Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Investasi
Teori ekonomi mengartikan atau mendefinisikan investasi sebagai pengeluaran
pengeluaran untuk membeli barang-barang modal dan peralatan peralatan produksi dengan
tujuan untuk mengganti dan terutama menambah barang- barang modal dalam perekonomian
yang akan digunakan untuk memproduksikan barang dan jasa di masa depan. Investasi yang
lazim disebut dengan istilah penanaman modal atau pembentukan modal, menurut Sukirno
(2002) adalah merupakan komponen kedua yang menentukan tingkat pengeluaran agregat.
Selanjutnya, Boediono (2001) mendefenisikan investasi sebagai pengeluaran oleh sektor
produsen (swasta) untuk pembelian barang dan jasa untuk menambah stok yang digunakan
atau untuk perluasan pabrik. Investasi dalam ekonomi makro, juga dapat dibedakan atas
investasi otonom (otonomous investment) dan investasi terpengaruh (induced investment).
Investasi otonom adalah investasi yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional, artinya
tinggi rendahnya pendapatan nasional tidak menentukan jumlah investasi yang dilakukan
oleh perusahaan-perusahaan. Jenis investasi ini umumnya dilakukan oleh pemerintah dengan
maksud sebagai landasan pertumbuhan ekonomi berikutnya, misalnya investasi untuk
pembuatan jalan, jembatan dan infrastruktur lainnya. Sedangkan investasi yang terpengaruh
adalah investasi yang dipengaruhi oleh pendapatan nasional, artinya pendapatan nasional
yang tinggi akan memperbesar pendapatan masyarakat dan selanjutnya pendapatan
masyarakat yang tinggi tersebut akan memperbesar permintaan terhadap barang-barang dan
jasa-jasa. Maka keuntungan perusahaan akan bertambah tinggi dan ini akan mendorong
dilakukannya lebih banyak investasi. Kemudian, dalam prakteknya sebagai usaha untuk
mencatat nilai penanaman modal yang dilakukan dalam suatu tahun tertentu, yang
digolongkan sebagai investasi (pembentukan modal atau penanaman modal) meliputi
pengeluaran-pengeluaran yang berikut :

1. Pembelian berbagai jenis barang modal yaitu mesin-mesin dan peralatan produksi
lainnya untuk mendirikan berbaai jenis industri dan perusahaan;
2. Pengeluaran untuk mendirikan rumah tempat tinggal, bangunan kantor, bangunan
pabrik dan bangunan-bangunan lainnya;

10
11

3. Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah dan barang
yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun penghitungan pendapatan
nasional Jumlah dari ketiga jenis komponen investasi tersebut dinamakan investasi
bruto, yaitu meliputi investasi untuk menambah kemampuan berproduksi dalam
perekonomian dan mengganti barang modal yang telah didepresiasikan. Apabila
investasi bruto dikurangi oleh nilai depresiasi maka akan di peroleh investasi netto.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi investasi


Menurut Jhingan (1996), investasi atau pembentukan modal merupakan jalan keluar
utama dari masalah negara terbelakang ataupun berkembang dan kunci utama menuju
pembangunan ekonomi. Hal ini sebagaimana juga dipertegas oleh Nurkse (1996) bahwa
lingkaran setan kemiskinan di negara terbelakang atau berkembang dapat digunting melalui
investasi atau pembentukan modal. Lebih rinci lagi dikatakan oleh Todaro (1981) bahwa
persyaratan umum pembangunan ekonomi suatu negara adalah:

1. Akumulasi modal, termasuk akumulasi baru dalam bentuk tanah, peralatan fisik dan
sumber daya manusia;
2. Perkembangan penduduk yang dibarengi dengan pertumbuhan tenaga kerja dan
keahliannya;
3. Kemajuan teknologi. Akan tetapi, bagi negara-negara terbelakang atau berkembang
pembentukan
4. modal umumnya masih rendah. Menurut Jhingan (1996), penyebabnya adalah :

a. Pendapatan rendah
Karena pertanian, industri dan sektor lain di Negara berkembang masih terbelakang,
output nasional menjadi rendah dan begitu juga pendapatan nasional. Akibatnya, pendapatan
perkapita rendah. Pada pihak lain, kecenderungan berkonsumsi sangat tinggi sehingga
seluruh pendapatan habis dikonsumsi Akhirnya, menabung menjadi tidak mungkin dan
tingkat pembentukan modal tetap rendah.

b. Produktifitas rendah
Karena langkanya buruh yang efisien dan pengetahuan teknologi rendah, sumber
dalam sering dimanfaatkan secara keliru atau malah tidak dipergunakan, akibatnya
12

menghambat peningkatan pendapatan pemilik sumber alam hingga tidak mampu untuk
menabung dan berinvestasi sehingga laju pembentukan modalpun tidak meningkat.

c. Kependudukan
Karena pertumbuhan penduduk sangat tinggi sementara pendapatan perkapita rendah
maka akibatnya keseluruhan pendapatan dipergunakan untuk menghidupi tambahan
penduduk dan hanya sedikit yang ditabung untuk pembentukan modal.

d. Kekurangan wiraswasta
Karena kecilnya pasar, kurangnya modal, langkanya milik pribadi dan perjanjian
memperlambat usaha dan inisiatif untuk berwiraswasta sedangkan dalam kenyataannya
kewiraswastaan merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi;

e. Kekurangan overhead ekonomi


Karena kurangnya sumber tenaga, angkutan, perhubungan, air dan sebagainya telah
memperlambat kegiatan usaha yang akhirnya berpengaruh terhadap pembentukan modal
Kekurangan peralatan modal Di negara berkembang ketersediaan barang modal hanya sekitar
5-6 persen dari pendapatan nasionalnya, sedangkan di negara maju sampai 15-20 persen dari
pendapatan nasionalnya. Karena rendahnya modal maka penggatian barang modal menjadi
tidak mungkin dan ini mempengaruhi pembentukan modal

f. Ketimpangan distribusi pendapatan


Adanya ketidakmerataan pendapatan di negara berkembang dimana hanya sekitar 3-5
persen berpenghasilan tinggi dan mereka ini berivestasi tidak pada saluran yang produktif
menyebabkan pembentukan modal tetap rendah.

g. Pasar sempit
Karena kemampuan untuk menyerap penawaran suatu produk baru, menyebabkan
tidak bergairahnya tumbuhnya usaha dan inisiatif masyarakat sehingga upaya pembentukan
modal tetap rendah
13

h. Kekurangan lembaga Keuangan


Karena kurang berkembangnya pasar uang, pasar modal, lembaga kredit dan bank di
Negara berkembang menyebabkan pengerahan dana tabungan dalam jumlah yang cukup
untuk tujuan investasi menjadi rendah

i. Keterbelakangan ekonomi dan teknologi


Aktifitas ekonomi yang terbatas dan terbengkalai, efisiensi buruh yang rendah, nilai
dan struktur sosial yang tradisional serta teknik produksi yang masih kuno telah menghambat
pembentukan modal. Selanjutnya menurut Sukirno (2011), faktor-faktor utama yang
menentukan tingkat investasi atau pembentukan modal yang akan dilakukan dalam
perekonomian adalah :
Tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return) Investasi yang
irencanakan hanya akan dilakukan apabila tingkat keuntungan yang akan diperolehnya adalah
lebih besar dari suku bunga yang harus dibayarnya. Suatu kegiatan investasi dapat dikatakan
memperoleh keuntungan apabila nilai sekarang pendapatan di masa depan adalah lebih besar
daripada nilai sekarang modal yang diinvestasikan. Nilai sekarang pendapatan di masa depan
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagaimana yang dikemukakan oleh
Sukirno (2011) yaitu:

dimana :
NS = nilai sekarang pendapatan yang diperoleh diantara tahun 1 hingga tahun n
𝑌1,𝑌2,… 𝑌𝑛 = pendapatan netto (keuntungan) yang diperoleh perusahaan antara tahun 1
hingga tahun n
r = suku bunga

Dengan memisalkan nilai sekarang yang diinvestasikan adalah M, penanaman modal


tersebut dikatakan menguntungkan apabila NS lebih besar dari M (NS > M).Kemampuan
perusahaan menentukan tingkat investasi yang diharapkan, sangat dipengaruhi oleh kondisi
internal dan eksternal perusahaan. Untuk kondisi internal dapat berupa efisiensi, kualitas
14

SDM dan teknologi yang digunakan. Disamping itu, kepemilikan hak monopoli, kedekatan
dengan pusat kekuasaan dan penguasaan jalur informasi juga menjadi faktor non-teknis
internal perusahaan. Sedangkan kondisi eksternal perusahaan adalah perkiraan kondisi
ekonomi tingkat nasional maupun internasional, kondisi sosial politik serta kondisi keamanan
negara. Selain itu, kebijakan pemerintah di bidang perpajakan yang akan mempengaruhi
permintaan agregat, juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan terhadap tingkat
pengembalian investasi yang diharapkan.

C. Teori-teori investasi
Menurut Irawan dan Suparmoko (1992), ada beberapa teori yang dapat menjelaskan
beberapa besar tingkat investasi yang dapat diusahakan untuk mempercepat pertumbuhan
ekonomi suatu negara ataupun wilayah, yaitu :

1. Teori Usaha Perlahan-lahan (Gradualist Theory)


Teori ini berpendapat bahwa negara yang terbelakang sebaiknya jangan mengadakan
industrialisasi cepat-cepat sebab resiko dan kekeliruan-kekeliruan akan terlalu besar untuk
dipikul. Injeksi kapital yang banyak adalah kurang baik sampai perekonomian tersebut
mampu menyerapnya. Pemilihan teknik-teknik produksi dan investasi didasarkan pada biaya-
biaya relatif daripada faktor-faktor produksi. Harus diusahakan untuk memajukan industri-
industri kecil, pembangunan masyarakat desa yang menggunakan kelebihan tenaga buruh.
Kegiatan yang membutuhkan kapital yang banyak akan diusahakan bila keuntungan melebihi
dari kegiatan yang sifatnya padat karya (labor intensive).

2. Teori Dorongan Besar (Big Push)


Teori ini secara singkat mengatakan bahwa bila hanya ada sedikit-sedikit usaha untuk
menaikkan pendapatan, hal ini hanya mendorong pertambahan penduduk saja yang nantinya
akan menghambat kenaikan pendapatan perkapita. Oleh karena itu, usaha harus dilaksanakan
secara besar-besaran untuk mengatasi perubahan-perubahan penduduk. Implikasinya ialah
harus diadakan investasi besar-besaran untuk menghilangkan kemiskinan, memaksimumkan
output dengan menggunakan teknik yang paling produktif yang kadang-kadang
membutuhkan kapital yang besar. Konsentrasi pada investasi yang selanjutnya menghasilkan
alat-alat kapital untuk mempertahankan pendapatan dan pertumbuhan output. Konsumsi
sebaliknya ditekan, sehingga investasi dapat terus ada. Titik berat pada “economic of scale”
15

yang berupa produksi massa (large scale production) dan tentunya juga membutuhkan
kapital yang banyak.

3. Teori Pembangunan Seimbang (Balanced Growth)


Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Rosenstein-Rodan (1953), yang
menitikberatkan bahwa perekonomian itu ada kemungkinan untuk berkembang apabila ada
perimbangan yang baik antara berbagai-bagai sektor di dalam perekonomian. Dengan
pertumbuhan seimbang (balanced growth) ini diartikan bahwa perkembangan ekonomi tidak
akan berhasil bila investasi hanya sebatas pada “titik pertumbuhan” (growing point) tertentu
atau sektor-sektor yang sedang berkembang saja, sebab sektor-sektor lain berhubungan erat.
Investasi harus disebarkan pada semua sektor sehingga memperluas pasar antara satu sektor
dengan sektor lainnya. Makin erat hubungan saling ketergantungan antar berbagai sektor
maka pasar akan semakin kuat. Untuk mewujudkan teori ini tentu saja harus didukung oleh
investasi yang besar.

4. Teori Pembangunan Tidak Seimbang (Unbalanced Growth)


Teori ini dikemukakan oleh Hirschman (1992) yang pada awalnya mengkritik teori
pembangunan seimbang. Menurutnya bahwa masyarakat yang masih rendah ingkat
pendapatannya tidak dapat merubah sistem perekonomian yang tradisional menjadi sistem
yang modern. Disamping itu, kapital yang besar tidak dapat disediakan oleh negara yang
masih berkembang. Justru dengan tidak adanya keseimbangan akan mendorong kemajuan
ekonomi yang lebih cepat dan biaya - biaya ekspansi dapat diminimumkan. Bila satu sektor
masih rendah outputnya maka akan tetap ada permintaan yang banyak di sektor lain dan akan
ada suatu keuntungan super normal pada sektor yang rendah outputnya itu.

D. Pertumbuhan Ekonomi
Persoalan pertumbuhan ekonomi (economic growth) telah mendapat perhatian yang
besar, sejak munculnya ilmu ekonomi. Menurut Nanga (2005), pertumbuhan ekonomi
dibutuhkan dan merupakan sumber utama peningkatan standar hidup (standard of livingi
penduduk yang jumlahnya terus meningkat. Kata lain, kemampuan ekonorni suatu negara
untuk meningkatkan standar hidup penduduknya adalah sangat bergantung dan ditentukan
oleh laju pertumbuhan ekonomi jangka panjangnya (long run rate of economic growth).
Tetapi menurut Senghaas (1988), yang menentukan bukanlah pertumbuhan itu sendiri
melainkan dampak perluasan pertumbuhan dan sejauhmana dapat terbentuk perekonomian
16

yang koheren dengan adanya dorongan pertumbuhan sektoral. Teori pertumbuhan ekonomi
didefinisikanr sebagai penjelasan mengenai faktor-faktor apa yang menentukan kenaikan
output per kapita dalam jangka panjang, dan penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor
tersebut berinteraksi satu sama lain, sehingga terjadi proses pertumbuhan (Boediono, 1992).
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran kuantitatif yang
menggambarkan perkembangan suatu perekonomian dalam suatu tahun tertentu apabila
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari beberapa pengertian diatas, dapat dimengerti
bahwa pertumbuhan ekonomi berbeda dengan pembangunan ekonomi yang memiliki
pengertian yaitu pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan dalam struktur dan corak
kegiatan ekonomi. Artinya, ada tidaknya pembangunan ekonomi dalam suatu negara pada
suatu tahun tertentu tidak saja diukur dari kenaikan produksi barang dan jasa yang berlaku
dari tahun ke tahun tetapi juga perlu diukur dari perubahan lain yang berlaku dalam berbagai
aspek kegiatan ekonomi seperti perkembangan pendidikan, perkembangan teknologi,
peningkatan dalam kesehatan, peningkatan dalam infrastruktur yang tersedia dan peningkatan
dalam pendapatan dan kemakmuran masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang menggunakan
data berbagai jenis produksi dengan satuan ukurannya yang beragam sangat sukar untuk
memberikan gambaran tentang pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Oleh karena itu, ukuran
yang digunakan untuk menaksir perubahan output adalah nilai moneternya (uang) yang
tercermin dalam nilai Produksi Domestik Bruto (PDB) yaitu nilai barang-barang dan jasa-jasa
yang diproduksikan di dalam negara tersebut baik oleh warga negara tersebut maupun warga
negara asing dalam satu tahun. Konsep lain yang juga menggambarkan perubahan output
adalah Produk Nasional Bruto (PNB) yaitu nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang
diproduksikan oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh warga negara dari negara yang
pendapatan nasionalnya dihitung. Namun, dalam analisis makro ekonomi, istilah yang sering
digunakan adalah pendapatan nasional (national income) mewakili arti Produk Domestik
Bruto atau Produk Nasional Bruto. Nilai Pendapatan Nasional yang digunakan adalah nilai
pendapatan nasional riil yang dihitung berdasarkan harga konstan (tetap), sebab dengan
menggunakan harga konstan pengaruh perubahan harga telah dihilangkan sehingga sekalipun
nilai yang muncul adalah nilai uang dari total output barang dan jasa, perubahan nilai
pendapatan nasional sekaligus menunjukkan perubahan jumlah kuantitas barang dan jasa
yang dihasilkan selama periode pengamatan. Untuk menghitung pertumbuhan ekonomi suatu
negara dapat digunakan rumus sebagai berikut, (Sukirno, 2011) :
17

....................................................................................(2.2)

dimana :
g = pertumbuhan ekonomi yang dinyatakan dalam persen
PN riil1 = pendapatan nasional untuk tahun dimana tingkat
pertumbuhan ekonominya dihitung
PN riil 0 = Pendapatan nasional pada tahun sebelumnya

Dalam keadaan dimana suatu Negara tidak melakukan penghitungan pendapatan nasional
menurut harga konstan/tetap, untuk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi
penghitungannya harus dilakukan dua tahap yaitu pertama, menghitung pendapatan nasional
riil dengan mendeflasikan pendapatan nasional pada harga masa ini, dan kedua,menghitung
tingkat pertumbuhan ekonomi. Untuk menghitung pendapatan nasional riil dengan
mendeflasikan pendapatan nasional pada harga masa kini, dapat digunakan rumus sebagai
berikut, (Sukirno, 2011) :

...............................................................................(2.3)

dimana,
PN riil n = pendapatan nasional riil tahun n
HI n = indeks harga (pendeflasi pendapatan nasional) tahun n
PNn = pendapatan nasional pada tahun n

a. Teori pertumbuhan ekonomi klasik


Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan
oleh 4 (empat) faktor yaitu jumlah penduduk, jumlah stok barang modal, luas tanah dan
kekayaan alam serta tingkat teknologi yang digunakan. Dari keempat faktor tersebut yang
menjadi titik berat perhatian mereka adalah pengaruh pertambahan penduduk terhadap
18

pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari teori masing-masing ahli ekonomi klasik
sebagai berikut: (Irawan dan Suparmoko, 1992).

b. Teori pertumbuhan ekonomi Harrold-Dommar


Harrod-Domar (1948) menyatakan bahwa pembentukan modal merupakan faktor
utama tercapainya pertumbuhan ekonomi. Adapun dalam analisisnya menerangkan syarat
yang harus dipenuhi supaya suatu perekonomian dapat mencapai pertumbuhan yang teguh
atau steady growth dalam jangka panjang. Harrod-Domar dalam analisisnya menggunakan
pemisalan-pemisalan berikut :
1) barang modal telah mencapai kapasitas penuh;
2) tabungan adalah proporsional dengan pendapatan nasional;
3) rasio modal-produksi (capital-output ratio) tetap nilainya;
4) perekonomian terdiri dari dua sektor

Dalam analisisnya, Harrod-Domar (1948) menunjukkan bahwa walaupun pada suatu


tahun tertentu barang-barang modal sudah mencapai kapasitas penuh, pengeluaran agregat
pada tahun tertentu akan menyebabkan kapasitas barang modal menjadi semakin tinggi pada
tahun berikutnya. Dengan perkataan lain, investasi yang berlaku dalam tahun tertentu akan
menambah kapasitas barang modal untuk mengeluarkan barang dan jasa pada tahun
berikutnya. Tingkat output suatu perekonomian mempunyai hubungan proporsional
(konstan) dengan jumlah stok barang modal. Jika tingkat output dinotasikan Y dan stok
barang modal dinotasikan K, maka

.........................................................................................................(2.4)

dimana : a adalah ratio output barang modal (capital-output ratio/COR) yaitu angka yang
menunjukkan berapa jumlah output yang dapat dihasilkan dari stok modal yang tersedia. Jika
perekonomian ingin meningkatkan output menjadi ∆Y maka stok barang modal harus di
tambah menjadi ∆K. Dengan demikian, persamaannya akan menjadi :
..........................................................................................(2.5)

.........................................................................................(2.6)
19

dimana, 1/a = ICOR (Incremental Capital Output Ratio)

ICOR adalah besarnya tambahan stok barang modal untuk meningkatkan tambahan 1 (satu)
unit output yang dapat digunakan untuk menilai kinerja investasi di suatu negara atau daerah
yang nilainya selalu bervariasi. Semakin tinggi angka ICOR, semakin tidak efisien kegiatan
investasi di negara atau daerah tersebut, demikian sebaliknya.

c. Teori pertumbuhan ekonomi Neo-Klasik


Teori ini dikembangkan oleh Abramovits dan Solow (2001) mengatakan bahwa
pertumbuhan ekonomi tergantung kepada perkembangan faktor-faktor produksi. Pandangan
ini dapat dinyatakan dalam persamaan :

...............................................................................(2.7)

dimana :
∆Y adalah tingkat pertumbuhan ekonomi
∆K adalah tingkat pertumbuhan modal
∆L adalah tingkat pertumbuhan penduduk
∆T adalah tingkat perkembangan teknologi

Kemudian, dalam penelitiannya Solow (2001) membuat pembuktian secara empiris


bahwa faktor terpenting untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi bukanlah pertambahan
modal dan pertambahan tenaga kerja. Faktor yang paling penting adalah kemajuan teknologi
dan pertambahan kemahiran serta kepakaran tenaga kerja.

E. Pengembangan Wilayah
Pengembangan diartikan sebagai suatu kegiatan menambah, meningkatkan,
memperbaiki atau memperluas. Konsep pengembangan wilayah di Indonesia lahir dari suatu
proses iteratif yang menggabungkan dasar-dasar pemahaman teoritis dengan pengalaman-
pengalaman praktis sebagai bentuk penerapannya yang bersifat dinamis. Menurut Siregar
(2014), pengembangan wilayah adalah pelaksanaan pembangunan nasional di suatu wilayah
yang disesuaikan dengan kemampuan fisik dan sosial wilayah tersebut serta mentaati
peraturan perundangang yang berlaku. Sedangkan menurut Hadjisaroso (1994)
20

pengembangan wilayah merupakan suatu tindakan mengembangkan wilayah atau


membangun daerah atau kawasan dalam rangka usaha memperbaiki tingkat kesejahteraan
hidup masyarakat, atau memajukan dan memperbaiki serta meningkatkan sesuatu yang
sudah ada ( Siregar 2014 ). Pengembangan wilayah mempunyai dua makna yaitu : wilayah
yang objektif dan wilayah yang subjektif (Siregar 2014). Wilayah objektif adalah suatu
wilayah yang oleh para perencana dibagi menjadi beberapa wilayah pembangunan,
sedangkan wilayah subjektif adalah perwilayahan yang dibentuk atas dugaan suatu cara
mengenal masalah. Hal ini dilakukan untuk untuk membuat klasifikasi, yang selanjutnya
wilayah subjektif dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

1. Wilayah homogen, yaitu wilayah yang mempunyai karakteristik yang sama secara
fisik dan sosial ekonomi.
2. Wilayah fungsional, yaitu yang dibentuk berdasarkan atas adanya hubungan
fungsional antara unsur-unsur tertentu yang ada pada wilayah tersebut.

Dengan demikian pengembangan wilayah dapat diartikan sebagai peningkatan


aktivitas terhadap unsur-unsur dalam wilayah yang mencakup institusi, ekonomi, sosial, dan
ekologi dalam upaya meningkatkan tingkat dan kualitas hidup masyarakat. Perkembangan
pokok bahasan tentang pembangunan wilayah adalah merupakan perkembangan baru yang
muncul pada dasawarsa 1950-an. Hal ini ditandai oleh kajian yang selama ini kurang
memperhatikan aspek spatial. Dalam perkembangannya Misra (1997) mengungkapkan bahwa
perencanaan dan pembangunan wilayah ditopang oleh empat pilar yaitu : aspek geografi,
aspek ekonomi, teori lokasi dan perencanaan kota. Namun demikian empat pilar diatas
belum mencakup aspek-aspek lainnya yang juga memberikan kontribusi besar terhadap
pengembangan wilayah seperti biogeofisik sosial dan lingkungan, maka perencanaan dan
pembangunan wilayah akan di topang enam pilar (Budiharsono,2005) yaitu :
Pengembangan wilayah pada dasarnya mempunyai arti peningkatan nilai manfaat
wilayah bagi masyarakat suatu wilayah tertentu mampu menampung lebih banyak penghuni,
dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang rata-rata membaik, disamping menunjukkan
lebih banyak sarana/prasarana, barang atau jasa yang tersedia dan kegiatan usaha-usaha
masyarakat yang meningkat, baik dalam arti jenis, intensitas, pelayanan, maupun kualitasnya.
Pandangan sebagian besar para ahli ilmu regional barat terutama di eropa lebih menitik
beratkan bahwa pembangunan regional mencakup kepada empat aspek utama yaitu : aspek
kelembagaan, aspek sosial, aspek ekonomi dan aspek ekologi.
21

F. Teori Pusat Pertumbuhan


Aspek kelembagaan (institusional ) Regional development Aspek ekologi (ecology)
Aspek ekonomi (economy) Theory growth poles adalah salah satu teori yang dapat
menggabungkan antara prinsip-prinsip konsentrasi dengan desentralisasi secara sekaligus
(Alonso dalam Sirojuzilam dan Mahali, 2010). Dengan demikian teori pusat pengembangan
merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pembangunan regional yang saling bertolak
belakang, yaitu pertumbuhan dan pemerataan pembangunan keseluruh pelosok daerah. Selain
itu teori ini juga dapat menggabungkan antara kebijaksanaan dan program pengembangan
wilayah dan perkotaan terpadu. Menurut Mercado (2002) konsep pusat pertumbuhan
diperkenalkan pada tahun 1949 oleh Fancois Perroux yang mendefenisikan pusat
pertumbuhan sebagai pusat dari pancaran gaya sentrifugal dan tarikan gaya sentripetal.
Menurut Rondinelli dan Unwin dalam Mercado (2002) bahwa teori pusat pertumbuhan
didasarkan pada keniscayaan bahwa pemerintah di Negara berkembang dapat mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan dengan melakukan investasi yang besar pada
industri padat modal di pusat kota.
Teori pertumbuhan juga ditopang oleh kepercayaan bahwa kekuatan pasar bebas
melengkapi kondisi terjadinya trickle down effect (dampak penetasan ke bawah) dan
menciptakan spread effect (dampak penyebaran) pertumbuhan ekonomi dari perkotaan ke
pedesaan. Menurut Stohr dalam Mercado (2002), konsep pusat pertumbuhan mengacu pada
pandangan ekonomi neo-klasik. Pembangunan dapat dimulai hanya dalam beberapa sektor
yang dinamis, mampu memberikan output rasio yang tinggi dan pada wilayah tertentu, yang
dapat memberikan dampak yang luas (spread effect) dan dampak ganda (multiple effect) pada
sektor lain dan wilayah yang lebih luas.
Sehingga pembangunan sinonim dengan urbanisasi (pembangunan di wilayah
perkotaan) dan industrialisasi (hanya pada sektor industry). Pandangan ekonomi neo-klasik
berprinsip bahwa kekuatan pasar akan menjamin ekuilibrium (keseimbangan0 dalam
distribusi spasial ekonomi dan proses trickle down effect atau centre down dengan sendirinya
akan terjadi kesejahteraan di perkotaan tercapai dan dimuulai dari level yang tinggi seperti
kawasan perkotaan ke kawasan yang lebih rendah seperti kawasan hinterland dan pedesaan
melalui beberapa mekanisme yaitu hirarki perkotaan dan perusahaan- perusahaan besar.
22

Namun demikian kegagalan teori pusat pertumbuhan karena trickle down effect (dampak
penetesan ke bawah) dan spread effect (dampak penyebaran) tidak terjadi yang diakibatkan
karena aktivitas industri tidak mempunyai hubungan dengan basis sumberdaya di wilayah
hinterland. Selain respon pertumbuhan di pusat tidak cukup menjangkau wilayah hinterland
karena hanya melengkapi kepentingan hirarki kota (Mercado,2002).

G. Ekonomi Pembangunan
1. Pengertian dan Ruang Lingkup Ekonomi Pembangunan
Menurut Mahyudi (2004), ekonomi pembangunan adalah suatu cabang dari ilmu
ekonomi yang betujuan menganalisis masalah-masalah yang dihadapi dan memperoleh cara
penyelesaian dalam pembangunan ekonomi, terutama di negara-negara berkembang, agar
pembangunan ekonomi menjadi lebih cepat dan harmonis. Pembangunan ekonomi ialah
serangkaian usaha dalam suatu perekonomian untuk mengembangkan kegiatan ekonomi
sehingga infrastruktur lebih banyak tersedia, perusahaan semakin banyak dan semakin
berkembang, taraf pendidikan semakin tinggi dan teknologi semakin meningkat (Sukirno,
2006). Selain memerhatikan masalah efisiensi alokasi sumber daya produktif yang langka
(atau tidak terpakai) serta kesinambungan pertumbuhan dari waktu ke waktu, ekonomi
pembangunan juga berbicara mengenai mekanisme-mekanisme ekonomi, sosial, politik, dan
kelembagaan, dalam sektor swasta maupun sektor publik. Semua mekanisme itu diperlukan
demi terciptanya suatu perbaikan standar hidup secara cepat yang mengarah pada
peningkatan kesejahteraan (Todaro, 2006). Bank Dunia melalui World Development Report
tahun 1991 menegaskan bahwa tantangan utama pembangunan ialah memperbaiki kualitas
kehidupan. Menurut Sukirno kesejahteraan ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :

a) Pendapatan perkapita
b) Komposisi umur penduduk
c) Pola pengeluaran masyarakat
d) Komposisi pendapatan nasional
e) Perbedaan masa lapang (leisure time) yang dinikmati masyarakat
f) Keadaan pengangguran

Todaro (1991) merumuskan tiga tujuan utama pembangunan, yatu :


23

1. Untuk meningkatkan ketersediaan dan memperluas penyebaran barang- barang


kebutuhan pokok seperti bahan makanan, tempat tinggal, sarana kesehatan dan
perlindungan bagi semua anggota masyarakat.
2. Untuk meningkat taraf hidup yang meliputi selain pendapatan yang lebih
3. Tinggi ketersediaan lapangan kerja yang lebih banyak, sarana pendidikan yang lebih
baik dan perhatian yang lebih besar terrhadap pelestarian nilai- nilai budaya dan
kemanusiaan. Semua itu tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan
material semata-mata melainkan juga untuk menciptakan martabat atau harga diri
masing-masing pribadi dan bangsa yang bersangkutan secara keseluruhan.

4. Untuk memperluas ragam pilihan ekonomi dan sosial bagi masing-masing


Pribadi maupun negara atau bangsa yang bersangkutan melalui suatu usaha untuk
memerdekakan diri dari perbudakan dan ketergantungan pihak lain, tidak hanya dalam
hubungan dengan Negara lain tetapi juga dalam kaitannya dengan kebodohan dan kepapaan
manusiawi yang membelenggu kehidupan mereka. Dengan demikian, jelas bahwa prioritas
pertama perpindahan dari suatu tingkat keterbelakangan yang ironis menuju suatu tingkat
kehidupan yang disebut pembangunan seharusnya berarti suatu peningkatan taraf hidup
masyarakat yang bersangkutan. (Todaro, 1995).

H. Aspek Sosial dalam Pembangunan


Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa pembangunan tidak hanya memusatkan
perhatian pada aspek ekonomi, melainkan juga aspek nonekonomi. Hubungan-hubungan
yang saling terkait antara apa yang dinamakan faktor-faktor ekonomi dan faktor-faktor
nonekonomi dianamakan sistem sosial. Termasuk dalam faktor-faktor nonekonomi adalah
sikap masyarakat dan individu dalam memandang kehidupan (norma budaya), kerja, dan
wewenang: struktur administrasi, hukum, dan birokrasi dalam sektor pemerintah, tingkat
partisipasi rakyat dalam perumusan keputusan dan kegiatan pembangunan; serta keluwesan
atau kekakuan stratifikasi ekonomi dan sosial (Todaro, 2006). Menurut Rachbini (2001)
perubahan sosial yang sitemik pun amat diperlukan agar faktor-faktor manusia dan non
manusia dapat diintegrasikan menuju self sustained growth yang diharapkan. Perubahan
sosial juga merupakan usaha bagaimana mengagregasikan seluruh potensi masyarakat yang
ada. Pada tahun 1960-an dan tahun 1970-an embangunan dikenal sebagai suatu upaya untuk
mencapai target pertumbuhan GNP 6% setahun. Sedangkan pandangan yang dianggap
sebagai keniscayaan untuk mempercepat proses pembangunan di sebuah wilayah seperti
24

halnya pada suatu negara adalah dengan cara menempuh strategi industrialisasi.
Industrialisasi dipandang sebagai satu - satunya jalan pintas untuk meretas nasib kemakmuran
suatu negara secara lebih cepat. Bahkan paralelisme antara jalannya pembangunan dan
strategi industrialisasi dapat dikatakan sebagai pemaknaan pembangunan yang identik dengan
industrialisasi sehingga keduanya tidak terpisahkan. (Yustika, 2003). Namun sering dengan
berjalannya waktu teori tersebut dianggap tidak releven lagi dengan kebutuhan pembangunan
yang sebenarnya. Pada tahun 2000 perserikatan bangsa-bangsa (PBB) merumuskan delapan
butir sasaran utama pembangunan yang kemudian dikenal dengan Millenium Development
Goals (MDGs), antara lain :
1. Memberantas kemiskinan dan kelaparan secara eksterm,
2. Memberikan pendidikan dasar secara universal,
3. Mendukung persamaan gender dan pemberdayaan wanita,
4. Mengurangi tingkat mortalitas anak,
5. Meningkatkan kesehatan ibu,
6. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit-penyakit lainnya,
7. Menjaga keseimbangan lingkungan, dan
8. Mengembangkan kerja sama global untuk pembangunan.

Peran aspek nonekonomi dalam pembangunan juga ditegaskan oleh Schultz yang
menyatakan bahwa masalah sumber daya manusia menempati posisi sentral dalam setiap
perbincangan tentang pertumbuhan ekonomi, di samping tentunya masalah modal, teknologi
dan sebagainya (Rachbini, 2001). Pembangunan memiliki dimensi yang lebih luas
dibandingkan upaya pengejaran pertumbuhan ekonomi semata. Selain sebagai pertumbuhan
ekonomi plus perubahan-perubahan sosial, pembangunan bisa juga diartikan sebagai
pertumbuhan nilai-nilai etika yang menekankan pada perubahan kualitas dalam seluruh aspek
kemasyarakatan, kelompok, dan individu. Lebih jauh lagi Rachbini berpendapat bahwa
pembangunan ekonomi dan materi merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan nilai
dan peradaban manusia. Demikianlah faktor sosial ekonomi memainkan peran pentingnya
dalam pembangunan.

I . Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan Alex Sander (2010) yang berjudul Pengaruh Pembangunan
Bandara Kuala Namu Terhadap Okupasi Penduduk Sekitar Bandara menghasilkan bahwa
adanya pergeseran okupasi dan bertambahnya pekerjaan informal lainnya. Dan hasil
25

penelitiannya juga menunjukkan bahwa petani yang lebih benyak bergeser pekerjaan ke
sektor informal lainnya. Adapun pekerjaan yang paling banyak bertambah dari pengaruh
pembangunan bandara kuala namu adalah buruh bangunan, mocok-mocok dan pedagang.

DR.Hadi Supratika,MM (2011) juga melakukan penelitian dengan judul Analisis


Implementasi Dampak Pembangunan Bandara Internasional Lombok. Ditinjau dari
Administrasi Pembangunan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa untuk
pembngunan bandara Internasional Lombok (BIL) perlu memperhatikan hal-hal antara lain:
menegakkan hukum yang berlaku, memperbaiki SDM dengan meningkatkan mutu
pendidikan, solusi pendekatan keimanan dan ketakwaan, melakukan pembangunan yang
bersifat green field dan percaya akan kemampuan bangsa sendiri. Karena nilainya lebih dari
10 % maka penilaian data juggment harus diperbaiki untuk meminimalisir dampak negatif
yang muncul sehingga tercipta sutau pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu peran
semua pihak untuk mencapai suatu keseimbangan, sangat penting untuk perspektif ke
depannya. Tetapi berdasarkan hasil analisis suatu permasalahan yang muncul dampak positif
dari segi ekonomi memang sangat tinggi tapi ada hal lain yang perlu dipertimbangkan yaitu
segi ekosistem, lingkungan dan kesehatan. Dampak yang ditimbulkan pembangunan bandara
BIL ternyata berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat lombok terutama
yang terkait indikator-indikator mikro ekonomi. Kedua penelitian diatas baik yang dilakukan
Alex Sander maupun DR.Hadi Supratika,MM sama-sama memfokuskan perhatian pada
perubahan sosial ekonomi yang terjadi pada masyarakat setempat dengan adanya
pembangunan bandara kuala namu. Begitu juga dengan penelitian ini akan membahas
dampak positif dan negatif dari pembangunan bandara kuala namu baik dari segi ekonomi,
sosial dan infrastruktur. Oleh karenanya penelitian ini diharapkan menjadi pelengkap atas
penelitian terdahulu, sehingga dampak dari pembangunan bandara tersebut lebih terlihat
dengan jelas apa dampak yang ditimbulkannya terutama dari segi perkembangan ekonomi
masyarakat sekitar bandara apakah memberikan kontribusi atau sebaliknya.
26

J. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual penelitian ini digambarkan sebagai berikut :

PEMBANGUNAN
BANDARA

INVESTASI PERTUMBUHAN EKONOMI

INVESTASI LOKAL Pendapatan Masyarakat

INVESTASI ASING
penyerapan tenaga kerja lokal

Peningkatan sarana prasarana

Tabel 1. Kerangka Konseptual

Dengan adanya pembangunan Bandara Kuala Namu tentunya akan memberikan


dampak bagi masyarakat sekitar baik positif maupun negatif. Tentunya dampak tersebut
akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar bandara
tersebut. Terutama yang berkaitan dengan tingkat pendapatan, lapangan kerja, pembangunan
sosial dan juga keamanan bagi masyarakat. tentunya Inilah yang diharapakan dari
pemerintah atas efek dari pembangunan itu sendiri tentunya akan memberikan kontribusi
terhadap pertumbuhan ekonomi.

K. Hipotesis
Adapun Hipotesis pada proposal skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. penilaian masyarakat terhadap pembangunan bandara kuala namu meningkatkakn
perekonomian masyarakat sekitar bandara
2. ketersediaan infrastruktur masyarakat sekitar bandara meningkat setelah
pembangunan bandara
3. Dampak pembangunan bandara terhadap meningkatkan tingkat investasi baik lokal
dan asing masyarakat sekitar bandara
27

4. Peluang Lapangan pekerjaan meningkat bagi masyarakat sekitar bandara Kuala


Namu