Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


ANAK DENGAN OBSERVASI FEBRIS DAN HIPERPIREKSI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Anak


di Ruang Seruni Rumah Sakit Karsa Husada Batu

OLEH:
KRIS WIDYAWATI
180070300111051
KELOMPOK 2B

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2018
A. Definisi

Definisi demam adalah keadaan suhu tubuh di atas suhu normal, yaitu suhu
tubuh di atas 38º Celsius. Suhu tubuh adalah suhu visera, hati, otak, yang dapat
diukur lewat oral, rektal, dan aksila. Cara pengukuran suhu menentukan tinggi
rendahnya suhu tubuh. Normalnya suhu tubuh manusia berkisar antara 360-37oC.

Kerugian yang bisa terjadi karena disebabkan oleh febris atau demam yaitu
penderita febris dapat mengalami dehidrasi karena pada saat demam terjadi
peningkatan pengeluran cairan tubuh yang berlebih. Oleh karena itu sebaiknya
penderita di usahkan agar banyak minum air dan banyak istirahat. Pirogen terpenting
yang bertanggung jawab atas demam adalah Interleukin Produksi hasil bakteri, virus,
serta jamur merangsang pelepasan interleukin 1 dari makrofag, serta juga produksi
sitokin-sitokin lain, sehingga menghasilkan demam dan manifestasi lain respon
radang.
Demam adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu hingga 38⁰C atau
lebih. Ada juga yang yang mengambil batasan lebih dari 37,8⁰C.Sedangkan bila
suhu tubuh lebih dari 40⁰C disebut demam tinggi (hiperpireksia)(Julia, 2000).
Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain:
a. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan
turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan
menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang
normal dinamakan juga demam hektik.
b. Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan
normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan
tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.
c. Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari.
Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila
terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut
kuartana.
d. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat
demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
e. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa
periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan
suhu seperti semula. Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu
penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien
dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu
sebab yang jelas seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria,
tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab
yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja
dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti
influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak
harus tetap waspada terhadap infeksi bakterial.

B. ETIOLOGI
Penyebab dari demam antara lain dimungkinkan oleh :
1. Infeksi
2. Toksemia
3. Keganasan
4. Pemakaian obat.
5. Gangguan pada pusat regulasi suhu tubuh, seperti pada heat stroke,
perdarahan otak, koma, atau gangguan sentral lainnya

Sesuai dengan patogenesis, etiologi demam yang dapat mengakibatkan


hiperpireksia dapat dibagi sebagai berikut:

a. Set point hipotalamus meningkat

1) Pirogen endogen

 Infeksi

 Keganasan

 Alergi

 panas karena steroid

 penyakit kolagen

2) Penyakit atau zat

 kerusakan susunan saraf pusat

 keracunan DDT

 racun kalajengking

 penyinaran

 keracunan epinefrin

b. Set point hipotalamus normal

1) Pembentukan panas melebihi pengeluaran panas

 hipertermia malignan

 hipertiroidisme
 Hipernatremia

 keracunan aspirin

2) Lingkungan lebih panas daripada pengeluaran panas

 mandi sauna berlebihan

 panas di pabrik

 pakaian berlebihan

3) Pengeluaran panas tidak baik (rusak)

 displasia ektoderm

 kombusio (terbakar)

 keracunan phenothiazine

 heat stroke

c. Rusaknya pusat pengatur suhu

1) Penyakit yang langsung menyerang set point hipotalamus:

 ensefalitis/ meningitis

 trauma kepala

 perdarahan di kepala yang hebat

 penyinaran

C. Tanda dan Gejala

Pada saat terjadi demam, gejala klinis yang timbul bervariasi tergantung pada fase
demam meliputi:

Fase 1 awal ( dingin/ menggigil) Tanda dan gejala


1. Peningkatan denyut jantung
2. Peningkatan laju dan kedalaman pernapasan
3. Mengigil akibat tegangan dan kontraksi otot
4. Peningkatan suhu tubuh
5. Pengeluaran keringat berlebih
6. Rambut pada kulit berdiri
7. Kulit pucat dan dingin akibat vasokontriksi pembuluh darah

Fase 2 ( proses demam) Tanda dan gejala


1. Proses mengigil lenyap
2. Kulit terasa hangat / panas
3. Merasa tidak panas / dingin
4. Peningkatan nadi
5. Peningkatan rasa haus
6. Dehidrasi
7. Kelemahan
8. Kehilangan nafsu makan (jika demam meningkat)
9. Nyeri pada otot akibat katabolisme protein.

Fase 3 (pemulihan) Tanda dan gejala


1. Kulit tampak merah dan hangat
2. Berkeringat
3. Mengigil ringan
4. Kemungkinan mengalami dehidrasi

D. Patofisiologi
Demam adalah sebagai mekanisme pertahanan tubuh (respon imun) anak
terhadap infeksi atau zat asing yang masuk ke dalam tubuhnya. Bila ada infeksi atau
zat asing masuk ke tubuh akan merangsang sistem pertahanan tubuh dengan
dilepaskannya pirogen. Pirogen adalah zat penyebab demam, ada yang berasal dari
dalam tubuh (pirogen endogen) dan luar tubuh (pirogen eksogen) yang bisa berasal
dari infeksi oleh mikroorganisme atau merupakan reaksi imunologik terhadap benda
asing (non infeksi). Zat pirogen ini dapat berupa protein, pecahan protein, dan zat
lain, terutama toksin polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik yang dihasilkan
dari degenerasi jaringan tubuh menyebabkan demam selama keadaan sakit.
Mekanisme demam dimulai dengan timbulnya reaksi tubuh terhadap pirogen.
Pada mekanisme ini, bakteri atau pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit
darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh bergranula besar. Seluruh sel ini
selanjutnya mencerna hasil pemecahan bakteri ke dalam cairan tubuh, yang disebut
juga zat pirogen leukosit.
Pirogen selanjutnya membawa pesan melalui alat penerima (reseptor) yang
terdapat pada tubuh untuk disampaikan ke pusat pengatur panas di hipotalamus.
Dalam hipotalamus pirogen ini akan dirangsang pelepasan asam arakidonat serta
mengakibatkan peningkatan produksi prostaglandin (PGEZ). Ini akan menimbulkan
reaksi menaikkan suhu tubuh dengan cara menyempitkan pembuluh darah tepi dan
menghambat sekresi kelenjar keringat. Pengeluaran panas menurun, terjadilah
ketidakseimbangan pembentukan dan pengeluaran panas. Inilah yang menimbulkan
demam pada anak. Suhu yang tinggi ini akan merangsang aktivitas “tentara” tubuh
(sel makrofag dan sel limfosit T) untuk memerangi zat asing tersebut dengan
meningkatkan proteolisis yang menghasilkan asam amino yang berperan dalam
pembentukan antibodi atau sistem kekebalan tubuh.
E. Pemeriksaan Penunjang
Sebelum meningkat ke pemeriksaan-pemeriksaan yang mutakhir, yang siap
tersedia untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih
dapat diperiksa bebrapa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi
permukaan atau sinar tembus rutin.
Dalam tahap berikutnya dapat dipikirkan untuk membuat diagnosis dengan
lebih pasti melalui biopsy pada tempat- tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan
pemeriksaan seperti angiografi, aortografi, atau limfangiografi

F. Penatalaksanaan
a. Secara Fisik
Mengawasi kondisi klien dengan : Pengukuran suhu secara berkala setiap 4-
6 jam. Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau mengigau.
Perhatikan pula apakah mata anak cenderung melirik ke atas atau apakah anak
mengalami kejang-kejang. Demam yang disertai kejang yang terlalu lama akan
berbahaya bagi perkembangan otak, karena oksigen tidak mampu mencapai otak.
Terputusnya suplai oksigen ke otak akan berakibat rusaknya sel-sel otak. Dalam
keadaan demikian, cacat seumur hidup dapat terjadi berupa rusaknya fungsi
intelektual tertentu.
1. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan
2. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
3. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke otak yang
akan berakibat rusaknya sel-sel otak.
4. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak-banyaknyaMinuman yang diberikan
dapat berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan), air buah atau air teh.
Tujuannnya adalah agar cairan tubuh yang menguap akibat naiknya suhu tubuh
memperoleh gantinya.
5. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang
6. Kompres dengan air biasa pada dahi, ketiak,lipat paha. Tujuannya untuk
menurunkan suhu tubuh dipermukaan tubuh anak. Turunnya suhu tubuh
dipermukaan tubuh ini dapat terjadi karena panas tubuh digunakan untuk
menguapkan air pada kain kompres. Jangan menggunakan air es karena justru akan
membuat pembuluh darah menyempit dan panas tidak dapat keluar. Menggunakan
alkohol dapat menyebabkan iritasi dan intoksikasi (keracunan).
7. Saat ini yang lazim digunakan adalah dengan kompres hangat suam-suam kuku.
Kompres air hangat atau suam-suam kuku maka suhu di luar terasa hangat dan
tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu diluar cukup panas. Dengan demikian
tubuh akan menurunkan kontrol pengatur suhu di otak supaya tidak meningkatkan
pengatur suhu tubuh lagi. Di samping itu lingkungan luar yang hangat akan membuat
pembuluh darah tepi di kulit melebar atau mengalami vasodilatasi, juga akan
membuat pori-pori kulit terbuka sehingga akan mempermudah pengeluaran panas
dari tubuh.

b. Obat-obatan Antipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu di
hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan prostaglandin
dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set point hipotalamus
direndahkan kembali menjadi normal yang mana diperintah memproduksi panas
diatas normal dan mengurangi pengeluaran panas tidak ada lagi. Petunjuk
pemberian antipiretik:
1. Bayi 6 – 12 bulan : ½-1 sendok the sirup parasetamol
2. Anak 1 – 6 tahun : ¼-½ parasetamol 500 mg atau 1-1½ sendokteh sirup
parasetamol
3. Anak 6 – 12 tahun : ½-1 tablet parasetamol 500 mg atau 2 sendok teh sirup
parasetamol.
Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu dilarutkan dengan air
atau teh manis. Obat penurun panas in diberikan 3 kali sehari.Gunakan sendok
takaran obat dengan ukuran 5 ml setiap sendoknya.
Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama dalam menurunkan
demam dan sangat berguna khususnya pada pasien berisiko, yaitu anak dengan
kelainan kardiopulmonal kronis kelainan metabolik, penyakit neurologis dan pada
anak yang berisiko kejang demam.Obat-obat anti inflamasi, analgetik dan antipiretik
terdiri dari golongan yang bermacam-macam dan sering berbeda dalam susunan
kimianya tetapi mempunyai kesamaan dalam efek pengobatannya. Tujuannya
menurunkan set point hipotalamus melalui pencegahan pembentukan prostaglandin
dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase. Asetaminofen merupakan derivat
para -aminofenol yang bekerja menekan pembentukan prostaglandin yang disintesis
dalam susunan saraf pusat. Dosis terapeutik antara 10-15 mgr/kgBB/kali tiap 4 jam
maksimal 5 kali sehari. Dosis maksimal 90 mgr/kbBB/hari Pada umumnya dosis ini
dapat d itoleransi dengan baik.Dosis besar jangka lama dapat menyebabkan
intoksikasi dan kerusakkan hepar.Pemberiannya dapat secara per oral maupun
rektal.Turunan asam propionat seperti ibuprofen juga bekerja meneka n
pembentukan prostaglandin.Obat ini bersifat antipiretik, analgetik dan antiinflamasi.
Efek samping yang timbul berupa mual, perut kembung dan perdarahan, tetapi lebih
jarang dibandingkan aspirin. Efek samping hematologis yang berat meliputi
agranulositosis dan anemia aplastik.Efek terhadap ginjal berupa gagal ginjal akut
(terutama bila dikombinasikan dengan asetaminopen).Dosis terapeutik yaitu 5-10
mgr/kgBB/kali tiap 6 sampai 8 jam.Metamizole (antalgin) bekerja menekan
pembentukkan prostaglandin.Mempunyai efek antipiretik, analgetik da n
antiinflamasi. Efek samping pemberiannya berupa agranulositosis, anemia aplast ik
dan perdara han saluran cerna. Dosis terap eutik 10 mgr/kgBB/kali tiap 6 -8 jam dan
tidak dianjurkan unt uk anak kurang dari 6 bulan.Pemberiannya secara per oral,
intramuskular atau intravena. Asam mefenamat suatu obat gol ongan
fenamat.Khasiat analgetiknya lebih kuat dibandingkan sebagai antipiretik.Efek
sampingnya berupa dispepsia dan anemia hemolitik.Dosis pemberiannya 20
mgr/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Pemberiannya secara per oral dan tidak boleh
diberikan anak usia kurang dari 6 bulan.
Penatalaksanaan pasien hiperpireksia

a. Monitoring tanda vital, asupan dan pengeluaran.

b. Berikan oksigen

c. Berikan anti konvulsan bila ada kejang

d. Berikan antipiretik. Asetaminofen dapat diberikan per oral atau rektal. Tidak
boleh memberikan derivat fenilbutazon seperti antalgin.

e. Berikan kompres

f. Bila timbul keadaan menggigil dapat diberikan chlorpromazine 0,5-1 mgr/kgBB


(I.V).

g. Untuk menurunkan suhu organ dalam: berikan cairan NaCl 0,9% dingin melalui
nasogastric tube ke lambung. Dapat juga per enema.

h. Bila timbul hiperpireksia maligna dapat diberikan dantrolen (1 mgr/kgBB I.V.),


maksimal 10 mgr/kgBB.

G. Komplikasi
a. Dehidrasi : demam ↑penguapan cairan tubuh
b. Kejang demam : jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Sering terjadi pada
anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam pertama demam dan
umumnya sebentar, tidak berulang. Kejang demam ini juga tidak membahayakan
otak

H. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi, proses penyakit.
2. Resiko injuri berhubungan dengan infeksi mikroorganisme.
3. Resiko kurang cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan diaforesis.
4. Ansietas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit

I. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan (NOC) (NIC)
1. Hipertermia Setelah dilakukan tindakan Fever treatment
berhubungan dengan keperawatan selama…x24jam · Monitir suhu sesering
proses infeksi, klien menunjukkan temperatur mungkin
proses penyakit. dalam batas normal dengan · Monitor IWL
Batasan kriteria hasil: · Monitor warna dan suhu kulit
· Monitor tekanan darah, nadi
karakeristik : · Suhu Tubuh dalam batas normal
dan RR
· Kenaikan suhu · Bebas dari kedinginan
0 0 · Monitor penurunan tingkat
tubuh diatas rentang · Suhu tubuh stabil 36,5 -37,5 c
· Termoregulasi dbn kesadaran
normal · Monitor WBC, HB dan HCT
· Serangan atau · Nadi dbn · Monitor intake dan output
<1 bln : 90-170
konvulsi (kejang) · Kolaborasikan pemberian
· Kulit kemerahan <1 thn : 80-160
antipiretik
· Pertambahan RR 2 thn : 80-120
· Berikan pengobatan untuk
· Takikardi 6 thn : 75-115
mengatasi penyebab demam
· Saat disentuh 10 thn : 70-110
· Selimuti pasien
tangan terasa hangat 14 thn : 65-100 · Berikan cairan intravena
>14thn : 60-100 · Kompres pasien pada lipat
· Respirasi dbn paha dan aksila
BBL : 30-50 x/m · Tingkatkan sirkulasi udara
Anak-anak : 15-30 x/m · Berikan pengobatan untuk
Dewasa : 12-20 x/m mencegah terjadinya
menggigil
Temperature regulation
· Monitor suhu minimal tiap 2
jam
· Rencanakan monitoring suhu
secara kontinyu
· Monitor TD, nadi dan RR
· Monitor warna dan suhu kulit
· Monitor tanda-tanda
hipertermi dan hipotermi
· Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
· Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
· Diskusikan tentang
pentingnya pengaturan suhu
dan kemungkinan efek
negative dari kedinginan
· Berikan antipiretik bila perlu

Vital Sign Monitoring


· Monitor TD, nadi, suhu dan
RR
· Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
· Monitor VS pada saat pasien
berbaring, duduk atau berdiri
· Monitor TD , nadi, RR,
sebelum, selama dan sesudah
aktivitas
· Monitor kualitas dari nadi
· Monitor frekuensi dan irama
dari pernafasan
· Monitor suara paru
· Monitor pola pernafasan
abnormal
· Monitor warna, suhu dan
kelembaban kulit
· Monitor sianosis perifer
· Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan
sistolik)
· Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
2. Resiko injuri Setelah dilakukan tindakan · Sediakan lingkungan yang
berhubungan dengan keperawatan selama …x24jam aman untuk pasien
infeksi anak bebas dari cidera dengan · Identifikasi kebutuhan
mikroorganisme. kriteria hasil: keamanan pasien sesuai
· Menunjukan homeostatis dengan kondisi fisik dan fungsi
· Tidak ada perdarahan mukosa kognitif pasien dan riwayat
dan bebas dari komplikasi lain penyakit terdahulu pasien
· Menghindari lingkungan yang
berbahaya misalnya
memindahkan perabotan
· Memasang side rail tempat
tidur
· Menyediakan tempat tidur
yang nyaman dan bersih
· Membatasi pengunjung
· Memberikan penerangan
yang cukup
· Menganjurkan keluarga
untuk menemani pasien
· Mengontrol lingkungan dari
kebisingan
· Memindahkan barang-barang
yang dapat membahayakan
· Berikan penjelasan pada
pasien dan keluarga atau
pengunjung adanya
perubahan status kesehatan
dan penyebab penyakit.
3. Resiko kurang cairan Setelah dilakukan tindakan Fluid management:
berhubungan dengan keperawatan selama …x24jam · Pertahankan catatan intake
intake yang kurang volume cairan adekuat dengan dan output yang akurat
dan diaphoresis, kriteria hasil: · Monitor status dehidrasi
faktor yang · Mempertahankan urine output (kelembaban membrane
mempengaruhi sesuai dengan usia dan BB, BJ mukosa, nadi adekuat,
kebutuhan cairan urine normal, HT normal tekanan darah ortostatik)
(hipermetabolik). · Tekanan darah, nadi, suhu· Monitor vital sign
tubuh dalam batas normal · Monitor asupan makanan/
· Tidak ada tanda- tanda cairan dan hitung intake kalori
dehidrasi, elastisitas turgor kulit harian
baik, membrane mukosa· Lakukan terapi IV
lembab, tidak ada rasa haus· Monitor status nutrisi
· Berikan cairan
yang berlebihan. · Berikan cairan IV pada suhu
ruangan
· Dorong masukan oral
· Berikan penggantian
nasogastrik sesuai output
· Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
· Anjurkan minum kurang lebih
7-8 gelas belimbing perhari
· Kolaborasi dokter jika tanda
cairan berlebih muncul
memburuk
· Atur kemungkinan transfusi
4. Ansietas Setelah dilakukan tindakan · Kaji dan identifikasi serta
berhubungan dengan keperawatan selama 2x24jam luruskan informasi yang
hipertermi, efek ansietas klien/keluarga hilang dimiliki klien/keluarga
proses penyakit dengan kriteria hasil: mengenai hipertermi
· Klien/keluarga dapat · Berikan informasi pada
mengidentifikasi hal-hal yang klien/keluarga yang akurat
dapat meningkatkan dan tentang penyebab hipertermi
menurunkan suhu tubuh · Validasi perasaan
· Klien/keluarga mau klien/keluarga dan yakinkan
berpartisipasi dalam setiap klien/keluarga bahwa
tidakan yang dilakukan kecemasan merupakan
· Klien/keluarga mengungkapkan respon yang normal
penurunan cemas yang · Diskusikan dengan
berhubungan dengan hipertermi, klien/keluarga rencana
proses penyakit tindakan yang dilakukan
berhubungan dengan
hipertermi dan keadaan
penyakit
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi Revisi 3. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

Doenges, M.E, Marry F. MandAlice, C.G. 2010. Rencana Asuhan Keperawatan:


Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.
Jakarta: EGC.

F. Keith Battan, MD, FAAP, Glenn Faries, MD. (2007). Chapter 11: Emergencies &
Injuries. Current Pediatric Diagnosis & Treatment, Eighteenth Edition, the
McGraw-Hill Companies; by Appleton & Lange.

Guyton, Arthur C. (2008). Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit. Ed. 3. Jakarta,
EGC.

Guyton, Arthur C. (2010). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed. 9. Jakarta, EGC.

Hardiono D Pusponegoro. Penatalaksanaan demam pada anak.

Henretig FM. Fever. Dalam: Fleisher GR, Ludwig S, penyunting. Textbook of pediatric
emergency medicine; edisi ke-3. Baltimore: Williams dan Wilkins, 1993

NANDA NIC-NOC. 2012. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan NANDA.


Yogyakarta: Media Hardy

Richard C. Dart, MD, PhD. (2007). Chapter 12: Poisoning. Current Pediatric Diagnosis
& Treatment, Eighteenth Edition, the McGraw-Hill Companies; by Appleton &
Lange.

Wong, Dona L, dkk,. 2003. Maternal child nursing care 2nd edition. Santa Luis: Mosby
Inc.

Anda mungkin juga menyukai