Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN

GIS PERTAMBANGAN
“ PETA POTENSI SEBARAN NIKEL PROVINSI SULAWESI TENGGARA “

OLEH :
MUH. IQBAL ARSYIDIK
R1D1 16 062

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya sehingga alhamdulillah Laporan GIS Pertambangan ini
dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam proses penyusunan laporan ini, penulis banyak mengalami kesulitan.
Namun berkat bantuan dan bimbingan dari beberapa pihak, terutama kepada yang
terhormat dosen pembimbing mata kuliah GIS Pertambangan Bapak Erwin Anshari,
S.Si., M.Eng yang memberikan bimbingan sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
Untuk itu penulis mengucapkan banyak terimah kasih serta penghargaan sebesar-
besarnya, dan semoga Allah SWT dapat melimpahkan Rahmat-Nya atas segala amal
yang dilakukan.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis
harapkan demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini bermanfaat.

Kendari, juni 2018

Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nikel laterit adalah produk residual pelapukan kimia pada batuan ultramafik.
Proses ini berlangsung selama jutaan tahun dimulai ketika batuan ultramafik
tersingkap dipermukaan bumi menurut Waheed (2002), lateritisasi adalah proses
pelapukan secara kimiawi yang mengakibatkan pengayaan sekunder pada unsure-
unsur tertentu dan menghasilkan endapan yang bernilai ekonomis, seperti endapan
nikel.
Geographic Information System (GIS) atau bisa disebut Sistem Informasi
Geografis(SIG) adalah system informasi khusus yang mengelola data yang memiliki
informasi spasial(bereferensi keruangan). Atau dalam arti lain, merupakan salah satu
system komputer yangmemiliki kemampuan membangun, menyimpan, mengelola
dan menampilakn informasi bereferensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi
menurut lokasinya, dalam sebuah bentuk database, bisa juga memasukkan orang yang
membangun dan mengoprasikannya dandata sebagai bagian dari system ini.
Pemanfaatan SIG di sektor pertambangan telah terbukti kehandalannya sebagai
sarana yang dapat menyajikan data dan informasi secara cepat, tepat, dan akurat,
seperti dalam pencadangan dan tata ruang !ilayah pertambangan, sehingga
kemungkinan terjadinya tumpang tindih lahan dapat dihindari.
Manfaat lain dari pemanfaatan GIS yaitu dapat membuat peta baru dari kumpulan
beberapa peta Misalnya pada pembuatan peta potensi sebaran nikel maka data-data
yang dibutuhkan yaitu peta geologi, peta geomorfologi, dan peta struktur.
Dari latar belakang diatas maka sangat perlu mempelajari pengaplikasian GIS
khususnya mahasiswa teknik pertambangan yang nantinya akan sangat membantu
dalam dunia kerja pada sector pertambangan.
1.2 Tujuan dan Manfaat
1.2.1 Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk melakukan analisis spasial.
2. Untuk mengetahui konsep Sistem Informasi Geografis (SIG) dan
iplementasinya dalam dunia pertambangan khusunya bahan galian Nikel.
3. Untuk mengetahui cara kerja dan metode kerja dalam komputer Sistem
Informasi Geografis (SIG).

1.2.2 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui analisis spasial.
2. Dapat mengetahui konsep SIG dan pengaplikasiannya pada dunia
pertambangan.
3. Dapat mengetahui metode kerja pada Sistem Informasi Geografis (SIG)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Analisa spasial merupakan sekumpulan metoda untuk menemukan dan
menggambarkan tingkatan/ pola dari sebuah fenomena spasial, sehingga dapat
dimengerti dengan lebih baik. Dengan melakukan analisis spasial, diharapkan muncul
infomasi baru yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan di bidang
yang dikaji. Metoda yang digunakan sangat bervariasi, mulai observasi visual sampai
ke pemanfaatan matematika/statistik terapan (Sadahiro.2006).
Ada banyak metoda dalam melakukan Analisis Spasial. Berdasarkan
Tujuannya, secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 macam:
1. Analisis Spasial Exploratory, digunakan untuk mendeteksi adanya pola khusus
pada sebuah fenomena spasial serta untuk menyusun sebuah hipotesa penelitian.
Metoda ini sangat berguna ketika hal yang diteliti merupakan sesuatu hal yang
baru, dimana peneliti tidak/ belum memiliki banyak pengetahuan tentang
fenomena spasial yang sedang diamati.
2.Analisis Spasial Confirmatory, Dilakukan untuk mengonfirmasi hipotesa penelitian.
Metoda ini sangat berguna ketika peneliti sudah memiliki cukup banyak informasi
tentang fenomena spasial yang sedang diamati, sehingga hipotesa yang sudah ada
dapat diuji keabsahannya.

pengertian ringkas menyatakan bahwa analisis spasial merupakan:


 Sekumpulan teknik untuk menganalisis dara spasial
 Sekumpulan teknik yang hasil-hasilnya sangat bergantung pada lokasi objek
yang bersangkutan (yang sedang dianalisis)
 Sekumpulan teknik yang memerlukan akses baik terhadap lokasi objek
maupun atribut-atributnya.

Secara umum untuk menganalisa spasial, biasanya harus melalui tiga tahapan
analisa spasial, yaitu:
1. Analisis Visual,
Merupakan tahapan yang sangat berguna untuk menemukan dan memperjelas pola/
keterkaitan antara beberapa objek dan fenomena yang terjadi di permukaan bumi.
Dengan melakukan visualisasi yang tepat, maka pola sebuah fenomena yang rumit
dapat dideteksi dengan lebih mudah. Analisis ini dibagi atas: Visualisasi Atribut
Objek Titik (attribute data of point objects), Visualisasi Distribusi Objek Titik
(distributions of point objects), dan Visualisasi Pengelompokan Spasial (Spatial
Tesselation).

2. Operasi Spasial,
Pengolahan data dengan mempergunakan algoritma perhitungan geometris
terhadap objek spasial yang ada untuk membantu memahami sebuah fenomena
spasial. Ada banyak sekali jenis dan variasinya yang selanjutnya akan dibahas pada
Fungsi Spasial. Dengan memaksimalkan kombinasi dari berbagai operasi spasial,
dapat dihasilkan informasi baru yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan
keputusan. Operasi spasial berbasis algoritma perhitungan geometris yg dikenal
saat ini diperkenalkan oleh Ian Shamos pada tahun 1986 melalui penelitiannya
dibidang ilmu Komputer, tepatnya sub-field “Computational Geometry”. Adapun
beberapa dari operasi spasial ini meliputi: Overlay Spasial (Spatial Overlay),
Pencarian Spasial (Spatial Search), Operasi Buffer (Buffer Operation), Operasi
Raster (Raster Operation) , Operasi Jaringan (Network Operation).

 Fungsi Analisis Spasial


Secara detail, tipe, implementasi, atau jenis aktual fungsi analisis spasial dapat
dijumpai pada banyak pustaka (teori) dan perangkat lunak SIG, pengolahan citra
dijital (remote sensing), fotogrametri, model permukaan dijital, dan CAD. Lebih jelas
lagi dalam buku Eddy Prahasta tentang Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi
Geografis (Perspektif Geodesi dan Geomatika) di jelaskan, ada beberapa fungsi
analisis spasial seperti:
a. Query Basis Data, yaitu SIG yang menggunakan query terhadap basis data
bersama dengan fungsi analisis spasial tu sendiri dalam usaha menjawab berbagai
pertanyaan spasial dan non-spasial yang digunakan untuk memanggil kembali data
atau tabel atribut tanpa mengubah atau meng-edit/ update data yang bersangkutan.

b. Pengukuran, yaitu fungsi analisis spasial yang melibatkan fungsi matematis


sederhana di seputar bentuk unsur spasial dengan geometri yang juga sederhana.
Seperti, menghitung atau menganalisa jarak antara dua titik spasial, menghitung
luas area, menghitung keliling area, menghitung titik koordinat atau yang disebut
dengan centroid dan lain sebagainya.

c. Kedekatan unsur/ proximity, fungsi yang mampu menghitung dan menganalisa


kedekatan tiap-tiap unsur spasial. Fungsi ini biasanya akan berfungsi jika file layer
yang ada berbentuk raster atau pecahan dari beberapa atau bahkan banyak grid
dimana tiap sel grid memiliki nilai tersendiri yang disebut pixel. Contohnya adalah
find distance, cost and pathway, poligon convex-Hull, dan calculate density.

d. Model permukaan digital. Model ini meliputi: gridding, spatial filtering,


contouring, gradien/ slopping, aspect, hilshading, steepest path, profile, viewshed,
dan watershed yang seluruhnya merupakan model-model pengolahan analisis
spasial. Yang diolah adalah bentuk dari permukaan bumi dalam peta, sehingga
terlihat perbedaan ketinggian masing-masing wilayah. Biasanya diolah setelah data
dikonfersikan atau memang sudah berupa data raster.

e. Klasifikasi, merupakan pemetaan suatu besaran yang memiliki interval-interval


tertentu ke dalam interval-interval yang lain berdasarkan batas-batas atau kategori
yang ditentukan. Adapun yang termasuk ke dalam fungsi klasifikasi ini adalah
reclassify yang berfungsi untuk melakukan pengklasifikasian suatu data raster
(yang pada umumnya berdominan bilangan real) ke dalam data raster lainnya
(yang berdominan bilangan bulat sederhana) berdasarkan batas-batas kelas yang
ditentukan secara interaktif oleh pengguna. Kemudian ada pula reclassify yang
melakukan klasifisikasi unsur-unsur spasial tipe polygone (vektor) berdasarkan
nilai-nilai milik salah satu field (terutama yang bertipe numerik) yang terdapat di
dalam tabel atribut.

f. Fungsi pengolahan citra dijital, yaitu salah satu analisis spasial yang terkenal di
bidang SIG dan juga pengolahan citra digital (pengindraan jarak jauh) adalah
klasifikasi; istilah yang merujuk pada proses interpretasi citra-citra dijital (dengan
bantuan sistem komputer) hasil pengindraan jauh. Analisis ini merupakan suatu
proses penyusunan, pengurutan, atau pengelompokkan setiap pixel citra dijital
multi-band ke dalam beberapa kelas berdasarkan kriteria atau kategori objek
hingga dapat menghasilkan sebuah peta dalam bentuk raster. Fungsi ini memiliki
tujuan untuk mengekstrak pola-pola respon spektral yang terdapat di dalam citra
itu sendiri seperti kelas-kelas penutup lahan (landcover). Yang termasuk ke dalam
kategori dari fungsi ini adalah clustering, yakni proses klasifikasi yang digunakan
untuk mengelompokkan pixel-pixel citra berdasarkan aspek-aspek statistik
(matematis) semata. Kemudian classification, yaitu proses klasifikasi yang sama
dengan clustering, tetapi dengan tambahan pendefinisian beberapa sampel kelas
atau tambahan oleh pengguna untuk mengakomodasikan aspek-aspek variabilitas
anggota-anggota kelasnya.

g. Fungsi editing unsur-unsur spasial, yang difungsikan sebagai layanan dalam


proses editing data spasial terutama yang bertipe poligon. Union, Merge, atau
Combine merupakan fungsi analisis yang digunakan untuk menggabungkan
(agregasi) beberapa unsur spasial yang dipilih hingga menjadi sebuah unsur saja.
Kemudian Delete, Erase, atau Cut merupakan fungsi analisis spasial ini akan
menghapus unsur spasial yang terpilih. Split atau Clip merupakan fungsi analisis
untuk memisahkan sebuah unsur menjadi lebih dari satu unsur spasial, Substract
untuk menghapus area yang ber-overlap diantara dua unsur spasial yang bertipe
poligon, serta Intersect untuk menghasilkan unsur spasial baru yang merupakan
irisan dari unsur-unsur spasial masukannya.

h. Fungsi analisis terhadap layer tematik, yang terdiri dari Dissolve (aggregate),
Merge, Clip, dan Spatial Join.

i. Geocoding, adalah proses yang dilakukan untuk mendapatkan suuatu lokasi unsur
berdasarkan layer referensi dan masukan string.

j. Overlay, yaitu analisis sapasial esensial yang mengombinasikan dua layer tematik
yang menjadi masukannya. Beberapa contoh operasi Overlay Spasial dalam
ArcGIS.

BAB III
METODOLOGI TABEL KLASIFIKASI

3.1 Data
3.1.1 Input Data
Proses input data digunakan untuk menginputkan data spasial dan data non-
spasial. Data spasial biasanya berupa peta analog. Untuk SIG harus
menggunakan peta digital sehingga peta analog tersebut harus dikonversi ke
dalam bentuk peta digital dengan menggunakan alat digitizer. Selain proses
digitasi dapat juga dilakukan proses overlay dengan melakukan proses scanning
pada peta analog.
Data yang di perlukan untuk menentukan lokasi sebaran endapan bahan galian
nikel dengan menggunakan Sitem Informasi Geografi (SIG) terdiri dari empat
parameter data yaitu data litologi, morfologi, kemiringan lereng, dan struktur, di
mana masing-masing data telah di beri nilai atau bobot sebagai berikut :
a. Data lithoogi

Jenis batuan bobot


Batuan beku 3
Batuan sendimen 2
Batuan metamorf 1

b. Data morfologi

Jenis morfologi bobot


Landai 3
Curam 2
Terjal 1

c. Kemiringan lereng

Tingkat kemiringan ((ͦ) bobot


0 – 30 3
30 – 60 2
60 – 90 1

d. Data Struktur

Jarak dengan struktur ( m ) bobot


Dekat (0- 10) 3
Sedang (10-20) 2
Jauh ( > 30 ) 1

3.1.2 Manipulasi Data


Tipe data yang diperlukan oleh suatu bagian SIG mungkin perlu dimanipulasi
agar sesuai dengan sistem yang dipergunakan. Oleh karena itu SIG mampu
melakukan fungsi edit baik untuk data spasial maupun non-spasial.
3.1.3 Manajemen Data
Setelah data spasial dimasukkan maka proses selanjutnya adalah pengolahan
data non-spasial. Pengolaha data non-spasial meliputi penggunaan DBMS
untuk menyimpan data yang memiliki ukuran besar.
3.1.4 Analisis Proximity
Analisis Proximity merupakan analisis geografi yang berbasis pada jarak antar
layer. SIG menggunakan proses buffering (membangun lapisan pendukung di
sekitar layer dalam jarak tertentu) untuk menentukan dekatnya hubungan antar
sifat bagian yang ada.

3.1.5 Analisis Overlay


Overlay merupakan proses penyatuan data dari lapisan layer yang berbeda.
Secara sederhana overlay disebut sebagai operasi visual yang membutuhkan
lebih dari satu layer untuk digabungkan secara fisik. Adapun nilai bobot dari
overlay adalah sebagi berikut :

Overlay nikel bobot


Rendah 3-5
Sedang 5-7
Tinggi 7-9

3.1.6 Visualisasi
Untuk beberapa tipe operasi geografis, hasil akhir terbaik diwujudkan dalam
peta atau grafik. Peta sangatlah efektif untuk menyimpan dan memberikan
informasi geografis.untuk itu output dari data- data yang telah ada akan
menghasilkan tiga peta yaitu peta geologi, peta morfologi dan peta struktur
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan data litologi, morfologi, kemiringan lereng dan struktur yang
digunakan sebagai parameter untuk menentukan lokasi yang berpotensi memiliki
sumber daya dan cadangan bahan galian nikel di provinsi sulawesi tenggara terdapat
tiga output peta sebagai acuan untuk mengidentifikasi loksi endapan nikel laterit
menggunakan Sitem Informasi Geografi (SIG).
4.1.1 Peta Geologi
4.1.2 Peta Morfologi
4.1.3 Peta Struktur
4.1.4 Peta Potensi Sebaran Nikel Sultra
4.2. Pembahasan
Sistem Informasi geografi adalah suatu sistem Informasi yang dapat
memadukan antara data grafis (spasial) dengan data teks (atribut) objek yang
dihubungkan secara geogrfis di bumi (georeference),Anon (2001).
analisis spasial adalah suatu teknik atau proses yang melibatkan sejumlah
hitungan dan evaluasi logika (matematis) yang dilakukan dalam rangka mencari atau
menemukan potensi hubungan atau pola‐pola yang (mungkin) terdapat di antara
unsur-unsur geografis (yang terkandung dalam data digital dengan batas-batas
wilayah studi tertentu.
Kaitan antara GIS dan keterdapatan nikel sebenarnya sama untuk semua
bahan galian baik itu mineral, batubara dan minyak bumi dimana informasi
menyangkut keberadaan sebaran bahan galian mineral, batubara dan minyak bumi
baik secara vertikal dan horisontal merupakan elemen penting dalam pengambilan
kebijakan pada industri pertambangan yang berkelanjutan. Informasi bahan galian ini
menjadi dasar dalam penerapan teknologi pertambangan dan pemodelan geologinya.
Berdasarkan dari hasil identifikasi analisi spasial Sistem Informasi geografi
(SIG) untuk menentukan lokasi sebaran bahan galian nikel di daerah Sulawesi
tenggara menggunakan tiga peta yaitu peta geologi, peta morfologi dan peta struktur,
dimana masing-masing peta telah di beri nilai atau bobot untuk nantinya akan di
overlay.
4.1.1 Peta Geologi
Peta geologi adalah bentuk ungkapan data dan informasi geologi suatu
daerah /wilayah / kawasan dengan tingkat kualitas yang tergantung pada skala peta
yang digunakan dan menggambarkan informasi sebaran, jenis dan sifat batuan, umur,
stratigrafi, struktur, tektonika, fisiografi dan potensi sumber daya mineral serta energy
yang disajikan dalam bentuk gambar dengan warna, simbol dan corak atau gabungan
ketiganya.
Berdasarkan dari hasil identifikasi peta geologi untuk daerah yang berpotensi
memiliki bahan galian nikel praktikan mengambil lima lokasi penampang sebagai
acuan untuk identifikasi, dimana kelima penampang tersebut merupakan daerah yang
memiliki jenis batuan ultra basa dan ultra mafik sebagai pembawa mineral nikel ( ni ).

4.1.2 Peta Morfologi


Peta morfologi adalah peta yang menujukan penampakan roman muka bumi
dan aspek- aspek yang mempengaruhinya. Selain itu morfologi juga di defenisikan
sebagai ilmu yang mempelajari bentuk bentang alam.
Berdasarkan dari hasil identifikasi peta morfologi untuk daerah yang
berpotensi memiliki bahan galian nikel praktikan mengambil lima lokasi penampang
sebagai acuan untuk identifikasi, dimana kelima penampang tersebut merupakan
daerah yang memiliki jenis batuan ultra basa dan ultra mafik sebagai pembawa
mineral nikel ( ni ).
Kelima Penampang yang di identifikasai telah diberi nilai atau bobot sebagi
berikut :
penampang Jenis morfologi Nilai/ bobot
Penampang 1 terjal 2
Penampang 2 terjal 2
Penampang 3 curam 1
Penampang 4 landai 3 4.1.3 Peta
Penampang 5 landai 3
struktur
Peta singkapan, yaitu peta yang umumnya berskala besar, mencantumkan lokasi
ditemukannya batuan padat, yang dapat memberikan sejumlah keterangan dari
pemboran beserta sifat batuan dan kondisi strukturalnya. Peta ini digunakan untuk
menentukan lokasi, misalnya material yang berupa pecahan batu, dapat ditemukan
langsung di bawah permukaan.
Peta struktur, adalah peta dengan garis-garis kedalaman yangdikonstruksikan
pada permukaan sebuah lapisan tertentu yang berada di bawah permukaan. Peta ini
memiliki skala sedang hingga besar.
Struktur geologi merupakan bentuk-bentuk geometri yang terdapat di kulit
bumi yang terbentuk karena pengaruh gaya-gaya endogen, baik berupa tekanan
maupun tarikan. Ada tiga jenis struktur geologi yang dikenal, yaitu kekar, sesar, dan
juga lipatan. Adapun para meter yang menjadikan peta ini sebagai salah satu peta
pengamatan potensi keterdapatan nikel karena keterdapatan nikel dalam pengamatan
struktur geologi umumnya berada pada lingkungan struktur sesar.
Berdasarkan dari hasil identifikasi peta Struktur untuk daerah yang berpotensi
memiliki bahan galian nikel praktikan mengambil lima lokasi penampang sebagai
acuan untuk identifikasi, dimana kelima penampang tersebut merupakan daerah yang
memiliki jenis batuan ultra basa dan ultra mafik sebagai pembawa mineral nikel ( ni ).
penampang Jarak dengan struktur Nilai/ bobot
(m)
Penampang 1 Dekat (0- 10) 3
Penampang 2 Jauh (>30 ) 1
Penampang 3 Sedang ( 10- 20) 2
Penampang 4 Dekat (0- 10) 3
Penampang 5 Dekat (0- 10) 3

4.1.4. Analisis Overlay


Overlay merupakan proses penyatuan data dari lapisan layer yang berbeda.
Secara sederhana overlay disebut sebagai operasi visual yang membutuhkan lebih
dari satu layer untuk digabungkan secara fisik

Berdasarkan ketiga peta dari hasil analisi spasial peta geologi, peta morfologi
dan peta struktur dapat di peroleh nilai overlay sebagi berikut :
N penampan Bobot Bobot Bobot overla bobo
o g Peta Peta peta struktur y t
geologi morfologi
1 penampang 3 2 3 tinggi 8
2 penampang 3 2 1 sedang 6
3 penampang 3 1 2 sedang 6
4 penampang 3 3 3 tinggi 9
5 penampang 3 3 3 tinggi 9

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari laporan ini adalah sebagai berikut :
1. Sistem Informasi Geografis (SIG) atau Geographic Information System
(GIS) adalah sistem informasi yang berdasar pada data keruangan dan
merepresentasikan obyek di bumi. suatu sistem informasi yang menyajikan
informasi dan mengelola data dalam bentuk grafis dengan menggunakan
peta.
2. Secara umum, analisis spasial adalah suatu teknik atau proses yang
melibatkan sejumlah hitungan dan evaluasi logika (matematis) yang
dilakukan dalam rangka mencari atau menemukan potensi hubungan atau
pola‐pola yang (mungkin) terdapat di antara unsur-unsur geografis (yang
terkandung dalam data digital dengan batas-batas wilayah studi
tertentu. Detail, tipe, implementasi atau jenis aktual fungsi analisis spasial
dapat dijumpai di banyak teori dan perangkat lunak SIG, pengolahan citra
digital, remote sensing, fotogrametri, model permukaan digital dan CAD.
3. Berdasarkan data litologi, morfologi, kemiringan lereng dan struktur yang
digunakan sebagai parameter untuk menentukan lokasi yang berpotensi
memiliki sumber daya dan cadangan bahan galian nikel di provinsi sulawesi
tenggara terdapat tiga output peta sebagai acuan untuk mengidentifikasi loksi
endapan nikel laterit menggunakan Sitem Informasi Geografi (SIG).
4. Overlay merupakan proses penyatuan data dari lapisan layer yang berbeda.
Secara sederhana overlay disebut sebagai operasi visual yang membutuhkan
lebih dari satu layer untuk digabungkan secara fisik
Berdasarkan ketiga peta dari hasil analisi spasial peta geologi, peta morfologi
dan peta struktur dapat di peroleh nilai overlay sebagi berikut :

N penampang Bobot Bobot Bobot overla Bobot


o Peta Peta morfologi peta struktur y
geologi
1 penampang 3 2 3 tinggi 8
2 penampang 3 2 1 sedang 6
3 penampang 3 1 2 sedang 6
4 penampang 3 3 3 tinggi 9
5 penampang 3 3 3 tinggi 9

5.2 Saran
Saran yang dapat saya sampaikan sebaiknya praktikum dilaksanakan
dilaboratorium dan semoga kedepannya praktikum mata kuliah ini sudah memiliki
asisten agar mahasiswa atau praktikan dapat berkonsultasi setiap saat kepada asisten
sehingga mudah untuk memahami sesuatu yang berkaitan dalam praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Waheed., 2006. Laterit : Mine Geology at PT. International Nickel Indonesia.
PT. International Nickel Indonesia : Sorowako, South Sulawesi
Anonim. 2007. Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar. GIS Konsorsium Aceh Nias.
Banda Aceh.

Eddy Prahasta. 2010. Sistem Informasi Geografis Konsep-Konsep Dasar.Informatika.


Bandung.

Handayani, D., Soelistijadi, R., dan Sunardi. 2005. Pemanfaatan Analisis Spasial
untuk Pengolahan Data Spasial Sistem Informasi Geografi. Teknik industry.
Mercubuana.