Anda di halaman 1dari 17

PENGARUH PENGETAHUAN DAN SELF EFFICACY TERHADAP

KESIAPSIAGAAN KELUARGA MENGHADAPI BENCANA


BANJIR DI DESA KEMIRI KECAMATAN PANTI
KABUPATEN JEMBER

RENCANA TESIS

Oleh
AKHMAD MIFTAHUL HUDA

PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN


PEMINATAN GAWAT DARURAT

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
A. Latar Belakang

Bencana alam merupakan bencana yang disebabkan oleh alam dapat

mengakibatkan kerugian materi, kerusakan lingkungan dan korban jiwa (United

Nation Development Program / UNDP, 2012). Menurut undang-undang No.24 Tahun

2007, bencana yang disebabkan oleh alam dapat menggangu penghidupan manusia

secara teknis dapat terjadi akibat faktor non alam dan faktor alam serta faktor

manusia sehingga dapat menimbulkan korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian

harta benda dan dampak psikologis.

Bencana yang terjadi di Indonesia meliputi angin puting beliung, tsunami dan

gunung meletus, ada juga bencana yang terjadinya secara berangsur misalnya

kekeringan, pestisida dan pupuk kimia serta ancaman musiman akan

mengakibatkan bencana gerakan tanah/tanah longsor dan kekeringan (BNPB,

2010). Menurut BNPB (2011), suatu ancaman atau bencana dapat muncul secara

tiba-tiba dan ada juga ancaman bencana yang dapat terjadi secara musiman seperti

banjir, kekeringan & tanah longsor.

Menurut Schwab at.al (1981) dalam Somantri (2008) banjir adalah luapan atau

genangan dari sungai atau badan air lainnya yang disebabkan oleh curah hujan

yang berlebihan atau salju yang mencair atau dapat pula karena gelombang pasang

yang membanjiri kebanyakan pada dataran banjir. Penelitian berjudul floods are one

of the most widereaching and commonly occuring natural hazard in the world,

affecting on average about 70 million people each year mengatakan bahwa banjir

adalah salah satu bencana yang paling luas jangkauannya (UNISDR, 2011 dalam

Surminski, 2013). Bencana alam banjir juga sering terjadi di dunia dan

mempengaruhi rata-rata sekitar 70 juta orang setiap tahun. Potensi bencana banjir di

Indonesia sangat besar dilihat dari topografi dataran rendah, cekungan dan
sebagian besar wilayahnya adalah lautan. Curah hujan di daerah hulu dapat

menyebabkan banjir di daerah hilir. Apalagi untuk daerah-daerah yang tinggi

permukaan tanahnya lebih rendah atau hanya beberapa meter di atas permukaan

air laut (Suprapto, 2011).

Beberapa waktu lalu terjadi gerakan tanah yang berupa retakan tanah di tiga

dusun yaitu Dusun Gunung Pasang, Kali Putih dan Kali Kepuh. Ketiganya berada di

Desa Kemiri, Kecamatan Panti sekitar 30 km dari pusat Kota Jember. Akses ke

dusun yang merupakan areal perkebunan kopi dan karet di bawah lereng

pegunungan Argopuro itu lumpuh total, dan aliran listrik di ketiga dusun tersebut juga

mati (www.menlh.go.id). Retakan tanah sudah terjadi mulai tahun 2010 dan

berkembang sampai saat ini dijumpai sebanyak 73 titik retakan tanah. Gerakan

tanah yang terjadi berupa retakan tanah sebanyak 73 titik pada lereng perbukitan

dan bisa berkembang menjadi longsoran bahan rombakan (BNPB, 2012).

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah Provinsi

Jawa Timur bulan Oktober 2011 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi

Bencana Geologi), daerah Panti tersebut termasuk zona potensi terjadi gerakan

tanah menengah hingga tinggi. Potensi menengah artinya pada zona ini dapat

terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang

berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami

gangguan. Daerah yang mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah.

Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, sedangkan

gerakan tanah lama dapat aktif kembali (BNPB, 2012). Kondisi wilayah yang

demikian tersebut dapat menimbulkan rawan banjir sehingga menuntut semua

elemen anggota masyarakat untuk ikut berperan serta dalam kegiatan

kesiapsiagaan bencana banjir.


Banjir disebabkan oleh 2 (dua) kategori, 6 yaitu banjir akibat alami dan banjir

akibat aktivitas manusia. Banjir akibat alami dipengaruhi oleh curah hujan, fisiografi,

erosi dan sedimentasi, kapasitas sungai, kapasitas drainase dan pengaruh air

pasang. Sedangkan banjir akibat aktivitas manusia disebabkan karena ulah manusia

yang menyebabkan perubahan-perubahan lingkungan, seperti perubahan kondisi

Daerah Aliran Sungai (DAS), kawasan permukiman di sekitar bantaran, rusaknya

drainase lahan, kerusakan bangunan pengendali banjir, rusaknya hutan (vegetasi

alami), dan perencanaan sistem kontrol banjir yang kurang/tidak tepat (Ulum, 2013).

Bencana banjir mengakibatkan kerugian berupa korban manusia dan harta

benda, baik milik perorangan maupun milik umum yang dapat mengganggu dan

bahkan melumpuhkan kegiatan sosial‐ekonomi penduduk (Bakornas PBP, 2007).

Bencana yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur sekolahan dapat

mempengaruhi proses belajar mengajar, kerusakan infrastruktur umum seperti

masjid dan pasar dapat mempengaruhi kehidupan sosial di masyarakat (Ariyadi &

Rudianto, 2014).

Risiko banjir tidak dapat dihindari sepenuhnya sehingga harus dikelola.

Manajemen bencana banjir memang tidak berusaha untuk menghilangkan bahaya

banjir tetapi untuk menanggulanginya (Ulum, 2013). Untuk menanggulangi bencana

banjir yang terjadi, maka perlu adanya upaya mitigasi bencana banjir sehingga

dampak negative berupa kerugian dapat dikurangi. Mitigasi bencana dalam UU No.

24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, diartikan sebagai serangkaian

upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun

penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Kegiatan

pencegahan bencana yang dapat dilakukan masyarakat untuk menghilangkan atau

mengurangi ancaman bencana dengan cara kesiapsiagaan bencana.


Menurut BNPB (2011), kesiapsiagaan adalah upaya yang dilakukan sebelum

bencana terjadi agar dapat meminimalkan dampak yang akan terjadi. Kesiapsiagaan

menghadapi bencana didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk

meningkatkan keselamatan hidup saat terjadi bencana, seperti tindakan proteksi

selama gempa bumi, tumpahan material berbahaya, atau serangan teroris.

Kesiapsiagaan juga mencakup tindakan yang dirancang untuk meningkatkan

kemampuan untuk melakukan tindakan darurat untuk melindungi property dari

kerusakan dan kekacauan akibat bencana, serta kemampuan untuk terlibat dalam

kegiatan restorasi dan pemulihan awal pasca bencana (LIPIUNESCO, 2006 dalam

Syarif & Mastura. 2015). Menurut Carter (1991) dalam Harahap (2015)

kesiapsiagaan adalah tindakan-tindakan yang memungkinkan pemerintahan,

organisasi, masyarakat, komunitas, dan individu untuk mampu menanggapi suatu

situasi bencana secara cepat dan tepat guna. Termasuk ke dalam tindakan

kesiapsiagaan adalah penyusunan rencana penanggulangan bencana, pemeliharan

dan pelatihan personil.

Menurut BNPB (2011), kesiapsiagaan bencana tidak dapat dilakukan secara

spontan, masyarakat harus mengikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat agar

memiliki kompetensi dalam melakukan kesiapsiagaan. Pemberdayaan masyarakat

harus dimulai dari unit terkecil masyarakat itu sendiri. Keluarga adalah unit terkecil

dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga serta beberapa orang yang

berkumpul dan tinggal di satu atap dalam keadaan yang saling ketergantungan

(Khairrudin, 2008). Keluarga di harapkan memiliki kemampuan mengatasi bencana,

karena peran keluarga dalam kesiapsiagaan bencana sangat penting. Kepala

keluarga berperan dalam mengambil keputusan dan kepala keluarga sebagai

sumber dukungan sosial bagi keluarga (Effendi, 2009 dalam Harahap, 2015).
Sutton dan Tierney (2006) membagi beberapa indikator kesiapsiagaan antara

lain adalah pengetahuan terhadap bahaya yang akan dihadapi (risiko, kerentanan,

pengetahuan terhadap bencana), kebijakan dan panduan kesiapsiagaan, rencana

untuk keadaan darurat, sistem peringatan bencana, dan kemampuan memobilisasi

sumber daya. Menurut Syarif dan Masturi (2015) kesiapsiagaan dapat dipengaruhi

oleh self efficacy. Pengetahuan terhadap bencana merupakan alasan utama

seseorang untuk melakukan kegiatan perlindungan atau upaya kesiapsiagaan yang

ada. Pengetahuan yang dimiliki mempengaruhi sikap dan kepedulian masyarakat

untuk siap dan siaga dalam mengantisipasi bencana, terutama bagi mereka yang

bertempat tinggal di daerah yang rentan terhadap bencana alam.

Penilaian individu terhadap kemampuannya dalam melaksanakan tugasnya

dapat mempengaruhi kesiapsiagaan terhadap bencana. Individu cendrung tidak

bertindak jika menganggap dirinya tidak memiliki kompetensi untuk menghadapi

bencana (self efficacy rendah), sedangkan individu yang memiliki self efficacy yang

tinggi cenderung lebih siap untuk menghadapi bencana, karena self efficacy

meningkatkan jumlah rencana yang dikembangkan oleh individu dan ketekunan

mereka dalam menerapkannya (Herdwiyanti & Sudaryono, 2013). Hal ini sesuai

dengan konsep self efficacy dari Bandura bahwa individu mempunyai keyakinan dan

kemampuan untuk bertindak atau mengendalikan situasi jika terjadi bencana.


B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah menganalisis ”Pengaruh

Pengetahuan dan Self Efficacy dengan Kesiapsiagaan Keluarga dalam Menghadapi

Bencana Banjir di Desa Kemiri Kecamatan Panti Kabupaten Jember”.

2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

a. mengidentifikasi gambaran karakteristik responden di Desa Kemiri Kecamatan

Panti Kabupaten Jember;

b. mengidentifikasi pengetahuan dan self efficacy responden di Desa Kemiri

Kecamatan Panti Kabupaten Jember;

c. mengidentifikasi kesiapsiagaan responden dalam menghadapi bencana banjir di

Desa Kemiri Kecamatan Panti Kabupaten Jember;

d. menganalisis pengaruh pengetahuan dan self efficacy dengan kesiapsiagaan

keluarga dalam menghadapi bencana bencana banjir di Desa Kemiri Kecamatan

Panti Kabupaten Jember

C. Metode penelitian

1. Desain Penelitian

e. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk survei dengan menggunakan

pendekatan explanatory research yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan

antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesa (Singarimbun, 1996).

Explanatory research untuk menganalisis pengaruh antara variabel independen


yaitu pengaruh pengetahuan dan sikap terhadap variabel dependen yaitu

kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir di Desa Kemiri

Kecamatan Panti Kabupaten Jember

2. Populasi Penelitian

Menurut Notoatmodjo, (2010) populasi merupakana keselurahan objek dari

lokasi penelitian. Populasi dibagi menjadi dua bagian yaitu populasi terjangkau dan

populasi target. Populasi tarjangkau adalah bagian dari populasi target yang dibatasi

oleh waktu dan tempat, dari populasi terjangkau dipilih sampel yang dijadikan

sebagai subyek yang akan langsung di teliti. Populasi target adalah populasi yang

merupakan sasaran terakhir penerapan hasil penelitian (Nursalam, 2013). Populasi

terjangkau pada penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga Desa Kemiri

Kecamatan Panti Kabupaten Jember.

3. Sampel Penelitian

Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili dari seluruh

populasi (Notoatmodjo, 2010). Sampel terdiri dari bagian populasi yang terjangkau

yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui teknik sampling

(Nursalam, 2013). Besarnya sampel yang digunakan dalam penelitian ini akan

dihitung dengan menggunakan rumus Notoatmodjo (2003) sebagai berikut:

Keterangan

N = Jumlah Populasi

n = Jumlah sampel yang diinginkan

d = presisi mutlak (derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan 10 % =

0,1)
4. Teknik Sampling Penelitian

Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling.

Pengambilan sampel secara simple random sampling adalah suatu teknik sampling

yang dipilih secara acak, cara ini dapat diambil bila analisa penelitian cenderung

bersifat deskriptif atau bersifat umum (Notoatmodjo, 2010). Menurut Masyhuri

(2008), mengungkapkan bahwa simple random sampling dapat membuat seluruh

populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel penelitian. Simple

random sampling yang akan dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan cara

mengumpulkan nama-nama kepala keluarga, setelah terkumpul tulis nama kepala

keluarga di kertas yang telah dipotong kecil-kecil dan di kocok. Ambil kertas yang

telah di kocok maka nama yang berada di dalam kertas itu yang akan menjadi

responden.

5. Kriteria Subjek Penelitian

Menurut Nursalam (2013) penentuan kriteria sampel membantu peneliti

mengurangi bias hasil penelitian. Sampel penelitian ini adalah kepala keluarga Desa

Kemiri Kecamatan Panti Kabupaten Jember. Menurut Notoatmodjo (2010), agar

karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya maka sebelum dilakukan

pengambilan sampel perlu ditentukan kriteria inklusi, maupun kriteria eksklusi.

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang harus dipenuhi oleh setiap

anggota populasi yang dapat di ambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2012). Kriteria

inklusi pada penelitian ini adalah kepala keluarga yang tinggal di Desa Kemiri

Kecamatan Panti Kabupaten Jember, ibu rumah tangga yang suaminya bekerja di

luar kota dan bersedia menjadi responden.


b. Kriteria eksklusi

Kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil

sebagai sampel (Notoatmodjo, 2012). Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah

responden yang mengalami gangguan fisik seperti gangguan pendengaran dan

penglihatan serta responden mengundurkan diri.

6. Lokasi Penelitian

Desa Kemiri Kecamatan Panti Kabupaten Jember.

7. Waktu Penelitian

Tahap pembuatan proposal penelitian ini dimulai pada 2019.

8. Pengumpulan Data

a. Sumber Data

1) Data primer

Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari individu atau

perseorangan kepada pengumpul data (Sugiyono, 2014). Data didapatkan dari

hasil pengisian kuesioner kepada kepala keluarga di Desa Kemiri Kecamatan

Panti Kabupaten Jember. Data primer pada penelitian ini meliputi karakteristik

responden. Data primer lainnya yaitu pengetahuan, self efficacy, dan

kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi bencana banjir.

2) Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung oleh

pengumpul data, misalnya melalui orang lain atau dokumen (Sugiyono, 2014).

Data sekunder pada penelitian ini didapatkan dari data yang terdapat di Desa

Kemiri Kecamatan Panti Kabupaten Jember. Data sekunder meliputi jumlah

kepala keluarga di Desa Kemiri Kecamatan Panti Kabupaten Jember.


b. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan

proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian

(Nursalam, 2013). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi:

1) Peneliti mengajukan ijin ke Program Studi Magister Keperawatan Universitas

Brawijaya, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Kecamatan Sumberjambe,

Kantor Desa Rowosari dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

2) Koordinasi dengan pihak perangkat Desa Kemiri Kecamatan Panti

Kabupaten Jember untuk penentuan sampel berdasarkan kriteria yang

ditetapkan.

3) Peneliti menjelaskan kepada satu persatu sesuai jumlah sampel tentang

penelitian yang akan dilakukan, jika calon responden bersedia berpartisipasi

dalam penelitian maka calon responden diminta menandatangani lembar

inform consent.

4) Peneliti memberikan kuesioner pengetahuan, self efficacy, dan

kesiapsiagaan kepada responden untuk diisi. Jika responden mengalami

kesulitan dalam mengisi kuesioner maka peneliti membacakan dan

menjelaskan isi kuesioner.

5) Peneliti mengumpulkan kembali kuesioner yang telah diisi oleh responden

dan memeriksa kelengkapan pengisian kuesioner.

c. Alat pengumpulan data

Alat pengumpul data dalam penelitian ini akan menggunakan kuesioner.

Kuesioner dipilih karena dapat dipakai untuk memperoleh data yang cukup luas, dari

data kelompok atau masyarakat yang berpopulasi besar (Notoatmodjo, 2010).


Kuesioner yang akan digunakan antara lain kuesioner pengetahuan, self efficacy,

dan kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi bencana banjir.

d. Validitas dan Reliabilitas Kuesioner

Instrumen penelitian yang valid dan reliabel dapat digunakan untuk

mengumpulkan data secara langsung, untuk itu diperlukan uji validitas dan reabilitas.

Uji validitas dan uji realibilitas memerlukan jumlah responden minimal sebanyak 20

orang untuk memperoleh distribusi nilai hasil pengukuran yang mendekati normal

(Notoatmodjo, 2010). Perhitungan validitas dan reliabilitas dalam penelitian ini akan

menggunakan bantuan program Microsoft Office Excel.

1) Validitas

Uji validitas adalah ukuran sebuah instrumen penelitian yang dikatakan valid

jika instrumen itu mampu mengukur yang seharusnya diukur menurut situasi

dan kondisi tertentu (Setiadi, 2007). Kuesioner kesiapsiagaan dan

pengetahuan telah diuji validitas oleh Purwoko (2015) dan telah dinyatakan

valid. Untuk mengukur self efficacy mengunakan kuesioner yang

dikembangkan oleh Schwarzer dan Jerussale. Kuesioner ini merupakan

kuesioner baku yang telah tersedia dalam 33 bahasa dan kuesioner ini telah

banyak digunakan untuk mengukur self efficacy. Kuesioner yang dibuat pada

tahun 1995 ini akan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh staf Pusat

Lembaga Bahasa Universitas Brawijaya dan kemudian dilakukan uji validitas.

Uji validitas menggunakan Person Product Moment (r) untuk melihat nilai

korelasi tiap-tiap pertanyaan yang signifikan, dimana dilakukan dengan

membandingkan nilai r hitung dengan r tabel. Pengambilan keputusan

dinyatakan valid apabila r hitung > r tabel dan dinyatakan tidak valid apabila

r hitung < r tabel. Taraf signifikan yang digunakan pada penelitian ini sebesar
5%. Pertanyaan dianggap valid jika r hitung > r tabel dan tidak valid jika r

hitung < r tabel.

2) Uji Reliabilitas

Item instrumen penelitian yang valid dengan uji reliabilitas dengan rumus

Alpha Cronbach yaitu membandingkan nilai r hasil (Alpha) dengan nilai r

tabel. Ketentuan reliabel apabila r Alpha lebih besar dari r tabel. Reliabilitas

merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur atau

instrumen dapat dipercaya atau dapat diandalkan dan akan tetap konsisten

apabila dilakukan pengukuran lebih dari sekali terhadap gejala yang sama

(Notoadmodjo, 2010). Dasar pengambilan keputusan adalah reliabel jika nilai

alpha lebih dari 0,6 (Arikunto, 2010). Kuesioner kesiapsiagaan dan

pengetahuan telah diuji reliabilitas oleh Purwoko (2015) dengan r alpha 0,875

dan 0,867. Kuesioner self efficacy akan diuji menggunakan rumus Alpha

Cronbach dengan nilai alpha lebih dari 0,6.

9. Pengolahan Data

a. Editing

Editing merupakan pemeriksaan instrumen penelitian sesuai dengan hasil

pengamatan yang dilakukan oleh peneliti (Setiadi, 2007). Proses editing dilakukan

dengan memeriksa kelengkapan pengisian kuesioner dan karakteristik responden.

b. Coding

Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi berbentuk

angka/bilangan (Hastono, 2007). Coding berfungsi untuk mempermudah pada saat

analisis data dan mempercepat entry data (Budiarto, 2001).


c. Processing/ Entry

Entry yaitu proses memasukan data melalui komputer sesuai dengan kode yang

telah diberi kategori (Setiadi, 2007). Peneliti memasukkan kode sesuai dengan

kategori kemudian dilakukan pengolahan data.

d. Cleaning

Proses cleaning atau proses pembersihan data bertujuan untuk mengkoreksi

kembali data yang telah dimasukan guna melihat kemungkian munculnya kesalahan

atau ketidak lengkapan sehingga dapat dilakukan pembetulan (Notoatmodjo, 2010).

Peneliti melakukan pengecekan ulang pada setiap data yang akan dimasukkan

untuk melihat kebenaran data.

10. Analisa Data

Analisa data yang digunakan menggunakan analisa univariat, bivariate, dan

multivariate. Analisa data univariat adalah analisa yang dilakukan untuk menjelskan

atau menggambarkan tentang distribusi frekuensi dan presentasi tiap variabel

(Notoatmodjo, 2010). Analisis univariat yang akan digunakan dalam penelitian ini

untuk melihat gambaran secara tunggal masing-masing variabel penelitian, baik

variabel independen (pengetahuan dan self efficacy responden) dan variabel

dependen (kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir). Analisis bivariat yang

dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berPengaruh atau berkolerasi

(Notoatmodjo, 2010). Analisis bivariat digunakan dalam penelitian ini untuk melihat

Pengaruh variabel independen (pengetahuan dan self efficacy responden) dan

variabel dependen (kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana banjir) pada

penelitian ini. Pada analisis ini, digunakan uji Chi Square dengan tingkat

kepercayaan 95% dengan kriteria model analisis multivariate (p<0,25). Analisis


multivariat dilakukan untuk melihat variabel independen yang paling berpengaruh

terhadap variabel dependen. Analisis multivariat yang digunakan adalah regresi

logistik model prediksi, dengan tingkat kepercayaan 95% dan menggunakan metode

menentukan odds rasio variabel kategorik polikontom dengan salah satu kategori

menjadi pembanding dengan cara chi square. Langkah yang dilakukan dalam

analisis regresi logistik menurut Dahlan (2014) adalah sebagai berikut:

1. Melakukan seleksi variabel yang layak dilakukan dalam model multivariat dengan

cara terlebih dahulu melakukan seleksi bivariat antara masing-masing variabel

independen dengan variabel dependen dengan uji regresi logistic sederhana

2. Bila hasil analisis bivariat menghasilkan p-value<0,25 atau termasuk substansi

yang penting maka variabel tersebut dapat dimasukkan dalam model multivariat.

3. Variabel yang memenuhi syarat lalu dimasukkan ke dalam analisis multivariat.

4. Dari hasil analisis dengan multivariat dengan regresi logistik menghasilkan p

value masing-masing variabel.

5. Variabel yang p valuenya>0,05 ditandai dan dikeluarkan satu-persatu dari model,

hingga seluruh variabel yang p- valuenya>0,05 hilang.

6. Untuk melihat adanya interaksi antar variabel selanjutnya dilakukan uji interaksi.

Variabel dikatakan tidak saling berinteraksi jika didapatkan hasil p valuenya>0,05

pada α=0,05.

7. Pada langkah terakhir akan tampak nilai exp(B), yang menunjukan bahwa

semakin besar nilai exp(B)/OR maka makin besar pengaruh variabel tersebut

tehadap variabel dependen.


Definisi Operasional

No Variabel Definisi operasional Alat ukur Skala Hasil


1. Kesiapsiag Suatu keadaan yang Kuesioner Ordinal 1. 25,00 – 43,75 : Sangat Rendah
aan Menggambarkan persepsi tentang 2. 43,76 – 62,50 : Rendah
terhadap atau perilaku seseorang kesiapsiagaan 3. 62,51 – 81,25 : Tinggi
bencana ketika menghadapi bencana banjir 4. 81,26 – 100 : Sangat Tinggi
banjir bencana gunung meletus
untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya.

2. Pengetahu Pengetahuan terhadap Kuesioner Ordinal 1. 25,00 – 43,75 : Sangat Rendah


an bencana merupakan tentang 2. 43,76 – 62,50 : Rendah
alasan utama seseorang pengetahuan 3. 62,51 – 81,25 : Tinggi
untuk melakukan kegiatan bencana 4. 81,26 – 100 : Sangat Tinggi
perlindungan atau upaya
kesiapsiagaan yang ada.

3. Self self efficacy adalah Kuesioner Interval Rentang skala self efficacy : 10-40
efficacy penilaian individu terhadap tentang Self
kemampuannya dalam efficacy
melaksanakan tugasnya
dapat mempengaruhi
kesiapsiagaan terhadap
bencana.