Anda di halaman 1dari 120

1.

Obesitas
a. Definisi Obesitas
Obesitas didefinisikan sebagai kandungan lemak berlebih pada
jaringan adiposa. Secara fisiologis, obesitas didefinisikan sebagai suatu
keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan di
jaringan adiposa sehingga dapat mengganggu kesehatan (Sugondo, 2009).
Obesitas terjadi jika dalam suatu periode waktu, lebih banyak kilokalori yang
masuk melalui makanan dari pada yang digunakan untuk menunjang
kebutuhan energi tubuh, dengan kelebihan energi tersebut disimpan sebagai
trigliserida di jaringan lemak (Sherwood, 2012).
b. Penyebab Obesitas
Obesitas terjadi jika dalam suatu periode waktu, lebih banyak
kilokalori yang masuk melalui makanan daripada yang digunakan untuk
menunjang kebutuhan energi tubuh, dengan kelebihan energi tersebut
disimpan sebagai trigliserida di jaringan lemak (Sherwood, 2012). Menurut
Fauci, et al., (2009), obesitas dapat disebabkan oleh peningkatan masukan
energi, penurunan pengeluaran energi, atau kombinasi keduanya. Obesitas
disebabkan oleh banyak faktor, antara lain genetik, lingkungan, psikis,
kesehatan, obat-obatan, perkembangan dan aktivitas fisik (Sherwood, 2012).
1. Faktor genetik
Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki
penyebab genetik. Selain faktor genetik pada keluarga, gaya hidup dan
kebiasaan mengkonsumsi makanan tertentu dapat mendorong terjadinya
obesitas. Penelitian menunjukkan bahwa rerata faktor genetik
memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang
(Farida, 2009).
2. Faktor lingkungan
Lingkungan, termasuk perilaku atau gaya hidup juga memegang
peranan yang cukup berarti terhadap kejadian obesitas (Farida, 2009).
3. Faktor psikis
Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan
makan. Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang
negatif (Farida, 2009). Ada dua pola makan abnormal yang dapat
menjadi penyebab obesitas, yaitu makan dalam jumlah sangat banyak
dan makan di malam hari (Shils, 2006).
4. Faktor kesehatan
Terdapat beberapa kelainan kongenital dan kelainan
neuroendokrin yang dapat menyebabkan obesitas, diantaranya adalah
Down Syndrome, Cushing Syndrome, kelainan hipotalamus, hipotiroid,
dan polycystic ovary syndrome (Shils, 2006).
5. Faktor obat-obatan
Obat-obatan merupakan sumber penyebab signifikan dari
terjadinya overweight dan obesitas. Obat-obat tersebut diantaranya
adalah golongan steroid, antidiabetik, antihistamin, antihipertensi,
protease inhibitor (Shils, 2006). Penggunaan obat antidiabetes (insulin,
sulfonylurea, thiazolidinepines), glukokortikoid, agen psikotropik, mood
stabilizers (lithium), antidepresan (tricyclics, monoamine oxidase
inibitors, paroxetine, mirtazapine) dapat menimbulkan penambahan
berat badan. Selain itu, Insulin- secreting tumors juga dapat menimbulkan
keinginan makan berlebihan sehingga menimbulkan obesitas (Fauci, et
al., 2009).
6. Faktor perkembangan
Penambahan ukuran, jumlah sel-sel lemak, atau keduanya,
terutama yang terjadi pada pada penderita di masa kanak-kanaknya dapat
memiliki sel lemak sampai lima kali lebih banyak dibandingkan orang
yang berat badannya normal (Farida, 2009).
7. Aktivitas fisik
Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu
penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas pada
masyarakat. Orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori.
Seseorang yang cenderung mengonsumsi makanan kaya lemak dan tidak
melakukan aktivitas fisik yang seimbang akan mengalami obesitas
(Farida, 2009).

c. Patofisiologi Obesitas
Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan masukan dan keluaran
kalori dari tubuh serta penurunan aktifitas fisik (sedentary life style) yang
menyebabkan penumpukan lemak di sejumlah bagian tubuh (Rosen, 2008).
Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa pengontrolan nafsu makan dan
tingkat kekenyangan seseorang diatur oleh mekanisme neural dan humoral
(neurohumoral) yang dipengaruhi oleh genetik, nutrisi,lingkungan, dan sinyal
psikologis. Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus
melalui 3 proses fisiologis, yaitu pengendalian rasa lapar dan kenyang,
mempengaruhi laju pengeluaran energi dan regulasi sekresi hormon. Proses
dalam pengaturan penyimpanan energi ini terjadi melalui sinyal-sinyal eferen
(yang berpusat di hipotalamus) setelah mendapatkan sinyal aferen dari perifer
(jaringan adiposa, usus dan jaringan otot).
d. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis obesitas secara umum, antara lain :
 Wajah bulat dengan pipi tembem dan dagu rangkap
 Leher relatif pendek
 Dada membusung dengan payudara membesar
 Perut membuncit (pendulous abdomen) dan striae abdomen
 Pada anak laki-laki : Burried penis, gynaecomastia
 Pubertas dinigenu valgum (tungkai berbentuk X) dengan kedua pangkal
paha bagian dalam saling menempel dan bergesekan yang dapat
menyebabkan laserasi kulit (Sugondo, 2009).

Tanaman yang dapat mengatasi obesitas


1. Kelapa
 Klasifikasi Tanaman Kelapa
 Kingdom: Plantae
 Subkingdom: Tracheobionta
 Super divisi : Spermatophyta
 Divisi: Magnoliophyta
 Kelas : Liliopsida
 Subkelas: Arecidae
 Ordo: Arecales
 Famili : Arecaceae
 Genus: Cocos
 Spesies : Cocos nucifera L.

Kelapa (Cocos nucifera L) merupakan salah satu hasil pertanian Indonesia


yang cukup potensial. Hampir semua bagian dari tanaman tersebut dapat
dimanfaatkan. Banyak kegunaan yang dapat diperoleh dari kelapa dan salah satu
cara untuk memanfaatkan buah kelapa adalah mengolahnya menjadi minyak
makan atau minyak goreng. Produk kelapa yang paling berharga adalah minyak
kelapa, yang dapat diperoleh dari daging buah kelapa segar atau dari kopra
(Suhardiyono, 1995).
Kelapa (coconut) dikenal dengan berbagai sebutan seperti Nux indica, al
djanz al kindi, ganz ganz, nargil, narle, tenga, temuai dan pohon kehidupan. Buah
kelapa (cocos nucifera) termasuk famili palmae dari genus cocos. Pohon kelapa
mempunyai tinggi ratarata 12,3 meter dan sejak ditanam sampai berbuah hingga
siap dipetik pohon kelapa membutuhkan waktu 12 bulan (Suhardiyono, 1993).
Pada dasarnya dikenal dua varietas kelapa, yaitu varietas Nana yang
umum disebut kelapa genjah dan varietas Typica yang umum disebut kelapa
dalam. Kelapa genjah berdasarkan sifatnya dibagi 5 yaitu : kelapa gading, kelapa
raja, kelapa puyuh, kelapa raja malabr, kelapa hias. Kelapa dalam berdasarkan
sifatnya dibagi 6 yaitu : kelapa hijau, kelapa merah, kelapa manis, kelapa bali,
kelapa kopyor, kelapa lilin (Wahyuni, Mita, Ir., 2000). Buah kelapa terdiri dari
bagianbagian seperti:
- Epicarp (Kulit Luar), Yaitu kulit bagian luar yang berwarna hijau, kuning, atau
jingga permukaannya licin, agak keras dan tebalnya 0,14 mm.
- Mesocarp (Sabut), Yaitu kulit bagian tengah yang disebut serabut terdiri dari
bagian berserat tebalnya 3 5 mm.
- Endocarp (Tempurung), Yaitu bagian tempurung yang keras sekali tebalnya 3
5 mm, bagian dalam melekat pada kulit luar biji.
- Testa ( Kulit Daging Buah ), Yaitu bagian dari warna kuning sampai coklat.
- Endosperm (Daging Buah ), Yaitu bagian yang berwarna putih dan lunak,
sering disebut daging kelapa yang tebalnya 8 10 mm.
- Air Kelapa, Yaitu bagian yang berasa manis, mengandung mineral 4%, gula
2%, dan air.
- Lembaga Yaitu bakal tanaman setelah buah Daging buah kelapa yang sudah
masak dapat dijadikan kopra dan bahan makanan, daging buah merupakan
sumber protein yang penting dan mudah dicerna. Komposisi kimia daging
buah kelapa ditentukan oleh umur buah. Pada tabel 2.1 dapat dilihat komposisi
kimia buah kelapa pada berbagai tingkat kematangan.

Buah Kelapa
Satu pohon kelapa dapat berbuah mulai dari 10 hingga 13 kali dalam
setahun. Buah kelapa tumbuh dalam rumpun, bisa mencapai 12 buah per
rumpun. Daging buah kelapa merupakan bagian yang paling penting dari
komoditi asal pohon kelapa. Daging buah merupakan lapisan tebal berwarna
putih. Bagian ini mengandung berbagai zat gizi. Kandungan zat gizi tersebut
beragam sesuai dengan tingkat kematangan buah.
Selama perkembangannya, buah kelapa secara kontinyu mengalami
kenaikan berat. Ukuran berat maksimum tercapai pada bulan ketujuh. Pada
saat itulah jumlah air kelapa mencapai maksimal. Setelah periode tersebut, air
kelapa berkurang jumlahnya dan daging kelapa mengalami penebalan.
Penebalan daging mencapai puncaknya pada bulan ke9. Di atas bulan ke10,
kelapa dapat dikatakan tua. Pada periode tersebut, kadar air semakin
berkurang. Itulah yang menyebabkan kelapa tua akan berbunyi jika dikocok-
kocok.
Buah kelapa tua terdiri dari empat komponen utama, yaitu: 35 persen
sabut, 12 persen tempurung, 28 persen daging buah, dan 25 persen air kelapa.
Daging buah tua merupakan bahan sumber minyak nabati (kandungan minyak
30 persen).
Perbedaan mendasar antara daging buah kelapa muda dan tua adalah
kandungan minyaknya. Kelapa muda memiliki rasio kadar air dan minyak
yang besar. Kelapa disebut tua jika rasio kadar air dan minyaknya optimum
untuk menghasilkan santan dalam jumlah terbanyak. Sebaliknya, bila buah
kelapa terlalu tua, kadar airnya akan semakin berkurang. Pada kondisi
tersebut, hasil santan yang diperoleh menjadi sedikit. Sumber
: www.situshijau.co.id
Tabel 2.1. Komposisi Kimia Daging Pada Berbagai Tingkat Kematangan

Analisa Buah Setengah


Buah Muda Buah Tua
( dalam 100 gr ) Tua

Kalori 68 kal 180 kal 359 kal


Protein 1 gr 4 gr 3,4 gr
Lemak 0,9 gr 13,0 gr 34,7 gr
Karbohidrat 14 gr 10 gr 14 gr
Kalsium 17 mg 10 mg 21 mg
Fosfor 30 mg 8 mg 21 mg
Besi 1 mg 1,3 mg 2 mg
Aktivitas vit. A 0,01 IU 10,0 IU 0,01 IU
Thiamin 0,0 mg 0,5 ng 0,1 mg
Asam Askorbat 4,0 mg 4,0 mg 2,0 mg
Air 83,3 gr 70 gr 46,9 gr

Bagian yang dapat dimakan 53,0 gr 53,0 gr 53,0 gr

Sumber : Thieme, J. G. ( 1968 ) dikutip dari Ketaren, 1986

 Minyak Kelapa
Minyak kelapa berdasarkan kandungan asam lemak digolongkan ke
dalam minyak asam laurat, karena kandungan asam lauratnya paling besar
jika dibandingkan dengan asam lemak lainnya. Berdasarkan tingkat
ketidakjenuhannya yang dinyatakan dengan bilangan Iod (iodine value),
maka minyak kelapa dapat dimasukkan ke dalam golongan non drying oils,
karena bilangan iod minyak tersebut berkisar antara 7,510,5.
Komposisi asam lemak minyak kelapa dapat dilihat pada tabel 2.2.
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa asam lemak jenuh minyak kelapa
kurang dari 90 persen. Minyak kelapa mengandung 84 persen trigliserida
dengan tiga molekul asam lemak jenuh, 12 persen trigliserida dengan dua
asam lemak jenuh dan 4 persen trigliserida dengan satu asam lemak jenuh.

 Minyak Kelapa Murni


Minyak kelapa murni atau bahasa ilmiahnya virgin coconut oil
adalah minyak perawan yang berasal dari sari pati kelapa, diproses secara
higienis tanpa sentuhan api secara langsung dan bahan kimia
tambahan. Dilihat dari warnanya, minyak kelapa murni jauh lebih bening
seperti air mineral. Selain itu kadar air dan asam lemak bebasnya kecil, serta
kandungan asam lauratnya tinggi. Minyak kelapa murni mengandung anti
oksidan bebas sehingga mampu menjaga kekebalan tubuh.
Proses pembuatan minyak kelapa murni ini sama sekali tidak
menggunakan zat kimia organis dan pelarut minyak. Dari proses seperti ini,
rasa minyak yang dihasilkan lembut dengan bau khas kelapa yang unik. Jika
minyak membeku, warna minyak kelapa ini putih murni. Sedangkan jika
cair, VCO tidak berwarna ( bening ). Minyak kelapa murni tidak mudah
tengik karena kandungan asam lemak jenuhnya tinggi sehingga proses
oksidasi tidak mudah terjadi. Namun, bila kualitas VCO rendah, proses
ketengikan akan berjalan lebih awal. Hal ini disebabkan oleh pengaruh
oksigen, keberadaan air, dan mikroba yang akan mengurangi kandungan
asam lemak yang berada dalam VCO menjadi komponen lain.
Secara fisik, VCO harus berwarna jernih. Hal ini menandakan bahwa
di dalamnya tidak tercampur oleh bahan dan kotoran lain. Apabila
didalamnya masih terdapat kandungan air, biasanya akan ada gumpalan
berwarna putih. Keberadaan air ini akan mempercepat proses ketengikan.
Selain itu, gumpalan tersebut kemungkinan juga merupakan komponen
blondo yang tidak tersaring semuanya. Kontaminasi seperti ini secara
langsung akan berpengaruh terhadap kualitas VCO.:
Minyak kelapa murni (VCO) mempunyai banyak manfaat terutama
dalam bidang kesehatan (Rindengan, B., dan Hengky, N., 2004,),
diantaranya :
- Merupakan antibakteri ,antivirus , antijamur dan antiprotozoa alamiah
- Membantu meredakan gejala gejala dan mengurangi resiko kesehatan
yang dihubungkan dengan diabetes.
- Membantu melindungi diri terhadap serangan penyakit osteoporosis.
- Membantu mencegah tekanan darah tinggi.
- Membantu mencegah penyakit liver.
- Menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
- Membantu mencegah penyakit kanker.
- Membantu menurunkan berat badan.
- Menjaga stamina tubuh.
- Memelihara kesehatan kulit dan rambut.

 Prinsip Pembuatan Minyak Kelapa Murni (Setiaji, B dan Surip, P, 2006)


Pembuatan minyak kelapa murni dengan sentrifugasi
Sentrifugasi merupakan salah satu pembuatan VCO dengan cara
mekanik. Pembuatan VCO dengan sentrifugasi juga dikelompokan menjadi
tiga, yaitu : pembuatan santan, pembuatan VCO serta penyaringan. Pada cara
ini krim dimasukan dalam tabung ke dalam sentrifuse. Pemutusan ikatan
lemak protein pada santan dilakukan dengan pemutaran (pemusingan), yaitu
dengan gaya sentrifugal karena berat jenis minyak dan air berbeda maka
setelah dilakukan sentrifugasi keduanya akan terpisah dengan sendirinya.
Berat jenis minyak lebih ringan dibanding air sehingga minyak akan
terkumpul pada lapisan atas.
Pembuatan VCO dengan sentrifugasi memiliki kelebihan dan kekurangan :
Kelebihan
- Berwarna jernih dan berbau khas minyak kelapa.
- Daya simpannya lama, sekitar 10 tahun.
- Proses pambuatannya sangat cepat, hanya membutuhkan waktu sekitar 15
menit.
- Kandungan asam lemak rantai sedang tidak mengalami denaturasi,
demikian juga dengan kandungan antioksidannya.
Kekurangan
- Membutuhkan biaya yang mahal untuk alat sentrifugenya.
- Membutuhkan tenaga listrik yang cukup tinggi sehingga bisa menambah
biaya produksi.
 Pemanfaatan VCO Sebagai Alternatif Untuk Mengatasi Obesitas
Kegemukan dan obesitas sekarang mudah terlihat pada anak-anak
golongan menengah ke atas yang tinggal di kota-kota besar yang keranjingan
menyantap junkfoods, ayam goreng, kentang goreng, pop-corn, pizza. donat,
Oreo, kreker, biskuit, snacks dll yang digoreng dan atau diolah dengan
minyak sayur, margarin dan shortening.Kejadian ini sudah melanda di
Amerika Serikat, dan tidak kurang dari 60% golongan anak dan remaja
mengalami obesitas dan morbid obesitas. Obat-obat patent (allopathic) tidak
bisa menyembuhkan keracunan lemak trans atau free radicals, malah
sebaliknya lemak trans bisa membunuh kita (Drugs do not cure disease,
Yokie Newa, 1997 dan Free Radicals invite death, Yokie Newa 1999).
Sebaliknya menggoreng dan atau mengolah makanan dengan minyak kelapa
adalah yang paling aman dan paling sehat, karena hanya menghasilkan
energi, bukan kolesterol dan jaringan adiposa dan tidak pula menghasilkan
lemak trans atau radikal bebas.

 Alasan VCO dapat menurunkan berat badan


Seorang pakar gizi dari Universitas Indonesia Prof. Dr. Walujo
Soerjodibroto MSc,PhD,SpG menguraikan bahwa minyak kelapa murni akan
memberi energi dengan cepat, sehingga jaringan tubuh akan cepat merasa
kenyang. Proses pembakaran akan menyebabkan suhu badan orang yang
mengkonsumsi minyak kelapa murni menjadi lebih tinggi ketimbang yang
tidak. Kondisi akan menyebabkan tubuh akan memerlukan energi lebih
banyak yang didapatkan dari cadangan lemak. Dalam beberapa saat
setelahnya refleksi rasa lapar dan kenyang akan menjadi normal. bahkan
asupan makanan sedikit saja, tubuh sudah merasa kenyang. Minyak kelapa
murni yang mengandung asam lemak rantai sedang ini lebih dikenal dengan
nama MCFA, sebuah senyawa yang gampang diserap oleh tubuh karena
molekulnya yang relatif kecil dibandingkan dengan asam lemak lainnya.
MCFA memiliki sifat metabolisme yang hampir sama dengan
karbohidrat,namun tidak menaikkan kadar gula darah. MCFA mudah dicerna
oleh usus sehingga mendorong pembakaran LCFA (long chain fatty
acid)/penyebab obesitas seperti yang terkandung dalam minyak sayur, yang
pada akhirnya akan membantu penyusutan bobot badan. Perubahan dari
minyak yang langsung menjadi energi akan membuat tubuh merasa kenyang
dan memiliki energi yang cukup untuk beraktivitas. Minyak kelapa murni atau
VCO ini akan mampu mendorong tubuh untuk melakukan pembakaran kalori
dan lemak dari dalam tubuh yang sifatnya tidak memaksa sehingga prosesnya
pun tidak drastis sehingga sangat aman. Minyak kelapa murni sangat baik
untuk melangsingkan tubuh sebab tidak memiliki kandungan lemak seperti
dalam mentega, atau daging. Dapat langsung diserap dalam tubuh tanpa
tersimpan menjadi energi cadangan yang bisa menjadi lemak menumpuk
ketika tidak terpakai.
(Sumber http://www.infopeluangusaharumahan.com/cara-minum-vco untuk-
diet/)
2. Lidah Buaya (Aloe Vera)
Klasifikasi Lidah Buaya
 Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
 Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
 Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
 Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
 Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
 Ordo : Asparagales
 Famili : Asphodelaceae
 Genus : Aloe
 Spesies : Aloe vera L.
Aloe vera ekstrak digunakan untuk mengurangi kadar lipid lemak
darah, trigliserida dan kolcsterol, karena dapat memecah fat globudes
sehingga ekstnik lidah buaya dapat digunakan untuk mengurangi obesitas.
Lidah buaya juga dapat menurunkan kadar glukosa darah.

Lidah buaya dapat menurunkan berat badan, karena (1) Lidah buaya kaya
akan vitamin, klorofil, asam amino, sehingga merupakan bahan makanan
untuk diet yang ideal. (2) Lidah buaya mengandung selulosa, kaya akan gel,
sehingga tidak cepat merasa lapar dan mencegah makan berlebihan, (3) Lidah
buaya dapat meningkatkan motilitas saluran pencernaan, dan memperbaiki
pencenaan, penyerapan, dan ekskresi sehingga proses pencernaannya dapat
berjalan dengan normal, (4) Lidah buaya dapat mcningkatkan metabolisme
tubuh, khususnya, metabolisme lemak, menghilangkan kelebihan lemak, dan
(5) Lidah buaya memiliki efek diuretik.
Lidah buaya juga mengandung Glikosida, Flavonoid, dan Saponin
(Andriani,Ary 2011). Flavonoid dipercaya sebagai senyawa yang diduga
mempunyai peranan antiobesitas dengam mekanisme melalui penghambatan
aktivitas enzim lipase pankreas (Shimura et al. 1992 dalam Ruiz et al. 2005),
yang menghidrolisis lemak menjadi monogliserida dan asam lemak (Rahardjo
et al. 2005). Monogliserida ini selanjutnya akan diserap oleh usus halus yang
akan disimpan sebagai cadangan lemak dalam jaringan adiposa.
Rumus kimia dari aloe vera :

3. Caffeine
Klasifikasi Tanaman Kopi
 Kindom : Plantae
 Divisio : Spermatophita
 Sub-divisio : Angeospermae
 Kelas : Dicotiledónea
 Ordo : Rubiales
 Family : Rubiaceae
 Genus : Coffea
 Species : Coffea Sp

Caffeine menstimulasi pemecahan lemak melalui reseptor simpatis dan


sering ditambahkan path obat-obat untuk menurunkan berat badan untuk efek
termogeniknya. Penelitian klinik mengenai caffeine biasanya dikombinasikan
dengan agen lain seperti ephedra sehingga penilai efek caffeine secara tunggal
menjadi sulit. FDA mengizinkan penggunaan caffeine sebagai agen tambahan
untuk penurun berat badan yang tidak diresepkan, karena pembuktian
efektivitasnya belum terbukti.
Kafein bekerja sebagai antiobesitas dengan menstimulasi sistem saraf
pusat simpatis yang dapat menekan rasa lapar dan memperlambat rasa
kenyang sehingga terjadi penekanan pada asupan makanan (Belza et al., 2007;
Diepvens et al., 2007; Hursel and WesterterpPlantenga, 2013; Westerterp-
Plantenga, 2010). Senyawa dalam white tea seperti derivat flavan-3-ol,
katekin, epigallocatechin gallate (EGCG), dan strictinin sebagian besar
golongan fenolik berpotensi sebagai inhibitor enzim lipase (Gondoin et al.,
2010; Rahim et al., 2015). Senyawa EGCG dapat menghambat enzim lipase
dengan nilai IC50 sebesar 7,5 µmol/L yang diuji secara in vitro (Grove et al.,
2012). Katekin bekerja sebagai antihiperkolesterolemia dengan proses
mengikat kolesterol atau asam empedu dan menghambat penyerapan di usus
(Matsui et al., 2006).
Rumus kimia kopi :

Contoh sediaan

Aturan Pakai : 3 kantong sehari. Rendam 1 kantong teh dalam air


mendidih sewaktu 5-10 menit. Tiap-tiap bungkus bisa
diseduh jumlahnya 2-3 kali.

4. RED PEPPER (Capsicum)


Klasifikasi Red Pepper
 Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
 Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
 Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
 Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
 Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
 Sub Kelas : Asteridae
 Ordo : Solanales
 Famili : Solanaceae (suku terung-terungan)
 Genus : Capsicum
 Spesies : Capsicum annum L.
Ekstrak etanol biji hot pepper (Capsicum annuum L.) memiliki
aktivitas anti-adipogenesis. Pemberian ekstrak etanol biji hot pepper
(Capsicum annuum L.) dengan konsentrasi 200, 100, dan 50 ig/mL
mengurangi intesitas warna adiposit dibandingkan kontrol, yang berarti ada
kecenderungan pengurangan akumulasi adiposit. Pemberian ekstrak etanol biji
hot pepper (Capsicum annuum L.) akan menurunkan aktivitas
glycerol-3-phosphate dehydrogenase secara signifikan. Ekspresi C/EBP4,
C/EBP4, dan PPARA, suatu adipogenic transcription factors yang penting,
berkurang secara signifikan dengan pemberian ekstrak etanol biji hot pepper
pada hari ke 0- ke 6 jika dbandingan dengan kontrol. Hal ini mengindikasikan
pemberian ekstrak etanol biji hot pepper memiliki efek kesehatan, karena
mempunyai aktivitas anti obesitas yang baik.”
5. Ephedra
Klasifikasi Ephedra
 Kingdom : Plantae
 Division : Gnetophyta
 Class : Gnetopsida
 Order : Ephedrales
 Family : Ephedraceae
 Genus : Ephedra
 Species : E. sinica
Ephedra (Ephedra sinica) mengandung amfetamin substansi yang
mirip efedrin dan merupakan bentuk alamiah dari phenyl propanolamine
(PPA). Ephedrine yang dikombinasikan dengan caffeine dan aspirin
menurunkan berat-badan.”! Ephedra merupakan agen penekan nafsu makan.
Penggunaan Ephedra sebaiknya tidak digunakan pada penderita yang
mengalami ansietas, glaukoma, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan
insomnia, demikian juga jangan diberikan pada penderita yang sedang
mengkonsumsi monoamine oxidase (MAO) inhibitor, suatu obat antidepresi.
Pemberian Ephedra dosis tinggi dapat menimbulkan kematian, oleh karena itu
penggunaannya harus hati-hati.
6. Cassia Senna
Klasifikasi Senna
 Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
 Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
 Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
 Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
 Kelas : Magnoliopsida (berleping dua/dikotil)
 Sub Kelas : Rosidae
 Ordo : Fabales
 Famili : Fabaceae (suku polong-polongan)
 Genus : Cassia
 Spesies : Cassia angustifolia Vahi.
Penelitian memperlihatkan bahwa pemberian ekstrak daun Cassia
fistula dan Senna alata efektif menurunkan berat badan dan berat lemak
parametrial pada hewan coba mencit secara signifikan. Hal ini diduga
merupakan efek tannin yang terkandung dalam daun Cassia fistula dan Senna
alata. Tannin yang terkandung dalam ekstrak memiliki potensi menghambat
aktivitas lipase, sehingga dapat menurunkan lemak tubuh. Selain itu, tannin
juga memiliki potensi sebagai agen hipolipidemik dan
antihiperkolesterolemia. Baik daun Cassia fistula maupun daun Senna alata
tampaknya memiliki potensi sebagai agen anti obesitas dan agen
hipolipidemik.”
7. BANABA (Lagerstroemia speciosa Linn)
Klasifikasi BANABA
 Kingdom : Plantae
 Divisi : Magnoliophyta
 Kelas : Magnoliopsida
 Ordo : Myrtales
 Famili : Lythraceae
 Genus : Lagerstroemia Linnaeus
Banaba telah diteliti untuk penggunaannya sebagai terapi diabetes
Banaba memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar glukosa darah karena
memiliki kandungan corrosolic acid. Penelitian ekstrak Lagerstroemia
speciosa dengan hewan coba mencit memperlihatkan adanya penurunan kadar
glukosa dan penurunan hemoglobin Alc.“ Mencit yang diberi ekstrak Banaba
akumulasi trigliseridnya akan menurun, dan mengindikasikan Lagerstroemia
speciosa memilki efek antiobesitas.

8. Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk, var. Tomentosa Schum)


Klasifikasi Jati Belanda
 Regnum : Plantae
 Divisio : Spermatophyta
 Sub Divisio : Angiospermae
 Kelas : Dicotyledoneae
 Sub Kelas : Dialypetalae
 Bangsa : Malvales/Colunniferae
 Famili : Sterculiaceae
 Genus : Guazuma
 Spesies : Guazuma ulmifolia Lamk.
Daun, buah, biji, dan kulit kayu bagian dalam merupakan bagian
tanaman yang dapat dipergunakan sebagai obat. Secara umum, zat utama yang
terkandung dari seluruh bagian tanaman adalah tanin dan musilago.
Kandungan lainnya yaitu resin, flavonoid, karotenoid, asam fenolat, zat pahit,
karbohidrat, kafein, terpen, juga senyawa — senyawa lain seperti sterol, beta-
sitosterol, friedelin-3-alfa-asetat, friedelin -3-beta-ol,alkoloida serta
karbohidrat dan minyak lemak. Tanin yang banyak terkandung di bagian
daun, mampu mengurangi penyerapan makanan dengan cara mengendapkan
mukosa protein yang ada dalam permukaan usus. Sementara itu, musilago
yang berbentuk lendir bersifat sebagai pelicin. Dengan adanya musilago,
absorbsi usus terhadap makanan dapat dikurangi. Hal ini yang yang menjadi
alasan banyaknya daun jati belanda yang dimanfaatkan sebagai obat susut
perut dan pelangsing. Dalam perkembangannya, daun jati belanda juga
banyak dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit kolesterol dan rematik gout.
Obesitas seperti telah diketahui timbul sebgai akibat
ketidakseimbangan energi yang masuk dan yang keluar. Daun jati belanda
(Guazuma ulmifolia Lamk.) menurunkan berat badan dan menurunkan kadar
kolesterol. Selain itu, daun jati belanda diindikasikan memiliki aktitas
penghambatan enzim lipase pankreas.
Daun jati belanda antara lain berisi flavonoid, tannin, alkaloid dan
saponin. Hanya alkaloid yang struktur kimianya mempunyai kemiripan
dengan orlistat di mana keduanya mengandung unsur N (Nitrogen). Sehingga
kemungkinan alkaloid yang memiliki efek menghambat aktivitas enzim lipase
seperti mekanime kerja orlistat. Hal ini memang harus dibuktikan dengan
penelitian lebih lanjut, sehingga membuka peluang ekstrak etanol daun jati
belanda digunakan sebagai obat obesitas dengan mekanisme kerja
menghambat aktivitas enzim lipase.

9. Ekstrak Teh Putih


Klasifikasi teh putih
Kingdom : Plantae
Devisio : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Guttieferales
Familia : Theaceae
Genus : Camalia
Spesies : Camalia sinensis
Teh adalah tanaman yang sudah sangat dikenal dan disukai masyarakat
dunia juga di Indonesia. Teh termasuk tanaman spesies Camellia sinensis. Teh
mengandung berbagai elemen nutrien yang bermanfaat bagi kesehatan, antara
lain: katekin, quersertin, kamferol, asam klorofil, teobromin, teanin, teofilin,
dan mineral. Karena kandungan pitonutrien tersebut maka teh dapat berfungsi
sebagai antioksidan, sebagai antiinflamasi, antikanker, juga sebagai
antikolesterol, antiobesitas, dan antidiabetes. Terdapat bermacam jenis teh
yaitu teh hitam, teh merah (teh Oolong), teh hijau, dan teh putih.
Teh Putih atau White Tea merupakan jenis teh yang masih terdengar
asing dibandingkan dengan popularitas teh hitam dan teh hijau. Sama seperti
teh hijau, teh putih telah digunakan untuk mengobati obesitas dan penyakit
metabolik. Pada saat ini banyak penelitian peneliti tertarik mempelajari
komposisi teh putih. Teh putih terbuat dari helaian pucuk teh yang sangat
muda dan belum mekar yang dipetik secara hati-hati, dimana pucuk muda
yang biasa disebut peko ini masih diselaputi rambut halus berwarna putih
perak, sehingga memberi kesan warna putih beludru yang nantinya bila kering
berubah menjadi putih. Diolah secara alami dan minimal yaitu hanya melalui
pelayuan dan pengeringan dengan bantuan angin dan sinar matahari
pegunungan segera setelah proses pemetikan dilakukan, tanpa melalui proses
oksidasi/ fermentasi maupun penggilingan sehingga tidak merusak bentuk teh
yang sebenarnya. Teh putih memiliki kadar klorofil yang rendah dan
antioksidan polifenol yang lebih tinggi, namun kafeinnya sangat rendah.
Minimnya pemrosesan menjadikan teh putih sebagai the kesehatan premium
dengan kandungan polifenol tertinggi dari semua jenis teh.
Teh putih merupakan tumbuhan obat yang mempunyai efek
farmakologis antara lain dapat menurunkan berat badan, menurunkan
kolesterol, trigliserida, serta glukosa, dapat mencegah karies pada gigi,
antimutagenik, antioksidan, antibakteri. Kandungan bahanbahan kimia yang
terdapat dalam daun teh antara lain: (1) Flavanol, merupakan polifenol utama
pada teh berupa katekin. Derivat dari katekin adalah katekin (C), Epikatekin
(EC), galokatekin (GC), epigalokatekin (EGC), epikatekin galat (ECG),
galokatekin 3-galat (GCG) dan epigalokatekin 3-galat (EGCG). Dimana
EGCG merupakan komponen utama katekin (59%). Flavonol yaitu senyawa
golongan flavonoid yang memiliki oksidasi terendah. Komposisi kimia
flavonol pada teh mirip katekin. Flavonol pada teh meliputi quersertin,
kaemferol, dan mirisetin. Flavonol merupakan antioksidan alami yang
mempunyai kemampuan mengikat logam; (2) Alkaloid pada teh memiliki
sifat penyegar. Alkaloid yang utama dalam teh adalah kafein. Kafein akan
bereaksi dengan katekin dan menimbulkan rasa segar pada seduhan teh; serta
(3) sebagain kecil mineral dan 1,4-5% asam amino bebas dari berat daun
kering. Reaksi asam amino dengan katekin pada temperatur tinggi
menghasilkan aldehida yang membuat aroma pada teh.
Penderita obesitas dengan diet tinggi lemak menyebabkan kelebihan
trigliserida yang akan diakumulasi oleh adiposit dan jaringan adiposa.
Hipertropi adiposit dan akumulasi jaringan adiposa membuat adiposity dan
jaringan adiposa dalam keadaan patogenik atau Adiposopathy. Keadaan
Adiposopathy menstimulasi pelepasan sitokin, yaitu Tumor Necrosis Factor-
alpha (TNF-a). Kadar TNF-a yang meningkat menyebabkan terjadinya
resistensi insulin. Resistensi insulin pada adiposit dapat menurunkan aktivitas
enzim lipoprotein lipase, sehingga clearance VeryLow-Density Lipoprotein
(VLDL) menurun, akibatnya kadar VLDL dalam darah meningkat. Selain itu
resistensi insulin dapat meningkatkan hidrolisis trigliserida, sehingga terjadi
peningkatan Free Fatty Acid (FFA). FFA akan masuk ke dalam sirkulasi
darah lalu ke hati. Peningkatan FFA di hati merangsang sekresi dari VLDL,
sehingga terjadi hipertrigliseridemia.
Pemberian ekstrak teh putih yang mengandung EGCG dan kafein
dapat menurunkan TNF-a sehingga oksidasi asam lemak pada hepar
meningkat, menghambat sintesis kolesterol oleh sel hepar serta meningkatkan
sensitivitas insulin. Sensitivitas insulin yang meningkat akan meningkatkan
aktivitas enzim lipoprotein lipase dan menurunkan FFA serta menghambat
aktivitas Cholesteryl Ester Transfer Protein (CETP). Cholesteryl Ester
Transfer Protein (CETP) adalah protein plasma yang memediasi pertukaran
cholesteryl ester dari HDL ditukar dengan molekul trigliserida dari LDL,
VLDL maupun kilomikron, sehingga yang terjadi VLDL kaya akan
kolesterol, sedangkan HDL menjadi kaya akan trigliserida atau dikenal
sebagai lipoprotein kaya trigliserida. Apoprotein A-1 dapat memisahkan diri
dari HDL kaya trigliserida. Apo A-1 bebas ini segera dibersihkan dari plasma,
melalui ginjal, sehingga mengurangi kemampuan HDL untuk melakukan
reverse cholesterol transport. Akibatnya, kadar HDL dalam darah menurun.
LDL kaya trigliserida dapat mengalami lipolisis menjadi small dense LDL.
Dalam hal ini EGCG dan kafein secara sinergis bekerja menghambat CETP
sehingga terjadi peningkatan kadar HDL kolesterol dan penurunan kadar
LDL.

Gambar teh putih

Gambar produk teh putih

1. Caralluma fimbriata
Caralluma fimbriata merupakan salah satu tumbuhan herbal di India
yang digunakan sebagai terapi tradisional untuk menurunkan berat badan
pasien obesitas. Caralluma fimbriata berupa kaktus yang dapat dimakan,
berasal dari famili Asclepiadaceae. Lebih sering dikenal sebagai penekan
nafsu makan dan tumbuh liar hampir di semua daerah di India.
Berdasarkan penelitian, Caralluma fimbriata mengandung pregnane
glycoside yang mem punyai mekanisme kerja mencegah penumpukan lemak
dengan cara memblok citrate lyase. Caralluma fimbriata merupakan inhibitor
ATP-citrate lyase kompetitif, sebagai tambahan enzim mitokondrial meliputi
25 tahap lipogenesis de novo. Caralluma fimbriata juga mempunyai
komponen aktif hydroxycitrate (HCA). HCA dilaporkan dapat menyebabkan
penurunan berat badan pada manusia tanpa merangsang sistem saraf pusat.
HCA akan menurunkan transformasi sitrat menjadi asetil ko-A, yang
merupakan satu tahapan yang dibutuhkan untuk pembentukan asam lemak di
hati.
Selain efeknya pada citrate lyase, Caralluma fimbriata juga dapat
menghambat malonil ko-A, sehingga menurunkan pembentukan lemak. Sel
lemak baru dibentuk menjadi preadiposit. Caralluma fimbriata akan
menghambat pembentukan sel lemak baru dengan mengaktifkan koenzim
malonil. Caralluma fimbriata juga menghambat mekanisme sensorik lapar di
hipotalamus. Pregnane glycoside yang terkandung di dalam Caralluma
fimbriata akan mengganggu sinyal dan membuat sinyal sendiri, seakan
menipu otak untuk berpikir bahwa perut terasa penuh, meskipun orang
tersebut tidak makan dalam jumlah banyak. Lebih khusus, pregnane glycoside
dipercaya dapat menghambat mekanisme sensor lapar di hipotalamus. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa aktivitas penekan nafsu makan dari
Caralluma fimbriata akibat kandungan pregnane glycoside.

Contoh sediaan
2. Pengertian Hipertensi
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah tinggi persisten
dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolic diatas 90
mmHg (Smeltzer & Bare, 2001). Sedangkan menurut Wiryowidagdo (2002)
mengatakan bahwa hipertensi merupakan suatu keadaan tekanan darah seseorang
berada pada tingkatan di atas normal. Faktor yang mempengaruhi hipertensi
seperti : ras, usia, obesitas, asupan garam yang tinggi, adanya riwayat hipertensi
dalam keluarga. Gangguan emosi, konsumsi alkohol yang berlebihan, rangsangan
kopi yang berlebihan, merokok, faktor keturunan, dan penyakit ini banyak
menyerang wanita dari para pria (Smeltzer & Bare, 2001)
B. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konnstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula
jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang
bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik
ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhirespon pembuluh darah terhadap
rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap
norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa
terjadi.
Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi.Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol
dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah.
Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I
yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.
Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,
menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua factor ini cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi.
Untuk pertimbangan gerontology. Perubahan structural dan fungsional
pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah
yang terjadi pada usia lanjut.
C. Pengobatan Tradisional

Penggunaan tanaman obat telah lama dikenal oleh masyarakat dengan latar
belakang sejarah dan budaya yang berbeda. Tidak dapat dipungkiri bahwa
tanaman obat sudah sangat membantu didalam kesehatan baik sebel zum
ditemukan obat-obat modern sampai saat ini. Sudah lama masyarakat Indonesia
memanfaatkan tanaman obat untuk meningkatkan kesehatan (promotif),
memulihkan kesehatan (rehabilitative), dan pencegahan penyakit (preventif) serta
penyembuhan (kuratif) (Wijayanti, 2012).
WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam
pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit,
terutama untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker. WHO juga
mendukung upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan khasiat dari obat
tradisional (WHO, 2003).

. Kelebihan dan Kelemahan Obat Tradisional / Tanaman Obat


1. Kelebihan Obat Tradisional
Dibandingkan obat-obat modern, memang OT/TO memiliki beberapa
kelebihan, antara lain : efek sampingnya relatif rendah, dalam suatu ramuan
dengan komponen berbeda memiliki efek saling mendukung, pada satu
tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi serta lebih sesuai untuk
penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif. Efek samping OT relatif kecil
bila digunakan secara benar dan tepat OT/TO akan bermanfaat dan aman jika
digunakan dengan tepat, baik takaran, waktu dan cara penggunaan, pemilihan
bahan serta penyesuai dengan indikasi tertentu.
2. Kelemahan Produk Obat Alam / Obat Tradisional
Disamping berbagai keuntungan, bahan obat alam juga memiliki
beberapa kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat
tradisional (termasuk dalam upaya agar bisa diterima pada pelayanan
kesehatan formal). Adapun beberapa kelemahan tersebut antara lain : efek
farmakologisnya yang lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat
higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar
berbagai jenis mikroorganisme.
Menyadari akan hal ini maka pada upaya pengembangan OT ditempuh
berbagai cara dengan pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga ditemukan
bentuk OT yang telah teruji khasiat dan keamanannya, bisa dipertanggung
jawabkan secara ilmiah serta memenuhi indikasi medis; yaitu kelompok obat
fitoterapi atau fitofarmaka Akan tetapi untuk melaju sampai ke produk
fitofarmaka, tentu melalui beberapa tahap (uji farmakologi, toksisitas dan uji
klinik) hingga bisa menjawab dan mengatasi berbagai kelemahan tersebut.
Efek farmakologis yang lemah dan lambat karena rendahnya kadar
senyawa aktif dalam bahan obat alam serta kompleknya zat balast/senyawa
banar yang umum terdapat pada tanaman. Hal ini bisa diupayakan dengan
ekstrak terpurifikasi, yaitu suatu hasil ekstraksi selektif yang hanya menyari
senyawa-senyawa yang berguna dan membatasi sekecil mungkin zat balast
yang ikut tersari. Sedangkan standarisasi yang komplek karena terlalu
banyaknya jenis komponen OT serta sebagian besar belum diketahui zat aktif
masing-masing komponen secara pasti, jika memungkinkan digunakan produk
ekstrak tunggal atau dibatasi jumlah komponennya tidak lebih dari 5 jenis TO,
(Wijayanti, 2012).

E. Gambar produk

F. Tanaman yang terdapat pada produk

A. Blumae Folium (Daun Sembung)


Famili : Asteraceae
Spesies : Blumea balsamifera (L.)

 Kandungan kimia
Sembung ini mengandung minyak atsiri, zat bergetah (kapur barus) dan
borneol, yang juga mengandung sineol, limonen, asam palmitin dan myristin,
alkohol sesquiterpen, dimetileter khlorasetofenon, tanin, pirokatedin, dan
glikosida, sedangkan ekstrak borneol di dapat dari daun segar.
 Mekanisme Kerja
Asam ɤ-aminobutirat (GABA) adalah asam amino yang memiliki empat
atom karbon yang berfungsi sebagai neurotransmitter penghambat utama
dalam sistem saraf pusat (Kimura et al., 2002). GABA mempunyai
peranan yang penting dalam kedua kontrol sistem saraf pusat dan perifer
dari tekanan darah (Kimura et al, 2002 ;
Hayakawa et al., 2005).

B. Mori Folium (Daun Murbei)


Klasifikasi
Famili : Moraceae
Spesies : Morus alba

 Khasiat dan Mekanisme kerja


Folium mori kaya akan fitosterol, serta sinergi dengan flavonoid dan alkaloid
membuat Folium mori memiliki fungsi menghambat perlemakan hati,
menurunkan lemak darah, melunakkan pembuluh darah, membersihkan
peroksida dalam tubuh dan menghambat aterosklerosis. Folium mori juga
kaya akan asam gamma-aminobutirat, dapat mendorong metabolisme jaringan
otak dan memulihkan fungsi sel otak, pada saat yang sama dapat memperbaiki
aliran darah pada otak, meningkatkan aktivitas ACE inhibitor, menurunkan
tekanan darah. Folium mori memiliki manfaat yang juga berkaitan dengan
perbaikan fungsi sekresi tubuh. Folium mori kaya akan flavonoid, fenol, asam
amino, asam organik, karoten, vitamin, dan bermacam mikronutrien yang
dibutuhkan tubuh manusia, memiliki manfaat aktif bagi perbaikan dan
pengaturan metabolisme jaringan kulit, terutama menghambat terjadinya
pigmentasi dan perkembangannya.

a. Rumus senyawa kimia

Gambar 2. Quercetin-3-o-glucosida dan Sianidin-3-o-glukosida

C. Violae Herba (Violet)


Famili : Gesneriaceae
Spesies : Saintpaulia ionantha Wendl.
Gambar tanaman.
 Senyawa yang terkandung
 Mekanisme kerja sehingga dapat menurunkan tekanan darah.
D. Seledri (Apii folium)
Famili : Apiaceae
Spesies : Apium graveolens L.

a. Senyawa pada Daun seledri


Seledri mengandung flavonoid, saponin, tanin 1%, minyak asiri 0,033%,
flavo-glukosida (apiin), apigenin, fitosterol, kolin, lipase, pthalides,
asparagine, zat pahit, vitamin (A, B dan C), apiin, minyak menguap, apigenin
dan alkaloid.
 Senyawa yang berkhasiat sebagai antihipertensi
-senyawa Apigenin

Senyawa yang terdapat pada daun seledri yang dapat menurunkan


tekanan darah tinggi yaitu Apigenin, berfungsi sebagai beta blocker yang
dapat memperlambat detak jantung dan menurunkan kekuatan kontraksi
jantung sehingga aliran darah yang terpompa lebih sedikit dan tekanan darah
menjadi berkurang. Manitol dan apiin, bersifat diuretik yaitu membantu ginjal
mengeluarkan kelebihan cairan dan garam dari dalam tubuh, sehingga
berkurangnya cairan dalam darah akan menurunkan tekanan darah.
E. Meniran (Phyllanthi Herba)
Famili : Euphorbiaceae
Spesies : Phyllanthus niruri L.
Gambar tanaman meniran:

a. Senyawa yang terkandung


Tanaman Obat Meniran sangat kaya akan berbagai kandungan kimia, antara
lain: phyllanthin, hypophyllanthin, niranthin, nirtetrali, nirurin, nirurinetin,
norsecurinine, phyllanthenol, phyllnirurin, phylltetrin, quercitrin, quercetin,
ricinoleic acid, rutin, salicylic acid methyl ester, garlic acid, ascorbic acid,
hinokinin, hydroxy niranthin, isolintetralin, dan isoquercetin. .
 Rumus senyawa kimia

Gambar Rumus Senyawa aktif meniran.

 Mekanisme senyawa meniran dalam menurunkan tekanan darah tinggi


F. Interaksi
Interaksi obat dan herba

Interaksi herba dan obat kimia dapat terjadi, karena herba dan obat kimia
mengandung senyawa aktif yang sama-sama mempengaruhi tubuh. Jika herba
dan obat kimia ini dikonsumsi secara bersamaan, ada 3 interaksi yang
mungkin timbul yaitu efeknya semakin kuat, menjadi berkurang, atau malah
hilang sama sekali. Cukup sulit menentukan mana yang paling baik, karena
efek yang diinginkan oleh jenis penyakit dan kondisi tubuh pasien.

G. Pengujian Sediaan Antihipertensi


Dari Materia Medica menjelaskan bahwa untuk menjamin
keseragaman dosis penalaran untuk masing-masing sediaan dan untuk menilai
kandungan simplisia sediaan serbuk, pil, tablet, dan kapsul maka digunakan
uji keseragaman bobot dan untuk menjamin ektrak jamu terhindar dari jamur
dilakukan uji kadar air.
Dari hasil uji yang telah dilakukan oleh Balai Materia Medika terhadap
jamu pilek memenuhi syarat uji keseragaman bobot yang sesuai dengan
KepMen.Kes.No.661/Men.Kes/SK/VII/1994 dan pada uji kadar air jamu pilek
memenuhi syarat yaitu kadar airnya tidak lebih dari 10% sesuai dengan
Materia Medica Indonesia Jilid VI 1995 yaitu kadar air pada sediaan obat
tradisional jamu yang berbentuk ekstrak kering sangat menentukan stabilitas
ekstrak dan bentuk sediaan selanjutnya.
 Tanaman Obat sebagai Antihipertensi
1. Nama : Daun Seledri
Nama latin : Apium graveolens L.
Gambar tanaman :
Senyawa yang berkhasiat : senyawa Apigenin dan senyawa Phthalides
Rumus struktur :

Mekanisme kerja senyawa : Daun seledri memiliki kandungan Apigenin


yang dapat mencegah penyempitan pembuluh darah dan Phthalides yang dapat
mengendurkan otot-otot arteri atau merelaksasi pembuluh darah. Zat tersebut
yang mengatur aliran darah sehingga memungkinkan pembuluh darah
membesar dan mengurangi tekanan darah. Selain itu, apigenin berfungsi
sebagai beta blocker yang dapat memperlambat detak jantung dan menurunkan
kekuatan kontraksi jantung sehingga aliran darah yang terpompa lebih sedikit
dan tekanan darah menjadi berkurang. Manitol dan apiin, bersifat diuretik yaitu
membantu ginjal mengeluarkan kelebihan cairan dan garam dari dalam
tubuh, sehingga berkurangnya cairan dalam darah akan menurunkan tekanan
darah
Interaksi : hidrochlorothiazid (HCT) dan furosemid penggunaan bersama –
sama dapat mengakibatkan turunnya cairan tubuh dan kadar ion tubuh sehingga
menurunkan keseimbangan.
Cara penggunaan : Diambil daun seledri segar sebanyak kurang lebih 40
lembar. Daun seledri dicuci, lalu direbus dengan 2 gelas air sampai tersisa 1
gelas.
Setelah dingin, air disaring lalu diminum sekaligus pada malam hari. Lakukan
rutin setiap hari untuk hasil yang memuaskan.
Toksisitas : Jika mengonsumsinya secara berlebihan maka dapat
mengakibatkan tekanan darah naik lebih banyak, hal ini dikarenakan daun
seledri juga mengandung natrium.

2. Nama : Kumis kucing


Nama latin : Orthosiphon stamineus
Gambar tanaman :

Senyawa yang berkhasiat : Senyawa Quersetin

Rumus struktur :

Mekanisme kerja senyawa : mempunyai kemampuan mengurangi kadar


natrium dan kalium pada hewan uji. Kandungan quercetin dari daun kumis
kucing mampu menurunkan tekanan darah dengan mencegah terjadinya
agregasi platelet dan thrombus
Interaksi : Pada tanaman seledri terdapat kandungan favonoid apiin dan
apigenin yang bekerja sebagai vasodilator sehingga tekanan darah turun.
Sedangkan kumis kucing (Orthosiphon stamineus) mengandung flavonoid
polimetoksi : sinensetin, eupatorin; garam kalium; dan inositol. Flavonoid
sinensetin, eupatorin bersifat spasmolitik dan hasilnya adalah diuretika. Garam
kalium besifat retensi air dan hasilnya adalah diuretika. Inositol sendiri bersifat
dieresis. Kedua tanaman menghasilkan penurunan tekanan darah dan efeknya
menjadi optimal.
Cara penggunaan : Disiapkan daun kumis kucing kemudian cuci sampai
bersih. Direbus air hingga mendidih. Dimasukan daun kumis kucing tadi
kedalam rebusan air yang sudah mendidih. Diaduk-aduk sampai air tersisa
setengahnya. Ditunggu sampai dingin, kemudian ramuan siap untuk diminum.
Diminum ramuan secara teratur setiap pagi dan malam hari, masing-masing 1
gelas.
Toksisitas :-

3. Nama : Mengkudu
Nama latin : Morinda citifolia

Gambar tanaman :

Senyawa yang berkhasiat : Senyawa Scopoletin dan Xeronine


Rumus struktur : scopoletin
Mekanisme kerja senyawa : Mekanisme kerja scopoletin untuk menurunkan
tekanan darah adalah sebagai vasodilator yang menurunkan tekanan darah
dengan merelaksasikan otot polos vaskuler sehingga tekanan darah arteri
menurun tekanan darah juga menurun. Selain itu, mengkudu juga
mengandung xeronine yang berfungsi sebagai zat diuretik yaitu dengan
mengurangi volume darah dengan mengeluarkan simpanan natrium dari
dalam tubuh (Afa Kehaati Palu, Et al, 2008)
Cara penggunaan : Pilihlah buah mengkudu yang sudah matang dan
ambil airnyadengan cara di blender. Kemudian air mengkudu di campur dengan
madu dan minum setiap pagi sebelum sarapan
Interaksi :-
Toksisitas :-

4. Nama : Rosella
Nama latin : Hibiscus sabdariffa L.
Senyawa yang berkhasiat : Senyawa anthocyanins
Mekanisme kerja senyawa: Rosella juga memiliki efek diuretik, yang
mekanisme kerjanya serupa dengan obat penurun tekanan kelompok diuretik
dan efek penghambatan pada Angiotensin Converting Enzyme (ACE), yang
mekanisme kerjanya serupa dengan obat penurun tekanan kelompok ACE
inhibitor (Ojeda et al, 2010). Kandungan anthocyanins yang terkandung dalam
rosella berperan dalam efek antihipertensi.
Interaksi :-
Toksisitas :-
5. Nama : Manggis
Nama latin : Garcinia x mangostana L.
Senyawa yang berkhasiat : fenol
Mekanisme kerja senyawa: mekanisme kerja manggis sebagai antihipertensi
melalui antagonis ion kalsium (Hemshekhar et al, 2011). Komponen fenolik
dari manggis dapat mencegah terjadinya vasokonstriksi pembuluh darah
melalui mekanisme vasodilatasi langsung dan pembangkitan nitrit oksida
(Abdallah et al, 2016)
Interaksi :-
Cara penggunaan : memilih buah yang masih segar, kemudian
dikonsumsi
Toksisitas :-

6. Nama : Daun salam


Nama latin : Syzygium polyanthum (Wight) Walp.
Senyawa yang berkhasiat : senyawa Quarcertin
Mekanisme kerja senyawa: Mekanisme kerja daun salam sebagai
antihipertensi melalui pelibatan reseptor beta adrenergik dan kolinergik dengan
produksi nitrit oksida (Ismail et al, 2013), dan melalui penghambatan ACE
(Puspitasari et al, 2015). Berdasarkan penelitian Yunus (2015), daun salam
mengandung senyawa flavonoid, yang mana flavonid mengandung
Quarcertin memberikan pengaruh sebagai vasodilator, antipletelet dan
antipoliferative dan menurunkan tekanan darah, hasil dari oksidasi dan
perbaikan terhadap organ tubuh yang sudah rusak akibat dari hipertensi
Interaksi :-
Cara penggunaan : penggunaan untuk daun salam sebagai obat
antihipertensi yakni dengan merebus daun salam sebanyak 10 lembar dengan 3
gelas air, dididihkan hingga 1 gelas.
Toksisitas :-
7. Nama : Sirsak
Nama latin : Annona muricata L.
Senyawa yang berkhasiat : coreximine, anomurine, dan reticulin
Mekanisme kerja senyawa: melalui mekanisme perifer yang melibatkan
antagonis ion kalsium dengan blokade kanal ion kalsium (Nwokocha et al,
2012). Efek hipotensif daun sirsak disebabkan oleh kandungan alkaloid
seperti coreximine, anomurine, dan reticulin
Interaksi :-
Cara penggunaan : memakana buahnya
Toksisitas :-

8. Nama : Semangka
Nama latin : Citrullus lanatus (Tunb)
Senyawa yang berkhasiat : Sitrulin & Kandungan karetenoid
Mekanisme kerja senyawa: Buah semangka mengandung asam amino sitrulin
yang berperan dalam menurunkan tekanan darah, selain itu kandungan
karetenoid pada buah semangka dapat mencegah pengerasan dinding arteri
maupun pembuluh vena, sehingga dapat mengurangi tekanan darah.
Interaksi :-
Cara penggunaan : Pilihlah buah semangka yg matang & segar untuk di
konsumsi.
Toksisitas :-

9. Nama : Daun dewandaru


Nama latin : Eugenia uniflora
Senyawa yang berkhasiat : senyawa
Mekanisme kerja senyawa: Adanya kandungan senyawa flavonoid, saponin
dan tanin di daun dewandaru, yang mana senyawa flavanoid merupakan
senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon dan terdapat pada
semua bagian tanaman termasuk daun. Flavanoid dapat menurunkan
resistensi sistem vaskuler (SVR) karena menyebabkan vasodilatasi dan juga
mempengaruhi kerja ACE (Angiotensin Converting Enzyme) yang dapat
menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. Efek
vasodilatasi dan ACE inhibitor dapat menurunkan tekanan darah sehingga
daun dewandaru dapat menurunkan tekanan darah.
Interaksi :-
Cara penggunaan : penggunaan untuk daun dewandaru sebagai obat
antihipertensi yakni dengan merebus daun dewandaru sebanyak 10 lembar
dengan 3 gelas air, dididihkan hingga 1 gelas.
Toksisitas :-

10. Nama : Kunyit


Nama latin : Curcuma longa
Senyawa yang berkhasiat : senyawa Curcumin
Mekanisme kerja senyawa: Kandungan curcumin dalam kunyit dapat
menurunkan kolesterol dalam tubuh dan dapat menurunkan tekanan darah.
Kurkumin memiliki kemampuan dalam mencegah pengumpalan darah,
mencegah oksidasi kolesterol LDL, serta mampu menghambat pembentukan
plak didalam pembuluh darah (Maryam & Shanin,2011)
Interaksi : Interaksi antara kunyit dengan bawang putih dapat menurunkan
kolesterol total, penurunan kadar LDL, trigliserida, glukosa darah dan
peningkatan kadar HDL.
Cara penggunaan : kunyit diparut, diperas dan disaring kemudian direbus
hingga mendidih.
Toksisitas : Penggunaan secara berlebihan dan dalam waktu yang panjang
dapat mengakibatkan keringnya rahim
3. Penyakit Sistem Saraf Otonom (SSO)
a) Sistem Saraf Otonom (SSO)
Sistem ini merupakan sistem saraf eferen (motorik) yangmempersarafi
organ-organ dalam seperti otot-otot polos, otot jantung, danberbagai kelenjar.
Sistem ini melakukan fungsi kontrol, semisal: kontroltekanan darah, motilitas
gastrointestinal, sekresi gastrointestinal,pengosongan kandung kemih, proses
berkeringat, suhu tubuh, dan beberapafungsi lain. Karakteristik utam SSO
adalah kemampuan memengaruhi yangsangat cepat (misal: dalam beberapa
detik saj denyut jantung dapatmeningkat hampir dua kali semula, demikian
juga dengan tekanan darahdalam belasan detik, berkeringat yang dapat terlihat
setelah dipicu dalam beberapa detik, juga pengosongan kandung kemih). Sifat
ini menjadikan.SSOtepat untuk melakukan pengendalian terhadap homeostasis
mengingatgangguan terhadp homeostasis dapat memengaruhi seluruh sistem
tubuhmanusia.Dengan demikian, SSO merupakan komponen dari refleks
visceral.

Sebagai konsekuensi bahwaada keterlibatan sistem saraf pusatterhadap


sistem saraf perifer, termasuk SSO, dikenal beberapa pusat integrasidan
pengendalian informasi sebelum diteruskan ke SSO, seperti medullaspinalis,
batang otak, dan hipotalamus. Misalnya: medulla spinalisbertanggung jawab
untuk persarafan otonom yang memengaruhi sistemkardiovaskular dan
respirasi; hipotalamus berfungsi untuk mengintegrasikanpersarafan otonom,
somatik, dan hormonal (endokrin) dan emosi sertatingkah laku (misal:
seseorang yang marah meningkatkan denyut jantung,tekanan darah, dan laju
respirasi).Di samping itu, daerah asosiasi prefrontal memengaruhi eksprei
emosional, seperti wajah yhang menampakkan kesankemerahan apabila
seseorang merasa malu

b) Refleks Visceral
Refleks visceral, sama seperti refleks somatik lainnya, terdiri
ataskomponen reseptor, integrasi, dan efektor. Pembeda refleks visceral
denganrefleks somatik adalah informasi reseptor refleks visceral diterima
secarabawah-sadar (subconscious). Anda tidak akan pernah tahu kapan
pembuluhdarah Anda melebar (kecuali ketika Anda melihat kulit yang
kemerahan).Contoh lain, Anda juga tidak akan pernah tahu kapan pupil mata
Anda melebar,kecuali Anda melihat ke cermin. Informasi-informasi seperti ini
tidak diketahuisecara sadar, dan merupakan bagian dari refleks visceral.
Meskipun demikian,reseptor refleks ini tidak harus bersifat visceral
c) Perjalanan dari SSP hingga Mempersarafi Organ
Perjalanan SSO dimulai dari persarafan sistem saraf pusat
(selanjutnyadisebut SSP). Neuron orde pertama berada di SSP, baik di sisi
lateral medullaspinalis maupun di batang otak. Akson neuron orde pertama ini
disebutdenganserabut preganglion(preganglionic fiber ). Serabut ini
bersinapsdengan badan sel neuron orde kedua yang terletak di dalam
ganglion.Serabutpascaganglion menangkap sinyal dari serabut preganglion
melaluineurotransmiter yang dilepaskan oleh serabut preganglion. Seperti
yang telahdiketahui, ganglion merupakan kumpulan badan sel yang terletak di
luar SSP.Akson neuron orde kedua, yang disebut denganserabut
pascaganglion (postganglionic fiber) muncul dari ganglion menuju organ yang
akan diinervasi.Organ efektor menerima impuls melalui pelepasan
neurotransmiter olehserabut pascaganglion. Kecuali untukmedulla adrenal,
baik sistem sarafsimpatis dan parasimpatis mengikuti pola seperti yang telah
dijelaskan di atas.Pembedaan antara keduanya akan dibahas di bawah ini
d) Pembagian SSO
Kebanyakan organ visceral dipersarafi oleh dua jenis saraf
otonomsekaligus (dual-innervation, persarfan ganda), yakni SSO divisi
simpatis dan parasimpatis.Karakteristik kerja SSO divisi simpatis dan
parasimpatiscenderung berlawanan, walaupun di beberapa organ malah
salingmenguatkan. Perbedaan keduanya dirangkum dalam tabel di bawah ini
e) Kelebihan Persarafan Ganda
Persarafan simpatis dan parasimpatis sesungguhnya
bekerjabersamaan.Namun demikian, ada suatu kondisi yang memungkinkan
simpatislebih dominan dari parasimpatis, atau sebaliknya.Keduanya bekerja
dengansuatu aktivitas parsial yang dinamakan tonus simpatis dan
parasimpatis, atauaktivitas tonus. Namun demikian, ada suatu situasi yang
mampu memicupersarafan yang satu menjadi lebih aktif dari yang lain.
f) Persarafan Otonom Parasimpatis
Divisi parasimpatis, atau disebut divisi kraniosakral, berasal dari
sistemsaraf pusat melalui saraf kranial III (okulomotor), VII (fasial),
IX(glosofaringeal), dan X (vagus). Selain berasal dari saraf kranial,
sarafparasimpatis juga berasal dari medulla spinalis bagian bawah, yakni
melalui S2dan S3 (atau S4).Hampir ¾ serabut parasimaptis berada bersama-
samadengan saraf vagus (X), masuk ke daerah torakal dan abdominal
untukmempersarafi organ visceral ini.
Divisi parasimpatis yang berasal dari n.III keluar dan
mempersarafisfingter pupil dan otot siliar mata, sementara yang berasal dari
n.VIImempersarafi kelenjar lakrimal, nasal, dan submandibular, n.IX
mempersarafikelenjar parotis, serta n. X mempersarafi jantung, paru-paru,
esophagus,lambung, usus halus, hati, kantung empedu, pankreas, ginjal,
bagian proksimalcolon, serta bagian atas ureter.
Divisi parasimpatis memiliki ganglion yang berada dekat
denganorgan efektor, semisal ganglion siiar, sfenopalatina, submandibular,
sublingual,otik, ganglion-ganglion yang berada di organ efektor (misalnya
untuk organjantung, otot bronkus, lambung, kantung empedu).
Bagian dari S2 dan S3keluar membentuk jalinan splankik pelvis, serta
mempersarafi bagian rectum,kandung kemih, ureter, dan alat kelamin wanita
dan pria.Serabut preganglion parasimpatis melepaskan
neurotransmitter asetilkolin (ACh) yang ditangkap oleh reseptor kolinergik
nikotinik badan selpascaganglion.Efek dari penangkapan ACh oleh reseptor
nikotinikmenyebabkan pembukaan kanal ion nonspesifik, menyebabkan
influxterutama ion Na+.Setelah itu, serabut pascaganglion parasimpatis
menghasilan juga asetilkolin yang ditangkap oleh reseptor kolinergik
muskarinik yang terdapat di semua organ efektor parasimpatis.PenempelanACh
dengan reseptor muskarinik mengaktifkan protein G, dan dapatmenginhibisi
atau mengeksitasi organ efektor.
Divisi parasimpatis cenderung mengatur organ efektor dalamkeadaan
rest-and-digest, yakni ketika tubuh berada dalam keadaan tenang,relaks,
kondisi yang tidak mengancam, atau dalam keadaan “pembersihan
danpemulihan tubuh” (general housekeeping ).Lihat lampiran yang
memaparkanefek akibat aktivitas perangsangan parasimpatis yang
dominan.Perhatikanbahwa dengan menggunakan istilah “rest-and-digest”,
kebanyakan efekparasimpatis dapat dilogika dengan mudah, kecuali beberapa
macam sepertisekresi kelenjar salivaris yang menghasilkan saliva dengan
jumlah yang banyaknamun cenderung encer.

a) Persarafan Otonom Simpatis


Divisi simpatis, atau disebut juga divisi torakolumbal, berasal
darisistem saraf pusat melalui segmen medulla spinalis T1 hingga L2. Dari
segmenT1 hingga T2 mempersarafi organ visceral di daerah leher, T3 hingga
T6 menujudaerah toraks, T7 hingga T11 menuju abdomen, dan T12 hingga
L2 menuju keekstremitas bawah.
Saraf simpatis lebih rumit dibandingkan sarafparasimpatis karena
mempersarafi lebih banyak organ.Setelah meninggalkan medulla spinalis
melalui akar ventral, serabutpreganglion melewati white ramus communicans,
lalu masuk ke rantaiganglion simpatik (sympathetic trunk ganglion). Karena
letaknya dekat denganvertebrae, disebut juga dengan ganglia paravertebral .
Selanjutnya, ada tigacabang, yakni: (1) bersinaps dengan neuron orde dua di
ganglion yang sama; (2)naik atau turun rantai ganglion simpatis dan bersinaps
di sana; (3) tidakbersinaps, hanya melewati rantai ganglion simpatis dan
keluar bersinapsdengan ganglion kolateral (ganglion pravertebra), yang secara
khususdisebut saraf splanknik. Ganglion kolateral ini terletak di daerah
abdomendan pelvis dan tidak berpasangan seperti ganglia simpatis
lain.Serabut preganglion yang bersinaps di rantai ganglia simpatisberlanjut
dengan serabut pascaganglion yang masuk ke akar dorsal melaluisaraf spinal
yang berkesesuaian melalui gray rami communicantes. Dari sini,serabut
pascaganglion meneruskan perjalanan untuk menuju organ efektor.Sepanjang
jalur serabut postanglion dapat mempersarafi pembuluh darah danotot polos
sebelum tiba ke organ efektor akhir.

Serabut preganglion simpatis melepaskan neurotransmitter Ach


yangditangkap oleh reseptor nikotinik yang berada di badan sel
neuronpascaganglion.Sementara itu kebanyakan serabut pascaganglion
melepaskan noradrenalin (atau norepinefrin) dan ditangkap oleh reseptor
adrenergik. Dikenal empat macam reseptor adrenergic untuk neurotransmitter
ini, yakni :
Aktivasi reseptor α1cenderung menghasilkan efek positif,
semisalkonstriksi arteriol akibat peningkatan kontraksi otot di
endotel.Aktivasiα2 justru menyebabkan respons inhibitori seperti
pengurangan kontraksi ototpolos di sistem pencernaan.Stimulasi
β1menimbulkan efek eksitatori di organutama yang dipersarafinya, yakni
jantung, menyebabkan kontraksi dan denyutyang meningkat.Sementara
ituβ2menyebabkan pelebaran arteriol dansaluran pernapasan akibat relaksasi
otot polos di dinding saluran ini.

Beberapa serabut pascaganglion tidak menghasilkan NE,


melainkanmenghasilkan asetilkolin.Serabut pascaganglion ini mempersarafi
kelenjar keringat.Fungsi dari saraf simpatis adalah untuk mempersiapkan diri
dalamkeadaan darurat, merespons situasi yang tidak menyenangkan dan
penuhtekanan (stress), serta keadaan ancaman dari luar.Oleh karena itu,
denganmduah efek dominansi simaptis adalah adanya keadaan fight-or-flight.
Dengan demikian, dapat dippeningkatan denyut jantung, tekanan
darah,pelebran pembuluh darah,erkirakaan apaefek yang ditimbulkan akibat
perangsangan simpatis, seperti peningkatandenyut dan kekuatan kontraksi
jantung, pemecahan glikogen, pelebaran pembuluh darah, pelebaran pupil,
berkeringat, dan penurunan sementarafungsi sistem pencernaan dan
perkemihan.
g) Medulla Adrenal
Ini adalah bagian dari kelenjar endokrin (selain medulla korteks)
yangmerupakan modifikasi dari ganglion simpatis.Bukannya meneruskan
menujuserabut pascaganglion, medulla adrenal tidak memiliki serabut
ini.Namun demikian, jika distimulasi melalui serabut pascaganlion yang
melepaskan ACh,medulla adrenal menerimanya dengan reseptor kolinergik
nikotinik, danmelepaskan neurotransmitter yang sama dengan apa yang
seharusnyadilepaskan jika serabut pascaganglion masih ada, yakni golongan
adrenergik.80% pelepasan utama adalah epineprin (adrenalin), sisanya adalah
norepineprin (noradrenalin).Fungsi hormon ini adalah untuk
meningkatanaktivitas sistem persarafan simpatis.

II.2 Penyakit Pilek (Rhinitis)

1) Pengertian Rhinitis
Rhinitis adalah peradangan atau iritasi yang terjadi di membran
mukosa di dalam hidung.Secara garis besar rhinitis dibagi menjadi dua, yaitu
rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi.
Rhinitis alergi atau yang disebut juga hay fever disebabkan oleh alergi
terhadap unsur seperti debu, kelupasan kulit hewan tertentu, dan serbuk
sari.Sedangkan rhinitis nonalergi tidak disebabkan oleh alergi tapi kondisi
seperti infeksi virus dan bakteri.
2) Patofisiologi
Mikroorganisme masuk kedalam saluran pernafasan -> infeksi
saluran pernafasan -> respon imun menurun -> peradangan -> aktifitas
makrofag (fagositosis)-> induksi prostaglandin -> peningkatan termostat di
hipotalamus -> set poin meningkat -> demam -> peradangan juga merangsang
sel goblet -> untuk memproduksi berlebih -> penimbunan mukus -> pilek
3) Gejala Rhinitas
Rhinitis memiliki gejala yang mirip seperti pilek, yakni:
- Bersin-bersin.
- Hidung tersumbat atau berair.
- Berkurangnya sensitivitas indera penciuman.
- Rasa tidak nyaman atau iritasi ringan di dalam dan area sekitar hidung.
Pada rhinitis alergi, gejala ini akan muncul sesaat setelah terpapar oleh
alergen seperti debu, serbuk sari bunga, atau bulu hewan. Apabila parah,
gejala ini dapat berlangsung sepanjang hari sehingga mengganggu tidur dan
kegiatan sehari-hari.Namun, kebanyakan penderita rhinitis hanya mengalami
gejala ringan yang mudah diobati secara efektif.
4) Penyebab Rhinitis
Peradangan membran mukosa yang diakibatkan oleh bakteri, alergen
(penyebab alergi), dan virus dapat menyebabkan gejala-gejala
rhinitis.Beberapa penyebab rhinitis alergi adalah kelupasan kulit mati atau
rambut hewan, bahan kimia di tempat kerja, tungau debu rumah, serta serbuk
sari dan spora.Sedangkan penyebab rhinitis nonalergi adalah faktor
lingkungan, kerusakan jaringan di dalam hidung, penggunaan dekongestan
hidung berlebih, dan infeksi.
5) Diagnosis Rhinitis
Ada beberapa cara untuk mendiagnosis rhinitis alergi, di antaranya
dengan mengetahui gejala serta riwayat kesehatan pribadi dan keluarga.
Selain itu, ada dua tes alergi utama yang dapat membantu mendiagnosis
rhinitis, yaitu tes darah dan tes tusuk kulit.
6) Pengobatan Rhinitis (Pilek) Menggunakan Tanaman Obat Tradisional
Balai Materia Medica Batu yang memiliki tugas pokok penyuluhan
dan pengelolaan Tanaman Obat meliputi Tanaman Obat Tradisional dan
Tanaman Obat yang mengandung bahan baku obat telah menggunakan
beberapa tanaman obat untuk mengatasi pilek yang telah di kemas dalam
bentuk jamu serbuk.
a. Komposisi Jamu serbuk Pilek
1. Retrotracti Fructus (Cabe Jawa)

2. Zingiberis Rhizoma (Rimpang jahe)

3. Phyllanthi Herba (Ceremai)


4. Curcuma Rhizoma (Temulawak)

5. Aeruginosae Rhizoma (Temu hitam)

b. Klasifikasi Tanaman Obat


1. Retrotracti Fructus (Cabe Jawa)
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Magnoliidae
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae (suku sirih-sirihan)
Genus : Piper
Spesies : Piper retrofractum Vahl
Morfologi :
Bentuk tanamannya seperti sirih, merambat, memanjat,
membelit, dan melata.Daunnya berbentuk bulat telur sampai lonjong,
pangkal daun berbentuk jantung atau membulat, ujung daun runcing
dengan bintik-bintik kelenjar.buahnya majemuk bulir, bentuknya bulat
panjang atau silindris, dan ujungnya mengecil.Buah yang belum tua
berwarna kelabu, kemudian menjadi hijau, selanjutnya kuning, merah,
serta lunak.Rasanya pedas dan tajam aromatis.
Kandungan Senyawa :
piperine, chapcicine, palmitic acids, tetrahydropiperic
acids,undecylenil-3,4-methylenedioxy benzene, piperidin, minyak atsiri,
N-isobutyldeka-trans-2-trans-4-diennamide, dan sesamin
Khasiat :
antipiretik, analgesik, antiinflamasi, dan menekan susunan saraf
pusat.
Mekanisme Kerja :
capsaisin meredakan sebagain rasa sakit dengan menghabiskan
pasokan substansi P dalam tubuh, sebuah komponen kimia sel-sel saraf
yang terlibat dalam memancrkan sinyal rasa nyeri ke otak. Ia juga bekerja
dengan melumpuhkan kepekaan reseptor sensorik pada kulit.
2. Zingiberis Rhizoma (Rimpang jahe)

Kingdom Plantae
Divisio Spermatophyta
Subdivisi Angiospermae
Kelas Monococtyledoneae
Ordo Zingiberales
Famili Zingiberaceae
Genus Zingiber
Species Zingiber officinale Rosc.

Morfologi :
Rimpang jahe membentuk umbi, besar kecilnya umbi bergantung
pada varietas tanamannya.Rimpang agak pipih ke pinggir membentuk
cabang (ranting) ke segala arah yang saling tumpang tindih. Cabang
rimpang yang berada di atas dapat tumbuh membentuk batang baru,
sedangkan yang berada di bagian bawah merupakan perakaran baru
Rimpang jahe berbuku – buku, gemuk, agak pipih, membentuk akar
lateral (akar serabut). Rimpang tersebut tertanam kuat dalam tanah dan
semakin membesar sesuai dengan bertambahnya usia dengan membentuk
rimpang-rimpang baru. Kulit luar rimpang mudah dikelupas.Rimpang
berkulit agak tebal, membungkus daging rimpang (jaringan parenchyma).
Didalam sel-sel rimpang tersimpan minyak atsiri yang aromatis dan
oleoresin khas jahe (Harmono dan Andoko, 2005)..
Kandugan senyawa:
minyak atsiri, damar, mineral sineol, fellandren, kamfer,
borneol, zingiberin, zingiberol, gigerol, zingeron, lipidas, asam aminos,
niacin, vitamin A, B1, C dan protein
Khasiat:
1. menghilangkan nyeri, antiinflamasi, antibakteri,
2. umumnya digunakan sebagai pencampur beberapa jenis obat yaitu
sebagai obat batuk, mengobati luka luar dan dalam, melawan gatal,
dan untuk mengobati gigitan ular.
Mekanisme kerja :

senyawa kimia yang memiliki khasiat sebagai anti inflamasi ialah


gingerol dan sogaol. Mekanisme kerjanya ialah dengan menghambat
sintesis prostaglandin melalui penghambatan enzim siklooksigenase-2
(COX_2).
3. Phyllanthi Herba (Ceremai)
Divisi :Spematophyta
Sub divisi :Angiospermae
Kelas :Dicotyledoneae
Bangsa :Euphorbiales
Suku :Euphorbiaceae
Marga :Phyllanthus
Jenis : Phyllanthus acidus (L.) Skeels
Morfologi :
Buahnya buah batu, bentuknya bulat pipih, berlekuk 6 cm hingga
8 cm, panjang 1,25 cm hingga 1,5 cm, lebar 1,75 cm hingga 2,5 cm.,
Warnanya kuning muda, berbiji 4 hingga 6 rasanaya asam. Biji bulat
pipih berwarna coklat muda
Kandungan senyawa :
saponin, flavonoid, tanin, dan polifenol

Khasiat :

peluruh dahak dan pencahar (purgatif)

Mekanisme kerja :

Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa senyawa


flavonoid mampu menghambat fosfodiesterase, aldoreduktase,
monoamine oksidase, protein kinase, DA polimerase, lipoksigease.
Flavonoid dapat meningkatkan sistem imun baik sistem imun alamiah
maupun imun spesifik yang dapat digunakan sebagai antiinflamasi dan
anti alergi.
4. Curcuma Rhizoma (Temulawak)
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermathophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Scitamineae
Famili : Zingiberaceae
Marga : Curcuma
Spesies : Curcuma xanthorhiza roxb
Morfologi :
Rimpang induk temu lawak bentuknya bulat seperti telur, dan
berukuran besar, sedangkan rimpang cabang terdapat pada bagian samping
yang bentuknya memanjang.Tiap tanaman memiliki rimpang cabang antara
3 – 4 buah.Warna rimpang cabang umumnya lebih muda dari pada rimpang
induk.Warna kulit rimpang sewaktu masih muda maupun tua adalah
kuning-kotor.Atau coklat kemerahan.Warna daging rimpang adalah kuning
atau oranye tua, dengan cita rasanya amat pahit, atau coklat kemerahan
berbau tajam, serta keharumannya sedang. Rimpang terbentuk dalam tanah
pada kedalaman + 16 cm. Tiap rumpun tanaman temu lawak umumnya
memiliki enam buah rimpang tua dan lima buah rimpang muda.
Mengandung senyawa :
minyak atsiri yang mengandung feladren dan tumerol, zat warna
kurkumin, pati.
Khasiat :
amara, antispasmodika, kolagoga, hepatoprotektor, antiinflamasi,
antimikroba.
Mekanisme Kerja :
temulawak sebagai antimikroba karena memiliki kandungan zat aktif
minyak atsiri yang bekerja dengan cara merusak sitoplasma.
5.Aeruginosae Rhizoma (temu hitam)

Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
Super Divis i : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma aeruginosa Roxb.
Morfologi :
Rimpangnya cukup besar dan merupakan umbi batang.Rimpang
juga bercabang-cabang.Jika rimpang tua dibelah, tampak lingkaran
berwarna biru kehitaman di bagian luarnya.Rimpang temu hitam
mempunyai aroma yang khas.Perbanyakan dengan rimpang yang sudah
cukup tua atau pemisahan rumpun.
Kandungan senyawa :
saponin, flavonoid, polifenol, triterpenoid, dan glukan.
Khasiat :
Bagian dari jamu, antirematik, antiinflamsi, penyakit kulit,
batuk, dan asma, anti cendawan, dan antioksidan
Mekanisme kerja : -
II.3 Pengujian Sedian Jamu Pilek
Dari Materia Medica menjelaskan bahwa untuk menjamin
keseragaman dosis penalaran untuk masing-masing sediaan dan untuk menilai
kandungan simplisia sediaan serbuk, pil, tablet, dan kapsul maka digunakan uji
keseragaman bobot dan untuk menjamin ektrak jamu terhindar dari jamur
dilakukan uji kadar air.
Dari hasil uji yang telah dilakukan oleh Balai Materia Medika
terhadap jamu pilek memenuhi syarat uji keseragaman bobot yang sesuai dengan
KepMen.Kes.No.661/Men.Kes/SK/VII/1994 dan pada uji kadar air jamu pilek
memenuhi syarat yaitu kadar airnya tidak lebih dari 10% sesuai dengan Materia
Medica Indonesia Jilid VI 1995 yaitu kadar air pada sediaan obat tradisional
jamu yang berbentuk ekstrak kering sangat menentukan stabilitas ekstrak dan
bentuk sediaan selanjutnya

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI N0MQR: 661/


MENKES/SK/VII/1994 TENTANG PERSYARATAN OBAT TRADISIONAL
1. Keseragaman bobot.
Tidak lebih dari 2 bungkus serbuk, yang masing masing bobot isinya
menyimpang dari bobot isi rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan
dalam kolom A dan tidak satu bungkuspun yang bobot isinya menyimpang
dari bobot isi rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom B,
yang tertera pada daftar berikut

2. Kadar air.
Tidak lebih dari 10 %. Penetapan dilakukan menurut cara yang tertera
pada Farmakope lndonesia atau Materia Medika lndonesia.
salah satu cara penentuannya adalah destilasi, dengan memberikan zat
kimia sebanyak 75-100 ml pada sampel yang diberikan mengandung air
sebanyak 2-5 ml kemudian dipanaskan sampai mendidih. Uap air dan zat
kimia tersebut diembunkan dan ditampung dalam tabung penampung. Karena
berat jenis air lebih besar dari pada zat kimia tersebut maka air akan berada
dibagian bawah pada tabung penampung. Bila pada tabung penampung
dilengkapi skala maka banyaknya dapat diketahui.

II.4. Terapi umum pada penyakit sso

Cara Kerja Obat Otonom Obat otonom mempengaruhi transmisi


neurohumoral dengan cara menghambat atau mengintensifkannya. Terdapat
beberapa kemungkinan pengaruh obat pada transmisi sistem kolinergik
maupun adrenergik, yaitu :

1. Hambatan Pada Sintesis Atau Penglepasan Transmitor Kolinergik.


Hemikolinium menghambat ambilan kolin ke dalam ujung saraf dan dengan
demikian mengurangi sintesis ACh. Toksin botulinum menghambat pelepasan
Ach disemua saraf kolinergik sehingga dapat menyebabkan kematian.
Adrenergik. Metiltirosin memblok sintesis NE dengan menghambat
tirosinhidroksilase, enzim yang mengkatalisis tahap penentu pada sintesis NE.
Sebaliknya metildopa, penghambat dopa dekarboksilase, seperti dopa sendiri
didekarboksilasi dan dihidroksilasi menjadi a-metil NE. Guanetidin dan
bretilium juga mengganggu penglepasan dan penyimpanan NE.

2. Menyebabkan Penglepasan Transmitor Kolinergik. Racun laba-laba black


widow menyebabkan penglepasan Ach (eksositosis) yang berlebihan, disusul
dengan blokade penglepasan ini. Adrenergik. Banyak obat dapat
meningkatkan pelepasan NE. Tergantung kecepatan dan lamanya
penglepasan, efek yang terlihat dapat berlawanan.
3. Ikatan dengan Reseptor Obat yang menduduki reseptor dan dapat
menimbulkan efek yang mirip dengan efek transmitor disebut agonis. Obat
yang hanya menduduki reseptor tanpa menimbulkan efek langsung, tetapi efek
akibat hilangnya efek transmitor (karena tergesernya transmitor dari reseptor)
disebut antagonis atau bloker.

4. Hambatan Destruksi Transmitor Kolinergik. Antikolinesterase merupakan


kelompok besar zat yang menghambat destruksi ACh karena menghambat
AchE, dengan akibat perangsangan berlebihan di reseptor muskarinik oleh
Ach dan terjadinya perangsangan disusul blokade di reseptor nikotinik.
Adrenergik. Ambilan kembali NE setelah pelepasannya di ujung saraf
merupakan mekanisme utama penghentian adrenergik.

II.5 Rumus dari komposisi tanaman jamu ‘’PILEK’’

1. Cabe jawa

2. Jahe
3. Temulawak

II.6 Tanaman lain yang berkhasiat atasi penyakit sso

1. Tapak Dara

Nama indonesia : Tapak Dara


Nama latin : Catharanthus roseus
Famili : Apocynaceae
Senyawa berkhasiat : Vinkristin
Rumus struktur :

Interaksi : Amprenavir dapat Meningkatkan kadar serum


vinkristin
Meanisme kerja senyawa : mencegah polimerisasi tubulin menjadi
mikrotubulus. Cepat terdistribusi ke jaringan,
dimetabolisme luas di hati, ekskresi terutama
melalui saluran empe
Cara penggunaan : petik lima belas daun tapak dara dan sepuluh
lembar daun beling. Semuanya dicuci bersih
lalu direbus dengan tiga gelas air hingga tersisa
setengah, Minum dua kali sehari, pagi dan sore.
Toksisitas : Walaupun berkhasiat dalam pengobatan, tapak
dara memberikan efek samping. vinkristin
menimbulkan efek periferal neurotoksik seperti
mialgia, parestesia, kehilangan refleks tendon,
depresi dan sakit kepala serta kesulitan
bernapas. Efek lainnya meliputi alopesia, distres
gastrointestinal (konstipasi) ulkus, amenorrhea,
dan azoospermia.

2. Temu hitam

Nama Indonesia : Temu ireng


Nama latin : Curcuma Aeruginosa Rosb
Senyawa berkhasiat : flavonoid
Famili : Zingiberaceae
Rumus Struktur :

Interaksi : Belum diketahui adanya interaksi temu hitam


dengan obat-obatan atau bahan-bahan yang lain
Meanisme kerja senyawa : Mekanisme flavonoid dalam mengatasi
antiinflamasi adalah melali beberapa jalur yaitu
dengan penghambatan enzim COX dan
lipooksigenase, penghambatan akumulasi
leukosit, penghambatan degranulasi neutrofil,
penghambatan pelepasan histamin
Cara penggunaan : Cuci rimpang segar temu hitam (25 g), lalu
potong tipis-tipis. Rebus dengan dua gelas air
sampai mendidih selama 20 menit. Setelah
dingin, saring, lalu bagi dua sama banyak untuk
diminum pada pagi dan sore hari. Bisa pula
dengan menambahkan jahe.

Toksisitas :-

3. Temulawak

Nama indonesia : Temulawak


Nama latin : Curcuma xanthorrhiza.
Famili : Zingiberaceae
Senyawa berkhasiat : Minyak atsiri
Rumus struktur :
Interaksi : Belum diketahui adanya interaksi temulawak
dengan obat-obatan atau bahan-bahan yang lain
Meanisme kerja senyawa : Kandungan zat aktif minyak atsiri yang
bekerja dengan cara merusak sitoplasma
Cara penggunaan : Di ambil umbi temulawak, tidak dengan
diparut melainkan dengan cara dihancurkan
tidak sampai halus atau di geprek, umbi yang
sudah pecah dan hancur tadi di masukkan ke
dalam 2-3 gelas air dalam panci untuk direbus,
sisakan rebusan air ]kurang lebih 1 gelas, lalu
air sisa rebusan tadi sudah dapat dikonsumsi
langsung
Toksisitas : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
ekstrak rimpang temu lawak (Curcuma
xanthorrhiza Roxb.) tidak memberikan efek
toksik pada karakteristik hematologis dan
sistem reproduksi mencit jantan
4. Cerme
Nama indonesia : Ceremai
Nama latin : Phyllanthus acidus (L.)
Senyawa berkhasiat : Flavonoid
Rumus struktur :

Interaksi :-
Meanisme kerja senyawa : flavonoid mampu menghambat
fosfodiesterase, aldoreduktase, monoamine
oksidase, protein kinase, DA polimerase,
lipoksigease. Flavonoid dapat meningkatkan
sistem imun baik sistem imun alamiah maupun
imun spesifik yang dapat digunakan sebagai
antiinflamasi dan anti alergi.
Cara penggunaan : Beberapa akar kering (1 gr) digiling halus,
seduh dengan air panas, minum (hati hati karena
akarnya agak beracun).
Toksisitas :-

5. Alang – alang

Nama indonesia : Alang – alang


Family : Poaceae
Nama latin : Imperata cylindrica(L)
Senyawa berkhasiat : Cylindol A
Rumus struktur :-

Interaksi :-
Meanisme kerja senyawa : Menghambat enzim 5- lipoksigenase. Dengan
terhambatnya 5-lipoksigenase maka
pembentukan prostaglandin yang menimbulkan
rasa sakit atau nyeri pada otot dapat terhalangi.
Cara penggunaan : Diseduh, dibuat infus atau pil. Diminum 1 kali
sehari, tiap kali minum 100 ml. Untuk yang
berbentuk pil diminum 3 kali sehari 9 pil.
Toksisitas : Berdasarkan hasil penelitian mengatakan
bahwa walaupun toksisitas ekstrak fraksi etil
asetat kurang dari toksisitas ekstrak fraksi
etanol, namun berdasarkan studi yang dilakukan
[9] senyawa kimia dikatakan berpotensi aktif
apabila mempunyai nilai LC50 kurang dari
1000 ppm. Dengan demikian dapat dikatakan
ekstrak fraksi etil asetat berpotensi aktif karena
nilai LC50 yang dihasilkan kurang dari 1000
ppm.

6. Bawang putih

Nama indonesia : Bawang putih


Nama latin : Allium sativum Linn
Famili : Amaryllidaceace (Liliaceae)
Senyawa berkhasiat : Allisin
Rumus struktur :

Interaksi :-
Meanisme kerja senyawa : Senyawa- senyawa tersebut dapat mereduksi
sistein dalam tubuh mikrobia sehingga
mengganggu ikatan disulfida dalam proteinnya
Cara penggunaan : Bawang putih 5 g; Kayu mesoyi 1 g; Herba
patikan kebo 2 g; Adas 1 g; Kapulaga 3 g; Air
110, Ditumbuk kemudian tambahkan air;
diperas kemudian disaring; dididihkan,
Diminum 2 kali sehari; tiap kali 100 ml; diulang
sampai sembuh; untuk pemeliharaan cukup 2
hari sekali 100 ml.
Toksisitas :-
7. Cabai jawa

Nama indonesia : Cabai jawa


Nama latin : Piper retrofractum Vahl
Famili : Piperaceae
Senyawa berkhasiat : capsaisin
Rumus struktur :

Interaksi :
Meanisme kerja senyawa : capsaisin meredakan sebagain rasa sakit
dengan menghabiskan pasokan substansi P
dalam tubuh, sebuah komponen kimia sel-sel
saraf yang terlibat dalam memancrkan sinyal
rasa nyeri ke otak. Ia juga bekerja dengan
melumpuhkan kepekaan reseptor sensorik pada
kulit.
Cara penggunaan : Buah mentah dan kering 6 g; Madu
secukupnya, Buah cabe jawa ditumbuk halus
lalu ditambahkan madu, Diminum setiap hari
Toksisitas : -

8. Ki Tolod

Nama indonesia : Ki Tolod


Nama latin : Isotoma longiflora (L.)
Famili : Campanulaceae
Senyawa berkhasiat : Flavonoid
Rumus struktur :

Interaksi :
Meanisme kerja senyawa : Senyawa flavonoid bekerja secara signifikan
dengan mekanisme menghambat p–glycoprotein

Cara penggunaan : Tiga lembar daun dicuci bersih lalu direbus


dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa satu
gelas. Setelah dingin di saring lalu di minum.
Lakukan 2 kali sehari, pagi dan sore.
Toksisitas :
9. Senggugu

Nama indonesia : Senggugu


Nama latin : Clerodendrum serratum (L.)
Famili : Verbenaceae,
Senyawa berkhasiat : Alkaloid
Rumus Struktur :

Interaksi :-
Meanisme kerja senyawa : Daun senggugu yang mengandung alkaloid
dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram
positif (Bacillus subtilis dan Staphylococcus
aureus) dan bakteri gram negatif (Escherihia
coli dan Pseudomonas aeruginosa)

Cara penggunaan : Sebanyak 10-15 g direbus atau digiling


menjadi bubuk dan diseduh, lalu diminum.
Toksisitas :-
10. Semanggi

Nama indonesia : Semanggi


Nama latin : Hydrocotyle sibthorpiodes Lamk
Famili : Apiaceae
Senyawa berkhasiat : Terpenoid
Rumus Struktur :

Interaksi :
Meanisme kerja senyawa : Terpenoid sebagai antioksidan mekanismenya
ialah menghambat oksidasi atau menghentikan
reaksi berantai pada radikal bebas dari lemak
yang teroksidasi, dapat disebabkan oleh 4
macam mekanisme reaksi yaitu: (1) pelepasan
hidrogen dari antioksidan; (2) pelepasan
elektron dari

Cara penggunaan : Daun semanggi secukupnya; Air secukupnya,


Dimasak, Dimakan sebagai sayuran.
Toksisitas : -
4. Amandel

Amandel adalah bagian dari sistem kekebalan, yang melindungi


dan membantu tubuh untuk melawan infeksi. Tonsilitis sangat umum
dan dapat terjadi pada semua usia. Hal ini paling umum pada anak-anak dan
dewasa (Mansjoer,A.2000).
Tonsilitis merupakan inflamasi atau pembengkakan akut pada tonsil atau
amandel (Reeves, Roux, Lockhart, 2001). T o n s i l i t i s a d a l a h i n f e k s i
amandel pada kelenjar di kedua sisi belakang
tenggorokan. Tonsilitis akut adalah radang akut yang disebabkan oleh kuman
streptococus beta hemolytiikus, streptococus viridons dan streptococus pygenes,
dapat juga disebabkan oleh virus (Mansjoer,A. 2000).
a. Patofisiologi
Saat bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau
mulut, amandel berperan sebagai filter, menyelimuti organisme yang
berbahaya tersebut sel-sel darah putih ini akan menyebabkan infeksi ringan pada
amandel. Hal ini akan memicu tubuh untuk membentuk antibodi terhadap
infeksi yang akan datang akan tetapi kadang -kadang amandel sudah
kelelahan menahan infeksi atau virus. Infeksi bakteri dari virus inilah yang
menyebabkan tonsillitis.
Bakteri atau virus menginfeksi lapisan epitel tonsil -tonsil epitel
menjadi kant e r k i k i s d a n t e r j a d i p e r a d a n g a n s e r t a i n f e k s i
pada tonsil. Infeksi tonsil jarang menampilkan gejala
tetapi dalam kasus yang ekstrim pembesaran ini dapat
menimbulkan gejala menelan. Infeksi tonsil yang
i n i a d a l a h p e r a d a n g a n d i tenggorokan terutama dengan tonsil yang
abses (abses peritonsiler). Abses besar yang terbentuk dibelakang tonsil
menimbulkan rasa sakit yang intens dan demam tinggi (39C -40C).
Abses secara perlahan-lahan mendorong tonsil menyeberang ke tengah
tenggorokan.
Dimulai dengan sakit tenggorokan ringan sehingga
m e n j a d i p a r a h . p a s i e n hanya mengeluh merasa sakit tenggorokannya
sehingga berhenti makan. Tonsilitis dapat menyebabkan kesukaran
menelan, panas, bengkak, dan kelenjar getah benin g melemah didalam
daerah submandibuler, sakit pada sendi dan otot, kedinginan, seluruh t u b u h
s a k i t , s a k i t k e p a l a d a n b i a s a n ya s a k i t p a d a t e l i n g a . S e k r e s i
yang berlebih membuat pasien mengeluh sukar
m e n e l a n , b e l a k a n g t e n g g o r o k a n a k a n t e r a s a mengental. Hal-
hal yang tidak menyenangkan tersebut biasanya berakhir setelah 72
jam. (Edward, 2001, Reeves, Charlene Joux, Gayle dkk, 2001).
b. Manifestasi Klinik
a. Orang dengan tonsilitis sering memiliki :
1. Sakit tenggorokan dan leher
2. Nyeri ketika menelan
3. Drooling !ada anak-anak
4. Demam (seluruh tubuh yang lebih 37,50C untuk orang dewasa dan lebih
dari 380C pada ana-'anak)
5. Kehilangan nafsu makan, dan merasa umumnya “tidak sehat”
6. Amandel merah dan bengkak (dengan nanah)
7. Bengkak dan kelenjar getah bening tender (kelenjar) di kedua sisi leher
8. Perubahan suara mereka (seperti terdengar “serak” atau teredam).
Anak-anak mungkin mengeluh sakit perut tanpa sakit yang tenggorokan,
dan mereka mungkin muntah. Anak-anak kecil mungkin hanya mengalami
demam.
Untuk pengobatan penyakit amandel yang kami dapat dari Materia
Medika yaitu dengan menggunakan berbagai tanaman herbal yang telah dibuat
menjadi produk jamu yang telah disetujui oleh BPOM. Nama Jamu tersebut
yaitu Jamu serbuk untuk menghilangkan gejala Amandel. Adapun tanaman yang
diguakan adalah sebagai berikut :
1. Stachytarpheta mutabilis (keji beling)
2. Merremia mammosa (bidara upas)
3. Abrus pretacorius (saga rambat)
4. Kaompheria galangal (kencur)
5. Nigella sativa (Jinten hitam)
Adapun bagian tanaman yang digunakan adalah :
1. Stachytarpheta folium(daun keji beling)
2. Mammosae bulbus(umbi bidara)
3. Abri folium(daun saga rambat)
4. Kaompheria rhizome (rimpang kencur)
5. Nigella sativa semen (biji jinten hitam)
Cara pakai serbuk jamu:
Masukkan 1 sendok makan serbuk jamu kedalam gelas , seduh dengan 1 gelas
air mendidih (220 ml), aduk rata, minum beningnya saja, ampas dibuang.
Diminum 2 x sehari setelah makan. Dapat ditambahkan madu bila perlu.
Minum jamu secara rutin agar hasil optimal.
*konsultasikan dengan dokter atau apoteker untuk pemantauan efek terapi.
Uraian Tanaman Obat yang digunakan :
1. Stachytarpheta mutabilis (keji beling)
 Klasifikasi
Kerajaan : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kalas : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Magnolidae
Ordo : Scrophulariales
Keluarga : Acanthaceae
Genus : Strobilanthes
Spesies :Strobilanthes crispa (L.) Blume, Stachytarpheta mutabilis
Vahl, Sericocalyx crispus (Linn) (Agoes dan cronquist, 1981).
 Kandungan Kimia
Daun keji beling mengandug unsur-unsur karbonat dan mineral
yang sangat tinggi, seperti kalium, natrium, kalsium, ferum, fosfor, asam
silikat, asam kafeat, asam vanilat, asam gentinat, dan asam sirinat.
Senyawa ini memiliki efek antioksidan yang sangat tinggi dari pada
vitamin E. K Senyawa organik dari tanaman ini yaitu antara lain,
karbohidrat, lendir, steroid, triterpenoid dan protein. Keji beling
mengandung senyawa tannin yang memiliki khsiat sebagai antibakteri.
(Agoes, 2010).
 Kegunaan :
Tanaman ini digunakan oleh sebagian masyarakat Indone -
sia sebagai obat batuk, obat sakit tenggorokan dan sebagai antibakteri.
 Mekanisme kerja obat :
Mekanisme kerja antibakteri meliputi menghambat dan
mengganggu metabolisme sel bakteri, menghambat sintesis dinding sel
bakteri, mengganggu permeabilitas membran sel bakteri, menghambat
atau merusak sintesis nukleat selbakteri (Jawetz, 2008).
 Rumus Struktur Tanin :

 Toksisitas :
Ekstrak etanol daun kejibeling cukup aman, tidak menyebabkan
keracunan maupun kerusakan organ-organ penting, seperti jantung, paru,
hati, ginjal, lambung dan usus.
2. Merremia mammosa (bidara upas)
 Klasifikasi :
Regnum : Plantae
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Asteridae
Ordo : Solanales
Famili : Convolvulaceae
Genus : Merremia
Spesies : Merremia mammosa Hall. f.

 Kandungan kimia :

Ekstrak air umbi bidara upas mengandung senyawa golongan


folifenol, ekstrak n-heksan mengandung senyawa golongan triterpenoid
dan rerpenoid, sedangkan ekstrak metanolmengandung senyawa golongan
polifenol dan flafanoid (Agil, dkk. 2010 : 88). Selain itu juga mengandung
zat antioksidan, yaitu fenolik (Agil et al., 2010).

 Kegunaan:
Cairan umbi bidara segar diminum sebagai obat pada radang
tenggorokan dan organ-organ pernafasan, disentri, demam, serta digunakan
sebagai obat luar pada bekas gigitan ular, luka bakar, keracunan, dan
pencahar ringan (Mansur, 2001 : 370). Selain itu juga dapat mengobati
radang tenggorokan, radang amandel, batuk, dan bronchitis (Depkes, RI.
1979 : 100).
 Mekanisme Kerja obat :
Mekanisme senyawa fenolik sebagai antioksidan dijelaskan oleh
Janeiro dan Brett (2004) yaitu melalui kemampuan dari gugus fenol untuk
mengikat radikal bebas dengan memberikan atom hidrogennya melalui
proses transfer elektron, sehingga fenol berubah menjadi radikal fenoksil.
Radikal fenoksil yang terbentuk sebagai hasil reaksi fenol dengan radikal
bebas kemudian akan menstabilkan diri melalui efek resonansi. Karena
alasan ini maka derivat dari fenol merupakan donor hidrogen yang baik
yang dapat menghambat reaksi yang terjadi oleh senyawa radikal. Senyawa
fenol disebut juga sebagai inhibitor radikal (Togo, 2004).
 Rumus Struktur Polifenol

 Toksisitas :
Efek toksisitas akut dan sub akut akibat konsumsi bidara upas
punsudah diteliti. Hasilnya yaitu menunjukkan bahwa pascabemberian
ekstrak bidara upas, organ hati hewan uji tetap dalam kondisi baik. Jadi
umbi bidara tidak memiliki efek toksisitas yang merugikan (Prepti utami,
buku umbi ajaib).
3. Kaempferia galanga (Kencur)
 Klasifikasi:
Regnum : Plantae
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga

 Kandungan Kimia:
Tanaman kencur mempunyai kandungan kimia yaitu golongan
flavonoid, polifenol, tanin, kuinon, dan monoterpen/ seskuiterpen. Telah
banyak dilakukan penelitian terhadap kandungan dari rimpang kencur,
antara lain penelitian pengembangan turunan sinamat yang diduga
memiliki khasiat sebagai tabir surya dengan memodifikasi perpanjangan
rantai karbon. Selain itu hasil isolasi dari rimpang kencur yaitu etil p-
metoksisinamat diduga memiliki khasiat sebagai analgesik dan
antiinflamasi.
 Kegunaan:
Secara empirik, kencur berkhasiat sebagai obat untuk batuk, gatal-
gatal pada tenggorokan, perut kembung, mual, masuk angin, pegal-pegal,
pengompres bengkak/radang, tetanus dan penambah nafsu makan (Miranti,
2009). ini juga melaporkan bahwa ekstrak air daun kencur mempunyai
aktivitas antiinflamasi yang diuji pada radang akut yang diinduksi dengan
karagenan (Nurmala sara, Uji toksisitas akut senyawa etil
pmetoksisinamatdari rimpang kencur) .
 Mekanisme Kerja Obat :
Efek terapi AINS berhubungan dengan mekanisme kerja
penghambatan pada enzim siklooksigenase-1 (COX-1) yang dapat
menyebabkan efek samping pada saluran cerna dan penghambatan pada
enzim siklooksigenase-2 (COX-2) yang dapat menyebabkan efek samping
pada sistem kardiovaskular. Kedua enzim tersebut dibutuhkan dalam
biosintesis prostaglandin (Lelo dan Hidayat, 2004).
 Rumus Struktur Flavanoid

 Toksistas :
Hasil penelitian dari rimpang kencur memiliki senyawa etil
pmetoksisinamat adalah 3,6523 (3,1715– 4,2060) g/Kg BB, yang senyawa
merupakan senyawa dengan kategori toksik sedang (Nurmala sara, Uji
toksisitas akut senyawa etil pmetoksisinamatdari rimpang kencur) .
4. Biji jinten hitam
 Klasifikasi:
Regnum : Plantae
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Magnoliidae
Ordo : Ranunculales
Famili : Ranunculaceae
Genus : Nigella
Spesies : Nigella sativa
 Kandungan kimia:
Kandungan kimia jinten hitam telah banyak diteliti. Jinten hitam
dilaporkan mengandung minyak atsiri, minyak lemak, limonen, simena,
glukosida, saponin, karvakol, zat pahit, nigelin, nigelon, timokuinon,
ditimokuinon, p-simen dan αpinen, thymoquinone, dithymoquinone (Ditjen
POM, 2009).

 Kegunaan:
Jinten hitam (Nigella sativa L.) merupakan salah satu tanaman
obat yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Bijinya dapat
digunakan sebagai obat untuk mengatasi sesak nafas karena alergi dan
asma karena alergi. adapun zat berkhasiat untuk mengobati penyakit ini
adalah Kristal thymoquinone, dithymoquinone (Depkes RI, 1995), sebagai
sitotoksik dan imunostimulan (Swamy dan Tan, 2000).
 Mekanisme Kerja
Kristal thymoquinone, dithymoquinone, nigellon yang dikandung
oleh jinten hitam dapat menghambat protein kinase C sbg pemicu
pelepasan histamin, leukotrien, dan memiliki efek relaksan
 Rumus struktur

Thymoquinone
Dithymoquinone

 Toksisitas :
Toksisitas potensial dari minyak biji N. sativa diteliti pada mencit
dan tikus melalui penentuan LD50 dan pemeriksaan parameter biokimia,
hematologi dan perubahan hispatologi. Uji keamanan secara oral dari
minyak atsiri dan fixed oil telah dilakukan pada tikus Sprague Dewley
dengan indikator serologi dan hemologi pada konsentrasi 0,3-4% dan
hasilnya seluruh dosis dinyatakan aman untuk digunakan (Tauseef SM et
al., 2009).
5. Abrus pretacorius (saga rambat)
 Klasifikasi:
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiosperrnae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Resales
Suku : Leguminosae
Marga : Abrus
Jenis : Abrus precatorius Linn
 Kandungan kimia:
Glisirhizin; Prekatorina; Abrin; Trigonelina; Kholina; Zat beracun
toksalbumin glikosida; Hemoglutinin; Zat racun abrulin (Buku Tanaman
Herbal).
 Kegunaan:
Dapat digunakan sebagai Antiinflamasi; Diuretik; Antitusif;
Parasitisida (Buku Tanaman Herbal).

 Mekanisme kerja obat :


Mekanisme kerja daun saga rambat sebagai antiinflamasi yaitu
senyawa asetat dalam ekstrak mampu menghambat senyawa
penyebab inflamasi.

 Rumus Struktur Glisirhizin:

 Toksisitas :
Adapun toksisitas dari bunga pukul empat ini belum diketahui
toksisitasnya dikarenakan belum dilakukan penelitian lebih lajut.
6. Bunga Pagoda
 Klasifikasi :

Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiosperrnae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Solanales
Suku : Verbenaceae
Marga : Clerodendrum
Spesies : Clerodendrum paniculatum L.
 Kandungan kimia:
Kandungan kimia dari bunga, daun dan batang tanaman pagoda
adalah saponin, polifenol, alkoloida dan flavanoida.

 Kegunaan:
Selain digunakan sebagai tanaman hias, bunga ini juga mempunyai
banyak manfaat sehingga banyak digunakan sebagai obat tradisional, dari
akar hingga bunganya masingmasing mempunyai manfaat tersendiri bagi
kesehatan tubuh. Tanaman pagoda memilii kegunaan seperti Antiradang;
Diuretik; Sedatif; Hemostatis.
 Mekanisme kerja obat :
Mekanismenya yaitu dengan menghambat pelepasan asam
arakidonat sebelum diubah menjadi prostaglandin sehingga tidak
terjadi peradangan.
 Rumus Struktur :
Struktur kimia alkaloid menurut sirait, 2007 yaitu :

 Toksisitas :
Adapun toksisitas dari bunga pagoda ini belum diketahui
toksisitasnya dikarenakan belum dilakukan penelitian lebih lajut.
7. Bunga Pukul Empat
 Klasifikasi :

Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Sub divisi : Spermatophyta
Kelas : Magnoliopsida
Suku : Caryophyllales
Famili : Nyctaginaceae
Marga : Mirabilis
Spesies : Mirabilis jalapa
 Kandungan kimia:
Bunga pukul empat memiliki kandungan kimia yaitu Alkaloid
trigonelia yang memiliki khasiat sebagai antiinflamasi dan
Diuretik
 Kegunaan:
Bunga pukul empat digunakan sebagai anti radang dan diuretik.
 Cara penggunaan:
Radang amandel, Radang prostat: Akar bunga pukul empat segar
10 g; Air secukupnya, Dibuat jus atau dipipis, Dikompreskan pada
bagian yang sakit.
 Mekanisme kerja obat :
Mekanismenya yaitu dengan menghambat pelepasan asam
arakidonat sebelum diubah menjadi prostaglandin sehingga tidak
terjadi peradangan.

 Rumus Struktur :
Struktur kimia alkaloid menurut sirait,2007 yaitu :

 Toksisitas :
Adapun toksisitas dari bunga pukul empat ini belum diketahui
toksisitasnya dikarenakan belum dilakukan penelitian lebih lajut.
8. Kapulaga
 Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Seper Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Subkelas : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Amomum
Spesies : Amomum compactum Soland.
 Kandungan kimia:
Kapulaga mengandung (Elettaria cardamomum Maton)
mengandung senyawa golongan alkaloid, tanin, terpenoid dan flavonoid.
Pada ekstrak metanol dan fraksi kapulaga lokal tidak terdeteksi adanya
alkaloid. Selain itu juga tanaman herbal ini diketahui mengandung
antioksidan misalnya senyawa fenolik (asam fenolat, flavonoid, kuinon,
kumarin, lignin, stilbenes, tannin), senyawa nitrogen (alkaloid, amina,
betalin), vitamin, terpenoid dan beberapa metabolit endogen (Winarsi,
2014: 1-5). Menurut Cowan (18), senyawa fenol, fenolat atau polifenol
merupakan salah satu golongan senyawa metabolit sekunder yang memiliki
aktivitas antimikroba.
 Kegunaan:
Tanaman rempah-rempah ini banyak mengandung senyawa kimia
yang berfungsi sebagai anti-oksidan yang dapat membantu mencegah
penyakit dan menjaga kesehatan. Selain itu kapulaga juga diketahui
memiliki kahasiat sebagai antimikroba.
 Cara penggunaan :
Batuk, Radang tenggorakan, Suara parau : Umbi bidara upas segar
8 g; Rimpang kencur 6 g; Daun sirih 3 helai; Buah kapulaga 3 g; Air
secukupnya, Dipipis, Beningan untuk berkumur kemudian diminum 2 kali
sehari; pagi dan sore. Radang amandel, gangguan haid, kejang perut, obat
kumur, influenza, radang lambung, sesak napas, badan lemah (sebagian
tonikum) : Buah direbus lalu dimakan.
 Mekanisme kerja obat :
Mekanisme senyawa fenolik sebagai antioksidan dijelaskan oleh
Janeiro dan Brett (2004) yaitu melalui kemampuan dari gugus fenol untuk
mengikat radikal bebas dengan memberikan atom hidrogennya melalui
proses transfer elektron, sehingga fenol berubah menjadi radikal fenoksil.
Radikal fenoksil yang terbentuk sebagai hasil reaksi fenol dengan radikal
bebas kemudian akan menstabilkan diri melalui efek resonansi. Karena
alasan ini maka derivat dari fenol merupakan donor hidrogen yang baik
yang dapat menghambat reaksi yang terjadi oleh senyawa radikal. Senyawa
fenol disebut juga sebagai inhibitor radikal (Togo, 2004). Mekanisme
penghambatan bakteri oleh senyawa fenol dengan cara mengganggu
komponen penyusun peptidoglikan sel bakteri, sehingga lapisan sel bakteri
tidak terbentuk secara utuh. Mekanisme senyawa fenol sebagai antibakteri
pada konsentrasi rendah dengan merusak membran sitoplasma dan
menyebabkan kebocoran inti sel, sedangkan pada konsentrasi tinggi
senyawa fenol akan berkoagulasi dengan protein seluler
 Rumus Struktur :

 Toksisitas :
Toksisitas dari kapulaga ini belum diketahui toksisitasnya
dikarenakan belum dilakukan penelitian lebih lajut.
9. Bunga Putri Malu
 Klasifikasi :

Regnum : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Sub divisi : Spermatophytina
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Mimosa L.
Spesies : Mimosa pundica L.

 Kandungan kimia:
Sebuah penelitian terdahulu telah berhasil mengisolasi dan
mengidentifikasi senyawa yang terkandung dalam putri malu, yaitu
senyawa flavonoid golongan flavon dan flavanol dalam ekstrak metanol
daunnya.
 Kegunaan:
Daun bunga putri malu memiliki efek sebagai antibakteri.

 Mekanisme kerja obat :


Kemampuan dan mekanisme kerja ekstrak daun putri malu dalam
menghambat pertumbuhan bakteri masih belum di-pahami dengan jelas.
Untuk itu masih diperlukan penelitian lanjut tentang mekanisme kerja efek
antimikroba dari ekstrak daun putri malu dan bagian-bagian lainnya dari
tanaman ini yang diharapkan dapat membuahkan hasil yang bermanfaat
bagi manusia.
 Toksisitas :
Toksisitas dari daun bunga putri malu ini belum diketahui
toksisitasnya dikarenakan belum dilakukan penelitian lebih lajut.
10. Mengkudu
Tanaman mengkudu diklasifikasikan sebagai berikut (Djauhariya, 2003):
Filum : Angiospermae
Subfilum : Dicotyledonae
Divisi : Lignosae
Famili : Rubiaceae
Genus : Morinda
Spesies : Morinda citrifolia
 Kandungan kimia dan Kegunaan:
Sirait (2007) menyatakan bahwa alkaloid yang terkandung dalam
buah mengkudu sering digunakan dalam bidang pengobatan yang
dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan gram
negatif (Karou et al., 2006).
 Mekanisme kerja obat :
Robinson (1995) menyatakan bahwa senyawa alkaloid dapat
mengganggu terbentuknya jembatan seberang silang komponen
penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding
sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel.
 Rumus Struktur :
Struktur kimia alkaloid menurut sirait,2007 yaitu :

 Toksisitas :
Toksisitas dari buah mengkudu ini belum diketahui toksisitasnya
dikarenakan belum dilakukan penelitian lebih lajut.

5. Gastritis

Suatu peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronik difus atau lokal
dengan karakteristik anoreksia, rasa penuh, tidak enak pada epigastrium, mual dan
muntah (Suratun SKM, 2010).

Gastritis adalah inflamasi mukosa lambung, sering akibat diet


yangsembarangan.Biasanya individu ini makan terlalu banyak atau terlalu cepat
atau makan - makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikroorganisme
penyebab penyakit (Smelzer2002).

Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung yang dapat bersifat akut
kronik, difus atau lokal (Soepaman, 1998).Gastritis adalah inflamasi dari mukosa
lambung (Arif Mansjoer,1999).Gastritis adalah radang mukosa lambung
(Sjamsuhidajat, R, 1998).

Gastritis merupakn peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronis,


difusi atau local. (patofisologi : 378 )Gastritis adalah inflamasi mukosa lambung,
seiring terjadi akibat diid sembrono, makan terlalu banyak atau terlalu cepat atau
makan makanan yang terlalu berbumbu atau yang mengandung mikroorgnisme
penyebab penyakit, disamping itu penyebab lain meliputi alcohol, aspirasi, refluks
empedu, terapi radiasi ( KMB & vol 2 :1062 )

1. Etiologi

Penyebab dari Gastritis dapat dibedakan sesuai dengan klasifikasinya sebagai


berikut :

 Gastritis Akut
Penyebabnya adalah obat analgetik, anti inflamasi terutama aspirin (aspirin
yang dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung).Bahan
kimia misal : lisol, alkohol, merokok, kafein lada, steroid dan digitalis.

 Gastritis Kronik
Penyebab dan patogenesis pada umumnya belum diketahui.Gastritis ini
merupakan kejadian biasa pada orang tua, tapi di duga pada peminum alkohol,
dan merokok.
2. Patofisiologi
 Gastritis Akut
Banyak faktor yang menyebabkan gastritis akut,seperti beberapa jenis
obat, alkohol, bakteri, virus, jamur, stress akut, radiasi, alergi atau intoksikasi
dari bahan makanan dan minuman garam empedu, iskemia, dan trauma
langsung.

1. Obat-obatan,seperti obat -inflamasi nonsteroid/OAINS (Indometasin,


Ibuprofen dan Asam Salisilat), sulfonamide, streoid, kokain, agen
kemoterapi (Mitomisin,5 fluoro-2-deoxyuridine), salisilat, dan digitalis
bersifat mengiritasi mukosa lambung (Gelfand,1999)

2. Minuman beralkohol:seperti whisky,vodka,dan gin

3. Infeksi bakteri: seperti H.pylori (paling sering), H.heimanii, streptococci,


staphylococci, proteus spesicies, clostridium species, E.coli, Tuberculosis,
dan secondary syphflis

4. Infeksi virus oleh sitomegalovirus (Giannakis,2008)


5. Infeksi jamur, seperti candidiasis, Histoplasmosis, dan phycomycosis

6. Stres fisik yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan,
gagal napas, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat, dan refluks usus-
lambung.

7. Makanan dan minuman yang bersifat iritan. Makanan berbumbu dan


minuman dengan kandungan kafein dan alkohol merupakan agen-agen
penyebab iritasi mukosa lambung.

8. Garam empedu, terjadi pada kondisi refluks garam empedu (komponen


penting alkali untuk aktivasi enzim-enzim gastrointestinal) dari usus kecil
kemukosa lambung sehingga menimbulkan respons peradangan mukosa.
9. Iskemia, hal ini berhubungan dengan akibat penurunan aliran darah
kelambung.
10. Trauma langsung lambung, berhubungan dengan keseimbangan antara
agresi dan mekanisme pertahanan untuk menjaga integritas mukosa, yang
dapat menimbulkan respons peradangan pada mukosa lambung.
Secara patofisiologi, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan
kerusakan mukosa lambung,meliputi:

(1) kerusakan mukosa barrier,yang menyebabkan difusi balik ion H+


meningkat

(2) perfusi mukosa lambung yang terganggu dan

(3) jumlah asam lambung yang tinggi

Faktor-faktor tersebut biasanya tidak berdiri sendiri,contohnya,stres fisik


akan menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu sehingga timbul
daerah-daerah infark-kecil, tidak terganggu. Hal tersebut yang
membedakannya dengan gastritis erosif karena bahan kimia atau obat. Pada
gastritis refluks, gastritis karena bahan kima dan obat menyebabkan mucosal
barier rusak sehingga difusi balik ion H+ meninggi. Suasana asam yang
terdapat pada lumen lambung akan mempercepat kerusakan mucosal barrier
oleh cairan usus. (Lewis,1000)

Pada kondisi dimana pasien mengonsumsi alkohol bersamaan dengan


aspirin,efeknya akan lebih merusak dibandingkan dengan efek masing-
masing agen tersebut secara terpisah. Gastritis erosif hemoragik difus
biasanya terjadi pada peminum alkohol berat dan pengguna aspirin,kondisi
tersebut dapat menyebabkan perlunya dilakukan reseksi lambung.Penyakit
yang serius ini akan dianggap sebagai ulkus akibat stres,karena keduanya
memiliki banyak persamaan.(Lewis,2000)
Gastritis erosif akut (disebut juga gastritis reaktif) dapat terjadi karena
pajanan beberapa faktor atau agen termasuk OAINS, kokain, refluks garam
empedu, iskemia, radiasi yang mengakibatkan kondisi hemoragi, erosi, dan
ulkus. Akibat pengaruh gravitasi, agen ini akan berada pada bagian distal
atau yang terdekat dengan area akumulasi gen. Mekanisme utama dari injuri
adalah penurunan sistesis prostaglandin yang bertanggung jawab
memproteksi mukosa dari pengaruh asam lambung. Pengaruh pada kondisi
lama akan menyebabkan terjadinya fibrosis dan striktur pada bagian
distal (Wehbi,2009).

 Gastritis Kronis

Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini


menyerang sel permukaan gaster, memperberat timbulnya desquamasi sel dan
muncullah respon radang kronis pada gaster yaitu: destruksi kelenjar dan
metaplasia. Metaplasia adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh
terhadap iritasi, yaitu dengan mengganti sel mukosa gaster, misalnya dengan
sel desquamosa yang lebih kuat.Karena sel desquamosa lebih kuat maka
elastisitasnya juga berkurang. Pada saat mencerna makanan, lambung
melakukan gerakan peristaltik tetapi karena sel penggantinya tidak elastis
maka akan timbul kekakuan yang pada akhirnya menimbulkan rasa nyeri.
Metaplasia ini juga menyebabkan hilangnya sel mukosa pada lapisan
lambung, sehingga akan menyebabkan kerusakan pembuluh darah lapisan
mukosa. Kerusakan pembuluh darah ini akan menimbulkan perdarahan (Price,
Sylvia dan Wilson, Lorraine, 1999: 162).

3. Klasifikasi

Gastritis dibagi menjadi 2 yaitu:


1. Gastritis akut

Salah satu bentuk gastritis akut yang sering dijumpai di klinik ialah
gastritis akut erosif. Gastritis akut erosif adalah suatu peradangan mukosa
lambung yang akut dengan kerusakan-kerusakan erosif. Disebut erosif apabila
kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam daripada mukosa muskularis.

2. Gastritis kronis

Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan mukosa


lambung yang menahun (Soeparman, 1999, hal: 101). Gastritis kronis adalah
suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang berkepanjangan
yang disebabkan baik oleh ulkus lambung jinak maupun ganas atau oleh
bakteri helicobacter pylori(Brunner dan Suddart, 2000, hal: 188).

Gastritis kronis dibagi dalam tipe A dan B. Gastritis tipe A mampu


menghasilkan imun sendiri, tipe ini dikaitkan dengan atropi dari kelenjar
lambung dan penurunan mucosa. Penurunan pada sekresi gastrik
mempengaruhi produksi antibodi. Anemia Pernisiosa berkembang dengan
proses ini. Sedangkan Gastritis tipe B lebih lazim, tipe ini dikaitkan dengan
infeksi bakteri Helicobacter Pylori, yang menimbulkan ulkus pada dinding
lambung.

4. Manifestasi Klinis

a. Gastritis akut

Rasa nyeri pada epigastrium yang mungkin ditambah mual. Nyeri dapat
timbul kembali bila perut kosong.Saat nyeri penderita berkeringat, gelisah,
sakit perut dan mungkin disertai peningkatan suhu tubuh, tachicardi, sianosis,
persaan seperti terbakar pada epigastrium, kejng-kejng dan lemah.
b. Gastritis kronis

Tanda dan gejala hanpir sam dengan gastrritis akut, hanya disertai
dengan penurunan berat badan, nyeri dada, enemia nyeri, seperti ulkus
peptikum dan dapat terjdi aklohidrasi, kadar gastrium serum tinggi.

5. Pemeriksaan Penunjang

 Endoskopi: akan tampak erosi multi yang sebagian biasanya berdarah dan
letaknya tersebar.
 Pemeriksaan Hispatologi : akan tampak kerusakan mukosa karena erosi tidak
pernah melewati mukosa muskularis.
 Biopsi mukosa lambung
 Analisa cairan lambung untuk mengetahui tingkat sekresi HCL, sekresi HCL
menurun pada klien dengan gastritis kronik.
 Pemeriksaan barium
 Radiologi abdomen
 Kadar Hb, Ht, Pepsinogen darah
 Feces bila melena
 EGD (Esofagos gastri duodenoskopi) tes diagnostik kunci untuk perdarahan
GI atas, dilakukan untuk melihat sisi perdarahan / derajat ulkus jaringan /
cedera.
 Minum barium dengan foto rontgen dilakukan untuk membedakan diganosa
penyebab / sisi lesi.
 Angiografi vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat
disimpulkan atau tidak dapat dilakukan. Menunjukkan sirkulasi kolatera dan
kemungkinan isi perdarahan.
 Amilase serum meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah diduga
gastritis
(Doengoes, 1999, hal: 456)
6. Diagnosa

 Ketidakseimbangan nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan intake nutrien yang tidak adekuat yang ditandai dengan klien
mengeluh tidak mau makan
 Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang tidak
adekuat dan kehilangan cairan yang berlebihan karena muntah
 Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa lambung yang ditandai dengan
klien mengeluh nyeri dan terlihat meringis menahan nyeri
 Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
 Kurang pengetahuan b.d ketidakadekuatan informasi pelaksanaan diet dan
faktor pencetus iritan pada mukosa lambung
 Ansietas berhubungan dengan pengobatan yang ditandai dengan klien tampak
gelisah

7. Evaluasi

 Nyeri epigastrium berkurang atau teradaptasi


 Asupan nutrisi terpenuhi
 Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit tidak terjadi
 Aktivitas telah kembali normal
 Informasi terpenuhi
 Tingkat kecemasan berkurang
1. Taksonomi Tanaman Temulawak
Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

Family : Zingiberaceae

Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma xanthorrhiza ROXB

Kandungan senyawa temulawak

Kandungan zat yang terdapat pada rimpang temulawak terdiri atas pati, abu,
serat, dan minyak atsiri.Rimpang yang dihasilkan dari dataran tinggi lebih banyak
kandungan minyak atsirinya dibandingkan dengan rimpang dari dataran rendah.
Komponen utama yag terdapat dalam rimpang temulawak adalah zat kuning yang
disebut “kurkumin”, dan juga protein, pati, serta zat – zat minyak atsiri.
Mekanisme Kerja

Curcuma xanthorriza Roxb mampu

Sebagai gastroprotektor terhadap kerusakan histologis lambung mencit akibat


pemberian aspirin pada dosis 0,1 ml/20 gBB. Aktivitas kurkumin sebagai antiulcer,
dijelaskan melalui mekanisme penurunan sekresi dari asam lambung.Kurkumin dapat
meningkatkan produksi mukus pada mukosa selain itu mineral temulawak diketahui
dapat menetralisir asam lambung. (Sulistyoningrum, 2008)

Rumus Struktur

Toksisitas

Pemberian oral dari ekstrak etanol curcuma xanthorrhiza menunjukan tidak


menimbulkan kematian pada tikus dengan dosis sampai 5g/kg.tidak ada
toksisitas yang ditemukan pada kulit, bulu atau mata.Tidak ada perubahan
perilaku pada salvias, pola tidur, diare atau letargi yang ditemukan pada hewan
coba. Jadi hasil ini menunjukan bahwa curcuma xanthorrhiza tidak toksik dan
aman pada dosis 300mg/kg,2000mg/kg dan 5000mg/kg. sehingga ekstrak
tanaman ini aman untuk digunakan pada pengobatan (Devaraj et al.,2010).
Interaksi

Interaksi molekuler inhibisi enzim siklooksigenase-2 oleh kurkumin


dan beberapa senyawa analognya secara in silico.Penelitian ini menggunakan
7 senyawa obat yaitu kurkumin, analog 1, 2, 3, 4, etodolac, dan asam
arakidonat.Senyawa penambatan yang digunakan adalah 1PXX yang didapat
dari situs PDB (Protein Data Bank).Senyawa agonis yang digunakan adalah
asam arakidonat, senyawa antagonis etodolac, sedangkan senyawa ujinya
yaitu kurkumin, analog 1, 2, 3, dan 4.Semua senyawa ditambatkan
menggunakan aplikasi ArgusLab 4.0.1.proses penambatan dilakukan dengan
metode ArgusDock. Hasil analisa menunjukkan bahwa energi bebas Gibs
(ΔG) kurkumin, analog 2, dan 3 lebih kecil dari pada asam arakidonat.

2. Taksonomi Tanaman PEGAGAN (Centella asiatica)

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Dicotyledone

Ordo : Umbillales

Famili : Umbilliferae (Apiaceae)

Genus : Centella

Spesies : Centella asiatica

Kandungan Senyawa Pegagan

Pegagan yang simplisianya dikenal dengan sebutan Centella Herba memiliki


kandungan asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside,
brahmoside, brahmic acid, brahminoside, madasiatic acid, meso-inositol,
centelloside, carotenoids, hydrocotylin, vellarine, tanin serta garam mineral seperti
kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga
glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside merupakan antilepra dan
penyembuh luka yang sangat luar biasa.Zat vellarine yang ada memberikan rasa
pahit.Diduga senyawa glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside berperan
dalam berbagai aktifitas penyembuhan penyakit.Asiaticoside dan senyawaan
sejenis juga berkhasiat anti lepra (kusta).Secara umum, pegagan berhasiat sebagai
heparoprotektor yaitu melindungi sel hati dari berbagai kerusakan akibat racun dan
zat berbahaya.

Banyaknya manfaat tanaman ini nampaknya berkaitan dengan banyaknya


komponen minyak atsiri seperti sitronelal, linalool, neral, menthol, dan linalil
asetat. Dengan adanya komponen tersebut dalam minyak atsiri pegagan, tanaman
ini memiliki potensi sebagai sumber bahan pengobatan terhadap anti penyakit
yang disebabkan tujuh jenis bakteri Rhizobacter spharoides, Escherichia coli,
Plasmodium vulgaris, Micrococcus luteus, Baccillus subtilis, ghliEntero aerogenes
dan Staphyllococcus aureus.

Mekanisme Kerja

Herba pegagan dapat menstimulasi pembentukan pembuluh darah


(angiogenesis) dan regenerasi sel mukosal pada tahap penyembuhan tukak
lambung, memfasilitasi proliferasi epitel dan menekan aktifitas mieloperoksidase
yang berperan dalam pembentukan tukak lambung.

Rumus Struktur
Toksisitas

Dilaporkan uji toksisitas akut menunjukkan bahwa pegagan tidak toksik


sampai dengan dosis 2000 mg/kgBB karena tidak ada hewan uji yang mati dan
tidak ada gejala klinis ketoksikan bermakna yang tampak pada seluruh kelompok
hewan uji (Anonim 2010).

Dan Tidak toksik sampai dosis 350 mg/kg BB, tetapi pada penggunaan
berulang bersifat karsinogenik pada kulit tikus (Anonim 2008).

Interaksi

Pasien yang sedang menunggu jadwal operasi sebaiknya tidak


mengonsumsi Pegagan dalam jangka waktu 2 minggu sebelum jadwal operasi,
karena pengaruh interaksi Pegagan dengan obat-obatan yang mendepresi
Susunan Saraf Pusat.Konsumsi Pegagan dalam jumlah besar juga
menimbulkan kantuk.

3. BUNGA KANA(Canna indica)


Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Subkelas : Commelinidae

Ordo : Zingiberales
Famili : Cannaceae

Genus : Canna

Spesies : Canna indica L

Pati ganyong merah dan ganyong putih mempunyai perbedaan komposisi


makronutrien dan mikronutrien. Berdasarkan

Tabel 1. komponen protein, lemak, pati dan amilosa ganyong merah berbeda nyata
terhadap ganyong putih (P<0,05), sedangkan komponen amilopektin dan abu
keduanya tidak berbeda nyata (P>0,05).

Lemak lebih tinggi sebesar 62,2% dan 94,72% daripada ganyong putih,
sedangkan kandungan pati dan amilosa dari pati ganyong merah lebih rendah sebesar
1,61% dan 4,45% daripada ganyong putih. Komponen mikronutrien Fe dan Ca kedua
jenis umbi ganyong tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan komponen P dan
vitamin C berbeda nyata (P<0,05). Pati ganyong merah mempunyai kandungan
vitamin C lebih tinggi sebesar 10,55% daripada ganyong putih, sedangkan kandungan
P pati ganyong merah lebih rendah sebesar 36,53% dari ganyong putih.

Rumus Struktur
4. BOESENBERGIAE RHIZOMA
Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Boesenbergia
Spesies : Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlect

Senyawa Kimia

Minyak atsiri (terdiri dari kamfer, sineol, metil sinamat, dan hidromirsen), d-
borneol, d-pinen sesquiterpen,Kurkumin,Tannin,Saponin,Flavonoid

Rumus Struktur
Toksisitas

Praktis tidak toksik

Efek Biologi dan Farmakologi

Minyak atsiri rimpang temu kunci (Boesenbergia pandurata) berefek


pada pertumbuhan Entamoeba coli, Staphyllococus aureus dan Candida
albicans, selain itu dapat berefek pada pelarutan batu ginjal kalsium secara in
vitro (Sasmita, E., 1992).Perasan dan Infusa rimpang temu kunci memiliki
daya analgetik dan antipiretik. 7,22) Di samping itu dapat mempunyai efek
menggugurkan, resorpsi dan ber-pengaruh pada berat janin tikus (Pudjiastuti,
B.W., Widowati, L., 1993).Ekstrak rimpang yang larut dalam etanol dan
aseton berefek sebagai antioksidan pada percobaan dengan minyak ikan
sehingga mampu menghambat proses ketengikan. 20) Dari penelitian lain
diperoleh informasi bahwa ekstrak temu kunci dapat menghambat bakteri
isolat penyakit Orf (Ektima kontagiosa) (Poeloengan, M., Chairul, Harapini,
M., Rahayu, R.D., 1996)

Tambahan tanaman Untuk Penyakit GI:

DIARE

1. Nama Tanaman : Jambu biji (Psidium guajavaL)


Famili/Suku : Myrtaceae
Bagian yang digunakan : Daun (Folium)
Zat Aktif : Zat tanin
Rumus Struktur :

Mekanisme Kerja : Dapat menghambat pelepasan asetilkolin yang


merupakan penyebab diare di saluran cerna, dan dapat memperlambat waktu
lintas usus.

Cara Penggunaan : Daun Jambu biji segar seberat 30gr ditambah


segenggam tepung beras dan air 1-2 gelas direbus, minum airnya 2 kali
sehari. Cara lainnya kunyah 3 lembar daun jambu biji muda yang segar
dengan sedikit garam lalu ditelan, lakukan 2 kali sehari.

Kandungan Senyawa : Pada jambu biji yang memberikan efek


antidiare adalah zat tannin (Kumalaningsih, 2006), flavoniod, minyak atsiri,
dan alkaloid (Fratiwi, 2015).

2. Nama Tanaman : Pepaya (Carica Pepaya L)


Famili/Suku :Caricaceae
Bagian yang digunakan : Biji (Semen) Pepaya
Zat aktif : Zat Tanin

Rumus struktur :

Mekanisme Kerja : Dengan mengkelat dan protektif dimana tanin akan


mengendap pada mukosa sepanjang dinding saluran pencernaan dan secara tidak
langsung juga menciutkan usus saat terjadi diare sehingga menekan gerak
peristaltik usus dan mengurangi rangsang terhadap aktivitas peristaltik yang
meningkat

Cara Penggunaan :

Mentah: Cara paling sederhana ialah dengan mengambil bijinya langsung

dari potongan buahnya dan memakannya bersama buahnya.

 Ditumbuk: Anda juga bisa mengumpulkan semua biji papayadan tumbuk


menggunakan mortar dan alu.Biji pepaya yang sudah ditumbuk dapat disimpan
dalam toples kecil di kulkas hingga kurang-lebih 1 minggu. Anda juga bisa
menyimpannya didalam freezer agar tahan lebih lama, dan cairkan dulu sebelum
menggunakannya untuk campuran salad, jus, atau sup.
Kandungan Senyawa : Biji buah pepaya juga mengandung senyawa aktif
seperti tanin, fenol, saponin dan alkaloid.

3. Nama Tanaman : Daun Beluntas (Pluchea indica L)


Famili/Suku : Asteraceae
Bagian yang digunakan : Daun (Folium)

Zat Aktif : Zat Tanin


Rumus struktur :

Mekanisme Kerja : Senyawa tanin bersifat sebagai astringent,


mekanisme tanin sebagai astringen adalah dengan menciutkan permukaan
usus atau zat yang bersifat proteksi terhadap mukosa usus dan dapat
menggumpalkan protein.Oleh karena itu senyawa tanin dapat membantu
menghentikan diare.Daun beluntas juga mempunyai aktivitas farmakologi
daya antiseptik terhadap bakteri penyebab diare yaitu Staphylococcus
aureus,Escherichia coli, dan Salmonella typhimurium.

Cara Penggunaan : Direbus = Untuk merebus, siapkan segenggam


daun beluntas yang masih segar, cuci sampai bersih, lalu rebuslah bersama 1 –
1,5 gelas air selama minimal 30 menit. Kemudian saring dan minumlah ½
gelas air rebusan itu sebanyak 3 kali, disarankan setengah jam sebelum
makan. Bila gejala-gejala dari masalah kesehatan yang ingin diatasi sudah
hilang atau jika tida ada perubahan setelah 3 hari, hentikan konsumsi herbal
ini.

Kandungan Senyawa : Golongan senyawa aktif yang teridentifikasi


dalam daun beluntas antara lain fenol hidrokuinon, tanin, alkaloid,steroid dan
minyak atsiri.

KONSTIPASI

1. Nama tanaman : Lidah buaya (Aloe Vera)


Famili : Liliaceae
Bagian yang digunakan : Daging lidah buaya

Zat aktif : Aloe-emodin-anthrone dan Barbaloin


Rumus truktur :
Cara penggunaan : Ambil satu batang lidah buaya, kupas kulitnya,
kemudian cuci lalu iris kecil-kecil. Seduh dengan air panas, untuk menyamarkan
rasa getirnya Anda dapat menambahkan madu.Minum saat masih hangat.
Kandungan senyawa : Senyawa yang terkandung dalam tanaman lidah buaya
berupa aloin, emodin, resin, lignin, saponin,antrakuinon, vitamin, mineral,
dan lain sebagainya (Suryowidodo, 1988)
Mekanisme kerja :

2. Nama tanaman : Rimpang bangle (Zingiber montanum)


Famili : Zingiberaceae
Bagian yang digunakan : rimpanng

Zat aktif : Minyak atsiri (sineol, pinen dan seskuiterpen)


Rumus struktur :

Cara penggunaan : Rimpang dibersihkan dari kotoran kemudian dirajang


tipis dan dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu 40ºC.Setelah kering
rimpang digiling menjadi serbuk halus.Kemudian serbuk rimpang dibuat seduhan
20% dengan menambahkan aquadest sesuai dengan Farmakope Indonesia III.
Kandungan senyawa : kandungan senyawa dari rimpang bangle adalah
Rimpang bangle mengandung minyak atsiri (sineol, pinen dan seskuiterpen),
damar, pati, tannin, saponin, flavonoid,triterpenoid, steroid, alkaloid, dan
glikosida (Padmasari,dkk. 2013).
Mekanisme kerja : Merangsang Peristaltik usus dan sekresi lender usus
dengan jalan meransang pleksus saraf intramuskural atau dapat juga merangsang
otot polos usus. Sehingga menyebabkan sekresi cairan dan elektrolit ke dalam
lumen usus dan aktifitas motor usus diubah dengan banyaknya massa dalam
lumen usus.

3. Nama Tanaman : Senna, cassia senna l dan c. angustifolia vahl


(senna) (Sennae fructus, Sennae folium)

Famili : Fabaceae

Bagian yang digunakan : adalah daun senna dan buah senna

Zat Aktif : Glikosida antrakinon terutama senosid A dan B

Rumus struktur :
Cara penggunaan : Teh senna yang berasal dari daun kering tanaman
semak Senna alexandrina ini mengandung senyawa glikosida.Glikosida memiliki
efek laksatif alami yang dapat membantu melemaskan otot-otot sistem
pencernaan agar membuat feses lebih bergerak dengan mudah disepanjang usus
hingga keluar lewat anusDikonsumsi sehari sekali pagi atau malam hari.Rasa teh
senna cukup pahit, bisa menambahkan madu sebagai pemanis agar rasanya lebih
bersahabat di lidah,

Mekanisme Kerja : Efek pengobatan dari Daun Senna dikarenakan


kandungan glikosida antrakinon terutama senosid A dan B.Penguraian glikosida
antrakuinon dalam saluran pencernaan dapat terjadi dalam 2 cara :

1. Glikosida tidak diserap dalam usus bagian atas tetapi diurai oleh mikroflora
dalam usus besar menjadi aglikon aktif, secara principal rhein anthron yang
menimbulkan efek laksatif pada usus besar .
2. Adanya empedu dan gula, aglikon bebas dapat diserap masuk ke dalam aliran
darah dan dikeluarkan kemudian ke dalam usus besar. Hasil akhirnya
Auerbach plexus menghasilkan peningkatan kontraksi otot usus. Selain itu
kandungan mucilage mengurangio penyerapan cairan yang menyebabkan
peningkatan kerja laksatif.

Efek samping : - Kadar kalium di dalam darah berada di bawah

normal atau hypokalemia

- Urine berwarna coklat-kemerahan

- Perubahan pada warna dinding usus besar (kolon)

atau melanosis coli.

Kandungan Senyawa : Daun. Senosida A dan B yang terdiri atas aglikon


senidin A dan senidin B, senosida C dan D, yang merupakan glikosida
heterodiantron pada aloe-emodin dan rein,palmidin A, antron rein dan glikosida
aloe-emodin dan beberapa antrakuinon bebas C senna biasanya mengandung
senosida dalam junlah yang lebih banyak.

Buah.Senosida A dan B serta suatu glikosida sejenis yaitu senosida A1. Senosida
tersebut, yang merupakan diantron, stereokimianya berbeda pada C10 dan C10
juga memiliki pola subsitusi yang berbeda C.senna biasanya mengandung jumlah
senosida yang lebih banyak.

MAAG

Kunyit Putih (Maag)

Curcuma mangga Val.

Famili : Zingiberaceae

Maag,

nyeri lambung

bagian yang digunakan rimpang

Cara Penggunaan

Minum ½ sendok serbuk kunir putih

sebelum makan, 3 x sehari.


Kandungan kimia

Rimpang kunyit putih (Curcuma mangga Val.) mengandung bahan


minyak atsiri, amilum, tanin, gula dan damar (Muhisah, 1999) Syukur (2003).
Komponen yang terdapat dalam rimpang kunyit putih (Curcuma mangga Val.)
yaitu myrcene (81,4%), β-ocimene (5,1%), β-pinene (3,7%), α-pinene (2,9%),
minyak atsiri (0,28%), dan kurkumin (3%). Selain itu rimpang dan
daunnya mengandung saponin, flavonoid dan polifenol (Kardinan dan
Taryono, 2003).

Efek samping

Menyebabkan gangguan pencernaan dan saluran kemih

Menyebabkan gangguan kesuburan

Menyebabkan anemia

Mekanisme kerja

Kunyit bersifat bakterisidal terhadap bakteri gram positif, yaitu


Lactobacillus fermentum, L. bulgaricus, Bacillus cereus, B. subtilis, dan B.
megaterium Kunyit mengandung lebih dari satu senyawa yang bersifat
bakterisidal. Salah satu senyawa tersebut adalah senyawa kurkumin yang
merupakan senyawa golongan fenol yang terdiri dari dua cincin fenol simetris
dan dihubungkan dengan satu rantai hiptadiena. Senyawa fenol menghambat
pertumbuhan mikroba dengan cara merusak membrane sel yang akan
menyebabkan denaturasi protein sel dan mengurangi tekanan permukaan sel.

Gastrointestinal (Maag)

Sambung Nyawa

Famili: Asteraceae

Bagian yang digunakan pada tanaman sambung nyawa adalah daun

Kandungan kimia

senyawa flavonoid, tanin, saponin, steroid, triterpenoid, asam klorogenat,


asam kafeat, asam vanilat, asam para kumarat, asam p-hidroksi
benzoat (Suganda et al., 1988), asparaginase (Mulyadi, 1989). Sedangkan
hasil analisis kualitatif dengan metode kromatografi lapis tipis yang
dilakukan Sudarsono et al. (2002) mendeteksi adanya sterol, triterpen,
senyawa fenolik, polifenol, dan minyak atsiri. Sugiyanto et al. (2003).

Rumus Struktur Flavonoid


Cara penggunaan

Daun mentah segar3 lembar dicuci lalu dimakan sebagai lalapan (atau dijuice dan
diminum) setiap hari dan dilakukan secara teratur, setiap kali makan. Pantangan:
makanan yang pedas dan asam.

Efek samping

- Menimbulkan asam urat


- Memicu risiko stroke dan serangan jantung
- Memicu penyakit arthritis
- Menghambatnya system sirkulasi darah
- Tidak stabilnya system endokrin tubuh
Mekanisme kerja

didapatkan kandungan metabolit sekunder pada tanaman daun


sambung nyawa (Gynura procumbens (Lour.)Merr.)yaitu alkaloid, saponin,
dan flavonoid. yang memiliki aktivitas antibakteri. Alkaloid mempunyai
aktivitas sebagai antibakteri dengan menginterkelasi dinding sel DNA bakteri
(Tiwari, et al., 2011).Flavonoid mempunyai aktivitas antibakteri dengan
mengganggu fungsi metabolisme melalui perusakan dinding sel dan
mendenaturasi protein bakteri (Pelezar & Chan, 1998). Sedangkan saponin
memiliki aktivitas antibakteri dengan mengganggu permukaan dinding sel.
Saat terganggu zat antibakteri akan dengan mudah masuk ke dalam sel bakteri
(Karlina et al., 2013).

RADANG USUS BUNTU

1. Nama tanaman : Krokot (Portulacaoleracea L)


Famili : Portulacaceae
Bagian yang digunakan : Daun (folium)
Zat aktif : Tanin

Rumus struktur :

Cara penggunaan : Krokot diambil segenggam, dicuci bersih, kemudian


diperas hingga menghaslikan perasan sebanya 30 ml. Ditambahkan gula pasir
dan air matang dingin hingga volumenya menjadi 100ml. Air tersebut
diminum, dan dilakukan 3 kali sehari.

Senyawa : Tanaman Krokot dengan nama ilmiah Portulacaoleracea


L atau yang kita kenal dengan nama daerah jalu-jalu tiki (Ternate), gelang
(Sunda dan Sumatera) dan ma chi xian (Cina) merupakan tanaman dari suku
portulacaceae. Tumbuhan ini kaya dengan berbagai kandungan kimia yang
sudah diketahui seperti KCl, KSO4, KNO3, Nicotinic acid, tanin, saponin,
vitamin A,B,C, lnoradrenalin, noradrenalin, dopamin, dopa. Dan seluruh
bagian tanaman ini dapat dibakai sebagai bahan obat. (Henny, 2011)

Mekanisme kerja :-
2. Nama tanaman : Sambiloto (Andrographis paniculata Burm.
f. Nees)

Famili : Acanthaceae

Bagian yang digunakan : Daun (folium)

Zat aktif : andrografolid

Rumus struktur :

Kandungan kimia : Daun sambiloto banyak mengandung senyawa


Andrographolide, yang merupakan senyawa lakton diterpenoid bisiklik. Daun
dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari
deoksiandrografolid, andrografolid dan homoandrografolid, mineral (kalium,
kalsium, natrium), asam kersik dan damar. Zat aktif andrografolid terbukti
berkhasiat sebagai hepatoprotektor (melindungi sel hati dari zat toksik)
(Tjitrosoepomo, 2000).

Efek samping : Sakit kepala, fatique,rasa pahit, dan peningkatan enzim hati
dilaporkan terjadi pada uji klinis pada pasien yang terinfeksi HIV yang diberi
andrographolide dosis tinggi.25 Hal ini tidak ada dilaporkan pada orang yang
menggunakan andrographisatau ekstrak terstandard pada jumlah yang
direkomendasikan. Seperti semua herba yang pahit, sambiloto mungkin
menyebabkan ulkus dan adanya rasa terbakar. Keamanan terhadap wanita
hamil dan menyusui sampai saat ini belum diketahui.

Cara penggunaan : Daun kering seberat 5 gr, yang direbus bersama air 2 gelas
sampai sisa 1 gelas untuk satu hari (diminum 3 x 1/3 gelas). Jika
menggunakan daun segar, dosisnya adalah sekitar 30 lembar daun dengan cara
yang sama seperti merebus daun kering. Dalam bentuk ekstrak,
mengkonsumsi sampai dengan 1500 mg per hari masih dianggap aman.
“Berdasarkan pengalaman saya, sambiloto dalam bentuk ekstrak ternyata
terbukti lebih efektif mengatasi berbagai penyakit radang/infeksi” demikian dr
Sidhajatra menambahkan (Medatama, 1991).

Mekanisme kerja : Efek hipoglikemik sambiloto sudah diteliti dengan


berbagai cara. Salah satunya, penelitian Borhanuddin, dkk.21 pada kelinci
menunjukkan bahwa ekstrak air sambiloto dengan dosis 10 mg/kg berat badan
dapat mencegah hiperglikemia yang diinduksi dengan pemberian glukosa per
oral dengan dosis 2 mg/kg berat badan secara signifikan. Mekanismenya
kemungkinan sambiloto mencegah absorpsi glukosa dari usus.

3. Nama tanaman : Putri malu (Mimosa pudica L)


Famili : Fabaceae
Bagian yang digunakan : Akar
Zat aktif : Tanin
Rumus struktur :

Kandungan kimia : Hasil analisis kualitatif dari ekstrak metanolik


Mimosa pudica Linn mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid,
tanin, fenolik. Bagian daun, batang, dan akar putri malu (Mimosa pudica
Linn) mengandung senyawa mimosin, tanin, alkaloid dan saponin.

Cara penggunaan : akar momisa pudica 60 gr. Dan air 600 cc, direbus dengan
api kecil menjadi 200 cc, dibagi 2 kali minum. 10 hari adalah 1 kuur.

Mekanisme kerja : Akar dan batang putri malu mempunyai efek


hipoglikemik.Senyawa yang mempunyai efek hipoglikemik adalah senyawa
flavonoid , fenolik, steroid, dan alkaloid. Diduga mekanisme kerja sebagai
efek hipoglikemia adalah meregenerasi kerusakan sel beta, menstimulasi
pelepasan insulin oleh sel beta pankreas, dan menghambat penyerapan
glukosa di usus sehingga dapat menurunkan kadar glukosa darah.
TUGAS RANGKUMAN

FITOTERAPI

OLEH :

NAMA : ASRIDA

NIM : F201501023

KELAS : DI FARMASI

DOSEN : Himaniarwati, S.Si.,M.Sc.,Apt

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

STIKES MANDALA WALUYA

KENDARI

2018