Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 9. EPIDEMIOLOGI DAN BIOSTATISTIKA

SKENARIO IV. INDEKS KARIES GIGI

Dosen Pembimbing :
Dr. Drg. Herniyati, M.Kes

Disusun Oleh :

1. Dewi Yunita S. (NIM : 171610101011)


2. Indhi Cinthiya A. (NIM : 171610101011)
3. Maulidya Yuni L. (NIM : 171610101012)
4. Shinta Puri (NIM : 171610101013)
5. Annisa Furqoni (NIM : 171610101014)
6. Devina Setyowati (NIM : 171610101016)
7. Refaldi Dermawan (NIM : 171610101017)
8. Renda Shania A. (NIM : 171610101018)
9. Putri Adinda Mega F. (NIM : 171610101019)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga laporan
tutorial yang berjudul “Indeks Karies Gigi” dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa penulis
mengucapkan terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Serta harapan penulis semoga laporan ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
laporan agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis, penulis yakin masih
banyak kekurangan dalam laporan ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini.

Jember, 29 Oktober 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................ii

DAFTAR ISI..............................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan...................................................................................1


1.2 Skenario....................................................................................................................2
1.3 Kata Sulit...................................................................................................................3
1.4 Rumusan Masalah.....................................................................................................3
1.5 Learning Objective...................................................................................................3
1.6 Mind Mapping..........................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................5

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan.............................................................................................................26

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................27

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Karies gigi merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang serius pada banyak
negara berkembang maupun negara maju dan masih sering terjadi pada anak. Berdasarkan
hasil Riset Kesehatan Dasar 2007, didapat bahwa prevalensi nasional karies aktif (nilai D>0
dan karies belum ditangani) pada tahun 2007 adalah 43,4% dan 67,2% masyarakat memiliki
pengalaman karies (memiliki nilai DMFT > 0), serta 20,6%-21,6% anak usia 6-12 tahun di
Indonesia memiliki masalah pada gigi dan mulut. Hal tersebut menggambarkan bahwa
masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan gigi sehingga perilaku
kesehatan gigi masih kurang, serta ketidaktahuan dan mahalnya biaya dokter gigi
menyebabkan lebih tingginya pelayanan kuratif dibandingkan dengan preventif. Karies gigi
adalah penyakit gigi yang etiologinya bersifat multifaktorial. Etiologi utama karies gigi
menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor-faktor yaitu gigi, bakteri, saliva, diet,
waktu dan faktor predisposisi yang dapat mempengaruhi etiologi utama karies, yaitu tingkat
sosial ekonomi, sikap, perilaku, pendidikan, dan pendapatan individu.
Salah satu cara untuk mengetahui tingkat kesehatan gigi yaitu indeks, Indeks adalah suatu
angka yang menunjuukkan keadaan klinis yang diidapat pada waktu dilakukan pemeriksaan,
dengan cara mengukur luas dari permukaan gigi yang ditutupi oleh plak maupun kalkulus,
dengan demikian angka yang diperoleh berdasarkan penilaian yang objektif. Apabila kita
sudah mengetahui nilai atau angka kebersihan gigi dan mulut dari seseorang pasien kita
dapat memberikan pendidikan dan penyuluhan, motivasi dan evaluasi yaitu dengan melihat
kemajuan ataupun kemunduran kebersihan gigi dan mulut seseorang atau sekelompok
orang, ataupun kita dapat melihat perbedaan keadaan klinis seseorang atau sekelompok
orang. Kita dapat membedakan penilaian apabila penilaian yang dilakukan oleh pemeriksaan
seragam. oleh karena itu pada saat pengukuran diperlukan sekali ketelitian dan keseragaman
penilaian diantara pemeriksaan sehingga diperoleh nilai yang akurat dan seragam dari setiao
pemeriksaan. Untuk mendapatkan nilai yang akurat tentunya diantara pemeriksaan harus
mempunyai pandangan yang sma dalam penilaian, oleh karena itu perlu sekali dilakukan
kalibrasi terlebih dahulu. Untuk menggambarkan indeks karies gigi adalah dengan

1
menghitung jumlah karies gigi dapat dilakukan dengan skor def-t dan DMFT. Skor def-t
digunakan untuk menghitung indeks karies pada gigi sulung dan skor DMF-T digunakan
untuk mengetahui indeks karies pada gigi permanen. Terdapat juga DMF-s (untuk gigi
permanen) dan def-s (untuk gigi sulung) pada pengukuran indeks ini, seluruh komponen
memiliki kesempatan untuk dilakukan pemeriksaan. PUFA (untuk gigi permanen) dan pufa
(untuk gigi sulung) pada pengukuran indeks ini dapat dilakukan secara visual untuk melihat
adanya karies yang menunjukkan keterlibatan pulpa, ulserasi, fistula, dan abses. Terdapat
pula ICDAS (International Caries Detection Assesment System) , pada pengukuran indeks
ini dapat dilakukan pada gigi permanen maupun gigi sulung, dengan menggunakan indeks
ICDAS ini kita dapat mengetahui perjalanan karies seseorang. RCI (Root caries index) pada
pengukuran indeks ini dilakukan lebih spesifik, karena dilakukan pengukuran karies yang
hanya terjadi pada akar, dan gigi yang beresiko untuk dilakukan pengukuran merupakan gigi
yang sedang mengalami resesi gingiva. CSI (Caries Severity Index) pada pengukuran indeks
ini dapat diketahui seberapa parah keadaan karies pada setiap individu maupun populasi.
UTN (Unmed Treatment Need) pada pengukuran indeks ini dapat diketahui mengenai
kebutuhan perawatan pada setiap individu.

1.2 Skenario
SKENARIO 4
INDEKS KARIES GIGI

Kecamatan Sukamaju adalah kecamatan yang terletak di lereng gunung Simalakama.


Masyarakat jarang memeriksakan giginya meskipun sakit gigi. Mereka disibukkan pada
pekerjaan dimana sebagian besar masyarakat bekerja sebagai buruh petani sayur.
Masyarakat menganggap sakit gigi adalah hal yang sangat wajar dan tidak perlu diobati. Hal
ini dibuktikan dengan kunjungan pasien ke poli gigi yang sangat rendah (bahkan tidak
jarang dalam sebulan belum tentu ada kunjungan). Hasil survei dokter gigi Made (dokter
gigi Puskesmas Sukamaju) menemukan 91% masyarakat usia dewasa muda memiliki gigi
dengan kondisi pulpa terbuka. Dokter gigi Made ingin meneliti karies gigi masyarakat
berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan dengan tujuan dapat membantu menekan

2
angka karies yang ada. Dengan menggunakan indeks karies yang ada, indeks karies apa
yang paling tepat digunakan untuk mengukur kejadian karies gigi di masyarakat Sukamaju?

1.3 Kata sulit


1.3.1 Angka karies
1.3.2 Karies gigi
1.3.3 Pulpa terbuka
1.3.4 Indeks
1.3.5 Survey

1.4 Rumusan Masalah


1.4.1 Apa yang dimaksud dengan indeks karies gigi dan apa kegunaannya?
1.4.2 Jelaskan apa yang dimaksud dengan DMF-T, def-t?
1.4.3 Jelaskan apa yang dimaksud dengan DMF-S, def-S?
1.4.4 Jelaskan apa yang dimaksud dengan PUFA, pufa?
1.4.5 Bagimana cara menghitung indeks gigi yang telah hilang pada DMF-S, dan def-S?
1.4.6 Apa indeks karies yang paling digunakan di skenario?

1.5 Learning Objective


1.5.1 Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan indeks karies gigi
1.5.2 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks DMF-T, def-t
1.5.3 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks DMF-S, def-s
1.5.4 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks PUFA. Pufa
1.5.5 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks ICDAS
1.5.6 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks RCI
1.5.7 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks CSI
1.5.8 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks UTN
1.5.9 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks yang cocok pada skenario

3
1.6 Mind Mapping

indeks
karies gigi

metode
permanen sulung
lainnya

DMF-T def-t ICDAS

DMF-S def-s RCI

PUFA pufa CSI

UTN

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kata Sulit


2.1.1 Angka karies:
Angka yg menunjukkan banyaknya karies yang terjadi pada suatu golongan atau
masa tertentu
2.1.2 Karies gigi:
Suatu kerusakan pd gigi yang berupa white spot ataupun badan lesi yg hitam
dapat terjadi karena multifaktorial. Karies asal kata dari “Ker” menurut Bahasa Yunani
yang berarti kematian dan dari Bahasa latin berarti kerusakan. Karies adalah kerusakan
pada struktur jaringan keras gigi yang diakibatkan oleh asam akibat fementasi sisa
makanan oleh bakteri, kerusakan dimulai dari lapisan yang paling keras dan terluar,
mulai dari enamel-dentin-pulpa, butuh waktu cukup lama untuk menembus enamel
sekitar 2-3 tahun, dan untuk kerusakan dari dentin ke pulpa terjadi lebih singkat yaitu
sekitar 1 tahun. Ada 3 tingkat kedalaman karies. Karies superficialis, media, profunda,
stadium profunda (I,II,III). Non penetrasi (ant), dan penetrasi (post).
2.1.3 Pulpa terbuka:
Sebuah kondisi yg diakibatkan oleh karies yg telah mencapai pulpa (KPP). Bisa
disababkan karena trauma, dan hkurang hati-hati pada saat perawatan.
2.1.4 Indeks:
Ukuran yang dinyatakan dengan angka yang digunakan utk mengukur tingkat
kejadian karies, angka kejadian, dan keparahan karies. Syarat: jelas, valid, reliable,
mampu ukur, peka, dan dapat diterima. Indeks dalam pengukuran karies yang umum
digunakan adalah DMF-T, def-t, DMF-S, def-S, PUFA, pufa. Manfaat: dapat
membedakan keadaan klinis dari masyarakat pada saat yang sama atau pada saat yang
lain, dapat melihat kemajuan/ kemunduran dari kesehatan gigi masyarakat. Didasarkan
pada kenyataaan: bahwa kerusakan pada gigi tidak akan menjadi pulih dengan sendirinya
dan menimbulkan bekas

5
2.1.5 Survey:
Suatu aktivitas kegiatan penilitian yang dilakukan untuk mendapatkan kepastian
informasi menggunakan kuesioner, untuk mengetahui karakteristik tanpa intervensi,
survey dilakukan pada sampel utk menghasilkan kesimpulan yg men generalisasi.

2.2 Rumusan Masalah


2.2.1 Apa yang dimaksud dengan indeks karies gigi dan apa kegunaannya?
Indeks karies gigi adalah sebuah angka atau bilangan yang digunakan sebagai
indicator untuk menerangkan suatu keadaan tertentu (karies gigi) atau sebuah rasio
proporsional yang dapat disimpulkan dari sederetan pengamatan yang terus-menerus.
Manfaat dari indeks karies gigi ini dapa tmengukur derajat keparahan karies
ringan sampai berat dan mengetahui prevalensi karies gigi. Indeks yang umum digunakan
terdiri dari, DMF-T (gigi permanen), def-t (gigi sulung), DMF-S (gigi permanen), def-s
(gigi sulung), PUFA (gigi permanen), dan pufa (gigi sulung). Salah satu indeks karies
yang sering digunakan adalah indeks DMF dan dapat diterima secara universal, dapat
digunakan untuk perorangan maupun kelompok.

2.2.2 Jelaskan apa yang dimaksud dg DMF-T, def-t?

Indeks DMF-T adalah indeks untuk menilai status kesehatan gigi dan mulut
dalam hal karies gigi permanen. Karies gigi umumnya disebabkan karena kebersihan
mulut yang buruk, sehingga terjadilah akumulasi plak yang mengandung berbagai macam
bakteri. DMF-T merupakan singkatan dari Decay Missing Filled-Teeth.

Nilai DMF-T adalah angka yang menunjukkan jumlah gigi dengan karies pada
seseorang atau sekelompok orang. Angka D (decay) adalah gigi yang berlubang karena
karies gigi, angka M (missing) adalah gigi yang dicabut karena karies gigi, angka
F(filled) adalah gigi yang ditambal atau di-tumpat karena karies dan dalam keadaan baik .
Nilai DMF-T adalah penjumlahan D+ F+ T. Indikator utama pengukuran DMF-T

menurut WHO adalah pada anak usia 12 tahun, yang dinyatakan dengan
indeks DMF-T yaitu ≤ 3, yang berarti pada usia 12 tahun jumlah gigi yang

6
berlubang (D), dicabut karena karies gigi (M), dan gigi dengan tumpatan
yang baik (F), tidak lebih atau sama dengan 3 gigi per anak.

Rumus yang digunakan untuk menghitung DMF-T :

DMF – T = D+M+F
DMF – T rata-rata = Jumlah D+M+F
Juml orang yang
diperiksa

Kategori DMF-T menurut WHO :


Kategori DMF-T menurut WHO:
0,0-1,1 : sangat rendah
2,7-4,4 : rendah
4,5-6,5 : tinggi
>6,6 : sangat tinggi

2.2.3 Jelaskan apa yang dimaksud dg DMF-S, def-S?


DMFS indeks memiliki kriteria dan prinsip yang sama dengan DMFT. Untuk
kategoriD, M ,F sama dengan DMFT, yang membedakan adalah jika DMFT yang
dihitung adalah gigi.
DMFS yang dihitung adalah permukaan dari gigi. Untuk gigi anterior memiliki 4
permukaan yaitu permukaan fasial, lingual, mesial dan distal. Sedangkan untuk gigi
poterior memiliki permukaan, yaitu fasial, lingual, mesial, distal, dan oklusal. Jadi untuk
satu gigi dapat memiliki nilai D ataupun F lebih dari tergantung letak pada
permukaannya. Total permukaan untuk DMFS indeks adalah:
(16 gigi posterior x 5) + (12 gigi anterior x 4 )= 80+48= 128 permukaan.
Jadi untuk total permukaan gigi pada DMFS adalah 128 permukaan, sehingga untuk nilai
DMFS berkisar antara 0 hingga 128.

7
Perbedaan antara DMFS dan DEFS adalah, jika DMFS untuk gigi permanen, defs
digunakan pada gigi sulung. /riteria gigi yang masuk kategori D, E, maupun F sama
dengankategori D, E, dan F pada indeks deft. Untuk permukaan yang dihitung pada defs
samadengan DMFS, yaitu 4 permukaan untuk gigi anterio dan 5 permukaan untuk gigi
poterior.
Sehingga jumlah permukaan pada defs sebesar:
(8 gigi posterior x 5) + (12 gigi anterior x 4) = 40+48 = 88 permukaan
Jadi total permukaan pada indek defs adalah sebesar 88 permukaan, sehingga untuk
nilaidefs berkisar antara 0 hingga 88.
2.2.4 Jelaskan apa yang dimaksud dg PUFA, pufa?

PUFA/pufa

Indeks PUFA / pufad iperkenalkan oleh Monse et al pada tahun 2010 untuk
melengkapi kelemahan dari indeks DMFT Klein tersebut. Indeks PUFA adalah indeks
yang digunakan untuk pengukuran karies yang tidak dirawat. Ada empat kondisi oral
akibat karies gigi yang tidak dirawat yang digunakan untuk pengukuran indeks PUFA
yaitu keterlibatan pulpa yang ditunjukkan dengan pulpitis, ulserasi, fistula dan abses.
Penilaian tingkat keparahan penyakit gigi dan mulut dengan indeks pufa
dilakukan dengan cara visual. Tidak diperlukan alat-alat khusus. Hanya kaca mulut
sehingga orang yang akan menilai dapat melihat lebih jelas. Tiap gigi diberi satus kor, P
atau U atau F atau A. Untuk memberikan hasil yang lebih signifikan, penilaian dilakukan
oleh 2-3 orang dan sebelumnya telah diberikan pelatihan mengenai cara penilaian dan
penjelasan mengenai kondisi gigi yang dapat dimasukan dalam kategori P atau U atau F
atau A.

Komponen PUFA / pufa :

1. P/p: keterlibata npulpa, dicatat jika terbukanya ruang pulpa dapat terlihat atau jika
struktur mahkota gigi telah rusak oleh proses karies dan hanya akar atau fragmen akar
yang tersisa. Probing tidak dilakukan untuk diagnosis keterlibatan pulpa.

8
2. U/u : adalah ulserasi karena trauma dari potongan tajam gigi, dicatat jika tepi yang tajam
dari dislokasi dengan keterlibatan pulpa atau fragmen akar menyebabkan ulserasi
traumatic dari jaringan lunak sekitarnya, misalnya lidah atau mukosa bukal.
3. F/f : fistula yang ditandai jika pus keluar dari traktus sinus yang berhubungan dengan gigi
dengan keterlibatanpulpa.
4. A/a : abses yang ditandai ada pembengkakan disertai pus yang berhubungan dengan
keterlibatan pulpa.
Skor PUFA/pufa per orang, yaitu dijumlahkan dengan cara yang sama seperti
DMF-T/def-t dan mewakili jumlah gigi yang termasuk dalam kriteria diagnosis
PUFA/pufa. Huruf capital untuk gigi permanen dan huruf kecil digunakan untuk gigi
sulung. Skor untuk gigi sulung dan permanen dicatat secara terpisah. Jadi untuk seorang
individu, rentang skor pufa dari 0-20 untuk gigi sulung, dan skor PUFA 0-32 untuk gigi
permanen. Prevalensi PUFA/pufa dihitung sebagai persentase populasi dengan satu atau
lebih skor PUFA/pufa. Pengalaman PUFA/pufa untuk populasi dihitung dengan rerata
sehingga mungkin berupan nilai decimal.

2.2.5 Bagimana cara menghitung indeks gigi yang telah hilang pd DMF-S, dan def-S?
Menghitung berdasarkan surface nya jika yang hilang gigi anterior maka dihitung 4
missing, dan jika di gigi posterior karena jumlah surface nya 5 missing.
2.2.6 Apa indeks karies yang paling digunakan di skenario?
Di skenario dijelaskan Masyarakat didesa tersebut jarang memeriksakan giginya
meskipun sakit gigi. Karena disibukkan pada pekerjaan dimana sebagian besar
masyarakat bekerja sebagai buruh petani sayur. Masyarakat menganggap sakit gigi
adalah hal yang sangat wajar dan tidak perlu diobati. Berdasarkan penjelasan tersebut
indeks yang mengarah dengan skenario adalah PUFA karena PUFA adalah indeks yang
digunakan untuk pengukuran karies yang tidak dirawat sesuai dengan skenario dimana
masyarakatnya tidak merawat gigi walaupun dalam keadaan sakit gigi dikarenakan
kesibukan pekerjaan. Selain itu karies gigi yang tidak dirawat yang digunakan untuk
pengukuran indeks PUFA yaitu keterlibatan pulpa di scenario dijelasakan juga Hasil
survei dokter gigi Made (dokter gigi Puskesmas Sukamaju) menemukan 91% masyarakat
usia dewasa muda memiliki gigi dengan kondisi pulpa terbuka. Penggunaan huruf kapital
PUFA karena terjadi pada gigi orang dewasa atau gigi permanen

9
2.3 Learning Objective (LO)
2.3.1 Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan indeks karies gigi
Indeks merupakan ukuran yang dinyatakan dengan angka dari keadaan suatu
golongan/kelompok terhadap suatu penyakit tertentu. Tujuan indeks adalah mendapatkan
penilaian yang diberikan seragam dengan cara/metode yang seragam (standarisasi) untuk
mendapatkan hasil objektif. Selain itu, manfaat indeks adalah membedakan keadaan klinis
dari masyarakat pada saat yang sama atau pada saat yang lain dan melihat kemajuan atau
kemunduran dari kesehatan gigi masyarakat.
Adapun syarat ideal indeks, yaitu:
1. Jelas, sederhana (mudah diingat), dan objektif.
2. Sahih (valid)
3. Reliable/handal atau dapat dipercaya
4. Mampu diukur
5. Peka (mampu mendeteksi pergeseran kecil yang layak)
6. Dapat diterima
Data yang dibutuhkan untuk menghitung jumlah karies biasanya diperoleh menggunakan
indeks karies gigi. Indeks karies gigi adalah angka yang menunjukkan jumlah karies gigi
seseorang atau sekelompok orang. Indeks yang digunakan dapat mengukur derajat
keparahan karies dari ringan sampai berat dan mengetahui prevalensi karies gigi. Salah satu
indeks karies yang biasa digunakan adalah indeks Klein. Indeks DMF merupakan indeks
yang paling banyak digunakan dan dapat diterima secara universal dan dapat digunakan
untuk perorangan maupun kelompok. Indeks ini didasarkan pada kenyataan bahwa
kerusakan yang terjadi pada jaringan keras gigi tidak dapat pulih sendiri dan akan
meninggalkan bekas kerusakan yang menetap. Indeks DMF mengukur total life time caries
experience. Indeks karies gigi yang sering digunakan adalah untuk gigi permanen
menggunakan indeks DMF-T, DMF-S, PUFA, sedangkan untuk gigi sulung menggunakan
indeks def-t, def-s, pufa.
2.3.2 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks DMF-T, def-t
Indeks DMF-T di perkenalkan oleh Klein dkk (1938 cit. Slack, 1981) waktu
mempelajari distribusi karies pada anak-anak di Hagerstone, Maryland. Indeks ini

10
didasarkan pada kenyataan bahwa kalau jaringan keras gigi mengalami kerusakan maka
gigi tersebut tidak dapat pulih sendiri dan akan meninggalkan bekas kerusakan yang
menetap.
Gigi yang rusak tersebut akan tetap tinggal rusak (D - Decay), dan kalau dirawat
dengan dicabut maka akan disebut gigi hilang (M - Missing due to caries) atau ditambal
(F - Filling due to caries). Maka dari itu indeks karies DMF adalah indeks yang
irreversible, yang berarti indeks tersebut mengukur total life time caries experience.
Pengertian masing-masing komponen dari DMF-T adalah :
D = Decay adalah kerusakan gigi permanen karena karies yang masih dapat ditambal.
M = Missing adalah gigi permanen yang hilang karena karies atau gigi karies yang
mempunyai indikasi untuk dicabut.
F = Filling yaitu gigi permanen yang telah ditambal karena karies.
Sedangkan indeks karies dmf dipakai pertama kali oleh Grubbel (1944 cit. Slack 1981)
yang garis besarnya sama dengan indeks DMF.
Untuk def kriteria masing-masing komponen sama dengan DMF diatas, hanya
saja dipergunakan untuk gigi sulung. Dalam perjalannya indeks dmf sering diganti
dengan indeks def, karena untuk komponen "m" sulit untuk mendeteksi apakah gigi
sulung telah hilang karena karies atau tanggal secara normal atau sebab lain, sehingga
komponen "m" diganti dengan komponen "e" (Extraction), berarti hanya gigi karies yang
terindikasi untuk dicabut karena karies dicatat sebagai "e".
Selain itu terdapat perbedaan pertimbangan klinis mengenai gigi rusak karena
karies yang masih dapat ditambal atau harus dicabut untuk beberapa alasan. Misalnya
gigi molar yang karies telah sampai pulpa yang sebenarnya masih dapat ditambal namun
karena keadaan peralatan, maka gigi tersebut lalu di indikasikan untuk dicabut.
Maka dari itu, lalu dibuat kesepakatan yaitu untuk mengindikasikan gigi tersebut
dengan menganut teori yang seharusnya, bukan berdasarkan indikasi peralatan yang
tersedia. Namun untuk kepentingan perencanaan suatu daerah, mungkin diperlukan
kesepakatan tersendiri, dengan melihat situasi dan kondisi masing-masing daerah,
apakah menganut teori yang seharusnya atau kenyataan dilapangan.

11
2.3.3 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks DMF-S, def-s
Pengalaman karies dapat dilihat melalui suatu Indeks Pengukuran Karies. Salah
satu Indeks pengukuran karies adalah Indeks DMF-s (pada gigi permanen) dan def-t
(pada gigi sulung), yaitu Indeks pengukuran yang digunakan untuk menghitung jumlah
permukaan gigi yang terkena karies. DMFs indeks memiliki kriteria dan prinsip yang
sama dengan DMFT.
Untuk Pemeriksaan dilakukan dengan pemeriksaan sebagai berikut:
D = Decay
1) Gigi tetap yang mengalami karies gigi
2) Gigi tetap yang di tambal dengan karies sekunder dengan tumpatan permanen
3) Pada gigi dengan tumpatan permanen
4) Gigi dengan tumpatan sementara dimasukkan dalam kategori D
M = Missing
1) Semua gigi yang hilang atau dicabut karena karies
2) Gigi yang hilang akibat penyakit periodontal, dicabut untuk kebutuhan perawatan
ortodonti TIDAK dimasukkan dalam kategori M
F = Filing
1) Semua gigi dengan tumpatan permanen
2) Gigi tetap dengan tumpatan tanpa karies
3) Gigi yang sedang dalam perawatan saluran akar dimasukkan dalam kategori F.
Indeks karies ini lebih rinci sebab karies dihitung per permukaan gigi, sehingga seluruh
permukaan memiliki kesempatan yang sama untuk dilakukan
Indeks karies ini lebih rinci sebab karies dihitung per permukaan gigi, sehingga
seluruh permukaan memiliki kesempatan yang sama untuk dilakukan pemeriksaan. Molar
dan premolar dianggap memiliki 5 permukaan, sedangkan gigi depan memiliki 4
permukaan. Nilai maksimum untuk DMFS adalah 128 untuk 28 gigi permanen dan yang
def-s yaitu 88 untuk gigi sulung.
Pada indeks karies ini memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Pengukuran
DMF-s dan def-s ini dianggap merupakan penyempurnaan dibanding DMF-T dan def-t,
sebab pengukuran dilakukan lebih menyeluruh sehingga didapatkan data yang lebih holistik.
Namun dengan pengukuran yang cukup kompleks tersebut cukup membutuhkan waktu yang

12
lama dalam pemeriksaannya sebab dokter gigi harus memeriksa satu per satu permukaan
gigi pada setiap individu.

2.3.4 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks PUFA. Pufa


Indeks PUFA/pufa diperkenalkan oleh Monse et al pada tahun 2010 untukmelengkapi
kelemahan dari indeks DMFT Klein tersebut. Indeks PUFA adalahindeks yang digunakan
untuk pengukuran karies yang tidak dirawat. Ada empatkondisi oral akibat karies gigi
yang tidak dirawat yang digunakan untukpengukuran indeks PUFA yaitu
keterlibatan pulpa yang ditunjukkan denganpulpitis, ulserasi, fistula dan abses.Pulpitis
adalah proses radang pada jaringan pulpa gigi, yang padaumumnya merupakan
kelanjutan dari proses karies. Jaringan pulpa terletak didalam jaringan keras gigi sehingga
bila mengalami proses radang, secara klinissulit untuk menentukan seberapa jauh proses
radang tersebut terjadi. Atap pulpamempunyai persarafan terbanyak dibandingkan bagian
lain pada pulpa. Jadi, saatmelewati pembuluh saraf yang banyak ini, bakteri akan
menimbulkan peradanganawal pulpitis. Berdasarkan diagnosis klinis, pulpitis dibagi menjadi
dua yaitupulpitis reversible dan irreversibel.Pulpitis reversibel yaitu inflamasi pulpa
yang tidak parah. Jikapenyebabnya dihilangkan, inflamasi akan menghilang dan pulpa
kembali normal.Gejala Pulpitis reversibel simtomatik ditandai oleh rasa sakit yang tajam
danhanya sebentar. Lebih sering diakibatkan oleh makanan dan minuman dingin daripada
panas. Tidak timbul spontan dan tidak berlanjut bila penyebabnya
dihilangkan.Pulpitis Irrevesible yaitu lanjutan dari pulpitis reversible.
Pulpitisirreversible merupakan inflamasi parah yang tidak bisa pulih
walaupunpenyebabnya dihilangkan. Biasanya, gejala asimtomatik atau pasien
hanyamengeluhkan gejala yang ringan. Nyeri pulpitis irreversible ini dapat tajam,
tumpul, setempat, atau difus (menyebar) dan dapat berlangsung hanya beberapamenit atau
berjam-jam.

13
Gambar 4.1 Pulpitis
Ulserasi adalah ulserasi akibat trauma, dapat disebabkan kontak dengansisa mahkota
gigi atau akar yang tajam akibat proses karies gigi. Ulserasi akibattrauma sering terjadi pada
daerah mukosa pipi dan bagian perifer lidah. Secaraklinis ulserasi biasanya
menunjukkan permukaan sedikit cekung dan ovalbentuknya. Pada awalnya daerah
eritematous di jumpai di bagian perifer, yangperlahan-lahan warnanya menjadi lebih muda
karena proses keratinisasi. Bagiantengah ulkus biasanya berwarna kuning-kelabu.
Setelah pengaruh traumatik hilang, ulkus akan sembuh dalam waktu 2 minggu.

Gambar 4.2 Ulserasi


Fistula terjadi karena peradangan karies kronis dan pernanahan padadaerah
sekitar akar gigi (periapical abcess). Peradangan ini akan menyebabkankerusakan tulang dan
jaringan penyangga gigi. Peradangan yang terlalu lama menyebabkan pertahanan tubuh
akan berusaha melawan, dan mengeluarkan jaringan yang telah rusak dengan cara

14
mengeluarkan nanah keluar tubuh melalui permukaan yang terdekat, daerah yang terdekat
adalah menembus tulang tipis dangusi yang menghadap ke pipi, melalui saluran yang
disebut fistula. Jika saluran initersumbat, maka akan terjadi pengumpulan nanah.

Gambar 4.3 Fistula


Abses merupakan rongga patologis yang berisi pus yang disebabkaninfeksi
bakteri campuran. Bakteri yang berperan dalam proses pembentukan absesyaitu
Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Staphylococcus aureusdalam proses ini
memiliki enzim aktif yang disebut koagulase yang fungsinyauntuk mendeposisi fibrin,
sedangkan Streptococcus mutans memiliki 3 enzimutama yang berperan dalam
penyebaran infeksi gigi, yaitu streptokinase,streptodornase, dan hyaluronidase.

Gambar 4.4 Abses


Metode Pengukuran Indeks PUFA
Penilaian tingkat keparahan penyakit gigi dan mulut dengan indeks pufadilakukan
dengan cara visual. Tidak diperlukan alat-alat khusus. Hanya kacamulut sehingga orang
yang akan menilai dapat melihat lebih jelas. Tiap gigi diberisatu skor, P atau U atau F atau
A. Untuk memberikan hasil yang lebih signifikan,penilaian dilakukan oleh 2-3 orang dan

15
sebelumnya telah diberikan pelatihanmengenai cara penilaian dan penjelasan
mengenai kondisi gigi yang dapatdimasukan dalam kategori P atau U atau F atau A.

Gambar Contoh Lembar Pengisian Indeks PUFA/pufa


P/p adalah keterlibatan pulpa,dicatat jika terbukanya ruang pulpa dapatterlihat atau jika
struktur mahkota gigi telah rusak oleh proses karies dan hanyaakar atau fragmen akar yang
tersisa. Probing tidak dilakukan untuk diagnosisketerlibatan pulpa.U/u adalah ulserasi
karena trauma dari potongan tajam gigi,dicatat jika tepiyang tajam dari dislokasi
dengan keterlibatan pulpa atau fragmen akarmenyebabkan ulserasi traumatik dari
jaringan lunak sekitarnya, misalnya lidahatau mukosa bukal.F/f adalah fistula yang ditandai
jika pus keluar dari traktus sinus yangberhubungan dengan gigi dengan keterlibatan
pulpa.A/a adalah abses yang ditandai ada pembengkakan disertai pus yangberhubungan
dengan keterlibatan pulpa.Skor PUFA/pufa per orang, yaitu dijumlahkan dengan cara yang
samaseperti DMF-T/def-t dan mewakili jumlah gigi yang termasuk dalam kriteriadiagnosis
PUFA/pufa. Huruf kapital untuk gigi permanen dan huruf kecildigunakan untuk
gigi sulung. Skor untuk gigi sulung dan permanen dicatat secaraterpisah. Jadi untuk seorang
individu, rentang skor pufa dari 0-20 untuk gigisulung, dan skor PUFA 0-32 untuk
gigi permanen. Prevalensi PUFA/pufadihitung sebagai persentase populasi dengan satu
atau lebih skor PUFA/pufa.Pengalaman PUFA/pufa untuk populasi dihitung dengan rerata
sehingga mungkin berupa nilai desimal.

16
Gambar Contoh Penyajian Data Indeks PUFA/pufa

Data yang ditampilkan oleh indeks PUFA/pufa dapat memberikangambaran untuk


perencanaan program kesehatan yang relevan, sebagai pelengkapdata DMF-T. Indeks
PUFA/pufa terbukti adekuat mengukur akibat dari keparahankerusakan gigi dan dapat
digunakan secara universal, bahkan pada kondisilapangan yang sederhana. Indeks ini
mudah dan aman digunakan, hanyamembutuhkan sedikit waktu melakukan
pemeriksaan dan tidak membutuhkanperalatan tambahan apapun.

2.3.5 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks ICDAS


Sebuah kelompok yang terdiri dari cariologist dan epidemiologis menciptakan
International Caries Detection Assessment System (ICDAS) pada tahun 2002 di Skotlandia.
Sistem visual ini dikembangkan sebagai sistem deteksi bagi lesi karies di oklusal, dengan sistem
pengkodean 2 digit, digit yang pertama (0-9) mengidentifikasi status gigi dan digit yag kedua
menggambarkan keparahan dari lesi karies tersebut.5,6 ICDAS telah dibuktikan sebagai sistem
yang valid untuk menggambarkan dan mengukur perbedaan derajat dari keparahan suatu lesi
karies serta memiliki hubungan yang signifikan antara kedalaman lesi dan pemeriksaan
histologis

Indeks ICDAS I dimaksudkan untuk deteksi karies (detection) dengan tahap proses
karies, topografi dan anatomi, penilaian (assessment) proses karies baik yang terkavitasi maupun
yang tidak terkavitasi, serta karies aktif. Pengukuran tidak adanya karies coronal ini tidak
memasukkan deteksi karies koronal dan penilaian aktivitas lesi karies akar. Komite ICDAS

17
berkoordinasi untuk membuat ICDAS II pada tahun 2009 yang menggambarkan baik karies
koronal dan karies terkait dengan restorasi dan sealant. Kode untuk karies koronal antara 0
sampai 6, yang menunjukkan tingkat keparahan lesi karies.

Klasifikasi karies menurut ICDAS

ICDAS 1mengklasifikasikan setiap permukaan gigi yang sehat, telah direstorasi,


menggunakan crown, atau hilang. Kode yang digunakan untuk penilaian adalah sebagai
berikut :

Kode Deskripsi
0 Gigi yang tidak direstorasi atau unsealed
1 Sealent, partial
Sealent yang tidak menutupi seluruh pit dan fissure
pada permukaan gigi
2 Sealent, seluruhnya
Sealent yang menutupi seluruh pit dan fissure dari
permukaan gigi
3 Restorasi gigi yang mengalami diskoloriasi
Restorasi memiliki warnanya masing-masing restorasi
(resin atau glass ionomer semen)
4 Restorasi amalgam
5 Mahkota stainless steel
6 Porcelain atau emas atau mahkota PFM atau veneer
7 Hilangnya atau rusaknya restorasi
8 Restorasi sementara
9 Gigi yang tidak membutuhkan kasus spesial
9-6 = permukaan gigi yang tidak dapat diperiksa
karena masalah visual ketika melihat permukaan gigi
9-7 = gigi yang hilang karena karies (seluruh
permukaan gigi ditulis dengan kode 97)
9-8 = gigi yang hilang karena hilang atau alasan lain

18
selain karena karies (seluruh permukaan gigi ditulis
dengan kode 98)
9-9 = gigi yang tidak erupsi (seluruh permukaan gigi
ditulis dengan kode 99)

sebelum menentukan kode, penting untuk melihat permukaan gigi menurut ICDAS
dibagi atas mesial, distal, fasial, lingual, dan permukaan oklusal. beberapa permukaan gigi dibagi
lagi menjadi beberapa bagian. contohnya, untuk gigi molar rahang atas ada oklusal-mesial dan
oklusal distal yang dibagi oleh trasnverse ridge. untuk gigi molar rahang bawah buccal pit ditulis
dengan kode terpisah dari permuakaan gigi yang halus. bagian yang sama

ICDAS 2 dibagi berdasarkan setiap permukaan gigi yang dinyatakan karies menggunakan
status skala ordinal.

Tabel 1 : The International Caries Detection and Assessment System (ICDAS).


(sumber : Clinical protocols for caries management by risk assessment)

19
Tabel 2 : klasifikasi ICDAS ( sumber:primary dental jurnal)

 Kode 0 : Permukaan gigi yang sehat tidak ada terlihat karies (tidak adanya perubahan dari
translusensi ename; setelah dilakukan air drying yang lama (disarankan drying time 5
detik). permukaan dengan perkembangan defek seperti hipoplasia, florosis, atrisi, abrasi,
erosi, stain ekstrinsik dan intrinsik digolongkan sebagai sehat.
 Kode 1 : pit dan fissure ketika melihat dalam keadaan basah tidak ada tanda dari
perubaha warna yang disebabkan oleh aktivitas karies, namun setelah dilakukan air
drying (kira-kira 5 detik disarankan untuk dehidrasi yang adekuat dari lesi karies
enamel). karies opacity atau diskolorisasi (lesi putih atau coklat) dapat terlihat jelas atau
adanya perubahan warna yang tidak konsisten disebabkan oleh karies, klinisi melihat
enamel yang sehat dan terbatas untuk melihat daerah pit dan fissur (baik dalam keadaan
kering atau basah). kondisi seperti ini dapat diidentifikasikan dengan kode 0
 Kode 1 : permukaan gigi yang halus dalam keadaan basah tidak terlihat adanya
perubahan warna yang disebabkan oleh aktivitas karies, namun setelah dilakukan
pengeringan pada opacity karies (lesi putih atau coklat) dapat terlihat. biasanya keadaan
ini terlihat pada permukaan bukal atau lingual
 kode 2 : perbedaan perubahan warna pada enamel ketika dalam keadaan basah terlihat
lesi putih atau lesi coklat yang lebih besar dari fissur/fosa yang normal

20
 kode 3 : enamel yang rusak disebabkan oleh karies dengan tidak nampaknya bayangan
dentin
 kode 4 : terlihatnya bayangan gelap oleh dentin dengan atau tanpa rusaknya enamel
 kode 5 : kavitas yang jelas dengan dentin yang jelas terlihat
 kode 6 : kavitas yang luas dan jelas dengan dentin yang jelas terlihat

Penanganan karies berdasarkan ICDAS

Dari ilustrasi di atas dapat diketahui bahwa untuk menentukan rencana perawatan
karies melalui tahap berikut:
1. Pemeriksaan objektif (deteksi lesi dr tampilan klinisnya, penilaian aktivitas lesi) dan
Pemeriksaan subjektif (penilaian faktor resiko karies, riwayat lesi, gaya hidup)
2. Diagnosis lesi disertai prognosis untuk pasien
3. Rencana perawatan.
Rencana perawatan dibagi menjadi 4, yaitu :
→ Background level care
→ Perawatan preventif (non invasif)
→ Perawatan operatif (invasif)
→ Penilaian & pemantauan ulang (recall, reassessment, monitoring)
Tabel 2 : Tingkat perawatan karies menurut ICDAS (sumber : Remineralisation – the buzzword
for early MI caries management)

21
2.3.6 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks RCI
Indeks karies akar dikembangkan oleh Ralph Katz 1979, yang digunakan untuk
menghitung karies permukaan akar. RCI didasarkan pada persyaratan bahwa resesi
gingiva harus terjadi sebelum lesi permukaan karies akar dimulai, oleh karena itu hanya
gigi dengan resesi gusi yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan pada 4 permukaan akar
(mesial, distal, lingual, dan buccal atau labial) setiap satu gigi. Gigi dengan akar multiple,
skor diberikan pada salah satu yang paling parah.

Gambar 1. Tabel skoring RCI setiap gigi

22
R-N = terdapat resesi dan permukaan normal/sound
R-D = terdapat resesi dengan permukaan akar yang mengalami decay.
R-F = terdapat resesi dengan tambalan pada bagian permukaan akar.
No-R = gigi normal, tidak terjadi resesi gingivva dan karies

Rumus RCI
RCI= (R-D) +(R-F) x 100

(R-D) +(R-F) +(R-N)

Gambar 2. Gambaran grade RCI

23
Gambar 3. Gambaran gigi yang dapat diskoring dengan RCI

2.3.7 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks CSI


Diintroduksi oleh WHO, kemudian dimodifikasi oleh Shimono (1995), kriteria
karies dikemukakan sebagai berikut ini:

Kode Kondisi/status Skor


gigi permanen
0 Gigi sehat 0
C1 Pit dan fisur yang mengalami pewarnaan serta 1
explorer/sonde akan tersangkut di tempat
tersebut tapi tidak ada perlunakan dasar
lubang (undermIned enamel) atau perlunakan
dinding gigi
C2 Sonde tersangkut pada celah/lubang gigi 2
dengan ditandai dengan perlunakan dindmg
gigi/dasar email
C3 Kelanjutan kerusakan gigi (C1) sehingga 3
melibatkan pulpa, pada kondisi ini fistula atau
abses atau pulpitis hiperplastik dapat dilihat
secara klinis
C4 Filled, no decay 4

Jumlah skor karies untuk seluruh permukaan gigi


CSI (Caries Severity Index)=
Jumlah gigi yang karies & tambalan & gigi dicabut

Tingginya skor CSI menunjukkan bahwa pasien tersebut memiliki gigi yang tidak
dirawat dengan kondisi karies yang parah.

2.3.8 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks UTN


Indeks ini untuk melihat kebutuhan perawatan dalam suatu populasi. Rumus yang
digunakan :

24
UTN = Rerata D x 100% : Rerata D + Rerata F
Untuk menghitung prevalensi terjadinya karies dalam suatu populasi :
Prevalensi karies = Jumlah DMF-T x 100% : Jumlah orang yang diperiksa
2.3.9 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami indeks yang cocok pada skenario
Di skenario dijelaskan Masyarakat didesa tersebut jarang memeriksakan giginya
meskipun sakit gigi. Karena disibukkan pada pekerjaan dimana sebagian besar
masyarakat bekerja sebagai buruh petani sayur. Masyarakat menganggap sakit gigi
adalah hal yang sangat wajar dan tidak perlu diobati. Berdasarkan penjelasan tersebut
indeks yang mengarah dengan skenario adalah PUFA karena PUFA adalah indeks yang
digunakan untuk pengukuran karies yang tidak dirawat sesuai dengan skenario dimana
masyarakatnya tidak merawat gigi walaupun dalam keadaan sakit gigi dikarenakan
kesibukan pekerjaan. Selain itu karies gigi yang tidak dirawat yang digunakan untuk
pengukuran indeks PUFA yaitu keterlibatan pulpa di scenario dijelasakan juga Hasil
survei dokter gigi Made (dokter gigi Puskesmas Sukamaju) menemukan 91% masyarakat
usia dewasa muda memiliki gigi dengan kondisi pulpa terbuka. Penggunaan huruf kapital
PUFA karena terjadi pada gigi orang dewasa atau gigi permanen.

25
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Indeks merupakan ukuran yang dinyatakan dengan angka dari keadaan suatu
golongan/kelompok terhadap suatu penyakit tertentu. ukuran tersebut dapat digunakan
sebagai pengukur derajat keparahan dari suatu penyakit mulai dari yang ringan sampai
yang berat. indeks karies dapat digunakan untuk mendapatkan data status karies gigi
seseorang. beberapa indeks karies gigi :
1. Indeks Karies untuk gigi dewasa (DMFT, DMFS)
2. Indeks karies untuk gigi anak-anak (def-t, def-s)
3. PUFA (pulpa, ulserasi, fistel, abses)
4. Caries Severity Index (CSI)
5. The International Caries Detection and Assessment System (ICDAS)
6. Root Caries Index (RCI)
7. UTN (Unmed Treatment Need)

26
DAFTAR PUSTAKA

Monse B, Heinrich-Weltzien R, Benzian H, Holmgren C, van Palenstein HW. PUFA – An


index of clinical Consequences of untreated dental caries. Comm Dent Oral Epidemiol
2010; 38: 77-82

Artini, Sri., Indriani, Tati., Herijulianti, Eliza. 2002. Pendidikan Kesehatan Gigi. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran

Bennet. 2017. Remineralisation – the buzzword for early MI caries management in


BDJ.DOI:10.1038/sj.bdj.2017.663

Jenson L, Budenz AW, Featherstone JD, et al: Clinical protocols for caries management by risk
assessment, J Calif Dent Assoc 35:714, 2007.

Ismail AI, Sohn W, Tellez M, Amaya A, Sen A, Hasson H PN. The International Caries
Detection and Assessment System (ICDAS): an integrated system for measuring dental
caries. Community Oral Epidemiol. 2007;35(3):170–178.

Primary dental jurnal. 2010.The Use of the International Caries Detection and Assessment
System (ICDAS) in a National Health Service General Dental Practice as Part of an
Oral Health Assessment. DOI : 10.1308/135576110792936177

Young D a, Featherstone JDB. Caries management by risk assessment. Community dentistry and
oral epidemiology. 2013;41(1):e53–63.

Herijulianti, Eliza.,Indriani, TatiSvasti., Artini, Sri. 2001. PendidikanKesehatan Gigi. Jakarta:


EGC.

Hiremath, SS. 2007. Preventive and Comunity Dentistry. Elsevier

27
Pratiwi, Rini dan Ririn Mutmainnah. 2013. Gambaran keparahan karies padaanak usia 6, 9
dan 12 tahun di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan menggunakan indeks
PUFA/pufa. Jurnal Dentofasial, Vol.12, No.2, Juni2013:76-80. Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.

Yoanda, P. 2014. Skripsi Hubungan Karies yang Tidak Dirawat dengan IndeksMassa Tubuh
pada Murid Sekolah Dasar di Perumnas II Kecamatan MedanDenai. Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara

28