Anda di halaman 1dari 3

Analisa Ekonomi Syari`ah Dalam Pengadilan Agama

Terhadap Putusan Nomor 1988/Pdt.G/2018/PA.Smg

Sebelum membahas mengenai putusan tersebut mari kita mengenal lebih dahulu kewenangan dari
pengadilan agama dalam ekonomi syari`ah . Peradilan Agama dalam sistem peradilan yang ada di
indonesia adalah bagian dari pelaksana kekuasaan kehakiman di indonesia untuk pihak-pihak yang
membutuhkan keadilan bagi penganut agama Islam. Yang biasanya menangani beberapa sengketa
dibidang perdata.Undang u ndang Nomor 07 Tahun 1989 dimana disitu termuat lengkap mengenai
susunan Organisasi, kewenangan dari para hakim, beberapa kekuasaan, hukum acara (formil)
beserta bidang bidang yang ada dalam administrasi lainnya didalam suatu lingkup Pengadilan
Agama juga Pengadilan Tinggi Agama.
Dalam sejarah perkembangannya , Peradilan Agama di Indonesia dimulai dan tumbuh dari
perkembangan zaman dan perkembangan dari agamaIslam yang ada di Indonesia. Dalam
perjalanannya perkembangan dari peradilan agama di negara indonesia sudah mengalami naik turun
suatu keadaan hukum.
Lalu diterbitkanlah peraturan yaitu pasal 49 huruf (i) Undang-Undang Nomor 03 Tahun 2006
Didalam peraturan tersebut pengadilan agama juga bertugas untuk memeriksa dan mengadili
perkara yang berada di bidang ekonomi syari`ah
Sebelum Undang - Undang Nomor 03 Tahun 2006, sengketa atau perselisihan ekonomi syari’ah
tidak dapat diselesaikan di Pengadilan Agama, karena dalam praktek dan teorinya kewenangan
absolut mengadili perkara sengketa di Pengadilan Agama terbatas pada persoalan Perkawinan,
Warisan, Perceraian, Hibah, Wasiat, Wakaf, Hibah, Infaq dan Sedekah.
Sedangkan perkaraa lain seperti Sengketa ekonomi syari’ah dapat diadili atau diselesaikan di
Pengadilan Negeri jika atau berada dalam suatu perjanjian tertulis maupun tidak tertulis yang dibuat
oleh para pihak yang telah sepakat untuk menyelesaikan konflik/sengketa pada pengadilan Negeri.1

Suatu upaya yang berbeda untuk menyelesaikan konflik di bidang Ekonomi Syari`ah juga
cenderung banyak dilakukan dengan cara yaitu arbitrase (tahkìm), menggunakan jasa dari Badan
Arbitrase Syari`ah Nasional (BASYARNAS) , ataupun perangkat organisasi MUI sebagaimana
DSN dan LP-POM. meskipun, menggunakan kesepakatan para pihak yang bersengketa/konflik
harus terlebih dulu yang terdapat dalam klausula akad atau perjanjian. Apabila sebelumnya tidak
membuat kesepakatan yang seharusnya dibuat oleh para pihak, maka selanjutnya masalah sengketa
itu tidak bisa selasai menggunkan cara ke BASYARNAS atau Badan Arbitrase Syari`ah Nasional

Kekuasaan pada suatu peradilan Agama mulai mencangkup di bidang ekonomi syari`ah sejak
Undang-Undang Nomor 03 tahun 2006 yang dimana undang – undang itu adalah perluasan dari
pada undang – undang sebelumnya yaitu Undang-undang Nomor 07 tahun 1989.
Peradilan Agamaa dalam suatu kekuasaan kehakiman yang memiliki tugas yaitu sebagai
penyelenggara penegakaan hukum dan keadilan yang sangat dibutuhkan bagi warga negara
indonesia yang mencari keadilan dalam suatu perkara/konflik, yang dimana orang yang mencari
keadilan tersebut antara manusia yang beragama Islam yang mencangkup juga waris , wakaf ,
perkawinan , wasiat , hibah , zakat , infaq , shadaqah , dan ekonomi syari`ah. Landasan dalam suatu
hukum positif dalam penerapan hukum Islam yang telah diterbitkan tersebut , diharapkan lebih

1
Afdol, Legislasi Hukum Islam di Indonesia, (Surabaya: Airlangga University Press, 2006),hal 120
berguna bagi warga negara indonesia dengan adanya Undang~undang Nomor 3 Tahun 2006 ini,
telah menghapus berbagai masalah dalam menerapkan pilihan hukum.2

Didalam undang undang tersebut terdapat perluasan kewenangan yang dimiliki oleh Pengadilan
Agama yang sudah disesuai dengan suatu kebutuhan hukum yang ada di masyarakat dan
perkembangan hukum yang ada di negara indonesia.
Perluasan yang disebut tadi diantaranya ; segi ekonomi syari`ah. Yang ada di Undang-undang
Nomor 07 Tahun 1992 tentang perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor
10 Tahun 1998 antara lain yang mengatur tentang pembiaya an yang menggunakan asas –
asas/prinsip syari`ah.
Prinsip syari`ah sendiri mempunyai pengertian yaitu suatu aturan perjanjian yang menggunakan
aturan hukum yang terdapat dalam agama Islam antara seseorang untuk menyimpanan biaya/uang
dan yang membiayai aktivitas usaha atau aktivitas lainnya dengan pihak bank/instansi, yang telah
sesuai dengan syari’ah meliputi adalah murabahah, musyarakah dan mudharabah.3
Dengan mulai berlaku suatu Undang-Undang Nomor 03 Tahun 2006 kedudukan Badan Peradilan
Agama berubah semakin mempunyai kewenangan yang pasti. Dengan bertambahnya suatu
kewenangan absolut pada Peradilan Agama didalam memeriksa,mengadili dan memutus perkara-
perkara tertentu. Untuk dapat dijelaskan, yang menjadi pembeda yang digunakan tersebut yaitu
Peradilan Agama dapat suatu amanah oleh rakyat dan juga negar republik indonesia untuk
mengadili dan menselesaikan perkara - perkara yang berbeda, yang telah diuraikan di atas terdapat
juga perkara - perkara sebagai berikut :
Yang ke-1 yaitu kasus Perkara zakat; sengketa dalam zakat pasti nanti lahir apabila terjadi suatu
pelanggaran penggunannya, contoh : zakat tidak didistribusikan sesuai aturan atau amanah dalam
aturan agama islam, dan sebagainya.
Lalu yang ke-2 yaitu kasus dibidang infaq ; jika dikemudian hari ada instansi/institusi keagamaan
yang dana atau biaya berasal dari infaq, lalu akan lahir suatu gugatan.
Untuk poin Ketiga, Perkara yang berada disegi/bidang ekonomi syari`ah; bidang ekonomi syari`ah
itu mencangkup yang luas lagi ketimbang zakat ataupun infaq
Dan terakhir poin ke-4 Perkara dipenetapan berdasarkan hukum agama islam tentang Pengangkatan
status Anak .
Pengertian dari sendiri yaitu ekonomi syari`ah adalah kegiatan usaha atau perbuatan hukum yang
dilaksanakan menggunakan prinsip atau asas - asas syari`ah, diantaranya Bank Syari`ah, Asuransi
Syari`ah, Reasuransi, Reksa dana Syari`ah, Obligasi Syari`ah dan Sekuritas Syari`ah, Pegadaian
syari`ah , surat berharga berjangka menengah syari`ah, Lembaga Keuangan Mikro-Syari`ah dan
Dana Pensiun Lembaga Keuangan Syari`ah.
Kewenangan memeriksa , mengadili dan memutus dilingkup suatu Peradilan Agama dalam segi
ekonomi syari`ah saat ini mencangkup berbagai segi di ekonomi syari`ah. mengenai itu dapat
disimpulkan dalam arti kata ekonomi syari`ah . Yang menjelaskan didalam pasal itu dimaksudkan
sebagai aktivitas usaha atau perbuatan hukum yang dilakukan menurut asas - asas syari`ah. Yang
berarti, seluruh perbuatan hukum atau kegiatan yang berada didalam segi/bidang ekonomi yang
dilaksanakan menurut asas - asas syari`ah , dia termasuk didalam suatu lingkup kewenangan
memeriksa, mengadiili dan memutus dilingkungan Peradilan Agama. Lalu membahas mengenai

2
Mohammad Daud Ali, Lembaga-lembaga Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo,1995), hal 119

3
Ibid, hlm. 121
kewenangan pengadilan agama antara lain : Pertama menurut ketentuan dalam pasal 4 Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006,
menyebutkan bahwa suatu teritorial hukum (wilayah hukum) Pengadilan Agama yaitu mencangkup
wilayah kotamadya atau kabupaten, sedang wilayah hukum dari Pengadilan Tinggi Agama
mencangkup wilayah Provinsi tersebut .
Yang kedua adalah, kewenangan mutlak yang bisa disebut juga kompensasi absolut merupakan
kewenangan dalam lembaga peradilan didalam memeriksa , mengadili , atau memutus suatu
macam/ jenis-jenis perkara tertentu yang tidak bisa diperiksa, diadili, dan diputus untuk badan
peradilan yang lainnya. Kewenangan peradilan yang absolut itu bisa menjawab beberapa pertanyaan
yaitu , apakah perkara tertentu, misalnya sengketa/perkara dibidang ekonomi syari`ah, menjadi
suatu wewenang Pengadilan Negeri ataukah Pengadilan Agama.