural Forces
Hal ini disebabkan beban topografi secara lokal dan gaya-gaya yang bekerja pada slabs
yang bergerak ke bawah (downgoing slab) dalam zona subduksi.
g) Active Processes
Gempa bumi (akibat terjadi pergeseran pada sesar), vulkanisme aktif, dan salt diapirism
merupakan proses-proses yang berlaku untuk merubah stress lokal.

16