Anda di halaman 1dari 12

I.

JUDUL PERCOBAAN : TITRASI IODOMETRI

II. PRINSIP PERCOBAAN :


a. Reaksi reduksi dan oksidasi (redoks).
b. Dalam suasana asam, kalium iodat atau kalium bromida atau kalium dikromat akan
mengoksidasikan kalium iodida menjadi iod bebas. Kemudian iod bebas dititrasi
dengan larutan baku tio sulfat.

III. MAKSUD DAN TUJUAN :


a. Praktikan memahami konsep dasar reaksi oksidasi dan reduksi.
b. Untuk mengetahui konsentrasi larutan sampel secara oksidimetri.

IV. REAKSI PERCOBAAN :


K2Cr2O7 + 6 KI + 14 HCl  3 I2 + 2 CrCl3 + 8 KCl + 7 H2O
I2 + 2 Na2S2O3  2 NaI + Na2S4O6

V. LANDASAN TEORI :

Iodin adalah sebuah agen pengoksidasi yang jauh lebih lemah dari pada kalium
permanganat, senyawa serium(IV), dan kalium dikromat. Di lain pihak ion iodida
adalah agen pereduksi yang termasuk kuat, lebih kuat, sebagai contoh, ion Fe(II). Dalam
proses-proses analitis, iodine dipergunakan sebagai sebuah agen pereduksi (iodometri).
Namun demikian, banyak agen pereduksi yang cukup kuat untuk bereaksi dengan ion
iodida, dan aplikasi dari proses iodometrik cukup banyak.

Prinsip dari iodi/iodometri adalah reaksi reduksi oksidasi. Reaksi-reaksi yang


terjadi meliputi perubahan bilangan oksidasi atau perpindahan elektron-elektron dari
zat-zat yang bereaksi. Iodimetri adalah penyelidikan untuk mengetahui kadar suatu zat
dengan menggunakan larutan standar iodium, sedangkan iodometri adalah titrasi
terhadap iodium yang dibebaskan dari suatu reaksi kimia.

Beberapa kimiawan lebih suka menghindari istilah iodi/iodometri,dan sebagai


gantinya mengatakan proses-proses iodometrik langsung dan tak langsung. Sebab pada
iodimetri iodium yang ada merupakan reagen yang diberikan dalam reaksi tersebut,
sedangkan pada iodometri iodium yang terbentuk merupakan hasil reaksi.

Iodimetri dan iodometri termasuk titrasi reduksi oksidasi dimana dalam reaksi
redoks ini terjadi tranfer elektron dari pasangan pereduksi ke pasangan pengoksidasi.

Iodium merupakan oksidator yang relatif lemah. I2 dapat bereaksi secara kuantitaif
dengan reduktor kuat dan reduktor lemah. Dalam keadaan demikian oksidasi potensial
dari reduktor tersebut menjadi minimal sedangkan kekuatan mereduksinya menjadi
maksimal. Dalam suasana basa, iodium dapat bereaksi dengan ion hidroksil membentuk
hipoiodit dan iodida. Hiopidit ini sangat tidak stabil dan dengan segera dapat berubah
menjadi iodidat.

A. IODIMETRIK LANGSUNG (IODIMETRI)

1
Subtansi-subtasi penting yang cukup kuat sebagai unsur-unsur reduksi untuk
dititrasi langsung dengan iodin adalah tiosulfat, arsenik(III), antimony(III), sulfida,
sulfit, timah(II), dan ferosianida.

Pembuatan larutan iodin

Iodine hanya larut dalam sedikt air (0,00134 mol/liter pada 25ºC) namun larut
dalam cukup banyak larutan-larutan yang mengandung ion iodida. Suatu kelebihan
kalium iodida ditambahkan untuk meningkatkan kelarutan dan untuk menurunkan
keatsirian iodin.

Standardisasi

Larutan-larutan iodin standard dapat dibuat melalui penimbangan langsung iodin


murni dan pengenceran dalam sebuah labu volumetrik. Standardisasi terhadap sebuah
standar primer, As2O3 paling sering dipergunakan. Jika konsentarasi ion hidrogen
diturunkan, reaksi dipaksa bergeser ke kanan dan dapat dibuat cukup lengkap sehingga
bisa digunakan untuk titrasi. Biasanya larutan dianggap pada pH sedikit divatas 8,
menggunakan natriun bikarbonat, dan titrasi akan memberikan hasil-hasil yang
sempurna.

Indikator Kanji

Iodin dapat bertindak sebagai indikator bagi dirinya sendiri. Iodin juga
memberikan warna ungu atau violet yang intes untuk zat-zat pelarut seperti
karbontetraklorida dan klorofrom, dan terkadang kondisi ini dipergunakan dalam
mendeteksi titik akhir dari titrasi. Warna biru gelap dari kompleks iodin-kanji bertindak
sebagai tes yang amat sensitif untuk iodin. Larutan-larutan kanji dengan mudah
didekomposisinya oleh bakteri dan biasanya sebuah subtansi, seperti asam borat
dutambahkan sebagai bahan pengawet.

Beberapa penentuaan yang dapat dilakukan melalui titrasi langsung dengan


sebuah larutan iodin standar. Dalam penentuan timah dan sulfit, larutan yang sedang
dititrasi harus dilindungi dari oksidasi oleh udara. Titrasi hidrogen sulfida sering kali
dipergunakan untuk menentukan belerang didalam besi atau baja.

B. IODOMETRIK TAK LANGSUNG (IODOMETRI)

Banyak agen pengoksidasi yang membutuhkan suatu larutan asam untuk bereaksi
dengan iodin, natrium thiosulfat biasanya dipergunakan sebagai titrannya. Titrasi
dengan arsenik(III) membutuhkan sebuah larutan yang sedikit alkalin.

2
Natrium Thiosulfat

Natrium thiosulfat umumnya dibeli sebagai penhidrat, Na2S2O3. 5H2O, dan


larutan-larutan tersebut tidak stabil pada jangka waktu yang lama, sehingga boraks atau
natrium karbonat seringkali ditambah sebagai bahan pengawet.

Iodin mengoksidasi tiosulfat menjadi ion tetrationat :

I2 + 2S2O32- 2I- + S4O62-

Jika pH dari larutan diatas 9, tiosulfat teroksidasi secara parsial menjadi sulfat:

4I2 + S2O32- + 5H2O 8I- + 2SO42- + 10H+

Standardisasi larutan-larutan tiosulfat

Iodin murni adalah standar yang paling jelas namun jarang dipergunakan karena
kesulitannya dalam penanganan dan penimbangan yang lebih sering dipergunakan
adalah stanadar yang terbuat dari suatu agen pengoksidasi kuat yang akan membaskan
ion iodin dari iodida, sebuah iodometrik.

Kalium Dikromat

Senyawa ini bisa didapat dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Senyawa ini
mempunyai berat ekivalen yang cukup tinggi, tidak higroskopik, dan padat serta
larutanya amat stabil. Berat ekivalen dari kalium dikromat adalah seperenam dari berat
molekulnya. Untuk memperoleh hasil terbaik, seposi kecil natrium bikarbonat atau es
kering ditambahkan kelabu titrasi.

Kalium iodidat dan Kalium Bromat

Kedua garam ini mengoksidasi iodida secara kuantitaif menjadi iodin dalam
larutan asam. Reaksi iodatnya berjalan cukup cepat, reaksi ini juga hanya membutuhkan
sedikit ion hidrogen untuk menyelesaikan reaksi. Reaksi bromat berjalan lebih lamabat,
namun kecepatanya dapat ditingkatkan dengan menaikan konsentrasi ion hidrogen.
Biasanya sebuah amonium molibdat ditambah sebagai katalis.

Kerugian utama dari kedua garam ini sebagai standar primer adalah bahwa berat
ekivalen mereka kecil. Berat equivalen adalah seperenam dari berat molekular, dimana
berat ekivalen KIO3 adalah 35,67 dan KBrO3 adalah 27,84. Garam kalium asam iodidat,
KIO3. HIO3, dapat juga dipergunakan sebagai standar primer namun berat ekivalenya
juga kecil, seperduabelas dari berat molekulnya atau 32,49.

Tembaga

Tembaga murni dapat dipergunakan sebgai standar primer untuk natrium tiosulfat
dan disarankan untuk dipakai ketika tiosulfatnya akan dipergunakan untuk menentukan
tembaga. Telah ditemukan bahwa iodin ditahan oleh adsorpsi pada permukaan dari
endapan tembaga(I) iodida dan harus dipindahkan untuk mendapatkan hasil-hasil yang

3
benar. Kalium tiosianat biasanya ditambahkan sesaat sebelum titik akhir titrasi tercapai
untuk menyingkirkan iodin yang diadsorbsi.

Penentuan-penentuan Iodometrik

Penentuan iodometrik tembaga banyak dipergunakan baik untuk bijih maupun


paduannya. Metode ini memberika hasil-hasil yang sempurna dan lebih cepat daripada
penentuan elektrolotik tembaga.

C. MENENTUKAN TITIK AKHIR TITRASI

Larutan iodium dalam air yang mengandung iodida berwarna kuning sampai
coklat tergantung kadarnya. Iodium dapat berlaku sebagai indikator sendiri tapi
penglihatan kurang dapat menangkap perubahan warnanya, maka digunakan indikator
amilum. Dalam lingkungan asam kuat amilum tidak dapat digunakan sebagai indikator
karena amilum akan terhidrolisa. Kepekaan warna indikator akan menurun apabila :

a. Suhu dinaikkan.
b. Larutan mengandung alkohol, pada konsentrasi alkohol >50% menjadi tidak
berwarna.

Keuntungan menggunakan indikator amilum :

1. Harganya murah.

2. Mudah didapat.

3. Perubahan warna pada titik akhirtitrasi jelas.

Kerugian menggunakan indikator amlilum :

1. Sukar larut dalam air dingin.

2. Tidak stabil mudah terhidolisa menjadi dekstrin.

3. Dalam suasana asam kuat akan terhidrolisa.

4. Larutan amilum dengan iodium menjadi kompleks yang sukar larut maka
pemberian amilum mendekati titik akhir titrasi.

5. Jika larutanya sangat encera akan terjadi pergeseran titik akhir titrasi. Mengatasi
keburukan-keburukan tersebut, maka menggunakan tepung

Natrium glikolat (sebagai pengganti amilum) yang sifatnya lebih baik dari pada amilum:

1. Tidak higroskopis

2. Mudah larut dalam air

3. Lebih stabil

4
4. Dengan iodium tidak membentuk kompleks yang sukar larut, sehingga
penambahanya tidak perlu mendekat titik akhir titrasi

5. Pada larutan yang encer, tidak terjadi pergeseran titik akhir titrasi

Na-glikolat dengan larutan iodium pekat berwarna hijau dan bila kadar iodium
turun berubah menjadi biru.

Zat-zat organik seperti CCl4, CHCl3, dan CS2 (tidak dapat bercampur dengan air)
pada saat mendekati titik akhir titrasi kadar larutan + CCl 4/CS2/CHCl3 yang akan turun
ke dasar labu titrasi dengan warna merah violet karena I2 terlarut didalamnya. Kemudian
titrasi dilanjutkan sambil dikocok keras samapai warna merah hilang.

LARUTAN STANDAR

1. LARUTAN STANDAR PRIMER

Iodium sukar larut dalam air, untuk mempertinggi larutannya maka iodium
dilarutkan dalam larutan KI sehingga terbentuk tri ioda. Dimana I 2 diikat oleh KI
sehingga menpunyai tekanan uap yang lebih rendah dari pada air murni dan hasrat
penguapannya berkurang. Makin besar kadar KI, makin besar kelarutan I 2 didalamnya.
Pada penggunaan larutan Iodium sebagai titran ada kesealahan yang perlu diperhatikan,
yaitu:

a. Hilangnya Iodium karena mudah menguap pada suhu kamar

b. Penurunan kadar larutan selama penyimpanan disebabkan oleh reaksi Iodium


dengan air

c. Reaksi ini dikatalisir oleh cahaya, tambah pula iodida yang ada dalam larutan dapat
dioksidasi oleh oksigen dari udara menjadi iodium

2. LARUTAN SEKUNDER

Larutan standar tiosulfat Na2S2O3.5H2O mempunyai kemurnian yang tinggi tetapi


kadar airnya tidak tetap. Karena itu dapat digunakan sebagai larutan primer . larutan
standar tiosulfat disebabkan oleh :

a. Adanya CO2 dalam air yang digunakan untuk membuat larutan satandar dan juga
karbon dioksida dari udara sehingga terjadi pengendapan dari sulfur. Kekeruhan
terjadi akibat endapan dari belerang, tetapi reaksi ini lebih lambat dari pada reaksi
S2O3= denga iodium, sehingga titrasi masih dapat dilakukan dalam suasana asam.

b. Larutan tiosulfat mudah diuraikan oleh bakteri, , misalnya thibacilus, thioparus

Maka untuk menjaga kesetabilan larutan thiosulfat (supaya tahan lama), dilakukan
tidakan-tindakan sebagai berikut :

a. Larutan dibuat dengan aquadest yang venas carbón dioksida

5
b. Ditambah pengawet 3 tetes CHCl3 atau 10 mg HgI2/liter larutan

c. Lindungi larutan dari cahaya.

NATRIUM TIOSULFAT
Natrium tiosulfat (Na2S2O3) adalah suatu senyawa kimia dan obat-obatan. Sebagai obat
ia digunakan untuk mengobati keracunan sianida dan panau.

Senyawa ini merupakan senyawa anorganik yang biasanya tersedia sebagai pentahidrat,
Na2S2O3·5H2O. Padatannya adalah zat kristal yang efloresen (kehilangan air dengan
mudah) yang larut dengan baik dalam air. Ia juga disebut natrium hiposulfit atau "hipo".

Senyawa ini termasuk dalam Daftar Obat Esensial WHO, sebagai obat yang paling
efektif dan aman diperlukan dalam sistem kesehatan.

Struktur

Dua polimorfisme diketahui merupakan pentahidrat. Garam anhidrat hadir dalam


beberapa polimorf. Dalam keadaan padat, anion tiosulfat berbentuk tetrahedral dan
sesungguhnya berasal dengan mengganti salah satu atom oksigen dengan atom sulfur
dalam anion sulfat. Jarak ikatan S-S menunjukkan ikatan tunggal, menyiratkan bahwa
sulfur terminal memikul muatan negatif yang signifikan dan interaksi S-O memiliki
lebih banyak karakter ikatan rangkap dua.

Produksi

Pada skala industri, natrium tiosulfat dihasilkan terutama dari produk limbah cair dari
natrium sulfida atau pembuatan zat warna belerang.

Di laboratorium, garam ini dapat dibuat dengan memanaskan larutan natrium sulfit
dengan sulfur atau dengan mendidihkan natrium hidroksida berair dan sulfur menurut
persamaan ini

6 NaOH + 4 S → 2 Na2S + Na2S2O3 + 3 H2O

Reaksi

Bila dipanaskan hingga 300 °C, senyawa ini terurai menjadi natrium sulfat dan natrium
polisulfida:

4 Na2S2O3 → 3 Na2SO4 + Na2S5

Garam tiosulfat secara karakteristik terurai setelah perlakuan dengan asam. Protonasi
awal terjadi pada sulfur. Ketika protonasi yang dilakukan dalam dietil eter pada −78 °C,
H2S2O3 (asam tiosulfurat) dapat diperoleh. Hal ini adalah asam agak kuat dengan pK a
0.6 dan 1.7 untuk disosiasi pertama dan kedua, masing-masing.

6
Dalam kondisi normal, pengasaman larutan dari garam berlebih ini bahkan dengan
mengencerkan asam mengakibatkan dekomposisi sempurna menghasilkan sulfur, sulfur
dioksida, dan air:

Na2S2O3 + 2 HCl → 2 NaCl + S + SO2 + H2O

Reaksi ini dikenal sebagai "reaksi jam", karena ketika sulfur mencapai konsentrasi
tertentu, larutan tersebut berubah dari tak berwarna menjadi kuning pucat. Reaksi ini
telah digunakan untuk menghasilkan sulfur koloid. Proses ini digunakan untuk
menunjukkan konsep laju reaksi dalam kelas kimia.

Kimia organik

Alkilasi natrium tiosulfat memberikan S-alkiltiosulfonat, yang disebut garam Bunte.


Reaksi ini digunakan dalam salah satu sintesis pereaksi industri asam tioglikolat:

ClCH2CO2H + Na2S2O3 → Na[O3S2CH2CO2H] + NaCl

Na[O3S2CH2CO2H] + H2O → HSCH2CO2H + NaHSO4

Penggunaan

Kesehatan

Mekanisme reaksi konversi sianida menjadi tiosianat, dikatalisasi enzim rodanase, turut
melibatkan tiosulfat.

 Senyawa ini digunakan sebagai antidot bagi keracunan sianida. Tiosulfat berfungsi
sebagai donor sulfur untuk konversi sianida menjadi tiosianat (yang kemudian dapat
dengan aman diekskresikan dalam urin), dikatalisasi oleh enzim rodanase. Untuk
tujuan ini digunakan bersama-sama dengan natrium nitrit.

 Senyawa ini digunakan dalam pengobatan kalsifilaksis dalam pasien hemodialisis


penyakit ginjal stadium akhir. Tampaknya ada fenomena yang tidak sepenuhnya
dipahami dimana hal ini menyebabkan asidosis metabolik hebat pada beberapa pasien.

7
 Dalam mandi kaki untuk profilaksis kurap, dan sebagai agen antijamur topikal untuk
panau.

 Dalam mengukur volume cairan tubuh ekstraseluler dan laju filtrasi glomerular ginjal.

Iodometri

Dalam kimia analitik, penggunaan yang paling penting hadir karena anion tiosulfat
bereaksi secara stoikiometri dengan iodin dalam larutan berair, mereduksinya menjadi
iodida sebagaimana teroksidasi menjadi tetrationat:

2 S2O32− + I2 → S4O62− + 2 I−

Karena sifat kuantitatif reaksi ini, serta karena Na2S2O3·5H2O memiliki umur simpan
yang sangat baik, ia digunakan sebagai titran dalam iodometri. Na2S2O3·5H2O juga
merupakan komponen dari percobaan jam iodin.

Penggunaan khusus ini dapat diatur untuk mengukur kandungan oksigen dari air melalui
rangkaian panjang reaksi di dalam uji Winkler untuk oksigen terlarut. Hal ini juga
digunakan dalam memperkirakan secara volumetrik konsentrasi senyawa tertentu dalam
larutan (hidrogen peroksida, misalnya) dan dalam memperkirakan kandungan klorin
dalam bubuk pemutih komersial dan air.

Pemrosesan fotografi

Perak halida, seperti AgBr, komponen khas pada emulsi fotografi, larut pada perlakuan
dengan tiosulfat berair:

2 S2O32− + AgBr → [Ag(S2O3)2]3− + Br−

Aplikasi ini sebagai pemecah masalah fotografi ditemukan oleh John Herschel. Hal ini
digunakan baik bagi pemrosesan film dan kertas foto; natrium tiosulfat dikenal sebagai
pemecah masalah fotografi, dan sering disebut sebagai 'hipo', dari nama kimia aslinya,
hiposulfit dari soda.

Ekstraksi emas

Struktur Natrium aurotiosulfat, kompleks yang terbentuk dari ion emas(I) dan tiosulfat.

Natrium tiosulfat adalah komponen dari alternatif lixiviant bagi sianida untuk ekstraksi
emas. Namun, ia secara kuat membentuk kompleks mudah larut dengan ion emas(I),
8
[Au(S2O3)2]3−. Keuntungan dari pendekatan ini adalah bahwa tiosulfat pada dasarnya
tidak beracun dan jenis bijih yang sukar diperbaiki dengan sianidasi emas (misalnya
berkarbon atau bijih jenis-Carlin) dapat tercuci dengan tiosulfat. Beberapa masalah
dengan proses alternatif ini termasuk tingginya konsumsi tiosulfat, dan kurangnya
teknik pemulihan yang cocok, karena [Au(S2O3)2]3− tidak menyerap pada karbon aktif,
yang merupakan teknik standar yang digunakan dalam sianidasi emas untuk
memisahkan kompleks emas dari bubur bijih.

Menetralkan air yang mengandung klor

Senyawa ini digunakan untuk mendeklorinasi air keran termasuk menurunkan kadar
klorin untuk digunakan dalam akuarium serta kolam renang dan spa (misalnya, diikuti
superklorinasi) dan dalam pengolahan air tanaman untuk menangani air backwash yang
diselesaikan sebelum melepaskannya ke sungai. Reaksi reduksi adalah analog dengan
reaksi reduksi iodin.

Dalam pH pengujian zat pemutih, natrium tiosulfat menetralkan efek penghilangan


warna pada pemutih dan memungkinkan seseorang untuk menguji pH larutan pemutih
dengan indikator cair. Reaksi yang relevan mirip dengan reaksi iodin: tiosulfat
mereduksi hipoklorit (bahan aktif dalam pemutih) serta dengan demikian menjadi
teroksidasi menjadi sulfat. Reaksi yang lengkap adalah:

4 NaClO + Na2S2O3 + 2 NaOH → 4 NaCl + 2 Na2SO4 + H2O

Demikian pula, natrium tiosulfat bereaksi dengan bromin, mengeluarkan bromin bebas
dari larutan. Larutan natrium tiosulfat biasanya digunakan sebagai pencegahan dalam
laboratorium kimia ketika bekerja dengan bromin serta untuk pembuangan yang aman
brom, iodin, atau oksidator kuat lainnya.

VI. ALAT DAN BAHAN :

A. ALAT B. BAHAN
1. Neraca atau timbangan 1. Padatan K2Cr2O7
2. Erlenmeyer asah atau bertutup 2. Larutan Na2S2O3
3. Buret 3. KI 10%
4. Labu semprot 4. Larutan HCl 4 N
5. Bulb 5. Larutan kanji (amylum)
6. Statif + klem
7. Labu ukur
8. Pipet ukur
9. Corong
10. Plastik wrap
11. Kertas karbon

9
VII. PROSEDUR KERJA
Penetapan Konsentrasi Na2S2O3 dengan Bahan Baku Primer K2Cr2O7
1. Buat 100 mL larutan baku primer K2Cr2O7 0,1 N.
2. Pipet 10 mL larutan tersebut ke dalam erlenmeyer.
3. Tambahkan 10 mL larutan HCl 4 N dan 10 mL larutan KI 10%.
4. Diamkan larutan selama 10-15 menit dalam keadaan gelap.
5. Larutan dititar dengan Na2S2O3 di dalam buret dari warna kuning cokelat tua
menjadi hijau lumut.
6. Tambahkan larutan kanji sebanyak 3-5 tetes.
7. Titrasi dilanjutkan sampai titik akhir (hijau terang atau hijau toska).
8. Lakukan sebanyak 3×.

VIII. DATA PENGAMATAN


Standardisasi Na2S2O3 dengan Baku Primer K2Cr2O7
Volume K2Cr2O7 = 10 mL
Normalitas K2Cr2O7 = 0,1 N

Pengerjaan Volume Na2S2O3 (mL) Normalitas Na2S2O3 (N)


Simplo 10,50 0,0952
Duplo 10,55 0,0948
Triplo 10,55 0,0948
Rata-Rata 10,53 0,0949

IX. PERHITUNGAN
Menentukan berat K2Cr2O7 :
g
G = L × N × BE = 0,25 L × 0,1 eq × 49 eq = 1,225 gram K2Cr2O7
L
Menentukan konsentrasi Na2S2O3 :
V Na2S2O3 . N Na2S2O3 = V K2Cr2O7 . N K2Cr2O7
1. V Na2S2O3 . N Na2S2O3 = V K2Cr2O7 . N K2Cr2O7
10,50 mL . N Na2S2O3 = 10 mL . 0,1 N
10 mL . 0,1 N
N Na 2 S 2 O 3 
10,50 mL
N Na2S2O3 = 0,0952 N

2. V Na2S2O3 . N Na2S2O3 = V K2Cr2O7 . N K2Cr2O7


10,55 mL . N Na2S2O3 = 10 mL . 0,1 N
10 mL . 0,1 N
N Na 2 S 2 O 3 
10,55 mL
N Na2S2O3 = 0,0948 N

3. V Na2S2O3 . N Na2S2O3 = V K2Cr2O7 . N K2Cr2O7


10,55 mL . N Na2S2O3 = 10 mL . 0,1 N
10 mL . 0,1 N
N Na 2 S 2 O 3 
10,55 mL
N Na2S2O3 = 0,0948 N

(10,50  10,55  10,55) mL


 Volume Na 2S 2 O 3   10,53 mL
3
10
(0,0952  0,0948  0,0948) N
 N Na 2S 2 O 3   0,0949 N
3
X. PEMBAHASAN

Pada percobaan iodometri digunakan larutan K2Cr2O7 0,1 N sebagai larutan baku
primer dan larutan sekundernya yaitu Na2S2O3. Pada langkah awal siapkan larutan
K2Cr2O7 0,1 N sebanyak 250 ml lalu dipipet menggunakan pipet ukur sebanyak 10 ml
dan masukkan ke dalam labu erlenmeyer. Tambahkan larutan HCl 4 N sebanyak 10 ml
lalu larutan KI 10% sebanyak 10 ml. Terjadi perubahan warna menjadi coklat, segera
tutup labu erlenmeyer dengan plastik wrap untuk menghindari iod bebas bereaksi
dengan oksigen di udara. Kemudian titrasi dengan Na 2S2O3 sampai terjadi perubahan
warna dari coklat menjadi hijau. Tambahkan indikator amilum/kanji sebanyak 3-5 tetes
lalu dilanjutkan dengan titrasi kembali sampai titik akhir atau terjadi perubahan warna
menjadi hijau toska. Catat perubahan volume Na2S2O3 dari titrasi pertama sampai titrasi
kedua. Setelah itu ulangi percobaan 3 kali.

Pada percobaan yang pertama ternyata volume Na2S2O3 yang dihabiskan adalah
10,50 mL dan pada percobaan kedua dan ketiga dihabiskan 10,55 mL. Jadi, jumlah rata-
rata volume Na2S2O3 yang dihabiskan adalah 10,53 mL. Telah diketahui volume rata-
rata Na2S2O3 10,53 mL, volume K2Cr2O7 0.1 N sebanyak 10 mL. Kemudian masukkan
ke dalam rumus : V1N1 = V2N2 dari hasil perhitungan tersebut didapatkan hasil
normalitas Na2S2O3 yaitu 0.0949 N.

XI. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang dilakukan, maka didapatkan konsentrasi Na2S2O3 ialah
0,0949 N.

XII. TUGAS
1. Apakah titrasi iodometri harus menggunakan erlenmeyer asah atau tertutup?
Jelaskan!
 Iya, karena reaksi percobaan ini menghasilkan hasil iod bebas apabila tidak
ditutup atau tidak menggunakan Erlenmeyer asah maka iod bebas ini akan
bereaksi dengan oksigen di udara. Jika oksigen masuk maka ia akan bereaksi
dengan I- pada larutan makan akan menyebabkan terbentuknya I 2. Jadi,
penggunaan Erlenmeyer asah atau tutup berguna untuk mengurangi jumlah
oksigen yang masuk ke dalam sampel.

2. Mengapa indikator kanji tidak ditambahkan sebelum titrasi? Jelaskan!


 Penambahan kanji yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan
agar kanji tidak membungkus iod karena akan menyebabkan kanji sukar dititrasi
untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera
mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah menguap.

3. Apa fungsi penambahan HCl pada titrasi iodometri?

11
 Fungsi dari penambahan HCl yaitu hanya sebagai katalis atau mempercepat suatu
reaksi.

4. Bisakah titrasi iodometri tidak menggunakan indikator kanji? Jelaskan!

 Bisa, dengan menggunakan tepung Natrium glikolat (sebagai pengganti amilum)


yang sifatnya lebih baik dari pada amilum :

a. Tidak higroskopis

b. Mudah larut dalam air

c. Lebih stabil

d. Dengan iodium tidak membentuk kompleks yang sukar larut, sehingga


penambahanya tidak perlu mendekat titik akhir titrasi

e. Pada larutan yang encer, tidak terjadi pergeseran titik akhir titrasi.

XIII. DAFTAR PUSTAKA


- https://id.wikipedia.org/wiki/Natrium_tiosulfat
- https://www.slideshare.net/ridhafaturachmi/titrasi-iodometri

12