Anda di halaman 1dari 6

RINGKASAN MATERI KULAIH

BAB 16 ALOKASI BIAYA : PRODUK GABUNGAN DAN PRODUK


SAMPINGAN

Disusun Oleh :

Salwa Aqmarina Izzati (17013010201)


Riski Eka Nur S (17013010202)
Nuruk Izzah (17013010211)
Azura Nur Adila (17013010212)
Imam Zhafirulloh (17013010219)
Andi Firmansyah (17013010224)
Elvina Hardiyanti (17013010233)
Kelompok 6
Akuntansi F

Dosen Pengampu :
Dr. Diah Hari S. M.Si, Ak, CA, CMA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR
SURABAYA
2018
ALOKASI BIAYA : PRODUK GABUNGAN DAN PRODUK SAMPINGAN

1. DASAR BIAYA GABUNGAN


Biaya gabungan (joint-cost) adalah biaya proses produksi yang menghasilkan berbagai
produk secara bersamaan. Titik splitoff (splitoff point) adalah saat yang kritis dalam proses
produksi gabungan apabila dua atau lebih produk dapat diidentifikasi secara terpisah. Biaya
yang dapat dipisahkan (separable cost) adalah semua biaya manufaktur, pemasaran,
distribusi, dan sebagainya yang terjadi di luar titik splitoff yang dapat dibebankan ke setiap
produk spesifik yang diidentifikasi pada titik splitoff. Hal yang menjadi fokus dalam
kalkulasi biaya gabungan (joint costing) adalah pegalokasian biaya ke setiap produk pada
titik splitoff.

1.1. Produk Utama, Produk Gabungan, dan Produk Sampingan


Istilah produk (product) menggambarkan setiap output yang memiliki nilai jual positif
(atau output yang memungkinkan suatu perusahaan terhindar dari keharusan mengeluarkan
biaya, seperti produk kimia lanjutan yang digunakan sebagai input dalam proses lainnya).
Jika proses produksi gabungan menghasilkan satu produk dengan total nilai jual yang
tinggi, dibandingkan dengan total nilai jual produk lainnya dari proses tersebut, produk itu
disebut sebagai produk utama (main product). Jika proses produksi gabungan
menghasilkan dua tau lebih produk dengan total nilai jual yang tinggi dibandingkan dengan
total nilai jual produk lainnya, jika ada, produk itu disebut sebagai produk gabungan (joint
product). Produk yang dihasilkan dari proses produksi gabungan yang memiliki total nilai
jual yang rendah dibandingkan dengan total nilai jual produk utama atau produk gabungan
disebut sebagai produk sampingan (by product). Perbedaan di antara produk utama,
produk gabungan, dan produk sampingan dalam pratiknya sangat tidak terbatas.

2. Alokasi Biaya Gabungan (Allocating Joint Costs)


Biaya gabungan harus dialokasikan untuk masing-masing produk atau layanan untuk
beberapa tujuan termasuk berikut :

 Perhitungan biaya persediaan dan harga pokok penjualan untuk tujuan akuntansi
keuangan serta pelaporan kepada otoritas pajak penghasilan.
 Perhitungan biaya persediaan dan harga pokok penjualan untuk tujuan pelaporan
internal.
 Pembayaran kembali biaya kepada perusahaan yang segelintir, tetapi tidak semua,
produk atau jasanya dibayar kembali menurut kontrak biaya-plus dengan, misalnya,
agen pemerintahan.
 Perhitungan penyelesaian asuransi atas klaim kerusakan yang dilakukan berdasarkan
informasi tentang biaya produk yang dibuat secara gabungan.
 Regulasi tarif untuk satu atau lebih produk yang dibuat secara gabungan atau jasa yang
menjadi subjek regulasi harga-harga.
 Litigasi di mana biaya produk gabungan merupakan input utama.
3. Pendekatan Untuk Mengalokasikan Biaya Gabungan
Dua pendekatan digunakan untuk mengalokasikan biaya gabungan.

Pendekatan 1 : Mengalokasikan biaya gabungan menggunakan data berbasis pasar seperti


pendapatan.

Tiga metode yang menggunakan pendekatan ini:

1. Nilai penjualan pada metode pemisahan

2. Metode Net realizable value (NRV)

3. Metode persentase NRV gross-margin konstan

Pendekatan 2 : Mengalokasikan biaya gabungan dengan menggunakan ukuran fisik,


seperti bobot atau volume produk gabungan.

Biaya gabungan tidak memiliki hubungan sebab akibat dengan setiap produk karena
proses produksi secara serentak atau simultan menghasilkan beberapa produk. Dalam
proses produksi gabungan yang lebih sederhana, produk gabungan dijual pada titik splitoff
tanpa diproses lebih lanjut.

3.1. Metode Nilai Jual pada Titik Splitoff


Metode nilai jual titik splitoff mengalokasikan biaya gabungan ke produk
gabungan berdasarkan total nilai relatif pada titik splitoff dari total produk tersebut
yang dibuat selama periode akuntansi. Metode ini menggunakan nilai jual seluruh
produksi selama periode akuntansi bukan hanya kuantitas yang dijual. Alasannya
adalah bahwa biaya gabungan yang terjadi pada semua unit yang diproduksi, bukan
hanya bagian yang terjual selama periode berjalan.

Metode ini bersifat langsung dan intuitif. Dasar alokasi biaya (total nilai jual pada
titik splitoff) dinyatakan dalam istilah denomiator umum (jumlah pendapatan) yang
dicatat secara sistematik pada sistem akuntansi. Untuk menggunakan metode ini, harga
jual semua produk harus ditetapkan pada titik splitoff.

3.2. Metode Ukuran Fisik


Metode ukuran fisik (physical measure method) mengalokasikan biaya gabungan
ke produk gabungan berdasarkan bobot, volume, atau ukuran fisik relatif lainnya pada
titik splitoff dari total produk tersebut yang dibuat selama periode akuntansi.
Kelemahan metode ini yaitu ukuran fisik setiap produk tidak memiliki hubungan
dengan kemampuan menghasilkan pendapatan dari setiap produk tersebut. Penentuan
produk mana dari sebuah proses gabungan yang akan dilibatkan dalam penghitungan
ukuran fisik dapat sangat mempengaruhi alokasi ke produk-produk tersebut.

3.3. Metode Nilai Realisasi Bersih (NRV)


Metode nilai realisasi bersih (NRV) mengalokasikan biaya gabungan ke produk
gabungan berdasarkan NRV relatif nilai jual akhir dikurangi biaya yang dapat
dipisahkan total produk gabungan yang dibuat selama periode akuntansi. Metode NRV
biasanya lebih disukai ketimbang metode nilai jual pada titik splitoff hanya jika nilai
jual satu atau lebih produk pada titik splitoff tidak tersedia. Metode NRV sering kali
diimplementasikan dengan menggunakan asumsi yang sederhana.

3.4. Metode NRV dengan Persentase Marjin Kotor yang Konstan


Metode NRV dengan persentase marjin kotor yang konstan (constant gross-
margin percentage NRV method) mengalokasikan biaya gabungan ke produk gabungan
dengan cara sedemikian rupa sehingga persentase marjin kotor secara keseluruhan sama
bagi setiap produk. Metode ini ada tiga langkah:
Langkah 1: Menghitung persentase marjin kotor secara keseluruhan bagi semua
produk gabungan.
Langkah 2 : Mengalikan persentase marjin kotor secara keseluruhan dengan nilai jual
akhir total produksi setiap produk untuk menghitung marjin kotor setiap
produk tersebut.
Langkah 3: Mengurangi biaya yang dapat dipisahkan dari total biaya setiap produk
yang akan ditanggung untuk memperoleh alokasi biaya gabungan.
Metode NRV dengan persentase marjin kotor yang konstan merupakan metode
yang memperhitungkan laba yang diperoleh baik sebelum atau setelah titik splitoff
ketika mengalokasikan biaya gabungan

4. Pemilihan Metode Alokasi


Alasan mengapa menggunakan metode nilai jual pada titik splitoff yaitu :’
1. Pengukuran nilai produk gabungan pada titik splitoff.
Nilai jual pada titik splitoff merupakan ukuran terbaik atas manfaat yang diterima yang
berasal dari pemrosesan gabungan dibandingkan dengan semua metode pengalokasian
biaya gabungan lainnya.
2. Tidak ada antisipasi terhadap keputusan manajemen selanjutnya.
Metode nilai jual pada titik splitoff tidak memerlukan informasi tentang langkah-
langkah permrosesan setelah splitoff, jika ada pemrosesan lebih lanjut.
3. Ketersediaan dasar yang umum untuk mengalokasikan biaya gabungan ke
produk.
Metode nilai jual pada titik splitoff (serta metode berdasarkan pasar lainnya) memiliki
dasar yang umum untuk mengalokasikan biaya gabungan ke produk, yaitu pendapatan.
4. Kesederhanaan.
Metode nilai jual pada titik splitoff sangat sederhana.
Keunggulan utama metode NRV dengan persentase marjin kotor yang konstan adalah
bahwa metode ini relatif mudah diimplementasikan. Metode ini memperlakukan produk
gabungan seolah-olah hanya terdiri dari satu produk dengan menghitung persentase marjin
kotor agregat, menerapkan persentase marjin kotor ke setiap produk, dan mendukung biaya
gabungan yang dialokasikan ke setiap produk.
4.1. Tidak Mengalokasikan Biaya Gabungan
Metode yang dibahas sebelumnya untuk mengalokasikan biaya gabungan ke setiap produk
bersifat agak arbitrer, sehingga beberapa perusahaan tidak mengalokasikan biaya gabungan
ke produk. Perusahaan-perusahaan tersebut malah menyatakan persediaannya pada NRV.
Pendapatan atas setiap produk akan diakui apabila produksi telah selesai.

5. Ketidakrelevan Biaya Gabungan Untuk Pengambilan Keputusan


Konsep pendapatan yang relevan, pendapatan yang diharapkan dimasa depan yang berbeda
di antara berbagai tindakan alternatif dan biaya yang relevan, biaya yang diharapkan di
masa depan yang berbeda di antara berbagai tindakan alternatif.

5.1. Keputusan Menjual atau Memroses Lebih Lanjut


Keputusan untuk mengeluarkan biaya tambahan guna melakukan pemrosesan lebih
lanjut harus didasarkan pada laba operasi inkremental yang dapat dicapai setelah titik
splitoff. Biaya inkremental adalah biaya tambahan yang dikeluaran untuk melakukan
suatu aktivitas, seperti pemrosesan lebih lanjut.

5.2. Alokasi Biaya Gabungan dan Evaluasi Kinerja


Potensi konflik antara konsep biaya yang digunakan untuk membuat keputusan dan
konsep biaya yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajer dapat juga muncul
dalam keputusan menjual atau memroses lebih lanjut.

5.3. Keputusan Penetapan Harga


Tidak ada hubungan sebab-akibat yang mengidentifikasi sumber daya yang diminta
oleh masing-masing produk gabungan yang kemudian dapat digunakan sebagai dasar
penetapan harga. Dalam sebagian besar kalkulasi biaya gabungan (joint costing), harga
jual akan memicu alokasi biaya gabungan. Namun alokasi biaya tidak akan memicu
penetapan harga.

6. Akuntansi untuk Produk Sampingan


Proses produksi gabungan tidak hanya dapat menghasilkan produk gabungan dan produk
utama tetapi juga produk sampingan. Meskipun produk sampingan (by product) memiliki
total nilai jual yang rendah dibandingkan dengan total nilai jual produk gabungan atau
utama, kehadiran produk sampingan dalam suatu proses produksi gabungan dapat
mempengaruhi alokasi biaya gabungan. Metode produksi mengakui produk sampingan
dalam laporan keuangan ketika produksi telah selesai. Sedangkan, metode penjualan
menunda pengakuan produk sampingan sampai saat penjualan.

6.1. Metode Produksi: Produk Sampingan Diakui Ketika Produksi Telah Selesai
Metode ini mengakui produk sampingan dalam laporan keuangan. Ayat jurnal berikut
ini mengilustrasikan metode produksi :
1 Barang Dalam Proses xxx
Hutang usaha xxx
(untuk mencatat BB yang dibeli dan dgunakan untuk produksi)

2 Barang Dalam Proses xxx


Berbagai akun seperti Hutang Gaji dan Akumulasi Depresisasi xxx
(untuk mencatat Biaya Konversi dalam proses produksi)

3 Persediaan Produk Sampingan xxx


Barang Jadi xxx
Barang Dalam Proses xxx
(untuk mencatat barang yang dibuat)

4a HPP xxx
Barang Jadi xxx
(untuk mencatat Biaya produk utama yang terjual )

4b Kas atau Piutang Usaha xxx


Pendapatan xxx
(untuk mencatat penjualan produk utama)

5 Kas atau Piutang Usaha xxx


Persediaan Produk Sampingan xxx
(untuk mencatat penjualan produk sampingan )

6.2. Metode Penjualan: Produk Sampingan Diakui pada saat Penjualan


Metode ini tidak membuat ayat jurnal sampai penjualan produk sampingan terjadi.
Pendapatan produk sampingan akan dilaporkan dalam laporan laba-rugi sebagai pos
pendapatan pada saat penjualan. Pendapatan tersebut dapat dikelompokkan dengan
penjualan lainnya, atau dikurangi dari harga pokok penjualan.