Anda di halaman 1dari 2

Setelah kepergianmu yang tak pernah kusangka

Yang kemudian menyayat segores luka

Luka yang terbilang cukup parah

Hingga membuatku tak biasa membendung amarah

Kini aku ucapkan

Selamat! Kau berhasil mematahkan

Memang benar aku ini terlalu bodoh

Memang benar aku ini terlalu ceroboh

Aku seakan memainkan duri

Yang nantinya duri itu akan menyakitiku sendiri

Aku terambang dalam kekecewaan

Hanya karena drama penuh dengan kepalsuan

Kesana kemari mencari pelampiaasan

Mataku sulit untuk terbuka akan kebenaran

Bukan , sebenarnya bukan itu yang menjaadi alasan

Tapi karena sebuah ketidaktahuan

Semenjak itu aku menutup semua

Kenangan lama yang selalu membayangi

Aku berhenti dari segala peran yang kujalani

Aku memilih untuk menyendiri


Mengadu pada ya Rabbi

Atas remuknya hati ini

Sungguh , remuk bertubi-tubi

Dan semenjak itu…

Aku memutuskan untuk menjadi gadis yang kaku

Supaya tak ada lagi pengganggu

Aku memilih untuk menutup rapat-rapat

Tak akan lagi kubuka hati ini

Sebelum datang panggeran yang tepat

Memang benar luka itu sudah cukup lama

Tapi sampai saat ini masih menyiksakan trauma

Aku memang sudah memaafkan

Tapi tidak dengan melupakan

Sulit melupakan patah hati yang telah kualami

Tapi sudahlah , aku memaklumi

Itu adalah salahku,

Salahku yang terlalu bersandar

Aku lupa jika kau adalah sang pakar

Pakar dalam hal memainkan perasaan

Sungguh , kau memanglah tak akan pernah terkalahkan