Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

KEGIATAN 5
I. Topik
Pengaruh Aktivitas Suhu terhadap Tekanan Darah.
II. Tujuan
1. Mengukur tekanan darah sistole dan diastole
2. Mengetahui pengaruh aktivitas suhu terhadap tekanan sistole dan diastole
3. Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah sistole dan diastole
III. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Tensimeter (Sphygmomanometer) dengan sabuk tekanan
b. Stetoskop
c. Stopwatch
d. Alat tulis
2. Bahan
1. Praktikan
IV. Cara Kerja

Melilitkan sabuk tekan yang sudah dilengkapi pompa dan sphynomanometer pada
lengan untuk mengukur tekanan sistole dan diastole sebelum melakukan kegiatan

Melakukan kegiatan olahraga (lari) selama 10 menit dan melakukan kegiatan


seperti langkah no 1

Mencatat hasil yang didapat pada tabel yang sudah tersedia


V. Hasil
Tabel hasil pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah berlari
Nama Praktikan Tekanan Darah (mmHg)

Sebelum lari Sesudah lari

Afrian Yoga Anjasfara 110/80 120/80

Adinda Yuslia 100/50 110/80


Rukmanandita
Fitri Andrianingsih 100/60 110/80

VI. Pembahasan
Pada hewan multiseluler, sel-sel yang menyusun organism berada dalam suatu
lingkungan yang disebut lingkungan internal (melieuinterieur). Lingkungan interna
tersebut tidak lain adalah ruangan tarsel (intercelluler space). Ruang antar selbukan
merupakan suatu ruang kosong, melain kan ruangan yang dipenuhi cairan, demikian
juga ruang dalam sel (sitoplasma).
Cairan tubuh hakekatnya merupakan pelarut zat-zat yang terdapat dalam
tubuh, dengan demikian mengandung berbagai macam zat yang diperlukan oleh sel
dan sisa-sisa metabolisme yang dibuang oleh sel. Selain itu, cairan tubuh juga
pemberi suasana pada sel, sebagai contoh kehangatan (suhu), kekentalan (viskositas),
dan keasaman (pH) yang dipengaruhi oleh factor factor fisik maupun kimiawi dari
dalam dan luar tubuh.
Zat-zat yang diperlukan oleh sel antara lain:
1. Oksigen untuk pembakaran dan menghasilkan energy serta panas.
2. Makanan dalam bentuk sari-sari makanan (glukosa, asamlemak, dan asam amino)
untuk membentuk energi, dinding sel dan sintesis protein.
3. Vitamin.
4. Mineral sebagai katalisator proses enzimatis.
5. Air sebagai media pelarut di dalam sel.

Tekanan osmotic adalah daya dorong air yang dihasilkan oleh partikel-partikel
zat terlarut di dalamnya. Molekul air mempunyai sifat umum yaitu bergerak secara
difusi sesuai dengan gradient (laju pertambahan) konsentrasi. Air cenderung berdifusi
dari daerah zat terlarut yang sedikit (konsentrasi pelarut tinggi) ketempat jumlahzat
yang terlarut banyak (konsentrasi pelarut rendah).
1. Cairan isotonik.
Jika suatu sel diletakkan pada suatu larutan dengan zatter larut impermeabel (tidak
dapat dilewati) maka sel tidak akan mengerut atau membengkak karena konsentrasi
air dalam cairan intra seluler tidak dapat masuk atau keluar dari sel sehingga terdapat
keseimbangan antara cairan intraseluler dan ekstraseluler.
2. Cairan hipotonik.
Jika suatu sel diletakkan dalam larutan yang mempunyai konsentrasi zat terlarut
impermeable lebih rendah, air akan berdifusi kedalam sel menyebabkan sel
membengkak karena mengencerkan cairan intra seluler sampai kedua larutan
mempunyai osmolaritas yang sama.
3. Cairan hipertonik.
Jika suatu sel diletakkan dalam larutan yang mempunyai konsentrasi zat terlarut
impermeable lebih tinggi, air akan mengalir keluar dari sel kedalam cairan
ekstraseluler. Pada keadaan ini selakan mengerut sampai kedua konsentrasi menjadi
sama.
Osmosis memainkan peranan yang sangat penting salah satunya pada
membrane sel darah merah saat mengalami peristiwa hemolisis dan krenasi.
Kerusakan membrane eritrosit dapat disebabkan oleh penambahan larutan hipotonis
atau hipertonis kedalam darah. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis
(karena penambahan larutan Na Clhipotonis), medium tersebut (plasma danlarutan)
akan masuk kedalam eritrosit melalui membran yang bersifat semi permiabel dan
menyebabkan seleritrosit menggembung. Bila membrane tidak kuat lagi menahan
tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka selakan pecah.
Membran sel eritrosit seperti hal nya membrane sel lainnya tersusun atas lipid
bilayer dan bersifat semi permeabel. Membran sel yaitu selaput yang membatasi sel
dengan lingkungan disekitarnya (melieuinterieur) dan berfungsi sebagai pelindung,
penyaring dan pengatur keluar masuknya zat-zat dari luar kedalam maupun
sebaliknya. Pada kondisi cairan hipertonis, maka air akan berpindah dari dalam
eritrosit sehingga eritrosit akan mengalami penyusutan (krenasi). Sebaliknya pada
kondi sihipotonis, maka air akan masuk kedalam eritrosit sehingga eritrosit akan
mengalami pengembungan yang selanjutnya akan pecah (lisis). Zat-zat yang didapat
dari hasil metabolism diangkut melalui sirkulasi darah kemudian melalui kapiler
pindah keruangan tarsel (intercelluler space) selanjunya berpindah ke sitoplasma
melalui membran sel.

Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Zoologi FMIPA UNY. Praktikum ini


bertujuan untuk mengukur tekanan sistole dan diastole, mengetahui pengaruh aktivitas
suhu terhadap tekanan darah sisitole dan diastole serta dapat menerangkan faktor-
faktor yang mempengaruhi tekanan sistole dan diastole.
Pengukuran sistole dan diastole dilakukan dengan menggunakan tensimeter
dan bantuan stetoskop untuk mengetahui detak sistole dan diastole. Pengukuran
tekanan darah dilakukan pada 3 orang praktikan.
Jantung secara bergantian berkontraksi dan berelaksasi dalam siklus berirama.
Ketika berkontraksi, jantung memompa darah; ketika berelaksasi, bilik-bilik akan
terisi dengan darah. Satu urutan lengkap pemompaan dan pengisian disebut siklus
jantung (cardiac cycle). Fase kontraksi siklus disebut sistol, dan fase relaksasi disebut
diastole (Campbell dkk. 2000:47).
Tekanan darah adalah tekanan yang mendesak dinding arteri ketika ventrikel
kiri melakukan sistole kemudian diastole. Tekanan darah sistol adalah tekanan darah
yang direkam selama kontraksi ventrikuler. Tekanan darah diastole adalah tekanan
darah yang direkam selama relaksasi ventricular. Tekanan darah normal adalah
120/80 mmHg. Tekanan denyutan adalah perbedaan antara tekanan sistolik dan
diastolik. Tekanan denyutan normal kira-kira 40 mmHg yang memberikan informasi
tentang kondisi arteri (Soewolo dkk. 2005: 265-261).
Berdasarkan uraian diataslah kemudian pengukuran tekanan darah dilakukan.
Sistole yang pada dasarnya akan berdenyut ketika diawal atau diukur saat detakan
pertama. Kemudian, diastole yang akan dirasakan ketika akhir dari detakan itu.
Sehingga, besarnya sistole akan mengikuti detakan atau denyutan pertama yang
dirasakan oleh pengukur dan besarnya diastole akan mengikuti detakan atau denyutan
terakhir yang dirasakan oleh pengukur.
Tekanan sistole merupakan tekanan darah maksimum pada arteri pada saat
darah dipancarkan ke dalamnya selama periode sistole ventrikel. Pada manusia,
tekanan sistole berkisar 120 mmHg. Sedangkan tekanan diastole merupakan tekanan
darah minimum dalam arteri selama periode diastole, yang besarnya pada manusia
berkisar 80mmHg. Pada saat ventrikel berkontraksi (periode sistole), sejumlah darah
masuk ke dalam arteri dari ventrikel, sementara itu pada saat yang sama hanya 1/3
volume darah dalam arteri meninggalkan arteri masuk ke arteriol-arteriol. Pada saat
ventrikel relaksi (periode diastole), tidak ada darah yang masuk ke dalm arteri,
sementara itu darah masih terus meninggalkan arteri akibat adanya daya elastis
dinding arteri. Akibatnya tekanan darah dalam arteri akan turun,
Pada praktikum ini praktikan harus melakukan kegiatan aktivitas dimana untuk
membedakan nilai sistole dan diastole sebelum melakukan aktivitas dan setelah
melakukan aktivitas. Sehingga nilainya meningkat sebelum melakukan kegiatan dan
setelah melakukan kegiatan.
Paktikan pertama Afrian mempunyai tekanan darah sebelum lari 110/80 mmHg
dan setelah berlari 120/80 mmHg, sedangkan Adinda mempunyai tekanan darah
sebelum lari 110/50 mmHg dan setelah berlari menjadi 110/80.dan praktikan ke tiga
Fitri mempunyai tekanan darah sebelum lari 100/60 mmHg dan setelah lari 110/80
mmHg Maka dapat disimpulkan bahwa tekanan darah pada semua praktikan pada saat
sebelum dan sesudah berkegiatan mengalami peningkatan.
Hal tersebut dikarenakan, jantung sebagai organ pemompa diinervasi oleh saraf
otonom yang terdiri atas saraf simpatis dan parasimpatis. Simpatis berperan untuk
meningkatkan denyut jantung dan kekuatan kontraksi jantung, sedangkan
parasimpatis berperan menurunkan denyut jantung dan kekuatan kontraksi jantung.
Kemudian, dapat ditarik kesimpulan bahwa rangsangan saraf simpatis akan berakibat
meningkatnya tekanan darah, dan sebaliknya rangsangan saraf parasimpatis akan
menurunkan tekanan darah (Nurcahyo, Heru. 2015:10). Sehingga, aktivitas yang
semakin bertambah akan meningkatkan tekanan darah yang berhubungan pula dengan
denyut nadi dan kebutuhan oksigen oleh tubuh. Semakin banyak beraktivitas
kebutuhan oksigen semakin menigkat dan kekuatan jantungpun dalam memompakan
darah akan semakin meningkat (Elly, Irrene. 2006).
Kemudian, ada berbagai macam faktor yang sangat mempengaruhi tekanan
darah yaitu, mulai dari obat-obatan hingga kepada aktivitasnya. Berikut adalah
beberapa faktor yang sangat berpengaruh dalam tekanan darah menurut Pearce(2002):
1. Kelenturan dinding arteri
2. Volume darah, semakin besar volume darah maka semakin tinggi tekanan darah
3. Kekuatan gerak jantung
4. Viscositas darah, semakin besar viskositas maka semakin besar pula resistensi
terhadap aliran. Viskositas darah disebabkan oleh protein plasma dan oleh jumlah
sel darah merah yang berada dalam aliran darah. Setiap perubahan dua faktor ini
maka akan merubah tekanan darah.
5. Curah jantung, semakin tinggi curah jantung maka tekanan darah meningkat
6. Kapasitas pembuluh darah, semakin besar kapasitas pembuluh darah maka
semakin tinggi tekanan darah.
Kemudian, faktor patologis dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Soewolo
(2005: 265-261) diantaranya yaitu :
1. Posisi tubuh, baroresepsor akan merespon saat tekanan darah turun dan akan
berusaha menstabilkan tekanan darah.
2. Aktifitas fisik, aktifitas fisik membutuhkan energy sehingga butuh aliran yang
lebih cepat untuk suplai O2 dan nutrisi (tekanan darah naik)
3. Temperature, menggunakan system rennin-angiotensin vasokonstriksi perifer.
Temperature pun dapat berkaitan dengan aktifitas, suhu yang tinggi diakibatkan
karena aktifitas yang banyak ssedangkan suhu yang rendah dikarenakan aktifitas
yang cenderung ringan.
4. Usia, semakin bertambah usia, semakin bertambah pula tekanan darah hal ini
disebabkan oleh berkurangnya elastisitas pembuluh darah
5. Jenis kelamin, wanita cenderung memiliki tekanan darah rendah karena
komposisi tubuhnya yang lebih banyak lemak sehingga butuh O2 lebih untuk
pembakaran. Sedangkan pria yang memiliki banyak aktifitas pun cenderung
memiliki tekanan darah yg lebih tinggi
6. Emosi, emosi akan menaikkan tekanan darah karena pusat pengatur emosi akan
menset baroresepsor untuk menaikkan tekanan darah. Emosi akan memicu kerja
hormone adrenalin, adrenalin pria lebih tinggi karena dipengaruhi oleh syaraf
parasimpatis.

VII. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
1. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter. Pengukuran sistole
didasari pada denyutam awal terkeras yang dirasakan sebagai manifestasi
kontraksi ventrikuler dan pengukuran diastole didasari pada ketidak hadiran
denyutan yang dirasakan sebagai manifestasi relaksasi ventrikuler.
2. Peningkatan tekanan jantung terjadi antara sebelum dan sesudah aktivitas.
3. Faktor yang mempengaruhi tekanan jantung antara lain usia, kelenturan
pembuluh darah, temperatur, aktivitas fisik, kekuatan gerak jantung dan lainnya.

Daftar Pustaka

Campbell, Neil A., Reece, J.B., & Mitchell, L.G. 2000. Biologi, Edisi Kelima-Jilid 3.
(Terjemahan Wasmen Manalu). Jakarta: Erlangga. (Buku asli diterbitkan tahun
1999).
Elly, Irene. 2005. Fisiologi Jantung. Karya Tulis Ilmiah. FK UWKS : Lab Ilmu Faal.
Nurcahyo, Heru dan Tri Harjana. 2015. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan.
Yogyakarta : FMIPA UNY.
Pearce, G. 2002. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Parameter. PT. Gramedia Pustaka
Umum : Jakarta.
Soewolo, Soedjono Basoeki & Titi Yudani. 2005. Fisiologi Manusia. Malang:
Universitas Negeri Malang.