Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH SIROSIS HEPATIS

D
I
S
U
S
U
N

OLEH KELOMPOK 3
1. Imelda Samjaya 6. Intan Susilawat
2. Desri Silaen 7. Maya marlinda
3. Sit Aminah 8. Nur Fadilah
4. Yulia Febryant 9. Elydhahanum Siregar
5. Desi Satriani 10. Susy Diana Afelina

STIKes AWAL BROS BATAM


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

2018

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Penyakit sirosis hepatis merupakan penyakit hati dimana sirkulasi mikro, anatomi

pembuluh darah besar dan seluruh sistem arsitektur hati mengalami perubahan menjadi

tidak teratur dan terjadinya penambahan jaringan ikat disekitar permukaan parenkim

hati yang mengalami regenerasi dan terus berlanjut sehingga menyebabkan kegagalan

fungsi hati.

Sirosis yang menetap sebagai salah satu penyebab kematian yang paling

mencolok pada pria dewasa. Peningkatan ini sebagian disebabkan oleh peningkatan

yang sesuai pada insiden hepatitis virus dan penggunaan alcohol. Di Amerika diduga

kejadian sirosis akibat hepatitis ialah sebesar 0,7% dan Jerman sebesar 0,5%. Begitu

juga halnya di Indonesia. Tetapi sirosis yang disebabkan oleh alkohol jarang

ditemukan di Indonesia dibandingkan dengan di Amerika mungkin disebabkan

penduduk Indonesia tidak minum minuman keras, jika ada yang minum sifatnya hanya

sekali-kali saja.

Insiden penyakit sirosis ini terus meningkat sejak perang dunia ke II. Pengobatan

sirosis biasanya tidak memuaskan karena tidak ada agen farmakologik yang dapat

menghentikan atau memperbaiki proses fibrosis.

Di ruangan penyakit dalam RSUD Arifin Achmad Pekanbaru penyakit Sirosis

hepatis ini termasuk kedalam 10 penyakit terbanyak yang diderita pasien rawat inap.

Melihat dari hal tersebutlah maka kelompok mengangkat kasus sirosis hepatis ini

dalam bentuk asuhan keperawatan utnuk mencegah terjadinya komplikasi lanjut dari

sirosis hepatis ini.


B. RUMUSAN MASALAH

Mengingat luasnya masalah sirosis hepatis ini maka kelompok membatasi pada

masalah : Asuhan keperawatan pada pasien sirosis hepatis yang dirawat di Ruang

Penyakit Dalam Pria RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.

C. TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan umum

Dalam rangka menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang nyata dalam

melaksanakan Asuhan Keperawatan pada pasien Sirosis Hepatis.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pemeriksaan dan pengkajian terhadap pasien Sirosis

Hepatis dan membandingkannya dengan teori yang didapat.

b. Mampu menganalisa data serta menegakkan diagnosa keperawatan

berdasarkan prioritas masalah.

c. Mampu menerapkan dan melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien

Sirosis Hepatis.

d. Mampu menilai hasil akhir dari penerapan proses perawatan pada pasien

Sirosis Hepatis.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. PENGERTIAN

Sirosis Hepatis adalah penyakit yang ditandai dengan adanya peradangan difus dan

menahun pada hati, diikuti dengan proliferasi jaringan ikat, degenerasi, dan regenerasi sel-sel

hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenkim hati. ( Mansjoer, Arif., dkk, hal 508).

B. ETIOLOGI

Ada 3 tipe Sirosis atau pembentukan parut dalam hati

a. Sirosis portal laennec ( alkoholik, nutrisional )

Dimana jaringan parut secara khas mengelilingi daerah portal. Jenis ini paling sering

disebabkan oleh alkoholisme kronis dan merupakan tipe yang paling sering ditemukan

dinegara barat.

b. Sirosis paskanekrotik

Dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sebagai akibat lanjut dari hepatitis virus

akut sebelumnya.

c. Sirosis Billier

Dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati sekitar saluran empedu. Type ini

biasanya terjadi akibat obstruksi billier yang kronis dan infeksi (kolangitis), insidennya

lebih rendah daripada insiden sirosis Laennec dan pascanekrotik.


Faktor-faktor lain yang diduga dapat menjadi penyebab terjadinya Sirosis Hepatis antara lain :

a. Malnutrisi

b. Alkoholisme dan riwayat keluarga dengan alkoholisme

c. Virus Hepatitis kronik

d. Kegagalan jantung yang menyebabkan bendungan hepatik

e. Sirosis billiary

f. Kongesti hepar akibat gagal jantung

g. Obat-obatan seperti acetaminophen, methotrexate, methyldopa, isoniazid

C. PATOFISOLOGI

Ada 2 kemungkinan teori tentang patofisiologi sirosis hepatis

1. Teori mekanis

Proses kelanjutan dari hepatitis virus menjadi sirosis mengemukakan bahwa pada

daerah dimana terjadi nekrosis confluent maka kerangka retikulum lobul yang

mengalami collaps akan berlaku sebagai kerangka untuk terjadinya daerah parut yang

akan luas. Dengan perkataan lain proses kolagenesis kerangka retikulum fibrosis hati

diduga merupakan dasar proses sirosis. Dalam kerangka jaringan ikat ini bagian parenkim

hati yang bertahan hidup berkembang menjadi nodul regenerasi.Jika hepatosit didaerah

tersebut mengalami kerusakan maka daerah ini akan menjadi terpecah-pecah sehingga

terjadi kerusakan yang sifatnya confluent dan akhirnya pseudolobulasi berkembang.


2. Teori Imunologis

Sirosis hepatis yang berasal dari hepatitis harus melalui proses hepatitis tingkat kronik,

dengan gambaran hepatitis kronik agresif akan berkembang menjadi fibrosis dan

kemudian sirosis. Disini terjadi proses imunologis yang berlangsung terus menerus

sampai terjadi kerusakan hati. Laporan dari Australia dan dan Inggris memperlihatkan

bahwa penderita hepatitis kronik aktif akan menjadi sirosis perkembangannya

berlangsung rata-rata 4 tahun.

D. MANIFESTASI KLINIS

1. Pembesaran hati

Pada awal perjalanan sirosis hepatis, hati cenderung membesar dan sel-selnya

dipenuhi oleh lemak. Hati tersebut menjadi keras dan memiliki tepi tajam yang dapat

diketahui melalui palpasi. Nyeri abdomen dapat terjadi akibat dari pembesaran hati

yang cepat dan baru saja terjadi sehingga menyebabkan regangan pada selubung

fibrosa hati ( kapsula Glissoni). Pada perjalanan penyakit lebih lanjut, ukuran hati akan

berkurang setelah jaringan parut menyebabkan pengerutan jaringan hati. Apabila dapat

dipalpasi permukaan hati akan teraba berbenjol-benjol.

2. Obstruksi portal dan Ascites

Manifestasi lanjut sebagian disebabkan oleh kegagalan fungsi hati yang kronis dan

sebagian lagi oleh obstruksi sirkulasi portal. Semua darah dari organ-organ digestif praktis

akan berkumpul dalam vena portal dan dibawa kehati. Karena hati yang sirotik tidak
memungkinkan pelintasan darah yang bebas maka aliran darah tersebut akan kembali

kedalam limpa dan traktus gastrointestinal dengan konsekuensi bahwa organ-organ ini

menjadi tempat kongesti pasif yang kronis dengan kata lain kedua organ tersebut akan

dipenuhi oleh darah dengan demikian tidak dapat bekerja dengan baik. Pasien dengan

keadaan ini cenderung menderita dispepsia kronis dan konstipasi atau diare. Berat badan

pasien secara berangsur-angsur mengalami penurunan.

Aliran yang kaya protein akan menumpuk di rongga peritoneal dan menyebabkan

ascites. Hal ini ditunjukkan melalui perfusi akan adanya shifting dullness atau gelombang

cairan. Splenomegali juga terjadi. Jaring-jaring telangektasis atau dilatasi arteri superficial

menyebabkan jaring berwarna biru kemerahan yang sering dapat dilihat melalui inspeksi

terhadap wajah dan keseluruhan tubuh.

3. Varises Gastrointestinal

Obstruksi aliran darah lewat hati yang terjadi akibat perubahan fibrotik juga

mengakibatkan pembentukan darah kolateral dalam sistem gastrointestinal dan pemintasan

darah dari pembuluh darah portal ke dalam pembuluh darah dengan tekanan yang lebih

rendah. Sebagai akibatnya penderita sirosis sering memperlihatkan distensi pembuluh darah

abdomen yang mencolok serta terlihat pada inspeksi abdomen (kaput medusa) dan distensi

pembuluh darah diseluruh traktus gastrointestinal. Oesophagus, lambung dan rectum bagian

bawah merupakan daerah yang sering mengalami pembentukan pembuluh darah kolateral.

Distensi pembuluh darah ini akan membentuk varises atau haemoroid tergantung lokasinya.

Karena fungsinya bukan untuk menanggung volume darah dan tekanan yang tinggi

akibat sirosis, maka pembuluh darah ini dapat mengalami rupturdan menimbulkan

perdarahan.
4. Edema

Gejala lanjut lainnya pada sirosis hepatis ditimbulkan oleh gagal hati kronis. Kosentrasi

albumin plasma turun sehingga menjadi predisposisi untuk terjadinya edema. Produksi

aldosteron yan berlebihan akan menyebabkan retensi natrium serta air dan ekskresi kalium.

5. Defisiensi vitamin dan Anemia

Karena pembentukan, penggunaan dan penyimpana vitamin tertentu yang tidak

memadai (terutama vitamin A,C dan K) maka tanda-tanda defisiensi vitamin tersebut sering

dijumpai khususnya sebagai fenomena hemoragik yang berkaitan dengan defisiensi vitamin

K. Gastritis kronis dan gangguan fungsi gastrointestinal bersama-sama asupan diet yang tidak

adequate dan gangguan fungsi hati turut menimbulkan anemia yang sering menyertai sirosis

hepatis. Gejala anemia dan status nutrisi serta kesehatan pasien yang buruk akan

mengakibatkan kelelahan hebat yang mengganggu kemampuan untuk melakukan aktifitas

rutin sehari-hari.

6. Kemunduran mental

Manifestasi klinik lainnya adalah kemunduran fungsi mental dengan enselopati dan

koma hepatik yang membakat. Karena itu pemeriksaan neurologi perlu dilakukan pada sirosis

hepatis dan mencakup prilaku umum pasien, kemampuan kognitif, orientasi terhadap waktu

serta tempat dan pola bicara.

Gejala yang terjadi akibat morfologi dan lebih menggambarkan beratnya kerusakan yang

terjadi daripada etiologinya. Manifestasi klinis lainnya dari Sirosis Hepatis ini adalah :

a. Gejala-gejala gastrointestinal yang tidak khas seperti anoreksia, mual,muntah dan diare
b. Demam, berat badan turun dan lekas lelah

c. Ascites, Edema dan hidrothoraks

d. Ikterus, kadang-kadang urine menjadi lebih tua warnanya atau kecoklatan

e. Hepatomegali, bila telah lanjut hati dapat mengecil karena fibrosis.Bila secara klinis

didapati adanya demam, ikterus dan ascites dimana demam bukan oleh sebab-sebab

lain, dikatakan Sirhosis dalam keadaan aktif. Hati-hati kemungkinan timbulnya prekoma

dan koma hepatikum.

f. Kelainan pembuluh darah seperti kolateral-kolateral dinding abdomen dan thoraks,

kaput medusa, wasir dan varises oesophagus.

g. Jari tabuh

h. Kelainan endokrin yang merupakan tanda dari hiperestrogenisme yaitu Impotensia,

amenorhoe, spidernaevi, eritema dan hiperpigmentasi

E. PEMERIKSAAN DAN EVALUASI DIAGNOSTIK

1. Scan/ Biopsi hati : Mendeteksi infiltrasi lemak, fibrosis, kerusakan

jaringan hati

2. Kolesistografi/ kolangiografi : Memperlihatkan penyakit duktus empedu

yang mungkin sebagai faktor predisposisi

3. Esofagoskopi : Dapat menunjukkan adanya varises Esophagus

4. Portografi transepatik perkutaneus : Memperlihtakan sirkulasi system

vena portal

5. Billirubin serum : meningkat karena kerusakan seluler, ketidakmampuan

untuk menkonjugasi atau obstruksi bilier

6. SGOT.SGPT,LDH : Meningkat karena kerusakan seluler dan mengeluarkan

enzim
7. Alkalin fosfatase : Meningkat karena penurunan ekskresi

8. Albumin serum : Menurun karena penekanan sintesis

9. Globulin IgG dan IgA : Peningkatan sintesis

10. Darah lengkap : Hb/Ht dan eritrocyt mungkin menurun

11. Massa proytrombin : Penurunan sintesis protrombin

12. Fibrinogen : Menurun

13. Amonia serum : Hipoglikemia diduga mengganggu glikogenesis

14. Elektrolit : Hipokalemia menunjukkan peningkatan aldosteron

15. Kalsium : Mungkin menurun karena gangguan absorbsi vitamin D

16. Pemeriksaan Nutrient : Defisiensi vitamin A, B12, C, K, asam folat dan Fe

17. Urobilinogen Urine : Ada/ tidak ada. Membedakan penyakit hati,

hemolitik dan obstruksi bilier

18. Urobilinogen fekal : menurunkan ekskresi.

F. PROGNOSIS

Sebaiknya tidak dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat diobati. Dengan pengobatan yang

cukup setidaknya masih mempunyai kemungkinan untuk mencapai keadaan kompensasi dan

mempertahankan. Beberapa keadaan yang dapat dipergunakan sebagai prognosis tidak baik

adalah :

 Adanya ikterus yang menetap

 Pengobatan sudah 1 bulan tetapi tidak ada perbaikan

 Hati mengecil

 Adanya komplikasi neurologis

 Perdarahan karena pecahnya varises oesophagus

 Keadaan enselopati yang timbul spontan tanpa factor presipitasi


 Ascites terutama yang memerlukan diuretic dosis tinggi

 Kadar albumin dan protrombin rendah.

Tabel 1. Kriteria Child (modifikasi) pada penderita Sirhosis Hepatis

Parameter klinis Derajat klasifikasi

1 2 3

Bilirubin (mg/dl) <2 2-3 > 3.0

Albumin (g/dl) > 3,5 3-3,5 <3

Ascites tidak ada terkontrol sulit dikontrol

Defisit neurologik tidak ada minimal berat/koma

Nutrisi baik cukup kurang

Kombinasi skor 5-6 (child A), 7-9 (child B), 10-15 (child C)

Mortalitas child A pada operasi sekitar 10-15 %, child B 30%, child C diatas 60 %

G. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan pasien Sirosis Hepatis biasanya didasarkan pada gejala yang ada. Secara umum

penatalaksanaannya adalah :

1. Istirahat ditempat tidur sampai terdapat perbaikan ikterus, ascites dan

demam
2. Diet rendah protein (diet hati III : protein 1g/kg BB, 55g/kg BB, 2000

kalori). Bila ada ascires berikan diet rendah garam II (600-800 mg) atau III (1000-2000 mg).

Bila proses tidak aktif diperlukan diet tinggi kalori (2000-3000 kalori) dan tinggi protein (80-

125g/hari).

Bila ada tanda-tanda prekoma atau koma hepatikum, jumlah protein dalam makanan

dihentikan (diet hati) untuk kemudian diberikan kembali sedikit demi sedikit sesuai toleransi

dan kebutuhan tubuh. Pemberian protein yang melebihi kemampuan pasien atau

meningginya hasil metabolisme protein dalam darah visceral dapat mengakibatkan

timbulnya koma hepatikum. Diet yang baik dengan protein yang cukup perlu diperhatikan.

3. Mengatasi infeksi dengan antibiotik. Diusahakan memakai obat-obatan

yang jelas tidak hepatotoksik

4. Antacida diberikan untuk mengurangi distress lambung dan

meminimalkan kemungkinan perdarahan gastrointestinal.

5. Roboransia, vitamin B komplek. Dilarang makan dan minum bahan yang

mengandung alkohol.

6. Vitamin dan suplemen nutrisi akan meningkatkan proses kesembuhan

pada sel-sel hati yang rusak

Untuk mengatasi Ascites dan edema :

1. Istirahat dan diet rendah garam. Dengan istirahat dan diet rendah garam

(200-500 mg/hari), serta membatasi pemasukan cairan selama 24 jam (1liter atau kurang).

2. Bila dengan istirahat dan diet tidak dapat diatasi diberikan pengobatan

diuretic berupa spironolakton 50-100 mg/hari (awal) dan dapat diringkatkan sampai 300

mg/hari bila setelah 3-4 hari tidak ada perubahan.


3. Bila terjadi Ascites Refrakter (Ascites yang tidak dapat dikendalikan dengan

terapi medikamentosa yang intensif), dilakukan terapi parasentesis. Dengan pengendalian

cairan Ascites, diharapkan terjadi penurunan berat badan 1 kg/ 21 hari atau keseimbangan

cairan negatif 600-800 ml/hari. Hati-hati bila cairan terlalu banyak dikeluarkan dalam satu

saat dapat mencetuskan terjadinya Enselopati hepatik.

Mengatasi Hematemesis-melena

Biasanya terjadi pada saluran pencernaan bagian atas. Penyebabnya adalah pecahnya varises

oesophagus pada Sirosis Hepatis dengan hipertensi portal pada 70% kasus dan 30% nya

disebabkan oleh kelainan lambung seperti gastritis dan ulcus lambung.

Penatalaksanaannya :

1. Istirahat mutlak

2. Langsung diberikan makanan cair. Untuk kebutuhan kalori diberikan infus glukosa 10% .

3. Berikan transfusi darah segar untuk menggantikan volume yang hilang, bila shock dan darah

belum ada berikan plasma ekspander atau garam fisiologis.

4. Permukaan abdomen didinginkan dengan es sehingga terjadi vasokontriksi, kemudian

tekanan vena porta menurun dan pembukaan akan menjadi baik. Kalau mungkin penderita

minum es yang kecil-kecil.

5. Antasid selalu diberikan apapun sebabnya

6. Berikan obat-obat hemostatik parenteral : vitamin K 10 mg i.m atau i.v. Karbazokrom sodium

sulfonat 5t mg/ml, 10 ml iv atau 4 X 100 mg sampai 4 X 200 mg. Trombin dengan dosis

sampoai 6 X 1500 NIH unit sehari dicampur dengan aquadest.

7. Bila belum menolong pada orang tanpa kelainan koroner dapat diberikan infus pitresin 20 U

dalam 200 ml glukosa 5% dalam 20 menit dapat diulangi setelah tiap 4 jam.
8. Lavement. Klisma air hangat sabun 1 liter 2 X sehari berikan laksan dan neomisin 4 X 1

gram/hari untuk mencegah terjadinya koma hepatic.

Mengatasi Koma Hepatik

Bisa terjadi karena aliran darah portal langsung melewati hepar kedalam sistem kolateral

karena sel hepar telah mengalami perubahan/ rusak maka tidak dapat lagi memabolisir zat-zat

dari darah portal yang kemudian masuk kevena hepatika lalu masuk ke otak.

Penatalaksanaannya :

1. Harus dicari sebabnya apakah endogen (tingkat lanjut) atau eksogen (infeksi)

skunder, gangguan elektrolit dan lain-lain.

2. Pemberian bahan-bahan peroral dihentikan sementara, kalori, cairan dan elektrolit

diberikan infus glukosa 10% 2 liter/hari. Bila tidak ada perdarahan tractus gastrointestinal

dapat ditambahkan makanan melalui pipa lambung, yang rendah protein (diit hati I, protein

II, 20 gr).

3. Klisma air hangat 1 liter pagi dan sore

4. Neomisin sulfat 4-8 gr/hari (1-1,5 gr tiap 6 jam)

5. Larutan Laktulosa 50% peroral 400 ml dalam 24 jam

6. Pada sebab endogen dapat diberi kortikosteroid parenteral

7. Zat anabolik untuk mencegah katabolik protein.

H. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Pengkajian yang dilakukan pada pasien sirosis hepatis ini adalah :

 Identitas pasien dengan lengkap dan benar

 Diagnosa medis
 Alasan pasien masuk kerumah sakit

 Riwayat kesehatan lalu

 Riwayat kesehatan sekarang

 Riwayat kesehatan keluarga

 Riwayat spiritual

 Pemeriksaan fisik, status mental meliputi :

Aktifitas / Istirahat

Gejala : Kelelahan, terlalu letih dan kelemahan

Tanda : Penurunan massa otot/ tonus, letargi

Sirkulasi

Gejala : Bunyi jantung ekstra (S3, S4), distensi vena abdomen, Perikarditis, penyakit

jantung reumatik, kanker, disritmia

Eliminasi

Gejala : Flatus

Tanda : Penurunan/tidak ada bising usus, melena, urine gelap dan pekat

distensi abdomen, faeces warna tanah liat

Makanan/cairan

Gejala : Tidak toleran terhadap makanan/ tak dapat mencerna, mual/ muntah,

anoreksia

Tanda : Penurunan berat badan / peningkatan cairan, edema pada jaringan, kulit

kering, turgor jelek, ikterik, angioma spider, napas berbau/ perdarahan gusi.
Neurosensori

Gejala : Orang terdekat dapat melaaporkan perubahan kepribadian,

penurunan mental.

Tanda : Perubahan mental, bingung, halusinasi, bicara lambat/ tak

jelas.

Nyeri/ ketidaknyamanan

Gejala : Nyeri tekan abdomen, pruritus, neuritis perifer, prilaku berhati-hati, focus

pada diri.

Pernapasan

Gejala : Dispnea

Tanda : Tachipnea, ekpansi paru terbatas (ascites), hipoksia

Keamanan

Gejala : Pruritus

Tanda : Demam, ikterik, ekimosis, petekie, angioma spider

Seksualitas

Gejala : Gangguan menstruasi, impoten

Tanda : Atrofi testis, kehilangan rambut (dada, bawah lengan, pubis).

Penyuluhan/ pembelajaran

 Riwayat penggunaan alcohol jangka panjang /penyalahgunaaan, penyakit hati, alkoholik.


 Riwayat penyakit empedu, hepatitis, terpajan benda toksis, trauma hati, perdarahan

gastrointestinal atas, perdarahan varises oesophagus, penggunaan obat yang

mempengaruhi fungsi hati

Rencana pemulangan : mungkin memerlukan bantuan dengan tugas perawatan/

pengaturan rumah.

2. Diagnosa keperawatan

Berdasarkan dari semua data hasil pengkajian, diagnosa keperawatan yang mungkin timbul

pada pada pasien Sirosis Hepatis adalah :

a. Intoleransi aktifitas b/d kelelahan dan penurunan berat badan

b. Perubahan suhu tubuh ; hipertermia b/d proses inflamasi pada sirosis.

c. Gangguan integritas kulit b/d pembentukan edema

d. Gangguan integritas kulit b/d ikterik dan status immunology yang terganggu.

e. Perubahan status nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia dan

gangguan gastrointestinal.

f. Risiko cedera b/d hipertensi portal, perubahan mekanisme pembekuan

dan gangguan dalam proses detoksifikasi obat

g. Kelebihan volume cairan b/d ascites dan pembentukan edema

h. Perubahan proses pikir b/d kemunduran fungsi hati dan peningkatan kadar

ammonia

i. Pola napas tidak efektif b/d ascites dan retriksi pengembangan toraks

akibat ascites, distensi abdomen serta adanya cairan dalam rongga dada.
3. Intervensi

a. Diagnosa keperawatan : Intoleransi aktifitas b/d kelelahan dan

penurunan berat badan

Tujuan : Peningkatan energi dan partisipasi dalam aktifitas.

Kriteria hasil :

 Adanya peningkatan kekuatan dan kesehatan pasien

 Pasien dapat beraktifitas dan mempunyai kesempatan istirahat yang cukup

 Pasien dapat beraktifitas bersamaan dengan bertambahnya kekuatan

 Bertambah berat tanpa peningkatan edema atau pembentukan ascites

 Asupan nutrien yang adequate dan menghilangkan alkohol dari

diet

Intervensi :

1. Tawarkan diet TKTP

Rasional : Memberikan kalori bagi tenaga dan protein bagi proses penyembuhan

2. Berikan suplemen Vitamin ( Vit. A, C, K, B komplek)

Rasional : Memberikan nutrien tambahan

3. Motivasi pasien untuk melakukan latihan yang diselingi istirahat

Rasional : Menghemat tenaga pasien sambil mendorong pasien untuk melakukan

latihan dalam batas toleransi pasien

4. Motivasi dan bantu pasien untuk melakukan latihan dengan periode waktu yang

ditingkatkan secara bertahap


Rasional : Memperbaiki perasaan sehat secara umum dan percaya diri.

b. Diagnosa Keperawatan : Perubahan suhu tubuh : hipertermia b/d proses inflamasi pada

sirosis

Tujuan : Pemeliharaan suhu tubuh normal

Kriteria hasil :

 Mencapai suhu tubuh yang normal dan tidak terdapatnya gejala menggiggil atau

perspirasi

 Asupan cairan yang adequate.

Intervensi :

1. Catat suhu tubuh secara teratur

Rasional : Memberikan dasar untuk deteksi hati dan evaluasi intervensi

2. Motivasi asupan cairan

Rasional : Memperbaiki kehilangan cairan akibat perspirasi serta febris dan

meningkatkan tingkat kenyamanan pasien

3. Berikan antibiotik seperti yang diresepkan

Rasional : Menurunkan panas melalui proses konduksi serta evaporasi dan

meningkatkan kenyamana pasien

4. Hindari kontak dengan infeksi

Rasional : Meningkatkan konsentrasi antibiotik serum yang tepat untuk mengatasi

infeksi

5. Jaga agar pasien dapat beristirahat sementara suhu tubuhnya tinggi


Rasional : Meminimalkan resiko peningkatan infeksi, suhu tubuh

serta laju metabolik

6. Lakukan kompres dingin atau kantong es untuk menurunkan kenaikan suhu tubuh

Rasional : Mengurangi laju metabolik.

c. Diagnosa keperawatan : Gangguan integritas kulit b/d pembentukan

edema

Tujuan : Memperbaiki integritas kulit dan proteksi jaringan yang mengalami edema.

Kriteria hasil :

 Turgor kulit yang normal pada ekstrimitas dan batang tubuh

 Tidak terdapat luka pada kulit

 Tidak ditemui eritema, perubahan warna atau peningkatan suhu didaerah tonjolan

tulang

 Mengubah posisi dengan sering

Intervensi :

1. Batasi Natrium seperti yang diresepkan

Rasional : Meminimalkan pembentukan edema

2. Berikan perhatian dan perawatan yang cermat pada kulit

Rasional : Jaringan dan kulit yang edematus mengganggu suplay nutrien dan sangat

rentan terhadap tekanan serta trauma

3. Balik dan ubah posisi pasien dengan sering


Rasional : meminimalkan tekanan yang lama dan meningkatkan mobilisasi edema

4. Timbang berat badan dan catat asupan serta haluaran cairan setiap hari

Rasional : Memungkinkan perkiraan status cairan dan pemantauan terhadap adanya

retensi serta kehilangan cairan dengan cara yang paling baik

5. Letakkan bantalan busa yang kecil dibawah tumit, maleolus dan tonjolan tulang

lainnya.

Rasional : Melindungi tonjolan tulang dan meminimalkan trauma jika dilakukan

dengan benar

6. Lakukan latihan gerak secara pasif, tinggikan ekstremitas yang edematus

Rasional : Meningkatkan mobilisasi edema.

d. Diagnosa keperawatan : Gangguan integritas kulit b/d ikterus dan status imunologi yang

terganggu

Tujuan : Memperbaiki integritas kulit dan meminimalkan iritasi kulit

Kriteria hasil :

 Kulit utuh dan tanpa terlihat luka atau infeksi

 Tidak adanya pruritus

 Gejala ikterus pada kulit dan skelera berkurang/ hilang

 Menggunakan emolien dan menghindari pemakain sabun dalam menjaga

hygienen sehar-hari

Intervensi :

1. Oservasi dan catat derajat ikterus pada kulit dan sclera


Rasional : Memberikan dasar untuk deteksi perubahan dan evaluasi intervensi

2. lakukan perawatan yang sering pada kulit, mandi tanpa menggunakan sabun dan

melakukan massage dengan lotion pelembut (emolien)

Rasional : Mencegah kekeringan kulit dan meminimalkan pruritus

3. Jaga agar kuku pasien selalu pendek

Rasional : Mencegah ekskoriasi kulit akibat gerakan

e. Diagnosa keperawatan : Perubahan status nutrisi ; kurang dari

kebutuhan tubuh b/d anoreksia dan gangguan gastrointestinal.

Tujuan : Perbaikan status nutrisi

Kriteria hasil :

 Asupan makanan TKTP masuk dengan jumlah memadai

 Mengenali makanan dan minuman bergizi dan diperbolehkan dalam diet

 Bertambah berat badan tanpa memperlihatkan pertambahan edema dan

pembentukan ascites

 Mengenali dasar pemikiran mengapa pasien harus makan seddikit-sedkit tapi sering

 Melaporkan peningkatan selera makan dan rasa sehat

 Menghilangkan alkohol dari diet

 Pasien turut serta dalam upaya memelihara hygiene oral sebelum makan dan

menghadapi mual

 Menggunakan obat-obatan untuk kelaianan gastrointestinal yang normal dengan

defekasi yang normal


 Mengenali gejala gangguan fungsi gastrointestinal yang dapat dilaporkan ; melena,

perdarahan yang nyata.

Intervensi :

1. Motivasi pasien untuk makan makanan dan suplemen makanan

Rasional : Motivasi sangat penting bagi poenderita anorekasi dan gangguan

gastrointestinal

2. Tawarkan makan dengan porsi sedikit tetapi sering

Rasional : Makanan dengan porsi kecil dan sering lebih ditolerir oleh penderita

anoreksia

3. Hidangkan makana dalam kemasan yang menarik dan menimbulkan selera

Rasional : Meningkatkan selera makan dan rasa sehat

4. Pantang alkohol

Rasional : Menghilangkan makanan dengan “kalori kosong” dan menghindari iritasi

lambung dan alkohol

5. Pelihara hygiene oral sebelum makan

Rasional : Mengurangi citarasa yang tidak enak dan merangsang selera makan

6. pasang Ice collar untuk mengatasi mual

Rasional : Dapat mengurangi frekuensi mual

7. Berikan obat yang diresepkan untuk mengatasi mual, muntah, diare atau konstipasi

Rasional : Mengurangi gejala gastrointestinal dan perasaan tidak enak pada perut

yang mengurangi selera makan dan keinginan terhadap makanan


8. Motivasi peningkatan asupan cairan dan latihan jika pasien melaporkan konstipasi

Rasional : Meningkatkan pola defekasi yang normal dan mengurangi selera makan

dan keinginan terhadap makan

9. Amati gejala yang membuktikan adanya perdarahan gastrointestinal

Rasional : Mendeteksi komplikasi gastrointestoinal yang serius

f. Diagnosa keperawatan : Risiko cedera b/d hipertensi portal, perubahan

mekanisme pembekuan dan gangguan dalam proses detoksifikasi obat.

Tujuan : Pengurangan risiko cedera

Kriteria hasil :

 Tidak memperlihatkan adanya perdarahan yang nyata dari traktus gastrointestinal

 Tidak meperlihatkan adanya kegelisahan, rasa penuh pada epigatrium dan indikator

lain yang mrnunjukkan hemoragi serta shock

 Memperlihatkan hasil pemeriksaan yang negatif untuk perdarahan

tersembunyi gastrointestinal

 Bebas dari daerah-daerah yang mengalami ekimosis atau pembentukan hematom

 Memperlihatkan tanda-tanda vital yang normal

 Mempertahankan istirahat dalam keadaan tenang ketika terjadi perdarahan aktif

 Mengenali rasional untuk melakukan tranfusi darah dan tindakan guna mengatasi

perdarahan
 Melakukan tindakan untuk mencegah trauma ( misal penggunaaan sikat gigi yang

lunak, membuang ingus secara perlahan-lahan, menghindari terbentur serta

terjatuh, menghindari mengedan pada saat defekasi)

 Tidak mengalami efek samping pemberian obat

 Menggunakan semua obat seperti yang diresepkan

 Mengenali rasional untuk melakukan tindakan penjagaan dengan

menggunakan semua obat.

Intervensi :

1. Amati feses yang dieksresi untuk memeriksa warna , konsistensi dan

jumlahnya

Rasional : Memungkinkan deteksi perdarahan dalam traktus

gastrointestinal

2. Waspadai gejala ansietas, rasa oenuh pada epigastrium, kelemahan dan kegelisahan

Rasional : Dapat menunjukkan tanda-tanda dini perdarahan dan shock

3. Periksa setiap feces dan muntahan untuk mendeteksi darah yang tersembunyi

Rasional : mendeteksi tanda dini yang membuktikan adanya perdarahan.

4. Amati manifestasi hemoragi: ekimosis, epistaksis, petekie dan perdarahan gusi

Rasional : Menunjukkan perubahan pada mekanisme pembekuan darah


5. Catat tanda-tanda vital dengan interval waktu tertentu

Rasional : memberikan dasar dan bukti adanya hipolvolemia dan shock

6. Jaga agar pasien tenang dan membatasi aktifitas

Rasional : Meminimalkan risiko perdarahan dan mengedan

7. Bantu Dokter dalam memasang kateter untuk tamponade balon esophagus

Rasional : Memudahkan insersi kateter nontraumatik untuk mengatasi perdarahan

dengan segera pada pasien yang cemas dan melawan

8. Lakukan observasi selama tranfusi darah dilaksanakan

Rasional : memungkinkan deteksi reaksi tranfusi (risiko ini akan meningkat dengan

pelaksanaan lebih dari satu kali tranfusi yang diperlukan untuk mengatasi perdarahan

aktif dari varises oesophagus)

9. Ukur dan catat sifat, waktu serta jumlah muntahan

Rasional : Membantu evaluasi taraf perdarahan dan kehilangan darah

10. Pertahankan pasien dalam keadaan puasa jika diperlukan

Rasional : Mengurangi risiko aspirasi isi lambung dan

meminimalkan risiko trauma lebih lanjut pada oesophagus dan

lambung dengan mencegah muntah

11. Berikan vitamin K seperti yang diresepkan

Rasional : Meningkatkan pembekuan dengan memberikan vitamin

larut lemak yang diperlukan untuk mekanisme pembekuan darah


12. Dampingi pasien secara terus-menerus selama masa perdarahan

Rasional : Menenangkan pasien yang merasa cemas dan

memungkinkan pemantauan serta deteksi terhadap kebutuhan pasien

selanjutnya

13. Tawarkan minuman dingin lewat mulut ketika perdarahan teratasi (

bila diintruksikan)

Rasional : Mengurangi risiko perdarahan lebih lanjut dengan

meningkatkan vasokonstrikasi pembuliuh darah oesophagus dan

lambung

14. Lakukan tindakan untuk mencegah trauma seperti ;

a. Mempertahankan lingkungan yang aman

Rasional : Mengurangfi risiko truma dan perdarahan dengan

menghindari cedera, terjatuh, terpotong dll

b. Mendorong pasien untuk membuang ingus secara perlahan-lahan

Rasional : Mengurangi riskio epistaksis sekunder akibat trauma

dan penurunan pembekuan darah

c. Menyediakan sikat gigi yang lunak dan menghindari penggunaan

tusuk gigi

Rasional : Mencegah trauma mukosa oral sementara hygiene oral


yang baik ditingkatkan

d. Mendorong konsumsi makanan dengan kandungan vitamin C

yang tinggi

Rasional : Meningkatkan proses penyemabuhan

e. Melakukan kompres dingin jika diperllukan

Rasional : Mengurangi perdarahan kedalam jaringan dengan

meningkatkan vasokontriki lokal

f. Mencatat lokasi tempat pertdarahan

Rasional : Memungkinkan deteksi tempat perdarahan yang baru

dan pematauan tempat perdarahan sebelumnya

g. Menggunakan jarum kecil ketika melakukan penyuntikan

Rasional : Meminikmalkan perembesan dan kehilangan darah

akibat penyuntikan yang berkali-kali

15. Berikan obat denga hati-hati pantau efek samping pemberian obat

Rasional : Mengurangi risiko efek samping yang terjadi skunder

karena ketidakmampuan hati yang rusak untuk melakukan d detoksifikasi

(metabolisme) secara normal.

g. Diagnosa keperawatan : Nyeri dan gangguan rasa nyaman b/d hati yang membesar

serta nyeri tekan dan ascites

Tujuan : Peningkatan rasa kenyamanan


Kriteria hasil :

 Mempertahankan tirah baring dan mengurangi aktifitas ketika nyeri terasa.

 Menggunakan antispassmodik dan sedatif sesuai indikasi dan resep yang diberikan

 Melaporkan pengurangan rasa nyeri dan gangguan rasa nyaman pada abdomen

 Melaporkan rasa nyeri dan gangguan rasa nyaman pada abdomen

 Mengurangi asupan natrium dan cairan sesuai kebutuhan hingga tingkat yang

diintruksikan untuk mengatasi ascites

 Merasakan pengurangan rasa nyeri

 Memperlihatka pengurangan ligrkar perut dan perubahan berat badan yang sesuai

Intervensi :

1. Pertahankan tirah baring ketika pasien mengalami gangguan rasa nyaman pada

abdomen

Rasional : Mengurangi kebutuhan metabolic dan melindungi hati

2. Berikan antispasmodic dan sedatif seperti yang diresepkan

Rasional : Mengurangi iritabilitas tractus gastrointestinal dan nyeri serta gangguan rasa

nyaman pada abdomen

3. Amati, catat dan laporkan keberadaan serta sifat rasa nyeri dan gangguan rasa nyaman

Rasional : Memberikan dasar untuk mendeteksi lebih lanjut kemunduran keadaan

pasien dan untuk mengevaluasi intervensi

4. Kurangi asupan natrium dan cairan yang diintruksikan

Rasional : Meminimalkan pembentukan ascites lebih lanjut

h. Diagnosa keperawatan : Kelebihan volume cairan b/d ascites dan


pembentukan edema

Tujuan : pemulihan keadaan volume cairan yang normal

Kriteria hasil :

 Mengikuti diet rendah natrium dan pembatasan cairan seperti yang diintruksikan

 Menggunakan diuretic, suplemen kalium dan protein sesuai indikasi tanpa

mengalami efek samping

 Memperlihatkan peningkatan haluaran urine

 Memperlihatkan opengecilan lingkar perut

 Mengidentifikasi rasional pembatasan natrium dan cairan

Intervensi :

1. Batasi asupan natrium dan cairan yang diintruksikan

Rasional : Meminimalkan pembentukan ascites dan edema

2. Berikan diuretic, suplemen kalium dan protein sesuai resep yang diberikan

Rasional : Meningkatkan eksresi cairan lewat ginjal dan memperftahankan

keseimbangan cairan elektrolit yang normal

3. Catat asupan dan haluaran cairan

Rasional : Menilai efektifitas terapi dan kecukupan asupan cairan

4. Ukur dan catat lingkar perut setiap hari

Rasional : memantau perubahan pada pembentukan ascites dan penumpukan cairan

5. Jelaskan rasional pembatasan natrium dan cairan


Rasional : Meningkatkan pemahaman dan kerjasama pasien dalam menjalani dan

melaksanakan pembatasan cairan

i. Diagnosa keperawatan : Perubahan proses berpikir b/d kemunduran

fungsi hati dan peningkatan kadar ammonia

Tujuan ; Perbaikan status mental

Kriteria hasil :

 Memperlihtkan perbaikan status mental

 Memperlihatkan kadar ammonia serum dalam batas-batas yang normal

 Memiliki orientasi terhadap waktu, tempat dan orang

 Melaporkan pola tidur yang nornmal

 Menunjukkan perhatian terhadap kejadian dan aktifitas lingkunagannya.

 Memperlihatkan rentang perhatian yang normal

 Mengikuti dan turut serta dalam percakapan secara tepat

 Melaporkan kontinensia fekal dan urine

 Tidak mengalami kejang

Intervensi :

1. Batasi protein makanan yang diresepkan

Rasional : Mengurangi sumber ammonia (makanan sumber protein)

2. Berikan makanan sumber karbohidrat dalam porsi kecil tapi sering


Rasional : Meningkatkan asupan karbohidrat yang adequate untuk memenuhi

kebutuhan energi dan mempertahankan protein terhadap proses pemecahannya

untuk menghasilkan tenaga

3. Berikan perlindungan terhadap infeksi

Rasional : Memperkecil risko terjadinya peningkatan kebutuhan metabolic lebih lanjut

4. Pertahankan lingkungan agar tetap hangat dan bebas dari angin

Rasional : Meminimalkan gejala menggigil karena akan meningkatkan kebutuhan

metabolik

5. Pasang bantalan pada penghalang disamping tempat tidur

Rasional : Memberikan perlindungan kepada pasien jika terjadi koma hepatic dan

serangan kejang

6. Batasi pengunjung

Rasional : Meminimalkan aktifitas pasien dan kebutuhan metabolik

7. Lakukan pengawasan keperawatan yang cermat untuk memastikan keamanan pasien

Rasional : Melakukan pemantauan ketat terhadap gejala yang baru terjadi dan

meminimalkan trauma pada pasien yang mengalami gejala konfusi

8. Hindari pemakaian preparat opiat dan barbiturat

Rasional : Mencegah penyamaran gejala

9. Bangunkan dengan interval

Rasional : Memberikan stimulasi kepada pasien dan memberikan kesempatan untuk

mengamati tingkat kesadaran pasien


j. Diagnosa keperawatan : Pola napas yang tidak efektif berhubungan

dengan ascites dan restriksi pengembangan thoraks akibat ascites,distensi abdomen serta

adanya cairan dalam rongga thoraks

Tujuan : Perbaikan status pernapasan.

Kriteria hasil :

 Mengalami perbaikan pada status pernapasan

 Melaporkan pengurangan gejalas sesak napas

 Melaporkan peningkatan tenaga dan rasa sehat

 Memperlihatkan frekuensi respirasi yang normal (12-18 x/menit) tanpa terdengarnya

suara pernapasan tambahan

 Meperlihatkan gas darah yang normal

 Memperlihatkan pengembangan toraks yang penuh tanpa gejala pernapasan dangkal

 Tidak mengalami gejala konfusi atau sirosis

Intervensi :

1. Tinggikan bagian kepala termpat tidur

Rasional : Mengurangi tekanan abdominal pada diafragma dan

memungkinkan pengembangan toraks dan ekspansi paru yang

maksimal

2. Hemat tenaga pasien


Rasional : Mengurangi kebutuhan metabolic dan Oksigen pasien

3. Ubah posisi dengan intreval

Rasional : Meningkatkan ekspansi dan oksigenisasi pada semua bagian

paru

4. Observasi tanda-tanda vital

Rasional : Memungkinkan deteksi peningkatan pernapasan.

4. Evaluasi

Hasil yang diharapkan :

a. Memperlihatkan kemampuan untuk turut serta dalam aktifitas

 Merencanakan aktifitas dan latihan serta periode istirahat secara bergantian

 Melaporkan peningkatan kekuatan dan kesehatan pasien

 Memperlihatkan penigkatan berat badan tanpa pertambahan edema dan

pembentukan ascites

 Turut serta dalam asuhan higienik

b. Meningkatkan asupan nutrisi

 Memperlihatkan asupan nutrien yang tepat dan pantang alcohol yang dicerminkan

oleh catatan diet

 Menaikkan berat badan tanpa pertambahan edema dan pembetukan ascites

 Melaporkan peredaan gangguan gastrointestinal dan anoreksia

 Mengenali makanan dan cairan bergizi yang diperbolehkan atau harus dibatasi

dalam dietnya
 Mengikuti terapi vitamin

 Menjelaskan dasar pemikiran mengapa pasien makan sedikit-sedkit tapi sering

c. Memperlihatkan perbaikan integritas kulit

 Memperlihatkan kulit yang utuh tanpa bukti adanya luka , infeksi atau trauma

 Menunjukkan turgor kulit yang normal pada ekstrimikas dan batang tubuh tanpa

edema

 Mengubah poosisi dengan sering dan menginspkesi prominensia (tonjolan) tulang

setiap hari

d. Tidak menunjukkan cedera

 Bebas dari daerah ekimosis atau pembentukan hematom

 Menyatakan dasar pemikiran untuk memasang penghalang disamping tempat tidur

dan meminta bantuan ketika akan turun dari tempat tidur

 Melakukan tindakan untuk mencegah trauma (mengatur perabot agar pasien tidak

terjatuh, menggunakan sikat gigi lembut, menghindari mengejan saat defekasi).

e. Bebas dari komplikasi

 Melaporkan tidak adanya gejala perdarahan yang nyata dari saluran cerna ( melena

atau hematemesis)

 Memiliki orientasi terhadap waktu, tepat dan orang serta memperlihatkan rentang

perhatian yang normal

 Kadar ammonia serum dalam batas normal

 Mengenal tanda-tanda dini gangguan proses berpikir yang dapat dilaporkan.


BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien sirosis hepatis dilakukan oleh kelompok pada

pasien yang dirawat di Ruang Penyakit Dalam RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru. Penerapan asuhan

keperawatan antara lain melakukan pengkajian, membuat analisa data berdasarkan pengkajian,

menegakkan diagnosa kepearwatan berdasarkan prioritas serta membuat intervensi. Selama

melaksanakan kegiatan tersebut tersebut kelompok mendapatkan kesimpulan :

1. Pengkajian pada pasien sirosis meliputi identitas pasien, alasan pasien dirawat, riwayat

kesehatan lalu, genogram, riwayat kesehatan saat ini, riwayat kesehatan keluarga, riwayat

psikososial, riwayat spiritual, kebiasaan sehari-hari pasien, pemeriksaan fisik meliputi seluruh

system tubuh terutama pada bagian tubuh yang berhubungan dengan sirosis hepatis ini (hepar),

hasil pemeriksaan penunjang dan terapi yang diberikan kepada pasien.

2. Hasil pengkajian yang didapat lalu dibandingkan dengan teori yang ada. Khusus pada

pemeriksaan hepar sesuai dengan teori saat palpasi : diketahui adanya nyeri tekan ringan, hepar

tidak teraba kemungkinan karena ascites dan hepar sudah mengecil, batas hepar hanya dapat

diketahui dengan cara perkusi yaitu adanya bunyi pekak, pada saat itu hasil Rontgen dan USG

belum ada. Limpa juga tidak teraba. Pasien juga mengalami ascites dan oedema pada kedua

tungkai.

3. Dari pengkajian juga dapat diketahui penyebab terjadinya sirosis hepatis pada pasien adalah

karena riwayat pasien yang seorang alkoholik.


4. Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan, ada empat buah diagnosa keperawatan yang dapat

ditegakkan pada pasien ini berdasarkan prioritas masalah adalah : Perubahan status nutrisi

kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, Kelebihan volume cairan b/d ascites, Kurang

pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurangnya informasi

yang didapat tentang kondisinya, Risiko kerusakan integritas kulit b/d perubahan status

metabolic.

5. Setelah menegakkan diagnosa keperawatan, kelompok lalu menentukan tujuan dari tindakan,

membuat kriteria hasil yang diinginkan, serta membuat intervensi untuk mengatasi masalah

keperawatan.

6. Tindakan kelompok hanya sampai pada intervensi karena adanya keterbatasan waktu untuk

melaksanakan asuhan keperawatan. Namun kelompok tetap berharap dengan intervensi yang

dibuat akan dapat mengatasi masalah keperawatan yang timbul minimal dapat mengurangi

resiko terjadinya komplikasi lebih lanjut dari sirosis hepatis.

B. Saran

1. Pengkajian pada pasien sirosis hepatis hendaklah dilakukan dengan teliti, cermat dan

akurat, agar data yang didapat benar-benar dapat membantu dan menemukan

masalah pada kasus sirosis hepatis.

2. Pada saat menegakkan diagnosa keperawatan harus benar dan berdasarkan prioritas

masalah. Masalah yang paling “urgent” dan perlu penanganan yang cepat harus

didahulukan.

3. Intervensi yang dibuat harus benar-benar sesuai dengan diagnosa keperawatan yang dibuat,

bila perlu perawat harus berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya ( Dokter, tim gizi), gali

kemampuan pasien/ keluarga dan ajak untuk berpartisipasi aktif dalam melaksanakan

perawatan sesuai dengan kemampuannya.


4. Khusus untuk pendidikan kesehatan Perawat harus memberikan penjelasan kepada pasien/

keluarga tentang keadaan penyakit sesuai dengan batas wewenangnya, dengan jelas agar

pasien / keluarga banar-benar mengerti dan dapat memahami keadaannya.


DAFTAR PUSTAKA
NANDA (Nursing Diagnoses Definition and Classification), 2009-2011
NOC (Nursing Outcome Classification), second edition
NIC (Nursing Interventions Classification), second edition
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi. Ed. 6. Jakarta. EGC