Anda di halaman 1dari 14

KESEHATAN REPRODUKSI:

RUANG LINGKUP DAN KOMPLEKSITAS MASALAH

Muhadjir Darwin*

Abstract
Reproductive health covers a number of elements that relates to sexual activities
and reproductive processes. The clinical aspects of the reproductive health are indeed
important. Yet, its social aspects are not less significant due to its complexity and
difficultyfor making a solution. Many social problems associated with reproductive
health, such as unwanted pregnancy, unsafe abortion, STD/AIDS, side-effects of
contraceptive uses, etc., have grown to be more crucial and callfor serious attention
from social scientists as well as policy makers. This paper specifically addresses this
issue by elaborating the scope and complexity of reproductive health matters in an
Indonesian context.

Ruang Lingkup
Secara tradisional, kesehatan bahwa strategi kesehatan reproduksi
reproduksi hanya dipelajari sebatas merupakan reaksi dari strategi
masalah kesehatan ibu dan anak keluarga berencana yang terlalu
(Maternal and Child Health, disingkat berorientasi pada target penurunan
MCH) dan menjadi bagian dari studi fertilitas, dan cenderung mengabaikan
kesehatan masyarakat (Fathalla, wanita sebagai pengambil keputusan
1990-1991: 3). Pada kurun 20 tahun yang otonom, baik yang menyangkut
terakhir, ruanglingkup studi kesehatan penggunaan kontrasepsi maupun
reproduksi meluas, tidak sekedar keputusan untuk kehamilan dan
MCH, tetapi juga ada keterkaitan persalinan. Isu status wanita, hak
proses reproduksi dengan masalah- reproduksi wanita, etika, dan hukum
masalah sosial lain yang lebih luas, sangat mewarnai pengembangan
seperti kependudukan, keluarga strategi kesehatan reproduksi (Ford
berencana, status wanita, dan Foundation, 1991).
penularan STD (Sexual Transmitting Istilahkesehatansendiri mengalami
Disease). Konteks demografi dari perluasan arti. Badan KesehatanDunia
kesehatan reproduksi tampak (WHO) mendefinisikan kesehatan
mendasari pengembangan strategi sebagai:
kesehatan reproduksi. Dapat dikatakan

Dr. Muhadjir Darwin, adalah staf peneliti Pusat Penelitian Kependudukan, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta dan staf pengajar Fakultas Isipol, Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.

Populasi, 7(2), 1996 ISSN: 0853 - 0262


Muhadjir Darwin

"a state of complete physical, mental seksual, kesuburan (fertilitas) menentu-


and social wellbeing and not merely kan apakah individu mempunyai
the absence of disease or infirmity" kemampuan untuk memberi
Dalam konteks pengertian yarig keturunan atau tidak. Dalam hal ini
positif, kesehatan reproduksi tidak individu dapat mengalami gangguan
hanya berarti terbebas dari penyakit kesehatan reproduksi berupa ketidak-
atau gangguan selama proses mampuan melakukan hubungan
reproduksi, tetapi kondisiketika proses seksual (impotensi) dan ketidak-
reproduksi tercapai dalam situasi mampuan memberi keturunan
kesehatan pisik, mental, dan sosial (infertilitas). Perilaku seksual tidak
yang sempurna. Ini berarti bahwa seluruhnya didasari niat untuk
manusia mempunyai kemampuan mendapatkan keturunan. Dalam
untuk bereproduksi, wanita dapat banyak kasus wanita dan pasangannya
melalui masa kehamilan dan berusaha menghindari risiko tersebut,
persalinan dengan aman, dan antara lain dengan menggunakan
reproduksi memberi hasil yang positif kontrasepsi. Akan tetapi, tidak seluruh
juga yaitu bayi dapat hidup dan upaya pencegahan kehamilanberhasil.
tumbuh dengan sehat. Pengertian ini Kegagalan dalam pemakaian kontra¬
juga mempunyai implikasi bahwa sepsi dapat menimbulkan masalah
manusia dapat mengatur fertilitas kesehatan reproduksi lain, yaitu
mereka tanpa risiko mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki.
gangguan kesehatan dan dapat Menghadapi masalah ini, alternatif
mengalami seks yang aman (Fathalla, pemecahan yang dapat diambil oleh
1990-1991: 3). wanita dan pasangannya ada dua,
Kesehatan reproduksi dalam arti diteruskan sampai melahirkan atau
luas meliputi seluruh proses, fungsi, diakhiri (aborsi disengaja). Pemakaian
dan sistem reproduksi pada seluruh kontrasepsi dapat pula menimbulkan
tahapan kehidupan manusia. Secara masalah lain, misalnya efek samping
lebih khusus, studi kesehatan kesehatan (seperti pusing-pusing,
mempelajari bagaimana individu tekanan darah tinggi, pendarahan,
dapat terbebas dari berbagai gangguan infeksi, dan sebagainya), dan
kesehatan yang disebabkan oleh proses terampasnya hak reproduksi wanita
atau bekerjanya fungsi dan sistem (jika pemakaian kontrasepsi dilakukan
reproduksi. Manusia (terutama pada tanpa mengindahkan kemauan atau
kurun usia reproduksi) secara naluriah preferensi wanita pemakai
mempunyai dorongan seksual (sexual kontrasepsi).
drives), lalu muncul hasrat mencari Kehamilan adalah peristiwa
pasangan (sexual partnership). Dari situ reproduksi penting yang dialami oleh
muncul aktivitas seksual (sexual acts) setiap wanita. Ketika kehamilan
berikut akibatnya, yaitu mengalami diputuskan untuk diteruskan, wanita
kehamilan dan melahirkan. Jika dituntut untuk melakukan pemeriksa-
dorongan seksual membuat individu an kehamilan secara teratur, juga
berpotensi melakukan hubungan menjaga kesehatan dan gizi makanan
agar janin yang dikandungnya

2
Kesehatan Reproduksi

berkembang sehat sampai saat Di atas disebut "setting sosial-


persalinan. Kegagalan dalam merawat budaya" karena sesungguhnya proses
kehamilan, juga tidak amannya reproduksi tidak sepenuhnya
pertolongan persalinan yang diterima, merupakan fenomena pisik (berfungsi-
dapat berakibat buruk atau bahkan nya sistem reproduksi) yang cukup
fatal pada bayi dan ibunya (kematian dijelaskan secara medis atau klinis,
bayi dan kematian maternal). tetapi juga merupakan proses yang
Perilaku seks tidak hanya berisiko kecenderungannya dibentuk atau
mengalami kehamilan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial
tertular penyakit menular karena STD dan budaya tertentu. Faktor-faktor
(Sexual Transmitting Disease, disingkat tersebut membentuk makna subjektif
STD) dan gangguan-gangguan tentang seksualitas (sexual meanings),
kesehatan lainnya. Akan lebih parah menciptakan pola berpasangan (sexual
situasinya jika yang terinveksi STD partnership), membatasidan mengarah-
adalahibuhamilkarena risikonya tidak kan pola hubungan seksual, memper-
hanya diderita oleh ibu hamil tersebut, besar atau memperkecil akses untuk
tetapi juga bayi yang akan dilahirkan. mengalami gangguan kesehatan
Risiko terinfeksi STD lebih mungkin reproduksi atau menerima pelayanan
dialami oleh orang-orang yang kesehatan reproduksi, dan sebagainya,
memilih sistem berpasangan yang yang pada gilirannya akan berpenga-
tidak aman (misalnya ganti-ganti ruh terhadap kesehatan reproduksi,
pasangan, homo,atau lesbi), dandalam baik dalam arti seksual maupun
berhubungan seks menggunakan reproduksi itu sendiri.
cara-cara yang tidak aman (misalnya, Agar lebih jelas dimensi kesehatan
tidak menggunakan kondom, meng¬ dari kesehatan reproduksi, perlu
gunakan obat-obat atau jamu-jamu dijelaskan secara lebih rinci dua elemen
perangsang secara berlebihan, atau kesehatan reproduksi, yaitu seks sehat
menggunakan benda-benda atau dan reproduksi sehat.
alat-alat bantu yang berbahaya atau
tidak steril). Seks Sehat
Studi kesehatan reproduksi Kondisi seksual dikatakansehat jika
mempelajari implikasi kesehatan dari terpenuhi hal-hal sebagai berikut.
bekerjanya elemen-elemen seksual, 1. Individu terbebas atau terlindung
yaitu tercapai atau tidak tercapainya dari kemungkinan tertular penyakit
sekssehat (sexualhealth) dan reproduksi menular karena hubungan seks
sehat (reproductive health). Artinya, (Sexual Transmitting Disease,
bagaimana atau seberapa jauh elemen- disingkat STD).
elemen seksual (seperti sexual drives, 2. Individu terlindung dari
sexual partnership, sexual enjoyment, dan praktik-praktik yangberbahaya dan
sexual acts) yang bekerja dalam setting kekerasanseksual.
sosial budaya tertentu menimbulkan 3. Individu dapat mengontrol akses
implikasi kesehatan pada pelakunya seksual orang lain terhadapnya.
(Dixon-Mueller, 1994:31-36).

3
Muhadjir Darwin

4. Individu dapat memperoleh STD merupakan masalah kesehatan


kenikmatan atau kepuasan seksual. reproduksi yang semakin memperoleh
5. Individu dapat memperoleh perhatian karena sifatnya yang
informasi tentang seksualitas. menular, sulitnya penanggulangan
(Dixon-Mueller, 1994:36) (terutama AIDS), dan besarnya
Gangguan kesehatan seksual terjadi implikasi dari penyakit tersebut
jika terdapat hambatan atau masalah terhadap kualitas sumber daya
pada salah satu atau lebih dari faktor- manusia. STD semakin menyebar
faktor di atas. Individu dapat tertular seiring dengan bertambah longgamya
STD, sakit, cacat, atau bahkan mati kecenderungan seksualitas masyara-
karena menggunakan obat-obat kat. Praktik ganti-ganti pasangan,
perangsang, menjadi korban dari homoseksual, biseksual, dan merebak-
kekerasan seksual, mempunyai nya seks komersial dalam berbagai
kemampuan kontrol yang lemah bentuknya menyumbang pada
terhadap akses seksual, gagal penyebaran STD.
memperoleh kepuasan seksual dari Terhadap masalah penularan STD
pasangannya, atau mempunyai akses ini, ada dua kutub pandangan yang
yang rendah untuk memperoleh berkembang. Kutub pertama melihat
informasi tentang seksualitas. praktik seksualitas tersebut sebagai inti
masalah yang harus dipecahkan, dan
Penularan Penyakit penyebaran STD merupakan
Oleh berbagai sebab, wanita dapat konsekuensi yang akan hilang dengan
mengalami infeksi pada sistem saluran sendirinya ketika sumber permasalah-
reproduksi mereka (Reproductive Tract an dapat teratasi. Sumber masalah
Infection, disingkat RTI). Data dari tersebut misalnya moral individu,
Kenya tahun 1987menyebutkanbahwa kontrol sosial terhadap penyimpangan
dari 1,2juta wanita, 80.000 di antaranya seksual, sanksi hukum yang jelas
menderita postpartum pelvic infection, terhadap pelaku penyimpangan
8.000 sampai 16.000 mengalami seksual, terpaan informasi global,
kemandulan karena infeksi, kurang pertumbuhan seks komersial,
lebih 22.000 bayi mati dan 10.000 bayi kemiskinan, dan sebagainya. Dengan
terinfeksi HIV, 90.000 bayi mengalami kata lain, intipersoalan tidak terletak di
infeksi mata dan 10.000 di antaranya hilir,yaitu STD-nya itusendiri, tetapi di
terancam buta. (Germain, 1992:1) hulu, yaitu faktor-faktor individu,
Penggunaan IUD,aborsi yang tidak sosial, hukum, atau politik yang
aman, masuknya benda-benda atau menimbulkan kecenderungan seksu¬
alat-alat yang tidak steril ke dalam alat alitas yang rentan (keserbabolehan
reproduksi wanita, dan lain-lain dapat seksual yang tinggi). Jika masyarakat
menyebabkan timbulnya RTI. Akan dapat dibawa kepada perilaku yang
tetapi, salahsatu penyebab utama lebih restriktif (setia pada satu
timbulnya RTI adalah terinfeksinya pasangan), sensor terhadap informasi
individudari berbagaipenyakit karena seksual dan kontrol terhadap perilaku
hubungan seksual (STTD). Karena itu, seks menyimpang diperketat, maka
penularan STD akan dapat dicegah.

4
Kesehatan Reproduksi

Inilahmungkin cara yang palingefektif pragmatis mungkin merupakan solusi


untuk mengatasi STD. Tokoh-tokoh yang tersedia. Pendekatan ini
agama menganjurkan pendekatan ini. meletakkan masalah di hulu sebagai
Pemerintah dalam beberapa hal atau given, dan memusatkan perhatian
dalam kadar tertentu juga menerapkan pada situasi di hilir: bagaimana agar
kebijakan ini. Akan tetapi, kenyataan pada masyarakat yang memiliki
yang kita lihat adalah bahwa sikap budaya seksual yang permisif ini,
permisif masyarakat tidak menunjuk- penularan STD dapat ditekanserendah
kan kecenderungan menurun. mungkin. Caranya adalah dengan
Pemerintah sendiri sesungguhnya melembagakan seks aman, misalnya
bersikap mendua dalam menghadapi dengan mengkampanyekan seks
masalah ini. Walaupun dianggap nonpenetrasi, intensifikasi pemeriksa-
ilegal, praktik prostitusi dibiarkan an dan perawatan kesehatan seksual,
berkembang di masyarakat. isolasi penderita AIDS, kondomisasi,
Pemerintah bahkan mendirikan dan sebagainya. Dalam rangka
beberapa lokalisasi pelacuran yang menemukan pendekatan yang lebih
berada di bawah kontrol instansi baik untuk mencegah penularan STD
terkait. Pemerintah juga memberi izin terutama AIDS, perlu dilakukan kajian
berdirinya panti pijat, karaoke, pub, yang mendalam terhadap kelompok-
salon, pusat kebugaran, dll. yang di kelompok masyarakat yang pola
banyak tempat disalahgunakan untuk perilaku seksualnya berisiko tinggi,
aktivitas seks komersial. Karena itu, seperti parapelacur dan pelanggannya,
banyak yang pesimis terhadap kelompok gay, lesbi, dan biseks.
efektivitas pendekatan ini. Pelacuran di masyarakat telah
Pengalaman di Barat menunjukkan berkembangsedemikian kompleks dan
bahwa kebijakan yang sangat represif menggejala dalam berbagai bentuk,
dalam seksualitas (dilandasi etika sebagian dengan mudah dikenali dan
puritan) justru menimbulkan sebagian lain sulit dikenali. Pelacuran
disorganisasi norma seksual. Etika yang paling mudah dikenali adalah
puritan seperti ini diterapkan secara yang mangkal secara permanen di satu
ketat pada zaman Ratu Victoria dari tempat. Mereka secara transparan
Inggris (1837-1990). Etika puritan melakukan transaksi seksual dengan
sangat menekankan kerja keras, sikap pelanggannya, dan tempat permanen
menahan diri dari nafsu seksual, dan disebut tempat pelacuran (sering
larangan keras terhadap perilaku digunakan nama lain seperti
seksual menyimpang. Ternyata resosialisasi, lokalisasi, lokasi, rumah
penerapan etika ini justru melahirkan bordil, dan sebagainya). Akan tetapi,
banyak hipokrisi seperti misalnya sekarang juga tumbuh prostitusi
promiskuitas seksual terselubung di terselubung yang jumlahnya mungkin
kalangan bangsawan (Onghokham, justru lebih besar dari pada prostitusi
1991:15). transparan. Banyak pramupijat,
Ketika perubahan sosial menuju ke pramuniaga, pemandu wisata, pekerja
pola perilaku yang lebih restriktif sulit hotel, pekerja salon, hostess,
terjadi, pendekatan yang lebih mahasiswa, pelajar, bahkan ibu rumah

5
Muhadjir Darwin

tangga yang secara terselubung menjual dirinya dengan melayani


melakukan praktik prostitusi kebutuhan seksual wanita pelanggan-
terselubung. Darisudut penularanSTD nya. Banyak dari pelanggan adalah
terutama AIDS, praktik prostitusi ibu-ibu rumah tangga dari lapisan
terselubung ini lebih rawan karena ekonomi menengah dan atas serta para
lebih sulit dikenali, dan karena itulebih wanita eksekutif. Praktik seperti ini
sulit pula diintervensi. tidak hanya ditemukan di kota-kota
Ada jenis prostitusi lain yang besar sepertiJakarta dan Surabaya, atau
sekarang juga berkembang dan di pusat wisata Bali, tetapi juga di
memerlukan perhatian serius dalam kota-kota lain yang lebih kecil seperti
studi kesehatan reproduksi, yaitu Yogyakarta, Sala, Purwokerto, dan
prostitusi anak-anak. Prostitusi di sebagainya.
bawah umur ini telah cukup Perilaku homoseksual juga
menggejala di kota-kota besar, seperti merupakan perilaku yang berisiko
Jakarta, Bandung, dan Surabaya, tinggi tertular STD. Perilaku demikian
bahkan juga di kota-kota yang lebih juga banyak menggejala di Indonesia.
kecil seperti Yogyakarta dan Surakarta. Perilakumereka dikategorikansebagai
Prostitusi anak-anak cukup mempriha- berisiko tinggi karena kebanyakan
tinkan karena pelakunya adalah mereka cenderung ganti-ganti pasang-
penduduk yang dari sudut kematang- an, dan dalam hubungan seksual
an seksual belum dewasa. Mereka mereka banyak melakukan teknik-
mungkin belum cukup mengetahui teknik yang rentan terhadap penularan
risiko dari hubungan seksual sehingga STD, seperti penetrasi anal tanpa
kehamilan dini dan penularan STD kontrasepsi sampai menelan sperma
dengan seluruh implikasinya dapat dan kotoran pasangannya. Banyak
terjadi pada mereka. Praktik itu juga pelakuhomoseksualjuga pada saat lain
dapat mempengaruhi perkembangan heteroseksual,bahkanberstatuskawin.
pribadi dan masa depan mereka. Di Dengan kata lain, sebagian dari para
negara-negara Barat, orang dewasa homo (gay atau lesbi) adalah juga
yang melakukan hubungan seksual biseks. Itu artinya mereka potensial
dengan anak di bawah umur menularkan penyakitnya pada
(meskipun atas dasar suka sama suka) pasangan tetapnya. Praktik homo¬
dianggap melakukan tindak kriminal seksual dapat berlangsungdengan atau
(melanggar hukum) dan dapat dijatuhi tanpa motif komersial. Praktik
hukuman berat. Indonesia tidak homoseksual dengan motif komersial
mengenal hukum seperti ini, merupakan variasi tersendiri dari
karenanya praktik seperti itu dapat praktik prostitusi. Di Surabaya dikenal
berlangsung secara leluasa, dan sejauh istilah "kucing", yaitu pelacur laki-laki
ini belum terdengar tindakan hukum yang menjual diri dengan melayani
bagi para pelakunya. kebutuhanseksual laki-laki pelanggan-
Prostitusi lainyangjuga menggejala nya. Banyak dari "kucing" tersebut
dalam masyarakat adalah prostitusi sehari-hari aktif sebagai pelajar atau
laki-laki. Pelakunya, disebut gigolo, mahasiswa.

6
Kesehatan Reproduksi

Praktik Seksual Berbahaya dan laki-laki asuhannya memuaskanhasrat


Kekerasan Seksual seksualnya. Akan tetapi, kecenderung-
an perilaku demikian lebih sering
Ada sejumlah cara perilaku seksual
dilakukan laki-laki terhadap wanita
yang membahayakan tubuh pelaku
atau pasangannya. Di pasar beredar daripada sebaliknya.
obat-obat perangsang gairah seksual, Oleh karena itu, bagaimana
obat-obat atau jamu-jamu untuk memperbesar daya kontrol wanita
memperpanjang masa ereksi, memper- terhadap akses seksual laki-laki
besar atau memperpanjang alat terhadapnya merupakan persoalan
reproduksi, dan lain-lain, yang penting yang menarik untuk dikaji.
Sanksi hukum yang lemah terhadap
seringkali mempunyai efek samping
negatif pada pemakainya. Juga ada pemerkosa, jaminan keselamatan kerja
sejumlah alat bantu yang dipakai yang rendah di tempat kerja,
dalam hubungan seks atau masturbasi, pandangan yang menganggap bahwa
dll, dari bahan karet, kayu atau botol, suami memiliki kekuasaan penuh atas
yang juga dapat membahayakan istrinya, rendahnya kesadaran wanita
kesehatan pelakunya. Selain itu, terhadap hak reproduksi mereka, dan
hubungan seks sering berlangsung sebagainya, membuat daya kontrol
bukan karena kemauan kedua belah wanita terhadap akses seksual laki-laki
pihak, tetapi dapat teijadi di bawah terhadapnya rendah.
ancaman, sering pula disertai tindak
Di banyak tempat kerja,
kekerasan (sexual violence). perlindungan terhadap wanita dari
Wanita dalam banyak masyarakat kemungkinan mengalami pelecehan
dan kekerasan seksual wanita masih
cenderung rentan terhadap terjadinya
rendah. Pembantu rumah tangga
pelecehan seksual. Menurut Husbands
(1992: 538), pelecehan seksual meliputi: merupakanjenis pekerjaan yang sangat
rentan terhadap pelecehan seksual.
unwanted touching, pinching, Para pembantu bekerja 24 jam sehari
offensive sexual comments and tanpa batasanhak dan tanggung jawab
unwelcome requests for sexual
yang jelas, dan mempunyai posisi yang
intercourse.
sangat lemah dalam berhadapan
Pelecehan dan kekerasan seksual dengan kepentinganmajikannya.
dapat terjadi di dalam rumah tangga Pabrik-pabrik, kantor-kantor,
(suami terhadap istri; orang tua toko-toko, dan usaha-usaha bisnis
terhadap anak, paman terhadap lainnya banyak mempekerjakan wanita
keponakan, juragan terhadap sampai malam dengan risiko besar
pembantunya, dan sebagainya) dan di mengalami pelecehan seksual. Jarang
luar rumah, baik di tempat-tempat perusahaan menciptakan sistem
umum, di hotel, maupun di tempat pengamanan untuk melindungi para
kerja. Perlu juga dicatat bahwa pekerja wanita dari kemungkinan
pelecehan atau kekerasan seksual mengalami pelecehan dan kekerasan
dapat dilakukan wanita terhadap seksual.Tidak jarang pelecehanseksual
laki-laki, misalnya pembantu terhadap wanita pekerja dilakukan
perempuan yang memaksa anak oleh atasan atau majikan mereka.

7
Muhadjir Darwin

Pekerjaan yang oleh masyarakat dinilai seperti penularan penyakit seksual,


bersifat maskulin karena dianggap kehamilan tak dikehendaki, depresi,
hanya cocok untuk laki-laki (seperti dan sebagainya.
sopir bus atau taksi, polisi, tentara,
satpam, dsb) sudah mulai dimasuki Informasi tentang Seksualitas
wanita. Pada pekerjaan-pekerjaan yang Informasi tentang seksualitas akan
didominasi laki-laki ini kemungkinan berpengaruh terhadap pengetahuan
pelecehan seksual juga besar. individu tentang seksualitas, mem-
Pelecehan seksual juga berhubung- bentuk makna subjektif tentang
an dengan kuatnya hukum dalam seksualitas, menuntun pola berpasang-
memberi sanksi kepada pelaku an seksual dan mengontrol perilaku
pelecehan. Dalam hal ini hukum yang seksual seseorang. Individu yang
berlaku di Indonesia kurang memberi kurang memahami STD dan cara
jaminan keselamatan wanita di tempat penularannya dan kurang mengontrol
kerja dari kemungkinan mengalami perilaku seksualnya akan mudah
pelecehan seksual. tertular STD. Wanita yang menderita
infeksi pada sistem saluran reproduksi
Kenikmatan Seksual dan kurang memahami gejala yang ia
Kenikmatan seksual (sexual alami mungkin akan membiarkan
enjoyment) adalah salah satu tujuan keluhan terjadi sampai keluhan itu
hubungan seksual di samping berkembang lebih akut dan membawa
memperoleh keturunan. Salah satu dampak lebih buruk pada kesehatan-
kebahagiaankeluarga ditentukan pada nya. Demikian juga wanita yang
seberapa jauh pasangan memperoleh kurang tahu tentang kehamilan dan
kepuasan seksual dalam kehidupan cara-cara pencegahannya dapat
keluarga mereka. Pada masyarakat mengalami kehamilan yang tidak
tempat status wanita masih rendah, dikehendaki. Dengan begitu, informasi
laki-laki cenderung kurang memper- tentang seksualitas sangat penting
hatikan kepentingan wanita, termasuk untuk menjaga kesehatan seksual
kepuasan seksual wanita, dan wanita individu.
sendiri cenderung bersikap pasif dalam Informasi seksual dapat diberikan
hubungan seksual sehingga kenikmat¬ melalui pendidikan keluarga,
an seksual gagal diperoleh. Kegagalan pendidikan agama di pesantren atau
menikmati hubungan seksual dengan tempat-tempat beribadah, pergaulan
pasangan resmi sering menimbulkan dengan teman, guru di sekolah, bacaan,
masalah psikologis seperti stress, media elektronik, dll. Jenis materi yang
depresi, mudah marah tanpa alasan, disampaikan melalui berbagai media
dan sebagainya. Sering pula kegagalan tersebut dapat berbeda, baik dalam
ini menjadi alasan dari perilaku seks substansi, intensitas, maupun daya
menyimpang, konflik rumah tangga, pengaruhnya pada individu. Sering
perceraian, dan sebagainya. dikatakan bahwa penyimpangan
Penyimpangan seksual pada gilirannya seksual remaja dikarenakan terlalu
dapat menimbulkan berbagai risiko dominannya pengaruh media massa

8
Kesehatan Reproduksi

dan elektronik dalam menyebarkan 6. punya akses terhadap pengobatan


informasi seksual bebas, sementara (treatment) kemandulan (infertility);
keluarga, sekolah, atau pesantren (Dixon-Mueller, 1994:36)
kurang memberikan bekal pengetahu-
an seksual yang sebanding. Perlindungan terhadap Kehamilan
Bagaimana memberikan informasi Tak Dikehendaki
yang lengkap dan mendidik tentang Membebaskan individu dari
seksualitas dengan maksud agar kehamilan tak dikehendaki (melalui
penyimpangan seksual dapat ditekan, penundaan perkawinan, penundaan
juga resiko penularan STD dan atau pencegahan kehamilan melalui
kehamilan tidak dikehendaki dapat penggunaan kontrasepsidan sterilisasi,
dicegah, merupakan tantangan besar dll.) merupakan tema penting dari
dalam pendidikan kesehatan kesehatan reproduksi, dan ini pula
reproduksi. yang merupakan tema penting dari
pendekatan keluarga berencana.
Reproduksi Sehat Bedanya adalah bahwa jika dalam
Kesehatan dalam proses reproduksi keluarga berencana pencegahan dari
(kehamilan dan persalinan) merupa¬ kehamilan tak dikehendaki diletakkan
kan pusat perhatian utama kesehatan sebagai bagian dari upaya untuk
reproduksi. Studi kesehatan menurunkan fertilitas, dalam
reproduksi menaruh perhatian pada kesehatan reproduksi pencegahan
upaya membebaskan individu dari kehamilan diletakkan sebagai bagian
segala kemungkinan gangguan dari hak reproduksi wanita yang harus
kesehatan karena proses reproduksi, dilindungi atau dihargai. Artinya,
misalnya gangguan kesehatan karena pendekatan kesehatan reproduksi
menggunakan cara-cara pencegahan berasumsi bahwa setiap wanita
kehamilan (kontrasepsi), gangguan mempunyai hak untuk menentukan
kesehatan karena kehamilan, dan kapan mengalami kehamilan dan
gangguan kesehatan karena aborsi kapan menghindarinya. Gangguan
yang tidak aman. Secara garis besar kesehatan reproduksi terjadi jika
individu dikatakan terbebas dari wanita tidak mempunyai kebebasan
gangguan reproduksi,jika ia: dalam menentukan pilihan tentang
1. aman dari kemungkinan kehamilan pencegahan kehamilan dan cara-cara
tak dikehendaki; yang diinginkan. Sejalan dengan
2. terlindung dari praktik reproduksi asumsi ini, pendekatan kesehatan
yang berbahaya; reproduksi juga berasumsi bahwa
3. bebas memilih kontrasepsi yang wanita sebaiknya dilindungi haknya
cocok baginya; untuk mengakhiri kehamilan yang
4. punya akses terhadap informasi tidak diinginkan melalui penyediaan
kontrasepsi dan reproduksi; pertolongan aborsi yang aman.
5. punya akses terhadap perawatan Kehamilan tak dikehendaki dapat
kehamilan dan pelayanan terjadi pada wanita menikah atau
persalinan yang aman; dan tidak/belum menikah, termasuk

9
Muhadjir Darwin

remaja belum menikah. Terdapat ditinggal lari pria yang menghamili¬


indikasi bahwa kehamilan pada nya, pria tersebut mengelak dari
kelompok wanita tersebut terakhir tanggung jawab, orang tua tidak
jumlahnya meningkat dari waktu ke menyetujui pernikahan, tidak jelas
waktu. Ada dua masalah yang harus siapa lelaki yang menghamilinya
dipecahkan oleh remaja wanita yang karena wanita tersebut berhubungan
mengalami kehamilan tak dikehen- dengan lebih dari satu lelaki, dsb).
daki. Masalah pertama berkenaan Meneruskan kehamilan artinya
dengan status perkawinannya: apakah menjadi orang tua tunggal (single
akan menikah dengan pria yang parent) dengan seluruh implikasinya.
menghamilinya atau tidak, dan Menggugurkankandunganjuga bukan
masalah kedua berkenaan dengan pilihan yang mudah karena akses
keputusan apakah akan meneruskan melakukan pengguguran yang aman
kehamilannya atau menggugurkan- terbatas, dan besarnya risiko fisik dari
nya. Masing-masing pilihan mem- pengguguran (kemungkinan kompli-
punyai implikasi sosial, ekonomis, dan kasi pasca aborsi). Belum ditambah
psikologis yang berbeda. Pernikahan dengan rasa bersalah danberdosa yang
akan menyelamatkan kehormatan tidak berkesudahan, yang sering
wanita di mata keluarga dan menghinggapi perasaan para pelaku
'masyarakat, tetapi pada saat yang sama aborsi.
dapat menghancurkan masa depan Persoalan menjadi lebih rumit bagi
pendidikan dan pengembangan karier remaja karena sering mereka mempu¬
mereka di masa depan. Sementara itu, nyai keterbatasan dalam pengambilan
memilih tidak menikah akan keputusan. Keputusan menikah dan
menimbulkan konsekuensi sosial dan tidak menikah, juga keputusan
psikologis yang tinggi (dikucilkan dari menggugurkan atau meneruskan,
keluarga, dicemooh tetangga, stress, tidak sepenuhnya berada di tangan
dsb.). mereka.
Masalah kedua, yaitu apakah
kehamilan akan diteruskan, tidak pula Perlindungan terhadap Praktik
mudah diputuskan oleh wanita Reproduksi yang Berbahaya
tersebut. Masing-masing mempunyai Praktik reproduksi, misalnya
implikasi negatif sendiri-sendiri. Pada persalinan, dapat berlangsung tidak
wanita yang memilih nikah dengan aman, yaitujika ditolong oleh penolong
pria yang menghamilinya atau pria lain yang tidak berpengalaman dan
yang bersedia menikahinya akan lebih menggunakan cara-cara yang dapat
mudah membuat keputusan, misalnya membahayakan kesehatan dan
meneruskan kehamilan, terutama jika keselamatan jiwa bayi dan ibu.
pria dan keluarganya setuju dengan Pertolongan oleh dukun bayi sering
pilihan tersebut. Tidak demikian dilakukan secara kurang aman atau
halnya dengan wanita yang memilih sehat sehingga banyak mengakibatkan
tidak menikah atau dihadapkan pada terjadinya kematian bayi dan ibu. Akan
situasi yang tidak memungkinkan tetapi, tidak jarang persalinan yang
baginya untuk menikah (misalnya

10
Kesehatan Reproduksi

ditolong oleh bidan dan dokter dari sudut efektivitasnya dalam


mengalami kegagalan karena terbatas- menurunkan fertilitas. Misalnya
nya peralatan pertolongan persalinan pasangan dengan 3 anak dianjurkan
yang dipakai, atau kesalahan melakukan sterilisasi, untuk pasangan
manusiawi (human-error) yang dengan anak 2 dianjurkan memakai
dilakukan penolong dalam proses IUD, dan untuk yang masih beranak 1
persalinan. dapat menggunakan kondom atau pil
Membebaskan ibu hamil dari KB. Dalam pendekatan kesehatan
persalinan yang tidak aman menjadi reproduksi, pilihan kontrasepsi
persoalan penting pula dalam ditentukan oleh preferensi subjektif
kesehatan reproduksi. Beberapa isu dari wanita, kontrasepsi apa yang
penting dalam hal ini, misalnya menurutnya paling sesuai untuk
bagaimana meningkatkan keterampil- menjarangkan atau mencegah
an dukun bayi dalam pertolongan kehamilan. Pemaksaan atas wanita
persalinan, bagaimana meningkatkan oleh pasangan atau petugas keluarga
daya jangkau pertolongan persalinan berencana untuk menggunakan
oleh bidan dan/atau dokter kontrasepsi tertentu dianggap
kandungan,bagaimanamengintegrasi- melanggar hak reproduksi wanita.
kan pertolongan dukun dengan Dalam keluarga berencana,
pertolongan oleh paramedis, kontrasepsi digunakan untuk tujuan
bagaimana meningkatkan mutu pencegahan kehamilan. Dalam
pertolongan persalinan oleh bidan dan kesehatan reproduksi,kontrasepsijuga
dokter kandungan, dsb. digunakan untuk mencegah penularan
STD. Inilah perbedaan lain antara
Kebebasan Memilih Kontrasepsi kesehatan reproduksi dan keluarga
yang Sesuai berencana. Karena adanya dua tujuan
Hak reproduksi wanita juga yang berbeda dalam kesehatan
tercermin dari kebebasan yang dimiliki reproduksi, pemilihan kontrasepsi
wanita dalam menentukan jenis yang sesuai menjadi lebih rumit.
kontrasepsi yang sesuai. Setiap wanita Pasalnya, alat kontrasepsi yang efektif
mempunyai preferensi yang berbeda. untuk maksud pencegahan kehamilan
Preferensi tersebut harus dihormati (sterilisasi dan IUD) tidaklah efektif
oleh pasangannya dan petugas untuk mencegah penularan STD.
keluarga berencana. Memaksa wanita Sebaliknya, alat kontrasepsi yang
menggunakan jenis kontrasepsi dianggap kurang efektif untuk
tertentu berarti tidak menghargai hak pencegahan kehamilan (kondom)
reproduksi wanita. Inilah juga justru lebih efektif untuk mencegah
perbedaan penting antara kesehatan penularan STD. Karena itu,
reproduksi dan keluarga berencana. penggunaan keduanya disarankan jika
Program keluarga berencana pasangan (terutama yang mempunyai
cenderung berorientasi pada penurun- perilaku berisiko tinggi) bermaksud
an fertilitas, dan pilihan alat kontra¬ menghindarkan diri dari dua
sepsi lebih banyak dipertimbangkan gangguan kesehatanreproduksiseperti
tersebut di atas (Germain, 1992). Saran

11
Muhadjir Darwin

yang tampaknya sederhana tersebut wanita hamil sering tidak sesuai


pelaksanaannya belum tentu mudah, dengan standar kesehatan. Wanita
terutama jika antarpasangan tidak perlu memperoleh informasi yang
terdapat keterusterangan tentang cukup sehingga lebih baik dalam
perilaku seksual masing-masing. merawat kehamilannya.
Misalnya seorang suami yang sering
ganti-ganti pasangan dan sadar pada Akses terhadap Perawatan
bahaya AIDS akan berada pada situasi Kehamilan dan Pelayanan
sulit untuk menggunakan kondom Persalinan yang Aman
dengan istrinya yang telah menjalani Agar wanita terhindar dari risiko
tubektomi karena akan menimbulkan kematian atau kesakitan karena
tanda tanya pada istri tentang perilaku melahirkan, juga agar bayi yang
seksual suaminya di luar rumah. dilahirkan sehat, wanita hamil perlu
Berterus terang pada istri tentang mempunyai akses yang cukup untuk
alasan menggunakan kondom akan keperawatankehamilandan pelayanan
merusak kepercayaan istri dan persalinan. Rendahnya akses wanita
barangkali menggoyahkan keharmo- dalam hal tersebut, terutama wanita
nisan rumah tangga, tetapi tidak pedesaan dan wanita ekonomi lemah,
memakai kondom berarti membiarkan merupakan persoalan penting yang
istri berpeluang tertular STD. masih kita hadapi. Oleh karena itu,
bagaimana memperluas akses wanita
Akses terhadap Informasi dalam hal tersebut merupakan isu
Kontrasepsi dan Reproduksi kebijakan penting dalam program
Agar wanita dapat memilih kesehatan reproduksi di Indonesia.
kontrasepsi yang sesuai, juga memilih
dan mengatur perawatan kehamilan Akses terhadap Pengobatan
dan pertolongan persalinan, mereka Kemandulan
harus mempunyai akses yang tinggi Banyak pasangan menginginkan
imtuk memperoleh informasi semacam keturunan, tetapi sebagian darimereka
itu. Informasinya tentang kontrasepsi gagal memperolehnya karena masalah
haruslahdiberikan secara lengkap, baik kemandulan, baik yang dialami suami
dari sisi positif atau negatifnya. Sisi maupun istri. Kemandulan terjadi
negatif (efek samping) dari kontrasepsi karena berbagai sebab, sebagian dapat
sering kurang dijelaskan dalam diatasi secara medis, dan sebagian lagi
program KB karena orientasi yang tidak mungkin. Pasangan yang belum
terlalu tinggi pada pencapaian akseptor berhasil memperoleh keturunan dalam
KB. kurun waktu perkawinan yang cukup
Wanita hamil juga perlu lama biasanya mencari jalan atau
memperoleh informasi yang lengkap pengobatan, baik dengan meminta
tentang perawatan kehamilan, gizi pertolongan dokter, dukun, atau
makanan, olahraga yang harus lainnya. Ketika usaha tersebut gagal,
dilakukan dll. Banyak kepercayaan pasangan tersebut mungkin akan
lokal tentang makanan dan perilaku menempuh jalan adopsi atau

12
Kesehatan Reproduksi

membiarkan diri tidak mempunyai Kependudukan,dengan danadariFord


anak asuh. Banyak pula dari mereka Foundation, telah lima tahun ini
yang gagal memperoleh kesembuhan menyelenggarakan program pemberi-
dari kemandulan, mengalami masalah an dana penelitian kesehatan
perkawinan, misalnya salah satu reproduksi. Telah lebih dari 60
menyeleweng, suami kawin lagi, cerai, penelitian dibiayai melalui program
dan sebagainya. Pasangan yang gagal ini,juga sejumlah seminar nasional dan
memperoleh keturunan juga sering lokal yang membahas masalah-
mengalami akibat psikologis yang masalah khusus dari kesehatan
berat, seperti perasaan dianggap tidak reproduksi. Banyak lembaga swadaya
normal oleh orang lain, dilecehkan masyarakat yang secara khusus
keluarga, teman, tetangga, dan menangani masalah-masalah kesehat¬
sebagainya. an reproduksi tertentu, seperti
Bagaimana membebaskan pasang¬ penanggulangan PMS/AIDS, pe-
an dari masalah kemandulan dan nyediaan pelayanan aborsi yang aman,
bagaimana membebaskan mereka dari pemberdayaan perempuan, dan
konsekuensi negatif karena kemandul¬ lain-lain. Wartawan yang memiliki
an yang tak teratasi merupakan peranan besar dalam pembentukan
persoalan penting dalam studi opini publik pun telah dicoba didekati,
kesehatan reproduksi. misalnyaoleh LP3Y, antara lainmelalui
pelatihan dan komunikasi AIDS,
Penutup pelatihan tentang gender, dan
Kesehatan reproduksi merupakan sebagainya.
masalah sosial yang menonjol dan Namun demikian upaya-upaya
tidak dapat dianggap ringan. Banyak tersebut sesungguhnya masih belum
aspek dari masalah kesehatan cukup memadai untuk mengatasi
reproduksi telah secara jelas masalah yang telah berkembang
menggejala diIndonesiadan memerlu- sedemikian kompleksnya. Sikap yang
kan perhatian yang serius dari semua ditunjukkan pemerintah melalui
pihak. Lembaga-lembaga pemberi berbagai isu kesehatan reproduksi pun
dana internasional, seperti Ford sering kurang tegas. Pemerintah
Foundation, World Health misalnya masih terkesan setengah-
Organization, Population Council, dan setengah dalam menanggulangi AIDS.
lain-lain telah banyak memberikan Pendekatan yang lebih ditonjolkan
dana untuk memajukan penelitian dan pemerintah adalah pendekatan moral,
pengkajian tentang kesehatan meskipun secara empiris terlihat
reproduksi. Pemerintah telah rendahnya efektivitas dari pendekatan
memelopori upaya penanggulangan ini untuk menanggulangi AIDS. Sikap
AIDS melalui program nasional pemerintah terhadap aborsi pun
penanggulangan AIDS yang (dibandingkan dengan negara-negara
melibatkan banyak instansi dan lain, bahkan dengan beberapa negara
lembaga, baik di tingkat nasional Islam) masih cukup konservatif. Di
maupun daerah. Pusat Penelitian Indonesia, aborsi hanya dapat
dibenarkan secara hukum jika

13
Muhadjir Darwin

dilakukan untuk menyelamatkan Melihat itusemua, masalahkesehat-


nyawa ibu. Dengan hukum seperti ini, an reproduksi masih merupakan
masalah kehamilan tak dikehendaki agenda penting baik bagi sarjanadan
dan praktik aborsi yang tidak aman peneliti sosiai, para pengambil kebijak-
yang secara meluas terjadi diIndonesia, an maupun juga para aktivis di
akan sulit teratasi. Lebih jauh, posisi lapangan. Selain diperlukan adanya
perempuan baik dalam rumah tangga, lebih banyak penelitian kesehatan
tempat kerja, maupun masyarakat, reproduksi, tampaknya perlu pula
masih rawan terhadap kemungkinan upaya-upaya politik untuk mengem-
pelecehan dan kekerasan seksual. bangkan kebijakan-kebijakan publik
Perlindungan terhadap mereka yang secara realitas menjawab masa-
tampaknya masih lemah. lah-masalah kesehatan reproduksi.

Referensi

Delphy, Cristine. 1993. "Rethinking sex evidence from historical case


and gender," Women Study, 16(1). records." journal ofMarriageand the
Dixon-Mueller. 1994. "The sexuality Family, 46(1): 27-34.
connection in reproductive Griswold, Robert L. 1986. "Sexual
health," dalam Towards women- cruelty and the case for divorce in
centered reproductive health. Kuala Victorian America." Signs, 11(3):
Lumpur: Asian-Pacific Resource & 529-541, Spring.
Research Centre for Women, Husbands, Robert. 1992. "Sexual
Information Package No.l, 1994. harassment law in employment:
Fathalla, M.F. 1990. "Reproductive an international perspective"
health in the world: two decades of International Labour Review, 131 (3):
progress and the challenge ahead," 535-560.
dalam Global reproductivehealth.s.L: Onghokham. 1991. "Kekuasaan dan
s.n. Biennial Report 1990-1991. seksualitas: lintasan sejarah pra
Ford Foundation. 1991. Reproductive dan masa kolonial." Prisma, 20(7):
health: a strategy of the 1990s. New 15-23, Juli.
York, 1991. Macklin,Ruth. 1990. "Ethics andhuman
Germain, Adrienne, et al. 1992. reproduction: international
Reproductive tract infections: global perspectives", Social Problems,
impact and priorities for women's 37(1).
reproductive health. New York: Widyantoro, Ninuk, Sarsanto W.
PlenumPress. Sarwono, and Terence H. Hull.
Glass, Becky L. 1988. "Workplace 1990."Induced abortion: the
harrassment and the victimization Indonesian experience". Paper
of women," Women's Studies presented for the session on
International Forum, 11(1). Induced Abortion: International
Gordon, Linda and Paul O'Keefe. 1984. Perspectives. Population Associ¬
"Incest as a form of family violence: ation of America, Annual Meeting,
3-5 May, Toronto, Canada.

14