Anda di halaman 1dari 19

BLOK

26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS


PENGHANTAR PSIKIATRI

PENGHANTAR PSIKIATRI
Pendahuluan
Definisi Psikiatri
Cabang Psikiatri
Konsep Normalitas
Konsep Sehat
Konsep Gangguan Jiwa
Konsep Biopsikososial-kultural-spiritual : Penyebab umum gangguan jiwa.
Pengenalan Psikodinamika dan mekanisme mental.
Teori stress dan gangguan

Oong Djunaidi – Ade Kurnia Surawijaya

PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran khususnya
psikiatri semakin pesat dalam kurun waktu seratus tahun terakhir. Berbagai konsep-konsep baru
dalam memahami diri dan lingkungan manusia, fungsi otak dan pengaruh dalam perilaku,
korelasi fungsi otak dan emosi yang ditimbulkan, daya neuroplastisitas dari syaraf, fungsi
penyampai pesan (neurotransmiter) dalam timbulnya gangguan jiwa, obat-obatan psikiatri yang
bertambah efektif dan efisien, hubungan psikiatri dan budaya serta masyarakat, dan sebagainya.
Misteri mengenai otak semakin terbuka perlahan dengan berbagai penelitian-penelitian yang
bersifat sporadis dan mencakup hampir seluruh dunia dari tingkat sel sampai tingkat masyarakat
pada umumnya, sehingga semakin pula penurunan stigmatisasi terhadap orang dengan gangguan
jiwa, yang pada akhirnya seluruh manusia dapat memahami arti dari berbagi dan peduli
terhadap sesama.

DEFINISI
Psikiatri adalah salah satu cabang ilmu kedokteran yang mempelajari segala hal yang
berhubungan dengan gangguan jiwa, yaitu pengenalan, pengobatan, rehabilitasi, dan
pencegahan serta juga dalam hal pembinaan dan peningkatan kesehatan jiwa.
Kata psikiatri berasal bahasa Yunani yaitu “psyche” dan “iatros”; psyche yang berarti
“jiwa” atau “pikiran” dan iatros yang berarti penyembuh. Dalam mitologi Yunani, Psyche
adalah wanita biasa yang diberikan hidup abadi oleh Zeus.

KAPITA SELEKTA 1
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

CABANG PSIKIATRI
a) Psikiatri anak dan remaja: cabang ilmu psikiatri yang mempelajari gangguan jiwa pada
anak dan remaja (dibawah 18 tahun).
b) Psikiatri geriatri: cabang ilmu psikiatri yang mempelajari gangguan jiwa pada orang
lanjut usia. Tujuannya adalah mempertahankan kehidupan sosial orang lanjut usia
dalam komunitasnya selama mungkin serta menyediakan perawatan yang dibutuhkan.
c) Psikiatri Komunitas: cabang ilmu psikiatri yang mempelajari strategi, efektivitas, serta
efisiensi penyaluran program pelayanan kesehatan jiwa dalam populasi/komunitas
tertentu.
d) Psikiatri forensik: cabang ilmu psikiatri yang berhubungan dengan aspek legal/hukum;
termasuk: kriminologi, penologi, hukuman untuk penderita gangguan jiwa, peran
psikiater dalam kasus kompensasi serta saksi ahli dalam suatu persidangan.
e) Psikiatri sosial: dalam psikiatri, stres berasal dari pengaruh lingkungan dan dampak
suatu grup sosial pada suatu individu, sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan dan
penatalaksanaan gangguan jiwa.
f) Psikiatri kultural: cabang ilmu psikiatri yang mempelajari pengaruh lingkungan budaya
pada kesehatan jiwa dalam suatu populasi budaya tertentu. Bila fokusnya lebih dari
satu budaya biasanya digunakan kata Psikiatri transkultural.

KONSEP NORMALITAS

Normality : a state of complete physical, mental and social well-being (WHO) atau suatu pola
perilaku atau ciri kepribadian yang tipikal atau memenuhi standar berperilaku yang layak dan
cara-cara yang dapat diterima secara umum.

KONSEP SEHAT
Sehat adalah
• keadaan sehat yang paripurna secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas
dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947)
• Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
(UU Kesehatan no 36 Tahun 2009)
• tujuan pengobatan bukan sekedar penyembuhan atau mengurangi gejala/penyakit 
meningkatkan kualitas hidup seoptimal mungkin (meskipun misalnya terbatas oleh
adanya kecacatan atau disabilitas).

KAPITA SELEKTA 2
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

Sehat Jiwa adalah


• … a state of well-being in which the individual realizes his or her own abilities, can
cope with the normal stresses of life, can work productively and fruitfully, and is able to
make a contribution to his or her community (WHO, 2008)
• “Upaya kesehatan jiwa ditujukan untuk menjamin setiap orang dapat menikmati
kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang
dapat mengganggu kesehatan jiwa.”
(UU Kesehatan no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Jiwa pasal 144 ayat 1)

Ciri-ciri orang sehat jiwa adalah


• Menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya
• Mampu menghadapi stres kehidupan yang wajar
• Mampu bekerja secara produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya
• Dapat berperan serta dalam lingkungan hidup
• Menerima baik dengan apa yang ada pada dirinya
• Merasa nyaman bersama orang lain
Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa, DirJen BPM, DepKes RI 2008

KONSEP GANGGUAN JIWA

Gangguan jiwa adalah


• A Behavioral or psychological syndrome or pattern associated with distress, or with a
significantly increased risk of suffering, death, pain, disability, or an important loss of
freedom
 NOT MERELY AN EXPECTED AND CULTURALLY
SANCTIONED RESPONSE TO A PARTICULAR EVENT
• Psychiatric illness or disease whose manifestations are primarily characterized by
behavior or psychological impairment of function, measured in terms of deviation from
some normative concept. (DSM IV - Sadock BJ., Sadock VA., Kaplan & Sadock’s
Synopsis of Psychiatry)

PENYEBAB GANGGUAN JIWA

Penyebab gangguan jiwa atau etiologi, adalah: bagian ilmu kedokteran yang berhubungan
dengan pengetahuan tentang sebab-sebab yang menimbulkan gangguan atau penyakit.

KAPITA SELEKTA 3
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

Sebagai contoh; penyebab penyakit dementia paralytica adalah spirochaeta pallidum,


namun tidak semua orang yang terkena infeksi spirochaeta pallidum akan mengalami paralytica.
mengapa hal demikian dapat terjadi?
Perlu diingat, disamping terkena infeksi bakteri tersebut, harus pula kita pertimbangkan
adanya faktor lain yang turut berpengaruh dalam penjelmaan penyakit tersebut.
Demikan pula dalam ilmu kedokteran jiwa, tidak semua orang dalam suatu daerah yang
mengalami bencana alam, akan menjelma menjadi gangguan atau penyakit, bagi perkembangan
gangguan jiwa bencana alam itu bukan satu-satunya penyebab gangguan jiwa.
Sesuai dengan pendekatan diagnosa dalam ilmu kedokteran jiwa yang bersifat eklektik
dan holistik, dimana dikaji sistim organobiologik, psikologik serta sosial.
Sehingga dalam pendekatan ilmu kedokteran jiwa, penyebab gangguan jiwa tidak
disebabkan oleh satu faktor saja, tetapi terdapat beberapa faktor yang bersama-sama saling
mempengaruhi satu sama lain dan berhasil menjelmakan gangguan jiwa.
Dengan perkataan lain penyebabnya bersifat multikausalitas (adanya beberapa sebab
yang bersama-sama menimbulkan gangguan jiwa) dan bukan bersifat monokausalitas (hanya
satu sebab menimbulkan gangguan).
Disamping itu dalam etiologi gangguan atau penyakit kita juga mengenal istilah
predisposisi dan presipitasi.
Predisposisi adalah suatu kondisi pada individu dimana seorang individu menjadi rentan
terhadap suatu gangguan atau dikenal dengan resiko tinggi untuk mendapatkan gangguan.
Presipitasi atau pencetus adalah kondisi dimana situasi tersebut menyebabkan timbulnya
gangguan jiwa.
Mengingat penyebab yang multikausalitas, dalam psikiatri dikenal juga aliran lainnya
yang menggambarkan bentuk gangguan tersebut, akibat interaksi antara faktor kepribadian,
mental mekanisme dan penyebab yang dikenal dengan psikodinamika.

ETIOLOGI
Secara garis besar penyebab gangguan jiwa bisa kita ketahui menurut beberapa golongan
penyebab:

A.Golongan penyebab konstitusional (atau endogen).


Golongan penyebab bersifat konstitusional umumnya dianggap terikat pada sifat
individual: yakni sifat familier atau sifat herediter individu yang bersangkutan.
Bila sifat heredo-konstitusional yang menjadi sebab utama dalam gangguan jiwa;
gangguan tersebut terletak pada watak dasar individu yang bersangkutan, oleh karena itu sering

KAPITA SELEKTA 4
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

kali memperlihatkan sifat periodik-cyclik dan mempunyai kelainan hidup afektif yang menonjol
seperti dysthimik, hyperthimik dan sebagainya.
Gangguan yang sampai saat ini dianggap mempunyai sifat herediter yang kuat adalah
skizofrenia, psikosa manik depresif (gangguan afektif bipolar), dan lain sebagainya.

B.Golongan penyebab Organobiologik (atau eksogen).


Faktor penyebab dalam hal ini terikat pada suatu keadaan organisitas atau biologik
(kondisi medik tertentu) yang menyimpang, seperti adanya infeksi, trauma, kelainan vaskuler,
neoplasma, kurang gizi dan lain sebagainya.
Gangguan jiwa yang dianggap sebab organik ini terbagi dalam :
a. Golongan gangguan jiwa simtomatik.
Golongan gangguan jiwa simtomatik adalah suatu keadaan yang disebabkan karena adanya
gangguan jasmaniah (kondisi medik tertentu), tanpa terjadinya kerusakan pada substansi
otak.

Pada umumnya keadaan disebabkan oleh karena infeksi, intoksikasi atau keadaan kelelahan
(exhaustion). Salah satu tanda klinis yang karakteristik pada keadaan ini yakni adanya
kesadaran yang berubah atau merendah yang disertai keadaan delirium. Para pakar psikiatri
menyebutkan hal ini sebagai sindroma otak (“brain syndrome”).

Hal ini merupakan gangguan jiwa yang diakibatkan karena kondisi medik tertentu, sesuai
dengan diganosa dalam psikiatri yang menggunakan lima aksis, maka aksis ketiga diisi
dengan kondisi medik tersebut. Beberapa gangguan jiwa yang sering menyertai (comorbid)
adalah akibat penyakit malaria, thypoid, influenza, dan lain sebagainya.

Hal penting lainnya yang memerlukan perhatian psikiatri adalah suatu keadaan intoksikasi
seperti misalnya akibat uremia, pre-koma hepatis, pre-koma diabetikum, hyperthyroidi,
maupun adanya gangguan-gangguan jasmaniah yang menahun seperti penyakit keganasan
lainnya.
b. Golongan gangguan jiwa organik.
Golongan gangguan jiwa organik yaitu dimana adanya suatu proses dalam substansi otak,
gangguan ini didapatkan pada gangguan peredaran darah, atau pembuluh darah, kelainan
berdasarkan infeksi seperti encephalitis, dementia paralytic. Akibat lues, trauma kapitis dan
intoksikasi akibat zat-zat adiktif lainnya.

KAPITA SELEKTA 5
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

C.Golongan penyebab yang berhubungan dengan interaksi psikososial. (Psikogen)


Faktor penyebab golongan ini akibat psikotrauma yang tidak bisa dicerna secara
sempurna oleh kepribadian, sehingga trauma tersebut seolah-olah sebagai suatu hal yang
patogen yang suatu saat akan menimbulkan menimbulkan gangguan.
Gangguan yang sering kita dapatkan akibat psikotrauma adalah gangguan seperti;
obsesi-kompulsi, reaksi kecemasan, reaksi panik, reaksi kecemasan, reaksi dissosiatif, fobia dan
lain sebagainya.

D.Neuro-psikiatri.
Neuro psikiatri merupakan disiplin klinik yang mempelajari tingkah laku individu yang
normal atau tergangganggu berdasarkan gambaran susunan saraf pusat (otak).
Hal ini tergambar dari kelainan neurologik seperti pada cerebro-vaskuler acident atau
adanya lesi otak mempunyai kaitan erat dengan dengan gangguan kognisi, alam perasaan dan
perilaku.
Psikobiologi subspesialisasi psikiatri yang mempelajari gangguan perilaku mencari
penyebabnya berdasarkan neuroanatomi maupun neuro kimiawi.
Melalui penelitian dengan menggunakan magnetoencehalography seperti PET (positron
emission tomography; SPECT (single photon tomography), menggambarkan suatu pola saraf
yang berkaitan dengan emosi yang spesifik, kemampuan kognitif dan kondisi perilaku dan
aktivitas.
Apa yang mempengaruhi hal tersebut? Hal ini dipengaruhi keadaan neurotransmitter.
Neurotransmitter ini tersebar dalam substansi otak (neurotransmitter, neuromodulator),
yang dibagi dalam empat klasifikasi besar:
1. Monoamin,
2. asam amino,
3. neurotransmitter peptida dan
4. neurotropins (juga dikenal sebagai neurotrophics).
- Dua neurotransmiter lainnya tidak termasuk klasifikasi ini,seperti:
- gas nitric oxid
- Dan neurotransmiter yang berkaitan dengan purine adenosine dan
adenosinetriphospat(ATP).
Neurotransmiter monoamine mempunyai:
- lima tipe serotonin,
- tiga cathecholamine (epinephrine, nor epinephrine dan dopamin), acethyl cholin dan
histamine.

KAPITA SELEKTA 6
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

Monoamine neurotransmiter ini diproduksi oleh sel otak dan terdapat dalam synaps
cabang-cabang neuron, mempunyai fungsi yang kompleks, karena mempunyai proyeksi cabang-
cabang yang padat sehingga dapat mempengaruhi setiap bagian dari susunan otak.
Salah satu struktur mental yang mampu mendiskripsikan/menggambarkan diri sendiri
dan lingkungan adalah kognisi dari asal kata cognition yang berarti pengamatan.
Kognisi ini merupakan kemampuan individu untuk menggambarkan keadaan
lingkungan atau diri sendiri; merupakan jaringan neuroanatomi yang terorganisir secara
kompleks.
Struktur tersebut berfungsi menerima rangsangan; kemudian bagian proses pikir
memproses serta mengorganisir, dimana fenomena ini dapat disebut sebagai dasar
tindakan/perilaku.
Proses psikologik, perilaku individu secara keseluruhan akan menjadi selaras atau tidak
selaras tergantung dari kemampuan kognisi individu tersebut.
Individu yang mengalami gangguan kognisi secara klinis memperlihatkan; perlambatan
gerakan psikomotor, hilangnya daya ingat, bingung, sulit membuat keputusan dan lain
sebagainya.
Kemampuan kognisi diatur oleh neuromodulator yang dikenal dengan neurotransmitter
Berdasarkan keadaan neurotransmitter ini, pengobatan gangguan perilaku
mempergunakan psikotropika.

PENGENALAN PSIKODINAMIKA DAN MEKANISME MENTAL


Psikopatologi adalah suatu pengetahuan yang sistimatik tentang etiologi, perkembangan,
pembagian dari suatu gangguan dalam hal ini khususnya mengenai psike atau tingkah laku
individu, dan meliputi berbagai konsep teori yang dianutnya.
Sedangkan psikodinamika adalah suatu pengetahuan tentang hal ichwal dorongan
kehendak (motivasi), dalam proses psikik sehingga terjelma suatu tanda-tanda klinis, gejala
klinis maupun tingkah laku individu (tindakan individu).
Psikopatologi dan psikodinamika keduanya biasanya digunakan sebagai alat komunikasi
antara sesama profesi untuk menjelaskan kasus-kasus yang didapatkan.
Dimana perbedaan psikopatologi dan psikodinamika?Tidak ada pembatasan yang jelas
antara keduanya, nampaknya saling mengisi dalam menegakkan diagnosa gangguan psikiatri.
Aliran psikodinamika merupakan suatu aliran yang dalam psikiatri dan psikologi yang
dianut oleh Adolf Meyer dan para pakar lainnya, dimana penafsiran tingkah laku manusia atas
dasar normal atau abnormal; motivasi-motivaisi; kepribadian individu serta reaksi yang
diberikan individu saat menghadapi kondisi tertentu.

KAPITA SELEKTA 7
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

Metoda yang digunakan adalah observasi, membentuk suatu hipotesa serta memberikan
kesimpulan.
Dengan perkataan lain pengetahuan mengenai jiwa individu dapat diperoleh dari melalui
penelitian dengan seksama dari tindakan-tindakannya, yang umumnya merupakan penjelmaan
dari, apakah dari motivasinya atau pergolakan dalam jiwanya.
Pemeriksaan psikiatri yang secara karakteristik memperhatikan perilaku individu baik
normal atau abnormal, seringkali juga disebut ilmu tingkah laku abnormal (science of abnormal
behaviour).
Perlu kita ingat pada prinsipnya tiap tindakan atau perilaku individu mempunyai
motivasi dan selalu terpengaruh oleh proses-proses dalam psikenya.
Penjelmaan tindakan atau perilaku individu umumnya terjadi bila ada rangsangan atau
stimuli yang mengenai individu tersebut.
Bila individu hidup dalam suatu lingkungan tertentu, maka individu tersebut akan selalu
terangsang oleh hal-hal yang berada dalam lingkungan tersebut, baik dengan individu lain atau
benda-benda, disamping terpengaruh juga akan berusaha mempengaruhi lingkungannya, hal ini
dikenal dengan interaksi.
Jadi pengaruh lingkungan atas diri individu datang sebagai stimulus (rangsangan), dan
individu bereaksi (memberikan respon) terhadap stimulus itu, yang dapat ditafsirkan ikhtiar
individu untuk mempengaruhi lingkungan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan
sekitarnya.

S I R
(s = stimulus) (I = Individu) (R=response/reaksi)

Proses psike yang terjadi adalah sebagai berikut:


Bila terjadi perubahan situasi (dikenal sebagai rangsangan), individu akan bersikap
diam, memberikan response untuk adaptasi (menyesuaikan diri) maupun memberikan response
untuk mempengaruhi (merubah) lingkungan.
Sebelum memberikan suatu response/tindakan dikenal suatu fase pre response dimana
individu mempersiapkan diri baik yang dikenal dengan persiapan mental (psikik) dan fisik.
a. Persiapan psikik: yang dilakukan; antara lain terjadi konsentrasi proses pikir dipertajam,
menjelmakan hidup emosi yang sesuai dan lain sebagainya, sehingga terbentuk tujuan yang
hendak dicapai, kemudian alasan atau motif mengapa harus bertindak. Bila suatu response
tanpa motif dapat dikatakan terjadi secara reflex.

KAPITA SELEKTA 8
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

Dalam hal ini motif tidak sama dengan stimulus, yang biasanya sudah ada sesuai dengan
dorongan kebutuhan individu tersebut. Misalnya rasa haus menimbulkan motif untuk
minum, walaupun belum ada rangsangan dalam bentuk air.
b. Persiapan fisik atau faali: Terjadinya perubahan berbagai proses biokimiawi dan sekresi
kelenjar-kelenjar eksokrin maupun endokrin misalnya adrenalin diperbanyak terjadi
kecepatan denyut jantung, kadar glucosa darah dipertinggi, pernapasan dipercepat dan lain
sebagainya.
Disamping itu terjadi perubahan pula pada tonus-tonus otot kerangka (meningkat), daya
tangkap pancaindera dan lain sebagainya.
Maksud dari proses tadi ditujukan untuk mempertinggi efisiensi dalam pergerakan/tindakan.
Sebaliknya proses lain yang tidak langsung berhubungan dengan tindakan dihentikan atau
dikurangi.

Perihal yang demikian ini disebut sebagai proses-proses katabolik,dimana diperlukan energi
yang berlebih, bila tindakan telah dilakukan maka proses-proses tersebut kembali kepada
keadaan semula yaitu proses relaksasi/tenang (sebelum adanya stimulus dan niat untuk
bertindak.
Pada keadaan tenang ini dapat dikatakan sebagai proses-proses anabolik.

Situasi reponse/reaksi atau tindakan dapat digambarkan sebagai berikut:

Stimulus Individu Pra tindakan (persiapan sebelum tindakan) Tindakan.

Bila tindakan terlaksana sesuai dengan tujuan, motif dan stimulus yang dikehendaki
maka akan terjadi fase tenang kembali.
Bila tindakan belum terlaksana atau mendapat hambatan,proses pra tindakan akan
berlangsung terus menerus, sudah jelas akan memerlukan tenaga dan kewaspadaan.
Keadaan pra tindakan ini bila berlangsung lama akan menimbulkan suatu keadaan
ketegangan apalagi bila tujuan tak tercapai akan menimbulkan kekecewan (frustrasi), dan akan
menjelma menjadi tanda-tanda klinis maupun gejala klinis.
Keadaan frustrasi atau tidak terpenuhinya kepuasan pada dasarnya merupakan awal dari
gangguan, bisa sebagai predisposisi maupun pencetus suatu gangguan.
Pelbagai gangguan tersebut dapat memanifestasikan dirinya dalam bentuk gangguan
fisiologik suatu organ, yang dikenal sebagai gangguan psikofisiologik; dan bila gejala-gejala
somatik yang menonjol seperti kelumpuhan dikenal sebagai gejala konversi, jika gejala mental

KAPITA SELEKTA 9
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

emosional yang menonjol dikenal dengan gangguan mental emosional yang bisa bersifat ringan
maupun berat.
Perlu kita ketahui bahwa motif-motif dan tujuan-tujuan pada pasien umumnya tak
disadari oleh pasien itu sendiri. Demikian juga dengan frustrasi yang dialminya tak disadari,
karena tidak disadarinya hal ini maka pasien akan jatuh sakit atau terganggu jiwanya.

Kumpulan tanda klinis maupun gejala klinis disebut gangguan,bisa berupa:


a. Gangguan jiwa bila faktor klinis “mental emosional” yang menonjol.
b. Gangguan psiko-fisiologik bila fungsi dari organ-organ tubuh yang mengalami perubahan
atau.
c. Bila faktor somatik yang menonjol dapat berupa gangguan konversi bahkan dapat
mengakibatkan penyakit-penyakit fisik tertentu.

Pandangan psikodinamik mengemukakan:

Situasi frustrasi akan menimbulkan kecemasan, rasa gelisah dan kekhawatiran (“anxiety”),
menurut teori ini motif dan tujuan sering kali tak disadari oleh individu, atau bisa juga motif dan
tujuan diketahui oleh pasien, namun suatu saat timbul pertentangan yang mengejutkan individu,
hal ini dikenal dengan kontra motif. Oleh karena adanya pertentangan ini maka individu akan
berusaha untuk menghalau motif tersebut, sehingga terdapat di alam tidak sadar, pengahalauan
ini dikenal dengan mental mekanisme disebut represi. Dengan adanya represi ini akan
menimbulkan anxietas, yang merupakan suatu pertanda adanya proses tertentu dalam jiwa.
Individu akan berusaha untuk menghilangkan anxietas tersebut, bila ia berhasil maka ia akan
sehat kembali, namun bila tak berhasil akan terjadi gangguan.

Keadaan frustrasi dapat digambarkan sebagai berikut:

motif tujuan.

Hambatan/rintangan

Terdorong oleh motif tertentu, individu berusaha untuk mencapai tujuan, namun bila
ada hambatan atau rintangan yang kuat, dan motif tersebut masih tetap ada, maka individu akan
berusaha dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan perkataan lain individu

KAPITA SELEKTA 10
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

akan berusaha untuk mengatasi keadaan frustrasi tersebut, dan usaha ini kita kenal dengan
mekanisme pertahanan mental.
Mekanisme pertahanan mental merupakan salah satu fungsi dari jiwa yang bertujuan
untuk menyesuaikan diri dengan timbulnya perubahan-perubahan.
Dalam bidang fisik kita mengenal adanya daya tahan tubuh (immunitas), yang
merupakan faal pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit. Sebagai contoh bila adanya
bakteri menyerang tubuh seseorang, maka tubuh akan bereaksi dengan memberikan tanda
panas, sakit dan sebagainya. Disamping tanda-tanda tertentu, terjadi suatu proses faali
dimana sel-sel darah putih diperbanyak dan berusaha untuk membunuh atau mengeluarkan
bakteri tersebut, dan akan menjaga agar tubuh tetap sehat.
Demikian juga dengan pelindung psikis kita mempunyai macam-macam mekanisme
pertahanan (mental mechanism atau adjustment mechanism).
Pada dasarnya mekanisme pertahanan psikis tersebut berupa melawan (fight) atau lari
(flight) dari masalah yang dihadapinya (perubahan yang terjadi).
Namun karena pengaruh dorongan kehendak; lingkungan dan budaya individu, maka
melawan atau menghindar tersebut mengalami perubahan-perubahan (modifikasi) seperti
kompensasi, simbolisasi, sublimasi, proyeksi dan lain sebagainya.
Menurut Freud mekanisme pertahanan yang paling sering digunakan adalah mekanisme
represi, sedangkan Anna Freud dalam tulisannya mengenai: The Ego and The mechanism of
Defense; setiap orang baik yang normal maupun yang mengalami gangguan menggunakan
mekanisme pertahanan yang kharakteristik dan berulang.
Mekanisme pertahanan dapat dikelompokkan dalam hirarkis menurut derajat
kematangan kepribadian individu tersebut. Misalnya pertahanan yang narsisistik digunakan oleh
anak-anak dan orang yang mengalami gangguan psikotik; pertahanan immature terdapat pada
remaja dan gangguan nonpsikotik.
Terdorong oleh motif yang terus menerus ada serta individu berkehendak mencapai
tujuannya, maka individu akan berusaha untuk mendapatkannya dengan berbagai macam cara,
agar anxietas/kecemasan tersebut hilang.
Beberapa mekanisme pertahanan individu biasanya berupa:
- Pertahanan narsistik berupa; penyangkalan, distorsi, proyeksi dan lain sebagainya.
- Pertahanan Immatur; memerankan, penghambatan, hipokhondriasis, identifikasi, perilaku
pasif agresif, introyeksi, somatisasi, regresi, khayalan skizoid dan lain sebagainya.
- Pertahan neurotik; pengalihan, pengendalian, dissosiasi, eksternalisasi, inhibisi,
intelektualisasi, Isolasi, rasionalisasi, pembentukan reaksi, represi dan sebagainya.

KAPITA SELEKTA 11
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

- Sedangkan pertahanan matur adalah; humor, altruisme, antisipasi, humor, supresi dan
sublimasi.
Hambatan-hambatan yang seringkali dapat menimbulkan gangguan jiwa adalah: yang
bersifat masalah-masalah dalam kehidupan, konflik-konflik yang dihadapi individu.
Perlu ditegaskan disini masalah-masalah yang dihadapi individu sebetulnya merupakan
masalah yang bersifat pribadi baginya; dengan lain perkataan mungkin masalah yang sama bagi
individu tertentu tidak merupakan permasalahan namun pada individu tertentu merupakan
masalah yang besar.
Jadi hambatan tersebut dalam hal ini tidak dapat dianggap sebagai kausa atau penyebab
gangguan namun hanya sebagai pencetus saja. (precipitating factor)
Apakah sebabnya antara dua individu yang mengalami masalah atau hambatan yang
sama dimana individu yang satu mendapat gangguan namun yang lainnya tetap sehat?
Pada umumnya para pakar berpendapat bahwa pada individu yang mendapat gangguan
ada faktor tertentu yang dikenal dengan faktor predisposisi.
Faktor predisposisi ini ditentukan oleh:
a. keadaan fisik individu yang bersifat herediter serta sebab-sebab yang didapat selama
pertumbuhan fisik.
b. Faktor-faktor terletak dibidang psikologi, terutama pengalaman selama perkembangan
mentalnya.
Faktor kepribadian sebagian besar ditentukan akibat poses belajar sebelumnya,
mengingat sejak lahir individu harus belajar bagaimana cara-caranya menghadapi berbagai
masalah yang dihadapinya. Demikian juga dalam bidang fisik kita dihadapkan dalam maslah
masalah baru seperti makanan yang lebih keras, invasi bakteri dan virus, yang oleh organisme
jasmaniah harus dicerna atau diselasaikan dengan baik, sehingga didapatkan suatu fisik yang
sehat dan tahan terhadap hambatan maupun gangguan, demikian juga dalam bidang mental
emosional sehingga terdapat kepribadian yang matang.
Salah satu unsur yang memegang peranan dalam perkembangan kepribadian adalah
“rasa diri yang nyaman”, yang akan diperoleh dalam bentuk kasih sayang dari lingkungannya
atau pengasuhnya. Dengan adanya rasa diri yang nyaman maka anak akan dapat belajar dengan
baik, tekun dan sabar terutama bila ia dihadapkan dalam berbagai masalah dalam kehidupan
yang menunggu penyelesaian yang wajar. Ditinjau dari bidang ilmu kedokteran jiwa rasa rasa
diri yang nyaman merupakan suatu faktor yang utama, bagaimana bila terjadi hal yang
sebaliknya?
Keadaan yang menegangkan atau rasa diri yang tak nyaman tersebut terutama bila
berlangsung lama akan mengakibatkan hal-hal yang kurang baik pula. Keadaan dimana rasa

KAPITA SELEKTA 12
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

kurang nyaman akan mengakibatkan suatu kekecewaan atau frustrasi pada si anak. Si anak akan
secara terus menerus dalam dirinya merasa cemas, gelisah khawatir, ketakutan dan kurang
tenang, untuk mengatasi hal demikian si anak akan berusaha mengatasinya dengan segala upaya
dan energinya, ini merupakan suatu situasi hidup yang tidak efisien yang seolah-olah
pemborosan energi kreatif yang ada. Dan bila semua energi telah dikerahkan untuk mengatasi
ketegangan yang ada, apalagi yang tertinggal untuk belajar yang lainnya?
Oleh sebab itu makin besar dan makin lamanya frustrasi terjadi, makin besar pula
kemungkinan untuk timbulnya gangguan – gangguan jiwa pada individu tersebut.
Sikap kasih sayang atau menimbulkan suatu kondisi yang nyaman tersebut dari orang
tua atau pengasuh, masing-masig individu akan memberikan respons yang bersifat subyektif
dengan lain perkataan suatu rangsangan tertentu akan direspons secara individual, yang berbeda
dari individu yang satu dengan yang lainnya.
Sehingga dalam tumbuh kembang kepribadian, orang tua atau pengasuh diharapkan
dapat menentukan suatu sikap yang cocok untuk masing-masing individu. Demikian juga dalam
praktek atau proses psikoterapi diperlukan interpretasi pasien sendiri oleh terapis, sehingga
psikodinamika memegang peranan yang penting dalam proses psikoterapi.

Formulasi Diagnostik
- Jenis stresor:
– Presipitasi.
– Predisposisi.
- Jenis kepribadian:
– Riwayat perkembangan.
– Pengalaman sebelumnya.
– Pendidikan dsbnya.
- Mekanisme mental saat adaptasi.
- Diagnostik.
Merupakan interpretasi terapis.

Kesimpulan:
Penyebab gangguan jiwa adalah hal-hal yang menyebabkan terganggunnya :
1. Sistim biologik.
2. Sistim psikologik.
3. Sisitim sosial.

KAPITA SELEKTA 13
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

4. Gejala klinis merupakan mental mekanisme akibat interaksi individu dengan


rangsangan lingkungan atau dari dalam dirinya.

STRESS.

Pengertian stress adalah suatu bentuk ketegangan yang terjadi pada alat-alat tubuh, secara
fisiologik, psikologik maupun perilaku. Kita mengenal istilah eustres yakni ketegangan yang
masih dapat diterima secara fisik maupun mental emosional, individu tersebut masih dapat
bertindak secara optimal.
Distress ketegangan dimana perubahan baik fisik maupun mental emosional sehingga individu
tersebut tidak dapat bertindak secara optimal, bahkan menunjukkan gejala-gejala gangguan.
Stressor merupakan rangsangan yang menimbulkan stress, terdapat dalam bentuk fisik seperti:
kondisi lingkungan yang penuh polusi, suara yang keras dan lain sebagainya, atau bentuk mental
emosional seperti imaginasi yang negatif, dan pada dasarnya stressor merupakan suatu
perubahan. Dalam kehidupan stres tak dapat dihindarkan,yang menjadi masalah ialah
bagaimana kita dapat hidup dengan stress tanpa adanya distress. Proses terjadinya stress, bila
kita menghadapi suatu perubahan fisik maupun psikis, sadar atau tidak tubuh akan mengadakan
antisipasi selama terjadi antisipasi tersebut terjadi suatu perubahan pada sistim saraf, sistim
hormonal, sistim pencernaan, sistim kardiovaskuler dan sebagainya, sikap ini bisa berhasil dan
tidak berhasil, berbeda dari individu yang satu ke yang lainnya.

Berdasarkan antisipasi tersebut kita mengenal beberapa tahapan dari stress;


Tahap I:
Adalah suatu situasi dimana ia merasa mempunyai kemampuan yang meningkat,
pancaindera menjadi lebih tajam serta semangat yang meningkat, yang biasanya bisa
berlangsung berbulan-bulan sampai satu dua tahun, tahapan ini biasanya menyenangkan
namun tanpa disadarinya bahwa energinya mulai mengurang.

Tahap II:
Dalam tahapan ini biasanya hal-hal yang menyenangkan mulai hilang dan timbul
keluhan-keluhan karena cadangan energi mulai tak cukup lagi untuk sepanjang hari dan
keluhan yang sering dikemukakan adalah:
 Merasa letih saat bangun pagi.
 Merasa lelah sesudah makan siang.
 Atau merasa lelah menjelang sore hari.

KAPITA SELEKTA 14
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

 Terkadang adanya gangguan dalan sistim pencernaan, berupa diarrhea ringan,


perut kembung, atau disertai jantung yang berdebar.

Tahap ke III., gejala-gejala menjadi lebih menonjol:


 sakit perut, mules sering ingin kebelakang.
 Otot-otot terasa lebih tegang.
 Perasaan tegang semakin meningkat.
 Biasanya disertai adanya gangguan dalam tidur.
 Badan terasa oyong dengan perasaan mau pingsan.

Tahap ke IV.
Tahapan ini menunjukkan keadaan yang lebih buruk lagi yang ditandai dengan cirri-ciri
sebagai berikut:
 Untuk bertahan sepanjang hari terasa sulit.
 Kegiatan yang semula menyenangkan kini terasa sulit.
 Kehilangan kemampuan untuk menaggapi situasi, pergaulan sosial dan
kegiatan-kegiatan rutin lainnya terasa berat.
 Tidur makin sukar.
 Kemampuan konsentrasi menurun tajam.
 Perasaan takut dan cemas yang sulit dijelaskan sebabnya.

Tahap ke V.
Tahap ini merupakan keadaan yang lebih mendalam dari tahap ke IV:
 Keletihan yang mendalam.
 Untuk pekerjaan yang sederhana saja kurang mampu.
 Perasaan takut menjadi panik.

Tahap ke VI.
Tahapan ini biasanya merupakan tahapan puncak,gejala-gejala cukup
mengerikan:
 Debaran jantung terasa amat keras
 Napas menjadi sesak dan megap-megap.
 Badan gemetar,tubuh dingin keringat bercucuran.
 Kadang-kadang terjadi pingsan.
 Tak jarang pada tahapan yang bersangkutan dibawa ke unit gawat darurat.

KAPITA SELEKTA 15
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

Bila kita lihat secara menyeluruh tahapan-tahapan ini menunjukkan gejala-gejala psikis dan
fisik, dimana dibidang fisik berupa kelelahan dan dibidang psikis berupa depresi dan
kecemasan.

Reaksi terhadap stres berat dan gangguan penyesuaian.


Kategori gangguan dalam kelompok ini dikenal selain atas dasar gejala-gejala
gangguan klinis dan perjalanan penyakitnya, harus ada salah satu dari kedua faktor pencetus ini
:
- stress berat yang akan mengakibatkan gangguan stress akut pada siapa saja yang
menerimanya atau
- adanya perubahan dalam kehidupan yang secara emosional menimbulkan perasaan tidak
nyaman yang berkelanjutan yang berakibat suatu gangguan penyesuaian.

Reaksi stres akut.


Reaksi stres akut merupakan respons terhadap terhadap stres fisik maupun mental yang berat
seperti bencana alam, kecelakaan, peperangan, tindakan perkosaan atau kriminal lainnya yang
mengancam jiwa seseorang) atau suatu perubahan mendadak, tanpa adanya gangguan jiwa lain.
Pedoman diagnostik:
- Harus adanya kaitan waktu yang langsung dan jelas antara terjadinya stresor dan reaksi
individu (bisa langsung atau setelah beberapa menit atau jam).
- Gambaran gejala pada permulaannya terpaku (daze), kemudian akan tampak gejala sebagai
berikut; depresi, kemarahan, kekecewaan, over aktif dan tindakan penarikan diri akan tetapi
tidak satupun dari gejala tersebut mendominasi dalam waktu lama.
- Gejala-gejala dapat menghilang dengan cepat, paling lama setelah 24-48 jam.

Gangguan penyesuaian.
Gangguan penyesuaian merupakan suatu gangguan yang timbul pada situasi-situasi
stres yang subyektif dan gangguan emosional biasanya mengganggu kinerja dan fungsi sosial.
Predisposisi atau kerentanan individu dalam hal ini lebih berperan. Onset biasanya satu
bulan setelah terjadinya peristiwa yang merupakan stresor. Gejala-gejala yang timbul
bervariasi dari depresi, kecemasan disertai disabilitas dalam mengerjakan pekerjaan rutin, dan
lamanya gejala tidak lebih dari enam bulan.

KAPITA SELEKTA 16
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

Gangguan stres pascatraumatik.


Supaya pasien dapat diklasifikasikan dalam gangguan ini, mereka harus mengalami
stresor yang besar yang akan traumatik bagi setiap orang yang mengalaminya seperti; trauma
peperangan, bencana alam, penyerangan, perkosaan dan kecelakaan yang serius.
Psikopatologi:
1. Pengalaman kembali trauma melalui mimpi atau pikiran yang membangunkan
trauma tersebut.
2. Penghindaran yang persisten terhadap trauma dan penumpulan respons.
3. Adanya kesadaran yang berlebih terhadap stress.
4. Gejala-gejala timbul pada selama dua hari sampai empat minggu.

Epidemiologi.
Prevalensi seumur hidup dan umumnya 1 – 3% dari populasi akan mengalami, dan 5 -
15% akan mengalami gejala-gejala subklinis. Gangguan ini bisa terjadi pada semua umur,
namun paling menonjol pada dewasa muda, traumanya bisa berupa peperangan, bencana alam,
penyerangan atau perkosaan.

ETIOLOGI:
Diperlukan adanya stresor yang akan menjadi traumatik bagi setiap individu.
Faktor prediposisi:
1. adanya trauma masa anak-anak.
2. gangguan kepribadian.
3. sistim pendukung yang kurang.
4. kerentanan konstitusional.
5. kehidupan yang penuh stress.

Psikodnamika:
Kognitif:
Yang bersangkutan tidak mampu memproses atau merasionalisasikan masalah yang
dihadapinya. Dalam pola pikirnya terbentuk suatu konsep mengenai trauma tersebut yang
menakutkan.
Psikoanalitik; mengaktivasi konflik psikologik yang sebelumnya diam.

DIAGNOSA:
Kriteria diagnosa gangguan stress pasca traumatik (DSMIV).

KAPITA SELEKTA 17
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

A.Orang terpapar dengan kejadian traumatik sebagai berikut:


1. Orang mengalami, menyaksikan atau dihadapkan dengan trauma yang mengancam
kehidupan.
2. Respons orang tersebut merasa takut yang sangat kuat atau merasa tak berdaya.
B.Kejadian traumatik tersebut secara menetap dialami kembali dalam satu atau lebih melalui
cara berikut :
1. Terjadinya pengingatan kembali dari trauma tersebut melalui proses pikir, bayangan
atau persepsi.
2. Mimpi berulang tentang kejadian trauma tersebut.
3. Berperilaku atau merasa kejadian traumatik berulang kembali.
4. Reaktivasi psikologis internal atau eksternal saat terpapar dengan kejadian,
menyimbolkan.
5. Penderitaan psikologis kuat.
C.Penghindaran stimulus yang persisten berhubungan dengan trauma, seperti:
1. Usaha untuk menghindari pikiran,persepsi atau percakapan yang berhubungan dengan
trauma.
2. Usaha untuk menghindari aktivitas, tempat atau orang yang menyadarkan rekoleksi
dengan trauma.
3. tidak mampu untuk mengingat aspek penting dari trauma.
4. perasaan terlepas atau asing dari orang lain.
5. rentang afek yang terbatas.
6. perasaan bahwa masa depan menjadi pendek.
D.Adanya gejala menetap seperti:
1. kesulitan tidur.
2. adanya irritabilitas.
3. sulit konsentrasi.
4. kewaspadaan berlebihan.
5. respon kejut yang berlebihan.
E.Lamanya gangguan lebih dari satu bulan.
F.Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna, fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi
lainnya.
Catatan:
Onset : Akut lamanya gejala kurang 3 bulan.
Kronis jika lamanya 3 bulan atau lebih.
Dengan onset lambat sekurang-kurangnya terjadi gejala setelah 6 bulan dari kejadian.

KAPITA SELEKTA 18
BLOK
26 BEHAVIOUR & PSYCHIATRIC PROBLEMS
PENGHANTAR PSIKIATRI

DAFTAR PUSTAKA:
1. Kaplan and Sadock edisi VII.
2. D.S.M.IV.-Tr
3. Pedoman Penggolongan Diagnosa gangguan Jiwa III

KAPITA SELEKTA 19