Anda di halaman 1dari 8

Resep Soto Padang

Dari : Sumatera Barat

Bahan-bahan:
 500 g tulang kaki sapi
 300 g daging paha sapi
 Air untuk membuat kaldu
 1 sdt garam
 Minyak goreng
 3 batang serai bagian putih, memarkan
 2 lembar daun salam
 ½ lembar daun kunyit
 2 cm lengkuas, memarkan
 ½ butir biji pala
 2 sdt bumbu kari bubuk
 2 batang daun bawang, iris 2 cm
 Bumbu halus:
 15 butir bawang merag
 4 siung bawang putih
 4 cm jahe
 4 butir kemiri
 1 sdt garam
 4 buah cabai merah
 3 buah cabai rawit merah
 3 butir bawang merah
 1 butir tomat
 ¼ sdt gram
 75 gr suun kering, siram air panas hingga lunak, tiriskan.
 6 buah perkedel kentang, siap pakai
 1 sdm seledri cincang
 2 sdm bawang goreng
 Kerupuk merah
Cara membuat

1. Masukkan tulang dan daging sapi ke dalam panci, tuangi air hingga terendam.
Tambahkan garam, masak di atas api kecil hingga mendidih. Kecilkan api, rebus
dengan panci tidak rapat hingga sari tulang keluar. Angkat, ukur kaldu hingga 1.5
liter.
2. Tiriskan daging, iris tipis mengikuti serat, lalu goreng dalam minyak panas hingga
kering dan renyah, angkat, tiriskan.
3. Panskan sedikit minyak dalam wajan, tumis bumbu halus, serai, daun salam, daun
kunyit, lengkuas dan pala. Aduk hingga harum, masukkan bumbu kari bubuk, aduk,
angkat. Masukkan bumbu tumis ke dalam panci kaldu. Masak terus hingga kaldu
menyusut hingga 1 liter. Masukkan daun bawang, masak sebentar hingga daun
bawang layu, angkat.
4. Sambal: ulek bahan sambal hingga halus. Panaaakn 5 sdmminyak dalam wajan
masukkan bahan sambal. Tumis hingga harum dan matang, angkat.
5. Siapkan mangkuk saji, masukkan suun dan perkedel. Tuangi kuah soto, masukkan
daging goreng yang diremukkan. Tambahkan seledri, bawang goreng, dan kerupuk
merah. Hidangkan selagi hangat.
Tari Gandrung Banyuwangi
Dari : Jawa Timur

Tari Gandrung Banyuwangi adalah tari daerah yang berasal dari Banyuwangi Jawa
Timur. Kata Gandrung sendiri berarti terpesona, yaitu menggambarkan rasa pesona
masyarakat Banyuwangi terhadap Dewi Sri atau Dewi Padi yang telah membawa
kesejahteraan kepada masyarakat. Oleh karena itulah maka tari Gandrung Banyuwangi ini
dahulu biasa dibawakan setelah panen raya. Tarian Gandrung Banyuwangi merupakan seni
pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya jawa dan Bali. Tari
Gandrung dilakukan oleh seorang wanita penari profesional yang menari bersama tamu
(terutama pria) yang disebut dengan istilah pemaju.

Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut,
khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi
maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar
pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00)

Adapun kostum atau tata busana yang dikenakan oleh penari Gandrung Banyuwangi
sedikit berbeda dengan penari jawa lainnya. Pakaian tradisional yang dikenakan oleh penari
Gandrung Banyuwangi sedikit dipengaruhi oleh pakaian Bali.

Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias
dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol
yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan
terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai
penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu
dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain
berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu. Sedangkan bagian
bawah penari Gandrung mengenakan kain batik dengan corak yang bermacam-macam.
Dibagian kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari
kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi
ornamen tokoh Antasena, putra Bima yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular
serta menutupi seluruh rambut penari gandrung.
Upacara Labuhan
Dari : Yogyakarta

Upacara Labuhan merupakan Upacara Adat Yogyakarta yang telah dilakukan sejak
zaman Kerajaan Mataram Islam pada abad ke XIII hingga sekarang di Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Masyarakat meyakini bahwa dengan melakukan Upacara Labuhan
secara tradisional akan terbina keselamatan, ketentraman dan kesejahteraan masyarakat serta
negara.

Upacara Labuhan biasanya dilaksanakan pada empat tempat yang berjauhan letaknya.
Masing-masing tempat itu mempunyai latar belakang sejarah tersendiri sehingga pada
masing-masing tempat tersebut perlu dan layak dilakukan upacara labuhan. Keempat tempat
tersebut adalah Dlepih yang berada di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Tempat yang
kedua adalah Parangtritis di sebelah selatan Yogyakarta, Yang ketiga adalah Puncak Gunung
Lawu dan yang keempat adalah di Puncak Gunung Merapi.

Upacara Labuhan ini bersifat religius yang hanya dilaksanakan atas titah raja sebagai
kepala kerajaan. Dan menurut tradisi Kraton Kesultanan Yogyakarta, Upacara Labuhan
dilakukan secara resmi dalam rangka peristiwa-peristiwa seperti Penobatan Sultan, Tingalan
Panjenengan (Ulang tahun penobatan Sultan) dan peringatan hari "Windo" hari ulang tahun
penobatan Sultan "Windon" berarti setiap delapan tahun.

Tidak mengherankan jika upacara tradisional langka ini menjadi daya tarik wisatawan
untuk menyaksikannya. Susana khidmat upacara, keberanian para pembantu juru kunci
melaksanakan Labuhan di lautan serta keramaian masyarakat memperebutkan benda-benda
Labuhan, Semakin menarik acara Labuhan menjadi menarik untuk disaksikan.
TUGAS PRAKARYA

KELOMPOK II

NAMA ANGGOTA

1. Fhadilla Arieska
2. Alodya Maynindra Djankaru
3. Annisa Sya`baniyah
4. Kgs.M.Arfin Ilham
5. Mifthahul Jannah
6. M.Ronaldo

KELAS : 8.2 ( Delapan Dua )

SMP NEGERI 53 PALEMBANG


KOMPLEK SANGKURIANG, JLN. SEMATANG BORANG, SAKO,
KOTA PALEMBANG, SUMATERA SELATAN 30163
TAHUN AJARAN 2018/2019
RESEP KUE SABONGI
Dari : Gorontalo

Bahan /bumbu :
 500 gram singkong parut, ambil 50 ml air perasannya ganti dengan 50 ml air matang
 4 buah pisang raja, potong-potong
 3 siung bawang putih, haluskan
 1 sdm gula pasir
 1 sdt garam
 minyak untuk menggoreng

Cara membuat:
1. Campur singkong parut, bawang putih, gula pasir, dan garam. Aduk rata.
2. Ambil sedikit adonan. Pipihkan. Beri potongan pisang. Bentuk oval.
3. Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan sampai matang dan berwarna
kecokelatan. Angkat, tiriskan.
4. Sajikan.
SONGKET PALEMBANG
Dari : Palembang

Songket berasal dari kata tusuk dan cukit yang disingkat menjadi suk-kit. Lazimnya
menjadi sungkit dan akhirnya lebih dikenal dengan kata songket. Sementara orang
Palembang menyebutkan asal kata songket dari kata songko. Yakni orang yang menggunakan
benang hiasan dari ikat kepala.
Songket adalah kain mewah yang aslinya memerlukan sejumlah emas asli untuk
dijadikan benang emas, kemudian ditenun tangan menjadi kain yang cantik. Pembuatan kain
songket yang menggunakan bahan benang emas jauh lebih komplek dan rumit. Tapi hasil
akhirnya adalah keindahan struktur desain dengan warna kemilau perpaduan warna keemasan
dengan warna lainnya. Ini menjadikan kain songket menjadi lebih hidup, agung, dan
bergairah.
Secara sejarah tambang emas di Sumatera terletak di pedalaman Jambi dan dataran
tinggi Minangkabau. Meskipun benang emas ditemukan di reruntuhan situs Sriwijaya di
Sumatera, bersama dengan batu mirah delima yang belum diasah, serta potongan lempeng
emas, hingga kini belum ada bukti pasti bahwa penenun lokal telah menggunakan benang
emas seawal tahun 600-an hingga 700-an masehi.
Songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia baik diukur dari segi
kualitasnya, yang berjuluk "Ratu Segala Kain" karena songket Palembang memiliki
keistimewaan yaitu menggunakan bahan tenun kain yang berasal dari benang emas dan
songket. Dan juga ditenun dari bahan benang perak, sutera, wol dan nylon. Semua jenis
benang yang digunakan untuk menenun songket dipadu bahan dasar yang indah menjadikan
songket menjadi kain dengan tenunan sederhana yang kompleks, rumit, namun indah dan
agung. Songket eksklusif memerlukan di antara satu dan tiga bulan untuk menyelesaikannya,
sedangkan songket biasa hanya memerlukan waktu sekitar 3 hari.
Mulanya kaum laki-laki menggunakan songket sebagai destar, tanjak atau ikat kepala.
Kemudian barulah kaum perempuan Melayu mulai memakai songket sarung dengan baju
kurung. Tapi sekarang songket palembang ini dijadikan sebagai lambang status sosial dan
kekayaan seseorang. Dapat dilihat mereka yang mempunyai kedudukan dalam masyarakat
diharuskan memakai kain songket yang mempunyai corak atau motif tertentu. Tentunya
disesuaikan dengan kedudukan dalam strata sosial masyarakat setempat.
Selain itu songket juga dipakai pada saat upacara-upacara adat ataupun upacara resmi,
seperti upacara penyambutan tamu agung, perkawinan dan sebagainya. Disamping itu kain
songket juga menjadi salah satu syarat pemberian sebagai mas kawin dalam adat pernikahan
Palembang.
Menurut adat Palembang, biasanya songket diberikan pengantin laki-laki kepada
pengantin perempuan sebagai bentuk penghargaan dalam aspek sosial pada waktu itu.
Sekarang, keberadaan songket tak lagi tergantung pada kedudukan atau tingkat sosial
seseorang. Mereka yang mampu membeli songket diperbolehkan memakai motif menurut
selera yang disukai. Songket juga dijadikan sebagai hadiah kepada orang yang dihormati.
Para pengrajin songket terutama di Palembang kini berusaha menciptakan motif-motif
baru yang lebih modern dan pilihan warna-warna yang lebih lembut. Hal ini sebagai upaya
agar songket senantiasa mengikuti zaman dan digemari masyarakat. Sebagai benda seni,
songket pun sering dibingkai dan dijadikan penghias ruangan. Penerapan kain songket secara
modern amat beraneka ragam, mulai dari tas wanita, songkok, bahkan kantung ponsel. Kain
songket Palembang sampai sekarang masih diminati masyarakat, terutama para kolektor dan
turis mancanegara.