Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

KEGIATAN 9

I. Topik
Pemeriksaan Protein Dan Glukosa Urine

II. Tujuan
1. Melakukan pemeriksaan adanya kandungan protein dan glukosa dalam urin
2. Megetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya proteinuria dan
glukosuria
III. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Gelas Beker c. Lampu Spirtus
b. Tabung Reaksi d. Rak Tabung Reaksi
2. Bahan
a. Fehling A Dan B c. Urine
b. Asam Sulfusalisilat d. Reagen Robert
IV. Cara Kerja
1. Uji Glukosa

Mengambil 2ml Urine Dari Gelas Beker Dengan Pipet, Lalu Dimasukkan Dalam
Tabung Reaksi

Menambahkan Dengan 2ml Fehling A Dan 2ml Fehling B

Membakar Pada Lampu Spirtus Hingga Mendidih

Mengamati Apabila Ada Endapat Berwarna Putih Berarti Positif Mengandung


Glukosa
2. Uji Protein

Mengambil urine 2 ml di Pipet dan memasukkan ke dalam Tabung Reaksi

Menambahkan Asam Sulfusalisilat 5 Tetes, Mengocok secara perlahan

Apabila Ada Kekeruhan Putih Berarti Positif Mengandung Protein

Mengambil Urine 2 ml dimasukkan Tabung Reaksi,

menambahkan Reagen Robert 5 Tetes

- Di Kocok Perlahan

Mengocok dan mengamati apakah terdapat cincin putih pada batas urin dan reagen
Robert

V. Hasil
Tabel Uji Protein dan Glukosa dalam Urin

No Nama Uji Glukosa Uji Protein

1. Afrian Yoga Anjasfara - -

2. Adinda Yuslia R. - -

3. Fitri Andriyaningsih - -
VI. Pembahasan
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh
ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi.
Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang
disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh.Namun, ada juga
beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori.Urin
disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya
dibuang keluar tubuh melalui uretra. Proses pembentukan urine adalah sebagai berikut.
1. Filtrasi (Penyaringan)
Proses filtrasi terjadi di kapsul Bowman dan glomerulus. Dinding luar kapsul
Bowman tersusun dari satu lapis sel epitel pipih. Antara dinding luar dan dinding dalam
terdapat ruang kapsul yang berhubungan dengan lumen tubulus kontortus
proksimal.Dinding dalam kapsul Bowman tersusun dari sel-sel khusus (prodosit).
Proses filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan hidrostatik (tekanan
darah) dan tekanan onkotik (tekanan osmotik plasma), dimulai ketika darah masuk ke
glomerulus, tekanan darah menjadi tinggi sehingga mendorong air dan komponen-
komponen yang tidak dapat larut melewati pori-pori endotelium kapiler, glomerulus,
kemudian menuju membran dasar, dan melewati lempeng filtrasi, lalu masuk ke dalam
ruang kapsul Bowman.
2. Reabsorpsi (Penyerapan)
Proses reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal, lengkung henle, dan
sebagian tubulus kontortus distal, reabsorpsi dilakukan oleh sel-sel epitel di seluruh
tubulus ginjal. Banyaknya zat yang direabsorpsi tergantung kebutuhan tubuh saat itu.
Zat-zat yang direabsorpsi adalah air, glukosa, asam amino, ion-ion Na+, K+, Ca2+, Cl-,
HCO3-, HbO42-, dan sebagian urea.Reabsorpsi terjadi secara transpor aktif dan
transpor pasif.Glukosa dan asam amino direabsorpsi secara transpor aktif di tubulus
proksimal. Reabsorpsi Na+, HCO3- dan H2O terjadi di tubulus kontortus distal.
Proses reabsorpsi dimulai ketika urin primer (bersifat hipotonis dibanding
plasma darah) masuk ke tubulus kontortus proksimal. Kemudian terjadi reabsorpsi
glukosa dan 67% ion Na+, selain itu juga terjadi reabsorpsi air dan ion Cl- secara
pasif.Bersamaan dengan itu, filtrat menuju lengkung henle.Filtrat ini telah berkurang
volumenya dan bersifat isotonis dibandingkan cairan pada jaringan di sekitar tubulus
kontortus proksimal.Pada lengkung henle terjadi sekresi aktif ion Cl- ke jaringan di
sekitarnya.Reabsorpsi dilanjutkan di tubulus kontortus distal.Pada tubulus ini terjadi
reabsopsi Na+ dan air di bawah kontrol ADH (hormon antidiuretik). Di samping
reabsorpsi, di tubulus ini juga terjadi sekresi H+, NH4+, urea, kreatinin, dan obat-
obatan yang ada pada urin. Hasil reabsorpsi ini berupa urin skunder yang memiliki
kandungan air, garam, urea dan pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau
pada urin.
3. Augmentasi (Pengumpulan)
Urin sekunder dari tubulus distal akan turun menuju tubulus pengumpul. Pada
tubulus pengumpul ini masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga
terbentuklah urin sesungguhnya.Dari tubulus pengumpul, urin dibawa ke pelvis renalis,
urin mengalir melalui ureter menuju vesika urinaria (kantong kemih) yang merupakan
tempat penimpanan sementara urin.
Berdasarkan asalnya, protein dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu protein
hewani (berasal dari hewan) dan protein nabati (berasal dari tumbuhan). Protein hewani
antara lain terdapat dalam ikan, susu dan daging. Protein nabati antara lain terdapat
dalam kedelai, kacang buncis, dan kacang-kacangan yang lain; dalam makanan sehari-
hari dapat ditemukan antara lain pada tahu dan tempe.
Fungsi protein antara lain sebagai sumber energi, sebagai bahan pembentuk
substansi penting (hormon, enzim, antibodi, dan kromosom); untuk pertahanan tubuh;
untuk pemeliharaan dan perbaikan sel, jaringan, dan organ; menjaga keseimbangan
cairan tubuh dan keseimbangan asam-basa.
Sedangkan yang dimaksud dengan glukosa menurut Wikipedia tahun 2016
adalah Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang
digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah
satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi.Bentuk alami (D-glukosa) disebut
juga dekstrosa, terutama pada industri pangan.
Glukosa merupakan sumber tenaga yang terdapat di mana-mana dalam biologi.
Kita dapat menduga alasan mengapa glukosa, dan bukan monosakarida lain seperti
fruktosa, begitu banyak digunakan. Glukosa dapat dibentuk dari formaldehida pada
keadaan abiotik, sehingga akan mudah tersedia bagi sistem biokimia primitif.
Hal yang lebih penting bagi organisme tingkat atas adalah kecenderungan
glukosa, dibandingkan dengan gula heksosa lainnya, yang tidak mudah bereaksi secara
nonspesifik dengan gugus amino suatu protein.Reaksi ini (glikosilasi) mereduksi atau
bahkan merusak fungsi berbagai enzim.Rendahnya laju glikosilasi ini dikarenakan
glukosa yang kebanyakan berada dalam isomer siklik yang kurang reaktif.Meski begitu,
komplikasi akut seperti diabetes, kebutaan, gagal ginjal, dan kerusakan saraf periferal
(‘’peripheral neuropathy’’), kemungkinan disebabkan oleh glikosilasi protein.
Berdasarkan praktikum yang telah di lakukan, ketiga mahasiswa terbukti negatif
terhadap uji protein maupun glukosa. Urine yang mengandung protein ditandai dengan
jika urine di campur dengan larutan biuret akan menghasilkan perubahan warna menjadi
ungu.Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan proteinuria adalah : penyakit ginjal
(glomerulonefritis, nefropati karena diabetes, pielonefritis, nefrosis lipoid), demam,
hipertensi, multiple myeloma, keracunan kehamilan (pre-eklampsia, eklampsia), infeksi
saluran kemih (urinary tract infection).Adanya endapan saat melakukan tes urine
menguji kandungan glukosa, setelah di panaskan, itu bertanda adanya zat-zat yang tidak
terserap, tetapi seharusnya zat itu di serap oleh tubuh.Misalnya zat kreatin, dan lain-lain.
Sedangkan urine yang mengandung glukosa adalah urine yang jika di campur
dengan larutan benedict akan meng-hasilkan warna merah bata (setelah di panaskan).
Jika urine menghasilkan warna biru yang tetap tetapi agak lebih tua, maka kandungan
glukosa kurang dari 1% yaitu glukosa-nya hanya 0,3%. Bila urine terlalu banyak
mengandung glukosa maka akan terkena diabetes.
Terkadang orang menyebutnya gula anggur ataupun dekstrosa.Banyak dijumpai
di alam, terutama pada buah-buahan, sayur-sayuran, madu, sirup jagung dan tetes
tebu.Di dalam tubuh glukosa didapat dari hasil akhir pencemaan amilum, sukrosa,
maltosa dan laktosa.Glukosa darah merupakan bahan bakar utama yang akan diubah
menjadi energi atau tenaga dan juga merupakan hasil yang paling besar. Sebagai sumber
energi, glukosa ditranspor dari sirkulasi darah kedalam seluruh sel-sel tubuh untuk
dimetabolisme.
Sebagian glukosa yang ada dalam sel diubah menjadi energi melalui proses
glikolisis dan sebagian lagi melalui proses glikogenesis diubah menjadi glikogen,
dimana setiap saat dapat diubah kembali menjadi glukosa bila diperlukan. Kadar
glukosa darah puasa normal sewaktu puasa adalah 80-90 mg/dL. Konsentrasi tersebut
meningkat menjadi 120-140 mg/dL selama jam pertama atau lebih setelah makan dan
normal dalam waktu 2 jam setelah absorpsi karbohidrat yang terakhir.
Jika kadar urine terlalu besar dalam darah maka akan dibuang melalui urine,
padahal kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam
urin (kurang dari 130 mg/24 jam).Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena
nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun.Glukosuria
umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan
dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu
dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes mellitus. Untuk pengukuran glukosa
urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase (GOD), peroksidase (POD) dan zat
warna.

VII. Kesimpulan
Urine yang mengandung protein ditandai dengan jika urine di campur dengan
larutan biuret akan menghasilkan perubahan warna menjadi ungu. Gangguan ini dapat
menyebabkan proteinuria adalah : penyakit ginjal (glomerulonefritis, nefropati karena
diabetes, pielonefritis, nefrosis lipoid), demam, hipertensi, multiple myeloma.
Sedangkan urine yang mengandung glukosa adalah urine yang jika di campur
dengan larutan benedict akan meng-hasilkan warna merah bata (setelah di panaskan).
Jika urine menghasilkan warna biru yang tetap tetapi agak lebih tua, maka kandungan
glukosa kurang dari 1% yaitu glukosa-nya hanya 0,3%. Bila urine terlalu banyak
mengandung glukosa maka akan terkena diabetes.

Daftar Pustaka

Bakta,I. 2006. Hematologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.


Dep.Kes RI.1989.Hematologi.Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Maryati, Sri.2007.Biologi:Jilid 2 untuk SMA Kelas XI.Jakarta:Erlangga


Lestari, Endang.2009.Biologi 2 : Makhluk Hidup dan Lingkungannya Untuk
SMA/MA Kelas XI Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidkan Nasional