Anda di halaman 1dari 19

Compiled by:

Capt. Dayan@2017

1
Definisi Kepemimpinan (Leadersip)
 Kepemimpinan adalah suatu proses dalam bentuk tindakan
yang mempengaruhi kegiatan suatu orgaisasi dalam usaha
terhadap penetapan tujuan dan pencapaian tujuan.
 Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menjelaskan secara
gamblang tentang visi, mewujudkan nilai nilai dan
menciptakan suatu lingkungan dalam suatu organisasi yang
mana tujuan bisa dicapai.
 Kepemimpinan adalah suatu proses pemahaman terhadap
apa yang dilakukan bersama sehingga orang lain memahami
dan melaksanakannya.

2
Berbagai Tipe Kepemimpinan
1. Kepemimpinan Otokrasi (Autocratic leadership)
Kepemimpinan Otokrasi melakukan kontrol, dan memberitahukan karyawan
atau pengikutnya, apa dan bagaimana cara melaksanakan segala sesuatu.
Apabila dilakukan terus menerus, ini akan mengakibatkan hilang
kepercayaan, dan menghalangi mereka berpikir kreatif dan mengambil
resiko, serta karyawan ketakutan menyampaikan pendapat yang kritis.
Dengan kata lain, Kepemimpinan Otokrasi sangat jelas menginginkan apa
yang harus dikerjakn oleh pengikut atau anggotanya. Ini sangat baik di
aplikasikan untuk situasi pengambilan keputusan dalam waktu yang
mendesak, atau ketika pemimpin mempunyai pengetahuan yang lebih
dalam kelompoknya.
2. Kepemimpinan Birokrasi (Bureaucratic leadership)
Pemimpin Birokfasi bekerja dengan mengikuti peraturan dan prosedur. Gaya
kepemimpinan ini sesuai untuk pekerjaan di lingkungan yang berisiko tinggi,
seperti, pekerjaan di permesinan, penanganan muatan berbahaya atau kerja
di ketinggian. Kekurangan dari gaya kepemimpinan ini adalah tidak efektif di
organisasi yang mengandalkan fleksibilitas, kreativitas atau inovasi.

3
Berbagai Tipe Kepemimpinan
3. Kepemimpinan Kharismatic (Charismatic leadership)
Seorang pemimpin kharistmatik memberikan inspirasi yang kuat dan menghasilkan
energi untuk memimpin yang lain terus maju. Secara umum, banyak orang
cenderung mengikuti tipe pemimpin seperti ini.
Bagaimanapun, resiko dari gaya kepemimpinan kharistmatik adalah timbul rasa-
percaya diri dan sentralisasi yang mengakibatkan pengikutnya percaya bahwa
semua keberhasilan yang dicapai karena pemimpin. Seorang pemimpin kharismatik
memegang tanggungjawab yang berat.

4. Kepemimpinan Demokratis atau Partisipasi (Democratic or participative


leadership)
Tipe pemimpin ini adalah mengajak para anggotanya berpatisipasi dalam
pengambilan keputusan, walaupun pemimpin yang memegang tanggungjawab
untuk keputusan akhirnya. Para anggta bisa merasakan terlibat dan merasa dihargai
dan membangun setiap individu lebih percaya diri. Tentu saja ini akan perlu waktu
dalam menghasilkan keputusan. Kerugian dari gaya kepemimpinan ini adalah
pemimpin tipe ini terlihat tidak tegas, bimbang, tidak pasti atau tidak berkeinginan
membuat suatu keputusan. Serta dalam membuat keputusan akan memamakan
waktu yang panjang.

4
Berbagai Tipe Kepemimpinan
5. Kepemimpinan Bebas (The laissez-faire leadership)
Dari bahasa Prancis , dibaca lee se fer, yang secara harafiah berarti
mengizinkan bebas, Pemimpin mengambil tempat dibelakang, membiarkan
pengikutnya membuat keputusan sendiri dan memberikan kebebasan dalam
bekerja dengan cara sendiri yang dianggap terbaik. Gaya ini bisa diterapkan
jika menjadi pemimpin orang orang yang sudah ahli dan memberikan
kemudahan dalam kreativitas. Tapi gaya kepemimpinan ini bisa
menyebabkan kekurangan petunjuk, kurang tepat dalam menentukan hal
yang mendesak.

6. Kepemimpinan Berorientasi Tugas (A task oriented leadership)


Pemimpin fokus pada tugas yang ditangani dan semua prosedur penting
diikuti. Gaya kepemimpinan ini kurang dalam kepedulian terhadap
anggotanya dan lebih perhatian ke solusi operasional untuk mencapai
tujuan. Kerugian gaya kepemimpinan ini adalah berkurang motivasi
bawahan akibat merasa mati kutu karena diperiksa semua aspek dari
pekerjaan.

5
Berbagai Tipe Kepemimpinan
7. Kepemimpinan Berorientasi Orang (People-oriented or
relation-oriented leadership)
Pemimpin tipe ini memahami pentingnya setiap tugasnya, tapi juga
menggunakan waktu dengan sangat baik dalam setiap rapat /
pertemuan dengan para karyawan.
Meluangkan waktu secara individu dengan karyawan untuk medengar
kekuatan dan kelemahan karyawan.Kemungkinan kerugian dari gaya
pemimpin ini adalah jika karyawan memikul terlalu banyak
tanggungjawab tanpa bimbingan manajemen bisa kewalahan dalam
membuat keputusan

6
10 Kualitas Inti Kepemimpinan
1. Mampu menunjukkan respect dan wewenang komando. Seorang
pemimpin akan di hargai dan wewenang komando jika
pengikutnya percaya bahwa pemimpin mau melatih kemampuan
pribadinya, mempunyai pengetahuan dan kompetensi,
memahami situasi anggotanya dan perduli terhadap
kesejahteraan. Mampu berkomunikasi dengan jelas dan tampil
percaya diri dan meyakinkan.
2. Mampu memberikan contoh kepada team. Memimpin team
dengan contoh yang di hasilkan dari 2 hal, yaitu memberikan
contoh dan menempatkan diri sebagai bagian dari team.
3. Mampu menunjukkan pengetahuan dan pengalaman.
Pengetahuan dan pengalaman yang sesuai adalah penting untuk
kepemimpinan yang efektif. Ini khususnya terkait keselamatan
(safety), pengetahuan yang baik tentang peraturan keselamatan,
kodefikasi, pengalaman dan keterampilan teknis, isu isu
operasional dan manajemen personel.

(Maritime Coast Guard Agency (MCA), 2011, pp. 8-27)


7
10 Kualitas Inti Kepemimpinan
4. Mampu untuk tetap tenang dalam krisis. Ketenangan dalam situasi
krisis adalah persyaratan utama. Mempunyai rasa percaya diri dan
percaya pada kemampuan crew, dan mempersiapkan tindakan dalam
keadaan darurat.
5. Mampu menunjukkan empati yang kuat. Pemimpin yang punya empati
realistik kepada crew dan kepedulian yang sunguh sunggu, tapi bukan
berarti selalu setuju dengan mereka. Maksudnya memberikan apa yang
dibutuhkan bukan apa yang mereka mau.
6. Mampu sensitip terhadap budaya (cultures) yang beragam. Pemimpin
yang baik adalah yang sensitip terhadap perbedaan budaya norma dan
memperlakukan semau anggota crew adalah sama tanpa memandang
nasionalitas. Crew tahu perbedaan perlakuan tindakan, dan crew tahu
bagaimana bereaksi terhadap tekanan kuat yang berlebihan.
7. Mampu mengenali keterbatasan crew. Pemimpin harus mengerti
bagaimana operasional dan hal lainnya yang harus dipenuhi oleh crew,
menentukan tingkat lelah (fatigue) dan mengambil tindakan yang sesuai
bila diperlukan.

(Maritime Coast Guard Agency (MCA), 2011, pp. 8-27)


8
10 Kualitas Inti Kepemimpinan
8. Mampu menumbuhkan motivasi dan rasa memiliki. Manusia
umumnya termotivasi denga rasa puas atau rasa percaya diri jika
menyeselesaikan pekerjaan dengan baik dan bila merasa menjadi
bagian dari team. Pemimpin punya peranan penting untuk
menciptakan lingkungan dan mendorong motivasi positif.
Menunjukkan respect kepada anggota adalah bagian dari
menjaga motivasi.
9. Mampu menempatkan keselematan crew dan penumpang diatas
segalanya. Komitmen dari pemimpin adalah sangat penting untuk
keselamatan (safety). Pemimpin dikehendaki menunjukkan
dengan jelas komitment terhadap keselematan dengan tindakan
nyata.
10. Mampu berkomunikasi dan mendengarkan. Komunikasi yang jelas
penting disemua level organisasi. Isu utama adalah komunikasi
dua arah, otorisasi yang seimbang dan kemampuan melakukan
pendekatan.

(Maritime Coast Guard Agency (MCA), 2011, pp. 8-27)


9
10
Gaya kepemimpinan dan Keselamatan Kapal

1. Gaya Kepemimpinan Otokratis; adalah pendekatan klasik, dimana pemimpin


sebagai pemegang kuasa dan berwenang membuat keputusan. Pemimpin
tidak konsultasi kepada anggota team, siapapun tidak diperbolehkan
memberikan saran (input). Pemimpin meminta kepada seluruh team untuk
patuh dan taat tanpa mendapat apapun penjelasan. Motivasi di peroleh dari
sistim Hukuman (punishmenst) dan Hadiah (rewards).
Oleh karena itu, Pemimpin Otokratis :
a. Mengandalkan ancaman dan hukuman untuk mempengaruhi team;
b. Tidak percaya kepada anggota team;
c. Tidak bisa menerima masukan (input)
Kadang gaya pemimpin Otokratis ini bagus dan bisa efektif di situasi; jika crew
member baru naik kapal dan belum familiar dengan kapal dan tidak tahu tugas dan
prosedur yang ada di kapal. Hal berikut bisa di lakukan, antara lain;
a. Untuk keberhasilan suatu operasi perlu di sediakan supervisi (pengawas) yang mengawasi dengan
detil perintah dan instruksi;
b. Anggota crew yang tidak respon terhadap gaya kepemimpinan lainnya;
c. Suatu keputusan perlu di lakukan dalam periode waktu yang sangat singkat (segera);
d. Crew dengan multi-kultur (berbagai budaya) dan pemimpin di tantang (challenge) oleh salah
seorang anggota crew.
Bagaimanapun, pemimpin yang mengadopsi gaya ini harus tahu situasi kapan gaya
Otokratis TIDAK dipakai, misalnya; ketika crew sedang tegang (emosional), sedang
ketakutan atau benci, crew ingin didengar pendapatnya, atau ketika crew mulai
sangat tergantung terhadap pemimpin untuk semua keputusannya.
11
Gaya kepemimpinan dan Keselamatan Kapal

2. Birokratis, adalah pemimpin membuat segalanya seperti yangtercantum dalam


“manual” atau mengikuti prosedur yang ada dengan ketat. Apabila tidak ada
dalam prosedur atau kebijakan, pemimpin ini akan merujuk keputusan kepada
level diatasnya. Tipe pemimpin ini seperti ‘polisi’ yang menegakkan peraturan.

 Tipe pemimpin seperti ini terbukti sangat efektif dalam situasi;


a. Crew melakukan tugas tugas rutin;
b. Crew perlu pemahaman prosedur atau standarisasi tertentu;
c. Crew yang bekerja dengan material berbahaya (dangerous) atau penuh resiko
(hazardous) atau peralatan yang sensitif;
d. Pelaksanaan pelatihan (training) keselamatan atau Keamanan;

 Gaya kepemimpinan ini menjadi tidak efektif, ketika;


a. Crew kehilangan minat dalam pekerjaan mereka
b. Crew hanya mengerjakan apa yang diperintahkan (expected) tidak lebih.

12
Gaya kepemimpinan dan Keselamatan Kapal

3. Gaya kepemimpinan Demokratis disebut juga gaya


Partisipasi dan mempunyai karakteristik dengan melibatkan
crew member dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi;
a. Menanyakan sebelum menceritakan, menghargai saran dan diskusi dengan
team;
b. Mengedepankan kerjasama team, mendorong partisipasi dan kebijaksanaan
dari perwailan, tapi
c. Tidak pernah melupakan tanggungjawabnya sebagai pipmpinan;
 Gaya Demokratis ini efektif ketika:
a. Waktu operasional tidak terbatas;
b. Crew member mempunyai keahlian atau pengetahuan yang cukup baik;
c. Pimpinan sangat familiar dengan operasional dan ingin membentuk team
yang kuat;
d. Crew termotivasi dan muncul rasa team untuk menambah lagi pencapaian.
 Gaya Demokratis ini menjadi Tidak efektif, ketika:
a. Crew member kurang terampil dan pengetahuan;
b. Kehilangan motivasi;
c. Keadaan konflik diantara crew member
13
Gaya kepemimpinan dan Keselamatan Kapal

4. Kepemimpinan Laissez-faire, dikenal dengan gaya pemimpin


berlepas-tangan (hands-off), pemimpin hanya sedikit atau
samasekali tidak ada memberikan arahan. Tapi memberikan
kebebasan sebanyak mungkin kepada crew. Semua wewenang
diberikan kepada team dan team harus menetapkan tujuan,
membuat keputusan dan memecahkan permasalahan sendiri.

 Gaya kepemimpinan ini terbukti efektif dalam situasi:


a. Crew sangat terampil dan berpengalaman;
b. Crew bangga dengan pekerjaannya;
c. Crew bisa dipercayai dan pengalaman.

 Sebaliknya gaya kepemimpinan ini menjadi tidak efektif, ketika:


a. itu membuat crew merasa tidak aman dibawah komando pimpinan;
b. pimpinan tidak bisa memberikan umpanbalik;
c. pimpinan tidak bisa berterimakasih kepada team ataas kerja baik mereka;
d. pimpinan tidak mengerti tanggungjawabnya dan berharap team bisa melindunginya
nya

14
Gaya kepemimpinan dan Keselamatan Kapal

 Pertimbangkan gaya gaya kepemimpinan tersebut sebelum


mempraktekkannya, karena setiap akan dipengaruhi oleh gaya
kepemimpinan. Dalam konteks operasional kapal, bisa diamati bahwa
keselamatan setiap operasi diatas kapal tergantung dari kerpibadian dan
tingkahlaku orang yang memimpin
 Ini berarti keselamatan kapal secara keseluruhan sangat tergantung dari
orang yang memimpin diatas kapal. Jadi gaya kepemimpinan yang
diadopsi oleh seorang pemimpin sangat mungkin bisa di analisa apa
tingkatan keselamatan setiap operasional yang dilakukan. Katakan team
adalah crew member dan pimpinan adalah Nakhoda, sebagai
konsekuensinya adalah keselamatan navigasi.
 Sejalan dengan itu, supaya ada lingkungan kerjasama team yang baik
diatas kapal penting memahami kondisi alami manusia dan bagaimana
kondisi ini bisa dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti;
a. kesukaan (hobi)
b. sifat individu
c. kultur (budaya)
d. hubungan nasionalisme
e. keterbukaan lingkungan yang multikultur
15
Unsur Manusia di Atas Kapal
 Dalam konteks maritim, istilah unsur manusia (human
element) mencakup apapun juga yang mempengaruhi
interaksi diatas kapal antara manusia dengan manusia lain,
sistim atau mesin.
 Unsur manusia ini ada sejak dahulu kala, tapi manusia, sistem
dan mesin mengalami perubahan, tidak hanya dengan adanya
teknologi baru, tapi juga dikarenakan pengurangan tenaga
manusia untuk mengurangi biaya operasional harian dan
crew multi-nasional, multi-kultur dan multi-bahasa.
 Kapal perlu pelaut yang bagus, mempunyai kualifikasi dan
punya motivasi untuk mengoperasikan kapal dengan bagus.
 Istilah ‘Garbage In, Garbage Out’(GIGO) dapat digunakan,
yaitu kualitas yang diharapkan sangat tergantung dari kualitas
yang masuk.
16
Unsur Manusia di Atas Kapal
 Para pelaut perlu di persiapkan dan dilatih dengan cukup baik untuk bisa
melakukan tugasnya dengan cara selamat (safe) dan efisien. Selain itu
pelaut juga harus diperhatikan kebutuhan dasar nya, yaitu pikiran (mind),
tubuh (body) dan semangat (spirit).
 Dalam istilah “the Mind, the Body and the Spirit”, oleh karena itu,
personal output para pelaut tergantung akan 7 kebutuhan (need) berikut
ini.
1. Kompetensi (Competence). Level komptenesi pelaut tidak hanya
tergantung dari Diklat yang baik dan efektif,, tapi juga kecerdasan –
yaitu mampu menyerap ilmu dan memahami pokok persoalan – dan
keterampilan dan kecakapannya.
2. Etika atau Sikap (Attitude). Sikap pelaut terhadap pendidikan dan
pelatihan dikendalikan oleh kemampuan mental, intelijensia,
personaliti, karakter dan sesitivitas. Kuncinya adalah kesadaran sendiri
dan evaluasi mandiri.
3. Motivasi (Motivation). Dikendalikan oleh komunikasi yang baik, arahan,
kerjasama team, pemberdayaan dan pembangunan karakter untuk
mempersiapkan pelaut dengan pemahaman kepemimpinan,
bekerjasama secara harmonis dan mamapu beradaptasi.
17
Unsur Manusia di Atas Kapal
4. Gaya Hidup Bahagia dan Sehat (Happy & healthy lifestyle). Suatu gaya
hidup yang bahagia dan sehat melalui dorongan melakukan diet
seimbang, makanan higienis, latihan kebugaran, istirahat dan rekreasi,
selain itu dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
termasuk test Drug dan Alkohol, semua itu untuk memastikan pelaut
punya energi, kemampuan dan stamina untuk bisa melaksanakan
pekerjaannya.
5. Lingkungan yang aman dan terjamin (Safe & secure working
environment). Ergonomi yang baik, Good ergonomics, praktek kerja
selamat, menyediakan peralatan perlindungan diri,akan membawa ke
kultur keselamatan yang lebih baik dan kesadaran akan keamanan yang
lebih besar.
6. Aktualisasi Diri (Self-actualisation). Etika pribadi, hati nurani, integrasi
budaya dan kepemimpinan, bersamaan dengan pengawasan yang tepat
dan upah yang cukup bisa menghasilkan rasa bangga , perasan yakin,
kepercayaan, harapan, realisasi, rasa memiliki, penghargaan,
persahabatan, rasa aman.
7. Nilai Nilai Moral (Moral values). Nilai moral sama pentingnya; suatu
kesadaran dari kepercayaan, ersamaan dengan keyakinan dan disiplin
diri akan membawa ke arah kesadaran kulturan 18
Hard live at sea, happier crew, be friend
together with all the people
from all the world
but,..
Working as ONE TEAM

Capt. Dayan@2017 19