Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN GULMA

ACARA IV
“ANALISIS VEGETASI”
TANGGAL 24 OKTOBER 2018

DISUSUN OLEH:
NO NAMA NIM KELAS KELOMPOK
1 RENDI BAHENDRA C1011171135 AGROTEK D 2
2 IRMA SASMITA ADI P C1011171137 AGROTEK D 2
3 KORNELIUS RIVALDO Y C1011171126 AGROTEK D 2
4 DAFFA FEBRIANTO S C1011171147 AGROTEK D 2
5 MUHAMMAD KHAIDIR R C1011171148 AGROTEK D 2
6 HERLISA C1011171143 AGROTEK D 2

PRODI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2018

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuhan dan biasanya terdiri dari beberapa
jenis yang hidup bersama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan
bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik antar sesama individu
penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga
merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis.
Analisis vegetasi adalah bentuk analisis yang dapat memberikan gambaran
kepada kita mengenai keadaan permukaan lahan yang ditutupi vegetasi yang
dapat dinyatakan secara kualitatif.Dalam ekologi, analisis vegetasi ditujukan
untuk mempelajari suksesi, yaitu perubahan komposisi gulma dari suatu habitat
sejalan dengan waktu ke waktu.Sedangkan pada pengendalian gulma, analisis
vegetasi ditujukan untuk menentukan suatu metode tindakan maupun
mengevaluasi hasil suatu tindakan.
Pada umumnya dipandang dari manfaat yang didapat, tumbuhan dibagi
menjadi dua yaitu, tanaman yaitu tumbuhan yang menguntungkan dan tumbuhan
yang merugikan. Tumbuhan yang menguntungkan yaitu tumbuhan(tanaman)
yang dibudidayakan oleh manusia atau sengaja untuk ditanam karena mempunyai
nilai ekonomis yang menjanjikan. Sedangkan tumbuhan yang merugikan adalah
tumbuhan yang tidak dikehendaki keberadaannya. Dalam kegiatan budidaya atau
dalam ilmu pertanian, tumbuhan tersebut sering disebut dengan gulma (weed).
Analisis vegetasi biasa ditujukan untuk mempelajari tingkat suksesi, evaluasi
hasil pengendalian gulma, perubahan flora sebagai akibat metode pengendalian
tertentu dan evaluasi herbisida ( trial ) untuk menentukan aktivitas suatu herbisida
terhadap jenis gulma di lapangan. Selain itu, analisis vegetasi digunakan untuk
mengetahui gulma-gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan
sarana tumbuh dan ruang hidup. Dalam hal ini, penguasaan sarana tumbuh pada
umumnya menentukan gulma tersebut penting atau tidak. Namun dalam hal ini
jenis tanaman memiliki peran penting, karena tanaman tertentu tidak akan terlalu
terpengaruh oleh adanya gulma tertentu, meski dalam jumlah yang banyak

1.2 Tujuan Praktikum


1) Mengetahui beberapa metode analisis vegetasi
2) Menghitung luas minimum petak contoh
3) Mengetahui komposisi gulma pada suatu lokasi
4) Membandingkan vegetasi gulma pada dua lokasi yang berbeda

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengamatan komposisi gulma berguna untuk mengetahui ada tidaknya pergeseran


jenis gulma yaitu keberadaan jenis gulma pada suatu areal sebelum dan sesudah
percobaan/perlakuan. Some Dominance Ratio (SDR) atau Nisbah Jumlah Dominan
(NJD) berguna untuk menggambarkan hubungan jumlah dominansi suatu jenis gulma
dengan jenis gulma lainnya dalam suatu komunitas, sebab dalam suatu komunitas
sering dijumpai spesies gulma tertentu yang tumbuh lebih dominan dari spesies yang
lain. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum pengendalian gulma
dilakukan antara lain adalah jenis gulma dominan, tumbuhan budidaya utama,
alternatif pengendalian yang tersedia serta dampak ekonomi dan ekologi (Mas’ud,
2009).
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk
(struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Analisis vegetasi digunakan
untuk mengetahui gulma - gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam
penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup. Dalam hal ini, penguasaan sarana
tumbuh pada umumnya menentukan gulma tersebut penting atau tidak. Namun dalam
hal ini jenis tanaman memiliki peran penting, karena tanaman tertentu tidak akan
terlalu terpengaruh oleh adanya gulma tertentu, meski dalam jumlah yang banyak
(Adi 2013).
Metode analisis vegetasi yang lazim digunakan ada 4 macam yaitu estimasi
visual, metode kuadrat, metode garis dan metode titik. (Tjitrosoediro, 1984).
Metode estimasi visual
Pengamatan dilakukan pada titik tertentu yang selalu tetap letaknya, misalnya
selalu di tengah atau di salah satu sudut yang tetap pada petak-contoh yang telah
terbatas. Besaran yang dihitung berupa dominansi yang dinyatakan dalam persentase
penyebaran.
Metode kuadrat
Yang dimaksud kuadrat di sini adalah suatu ukuran luas yang dinyatakan dalam
satuan kuadrat (misalnya m2, cm2, dan sebagainya) tetapi bentuk petak-contoh dapat
berupa segi-empat (kuadrat), segi panjang, atau sebuah lingkaran.

Metode garis
Metode garis atau rintisan, adalah petak-contoh memanjang, diletakkan di atas
sebuah komunitas vegetasi
Metode titik
Metode titik merupakan suatu variasi metode kuadrat. Jika sebuah kuadrat
diperkecil sampai titik tidak terhingga, akan menjadi titik.
Sebagai tumbuhan, gulma juga memerlukan persyaratan tumbuh seperti halnya
tanaman lain misalnya kebutuhan akan cahaya, nutrisi, air, gas CO 2 dan gas lainnya,
ruang dan lain sebagainya (Moerandir, 1988).
Data yang diperoleh dari analisis vegetasi dibagi menjadi dua jenis, yaitu data
kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif yaitu data yang menunjukkan bagaimana
suatu jenis tumbuhan tersebar dan berkelompok. Sedangkan data kualitatif merupakan
data yang menyatakan jumlah, ukuran, berat basah/kering suatu jenis, dan luas daerah
yang ditumbuhinya (Soekisman, 1984). Ada 4 macam cara pengambilan sampel dari
lahan, yaitu:

1. Pengambilan sampel secara langsung

2. Pengambilan sampel secara acak tidak langsung

3. Pengambilan sampel bertingkat

4. Pengambilan sampel secara beraturan

Cara pengambilan sampel ini adalah kenyataannya memberikan hasil yang lebih
mewakili kondisi lapangan yang diamati. Untuk areal yang luas dengan vegetasi
semak rendah misalnya, digunakan metode garis (line intercept), untuk pengamatan
sebuah contoh petak dengan vegetasi “tumbuh menjalar” (creeping), digunakan
metode titik (point intercept), dan untuk suatu survei daerah yang luas dan tidak
tersedia cukup waktu, estimasi visual (visual estimation) mungkin dapat digunakan
oleh peneiliti yang sudah berpengalaman. Juga harus diperhatikan keadaan geologi,
tanah, topografi, dan data vegetasi yang mungkin telah ada sebelumnya, serta fasilitas
kerja/ keadaan, seperti peta, lokasi yang bisa dicapai, waktu yang tersedia, dan lain
sebagainya (Tjitrosoediro, 1984).

BAB III
METODOLOGY

3.1 Bahan dan Alat


BAHAN
Vegetasi gulma
ALAT
1. Frame 0,5 x 0,5 m2
2. Alat tulis

3.2 Prosedur Kerja


1) Setiap kelompok mencari areal untuk melakukan analisis, kemudian lakukan
analisa vegetasi secara bersama-sama dalam satu kelompok.
2) Melemparkan petak kuadrat dari tepi areal dengan cara objektif
3) Mencabut gulma dari setiap petakan
4) Mengidentifikasi jenis gulma
5) Mencatat dan menghitung semua jenis/spesies gulma yang ada pada petak
contoh (petak kuadrat lemparan pertama).
6) Setelah selesai mengumpulkan data dari lapangan, maka menghitung
kerapatan mutlak dan kerapatan nisbi,frekuensi,frekuensi mutlak,frekuensi
nisbi,nilai penting dan Summed Dominance Ratio (SDR) untuk setiap jenis
gulma serta hitung koefisien komunitas
7) Cara menghitung masing-masing parameter:

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan komposisi spesies dan
bentuk struktur vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi
hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan contoh,
artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat
tersebut. Dalam contoh ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah
petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang
digunakan (Irwanto, 2010).
Tabel 1.Hasil Analisis Vegetasi Gulma Lahan Pertanian Kelompok 2

NOMOR PETAK CONTOH


NO SPESIES GULMA JUMLAH KM KN F FM FN IP
I II III IV V
1 Ageratum conyzoides 90 25 5 0 120 30 12.90 3 75 15.79 28.69
2 Borreria alata 178 170 81 0 429 107.25 46.13 3 75 15.79 61.92
3 Borreria repens 3 0 0 0 3 0.75 0.32 1 25 5.26 5.59
4 Cleome rutidosperma 0 0 1 0 1 0.25 0.11 1 25 5.26 5.37
5 Cyperus rotundus 54 4 54 4 116 29 12.47 4 100 21.05 33.53
6 Digitaria ciliaris 0 2 0 0 2 0.5 0.22 1 25 5.26 5.48
7 Eriochloa polystachya 7 0 0 0 7 1.75 0.75 1 25 5.26 6.02
8 Ischaemum tinorense 0 0 12 236 248 62 26.67 2 50 10.53 37.19
9 Phylanthus niruri 2 0 0 0 2 0.5 0.22 1 25 5.26 5.48
10 Phylanthus urinaria 1 0 1 0 2 0.5 0.22 2 50 10.53 10.74

TOTAL 930 232.5 100 19 475 100 200

Pada tabel tersebut dapat kita ketahui bahwa gulma yang paling dominan
pada lahan pertanian kelompok 2 yaitu Borreria alata yang diketahui dari SDR
nya yang paling tinggi yaitu 30.96 dengan jumlah spesies gulmanya yaitu sekitar
429.Sedangkan gulma yang paling sedikit adalah gulma dari spesies Cleome
rutidosperma dengan nilai SDR yang paling rendah yaitu 2.69 serta dibuktikan
dari jumlah spesies gulmanya yaitu hanya ada 1 spesies.

Tabel 2.Hasil Analisis Vegetasi Gulma Lahan Pertanian Kelompok 4

NOMOR PETAK CONTOH


NO SPESIES JUMLAH KM KN F FM FN I
I II III IV V
1 Ageratum conyzoides 53 53 50 0 0 156 31.20 25.16 3 60 10.71 35
2 Chrtococcum sp 6 5 5 0 0 16 3.20 2.58 3 60 10.71 13
3 Melochia chorchorifolia 63 11 14 0 0 88 17.60 14.19 3 60 10.71 24
4 Cyperus sphacelatus 42 0 0 0 0 42 8.40 6.77 1 20 3.57 10
5 Cleomae rutidosperma 0 6 9 6 2 23 4.60 3.71 4 80 14.29 18
6 Borerria alata 0 0 4 2 0 6 1.20 0.97 2 40 7.14 8
7 Phylanthus nirrari 0 0 3 0 0 3 0.60 0.48 1 20 3.57 4
8 Cynedrella nodiflora 0 0 0 54 85 139 27.80 22.42 2 40 7.14 29
9 Molugo pentaphila 0 0 0 53 35 88 17.60 14.19 2 40 7.14 21
10 Cyrtoccocum acrescens 0 0 0 7 4 11 2.20 1.77 2 40 7.14 8
11 Cyperus iria 0 0 0 33 12 45 9.00 7.26 2 40 7.14 14
12 Eleusine indica 0 0 0 1 0 1 0.20 0.16 1 20 3.57 3
13 Asystasia gangetica 0 0 0 1 0 1 0.20 0.16 1 20 3.57 3
14 Leucas javanica 0 0 0 0 1 1 0.20 0.16 1 20 3.57 3
JUMLAH 620 124 100 28 560 100 2

Pada tabel tersebut dapat kita ketahui bahwa gulma yang paling dominan
pada lahan pertanian kelompok 4 yaitu Ageratum conyzoides yang diketahui dari
SDR nya yang paling tinggi yaitu 17.94 dengan jumlah spesies gulmanya yaitu
sekitar 156. Sedangkan gulma yang paling sedikit adalah gulma dari spesies
Eleusine indica,Asystasia gangetica dan Leucas javanica dengan nilai SDR yang paling
rendah yaitu 1.87 serta dibuktikan dari jumlah spesies gulmanya yaitu hanya ada
1 spesies.

NO SPESIES GULMA SDR Tabel 3.Hasil SDR dari kelompok 2

1 Borreria alata 30.96 dan 4


2 Ischaemum tinorense 18.60
3 Cyperus rotundus 16.76
4 Ageratum conyzoides 14.35
5 Phylanthus urinaria 5.37
6 Eriochloa polystachya 3.01
7 Borreria repens 2.79
8 Digitaria ciliaris 2.74
9 Phylanthus niruri 2.74
10 Cleome rutidosperma 2.69
Dari tabel perbandingan SDR diketahui SDR kelompok 2 yang paling tinggi
adalah spesies gulma Borreria alata dengan SDR nya 30.96 dan pada kelompok 4
spesies gulma yang paling tinggi SDR nya adalah Ageratum conyzoides dengan SDR nya
17.94. Untuk gulma pada kelompok 2 yaitu Cleome rutidosperma memiliki SDR yang paling
rendah yaitu 2.69 sedangkan pada kelompok 4 spesies gulma yang paling sedikit yaitu
Eleusine indica, Asystasia gangetica dan Leucas javanica dengan SDR masing masing gulma
gulma tersebut yaitu 1.87

Koefisien Komunitas ( C )
 Kelompok 2 dan 4 : C=23,13%
 Kelompok 1 dan 3 : C=16,62
Perhitungan koefisien komunitas (C) atau indeks kesamaan sebagai parameter
untuk membandingkan dua komunitas vegetasi dari dua areal. Parameter yang
digunakan adalah nilai Kerapatan Mutlak (KM). Nilai kerapatan mutlak digunakan
untuk menunjukkan jumlah individu atau spesies gulma pada suatu areal tertentu.
Selain itu, nilai tersebut menunjukkan tingkat penguasaan suatu jenis gulma dalam
lingkungannya (Nasution,1986)
Berdasarkan hasil perhitungan data diperoleh nilai koefisien komunitas dari 49
spesies pada dua komunitas vegetasi di kebun kopi dan kelapa sawit sebesar 33.02 %.
Kedua komunitas tersebut dapat dinyatakan seragam apabila nilai C > 70%
(Sukman,2002).

4.2 Pembahasan
Dari data diatas diketahui jenis gulma yang dominan pada daerah 1 yaitu
pengambilan sampel oleh kelompok 2 adalah gulma Borreria alata dengan SDR
30,96 dan yang paling sedikit spesies gulma nya yaitu Cleome rutidosperma dengan
SDR 2,69. Hal itu disebabkan karena gulma Borreria alata memiliki daun yang
lebar sehingga efisien dalam fotosintesis. Borreria alata merupakan salah satu
jenis gulma yang kompetitif yang juga menghasilkan biji yang sangat tinggi.
Gulma Borreria alata lebih suka ditempat kering karena pada saat pengambilan
sampel kelompok kami mengambil didaerah yang kering, sehingga spesies yang
paling banyak ditemukan adalah gulma Borreria alata.
Pada daerah 2 yaitu pengambilan sampel oleh kelompok 4 yang dominan
adalah gulma Ageratum conyzoidesdengan SDR 17,94 dan yang paling sedikit
spesiesnya adalah gulma Leucas javanica.Ageratum conyzoides merupakan
tumbuhan herba menahun, mempunyai daya adaptasi yang tinggi, sehingga
mudah tumbuh di mana-mana dan sering menjadi gulma yang merugikan para
petani. Ageratum conyzoides bisa tumbuh di sawah-sawah, ladang, semak
belukar, halaman kebun, tepi jalan, tanggul, dan tepi air. Ageratum conyzoides
memiliki 2 jenis perkembangbikan yaitu melalui generatif maupun
vegetatif,sehingga bisa tumbuh dengan baik dan mudah menyebar.
Dari perbandingan nilai koefisien komunitas antara 2 tempat,maka didapat
nilai C itu, tidak lebih dari 75% .Nilai yang lebih kecil dari 75%, dapat dikatakan
bahwa komunitas gulma pada dua lokasi tersebut adalah tidak homogen.
Perbedaan komunitas tersebut dapat menyebabkan perbedaan pengelolaan gulma
pada kebun. Tipe komunitas terjadi karena adanya sifat yang berbeda dalam
dominasi jenis, komposisi jenis, dan struktur lapisan tajuk (Tjitrosoedirjo dkk.,
1984)
Menurut (Moenandir, 1988) persaingan akan lebih ketat lagi apabila bahan
yang diperebutkan jumlahnya tidak mencukupi untuk dipergunakan bersama.
Persaingan antar dua tumbuhan dapat terjadi jika tumbuh-tumbuhan tersebut
tumbuh secara berdekatan sehingga menimbulkan interaksi.
Analisis vegetasi sendiri juga merupakan salah satu cara untuk
mempermudah untuk mengendalikan gulma, karena pada analisis vegetasi itu
sendiri ada pengovenan yang berguna untuk mengeringkan kandungan air di
dalam gulma tersebut. Tujuan dihilangkannya kandungan air itu sendiri adalah
untuk menghitung SDR gulma, hingga bisa menghitung C yang nantinya akan
menentukan keragaman gulma di lahan
Tujuan analisis vegetasi gulma adalah untuk mengetahui komposisi spesies-
spesies yang membentuk komunitas gulma yang tumbuh bersama, pada suatu
waktu dan tingkat pertumbuhan tertentu. Metode analisis vegetasi gulma yang
digunakan adalah metode estimasi visual (visual estimation), yakni metode
analisis dengan pandangan mata dan pencacatan macam spesies gulma beserta
skor kelebatan pertumbuhannya masing-masing atau metode kuadrat (Sukman,
1991)

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1) Dari data diatas diketahui jenis gulma yang dominan pada daerah 1 yaitu
pengambilan sampel oleh kelompok 2 adalah gulma Borreria alata dengan
SDR 30,96 dan yang paling sedikit spesies gulma nya yaitu Cleome rutidusperma
dengan SDR 2,69.
2) Pada daerah 2 yaitu pengambilan sampel oleh kelompok 4 yang dominan
adalah gulma Ageratum conyzoidesdengan SDR 17,94 dan yang paling
sedikit spesiesnya adalah gulma Leucas javanica.Serta diketahui C atau
koefisien komunitas dari dua daerah yang berbeda adalah 23,13% yang
berarti dari kedua daerah tersebut terdapat persamaan jenis gulma

5.2 Saran
1) Semoga praktikum yang selanjutnya jauh lebih baik dan penggunaan waktu
lebih efisien.
2) Pengidentifikasian tanaman gulma dan penghitungan nilai SDR harus
dilakukan dengan teliti sehingga didapatkan nilai SDR yang tepat

DAFTAR PUSTAKA

Adi.2013.VegetasiGulma.http://arekpekalongan.blogspot.com/2013/10/vegetasi
gulma.html diakses 12-5-2014.
Irwanto. 2010. Analisis Vegetasi Parameter Kuantitatif. http://www.irwanto shut.net.
Diakses pada 02 Oktober 2013. Pukul 20.30 WIB.
Mas’ud, hidayati. 2009. Komposisi dan efisiensi pengendalian gulma padapertanaman
kedelai dengan penggunaan bokashi . Jurnal Agroland 16 (2) : 118 – 123.
Moenandir,J.1990b. Pengantar Ilmu Pengendalian Gulma. Rajawali Press. Jakarta
Nasution, U. 1986. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara
dan Aceh. Puslitbang Perkebunan Tanjung Morawa (P4TM)
Soekisman, T. Is Hidajat, U. Joedono, W. 1984. Pengelolaan Gulma Perkebunan. PT
Gramedia Jakarta
Sukman, Yarnelis dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali
Pers. Jakarta. 157 hal.
Tjitrosoedirdjo, S., H. Utomo, dan J. Wiroatmodjo., 1984. Pengelolaan Gulma di
Perkebunan. PT Gramedia, Jakarta