Anda di halaman 1dari 7

Nama : DENI HIDAYAT

Nomor Induk Mahasiswa : 150710101405


Mata Kuliah : Hukum Acara Peradilan Agama
Kelas :A

PERBEDAAN PERADILAN AGAMA DI ACEH DAN DAERAH LAIN


1. Kewenangan Di Indonesia selain aceh
A. Kewenangan Relatif Peradilan Agama

Yang dimaksud dengan kekuasaan relatif (relative competentie) adalah pembagian


kewenangan atau kekuasaan mengadili antar Pengadilan Negeri. Atau dengan kata lain
Pengadilan Negeri mana yang berwenang memeriksa dan memutus perkara. Pengertian
lain dari kewenangan relatif adalah kekuasaan peradilan yang satu jenis dan satu
tingkatan, dalam perbedaannya dengan kekuasaan pengadilan yang sama jenis dan
tingkatan. Misalnya antara Pengadilan Negeri Bogor dan Pengadilan Negeri Subang,
Pengadilan Agama Muara Enim dengan Pengadilan Agama Baturaja.

Dari pengertian di atas maka pengertian kewenangan relatif adalah kekuasaan atau
wewenang yang diberikan kepada pengadilan dalam lingkungan peradilan yang sama
jenis dan tingkatan yang berhubungan dengan wilayah hukum Pengadilan dan wilayah
tempat tinggal/tempat kediaman atau domisili pihak yang berperkara.

B. Kewenangan Absolut Peradilan Agama

Kewenangan absolut (absolute competentie) adalah kekuasaan yang berhubungan dengan


jenis perkara dan sengketa kekuasaan pengadilan. Kekuasaan pengadilan di lingkungan
Peradilan Agama adalah memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara perdata
tertentu di kalangan golongan rakyat tertentu, yaitu orang-orang yang beragama Islam.
Kekuasaan absolut Pengadilan Agama diatur dalam pasal 49 Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang
Peradilan Agama yang pada pokoknya adalah sebagai berikut.
– perkawinan;
– waris;
– wasiat;
– hibah;
– wakaf;
– zakat;
– infaq;
– shadaqah; dan
– ekonomi syari’ah.

Pengadilan Agama berwenang untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-


perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:

1. Perkawinan

Dalam bidang perkawinan meliputi hal-hal yang diatur dalam atau berdasarkan undang-
undang mengenai perkawinan yang berlaku yang dilakukan menurut syari’ah, antara lain:
1. izin beristri lebih dari seorang;
2. izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum berusia 21 (dua puluh satu)
tahun dalam hal orang tua atau wali atau keluarga dalam garis lurus ada perbedaan
pendapat;
3. dispensasi kawin;
4. pencegahan perkawinan;
5. penolakan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah;
6. pembatalan perkawinan;
7. gugatan kelalaian atas kewajiban suami atau istri;
8. perceraian karena talak;
9. gugatan perceraian;
10. penyelesian harta bersama;
11. penguasaan anak-anak;
12. ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan bilamana bapak yang
seharusnya bertangung jawab tidak memenuhinya;
13. penentuan kewajiban memberi biaya peng-hidupan oleh suami kepada bekas istri atau
penentuan suatu kewajiban bagi bekas istri;
14. putusan tentang sah atau tidaknya seorang anak;
15. putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua;
16. pencabutan kekuasaan wali;
17. penunjukkan orang lain sebagai wali oleh pengadilan dalam hal kekuasaan seorang
wali dicabut;
18. menunjuk seorang wali dalam hal seorang anak yang belum cukup umur 18 (delapan
belas) tahun yang ditinggal kedua orang tuanya padahal tidak ada penunjukkan wali
oleh orang tuanya;
19. pembebanan kewajiban ganti kerugian terhadap wali yang telah menyebabkan
kerugian atas harta benda anak yang ada di bawah kekuasaannya;
20. penetapan asal usul seorang anak;
21. putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk melakukan perkawinan
campuran;
22. pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum Undang-Undang Nomor
1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan dijalankan menurut peraturan yang lain.
Dalam Kompilasi Hukum Islam juga ada pasal-pasal memberikan kewenangan
Peradilan Agama untuk memeriksa perkara perkawinan, yaitu:
23. Penetapan Wali Adlal;
24. Perselisihan penggantian mahar yang hilang sebelum diserahkan.

2. Waris

Yang dimaksud dengan “waris” adalah penentuan siapa yang menjadi ahli waris,
penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan
melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut, serta penetapan pengadilan atas
permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan
bagian masing-masing ahli waris.

3. Wasiat

Yang dimaksud dengan “wasiat” adalah perbuatan seseorang memberikan suatu benda
atau manfaat kepada orang lain atau lembaga/badan hukum, yang berlaku setelah yang
memberi tersebut meninggal dunia.
4. Hibah
Yang dimaksud dengan “hibah” adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa
imbalan dari seseorang atau badan hukum kepada orang lain atau badan hukum untuk
dimiliki.

5. Wakaf

Yang dimaksud dengan “wakaf’ adalah perbuatan seseorang atau sekelompok orang
(wakif) untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk
dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya
guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syari’ah.

6. Zakat

Yang dimaksud dengan “zakat” adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim
atau badan hukum yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan syari’ah
untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.

7. Infaq

Yang dimaksud dengan “infaq” adalah perbuatan seseorang memberikan sesuatu kepada
orang lain guna menutupi kebutuhan, baik berupa makanan, minuman, mendermakan,
memberikan rezeki (karunia), atau menafkahkan sesuatu kepada orang lain berdasarkan
rasa ikhlas, dan karena Allah Subhanahu Wata’ala.

8. Shodaqoh

Yang dimaksud dengan “shadaqah” adalah perbuatan seseorang memberikan sesuatu


kepada orang lain atau lembaga/badan hukum secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi
oleh waktu dan jumlah tertentu dengan mengharap ridho Allah Subhanahu Wata’ala dan
pahala semata.
9. Ekonomi Syari’ah

Yang dimaksud dengan “ekonomi syari’ah” adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang
dilaksanakan menurut prinsip syari’ah, antara lain meliputi:
– bank syari’ah;
– lembaga keuangan mikro syari’ah.
– asuransi syari’ah;
– reksa dana syari’ah;
– obligasi syari’ah dan surat berharga berjangka menengah syari’ah;
– sekuritas syari’ah;
– pembiayaan syari’ah;
– pegadaian syari’ah;
– dana pensiun lembaga keuangan syari’ah; dan
– bisnis syari’ah.

Dalam perkara ekonomi syari’ah belum ada pedoman bagi hakim dalam menyelesaikan
sengketa ekonomi syari’ah. Untuk memperlancar proses pemeriksaan dan penyelesaian
sengketa ekonomi syari’ah, dikeluarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun
2008 tentang Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia tentang Kompilasi Hukum
Ekonomi Syari’ah.

Pasal 1 PERMA tersebut menyatakan bahwa:


1) Hakim pengadilan dalam lingkungan peradilan agama yang memeriksa, mengadili dan
menyelesaikan perkara yang berkaitan dengan ekonomi syari’ah, mempergunakan sebagai
pedoman prinsip syari’ah dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah.

2) Mempergunakan sebagai pedoman prinsip syari’ah dalam Kompilasi Hukum Ekonomi


Syari’ah sebagaimana dimaksud ayat (1), tidak mengurangi tanggung jawab hakim untuk
menggali dan menemukan hukum untuk menjamin putusan yang adil dan benar.
2. Peradilan Agama di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Bahwa dengan adanya Amandemen Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Undang-


Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi Daerah Istimewa
Aceh sebagai Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2004 tentang Kekuasaan Kehakiman yang kemudian diganti dengan Undang-Undang
Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2006 tentang Perubahan atas undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan
Agama dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh diatur
tentang adanya pengadilan khusus di lingkungan Peradilan Agama yang berlaku di
Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang mempunyai kewenangan yang lebih luas.

Sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Qanun Nomor 10 Tahun 2002 tentang Peradilan
Syari’at Islam, kewenangan Peradilan Agama di Aceh meliputi:
– ahwal syahsiyah (hukum keluarga);
– muamalah (hukum perdata);
– jinayah (hukum Pidana);
yang didasarkan atas syari’at Islam dan akan diatur dalam Qanun Aceh.

Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 49 tersebut menyebutkan bahwa:

a. Yang dimaksud dengan kewenangan dalam bidang al-ahwal al-syahsiyah meliputi hal-
hal yang diatur dalam pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan
Agama beserta penjelaan dari pasal tersebut, kecuali wakaf, hibah, dan sadaqah;

b. Yang dimaksud dengan kewenangan bidang muamalah meliputi kebendaan dan


perikatan seperti:
1. jual beli, hutang piutang;
2. qiradh (permodalan);
3. musaqah, muzara’ah, mukhabarah (bagi hasil pertanian);
4. wakilah (kuasa), syirkah (perkongsian);
5. ariyah (pinjam meminjam), hajru (penyitaan harta), syuf’ah (hak langgeh), rahnu
(gadai);
6. ihya’u al-mawat (pembukaan tanah), ma’adin (tambang), luqathah (barang
temuan);
7. perbankan, ijarah (sewa menyewa), takaful;
8. perburuhan;
9. harta rampasan;
10. waqaf, hibah, sadaqah, dan hadiah.

c. Yang dimaksud dengan kewenangan di bidang jinayah adalah sebagai berikut.

Hudud yang meliputi:


1. zina;
2. menuduh berzina (qadhaf);
3. mencuri;
4. merampok;
5. minuman keras dan napza;
6. murtad;
7. pemberontakan (bughat);

Qishash/diat yang meliputi:


1. pembunuhan;
2. penganiayaan;

Ta’zir yaitu hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang melakukan pelanggaran syari’at
selain hudud dan qishash/diat seperti:
1. judi;
2. khalwat;
3. meninggalkan shalat fardhu dan puasa Ramadhan.