Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

KEGIATAN 2
I. Topik
Pengaruh Tekanan Osmotik terhadap Membran Eritrosit

II. Tujuan
1. Mengetahui kecepatan krenasi eritrosit pada berbagai konsentrasi larutan
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persentase hemolisis eritrosit
pada berbagai konsentrasi

III. Alat dan Bahan


1. Alat
1. Mikroskop
2. Kaca benda (obyek glass) dengan cekungan
3. Gelas penutup (cover glass)
4. Pipet tetes
5. Blood lancet steril
6. Stopwatch
7. Tusuk gigi
8. Alat tulis
2. Bahan
a. NaCl dengan konsentrasi 0, 3%; 0,7% ; 0,9% dan 0,5%
b. Darah praktikan
c. Alkohol
d. Kapas

IV. Cara Kerja

Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan serta mencuci supaya steril

Membersihkan jari telunjuk atau jari manis praktikan menggunakan kapas yang
telah di beri alkohol diamkan sampai kering
Menusukan blood lancet steril pada jari hingga keluar darah dan langsung
meneteskan pada 3 obyek glass yang memilik cekungan dan sudah di beri label
untuk tiap konsentrasinya

Menambahkan 1 tetes NaCl pada tiap obyek glass yang sudah diberi label

Mengamati dibawah mikroskop untuk mengetahui kecepatan krenasi. Dan


mencatat berapa lama waktu yang diperlukan untuk krenasi dari tiap konsentrasi

V. Hasil
Tabel 1. Data waktu krenasi sel darah merah
No Lama krenasi pada konsentrasi (menit)
Nama
0,5% 0,7% 0,9% 3%
0
10

1 menit 6
1 Afrian Yoga Anjasfara 50 detik 47 detik 39 detik
detik

Adinda Yuslia 1 menit 1 menit


2 37 detik 40 detik
Rukmanandita 26 detik 11 detik
Fitri Andrianingsih 1 menit 1 menit 3 49 detik 32 detik
3
20 detik detik

VI. Pembahasan
Jantung adalah pompa otot beruang empat yang mendorong darah
mengelilingi sirkulasi. Jantung secara bergantian berkontraksi dan berelaksasi
dalam siklus berirama. Ketika berkontraksi, jantung memompa darah; ketika
berelaksasi, bilik-bilik akan terisi dengan darah. Satu urutan lengkap
pemompaan dan pengisian disebut siklus jantung (cardiac cycle). Fase kontraksi
siklus disebut sistol, dan fase relaksasi disebut diastole (Campbell dkk,
2000:47).
Jantung mendapat pensarafan dari cabang simpatis dan parasimpatis dari
susunan saraf otonom. Simpatis menggiatkan kerja jantung, sedangkan
parasimpatis menghambat kerja jantung. Setiap kerja jantung diatur dan
disesuaikan dengan kebutuhan melalui pengendalian persarafan. Bila tekanan
darah meningkat, maka kerja jantung akan dihambat oleh peningkatan tonus
parasimpatikus dan penurunan tonus simpatikus, jika tekanan darah menurun
akan terjadi sebaliknya (Syaifuddin, 2009: 116-117).
Tekanan darah arteri adalah kekuatan darah ke didinding pembuluh
darah yang menampung , mengakibatkan tekanan ini berubah-ubah pada setiap
siklus jantung. Pada saat ventrikel kiri memaksa darah masuk ke aorta ,tekanan
naik sampai puncak yang disebut tekanan sistolik. Pada waktu diastole tekanan
turun sampai mncapai titik terendah yag disebut tekanan diastole (Guyton,2007).
Tekanan darah normal adalah 120/80 mmHg. Tekanan denyutan adalah
perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan denyutan normal kira-
kira 40 mmHg yang memberikan informasi tentang kondisi arteri (Soewolo dkk,
2005: 265-261).

Praktikum ini dilakukan di Laboratorium zoology FMIPA UNY. Praktikum


ini bertujuan untuk menghitung kecepatan krenasi sel darah merah dalam berbagai
konsentrasi larutan, mengetahui persentase hemolisis eritrosit pada berbagai
konsentrasi larutan serta dapat menegtahui faktor-faktor yang mempengaruhi
persentase hemolisis eritrosit pada berbagai konsentrasi larutan. Praktikum ini
menerapkan sistem osmotik atau perpindahan zat secara melalui medan semi-
permeabel. Hal tersebut nampak bahwa sel darah merah mempunyai membrane
berupa dinding sel kemudian dengan sifat yang dimiliki suatu cairan yaitu akan
cenderung menstabilkan kondisi lingkungannya.
Praktikum ini menggunakan larutan NaCl dengan konsentrasi 0,5%, 0,7%,
0,9%, dan 3%. Perbedaan konsentrasi tersebut akan diamati kecepatan krenasi
atau pengkerutan sel darah merah dalam satuan waktu. Sampel yang diambil
adalah sebanyak 3 praktikan. Darah dari sampel yang akan diujikan kemudian
ditetesi NaCl dengan berbagai konsentrasi dan dicatatat waktu pengkerutannya
dibawah mikroskop.
Krenasi yaitu peristiwa mengkerutnya membran sel akibat keluarnya air dari
dalam eritrosit. Krenasi dapat terjadi apabila eritrosit dimasukkan ke dalam
medium yang hipertonis terhadap isi eritrosit (Syaifuddin, 2009). Krenasi dapat
terjadi apabila eritrosit dimasukkan ke dalam medium yang hipertonis terhadap isi
eritrosit. Misalnya, untuk eritrosit hewan homoitherm adalah larutan NaCl yang
lebih pekat dari 0,9% sedangkan untuk eritrosit hewan poikilotherm adalah
larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,7% (Soewolo. 1999).
Krenasi dipengaruhi oleh adanya tekanan osmotik. Tekanan osmotik ini
akan erat kaitannya dengan sifat cairan sendiri yang cenderung akan menstabilkan
diri dalam suatu kondisi tertentu. Tekanan osmotic adalah daya dorong air yang
dihasilkan oleh partikel-partikel zat terlarut di dalamnya. Molekul air mempunyai
sifat umum yaitu bergerak secara difusi sesuai dengan gradient (laju pertambahan)
konsentrasi. Air cenderung berdifusi dari daerah zat terlarut yang sedikit
(konsentrasi pelarut tinggi) ke tempat jumlah zat yang terlarut banyak (konsentrasi
pelarut rendah) (Syaifuddin. 2009: 9).
Keseimbangan osmotik merupakan kekuatan yang besar untuk
memindahkan air agar dapat melintasi membran sel. Bila cairan interseluler dan
ekstraseluler dalam keseimbangan osmotic, maka perubahan yang relative kecil
pada konsentrasi zat terlarut impermeable dalam cairan ekstraseluler dapat
menyebabkan perubahan luar biasa dalam volume sel.
1. Cairan isotonic. Jika suatu sel diletakkan pada suatu larutan dengan zat
terlarut impermeabel (tidak dapat dilewati) maka sel tidak akan mengerut atau
membengkak karena konsentrasi air dalam cairan intraseluler tidak dapat masuk
atau keluar dari sel sehingga terdapat keseimbangan antara cairan intraseluler dan
ekstraseluler.
2. Cairan hipotonik. Jika suatu sel diletakkan dalam larutan yang
mempunyai konsentrasi zat terlarut impermeabel lebih rendah, air akan berdifusi
ke dalam sel menyebabkan sel membengkak karena mengencerkan cairan
intraseluler sampai kedua larutan mempunyai osmolaritas yang sama.
3. Cairan hipertonik. Jika suatu sel diletakkan dalam larutan yang
mempunyai konsentrasi zat terlarut impermeable lebih tinggi, air akan mengalir
keluar dari sel ke dalam cairan ekstraseluler. Pada keadaan ini sel akan mengerut
sampai kedua konsentrasi menjadi sama (Syaifuddin, 2009: 9-10).
Berdasarkan hasil praktikum nampak bahwa kecepatan krenasi pada tiap
konsentrasi mempunyai perbedaan dengan rentang rerata cukup besar.
Terpaparkan jelas bahwasannya konsentrasi NaCl diatas 0,9% menyebabkan sel
darah merah mengalami pengkerutan lebih cepat dibandingkan dengan
konsentrasi dibawah konsentrasi 0,9%. Dasarnya, penambahan larutan NaCl pekat
dapat menyebabkan krenasi pada eritrosit hewan, misalnya untuk eritrosit hewan
homoioterm adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,9 % NaCl, sedangkan
untuk eritrosit hewan poikiloterm adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,7 %
(Syaifuddin, 2009). Berdasarkan pernyataan tersebut dapat ditarik suatu garis
bahwasanya sel darah merah yang dimiliki manusia mempunyai tingkatan
toleransi tertentu terhadap suatu konsentrasi larutan. Konsentrasi sebesar 3%
mempengaruhi kecepatan krenasi eritrosit paling cepat dibandingkan dengan
konsentrasi yang lainnya.
Berdasarkan penelitian isi sel eritrosit hewan homoitherm isotonis terhadap
larutan 0,9% NaCl, oleh karena itu hemolisis akan terjadi apabila eritrosit hewan
Homoitherm dimasukkan kedalam larutan NaCl dengan konsentrasi dibawah
0,9%. Namun, perlu diketahui bahwa membrane eritrosit memiliki toleransi
osmotic, artinya sampai batas konsentrasi medium tertentu sel belum mengalami
lisis. Kadang-kadang pada suatu konsentrasi larutan tertentu tidak semua eritrosit
mengalami hemolisis. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi osmotis membrane
eritrosit berbeda-beda. Pada eritrosit tua membrane selnya memiliki toleransi
rendah (mudah pecah) sedangkan membrane eritrosit muda memiliki toleransi
osmotik osmotic yang lebih besar (tidak mudah pecah) (Soewolo, 1999).
Melihat berbagai keadaan atau kondisi yang lain, bahwasanya osmosis
memainkan peranan yang sangat penting salah satunya pada membran sel darah
merah saat mengalami peristiwa hemolisis dan krenasi. Kerusakan membran
eritrosit dapat disebabkan oleh penambahan larutan hipotonis atau hipertonis ke
dalam darah. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena
penambahan larutan NaCl hipotonis), medium tersebut (plasma dan larutan) akan
masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan
menyebabkan sel eritrosit menggembung. Sebaliknya, apabila eritrosit diletakkan
pada cairan hipertonis maka eritrosit akan mengalami krenasi atau pengkerutan.
Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan
larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan
membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh
karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll. Apabila medium di sekitar eritrosit
menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut
(plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang
bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila
membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu
sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium
sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis,
maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma),
akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan
cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma)
(Soewolo, 1999).

VII. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Eritrosit manusia mempunyai daya toleransi terhadap lingkungan. Hal ini
adalah NaCl sebesar 0,9%
2. Kecepatan krenasi dipengaruhi oleh konsentrasi larutan NaCl yang bersifat
hipertonis. Konsentrasi lebih dari 0,9% akan semakin mempercepat krenasi
eritrosit dibandingkan dengan yang dibawah 0,9%.
3. Konsentrasi 3% adalah konsentrasi yang paling cepat mempengaruhi
kecepatan krenasi.
Daftar Pustaka

Soewolo, dkk. 1999. Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang.

Syaifuddin. 2009. Fisiologi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan.


Jakarta: Salemba Medika.