Anda di halaman 1dari 18

SISTEM INTEGUMEN

DISUSUN OLEH

WINNY AYUWIRA ASHARY (21)

4141141079

BIOLOGI DIK C 2014

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2016

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas Rahmat-Nya,
akhirnya penulisnya dapat menyelesaikan MAKALAH ANATOMI FISIOLOGI
MANUSIA mengenai “SISTEM INTEGUMEN” yang dibawakan Oleh Ibu Dra.
Erlintan Sinaga, M. Kes.

Makalah ini untuk memenuhi mata kuliah ANATOMI FISIOLOGI


MANUSIA, dalam makalah ini penulis membahas tentang komponen integumen,
fungsi integumen, struktur kulit, derivat-derivat kulit, kulit sebagai pengatur suhu
tubuh, pigmentasi pada kulit, tumor kulit, serta penyakit pada kulit.

Penulis menyedari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, karena
keterbatasan kemampuan, pengalaman, dan ilmu yang dimiliki ataupun kurangnya
sumber pustaka. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat diharapkan untuk
penyempurnaan dengan pengembangan makalah ke arah yang lebih baik. Semoga
segala yang tertuang dalam makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita
semua, baik sekarang mau pun di masa yang akan datang.

Akhir kata, penulis mohon maaf sebesar-besarnya apabila terdapat banyak


kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Atas perhatiannya, penulis
mengucapkan banyak terimakasih.

Medan, 15 Februari 2016

Kelompok 5

Winny Ayuwira Ashary

2
DAFTAR ISI

Hal

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

DAFTAR GAMBAR iv

BAB I PENDAHULUAN 1

BAB II PEMBAHASAN 2

2.1. Komponen Integumen 2

2.2. Fungsi Integumen 2

2.3. Struktur Kulit 3

2.4. Derivat-derivat Kulit 5

2.5. Kulit sebagai Pengatur Suhu Tubuh 9

2.6. Pigmentasi Kulit 10

2.7. Tumor pada Kulit 12

2.8. Penyakit pada Kulit 12

DAFTAR PUSTAKA 14

3
DAFTAR GAMBAR

Hal

Gambar 2.1. Struktur kulit 3

Gambar 2.2. Penampang epidermis 4

Gambar 2.3. Penampang dermis 5

Gambar 2.4. Struktur rambut 6

Gambar 2.5 Struktur kuku 7

Gambar 2.6. Penampang kelenjar keringat 8

Gambar 2.7. Penampang kelenjar minyak 8

Gambar 2.8. Skema pengturan suhu oleh kulit 9

4
BAB I

PENDAHULUAN

Sistem integumen merupakan sistem yang membentuk lapisan terluar pada


tubuh. Integumen terdiri dari kulit beserta derivat-derivatnya yang terspesialisasi
seperti rambut, kuku, dan beberapa jenis kelenjar.

Kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar menutupi dan
melindungi permukaan tubuh.

Kulit merupakan alat pertahanan eksternal yang dirancang untuk


mencegah penetrasi mikroba apabila jaringan tubuh terpajan ke lingkungan
eksternal.

Tubuh mengadakan kontak langsung dengan lingkungannya melalui


integumennya yakni kulit. Oleh karena itu kulit memiliki peran untuk melindungi
tubuh dari kerusakan mekanis atau fisik yang diakibatkan lingkungan sekitar.

5
BAB II

PEMBAHASAN

SISTEM INTEGUMEN

2.1. Komponen Integumen

Integumen terdiri dari beberapa komponen, komponen tersebut adalah:

1. Kulit, merupakan organ terbesar tubuh. Pada laki-laki dengan berat badan
75 kg, kulit dapat memiliki berat lebih kurang 4,5 kg yang menutupi area
seluas 1,67 m2.
2. Kuku jari, yakni salah satu bentuk derivatif kulit yang ditemukan hanya
pada ordo primata.
3. Rambut, adalah spesialisasi kulit yang hanya terdapat pada kelas mamalia.
4. Kelenjar kulit, meliputi kelenjar minyak, kelenjar keringat, dan kelenjar
susu.

2.2. Fungsi Integumen

Adapun fungsi dari sistem integumen adalah sebagai berikut:

1. Melindungi, kulit melindungi tubuh dari ancaman mikroorganisme,


kehilangan cairan, dan dari zat-zat kimia penyebab iritasi maupun
mekanik. Kulit juga mengandung pigmen melanin yang mampu
melindungi dari radiasi sinar ultraviolet.
2. Mengatur suhu tubuh, pembuluh darah serta kelenjar keringat pada kulit
berfungsi untuk mempertahankan serta mengatur suhu tubuh.
3. Pengekskresi zat berlemak, air, serta ion-ion Na+.
4. Metabolisme, proses sintesis vitamin D yang penting untuk tulang
dilakukan di kulit dengan bantuan sinar matahari.
5. Komunikasi, kulit menerima stimulus dari lingkungan dengan reseptor
khusus yang dapat mendeteksi suhu, sentuhan, tekanan, dan nyeri. Kulit

6
juga merupakan media ekspresi wajah dan refleks vaskuler yang penting
dalam komunikasi.

2.3. Struktur Kulit

Kulit dapat dibedakan menjadi dua lapisan yaitu lapisan Epidermis dan
Dermis. Tepat dibawah dermis terdapat lapisan hipodermis yang banyak disusun
oleh jaringan adiposa (jaringan lemak).

Gambar 2.1. Struktur kulit

2.3.1. Epidermis

Epidermis merupakan lapisan yang mengandung sel pigmen berfungsi


memberi warna pada kulit. Epidermis berfungsi melindungi kulit dari kerusakan
oleh sinar matahari. Epidermis tersusun atas 5 lapisan utama yaitu:

a. Stratum Germinativum
Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling bawah, berbatasan
langsung dengan dermis. Melekat pada jaringan ikat. Pada lapisan ini
terjadi pembelahan sel yang sangat cepat dimana sel yang baru dibentuk

7
akan didorong masuk ke lapisan berikutnya. Sel-sel yang dihasilkan dari
pembelahan tersebut dapat mencapai berjuta-juta sel setiap harinya.
b. Stratum Spinosum
Lapisan ini disatukan oleh tonjolan yang menyerupai spina. Spina ini
merupakan bagian penghubung intraseluler yang disebut desmosom.
c. Stratum Granulosum
Lapisan ini merupakan daerah sel-sel mulai mati karena akumulasi
molekul bakal keratin yang memisahkan sel-sel ini dari daerah dermal.
Stratum ini merupakan prekursor pembentukan keratin. Keratin adalah
protein keras dan resilien, bersifat anti air dan melindungi permukaan kulit
yang terbuka. Namun keratin yang terdapat pada epidermis merupakan
keratin yang lunak yang berkadar sulfur rendah. Berbeda dengan keratin
yang ada pada kuku dan rambut.
d. Stratum Lusidum
Lapisan ini terdiri dari sel-sel berbentuk perisai yang jernih dan tembus
cahaya.
e. Stratum Korneum
Lapisan ini merupakan lapisan terluar dari epidermis yang melindungi
tubuh terhadap lingkungan. Lapisan ini disebut lapisan bertanduk karena
tersusun dari sel-sel berkeratin yang merupakan sel mati. Keratin yang
bersifat tahan air akan melindungi jaringan lebih dalam terhadap
kekurangan air. Lapisan ini terus-menerus mengalami gesekan dan
mengelupas, namun akan terus diganti oleh sel-sel yang lebih dalam yaitu
stratum germinativum.

Gambar 2.2. Penampang epidermis

8
2.3.2. Dermis

Dermis merupakan lapisan kulit yang lebih sensitif. Mengandung


pembuluh darah, limfa, saraf, kelenjar, dan folikel rambut yang muncul ke
permukaan dalam bentuk papillae. Lapisan ini dipisahkan dari epidermis dengan
adanya membran dasar atau lamina. Membran ini terdiri dari dua jaringan ikat.

Gambar 2.3. Penampang dermis

a. Lapisan papilar
Lapisan dermal ini terletak paling atas yang terlihat bergelombang.
Merupakan jaringan ikat areolar renggang dengan fibroblas, sel mast, dan
makrofag. Papila dermal adalah proyeksi seperti kerucut yang menjorok ke
arah epidermis.
b. Lapisan retikular
Adalah lapisan kulit paling dalam yang mengandung banyak arteri, vena,
kelenjar keringat, kelenjar minyak, serta reseptor tekanan. Lapisan papilar
dan retikular mengandung banyak serat kolagen dan elastisyang
menyebabkan kulit lebih elastis. Pada orang usia lanjut serat ini menjadi
sangat berkurang sehingga kulitnya mudah keriput.
2.3.3. Lapisan subkutaneus (hipodermis)
Lapisan ini mengandung banyak sel lemak, juga beisi banyak pembuluh
darah dan ujung saraf.

2.4. Derivat-derivat Kulit


Kulit memiliki beberapa derivatif, yaitu:
2.4.1. Rambut

9
Rambut berada hampir di seluruh tubuh. Sebagian berupa rambut vellus,
yang kecil dan tak berwarna. Rambut terminal biasanya kasar dan dapat dilihat,
tertanam di kulit kepala, alis dan bulu mata.
Rambut berasal dari folikel rambut yang sudah terbentuk sebelum lahir.
Rambut terdiri akar yakni bagian yang tertanam dalam folikel, batang rambut
yang berada di atas permukaan kulit. Akar dan batang rambut disusun atas:
a. Kutikula, lapisan terluar yang tersusun sel mati yang bersisik.
b. Korteks, merupakan lapisan yang terkeratinisasi, membentuk bagian
utama batang rambut. Pada bagian ini terdapat pigmen yang menetukan
warna rambut.
c. Sebuah medula, terdiri dari dua sampai tiga lapis sel.
Rambut di kulit kepala tumbuh dalam masa 2 sampai 6 tahun dan
memasuki fase selama 3 bulan sebelum rontok. Rambut tubuh tumbuh
sepanjang 0,05 inci/minggu. Sedangkan rambut kepala butuh waktu 7
minggu untuk tumbuh 1 inci.

Gambar 2.4. Struktur rambut

2.4.2. Kuku
Kuku adalah lempeng pelindung yang berasal dari perpanjangan epidermis
ke dermis. Kuku mengandung keratin keras yang berlekuk yang terletak di atas
kuku. Kuku mendapat nutrisi dari pembuluh darah. Kuku dapat tumbuh 0,5 mm
perminggu dan lebih cepat di musim panas.
Bagian-bagian kuku antara lain: akar kuku, badan kuku, kutikel,
hiponikium, dan lunula.

10
Badan kuku tumbuh dari akar kuku yang tertanam di dalam kulit. Kutikel
adalah lipatan epidermis berlekuk yang menutup akar kuku. Hiponikium adalah
stratum korneum tebal di bawah ujung lepas kuku. Sedangkan lunula adalah area
berwarna putih berbentuk melengkung dekat kutikel.

Badan kuku

Gambar 2.5. Struktur kuku

2.4.3. Kelenjar pada Kulit

1. Kelenjar Keringat (Sudorifera)

Terbagi atas dua jenis berdasarkan strukturnya:

a. Kelenjar keringat ekrin, kelenjar ini tersebar luas di seluruh tubuh.


Tidak berhubungan dengan folikel rambut. Sekresi kelenjar ini
berguna mempertahankan suhu tubuh.
b. Kelenjar keringat apokrin, kelenjar ini penyebarannya terbatas.
Ditemukan di aksila, areola payudara, dan regia anogenital. Kelenjar
apokrin di ketiak dan anogenital pada masa pubertas menghasilkan
sekresi sebagai respon stres atau gembira. Biasanya tidak berbau,
namun akan berbau saat bereaksi dengan bakteri. Kelenjar apokrin
seruminosa, tertelatak di telinga sebagai getah telinga dan kelenjar
siliaris Moll yang terletak pada mata. Sementara kelenjar mamae
adalah kelenjar apokrin yang termodifikasi menghasilkan susu.

11
Gambar 2.6. Penampang kelenjar keringat

2. Kelenjar Minyak (Sebasea)

Kelenjar ini mengeluarkan sebum yang dialirkan ke folikel rambut.

a. Kelenjar sebasea adalah kelenjar holokrin


b. Sebum adalah campuran lemak, zat lilin, minyak dan pecahan-pecahan
sel.
c. Jerawat adalah gangguan pada kelenjar sebasea dimana kulit menjadi
terinfeksi karena reaksi kelenjar minyak dengan bakteri menyebabkan
kulit menjadi meradang dan bernanah.

Gambar 2.7. Penampang kelenjar minyak

12
2.5. Kulit sebagai Pengatur Suhu Tubuh

Mekanisme pengaturan suhu tubuh oleh pusat pengatur suhu dalam


hipotalamus bila suhu tubuh meningkat dapat dilihat pada skema berikut:

Suhu pusat tubuh


meningkat

Termoreseptor pusat (dalam hipotalamus, korda spinalis


organ abdominal)

Pusat Pengintegrasi Termuregulatori


Hipotalamik

Sistem Saraf Sistem Saraf


Simpatetik Simpatetik

Pembuluh darah Kelenjar keringat


kulit

Vasodilatasi Berkeringat

Kulit menguapkan keringat


dengan mengambil panas
dari darah

Suhu pusat tubuh


kembali normal

Gambar 2.8. Skema pengturan suhu oleh kulit

13
Bila suhu pusat tubuh meningkat, maka perubahan suhu ini akan diterima
oleh termoreseptor pusat. Sinyal ini di teruskan ke pusat integrasi termoregulatori
hipotalamik yang kemudian mengurangi pengiriman sinyalnya lewat saraf
simpatetik ke pembuluh darah bawah kulit. Akibatnya, darah panas mengalir ke
bawah kulit. Disamping itu, sinyal juga di sampaikan ke kelenjar keringat untuk
mengekskresikan keringat ke permukaan kulit. Berikutnya adalah menguapkan
keringat dengan mengambil panas dari darah yang mengakibatkan suhu pusat
tubuh kembali normal.

Proses yang sama terjadi apabila tubuh menghadapi suhu lingkungan yang
panas, hanya perubahan suhu inimula-mula diterima oleh termoreseptor periferal
pada kulit. Selanjutnya termoreseptor periferal akan menyampaikan sinyalnya ke
pusat pengintegrasi termoregulatori hipotalamik yang meneruskannya ke
pembuluh darah bawah kulit dan kelenjar keringat. Proses selanjutnya sama
seperti bila suhu pusat tubuh meningkat.

Sebaliknya apabila tubuh menghadapi suhu lingkungan yang dingin, maka


hipotalamus akan mengatur penurunan kehilangan panas dan meningkatkan
produksi panas. Penurunan kehilangan panas dilakukan melalui perintah ke
pembuluh darah dibawah kulit, dan kelenjar keringat akan menghentikan ekskresi
keringat.

2.6. Pigmentasi Kulit

Lapisan stratum germinativum epidermis mengandung pigmen melanosit.


Melanin adalah suatu pigmen yang memiliki kisaran warna dari kuning sampai
hitam. Melanin dibentuk di dalam melanosit, dengan batuan enzim tirosinase,
terhadap asam amino tirosin. Jika enzim ini tidak ada, maka kulit tidak akan
mempunyai pigmen (albinisme).

14
Langkah dasar pembentukan melanin adalah sebagai berikut:

Tirosinase

Tirosin intermediet Dihidroksi fenilalanin Substansi

(Indol quinon)

Polimerasi + protein granula melanin

Melanin

Pigmentasi melanin secara umum diatur oleh Melanosit Stimulating


Hormon (MSH) yang diproduksi oleh kelenjar pituitari anterior.

Dermis juga kaya akan pembuluh limfe dan serabut saraf. Banyak ujung
saraf berakhir pada dermis berubah menjadi reseptor khusus, sehingga mampu
mendeteksi perubahan yang terjadi pada lingkungan kemudian disambungkan ke
otak.

Adapun ujung-ujung saraf tersebut yaitu:

a. Ruffini, peka terhadap panas


b. Paccini, peka terhadap tekanan
c. Crausse, peka terhadap dingin
d. Meisner, peka terhadap sentuhan berat
e. Merkle, peka terhadap sentuhan ringan

Produksi melanin meningkat apabila kulit terpapar sinar matahari


langsung. Jumlah melanosit 1.000/mm2 sampai 2.000/mm2, perbedaan genetik
dalam besarnya jumlah produksi melanin dan pemecahan pigmen yang lebih
melebar mengakibatkan perbedaan ras. Pigmentasi terbesar terjadi pada puting
susu, areola, area sirkumanal, skrotum, penis, dan labia mayora dan tempat
pigmen terendah yaitu telapak tangan dan kaki.

Pada orang berkulit putih (Caucasian), darah dalam pembuluh dermal


dibawah lapisan epidermis dapat terlihat menghasilkan pewarnaan lebih merah

15
muda. Sementara karoten, pigmen kuning, hanya ditemukan pada stratum
korneum dalam sel lemak dermis dan hipodermis.

2.7. Tumor pada Kulit

1. Benign:

a. Papilloma : tumor epitelial, pada kulit mulut, kantong urin

b. Adenoma : tumor epitelial, menyerang kelenjar, ditemukan dekat


payudara, dan kelenjar tiroid

c. Fibrosa : tumor jaringan fibrosa, dimana saja, kebanyakan langsung


dibawah kulit

d. Lipoma : tumor lemak, pada leher, bahu hingga bokong, dimana


terdapat deposit lemak

e. Chondroma : tumor perusak kartilago, terutama pada ujung tulang


dimana ada kartilago

2. Malignant

a. Karsinoma

b. Sarkoma

2.8. Penyakit pada Kulit

1. Ecezema

Merupakan inflamasi superficial, tidak menular, kronis, ditandai erytema,


melepuh, kerak, rasa gatal. Merupakan jenis eksem berupa peradangan
kulit di sekitar lekukan kulit, menyebabkan rasa gatal yang disebabkan
alergi.

2. Urticaria

16
Merupakan inflamasi akibat reaksi kulit terhadap suatu allergen, yang
disebabkan makanan, obat, logam dan vaksin. Reaksi yang ditimbulkan
meningkatkan permeabilitas sel, menimbuklkan edema, gatal, dan iritasi.

3. Jerawat

Merupakan inflamatoris pada kelenjar minyak yang aktif. Kelenjar sebasea


meningkatkan produksi sebum, yang bereaksi dengan mikroorganisme
mengahsilkan jerawat.

4. Dermatitis
Peradangan kulit kepala, wajah, atau bagian lain yang disebabkan level
hormon, nutrisi, infeksi, dan stres.
5. Psoriasis
Inflamatori kronik yang memiliki ciri-ciri penebalan dan kemerahan.
6. Onikomikosis
Peradangan kuku yang disebabkan infeksi jamur.
7. Impertigo
Infeksi permukaan kulit oleh streptococci atau staphylococcihemolytic.
8. Folliculitis
Infeksi folikel rambut oleh staphylococci
Penyakit kulit yang disebabkan virus, antara lain:
1. Herpes simplex ; melepuh, memerah.
2. Herpes zoster ; ruam saraf, sinaganaga.
3. Veruca vulgaris ; kutil

17
DAFTAR PUSTAKA

Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia (Dari Sel ke Sistem). Jakarta: EGC

Sinaga, Erlintan, M. Silitonga. 2011. Anatomi Fisiologi Manusia. Medan:


UNIMED

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC

Sobotta, Frithjof Hammersen. 1993. Histologi Atlas Bewarna Anatomi


Mikroskopik Edisi III. Jakarta: EGC

Tim Dosen. 2015. Penuntun Praktikum Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia.
Medan: FMIPA UNIMED

18