Anda di halaman 1dari 7

DISASTER PLAN MANAGEMENT

GEMPA BUMI DI PROVINSI SULAWESI UTARA KECAMATAN


MALALAYANG

Disusun oleh:
Noversly Saerang (030.10.208)

Pembimbing:
dr Gita Tarigan, MPH

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS/KESEHATAN MASYARAKAT
PERIODE 4 JUNI-25 AGUSTUS 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
A. Rekayasa kasus
Pada tanggal 22 Januari 2007, warga Provinsi Sulawesi Utara, Kota Manado
merasakan suatu gempa bumi yang cukup kencang. Gempa tersebut mencapai skala 6,5
skala ritcher (SR). Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 10.30 WITA.
Warga terlihat berlari dengan panik dan mencari tempat yang lebih tinggi untuk
berlindung. Mereka yang membawa kendaraan terlihat dipenuhi muatan orang.
Kepanikan semakin menjadi, karena saluran komunikasi dan listrik terputus,
Sebagian besar warga masih bertahan di perbukitan setelah informasi adanya ancaman
gelombang tsunami pascagempa bumi tektonik 6,5 SR. Dari kejadian tersebut, 1 orang
meninggal dunia, 5 orang cedera akibat tertimpa beton. Sedangkan kerusakan lain masih
diperhitungkan.

B. Hazard Mapping
Kota Manado terletak di ujung jazirah utara pulau Sulawesi, pada posisi geografis
124°40' - 124°50' BT dan 1°30' - 1°40' LU. Iklim di kota ini adalah iklim tropis dengan suhu
rata-rata 24° - 27 °C. Curah hujan rata-rata 3.187 mm/tahun dengan iklim terkering di sekitar
bulan Agustus dan terbasah pada bulan Januari. Intensitas penyinaran matahari rata-rata 53%
dan kelembaban nisbi ±84 %. Luas wilayah daratan adalah 15.726 hektare. Manado juga
merupakan kota pantai yang memiliki garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Kota ini juga
dikelilingi oleh perbukitan dan barisan pegunungan. Wilayah daratannya didominasi oleh
kawasan berbukit dengan sebagian dataran rendah di daerah pantai. Interval ketinggian dataran
antara 0-40% dengan puncak tertinggi di gunung Tumpa.

Wilayah perairan Kota Manado meliputi pulau Bunaken, pulau Siladen dan pulau Manado Tua.
Pulau Bunaken dan Siladen memiliki topografi yang bergelombang dengan puncak setinggi
200 meter. Sedangkan pulau Manado Tua adalah pulau gunung dengan ketinggian ± 750 meter.

Sementara itu perairan teluk Manado memiliki kedalaman 2-5 meter di pesisir pantai sampai
2.000 meter pada garis batas pertemuan pesisir dasar lereng benua. Kedalaman ini menjadi
semacam penghalang sehingga sampai saat ini intensitas kerusakan Taman Nasional Bunaken
relatif rendah. Jarak dari Manado ke Tondano adalah 28 km, ke Bitung 45 km dan ke Amurang
58 km.

2
C. Vulnerability
 Fisik

Manado merupakan kota pantai yang memiliki garis pantai sepanjang 18,7 kilometer.
Kota ini juga dikelilingi oleh perbukitan dan barisan pegunungan. Wilayah daratannya
didominasi oleh kawasan berbukit dengan sebagian dataran rendah di daerah pantai.
Interval ketinggian dataran antara 0-40% dengan puncak tertinggi di gunung Tumpa.

Berikut adalah kondisi fisik dari Kota Manado yang terkena bencana gmpa bumi
tersebut :

1) Kondisi struktur bangunan umum dan perumahan penduduk yang secara teknis tidak
memenuhi standar konstruksi tahan gempa.

2) Adanya zona patahan yang sensitif turut bergetar ketika gelombang gempa melalui
zona patahan tersebut.
3) Kota manado yang merupakan kota yang dikelilingi oleh pantai dan lautan.

 Sosial
Berdasarkan jumlah penduduk, Kota Manado memiliki penduduk mencapai 519.000
orang. Di Kecamatan Malalayang merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk paling
padat daripada kecamatan laim di Kota Manado. Hal ini merupakan suatu kerentanan yang

3
dapat menyebabkan kesulitan untuk melarikan diri mencari tempat yang aman pada saat
bencana terjadi. Kapasitas masyarakat yang rendah (belum tanggap) atas bahaya gempa.

 Economy
Jumlah penduduk terbanyak bekerja di sektor perdagangan. Dapat dikatakan perekonomian
Masyarakat Malalayang tergolong cukup baik.

 Teknologi
Teknologi komunikasi antar masyarakat masih tergolong rendah untuk memperingatkan
adanya tanda bahaya gempa bumi.

D. Capacity

Kapasitas yang dimiliki oleh institusi dan masyarakat dalam menghadapi ancaman
gempa bumi antara lain :
 Tingkat gotong–royong masyarakat tinggi dalam menghadapi bencana.
 Institusi dan tokoh masyarakat yang bergerak dalam bidang penanggulangan bencana
bekerja secara cepat.
 Terdapatnya tempat pengungsian untuk para korban gempa bumi.


E. Manajemen Penanganan Bencana

Pra Bencana

 Pencegahan
- Mendengar siaran radio atau menyaksikan televisi menyangkut perkiraan terkini cuaca
setempat.
- Waspada terhadap perubahan cuaca
- Waspada terhadap tanda tanda bahaya sebagai:
 Langit gelap pertanda hujan akan datang
 Reruntuhan batu (rock fall) dan tanah pada jalan.
 Retakan baru pada lereng,jalan atau dinding penahan tanah.
 Material berupa tanah, batuan, pohon berjatuhan dari lereng

4
 Mitigasi
- Membuat peta rawan bencana
- Mengenali daerah setempat dalam menentukan tempat yang aman untuk mengungsi.
- Memperbaharui rencana kegawatdaruratan dengan informasi, penyuluhan dan
pelatihan penyelamatan dan tanggap darurat yang melibatkan masyarakat.
- Membuat peta rawan gempa bumi, daftar sarana kesehatan dan tenaga kesehatan,
jumlah lansia, balita dan ibu hamil daerah setempat.
- Sosialisasi dan pelatihan prosedur tetap penanggulangan dan kesiapsiagaan gempa
bumi
- Mendirikan Posko Gempa
- Menyebarluaskan informasi, baik dari pemerintah maupun pemerintah daerah,
berkaitan dengan gempa
- Menyebarluaskan informasi daerah rawan bencana, ancaman atau bahaya, dan tindakan
yang harus diambil oleh masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana
- Mempersiapkan evakuasi dengan menentukan titik kumpul (lokasi yang aman)
- Mempersiapkan peralatan berat, seperti buldozer, dan lain-lain agar disiapsiagakan
pada lokasi yang strategis agar mudah dimobilisasi
- Bekerjasama dengan Tim SAR, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, mahasiswa
kedokteran, tim medis, warga, maupun relawan untuk mengevakuasi korban-korban
bencana

 Kesiapsiagaan
- Peningkatan kesiapsiagaan organisasi dengan menyiapkan dukungan sumber daya yang
diperlukan dan berorientasi kepada pemotivasian individu dalam masyarakat setempat
agar selalu siap sedia mengendalikan ancaman/bahaya.
- Mengumpulkan obat-obatan dan alat-alat medis penunjang, terutama alat-alat Hecting,
Bidai maupun obat-obatan seperti analgetik.

Saat Bencana

- Saat gempa sedang berlangsung, jangan langsung berlari. Lebih baik diam dan
tetap berada ditempat cari tempat perlindungan (seperti di bawah meja, di
bawah kusen pintu kayu) serta melindungi kepala, leher, dan tulang belakang.
Jangan berdiam didekat kaca, jendela, atau di bawah lampu.

5
- Setelah gempa berhenti diperbolehkan mencari tempat perlindungan yang sudah
ditentukan.
Pasca Bencana

- Menjauhi titik rawan gempa, karena tidak menutup kemungkinan akan terjadi
gempa susulan dan mungkin saja gempa akan terjadi di daerah gempa tersebut.
- Identifikasi korban luka dan korban yang terjebak gempa tanpa langsung
memasuki daerah gempa.
- Membantu mengarahkan Tim SAR ke lokasi gempa.
- Melaporkan kerusakan fasilitas umum yang terjadi kepada pihak yang
berwenang.
- Rehabilitasi : membangun tempat pengungsian sementara selama rumah
penduduk belum aman dari tanah gempa.
- Rekonstruksi : pembangunan kembali bangunan atau infrastruktur yang rusak
akibat gempa.

I. Management Disaster Plan di Puskesmas


Penanggulangan kesehatan bencana di Puskesmas pada bencana gempa bumi yang
dapat dilakukan, sebagai berikut:

- Memastikan puskesmas aman sebagai sentra pelayanan kesehatan pasca bencana


- Menentukan tempat yang aman untuk pengungsian, misalnya balai desa, sekolah,
tempat ibadah
- Menunjuk command leader di puskesmas yaitu salah satu dokter puskesmas
- Membuat jalur dan lokasi evakuasi bencana
- Mengumpulkan obat-obatan dan alat-alat medis penunjang, terutama alat-alat hecting,
bidai maupun obat-obatan seperti analgetik
- Meminta bantuan dinas kesehatan setempat bila ada obat-obatan atau alat penunjang
yang kurang
- Meminta bantuan dari mantri desa dan bidan desa untuk membantu puskesmas
- Bekerjasama dengan Tim SAR, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, mahasiswa
kedokteran, tim medis, warga, maupun relawan untuk mengevakuasi korban-korban
bencana

6
- Menentukan triase, memilah-milah korban berdasarkan tingkat keparahan dan
kegawatdaruratannya
- Membagi ruangan atau tempat khusus di puskesmas untuk pasien berdasarkan triase
- Membuat traffic flow dari pintu masuk puskesmas ke ruang-ruang yang sudah
ditentukan sesuai dengan keadaan korban, sampai pintu keluar yang berbeda dengan
pintu masuk awal
- Membuat papan informasi di depan puskesmas berisi tentang data korban yang berada
di puskesmas sebagai sumber informasi untuk keluarga/masyarakat
- Membuat daftar RS yang dekat dengan lokasi bencana untuk merujuk pasien yang tidak
dapat ditangani di puskesmas
- Membangun WC umum bagi warga pengungsian dilengkapi dengan air bersih guna
mencegah terjadinya penyakit yang dapat terjadi di tempat pengungsian, serta
membangun dapur darurat