Anda di halaman 1dari 23

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mesin diesel adalah mesin yang banyak digunakan pada kendaraan berat
seperti kapal laut. Mesin diesel menggunakan bahan bakar diesel yang punya
rantai karbon lebih panjang dibanding dengan bahan bakar gasoline. Dikenal
sebagai jenis motor bakar yang mempunyai efisiensi tinggi, penggunaan
mesin diesel berkembang pula dalam bidang otomotif, antara lain untuk
angkutan berat, traktor, bulldozer, pembangkit listrik di desa-desa, generator
listrik darurat di rumah-sakit, Hotel dsb. Namun disamping keunggulan yang
dimiliki, mesin diesel juga memiliki problem khusus yang berhubungan
dengan pencemaran lingkungan, yaitu asap (jelaga) serta gas buang
khususnya Nitrogen Oxide(NOx). Kedua polutan ini saling bertolak belakang
dalam pemunculannya. Asap terbentuk ketika bahanbakar tidak mampu
tercampur dengan baik dengan oksigen sehingga reaksi pembakaran tidak
sempurna, dalam kondisi seperti ini suhu pembakaran tidak terlalu tinggi
sehingga nitrogen oxide tidak banyak terbentuk. Gas-gas beracun hasil dari
pembakaran bahan bakar ini biasanya berupa oksida-oksida karbon (karbon
dioksida, karbon monokisida) dan nitrogen (nitrogen monoksida, nitrogen
dioksida, dinitrogen oksida) dan senyawa-senyawa hidrokarbon.Masalah
pencemaran merupakan suatu masalah yang sangat populer, banyak dibahas
oleh kalangan masyarakat.

Masalah pencemaran merupakan suatu masalah yang sangat perlu mendapat


penanganan secara serius oleh semua pihak untuk dapat menanggulangi
akibat buruk yang terjadi karena pencemaran, bahkan sedapat mungkin untuk
dapat mencegah jangan sampai terjadi pencemaran lingkungan. Ada beberapa
cara yang efektif untuk mengurangi gas buang pada kendaraan bermotor,
untuk variasi pada mesin bisa dengan memberikan tambahan, turbo,
intercooler, oxydation catalyst,SCR (Selective Catalytic Reduction) dan EGR
(Exhaust Gas Recirculation).EGR (Exhaust Gas Recirculation) merupakan
salah satu metode yang dilakukan untuk mengurangi emisi gas buang
sekaligus untuk meningkatkan performa engine Prinsip kerja dari EGR adalah
dengan mensirkulasikan sebagian aliran gas buang kembali ke engine
sehingga diharapkan pembakaran didalam silinder lebih sempurna sehingga
performa engine akan meningkat dan emisi gas buang akan semakin rendah. 2
Penggunaan EGR sangat tepat diterapkan pada mesin diesel karena mesin
diesel merupakan jenis engine yang memerlukan udara kompresi bertekanan
tinggi untuk dapat menghasilkan penyalaan didalam silinder. Pada penelitian
ini menggunakan jenis venture scrubber EGR pada mesin diesel berbahan
bakar solar untuk mengetahui kandungan emisi jelaga (soot) yang dihasilkan
mesin diesel setelah dimodifikasi dengan EGR tipe venture scrubber
.

B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dalam praktikum prestasi mesin motor bakar bensin 4-tak
adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui prestasi mesin motor bakar solar 4–langkah dan
karakteristiknya melalui pengukuran dan analisa parameter-parameter
operasi yang divariasikan.
2. Dapat melakukan pengukuran dan analisa parameter-parameter operasi
yang divariasikan
3. Mengetahui pengaruh perlakuan udara terhadap prestasi mesin yang
dihasilkan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Mesin diesel

Salah satu penggerak mula yang banyak dipakai adalah mesin kalor, yaitu
mesin yang menggunakan energi termal untuk melakukan kerja mekanik atau
yang mengubah energi termal menjadi energi mekanik. Energi itu sendiri
dapat diperoleh dengan proses pembakaran, proses fisi bahan bakar nuklir
atau proses– proses yang lain. Ditinjau dari cara memperoleh energi termal
ini, mesin kalor dibagi menjadi dua golongan yaitu mesin pembakaran luar
dan mesin pembakaran dalam.

Pada mesin pembakaran luar proses pembakaran terjadi di luar mesin dimana
energi termal dari gas hasil pembakaran dipindah ke fluida kerja mesin
melalui beberapa dinding pemisah. Sedangkan pada mesin pembakaran dalam
atau dikenal dengan motor bakar, proses pembakaran terjadi di dalam motor
bakar itu sendiri sehingga gas pembakaran yang terjadi sekaligus berfungsi
sebagai fluida kerja. Motor diesel disebut juga motor bakar atau mesin
pembakaran dalam karena pengubahan tenaga kimia bahan bakar menjadi
tenaga mekanik dilaksanakan di dalam mesin itu sendiri. Di dalam motor
diesel terdapat torak yang mempergunakan beberapa silinder yang di
dalamnya terdapat torak yang bergerak bolak– balik (translasi). Di dalam
silinder itu terjadi pembakaran antara bahan bakar solar dengan oksigen yang
berasal dari udara. Gas yang dihasilkan oleh proses pembakaran mampu
menggerakkan torak yang dihubungkan dengan poros engkol oleh batang
penggerak. Gerak tranlasi yang terjadi pada torak menyebabkan gerak rotasi
pada poros engkol dan sebaliknya gerak rotasi tersebut mengakibatkan gerak
naik dan turun torak. Konsep pembakaran pada motor diesel adalah melalui
proses penyalaan kompresi udara pada tekanan tinggi. Pembakaran ini dapat
terjadi karena udara dikompresi pada ruangan dengan perbandingan kompresi
jauh lebih besar dari pada motor bensin (7–12), yaitu antara (14–22).
Akibatnya udara akan mempunyai tekanan dan temperatur melebihi suhu dan
tekanan penyalaan bahan bakar.6 Hal ini berbeda dengan mesin bensin yang
menggunakan percikan pengapian busi untuk menyalakan campuran bahan
bakar udara. Mesin dan siklus termodinamika keduanya dikembangkan oleh
Rudo lph Diesel pada tahun 1892.

B. Motor Diesel 4 Langkah

Siklus 4 langkah pada dasarnya adalah piston melakukan 4 kali langkah dan
crankshaft melakukan 2 kali langkah untuk menghasilkan satu kali tenaga
atausatu kali pembakaran. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah prinsip
kerjamotor diesel 4 langkah.
1. Langkah Hisap
Pada langkah hisap, udara dimasukkan ke dalam silinder.
Pistonmembentuk kevakuman didalam silinder seperti pada mesin bensin,
pistonbergerak kebawah dari TMA menuju TMB. Terjadinya vakum ini
menyebabkankatup hisap terbuka dan memungkinkan udara segar masuk
kedalam silinder.Sedangkan katup buang menutup selama melakukan
langkah hisap.
2. Langkah Kompresi
langkah kompresi, piston bergerak dari TMB menuju TMA. Pada saatini
kedua katup hisap dan buang tertutup. Udara yang dihisap selama
langkahhisap kemudian ditekan pada 8º-12º sebelum piston mencapai titik
TMA bahanbakar dikabutkan maka terjadilah pembakaran.
3. Langkah Kerja
Energi pembakaran mengekspansikan dengan cepat sehingga piston
terdorong kebawah. Gaya yang mendorong piston kebawah diteruskan
Ke connecting rod dan poros engkol dirubah menjadi gerak putar untuk
memberitenaga pada mesin.
4. Langkah Buang
Pada saat piston menuju TMB, katup buang terbuka dan gas sisa
hasilpembakaran dikeluarkan melalui katup buang pada saat piston
bergerak ke atas 1 lagi. Gas akan terbuang habis pada saat piston mencapai
TMA.

Gambar 2.1 Siklus kerja motor diesel 4 langkah


(sumber: https://qtussama.wordpress.com)

C. Prestasi Mesin

Prestasi mesin merupakan batas kemampuan yang dapat dikerjakan oleh suatu
mesin selama satu periode kerja. Perfoma atau prestasi mesin dapat dilihat
dari membaca dan menganalisa parameter-parameter seperti daya, torsi,
konsumsi bahan bakar spesifik, tekanan efektif rata-rata dan efisiensi dari
mesin tersebut. Parameter tersebutlah yang menjadi pedoman untuk prestasi
mesin (Irawansyah,2017).

1. Daya engkol
Daya engkol dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
bP = 2πNT/60000 …(2.1)
Keterangan :
bP : daya engkol
N : putaran mesin (rpm)
T : torsi (Nm)

2. Laju pemakaian udara, ma


Laju pemakaian udara teoritis, ma, th pada tekanan 1,013 bar dan
temperatur 20oC ditentukan melalui persamaan berikut:
ma, th= 1,0135 man + 1,211 kg/jam …(2.2)

Untuk kondisi tekanan dan temperatur ruang yang berbeda, kalikan ma, th
tersebut dengan faktor koreksi fc berikut:
Fc = 3564,22 x 10-5 Pa (Ta + 114) / (Ta)2,5 …(2.3)

Maka laju pemakaian udara aktual, mact adalah:


mact = fc. ma, th Kg/jam …(2.4)

3. Laju pemakaian bahan bakar, mf


Laju pemakaian bahan bakar , mf dapat dihitung dengan persamaan
berikut:
mf = b. 3600. ρbb/ t. 1000 kg/jam ...(2.5)

4. Pemakaian bahan bakar spesifik engkol, bsfc


Bsfc dapat dihitung menggunakan persamaan berikut:
Bsfc = mf / bP Kg/kWh ....(2.6)

5. Perbandingan udara bahan bakar, A/F


Perbandingan udara bahan bakar aktual dapat dihitung dari persamaan
berikut:
(A/F)act = mact / mf ...(2.7)

6. Tekanan efektif rata-rata engkol, bmep


Tekanan efektif rata-rata engkol ditentukan dari persamaan berikut:
bmep = 60000 bP / ( (2N/J) Vs. k) Pa
...(2.8)
untuk motor bakar 4 langkah, 1 silinder.
bmep = 60000 bP / ( 0,5 N . Vs) Pa ....(2.9)

7. Efisiensi termal engkol, ηbth


Efisiensi termal engkol dapat dihitung dengan persamaan berikut:
ηbth = 3600 bP / (mf . CV) ...(2.10)
Untuk bahan bakar solar CV = 42.000 kJ/kg
Untuk bahan bakar bensin CV = 41.000 kJ/kg

8. Efisiensi volumetrik, ηv
Efisiensi volumetric dapat dihitung dengan persamaan berikut:
ηv = mact / (60( 2N/J) Vs. ρa) ...(2.11)

9. Persentase panas yang hilang pada gas buang, QL


Persentase panas yang hilang pada gas bang dapat dihitung dengan
persamaan berikut:
%QL = (mact+ mf) . (Te – Ta) . 100/ (mf . CV) …(2.12)
10. Koefisien udara lebih, α
Koefisien udara lebih dapat dihitung dengan persamaan berikut:
α = (A/F)act / (A/F)th …(2.13)

D. Bahan bakar diesel

Minyak bumi merupakan hasil dari minyak mentah dipisahkan menjadi


produknya dengan melalui proses yang disebut proses distilasi bertingkat.
Dalam proses ini bisa didapat produk bensin, minyak bahan bakar diesel,
minyak tanah, dan lain– lain.
Karakteristik bahan bakar diesel :
1.Volatilitas (Penguapan)
Penguapan adalah sifat kecenderungan bahan bakar untuk berubah fasa
menjadi uap. Tekanan uap yang tinggi dan titik didih yang rendah
menandakan tingginya penguapan. Makin rendah suhu ini berarti makin
tinggi penguapannya.
2.Titik Nyala
Titik nyala adalah titik temperatur terendah dimana bahan bakar dapat
menimbulkan uap yang dapat terbakar ketika disinggungkan dengan 9
percikan atau nyala api. Nilai titik nyala berbanding terbalik dengan
penguapan.
3.Viskositas
Viskositas menunjukkan resistensi fluida terhadap aliran. Semakin tinggi
viskositas bahan bakar, semakin sulit bahan bakar itu diinjeksikan.
Peningkatan viskositas juga berpengaruh secara langsung terhadap
kemampuan bahan bakar tersebut bercampur dengan udara.
4.Kadar Sulfur
Kadar sulfur dalam bahan bakar diesel yang berlebihan dapat menyebabkan
terjadinya keausan pada bagian-bagian mesin. Hal ini terjadi karena adanya
partikel – partikel padat yang terbentuk ketika terjadi pembakaran.
5.Kadar Air
Kandungan air yang terkandung dalam bahan bakar dapat membentuk
kristal yang dapat menyumbat aliran bahan bakar.
6.Kadar Abu
Kadar abu menyatakan banyaknya jumlah logam yang terkandung dalam
bahan bakar. Tingginya konsentrasi dapat menyebabkan penyumbatan pada
injeksi, penimbunan sisa pembakaran.
7.Kadar Residu Karbon
Kadar residu karbon menunjukkan kadar fraksi hidrokarbon yang
mempunyai titik didih lebih tinggi dari bahan bakar, sehingga karbon
tertinggal setelah penguapan dan pembakaran bahan bakar.
8.Titik Tuang
Titik tuang adalah titik temperatur terendah dimana bahan bakar mulai
membeku dan terbentuk kristal – kristal paraffin yang dapat menyumbat
saluran bahan bakar.
9.Kadar Karbon
Kadar karbon menunjukkan banyaknya jumlah karbon yang terdapat dalam
bahan bakar.
10.Kadar Hidrogen
Kadar hidrogen menunjukkan banyaknya jumlah karbon yang terdapat
dalam bahan bakar.
11.Angka Setana
Angka setana menunjukkan kemampuan bahan bakar untuk menyala
sendiri (auto ignition). Semakin cepat suatu bahan bakar mesin diesel
terbakar setelah diinjeksikan ke dalam ruang bakar, semakin tinggi angka
setana bahan bakr tersebut. Angka setana bahan bakar adalah persen
volume dari setana dalam campuran setana dan alfa-metil-naftalenyang
mempunyai mutu penyalaan yang sama dengan bahan bakar yang diuji.
Bilangan setana 48 berarti bahan bakar setara dengan campuran yang
terdiri atas 48% setana dan 52% alfa-metil-naftalen.
12.Nilai Kalor
Nilai kalor menunjukkan energi kalor yang dikandung dalam setiap satuan
massa bahan bakar. Semakin tinggi nilai kalor suatu bahan bakar, semakin
besar energi yang dikandung bahan bakar tersebut persatuan massa.
13.Massa Jenis
Masa jenis menunjukan besarnya perbandingan antara massa dari suatu
bahan bakar dengan volumenya.
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan dalam praktikum pengujian prestasi mesin diesel 4
langkah adalah sebagai berikut:
1. Motor diesel 4-langkah

Gambar 3.1 Motor diesel 4-langkah

2. Dinamometer

Gambar 3.2 Dinamometer


3. Beban pemberat

Gambar 3.3 Beban pemberat

4. Unit Instrumentasi TD114

Gambar 3.4 Unit instrumentasi TD114

B. Prosedur Pengujian

Adapun prosedur pengujian pada praktikum pengujian mesin diesel 4 –


langkah adalah sebagai berikut:
1. Persiapan alat uji
Sebelum melakukan uji mesin, torsimeter harus di-nol-kan dan
dikalibarasi terlebih dahulu. Adapun cara untuk mengkalibrasi adalah
sebagai berikut:
a. Menghubungkakn unit instrumental TD114 ini dengan arus listrik,
dan hidupkan unit instrumental TD114 ini.
b. Memutar span control hingga posisi maksimum (searah putaran
jarum jam).
c. Mengguncangkan dynamometer untuk mengatasi kekakuan seal
bantalan. Vibrasi secara otomasi bila mesin berputar.
d. Memutar zero control hingga torsimeter terbaca nol.
e. Mengguncangkan dynamometer lagi untuk memeriksa keakuratan
posisi nol tersebut.
f. Menggantungkan beban sebesar 3,5 kg pada lengan dynamometer
tersebut.
g. Mengguncangkan dynamometer lagi hingga pembacaan torsimeter
stabil.
h. Memutar span control hingga torsimeter TD114 menunjukan bacaan
8,6 Nm.
i. Menyingkirkan beban 3,5 kg tadi dan ulangi langkah 3 hingga
langkah 8 agar penyetelan zero dan span control nya benar-benar
akurat.
2. Menghidupkan mesin
a. Membuka katup bahan bakar dari tangki (KBT) untuk mengisi bahan
bakar kedalam pipette gelas, dan tutup kembali katup tersebut.
b. Membuka katup bahan bakar ke mesin (KBM).
c. Membuka perlahan-lahan katup air umpan dynamometer hingga
terlihat air keluar dari dynamometer.
d. Menggeser sedikit tungkai gas pada motor diesel 4 langkah ini.
e. Menarik tuas starting secara cepat ulangi hingga mtornya hidup.
f. Memanaskan motor ini beberapa saat.

C. Prosedur Pelaksanan Pengujian Motor Diesel 4 langkah

1. Pelaksanaan pengujian

a. Mencatat temperatur ruangan laboratorium.


b. Memastikan bahan bakar selalu ada dalam pipette gelas.
c. Memutar katup KBM pada posisi maksimum (posisi horizontal).
d. Menggantungkan beban pada dynamometer sebesar 0,5 kg, 1 kg, 2kg
atau 3 kg.
e. Menggeser perlahan-lahan tungkai gas hingga putaran mesin terbaca
pada tachometer kurang lbih 3535 atau 3530 rpm untuk varian 3500
rpm. Sebagai catatan ketika menghendaki suatu variasi putaran
misalnya 3500 rpm maka tarik tungkai gas hingga rpm mesin terbaca
3525 atau 3535 rpm sehingga torsi naik dan stabil maka rpm mesin
yang dikehendaki tercapai. (JIKA TORSI NAIK MAKA RPM
AKAN TURUN). Tunggu hingga bacaan torsi dan putaran mesin
terlihat stabil. Torsi dikatakan stabil pada pengujian rpm yang
dikehendaki jika jarum indikator torsi diam lama pada angka tertentu
atau naik pada angka tertentu kemudian turun sedikit pada angka
tertentu dan kejadian berulang.
f. Setelah bacaan torsi stabil, isikan bahan bakar melewati batas nol
pada pipette gelas dengan membuka katup KBT, kemudian tutup
kembali katup KBT tersebut
IV. DATA DAN PEMBAHASAN

A. Data

Adapun data dalam praktikum pengujian prestasi mesin diesel 4-langkah


adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Hasil pengamatan pengujian mesin diesel 4-langkah
PENGAMATAN
Pengujian 1 2 3 4 5 6 7 8
Zeolit - - - - - - - -
Temperatur 29 29 29 29 29 29 29 29
ruangan
(oC)
Putaran 2032 2032 2512 2530 3026 3020 3535 3520
mesin
(Rpm)
Beban 1 1 1 1 1 1 1 1
tergantung
(kg)
Torsi (Nm) 3,3 3,35 3,4 3,45 3,6 3,7 4 4
Waktu 126 134 100 111 75 76 51 52
pemakaian
bahan
bakar
(detik)
Laju 13 13 14 14 15 15 16 16
pemakaian
udara
(mm.H20)
Temperatur 95 100 110 110 135 145 200 200
gas buang
(oC)

Tabel 4.1 Hasil perhitungan pengujian mesin diesel 4-langkah


rpm daya gas buang torsi (Nm) Bsfc
(kW) (K) (kg/kWh)
2032 0,707 370,5 3,325 0.2632
2521 0,9037 383 3,425 0.2537
3023 1,154 413 3,65 0.2776
3527,5 1,476 473 4 0.318257

4.1 Pembahasan

Pada praktikum prestasi mesin kali ini dilakukan 8 kali percobaan pada
mesin diesel . Percobaan tersebut bertujuan unuk mengetahui prestasi mesin
motor bakar solar 4–langkah dan karakteristiknya melalui pengukuran dan
analisa parameter-parameter operasi yang divariasikan juga dapat
melakukan pengukuran dan analisa parameter-parameter operasi yang
divariasikan selain itu bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan
udara terhadap prestasi mesin yang dihasilkan.

Untuk mengetahui prestasi suatu mesin maka dilakukan pengujian prestasi


mesin di Laboratorium Motor Bakar Universitas Lampung dengan
menggunakan alat uji unit instrumenasi TD114. Alat uji prestasi mesin yang
digunakan berfungsi untuk mengetahui torsi mesin, daya mesin, temperature
gas buang, putaran mesin, laju pemakaian bahan bakar dan laju prmakaiana
udara pembakaran.
Pada praktikum ini terdapat prosedur-prosedur yang harus dipenuhi antara
lain, pengkalibrasian torsimeter TD114. Setelah torsimeter selesai
dikalibrasi maka tahap selnjutnya adalah memutar span control hingga
posisi maksimum (searah jarum jam), selanjutnya mengguncangkan
dinamometer untuk mengatasi kekakuan sel bantalan setelah itu memutar
zero control hingga torsimeter terbaca nol. Menggucangkan dinamometer
lagi untuk memeriksa keakuratan posisi nol. Menggantungkan beban
sebesar 1 kg pada lengan dinamometer mengguncangkan dinamometer lagi
hingga pembacaan torsimeter stabil.

Setelah tahap-tahap diatas terpenuhi maka selanjutnya adalah


menghidupkan mesin dieselnya. Langkah-langkah yang harus dilakukan
untuk menghidupkan mesin diesel adalah membuka katup bahan bakar ke
mesin (KBM), lalu membuka katup air umpan dinamometer hingga terlihat
air keluar dari dynamometer setelah itu menarik tuas starting secara cepat
hingga motornya hidup. Selanjutnya proses pengujian siap dilakukan.

Pertama yang harus dilakukan adalah mencatat temperatur ruangan


laboratorium diperoleh hasil 29°C. Langkah selanjutnya adalah
menggantungkan beban sebesar 1 kg pada dinamometer. Berikutnya
mengatur gas mesin diesel hingga terbaca ± 2000 Rpm untuk variasi 2000
Rpm. Setelah itu menghitung dan mencatat waktu pemakaian 8 ml bahan
bakar, putaran mesin, torsi, temperature gas buang dan pemakaian
pembakaran pada monometer mmH2O. Melanjutkan untuk variasi putaran
mesin dengan cara yang sama seperti diatas dengan menggunakan variasi
putaran mesin 2000 Rpm, 2500 Rpm, 3000 Rpm dan 3500 rpm . Untuk
variasi tiap putaran dilakukan 2 kali , sesudah putaran 3000 rpm maka
dilakukan pengujian ulang lagi pada putaran 2000 rpm dan seterusnya.

Pengujian yang pertama adalah menggunakan mesin diesel dengan putaran


mesin sebesar 2032 rpm dengan temperatur udara sekitar adalah 29 °C
didapatkan torsi sebesar 3,3 Nm, temperatur gas buang 95 oC, laju
pemakaian udara 13 mmH2O dan waktu pemakaian bahan bakar 126 detik.
pengujian kedua diperoleh putaran mesin 2512 Rpm dengan temperature
ruangan sebesar 29 °C didapatkan torsi 3,4 Nm, temperatur gas buang 110
o
C, laju pemakaian udara 14 mmH2O dan waktu pemakaian bahan bakar
100 detik.

Pengujian ketiga putaran mesin yang digunakan adalah sebesar 3026 Rpm
dengan temperatur udara sekitar adalah 29 °C didapatkan torsi sebesar 3,6
Nm, temperatur gas buang 135 oC, laju pemakaian udara 15 mmH2O dan
waktu pemakaian bahan bakar 75 detik. Pengujian keempat putaran mesin
yang digunakan adalah sebesar 3535 Rpm dengan temperatur udara sekitar
adalah 29 °C diperoleh sebesar 6 Nm, temperatur gas buang 200 oC, laju
pemakaian udara 16 mmH2O dan waktu pemakaian bahan bakar 51 detik.

Pengujian kelima yaitu dilakukan pengulangan penggunaan besar putaran


yaitu dilakukan pada ± 2000 rpm dan seterusnya . Pada pengujian kelima ini
menggunakan putaran mesin sebesar 2032 Rpm dengan temperatur udara
sekitar adalah 29 °C, didapatkan torsi sebesar 3,35 Nm, temperatur gas
buang 100oC, laju pemakaian udara 13 mmH2O dan waktu pemakaian
bahan bakar 134 detik. Pengujian keenam menggunakan putaran mesin
sebesar 2530 Rpm dengan temperatur udara sekitar adalah 29 °C diperoleh
torsi sebesar 3,45 Nm, temperatur gas buang 110 oC, laju pemakaian udara
14 mmH2O dan waktu pemakaian bahan bakar 111 detik.

Pengujian ketujuh menggunakan putaran mesin sebesar 3020 Rpm dengan


temperatur udara sekitar adalah 29 °C diperoleh torsi sebesar 3,7 Nm,
temperatur gas buang 145 oC, laju pemakaian udara 15 mmH2O dan waktu
pemakaian bahan bakar 76 detik. Pengujian yang terakhir yaitu pengujian
yang kedelapan menggunkan putaran mesin 3520 Rpm, diperoleh torsi
sebesar 4 Nm, temperatur gas buang 200 oC, laju pemakaian udara 16
mmH2O dan waktu pemakaian bahan bakar 52 detik. Setelah data
pengamatan diperoleh maka dilakukan perhitungan dengan mencari daya ,
torsi rata-rata , temperatur gas buang rata-rata dan konsumsi bahan bakar
spesifik (bsfc). Dari perhitungan pengujian mesin diesel 4-langkah untuk
putaran mesin 2032 Rpm diproleh daya 0,707 kW, temperatur gas buang
370,5 K, torsi 3,325 Nm dan konsumsi bahan bakar spesifik 0.2632
kg/kWh. Pada putaran mesin 2521 Rpm diproleh daya 0,9037 kW,
temperatur gas buang 383 K, torsi 3,425 Nm dan konsumsi bahan bakar
spesifik 0.2537 kg/kWh. Pada putaran mesin 3023 Rpm diproleh daya 1,154
kW, temperatur gas buang 413 K, torsi 3,65 Nm dan konsumsi bahan bakar
spesifik 0.2776 kg/kWh. Pada putaran mesin 3527,5 Rpm diproleh daya
1,476 kW, temperatur gas buang 473 K, torsi 4 Nm dan konsumsi bahan
bakar spesifik 0.318257 kg/kWh.

1.6
1.4
1.2 1.476
Daya (kW)

1 1.154
0.8
0.9037
0.6
0.707 Daya
0.4
0.2
0
2000 2500 3000 3500
Putaran Mesin (Rpm)

Gambar 4.1 Grafik pengaruh putaran mesin terhadap daya

Pada grafik diatas menjelaskan pengaruh putaran mesin terhadap daya yang
dihasilkan mesin diesel 4-langkah pada putaran mesin 2000 Rpm dayanya
adalah 0,707 kW, putaran mesin 2500 Rpm dayanya adalah 0,9037 kW,
putaran mesin 3000 Rpm dayanya adalah 1,154 kW dan putaran mesin
3527,5 Rpm dayanya adalah 1,476 kW. Putaran mesin dapat mempengaruhi
dari daya yang dihasilkan karena pada persamaan mencari daya terdapat
variabel N atau putaran mesin, dimana putaran mesin tersebut sifatnya dapat
berubah. Jadi, semakin tinggi putaran mesin yang dihasilkan mesin diesel 4-
langkah ini akan menghasilkan daya yang besar juga.
5

Torsi (Nm)
4
3 3.65
3.325 3.425
2
Torsi
1

0
2000 2500 3000 3500
Putaran Mesin (Rpm)

Gambar 4.2 Grafik pengaruh putaran mesin terhadap torsi

Pada grafik diatas menjelaskan pengaruh putaran mesin terhadap torsi yang
dihasilkan. Torsi disini merupakan torsi rata-rata dari 2 pengujian setiap
variasi putaran mesin yang didapatkan agar hasil yang didapatkan lebih
akurat. Pada putaran mesin 2000 Rpm torrsinya adalah 3,325 Nm, putaran
mesin 2500 Rpm torsinya adalah 3,425 Nm, putaran mesin 3000 Rpm
torsinya adalah 3,65 Nm dan putaran mesin 3500 Rpm torsinya adalah 4
Nm. Hasil dari pengujian jika disesuaikan dengan teori torsi akan sama
,yaitu semakin besar putaran mesin maka torsi yang akan dihasilkan mesin
tersebut akan semakin meningkat. Torsi juga berpengaruh pada daya yang
akan dihasilkan suatu mesin.

500
Temperatur Gas Buang (K)

450
473
400
350 413
383
300
250 307.5
200
Temperatur gas buang
150
100
50
0
2000 2500 3000 3500
Putaran Mesin (Rpm)

Gambar 4.3 Grafik pengaruh putaran mesin terhadap temperature gas buang
Pada grafik diatas menjeaskan pengaruh putaran mesin terhadap temperatu
gas buang yang dihasilkan mesin untuk putaran mesin 2000 rpm temperatur
gas buangnya adalah 370,5 K, putaran mesin 2500 rpm temperatur gas
buangnya adalah 383 K, putaran mesin 3000 rpm temperatur gas buangnya
adalah 413 K dan putaran mesin 3000 rpm temperatur gas buangnya adalah
473 K. Temperatur saat putaran mesin 2000 Rpm dan 2500 Rpm sama yaitu
3 an daripada saat pembacaan temperatur dilakukan, karena temperatur gas
buang akan semakin naik jika putaran mesin tersebut dinaikkan juga.73 K
hal ini mungkin dapat disebabkan karena kesalahan dari praktik
0.35

0.3
0.318257
Bsfc (kg/kWh)

0.25 0.2776
0.2632 0.2537
0.2

0.15
Bsfc
0.1

0.05

0
2000 2500 3000 3500
Putaran Mesin (Rpm)

Gambar 4.4 Grafik pengaruh putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar
spesifik (bsfc)

Pada grafik diatas menjelaskan pengaruh putaran mesin terhadap konsumsi


bahan bakar spesifik (bsfc) untuk putaran mesin 2000 Rpm konsumsi bahan
bakar spesifiknya (bsfc) adalah 0.2632 kg/kWh, putaran mesin 2500 Rpm
konsumsi bahan bakar spesifiknya (bsfc) adalah 0.2537 kg/kWh, putaran
mesin 3000 Rpm konsumsi bahan bakar spesifiknya (bsfc) adalah 0.2776
kg/kWh dan putaran mesin 3500 Rpm konsumsi bahan bakar spesifiknya
(bsfc) adalah 0.318257 kg/kWh. Dari hasil perhitungan untuk konsumsi
bahan bakar spesifik saat putaran mesin 2000 Rpm dan 2500 Rpm menurun
yaitu dari 0.2632 menjadi 0.2537 sedangkan saat putaran mesin naik
menjadi 3000 Rpm dan 3500 Rpm maka, konsumsi bahan bakar spesifiknya
pun akan naik dari 0.2776 menjadi 0.318257.
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang diperoleh dalam praktikum pengujian mesin


diesel 4-langkah ini adalah sebagai berikut:
1. Semakin tinggi putaran mesin makan semakin tinggi pula daya yang
dihasilkan.
2. Bsfc lebih besar dari standar mesin diesel yaitu 0.194 kg/kwh karena
torsi yang dihasilkan kecil.
3. Torsi suatu mesin dapat mempengaruhi dari daya yang dihasilkan oleh
mesin diesel 4-langkah. Jika beban yang digantungkan semakin
bertambah akan menaikkan torsi mesin tersebut.
4. Semakin tinggi putaran mesin makan semakin tinggi pula temperature
gas buang yang dihasilkan .

5.2 Saran

Adapun saran dalam praktikum pengujian mesin diesel 4 langkah ini adalah
sebagai berikut:

1. Saat pengujian sebaiknya menggunakan perlengkapan safety sehingga


bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
2. Sebaiknya praktikum dilakukan pada jadwal yang sudah di sepakati
daria awal.
3. Dalam praktikum sebaiknya untuk alat pengujiannya otomatis agar data-
data yang diperoleh lebih akurat.
4. Sebaiknya praktikan harus lebih teliti agar data yang diamati lebih
akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Irawansyah , Herry. 2017. Diktat Kuliah Mesin Konversi Energi. Jurusan Teknik
Mesin, Fakultas Teknik , Universitas Lambungan Mangkurat,
Banjarmasin.

Maskurie, Abdie. 2014. Mesin Konversi Energi. Dapat diakeses di


http://abdieallstudy.blogspot.com/2014/11/mesin-konversi-energi-moto
r -bakar.html?m=1 pada tanggal 30 September 2018 pukul 17:00 WIB

Pasaribu, Mangihot. 2016. Pengertian Motor. Dapat diakses


dihttp://pengertiandanartikel.blogspot.com/2016/pengertian-
motor.html?m=1 pada tanggal 29 September 2018 pukul 15:00 WIB

Wikipedia. 2018. Motor Bakar Diesel. Dapat diakeses di https://wikipedia.


org/wiki/Motor_bakar_dieselpada tanggal 29 September 2018 pukul
16:00 WIB