Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

KONDILOMA AKUMINATA

Oleh:
Irma Nur Rizka Hanifah I4061172008

Pembimbing

dr. Teguh Al’yansyah, Sp. KK, M.KED

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNTAN
RSUD DOKTER ABDUL AZIS
SINGKAWANG
2018
LEMBAR PERSETUJUAN

Telah Disetujui Laporan Kasus Dengan Judul :


KONDILOMA AKUMINATA

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Ilmu Kulit Dan Kelamin

Pontianak, Oktober 2018


Pembimbing Disusun oleh

dr. Teguh Aly’ansyah, M.Ked (KK), Sp. KK Penulis

2
BAB 1
PENDAHULUAN

Kondiloma akuminata adalah salah satu infeksi menular seksual (IMS)


yang merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh negara, termasuk
Indonesia. Kondiloma akuminata termasuk penyakit kulit yang disebabkan
Human Papilloma Virus (HPV) tipe tertentu, yang ditandai dengan tumor yang
tampak seperti kutil, berwarna seperti daging, dapat memberi gambaran
cauliflower dan terdapat pada daerah genital. Penyakit ini paling banyak ditemui
pada dewasa muda baik laki-laki atau wanita yang aktif da lam melakukan
hubungan seksual. Transmisi HPV dapat ditularkan melalui hubungan seksual
baik genito-genital, oro-genital maupun ano- genital. Di Indonesia, dari data yang
diambil dari beberapa RS bervariasi, di IMS rumah sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta, kutil kelamin menduduki peringkat pertama kasus baru
IMS pada periode 2008-2011 dengan angka kejadian berkisar antara 20,5%
sampai 26% dari seluruh IMS.
Kondilomata akuminata atau kutil pada area genital disebabkan infeksi
virus papiloma humanus (VPH) yang menyerang sel epitel dan diinduksi oleh
aktivitas seksual, merupakan infeksi yang sering terjadi pada penderita HIV.
Semakin banyak pasangan seksual, semakin tinggi risiko tertular infeksi VPH.
Diagnosis kutil genital terutama berdasarkan riwayat paparan, tampilan klinis,
dan pemeriksaan histopatologis.
Berdasarkan data diatas penulis tertarik untuk mengambil kasus kondiloma
akuminata. Penulis berharap dengan adanya laporan kasus, penulis mampu
mengerti dan memahami tentang penyakit tersebut

3
BAB II
PENYAJIAN KASUS

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. E
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 46 th
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh
Status Pernikahan : Menikah

2. ANAMNESA
1. Keluhan utama :
Pasien datang dengan keluahan terdapat benjolan kecil-kecil pada daerah
batang penis sejak ± 3 bulan yang lalu.
2. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke poli kulit dan kelamin Rumah Sakit Abdul Aziz
Singkawang dengan keluhan terdapat beberapa benjolan kecil di batang
penis sejak ± 3 bulan yang lalu. Benjolan mulanya kecil dan berjumlah
satu namun semakin lama muncul benjolan kecil lainnya. Pasien mengaku
terdapat rasa gatal yang hilang tumbul, namun rasa panas dan nyeri
disangkal. Pasien belum pernah mendapatkan pengobatan untuk
keluhannya.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya
b. Riwayat hipertensi (-), diabetes mellitus(-)
c. Tidak pernah mengalami penyakit pada kelamin sebelumnya
4. Riwayat Keluarga
a. Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan seperti ini
sebelumnya

4
b. Riwayat hipertensi (-), diabetes mellitus(-)
c. Keluarga pasien tidak ada yang mengalami penyakit pada kelamin
sebelumnya
5. Riwayat Sosioekonomi
Pasien merupakan seorang pekerja buruh sejak ± 5 tahun. Pasien
merupakan seorang suami dengan satu istri dan dua orang anak. Pasien
mengaku hanya berhubungan seksual dengan istrinya. Terakhir berkontak
seksual sekitar ± 1 minggu yang lalu. Pasien mengaku jarang
memperhatikan kebersihan terhadap organ seksualnya.

3. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 27 September 2018
a. Pemeriksaan Tanda Vital
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 130/70 mmHg
Frekuensi pernafasan : 24x/menit
Frekuensi nadi : 80x/menit
Gizi : Baik
TB : 165 Cm
BB : 80 Kg
b. Status Generalis
Kepala : Normocephal
Mata : Konjungtiva anemia (-/-). Sklera ikterik (-/-) mata
cekung (-/-)
THT : Telinga = aurikula tidak terdapat kelainan, liang
telinga lapang, serumen (-/-)membran timpani intak,
Hidung = deviasi septum (-), mukosa normal, konka
normal
Tenggorokan = faring hiperemis (-/-), tonsil T1-T1

5
Thoraks : Pergerakan dada simetris, suara paru vesikular,
ronkhi(-/-), wheezing (-/-), suara jantung S1-S2,
murmur (-)
Abdomen : Bentuk flat, dinding perut supel, bising ussu (+),
nyeri tekan (-)
KGB : Tidak ada pembesaran KGB
Ekstremitas : Akral hangat, edema tunkai (-), capillary refill<2
detik
c. Status Dermatovenerologis
Pada daerah genitalia (batang penis) tampak didapatkan efloresensi
berupa vegetasi- papul multipel batas tegas, berwarna seperti kulit
tampak bertangkai, berbentuk seperti bunga kol-tidak rata-caulilfower,
ukuran bervariasi 0,2x0,3x1cm, permukaan verukosa, konsistensi padat-
kenyal dan konfigurasi lesi bergerombol.

Gambar 2.1 Dermatovenerologis pada pasien.

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Tes acetowhite → tidak dilakukan
b. Pemeriksaan histopatologi → tidak dilakukan

5. RESUME
Seorang pria berumur 46 tahun ,seorang pekerja buruh datang ke poli kulit
dan kelamin Rumah Sakit Abdul Aziz Singkawang dengan keluhan terdapat

6
beberapa benjolan kecil di batang penis sejak ± 3 bulan yang lalu. Benjolan
mulanya kecil dan berjumlah satu namun semakin lama muncul benjolan kecil
lainnya. Pasien mengaku terdapat rasa gatal yang hilang tumbul, namun rasa
panas dan nyeri disangkal. Pada pemeriksaan fisik daerah genitalia (batang
penis) tampak didapatkan papul multipel batas tegas, berwarna seperti kulit
tampak bertangkai, berbentuk seperti bunga kol, ukuran bervariasi
0,2x0,3x1cm, permukaan verukosa, konsistensi padat kenyal dan konfigurasi
lesi bergerombol. Pasien mengaku merupaka seorang suami dengan satu istri
dan dua orang anak. Pasien menyangkal memiliki hubungan selain dengan
istrinya. Pasien belum pernah mendapatkan pengobatan untuk keluhannya.

6. DIAGNOSIS
Kondiloma Akuminata

7. PENATALAKSANAAN
a. Asam trikloroasetat (TCA) 90%
b. Mersibion tablet 1x1

8. EDUKASI
a. Pasien diharapkan menjaga kebersihan dan higine
b. Pasien harus minum obat dengan teratur
c. Tidak berganti pasangan seksual

9. PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Qua ad fungsionam : ad bonam
Qua ad sanationam : dubia

7
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

KONDILOMA AKUMINATA
A. DEFINISI
Kondiloma akuminata (bila banyak disebut kondiloma akuminata), atau
kutil kelamin (venereal warts) adalah lesi berbentuk pailomatosis, dengan
permukaan verukosa, disebabkan oleh human papilomavirus (HPV) tipe
tertentu (terutama tipe 6 dan 11), terdapat ;di daerah kelamin dan atau anus.1

B. EPIDEMOLOGI
Penyakit ini termasuk kelompok infeksi menular seksual (IMS), karena
98% penularan melalui hubungan seksual. Sisanya dapat ditularkan melaui
barang (fornites) yang tercemar partikel HPV. Frekuensinya pada laki-laki
dan perempuan sama. Tersebar kosmpolit dan transmisi melalui kontak kulit
langsung. 1

C. ETIOLOGI1,2,3
Penyebab kondiloma akuminatum adalah human papilomavirus (HPV),
yaitu virus DNA yang tergolong dalam keluarga papovavirus. Sampai saat ini
telah dikenal sekitar 100 genitipe HPV. Namun tidak seluruhnya dapat
meyebabkan kondiloma akuminatum, tersering, atau 70-100%, oleh tipe 6,
11. Selain itu pernah pula ditemukan tipe 30, 42 , 43, 44, 45, 51, 54, 55, dan
70.
Beberapa tipe HPV tertentu berpotensi onkogenik tinggi, yaitu tipe 16 dan
18 , yang paling sering dijumpai pada kanker serviks. Tipe 6 dan 11 lebih
sering dijumpai pada kondiloma akuminatum dan neoplasia intraepitelial
serviks derajat ringan.

8
D. GEJALA KLINIS 2,3,4,5,6,7
Penyakit ini terutama terdapat di daerah lipatan yang lembab , misalnya di
daerah genetalia eksterna. Pada laki-laki tempat predileksinya di perineum
dan sekitar anus, sulkus koronarius, glans penis, didalam meatus uretra,
korpus dan pangkal penis. Pada perempuan didaerah vulva dan sekitarnya,
introitus vagina, kadang-kadang pada porsio uteri. Dengan semakin
banyaknya kejadian hubungan seksual anogenital, semakin banyaknya
kejadian hubungan seksual anogenital, semakin banyak pula ditemukan
kondiloma akuminatum di daerah anus dan sekitarnya.
Kondisi lembab, misalnya pada perempuan dengan fluor albus atau pada
laki-laki yang tidak disirkumsisi, lesi kondiloma akuminata lebih cepat
membesar dan bertambah banyak. Selain itu, kondisi imunitas yang menurun,
misalnya pada orang yang terinfeksi HIV atau mengalamai transplantasi
organ tubuh, juga akan menambah cepat pertumbuhan kondiloma
akuminatum. Dalam keadaan hamil, akan menambah banyak lesi dan akan
cepat sembuh dengan berakhirnya kehamilan.
Kondiloma kuminatum seringkali tidak menimbulkan keluhan , namun
dapat tidak menimbulkan keluhan, namun dapat disertai rasa gatal. Bila
terdapat infeksi sekunder, dapat menimbulkan rassa nyeri, bau kurang enak
dan mudah berdarah. Bentuk klinis yang palimg sering ditemukan berupa lesi
seperti kembang kol berwaarna seperti daging atau sama dengan mukosa.
Ukuran lesi berkisar dari beberapa milimimeter sampai beberapa sentimeter.
Tiap kutil dapat bergabung menjadi masaa yang besar. Bentuk lain berupa
lesi keratotik, dengan permukaan kasar dan tebal , biasanyan ditemukan di
atas permukaan yang kering, misalnya batang penis. Lesi timbul sebagai
papul atau plak verukosa atau keratotik, soliter atau multiple. Lesi berbentuk
kubah dengan permukaan yang rata dapat ditemukan di tempat yang kering ,
sama halnya dengan lesi kertotik. Seringkali berkelompok dengan warna
seperti mukosa sampai merah jambu atau merah kecokelatan .
a. Bentuk akuminata

9
Terutama dijumpai pada daerah lipatan dan lembab. Terlihat
vegetasi bertangkai dengan permukaan yang berjonjot-jonjot seperti jari.
Beberapa kutil dapat bersatu membentuk lesi yang lebih besar sehingga
tampak seperti kembang kol. Lesi yang besar ini sering dijumpai pada
wanita yang mengalami fluor albus dan pada wanita hamil, atau pada
keadaan imunitas terganggu.

Gambar 3.1 Kondiloma akuminata – bentuk akuminata

b. Bentuk papul
Lesi bentuk papul biasanya didapati di daerah dengan keratinisasi
sempurna, seperti batang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal dan
perineum. Kelainan berupa papul dengan permukaan yang halus dan
licin, multipel dan tersebar secara diskret.

Gambar 3.2 Kondiloma akuminata – bentuk popular

10
c. Bentuk datar
Secara klinis, lesi bentuk ini terlihat sebagai makula atau bahkan
sama sekali tidak tampak dengan mata telanjang (infeksi subklinis), dan
baru terlihat setelah dilakukan tes asam asetat.

Gambar 3.3 Kondiloma akuminata – bentuk datar.

d. Bentuk keratotik
Bentuk ini memiliki tampilan seperti krusta tebal, dapat tampak
seperti kutil biasa atau keratosis seboroik.

Gambar 3.4 Kondiloma akuminata – bentuk keratotik

E. PATOFISIOLOGI4,5,8,9,10
Dari seluruh kasus kutil anogenital, 90% disebabkan oleh HPV
nononkogenik, yaitu tipe 6 dan 11. HPV tipe 16, 18, 31, 33, an 35 juga
kadang ditemukan pada kutil anogenital (biasanya ko-infeksi dengan HPV 6

11
atau 11) dan dapat berhubungan dengan foci of high-grade squamous
intraepithelial lesions (HSIL), terutama pada pasien dengan infeksi HIV.
Berdasarkan kemungkinan terjadinya displasia epitel dan keganasan maka
HPV dibagi menjadi HPV yang mempunyai resiko rendah (low risk) dan HPV
yang mempunyai resiko tinggi (high risk). Human papillomavirus tipe low
risk seperti HPV tipe 6, 11, 42, 43, 44, 54, 61, 70, 72 dan 81 cenderung
menyebabkan tumor jinak seperti veruka dan kondiloma akuminata.
Sedangkan tipe high risk cenderung menyebabkan tumor ganas anogenital
seperti kanker serviks, vulva, vagina, anus dan penis, dimana HPV tipe 16
dan 18 sering ditemukan pada displasia derajat tinggi dan keganasan.
Infeksi diawali dengan virus yang masuk ke dalam sel melalui proses
mikroabrasi jaringan permukaan epitel, sehingga memungkinkan sel masuk
hingga ke lapisan basal. Keratinosit merupakan target sel pada infeksi HPV
dan ekspresi gen HPV ini tergantung pada program diferensiasi keratinosit.
Sel basal terus membelah, bermigrasi mengisi sel bagian atas, berdiferensiasi
dan mensintesis keratin. Protein virus pada infeksi HPV mengambil alih
perkembangan siklus sel dan mengikuti diferensiasi sel.
Terdapat kontroversi bagaimana mekanisme HPV masuk kedalam sel,
sebagian bukti menunjukkan bahwa virus masuk ke dalam sel melalui
reseptor α6-integrin dan heparan sulfat serta laminin-5 dan kemudian terjadi
internalisasi virion di dalam sel melalui klatrin atau kaveola.
Mekanisme masuknya virion dan proses masuk ke dalam inti masih belum
diketahui dengan pasti Diduga, ujung N (amino) L2 terpotong di dalam
kompartemen endosom melalui protease selular, furin, dan berikutnya
melepaskan kompleks genom L2 ke dalam sitosol. Genom L2 kemudian
bertranslokasi ke dalam nukleus. Setelah berada dalam inti, maka kaskade
ekspresi gen virus terus terjadi dan memproses kopi deoxyribonucleic acid
(DNA) virus dalam jumlah tertentu di setiap sel yang terinfeksi.Genom virus
bermigrasi ke dalam inti dalam bentuk episom dan terjadi aktivasi early HPV
promoter. Sintesis virus DNA terjadi di dalam sel yang terinfeksi dengan kopi
episom berkisar antara 50-100 genom setiap sel.

12
Setelah sel basal membelah, episom HPV mengalami replikasi dan
didistribusikan di antara sel daughter. Virus akan mengikuti perjalanan sel
dengan melakukan diferensiasi dan tetap aktif. Saat sel yang mengandung
HPV berdiferensiasi, late promoter teraktivasi dan membentuk produk late
gen, terbentuk kapsid dan virion baru (Gambar 1). Replikasi HPV tergantung
dari proses sel pejamu (host). Sintesis DNA virus tetap berlangsung di
seluruh lapisan atas epidermis.

13
Gambar 3.5 Patofisiologi Kondiloma Akuminata

14
F. DIAGNOSIS9,10,11,12
Kondiloma akumianatum terutama didiagnosis secara klinis karena
bentuknya yang khas. Kondiloma akuminata sering muncul disaerah yang
lembab, biasanya pada penis, vulva, dinding vagina dan dinding serviks dan
dapat menyebar sampai daerah perianal dan sering bergejala seperti
a. Berbau busuk
b. Warts/kutil memberi gambaran merah muda, flat, gambaran bunga kol
c. Pada pria dapat menyerang penis, uretra dan daerah rektal. Infeksi dapat
dormant atau tidak dapat dideteksi, karena sebagian lesi tersembunyi
didalam folikel rambut atau dalam lingkaran dalam penis yang tidak
disirkumsisi.
d. Pada wanita kondiloma akuminata menyerang daerah yang lembab dari
labia minora dan vagina. Sebagian besar lesi timbul tanpa simptom. Pada
sebagian kasus biasanya terjadi perdarah setelah coitus, gatal atau vaginal
discharge
e. Ukuran tiap kutil biasanya 1-2 mm, namun bila berkumpul sampai
berdiameter 10, 2 cm dan bertangkai. Dan biasanya ada yang sangat kecil
sampai tidak diperhatikan. Terkadang muncul lebih dari satu daerah.
f. Pada kasus yang jarang, perdarahan dan obstruksi saluran kemih jika virus
mencapai saluran uretra.
g. Memiliki riwayat kehidupan seksual aktif dengan banyak pasangan.
Pada keadaan yang meragukan dapat dilakukan tes asaam asetat. Lesi dan
kulit atau mukosa sekitarnya dibungkus dengan kain kasa yang telah dibasahi
dengan larutan asam asetat 5% selama 3-5 menit. Setelah kain kasa dibuka,
seluruh area yang dibungkus tadi , diperiksa dengan kaca pembesar
(pembesaran 4-8 kali). Hasil tes yang positif disebut acetowhite, terjadi warna
putih akibat ekspresi sitokeratin pada sel suprabasal yang teriinfeksi HPV.
Bagian sel ini mengandung banyak protein , dan warna putih terjadisebagai
akibat denaturasi protein. Lesi HPV seringkali menunjukan pola kapilar
(punctuated capillary pattern) yang berbatas tegas. Pada keadaan inflamasi ,

15
tes dapat menunjukan hasil positif namun dengan pola yang lebih difus dan
tidak beraturan.
Biopsi tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin pada KA.
Indikasi biopsi pada KA adalah tampilan lesi yang atipikal, lesi yang resisten
terhadap terapi, dan kecurigaan perubahan neoplastik, ditandai dengan
pigmentasi, pertumbuhan cepat, fiksasi terhadap struktur dibawahnya,
perdarahan dan ulserasi spontan.Indikasi lain adalah pasien
imunokompromais, usia lebih dari 40 tahun, dan lesi KA pada serviks. Secara
mikroskopis, lesi KA ditandai dengan koilosit, yaitu keratinosit berukuran
besar dengan area halo/vakuolisasi perinuklear. Sel dengan inti hiperkromatik
juga dapat ditemukan. Pada epidermis terdapat akantosis, parakeratosis, dan
rete ridge memanjang. Pada stratum basalis dapat ditemukan peningkatan
aktivitas mitosis. Pada dermis dapat ditemukan papilomatosis dan sebukan sel
radang kronik.
Penggunaan dermoskop pada KA semakin banyak dilaporkan.
Pemeriksaan dermoskopi bermanfaat untuk mendiagnosis KA, bahkan pada
lesi awal; dan membantu membedakan KA dengan lesi liken planus, keratosis
seboroik, papulosis bowenoid. Gambaran dermoskopi lesi KA berupa
gambaran pola vaskular dan temuan yang karakteristik, yaitu: pola mosaik
pada lesi awal yang masih datar dan pola menyerupai tombol (knoblike), serta
menyerupai jari (fingerlike) pada lesi yang papilomatosa. Pemeriksaan
dermoskopi merupakan pemeriksaan noninvasif yang relatif nyaman bagi
pasien. Keterbatasan penggunaannya pada KA, terutama terkait higiene.
Pemeriksaan dilakukan pada area genitalia dan terdapat kemungkinan
transmisi virus melalui kontak lensa dermoskopi. Teknik asepsis antisepsis
yang adekuat diperlukan untuk mencegah transmisi.

G. DIAGNOSIS BANDING10,11,12
1. Benign penile pearty papules merupakan keadaan yang normal dijumpai
pada 20% laki-laki muda, muncul pada massa pubertas, lebih sering
dijumpai pada keadaan tidak disrirkumsisi. Lesi sering kali asimtomatik,

16
dijumpai terutama menitari sulkus koronarius. Keadaan ini tidak perlu
diobati
2. Veruka vulgaris, vegetasi yang tidak bertangkai , kering dan berwarna
abu-abu atau sama dengan warna kulit.
3. Kondiloma tata merupakan salah satu bentuk lesi sifilis stadium II berupa
plakat yang erosif dan basah, ditemukan banyak Spirochaeta pallidum
4. Kondiloma sel skuamosa, vegetasi berbentuk yang sepertii kembang kol ,
mudah berdarah dan berbau.
5. Karsinoma verukosa (Buschke-Lowenstein tumor atau giant
condylomata), dianggap sebai lesii neoplastik yang bersifat invasiflokal,
biasanya dihubungkan dengan HPV tipe 16

H. TATA LAKSANA4,5,8,9
Pilihan obat berdasarkan keadaaan lesi yaitu, jumlah , ukuran dan bentuk,
serta lokasi. Cara pengobatan dapat dibagi atas pengobatan yang dilakukan
oleh pasien (home-pastient-applied-treatment) dan pengobatan oleh dokter
(physician-applied-treatment ).
1. Kemoterapi
a. Tinktura podofilin 25%
Aplikasi dilakukan oleh dokter, tiak boleh passien sendiri.
Kulit disekitarnya dilindungi dengan vaselin agar tidak terjadi
iritasi, dan dicuci setelah 4-6 jam. Jika belum ada penyembuhan
dapat diulangi setelah 3 hari . Setiap kali pemberian jangan
melebihi 0,3 cc karena akan diserap dan bersifat toksik. Gejala
intoksikasi berupa mual , muntah , nyeri abdomen, gangguan alat
napas, dan keringat yang disertai kulit dingin. Dapat pula terjadi
supresi sumsum tulang yang disertai trombositopenia dan
leukopenia. Obat ini jangan diberikan pada wanita hamil karena
dapat terjadi kematian fetus.

17
Cara pengobatan dengan podofilin ini sering dipakai.
Hasilnya baik pada lesi yang baru, tetapi kurang memuaskan pada
lesi yang lama atau yang berbentuk pipih.
b. Asam triklorasetat (trichloadetic acid atau TCA) konsentrasi 80-90%
Obat ini juga dioleskan oleh dokter dan dilakukan setiap minggu.
Pemberiannya harus berhati-hati, karena dapat menimbulkan iritasi
hingga ulkus yang dalam. Boleh diberikan pada ibu hamil.
c. 5-fluorourasil
Konsentrasinya antara 105% dalam krim , dipakai terutam pada
lesi di meatus uretra. Pemberiannya setiap hari oleh pasien sendiri
sampai lesi hilang. Pasien dianjurkan untuk tidak miksi selama 2 jam
setelah pengobatan.
2. Bedah listrik (elektrokauterisasi)
3. Bedah beku (N2, N20 cair)
Bedah beku ini banyak menolong untuk pengobatan kondiloma akuminata
pada wanita hamil dengan lesi yang banyak dan basah.
4. Bedah skalpel
5. Laser karbondioksida
Luka lebih cepat sembuh dan meninggalkan sedikit jaringan parut , bila
dibandingkan elektrokauterisasi.
6. Interferon
Dapat diberikan dalam bentuk suntikan (intramuskular atau intralesi) dan
topikal (krim). Interferon alfa diberikan dengan dosis 4-6 mU, secara
intramuskular 3 kali seminggu selama 6 minggu atau dengan dosis 1-5 mU
injeksi intramuskular selama 6 minggu. Interferon beta diberikan dengan
dosis 2x106 unit injeksi intramuskular selama 10 hari berturut-turut.
7. Imunoterapi
Pada penderita dengan lesi yang luas dan resisten terhadap pengobatan
dapat diberikan pengobatan bersama dengan imunostimulator

18
I. EDUKASI 8,10
Pada pasien perlu diberikan edukasi mengenai kekerapan,transmisi dan
perjalanan infeksi HPV. Pasien sebaiknya mengetahui mereka dapat
menularkan virus dan pasangan seksual mereka yang sudah mengalami
infeksi.Pasien dianjurkan menggunakan kondom pada hubungan baru untuk
mencegah penularan.Hampir semua terapi KA disertai rasa tidak
nyaman,nyeri dan perlu pengobatan berulang. Seluruh informasi terkait
terapi,komplikasi,frekuensi dan durasi terapi perlu disampaikan kepada
pasien.Dokter hendaknya mengajarkan untuk mengaplikasi terapi topical
dengan tepat.
Penyakit Kondiloma akuminata merupakan salah satu penyakit menular
seksual yang sering dikeluhkan masyarakat. Oleh karena itu cara
pencegahannya dilakukan berdasarkan program IMS (Infeksi Menular
Seksual).
Pencegahan Primer
a.Perubahan perilaku
-Memperbaiki gaya hidup seksual yang terkesan ‘bebas’ dan ‘cuek’ ke
arah yang lebih memperhatikan kesehatan pasangan masing – masing.
Setia hanya pada 1 pasangan
-Tanggap dan segera periksa ke rumah sakit atau puskesmas bila terjadi
hal yang abnormal di sekitar genitalia untuk menghindari kondisi yang
parah
b.Pemakaian kondom
-Membiasakan penggunaan kondom saat berhubungan seksual
Pencegahan sekunder
Vaksin HPV profilaksis merupakan pendekatan terbaru untuk mencegah
infeksi HPV genital. Vaksin yang tidak menular, didasarkan pada self-
assembly dari protein L1 menjadi virus like particles ( VLPs ) yang morfologi
dan antigennya menyerupai authentic capsids. Imunisasi vaksin VLP
profilaksis melindungi terhadap sebagian besar infeksi HPV yang
menyebabkan kanker serviks.

19
Proteksi yang diinduksi vaksin terhadap infeksi HPV adalah melalui
antibody netralisi IgG yang akan mencegah masuknya virus ke dalam sel
basal dengan cara mencegah perubahan konformasi virus dan pengikatan
kereseptornya di sel basal.Vaksin HPV akan menginduksi kadar antibody
yang tinggi dan menetap lebih lama dibandingkan infeksi alami.Proteksi yang
dihasilkan bersifat spesifik, namun dapat terjadi reaksi silang karena jenis
HPV yang berhubungan secara filogenetik saling berbagi epitope.

J. PROGNOSIS1
Walaupun sering mengalami residif, prognosisnya baik. Perbaiki faktor
predisposisi misalnya higiene, flour albus, atau kelembaban pada laki-laki
akibat tidak disirkumsisi, ataukeadaan imunosupresi.

20
BAB III
PEMBAHASAN

Kondiloma akuminata merupakan salah satu penyakit menular seksual


yang disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus) berupa vegetasi virus
HPV dengan tipe tertentu, bertangkai, dan permukaan tidak rata. Penyakit ini
tergolong penyakit menular seksual, penularannya dapat dari hubungan seksual.
Predileksi dari penyakit ini adalaqh bagian tubuh yang hangat dan lembab. Pada
pria yang tersering adalah ujung dan batang penis dan di bawah kulit depannya
(bila tidak disunat). Pada wanita pada vulva, dinding vagina, serviks dan kulit
sekeliling vagina. Bisa di sekeliling anus atau rektum pada pasien yang suka
melakukan anal seks. Dapat muncul biasanya 1-6 bulan pasca infeksi, dimulai
pembengkakan kecil, lembut, lembab, warna merah atau pink dan dapat tumbuh
cepat juga bertangkai. Permukaan dapat kasar dan berbentuk bunga kol. Diagnosa
dari penyakit ini dapat ditegakkan melalui anamnesa dan pemeriksaan fisik. Kulit
yang diangkat (biopsi) dapat diperiksa untuk menyingkirkan diagnosa banding
keganasan. Pengobatan melalui laser, krioterapi (pembekuan) atau pembedahan
dengan bius lokal. Untuk pengobatan kimiawi seperti podofilin dan asam
trikloroasetat dapat digunakan, namun memerlukan waktu beberapa minggu
hingga bulan dan dapat mengiritasi kulit sekelilingnya.
Pada pasien ini ditemukan gejala yang dijumpai sesuai yakni benjolan
kecil dan bergerombol pada batang penis yang mulanya kecil dan semakin lama
tumbuh banyak dan meluas. Pasien menyangkal pernah berhubungan dengan
orang lain selain pasangannya. Serta pasien tidak tahu apakah keluhan tersebut
dialami oleh istrinya. Hal ini dapat menjelaskan bahwa ada kemungkinan pasien
tidak jujur dengan kegiatan seksualnya ataupun infeksi yang didapatkannya
sekarang berasal dari pasangannya. Pada pemeriksaan fisik didapati efloresensi
berupa vegetasi- papul multipel batas tegas, berwarna seperti kulit tampak
bertangkai, berbentuk seperti bunga kol-tidak rata-caulilfower, ukuran bervariasi
0,2x0,3x1cm, permukaan verukosa, konsistensi padat-kenyal dan konfigurasi lesi
bergerombol. Hal ini sangat khas untuk mendiagnosis sebagai kondiloma

21
akuminata. Tatalaksana yang diberikan adalah pemeberian Asam trikloroasetat
(TCA) 90% yang diberikan dengan hati-hati menggunakan cottonbud dan
pemberian mersibion tablet 1x1, serta disarankan untuk kontrol ulang satu minggu
setelahnya. Prognosa dari pasien ini untuk quo ad vitam adalah ad bonam karena
kondiloma akuminata tidak mengancam jiwa pasien (khususnya pria karena tidak
cenderung menyebabkan keganasan seperti kanker serviks pada wanita). Duo ad
fungsionam adalah ad bonam karena kondiloma akuminata tidak mempengaruhi
fungsi dari genitalia itu sendiri. Duo ad sanationam adalah dubia karena penyakit
ini dapat sembuh atau residif.

22
BAB IV
KESIMPULAN

Kondiloma akuminata termasuk penyakit kulit yang disebabkan Human


Papilloma Virus (HPV) tipe tertentu, yang ditandai dengan tumor yang tampak
seperti kutil, berwarna seperti daging, dapat memberi gambaran cauliflower dan
terdapat pada daerah genital. Diagnosis dapat berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pengobatan yang diberikan pada
paseian berupa pemberian asam trikloroasetat (TCA) 90% dan dilakukan kontrol
setelah satu minggu. Penyakit ini dapat dilakukan pencegahan baik primer
maupun skunder. Prognosis pada pasien adalah ad bonam.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Unandar Budimulja. Mikosis: dalam Prof.Dr. dr. Adhi Djuanda, dkk


Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta : FKUI.2008
2. Fitzpatrick, Freedeberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith
LA, Katz St.. Dermatology in General Medicine. Edisi 8. New York:
The Mc Graw-Hill Companies Inc; 2008
3. Bakardzhiev I, Pehlivanov G, Stransky D, Gonevski M. Treatment of
Condylomata Acuminata and Bowenoid Papulosis With Co2 Laser and
Imiquimod.J of IMAB-Annual Procceding (Scientific Paper).2012
4. Daili SF, Indriatmi W, Zubier F, Nilasari H. Infeksi Menular Seksual,
Pedoman Praktis Diagnosis dan Tatalaksana. Kementrian Kesehatan RI.
2015.
5. Friedman M, Bayer I, Letko I, Duvdevani R, Zavaro-Levy O, Ron B, et
al. Topical treatment for human papillomavirus-associated genital warts
in humans with the novel tellurium immunomodulator AS101:
assessment of its safety and efficacy. Br J Dermatol. 2008 Sep 19.
6. Gunter J. Genital and perianal warts: new treatments opportunities for
human papiloma virus infection. Am J Obstet Gynecol. 2003. 189:S3-
S11
7. Goldman LC, Clouse AL. Human papilomavirus and genital warts.
Dalam: Editor, Skolnik NS, Clouse AL, Woodward JA. Sexually
transmitted diseases. A practical guide for primarycare. 2nd ed. Humana
Press, New York. 2013.1-17
8. [Guideline] Centers for Disease Control and Prevention, Workowski
KA, Berman SM. HPV infection and genital warts. Sexually transmitted
diseases treatment guidelines 2006. MMWR Morb Mortal Wkly Rep.
2006. 55(RR-11):62.
9. Juckett G, Hartman-Adams H. Human papillomavirus: clinical
manifestations and prevention. Am Fam Physician. 2010 Nov 15.
82(10):1209-13.

24
10. Kodner CM, Nasraty S. Management of genital warts. Am Fam
Physician. 2004 Dec 15. 70(12):2335-42.
11. Pattman R, Sankar KN, Elawad B, Handy P, Price DA. 2010. Oxford
Handbook of Genitourinary Medicine, HIV, and Sexual Health. Edisi ke
2. Oxford University Press, New York
12. Poolman EM, Elbasha EH, Galvani AP. Vaccination and the
evolutionary ecology of human papillomavirus. Vaccine. 2008 Jul 18. 26
Suppl 3:C25-30.

25