Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PSIKOLOGI KEPRIBADIAN

‘‘TEORI BELAJAR KOGNITIF SOSIAL


ROTTER DAN MISCHEL”
untuk memenuhi tugas mata kuliah
Psikologi Kepribadian

Dosen pengampu:
Elrisfa Magistarina, S.Psi., M.Sc.

Oleh:
Gatri Handayani (170)
Yusuf Nurahman (17011207)

Jurusan Psikologi
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negri Padang
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
sehingga kelompok dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai
salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam kuliah psikologi
kepribadian.

Harapan penulis semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini penulis akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu penulis harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.

Padang, 29 Oktober 2018

Penulis

i
Daftar Isi

Kata Pengantar ..................................................................................... i

Daftar Isi ............................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ....................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah................................................................. 1

1.3 Tujuan Penulisan .................................................................. 1

BAB II TEORI KEPRIBADIAN ROTTER DAN MISCHEL ......... 3

2.1 Teori Kepribadian Rotter ...................................................... 3

2.2 Teori Kepribadaian Mischel ................................................. 2

1. Biografi Walter Mischel ....................................................... 2

2. Dinamika dan konsep Kepribadian Mischel ........................ 3

3. Pembentukan dan pertumbuhan kepribadian Mischel ......... 5

4. Eksperimen Mischel ............................................................. 9

BAB III PENUTUP .............................................................................. 13

3.1 Kesimpulan ........................................................................... 13

3.2 Saran ..................................................................................... 13

Daftar Pustaka ...................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


berbagai teori, salah satunya adalah teori belajar kognitif sosial.
Teori belajar kognitif sosial dari Julian Rotter dan Walter Mischel, masing-masing
berlandaskan asumsi bahwa Psikolgi kepribadian adalah ilmu yang mencakup upaya
sistematis untuk mengungkapkan dan menjelaskan pola teratur dalam pkiran,
perasaan, dan perilaku nyata seorang yang mempengaruhi kehidupannya sehari-hari.
Dalam Psikologi kepribadian mempelajari faktor kognitif membantu
membentuk bagaimana manusia akan bereaksi trhadap dorongan dan
lingkungannya. Kedua pakar teori tersebut menolak penjelasan Skinner
yangmenyatakan bahwa perilaku terbentuk oleh penguatan langsung, malah mereka
menyebutkan bahwa ekspektasi seseorang atas kejadian yang akan datang adalah
determinan utama dari suatu perilaku.

1.2 Rumusan masalah

1. Bagaimana biografi Jullian Rotter dan Walter Mischel?


2. Bagaimanakah dinamika dan konsep teori kepribadian Rotter dan Mischel?
3. Bagaimana pembentukan dan perkembangan teori Rotter dan Mischel?
4. Bagaimana psikopatologi teori kepribadian nya?
5. Bagaimana eksperimen teori Mischel

1.3 Tujuan penulisan


1. Menjelaskan Biografi Jullian Rotter dan Walter Mischel
2. Menjelaskan dinamika dan konsep teori kepribadaian Rotter dan Mischel
3. Menjelaskan pembentukan dan perkembangan kepribadian Rotter dan
Mischel
4. Menjelaskan bentuk eksperimen teori Mischel.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori Kepribadian Julian Rotter

2.2 Teori Kepribadian Walter Mischel

1. Biografi Walter Mischel

Walter Mischel, anak kedua dari keluarga kelas mengengah atas, dilahirkan
pada 22 Februari 1930, di Vienna. Ia dan saudara laki-lakinya, Theodore, yang
dikemudian hari menjadi pakar filsafat ilmiah, tumbuh di lingkungan yang nyaman
dan tidak jauh dari tempat tinggal Freud. Akan tetapi, ketenangan masa kecilnya
hancur saat Nazi melakukan invansi ke Austria, pada tahun 1938. Pada tahun yang
sama, keluarga Mischel pergi dari Austria dan pindah ke Ameika Serikat. Setelah
tinggal di berbagai negara bagian, mereka akhirnya menetap di Brooklyn – Walter
pun mengikuti sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di sana. Selanjutnya ia
pun berkuliah di New York University dan menjadi sangat tertarik dengan bidang
seni (melukis dan memahat) serta membagi waktunya antara seni, psikologi, dan
kehidupannya di Greenwich Village.

2
Kecenderungannya terhadap humanistik semakin diperkuat setelah membaca
Freud, pemikir-pemikir eksistensial, dan penyair-penyair hebat. Setelah
kelulusannya, ia kemudian memasuki program master dalam psikologi klinis di City
College of New York. Perkembangan Mischel sebagai psikolog kognitif sosial
semakin meningkat karena studi doktornya di Ohio State University dari tahun
1953-1956. Selanjutnya, Mischel mengajar selama 2 tahun di University of
Colorado. Ia kemudian bergabung dengan Departement of Social Relations di
Harvard, dan minatnya terhadap teori kepribadian dan asesmen semakin distimulasi
oleh diskusi-diskusinya dengan Gordon Allport, Henry Murray, David McClelland,
dan yang lainnya. Pada tahun 1962, Mischel pindah ke Stanford dan menjadi kolega
Albert Bandura. Setelah menghabiskan lebih dari 20 tahun di Stanford, Mischel
kembali ke New York, serta bergabung dengan fakultas psikologi di Colombia
University dan menetap di sana sebagai peneliti aktif dan terus mengembangkan
teori belajar kognitif sosialnya.

Kebanyakan penelitian yang dilakukan oleh Mischel merupakan usaha


kooperatif dengan sejumlah mahasiswa pascasarjana. Akhir-akhir ini, banyak dari
publikasinya yang merupakan kolaborasi dengan Yuichi Shoda, yang menerima
gelar Ph.D., dari Columbia pada tahun 1990 dan sekarang berada di University of
Washington. Buku Mischel yang paling populer, Introduction to Personality,
awalnya diterbitkan pada tahun 1971 dan menjalani revisi yang ke 7 pada tahun
2004, dengan Yuichi Shoda dan Ronald D. Smith sebagai rekanan penulis.

2. Dinamika dan konsep Kepribadian


1. Pendahuluan terhadap Teori kognitif affektif sistem Mischel

Walter Mischel (1973) pada awalnya menolak penjelasan teori sifat atas
perilaku. Malah ia mendukung gagasan bahwa aktivitas kognitif dan situasi spesifik
mempunyai peranan yang penting dalam menentukan perilaku. Akan tetapi, baru-
baru ini, Mischel dan koleganya (Mischel & Shoda, 1998, 1999; Mischel, Shoda, &
Mendoza-Denton, 2002) telah mengajukan suatu rekonsiliasi antara pendekatan
proses dinamis dengan pendekatan disposisi personal. Teori kepribadian kognitif-

3
afektif ini berpandangan bahwa perilaku berasal dari disposisi personal yang relatif
stabil dan proses kognitif-afektif yang beriteraksi dengan situasi tertentu.

2. Latar Belakang Sistem Kepribadian Cognitive-Affecctive

Beberapa pakar teori, seperti Hans Eysenck dan Gordon Allport yakin bahwa
kebanyakan perilaku adalah produk dari sifat kepribadian yang relatif stabil. Akan
tetapi, Walter Mischel menolak asumsi ini. Penelitian awalnya (Mischel, 1958,
1961a, 1961b) membuatnya percaya bahwa kebanyakan perilaku merupakan fungsi
dari situasi.

a) Paradoks Konsistensi

Mischel melihat bahwa orang awam maupun psikolog profesional meyakini


bahwa perilaku manusia relatif konsisten, tetapi bukti empiris menunjukkan banyak
variasi dalam perilaku – suatu situasi yang disebut Mischel sebagai paradoks
konsistensi. Bagi banyak orang, kesalahan tingkah laku yang umum, seperti
agresivitas, kejujuran, sifat kikir, sifat tepat waktu, dan sifat yang lain, dapat
menjelaskan alasan perilaku kita. Oleh karena itu, banyak orang berasumsi bahwa
sifat kepribadian yang umum akan timbul setelah suatu periode waktu dan juga dari
satu situasi ke situasi lainnya. Mischel berargumen bahwa, sebaik-baiknya, orang-
orang, hanya separuh yang benar. Ia berpendapat bahwa beberapa sifat dasar
memang bertahan seiring berjalannya waktu, tetapi hanya ada sedikit bukti yang
menujukkan bahwa sifat-sifat tersebut dapat digeneralisasikan dari satu situasi ke
situasi lainnya. Mischel sangat menentang usaha untuk mengatribusikan perilaku
pada sifat global ini. Usaha apa pun untuk mengklasifikasikan seseorang sebagai
ramah, ekstrover, pekerja keras, dan yang lainnnya, dapat menjadi salah satu cara
untuk mendefinisikan kepribadian, tetapi hal tersebut merupakan suatu taksonomi
yang steril, yang tidak mampu menjelaskan perilaku (Mischel, 1990, 1999, 2004;
Mischel dkk., 2002; Shoda & Mischel, 1998).

b) Interaksi Manusia-Situasi

4
Pada akhirnya, Mischel (1973, 2004) kemudian dapat melihat bahwa manusia
bukanlah suatu wadah kosong tanpa ada sifat kepribadian yang bertahan
didalamnya. Ia mengakui bahwa kebanyakan orang memiliki suatu konsistensi
dalam perilaku mereka, tetapi ia terus menekankan bahwa situasi mempunyai
dampak yang kuat pada perilaku. Penolakan Mischel untuk menggunakan sifat
sebagai prediktor perilaku tidak disadari oleh ketidakstabilan sementara dari sifat,
namun oleh kurangnya konsistensi dari satu situasi ke situasi lainnya. Sebagai
contoh, seorang siswa mungkin mempunyai sejarah sebagai orang yang rajin dalam
hal akademis, tetapi gagal untuk menjadi rajin dalam membersihkan apartemen atau
menjaga mobilnya dalam kondisi prima. Kurangnya kerajinan dalam membersihkan
mobilnya mungkin akibat dari informasi yang tidak memadai.

Disposisi personal hanya memengaruhi perilaku di bawah kondisi dan situasi


tertentu. Pandangan ini mengindikasikan bahwa perilaku tidak disebabkan oleh sifat
personal yang global, namun oleh persepsi manusia atau dirinya sendiri dalam
situasi tertentu. Sebagai contoh, seorang pemuda yang biasanya pemalu diantara
wanita muda, dapat berperilaku dalam bentuk yang terbuka dan ekstrover saat
bersama dengan pria atau wanita yang lebih tua. Mischel akan mengatakan bahwa ia
adalah keduanya – bergantung pada kondisi yang memengarui pemuda tersebut
dalam situasi tersebut.

3. Pertumbuhan dan perkembangan teori


A. Sistem Kepribadian Cognitive-Affective

Mischel dan Shoda (Mischel, 1999, 2004; Mischel & Ayduk, 2002; Shoda,
LeeTiernan & Mischel, 2002) percaya bahwa variasi dalam perilaku dapat
dikonseptualisasikan dalam kerangka berpikir berikut: apabila A, maka X; tetapi
apabila B, maka Y. Sebagai contoh, apabila Mark diprovokasi oleh istrinya, maka ia
akan bereaksi agresif. Akan tetapi, saat “apabila” berubah, begitu juga dengan
“maka”. Apabila Mark diprovokasi oleh atasannya, maka ia akan bereaksi dengan
kepatuhan. Perilaku Mark terlihat tidak konsisten karena ia bereaksi berbeda pada
stimulus yang sama. Akan tetapi, Mischel dan Shoda berargumen bahwa
diprovokasi oleh dua orang yang berbeda tidak menyusun stimulus yang sama.

5
Teori ini mengindikasikan bahwa perilaku adalah percabangan dari sifat
kepribadian global yang stabil. Apabila perilaku adalah hasil dari sifat global, maka
hanya ada sedikit variasi individual dalam perilaku. Dengan perkataan lain, Mark
akan bereaksi dalam bentuk yang sama terhadap provokasi, tanpa memperhatikan
situasi spesifik. Akan tetapi, pola variasi yang bertahan lama pada Mark
menunjukkan kurang memadainya teori situasi dari teori sifat.

a) Prediksi Perilaku

Mischel mengasumsikan bahwa kepribadian mempunyai stabilitas yang


bersifat sementara dan perilaku dapat bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya.
Ia juga mengasumsikan bahwa prediksi dari perilaku berada pada pengetahuan
mengenai bagaimana dan kapan berbagai unit kognitif-afektif diaktivasi. Unit ini
meliputi pengodean, ekspektasi, keyakinan, kompetensi, rancangan dan strategi
regulasi diri, serta afek dan tujuan.

b) Variabel Situasi

Mischel yakin bahwa pengaruh relatif dari variabel situasi dan kualitas pribadi
dapat ditentukan dengan mengobservasi keseragaman atau perbedaan dari reaksi
manusia dalam suatu situasi tertentu. Saat orang-orang yang berbeda berperilaku
dalam cara yang serupa – misalnya, saat menonton adegan emosional dalam film
yang menarik – variabel situasi lebih kuat daripada karakterisktik pribadi. Pada sisi
lain, kejadian yang terlihat sama, dapat menghasilkan reaksi yang sangat berbeda-
beda karena kualitas pribadi mengalahkan variabel situasional.

c) Unit Kognitif-Afektif

Apa yang dilakukan seseorang meliputi kualitas kognitif dan afektif, seperti
berpikir, membuat rencana, merasa, dan mengevaluasi; tidak hanya sekedar
tindakan.

Unit-unit kognitif-afektif meliputi semua aspek psikologis, sosial, dan


fisiologis dari manusia yang menyebabkan mereka berinteraksi dengan lingkungan
mereka dengan pola variasi yang relatif stabil. Unit-unit ini meliputi (1) strategi

6
encoding, (2) kompetensi dan strategi regulasi diri, (3) ekspektasi dan keyakinan, (4)
tujuan dan nilai, serta (5) respons afektif.

a. Strategi Encoding

Strategi encoding, yaitu cara manusia mengatagorisasikan informasi yang


diterima dari stimulus eksternal. Manusia menggunakan proses kognitif untuk
mengubah stimulus ini menjadi konstruk personal, termasuk konsep diri, pandangan
mereka termasuk orang lain, dan cara mereka melihat dunia. Orang yang berbeda
melakukan encoding yang berbeda terhadap peristiwa yang sama, yang menjelaskan
adanya perbedaan individual dalam konstruk personal. Selain itu, orang yang sama
dapat melakukan encoding yang berbeda atas peristiwa yang sama dalam situasi
yang berbeda.

b. Kompetensi dan Strategi Regulasi Diri

Keyakinan kita atas apa yang dapat kita lakukan berkaitan dengan
kompetensi kita. Mischel (1990) menggunakan istilah kompetensi untuk merujuk
pada beragam informasi yang kita dapatkan mengenai dunia dan hubungan kita
dengannya. Dengan mengobservasi perilaku kita sendiri dan perilaku orang lain, kita
belajar apa yang dapat dan tidak dapat kita lakukan dalam situasi tertentu.

Mischel yakin bahwa manusia menggunakan strategi regulasi diri untuk


mengontrol perilaku mereka melalui tujuan yang diberikan pada diri sendiri dan
konsekuensi yang dibuat diri sendiri. Manusia tidak membutuhkan penghargaan dan
hukuman yang bersifat eksternal untuk membentuk perilaku; mereka dapat
menentukan tujuan untuk diri mereka sendiri dan kemudiam memberikan
penghargaan atau kritik pada dirinya sendiri berkaitan dengan apakah perilaku
tersebut menggerakan mereka kearah tujuan-tujuan tersebut. Sistem regulasi diri
manusia membuat mereka mampu untuk merencanakan, memulai, dan
mempertahankan perilaku, bahkan ketika dukungan lemah atau tidak ada sama
sekali. Walaupun begitu, tujuan yang tidak tepat dan strategi yang tidak efektif dapat
meningkatkan kecemasan dan berakibat pada kegagalan.

7
c. Ekspektasi dan Keyakinan

Situasi apa pun akan menghasilkan banyak potensi perilaku, tetapi bagaimana
manusia berperilaku bergantung pada ekspektasi dan keyakinan spesifik mereka
mengenai konsekuensi dari masing-masing kemungkinan perilaku yang berbeda-
beda. Pengetahuan atas hipotesis atau keyakian seseorang mengenai hasil dari situasi
apa pun adalah prediktor yang lebih baik atas perilaku daripada pengetahuan
mengenai kemampuan mereka untuk melakukan perilaku (Mischel dkk., 2002).

Dari pengalaman sebelumnya dan dengan mengobservasi orang lain, manusia


belajar untuk melakukan perilaku-perilaku yang mereka harapkan akan
menghasilkan pencapaian yang paling bernilai secara subjektif.

Mischel juga mengidentifikasi tipe kedua dari ekspektasi – ekspektasi


stimulus-hasil, yang merujuk pada banyak kondisi stimulus yang memengaruhi
kemungkinan konsekuensi atau pola perilaku apa pun. Ekspektasi stimulus-hasil
membantu kita memprediksi apa kejadian yang mungkin terjadi, yang mengikuti
suatu stimulus tertentu. Mungkin contoh yang paling jelas adalah ekspektasi atas
petir yang keras dan tidak menyenangkan mengikuti penampakan dari kilat
(stimulus).

Mischel (1990) yakin bahwa satu alasan untuk ketidakkonsistenan perilaku


adalah pada ketidakmampuan kita untuk memprediksi perilaku orang lain. Kita
hanya mempunyai sedikit keraguan salam mengatribusikan sifat kepribadian pada
orang lain, namun saat kita melihat bahwa perilaku mereka tidak konsisten dengan
sifat-sifat ini, kita menjadi kurang yakin mengenai bagaimana harus bereaksi pada
mereka. Perilaku kita akan konsisten dari situasi satu ke situasi lainnya, sampai pada
tahap ketika ekspektasi kita tidak berubah. Permasalahannya, ekspektasi kita tidak
bersifat konstan; yaitu berubah karena kita dapat mendiskriminasikan dan
mengevaluasi berbagai potensi penguatan dalam situasi tertentu (Mischel & Ayduk,
2002).

8
d. Tujuan dan Nilai

Manusia tidak bereaksi secara pasif pada situasi, tetapi secara aktif dan terarah
pada tujuan-tujuan. Mereka merumuskan tujuan, merancang rencana untuk
mencapai tujuan, dan kemudian menciptakan situasi mereka sendiri. Tujuan, nilai,
dan preferensi subjektif dari orang-orang merepresentasikan unit kognitif-afektif
yang ke-empat. Nilai, tujuan, dan minat, bersama dengan kompetensi, adalah
beberapa dari unit kognitif-afektif yang bersifat stabil.

e. Respons Afektif

Respons afektif meliputi emosi, perasaan, dan reaksi fisiologis. Unit-unit


kognitif-afektif yang saling berkaitan, berkontribusi pada perilaku saat berinteraksi
dengan sifat kepribadian yang stabil dan lingkungan yang reseptif. Aspek-aspek
yang terpenting dari variabel ini meliputi (1) strategi encoding, atau bagaimana
orang memandang atau mengatagorisasikan suatu kejadian; (2) kompetensi dan
strategi regulasi diri, atau apa yang dapat orang lakukan serta strategi dan rencana
mereka untuk menghasilkan perilaku yang diinginkan; (3) keyakian mengenai suatu
situasi serta ekspektasi perilaku-hasil dan stimulus-hasil; (4) tujuan, nilai, dan
preferensi yang subjektif, yang menentukan sebagian dari perhatian selektif terhadap
suatu kejadian ; serta (5) respons afektif, termasuk perasaan dan emosi, dan juga
afek yang menyertai reaksi fisiologis.

4. Eksperimen dan Aplikasi Teori Walter Mischel

Marshmallow experiment
Di akhir tahun 1960an, Walter Mischel, seorang profesor ilmu psikologi di
Stanford University melakukan sebuah percobaan sederhana. Awalnya, dia hanya
ingin menyelidiki proses mental yang membuat sebagian orang mampu mengontrol
diri mereka, sementara lainnya menyerah dengan cepat. Anak-anak yang ikut dalam
eksperimennya diundang untuk masuk satu per satu ke sebuah ruangan di Bing
Nursery School, yang terletak di kampus Stanford University. Ruangan tersebut
tidak terlalu besar, dan hanya terdapat sebuah meja dan kursi di dalamnya. Di atas

9
meja tersebut terdapat berbagai makanan kesukaan anak kecil: kembang
gula marshmallow, biskuit, dan pretzel.
Anak yang masuk kemudian akan diminta untuk duduk dan dipersilakan
memilih salah satu dari makanan-makanan kecil tersebut. Seorang periset kemudian
mengajukan tawaran: Anak tersebut boleh langsung mengambil pilihan mereka; atau
jika mereka mau menunggu periset tersebut yang akan keluar selama beberapa
menit, anak tersebut boleh mendapatkan dua jenis makanan kesukaan mereka. Bila
mereka tidak sabar menunggu dan ingin segera menikmati makanan kecil tersebut,
mereka boleh membunyikan lonceng yang ditaruh di atas meja, dan periset tersebut
akan langsung masuk untuk memberikan anak satu jenis jajanan saja. Setelah anak-
anak tersebut mengerti, periset tersebut kemudian meninggalkan ruangan sekitar
lima belas menit.
Eksperimen tersebut dilakukan selama beberapa tahun. Dalam upaya menahan
godaan mereka untuk mendapatkan tawaran yang nilainya dua kali lebih banyak,
sebagian anak-anak menutup mata mereka, bersembunyi di kolong meja, atau
melihat ke arah lain. Yang lainnya menendang-nendang meja, atau bermain-main
dengan rambut mereka. Salah seorang anak terlihat melirik sekeliling ruangan untuk
memastikan tidak ada orang yang melihat. Kemudian dia mengambil sebuah Oreo,
membuka bagian tengahnya, menjilati krim putihnya, dan kemudian dengan
mengembalikan biskuit tersebut ke tempat semua — dengan wajah penuh
kemenangan. Dan tentu saja, beberapa anak menyerah dan tanpa membunyikan
lonceng, langsung menyantap makanan kesukaan mereka.
Setelah menerbitkan beberapa makalah dari percobaan di atas, Mischel
berpindah ke penelitian-penelitian lain.
Sesekali ketika Mischel berbincang-bincang dengan tiga orang anak
perempuannya yang juga pernah bersekolah di Bing, dia menanyakan kabar teman-
teman sekelas mereka. Bagaimana kabar Jane? Bagaimana kabar Eric? Dari
jawaban-jawaban para putrinya, Mischel mulai menyadari adanya hubungan antara
prestasi akademik teman-teman anaknya setelah remaja dengan kemampuan mereka
menahan diri selama eksperimen di atas. Dia meminta putri-putrinya memberikan
skala 0-5 untuk menilai prestasi akademik teman-teman mereka, dan hasil tersebut

10
kemudian dibandingkan dengan data pada percobaan tersebut. Begitu dia
menemukan adanya korelasi yang menarik antara kemampuan kontrol diri dan
prestasi akademik anak-anak tersebut, dia segera memutuskan kembali meneliti
data-data percobaan tersebut dengan serius.
Di tahun 1981, ketika anak-anak tersebut sudah masuk usia sekolah
menengah, Mischel mengirimkan kuisioner kepada para orang tua dan guru dari 653
anak-anak yang pernah mengikuti eksperimen di Bing tersebut. Kuisioner tersebut
memuat pertanyaan-pertanyaan tentang semua perilaku yang bisa dipikirkannya,
dari kemampuan mereka membuat rencana, atau berpikir ke depan, kemampuan
mengatasi masalah atau konflik, atau kemampuan antar personal mereka. Dia juga
meminta hasil ujian SAT mereka (SAT adalah ujian standar di Amerika untuk
masuk ke perguruan tinggi).
Ketika data-data masuk dan Mischel mulai menganalisis hasilnya, dia
menemukan anak-anak yang tidak sabar, yang tidak bisa menahan diri mereka dalam
percobaan tersebut, lebih mungkin menghadapi masalah tingkah laku, baik di
sekolah atau pun di rumah. Mereka juga mendapatkan nilai ujian yang lebih rendah,
sulit berkonsentrasi dan memiliki lebih sedikit teman. Mereka yang bisa bertahan
selama 15 menit dalam ruangan tersebut tanpa menyentuh makanan kesukaan
mereka, secara rata-rata berhasil meraih nilai SAT 210 poin lebih tinggi dari mereka
yang hanya bertahan 30 detik. Ketika mereka berusia 30 tahun, anak-anak yang
dulunya tidak bisa mengontrol diri mereka memiliki berat badan yang lebih tinggi,
dan lebih mungkin terlibat dalam obat bius.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpualan
3.2 Saran

12
DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.


Feist Jess & Feist J. Gregory. (2008). Theories of Personalits. Terj. Santoso, Yudi,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hergenhahn, B.R., Olson, Matthew H. (2008). Theories of Learning (Teori Belajar), edisi
ke-7. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.s
Pervin, L.A. & John O.P. (2005). Personality : Theory and Research. New York: John
Wiley & Sons, Inc.

13