Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS SINTESIS TINDAKAN TEKNIK RELAKSASI

DISTRAKSI PADA TN.S DI RUANG TERATAI 2 RSUD


KARANGANYAR

Di susun oleh :
Nama : Sri Subekti
NIM : SN 172 103

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
Analisis Sintesis Tindakan Teknik Relaksasi Distraksi Pada Tn. S
Di Ruang Teratai 2 RSUD Karanganyar
Hari/tanggal : 4 Mei 2018
Jam : 16.00 WIB
Ruang : Teratai 2
A. Keluhan Utama
Pasien mengatakan nyeri pada punggung telapak kaki kiri
B. Diagnosa Medis
Fraktur Metatarsal Pedis Sinistra
C. Diagnosa Keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik
D. Data fokus
DS : : Pasien mengatakan nyeri punggung telapak kaki kiri
Paliatif : Fraktur Metatarsal Pedis Sinistraa
Quality : Seperti ditusuk-tusuk
Region : Punggung telapak kaki kiri
Skala : Skala nyeri 7
Time : Hilang timbul 2-3 menit
DO : Kesadaran compos mentis, TD : 120/ 70 mmHg, N : 80x/ menit, S :
37°C, RR : 20x/ menit, klien tampak meringis menahan sakit
E. Dasar pemikiran
Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak
menyenangkan dan meningkatkan akibat adanya kerusakan jaringan yang
aktual atau potensial. Sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman
emosional yang muncul secara aktual atau potensial kerusakan jaringan atau
menggambarkan adanya kerusakan. Serangan mendadak atau pelan
intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan akhir
yang dapat diprediksi dan dengan durasi kurang dari 6 bulan.
Salah satu penyebab timbulnya nyeri adalah agen injury fisik, misalnya
fraktur. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya
kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan
oleh rudapaksa (Mansjoer, 2007).
Penatalaksanaan nyeri ada 2 macam yaitu dengan farmakologis dan
non farmakologis. Pendekatan non farmakologik biasanya menggunakan
terapi perilaku (hipnotis, bio-feedback), pelemas otot/ relaksasi, akupuntur,
terapi kognitif (distraksi), restrukturisasi kognisi, imajinasi dan terapi fisik.
Nyeri bukan hanya unik karena sangat berbeda satu dengan yang lainnya
mengingat sifatnya yang individual, termasuk dalam penanganannya pun kita
seringkali menemukan keunikan tersebut, baik itu yang memang dapat kita
terima dengan kajian logika maupun yang sama sekali tidak bisa kita nalar
walaupun kita telah berusaha memaksakan untuk menalarkannya.
F. Prinsip tindakan keperawatan
1. Fase pra interaksi
Melakukan cuci tangan
2. Fase orientasi
a. Memberi salam, memanggil dengan nama kesukaan, menanyakan
keluhan saat ini
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur
c. Meminta persetujuan pasien
3. Fase kerja
a. Menjaga privasi pasien
b. Mengatur posisi senyaman
c. Meminta pasien memejamkan mata
d. Meminta pasien untuk memfokuskan pikiran pasien pada kedua kakinya
untuk dirilekskan, kemndorkan seluruh otot-otot kakinya, perintahkan
pasien untuk merasakan relaksasi kedua kaki pasien
e. Meminta pasien untuk memindahkan pikirannya pada kedua tangan
pasien, kendorkan otot-otot kedua tangannya, meminta pasien untuk
merasakan relaksasi keduaanya
f. Memindahkan focus pikiran pasien pada bagian tubuhnya,
memerintahkan pasien untuk merilekskan otot-otot tubuh pasien mulai
dari otot pinggang sampai ke otot bahu, meminta pasien untuk
merasakan relaksasi otot-otot tubuh pasien
g. Meminta pasien untuk senyum agar otot-otot muka menjadi rileks
h. Meminta pasien untuk memfokuskan pikiran pada masuknya udara
lewat jalan nafas
i. Membawa alam pikiran pasien menuju ketempat yang menyenangkan
pasienMengajak pasien untuk mendemonstrasikan
a. Fase terminasi
a. Menanyakan perasaan pasien
b. Merapikan pasien
c. Berpamitan dengan pasien
d. Mendokumentasikan tindakan dalam catatan keperawatan
G. Analisis tindakan
Tujuan dilakukan teknik relaksasi distraksi adalah untuk merilekskan
otot-otot tubuh dengan meningkatkan suplai oksigen keseluruh tubuh. Banyak
sekali macam-macam teknik relaksasi selain teknik relaksasi nafas dalam
misalnya relaksasi nafas dalam, teknik relaksasi progresif, kompres hangat,
hipnoterapi.
Distraksi memfokuskan perhatian pasien pada sesuatu selain pada nyeri,
dapat menjadi strategi yang sangat berhasil dan mungkin merupakan mekanisme
yang bertanggung jawab terhadap teknik kognitif efektif lainnya. Keefektifan
distraksi tergantung pada kemampuan pasien untuk menerima dan
membangkitkan input sensori selain nyeri.
Distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori Gate Control,
bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di
sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahawa impuls nyeri
dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah
pertahanan ditutup. Salah satu cara menutup mekanisme pertahanan ini
adalah dengan merangsang sekresi endorfin yang akan menghambat
pelepasan substansi P. Teknik distraksi khususnya distraksi pendengaran
dapat merangsang peningkatan hormon endorfin yang merupakan substansi
sejenis morfin yang disuplai oleh tubuh. Individu dengan endorfin banyak
lebih sedikit merasakan nyeri dan individu dengan endorfin sedikit merasakan
nyeri lebih besar. Hal inilah yang menyebabkan adanya perbedaan perubahan
intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan teknik distraksi.
H. Bahaya dilakukan tindakan
Tindakan teknik relaksasi distraksi tidak ada efek samping dan tidak
menggunakan alat maupun obat-obatan sehingga tidak berbahaya.
I. Tindakan keperawatan lain yang dilakukan
a. Mengatur posisi senyaman mungkin
b. Memonitor tanda vital
c. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
d. Menganjurkan untuk melakukan teknik relaksasi bila nyeri datang
J. Hasil yang didapatkan setelah dilakukan tindakan
S : Pasien mengatakan nyeri punggung telapak kaki kiri
Paliatif : Fraktur Metatarsal pedis sinistra
Quality : Seperti ditusuk – tusuk
Region : Punggung telapak kaki kiri
Skala : Skala nyeri 7
Time : Hilang timbul 2- 3 menit
O : Kesadaran compos mentis, TD : 120/ 70 mmHg, N : 80x/ menit, S : 37°C,
RR : 20x/ menit, ekspresi wajah lebih rileks
A : Masalah nyeri akut teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan :
- Kaji tingkat nyeri
- Monitor tanda vital
- Anjurkan melakukan relaksasi distraksi jika nyeri
- Kolaborasi tim medis pemberian terapi
K. Evaluasi diri
Dalam melakukan tindakan keperawatan dapat saya lakukan secara mandiri
sesuai SOP dan mempertahankan prinsip tindakan
L. Daftar pustaka
Alimul, Hidayat A. Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia
Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Ester, Chang. 2010. Patofisiologi Aplikasi pada Praktek Keperawatan.
Jakarta: EGC
Tarwoto, Wartonah. 2009. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan: Edisi 4. Jakarta : Salemba Mardika.
Hidayat, Aziz Alimul. 2007. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan: Edisi 2.
Jakarta : Salemba Mardika 2007
Herdman, T.H& Kamitsuru, S. 2014. NANDA International Nursing
Diagnose:Definition& Classification, 2015 – 2017. 10nd ed. Oxford:
Wiley Blackwell
Mansjoer, A dkk. 2013. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta:
Media Aesculapius
Sudoyo. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, edisi V. Jakarta:
Interna Publishing
Smeltzer, Suzanne C & Brenda G Bare. (2009). Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC