Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH MUDHARABAH

DI

OLEH

SRI RAMAYANTI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

ACEH TAMIANG

TAHUN AJARAN 2017/2018


BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya setiap manusia dalam aktifitasnya baik yang bersifat duniawi maupun
ukhrowi tidak lepas dari tujuan yang akan ia peroleh selepas aktifitas tersebut, dengan
berbagai macam perbedaan sudut pandang manusia terhadap esensi dari apa yang hendak ia
peroleh, maka tidak jarang dan sangat tidak menutup kemungkinan proses untuk menuju
tujuan yang ingin dicapainya menjadi bermacam-macam.

Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk berusaha, termasuk melakukan


kegiatan-kegiatan bisnis. Dalam kegiatan bisnis, seseorang dapat merencanakan sesuatu
dengan sebaik-baiknya agar dapat menghasilkan sesuatu yang diharapkan, namun tidak ada
seorangpun yang dapat memastikan hasilnya seratus persen.

Suatu usaha, walaupun direncanakan dengan sebaik-baiknya, namun tetap mempunyai


resiko untuk gagal Konsep Bagi hasil, dalam menghadapi ketidakpastian merupakan salah
satu prinsip yang sangat mendasar dari ekonomi Islam, yang dianggap dapat mendukung
aspek keadilan. Keadilan merupakan aspek mendasar dalam perekonomian Islam (Antonio,
2001). Penetapan suatu hasil usaha didepan dalam suatu kegiatan usaha dianggap sebagai
sesuatu hal yang dapat memberatkan salah satu pihak yang berusaha, sehingga melanggar
aspek keadilan.

Dalam perbankan syariah kita telah mengenal bahwa didalamnya tidak memakai
prinsip bunga melainkan prinsip bagi hasil, yang mana prinsip bagi hasil dalam perbankan
syariah ini dapat dilakukan dalam empat akad, yaitu; al-musyarakah, al-mudharabah, al-
muzara’ah dan al-musaqah.

Didalam makalah ini akan dijelaskan tentang akad mudharabah. Melihat pada bahasan
singkat diatas penulis berminat untuk membahas lebih lanjut tentang konsep transaksi
Mudharabah. Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak dimana
pemilik modal (shahibul amal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola
(mudharib) dengan suatu perjanjian di awal.

2. Rumusan Masalah

1. Apa definisi mudharabah ?


2. Apasajakah dasar hukum mudharabah ?
3. Apasajakah jenis-jenis mudharabah ?
4. Apasajakah rukun dan syarat mudharabah ?
5. Apasajakah ketentuan mudharabah ?
6. Apasajakah ketentuan hukum mudharabah ?
7. Bagaimanakah skema mudharabah ?
BAB II

MUDHARABAH

1. Definisi Mudharabah

Dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan dana lembaga keuangan


syari’ah (LKS), pihak LKS dapat menyalurkan dananya kepada pihak lain dengan cara
mudharabah, yaitu akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak di mana pihak pertama
(malik, shahib al-mal, LKS) menyediakan seluruh modal, sedang pihak kedua (‘amil,
mudharib, nasabah) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi di antara
mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak.

2. Dasar Hukum Mudharabah

1. Al-Quran

QS. al-Nisa’ [4]: 29:

‫اط ِل َب ْينَ ُك ْم أَ ْم َوالَ ُك ْم تَأْ ُكلُوا َل آ َمنُوا الَّذِينَ أَيُّ َها َيا‬
ِ ‫ارة ت َ ُكونَ أ َ ْن ِإ َّل ِب ْال َب‬
َ ‫ِم ْن ُك ْم ت ََراض َع ْن تِ َج‬

“Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan sukarela di antaramu…”.

QS. al-Ma’idah [5]: 1:

‫بِ ْالعُقُو ِد أَ ْوفُوا آ َمنُوا الَّذِينَ أَيُّ َها يَا‬

“Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu….”

QS. al-Baqarah [2]: 283:

ُ ‫ق أَ َمانَتَهُ اؤْ ت ُ ِمنَ الَّذِي فَ ْلي َُؤ ِد بَ ْعضا بَ ْع‬


‫ض ُكم أ َ ِمنَ فَإِ ْن‬ ِ َّ‫َربَّهُ للاَ َو ْليَت‬
“…Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai
itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya…”.

2. Al-Hadist

HR. Thabrani dari Ibnu Abbas

َ‫سيِدُنَا َكان‬ ُ ‫ب َع ْب ِد ْبنُ ْالعَب‬


َ ‫َّاس‬ َ ‫اربَة ْال َما َل دَ َف َع إِذَا ْال ُم‬
ِ ‫ط ِل‬ َ ‫ض‬ َ ‫احبِ ِه َعلَى اِ ْشت ََر‬
َ ‫ط ُم‬ ِ ‫ص‬َ ‫بَحْ را بِ ِه يَ ْسلُكَ لَ أ َ ْن‬، َ‫بِ ِه يَ ْن ِز َل َول‬
‫وادِيا‬،َ َ‫ي َول‬ َ ‫طبَة َكبِد ذَاتَ دَابَّة بِ ِه يَ ْشت َِر‬ ْ ‫ر‬،َ ‫ض ِمنَ ذَلِكَ فَعَ َل فَإ ِ ْن‬ ُ ‫صلَّى للاِ َر‬
ُ ‫س ْو َل ش َْر‬
َ ، ‫طهُ فَبَلَ َغ‬ َ ُ‫سلَّ َم َوآ ِل ِه َعلَ ْي ِه( للا‬
َ ‫َو‬
َ
ُ‫عباس ابن عن األوسط فى الطبراني رواه( فَأ َجازَ ه‬
“Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia
mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni
lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib)
harus menanggung resikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar
Rasulullah, beliau membenarkannya.”

HR. Ibnu Majah dari Shuhaib

‫ي أَ َّن‬ َّ ‫صلَّى النَّ ِب‬ َ ‫سلَّ َم َوآ ِل ِه‬


َ ُ‫علَ ْي ِه للا‬ ْ ‫أ َ َجل ِإلَى البَ ْي ُع‬، ُ‫ضة‬
َ ‫قَا َل َو‬: ‫البَ َر َكةُ فِ ْي ِه َّن ثَالَث‬: َ َ‫و ْال ُمق‬،
َ ‫ار‬ َ ‫ط‬ُ ‫ش ِعي ِْر ْالب ُِر َوخ َْل‬ ِ ‫لَ ِل ْلبَ ْي‬
َّ ‫ت ِبال‬
ْ
ِ‫)صهيب عن ماجه ابن رواه( ِللبَيْع‬
“Nabi bersabda, ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai,
muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan
rumah tangga, bukan untuk dijual.”

Hadis Nabi riwayat Tirmizi dari ‘Amr bin ‘Auf:

‫ص ْل ُح‬
ُّ ‫ص ْلحا ِإلَّ ْال ُم ْس ِل ِمينَ َبيْنَ َجا ِئز اَل‬
ُ ‫وط ِه ْم َعلَى َو ْال ُم ْس ِل ُمونَ َح َراما أ َ َح َّل أ َ ْو َحالَل َح َّر َم‬ ُ َّ‫أ َ َح َّل أَ ْو َحالَل َح َّر َم ش َْرطا ِإل‬
ِ ‫ش ُر‬
‫ َح َراما‬.

‫“ﹶ‬Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang


mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat
dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau
menghalalkan yang haram.”

HR, Ibnu Majah, Daraquthni, dan yang lain dari Abu Sa’id alKhudri.

َ َ‫ار ل‬
‫ض َر َر‬ ِ َ‫)الخدري سعيد أبي عن وغيرهما والدارقطني ماجه ابن رواه( َول‬
َ ‫ض َر‬

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain”

3. Ijma’

Diriwayatkan, sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang, mudharib harta anak yatim
sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. Karenanya, hal itu
dipandang sebagai ijma’ (Wahbah Zuhaily, al Fiqh al-Islami wa Adillatuhu,1989, 4/838).

4. Qiyas

Transaksi mudharabah diqiyaskan kepada transaksi musaqah.

5. Kaidah Fiqh

‫ص ُل‬ ِ َ‫تَحْ ِري ِْم َها َعلَى دَ ِليْل يَد ُ َّل أ َ ْن إِلَّ اْ ِإلبَا َحةُ ْال ُمعَا َمال‬
ْ ‫ت فِى األ‬

“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya.”
1. Jenis-Jenis Mudharabah

a. Mudharabah Muqayyadah

( Restricted Investment Account ), yaitu bentuk kerja sama antara dengan syarat-syarat dan
batasan tertentu. Dimana shahibul mal membatasi jenis usaha, waktu atau tempat usaha.
Dalam istilah ekonomi Islam modern, jenis mudharabah ini disebut Restricted Investment
Account. Batasan-batasan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan modalnya dari resiko
kerugian. Syarat-syarat itu harus dipenuhi oleh si mudharib. Apabila mudharibmelanggar
batasan-batasan ini, maka ia harus bertanggung jawab atas kerugian yang timbul.

b. Mudharabah Muthlaqah

( Unrestricted Investment account ), yaitu bentuk kerja sama antara shahibul mal dan
mudharib tanpa syarat atau tanpa dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah
bisnis. Dalam bahasa Inggris, para ahli ekonomi Islam sering menyebut mudharabah
muthlaqah sebagai Unrestricted Investment Account (URIA). Maka apabila terjadi kerugian
dalam bisnis tersebut, mudharib tidak menanggung resiko atas kerugian. Kerugian
sepenuhnya ditanggulangi shahibul mal.

2. Rukun Dan Syarat Mudharabah

a. Penyedia dana (sahibul maal) dan pengelola (mudharib) Semua pihak yang terlibat
harus cakap hukum.

b. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan
kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad), dengan memperhatikan hal-hal
berikut:

 Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak


(akad).
 Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak.
 Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau dengan menggunakan
cara-cara komunikasi modern.

c. Modal

ialah sejumlah uang dan/atau aset yang diberikan oleh penyedia dana kepada
mudharib untuk tujuan usaha dengan syarat sebagai berikut:

1. Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya.


2. Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai. Jika modal diberikan dalam
bentuk aset, maka aset tersebut harus dinilai pada waktu akad.
3. Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada mudharib, baik
secara bertahap maupun tidak, sesuai dengan kesepakatan dalam akad.
4. Keuntungan mudharabah adalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari
modal. Syarat keuntungan berikut ini harus dipenuhi:
 Harus diperuntukkan bagi kedua pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya
untuk satu pihak.
 Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan
dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi
(nisbah) dari keun-tungan sesuai kesepakatan. Perubahan nisbah harus
berdasarkan kesepakatan.
 Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah, dan
pengelola tidak boleh menanggung kerugian apapun kecuali diakibatkan dari
kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan.
 Kegiatan usaha oleh pengelola (mudharib)

sebagai perimbangan (muqabil) modal yang disediakan oleh penyedia dana, harus
memperhatikan hal-hal berikut:

1. Kegiatan usaha adalah hak eksklusif mudharib, tanpa campur tangan penyedia
dana, tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan pengawasan.

2. Penyedia dana tidak boleh mempersempit tindakan pengelola sedemikian rupa


yang dapat menghalangi tercapainya tujuan mudharabah, yaitu keuntungan.

3. Pengelola tidak boleh menyalahi hukum Syari’ah Islam dalam tindakannya yang
berhubungan dengan mudhara-bah, dan harus mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam
aktifitas itu.

3. Ketentuan Mudharabah

1. Pembiayaan Mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh LKS kepada


pihak lain untuk suatu usaha yang produktif.

2. Dalam pembiayaan ini LKS sebagai shahibul maal (pemilik dana) membiayai 100
% kebutuhan suatu proyek (usaha), sedangkan pengusaha (nasabah) bertindak sebagai
mudharib atau pengelola usaha.

3. Jangka waktu usaha, tatacara pengembalian dana, dan pembagian keuntungan


ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (LKS dengan pengusaha).

4. Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha yang telah disepakati bersama
dan sesuai dengan syari’ah; dan LKS tidak ikut serta dalam managemen perusahaan
atau proyek tetapi mempunyai hak untuk melakukan pembinaan dan pengawasan.

5. Jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tunai dan
bukan piutang.

6. LKS sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah
kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan kesalahan yang disengaja, lalai, atau
menyalahi perjanjian.
7. Pada prinsipnya, dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan, namun agar
mudharib tidak melakukan penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan dari mudharib
atau pihak ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti
melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad.

8. Kriteria pengusaha, prosedur pembiayaan, dan mekanisme pembagian keuntungan


diatur oleh LKS dengan memperhatikan fatwa DSN.

9. Biaya operasional dibebankan kepada mudharib.

10. Dalam hal penyandang dana (LKS) tidak melakukan kewajiban atau melakukan
pelanggaran terhadap kesepakatan, mudharib berhak mendapat ganti rugi atau biaya yang
telah dikeluarkan.

4. Ketentuan Hukum Mudharabah

1. Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu.

2. Kontrak tidak boleh dikaitkan (mu’allaq) dengan sebuah kejadian di masa depan
yang belum tentu terjadi.

3. Pada dasarnya, dalam mudharabah tidak ada ganti rugi, karena pada dasarnya akad
ini bersifat amanah (yad al-amanah), kecuali akibat dari kesalahan disengaja, kelalaian,
atau pelanggaran kesepakatan.

4. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan
di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi
Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

5. Skema Mudharabah
Keterangan:

Pemilik modal (shahibul mal) menyerahkan modalnya kepada pengelola dana (mudharib)
untuk diolah dalam sebuah proyek/usaha. Kemudian keduanya melakukan perjanjian bagi
hasil. jika untung, dibagi sesuai nisbah. jika rugi ditanggung pemilik dana.

BAB III

PENUTUP

1 Kesimpulan

Mudharabah, yaitu akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak di mana pihak
pertama (malik, shahib al-mal, LKS) menyediakan seluruh modal, sedang pihak kedua
(‘amil, mudharib, nasabah) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi di
antara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Dasar hukum mudharabah
ada al-quran, al-hadist, ijma’, qiyas, dan kaidha fiqh. Jenis-jenis mudharabah ada 2 yaitu
mudharabah muqayyadah yaitu bentuk kerja sama antara dengan syarat-syarat dan batasan
tertentu. dan mudharabah muthlaqah yaitu bentuk kerja sama antara shahibul mal dan
mudharib tanpa syarat atau tanpa dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah
bisnis. Rukun dan syarat mudharabah ada 5 antara lain penyedia dana (sahibul maal) dan
pengelola (mudharib) pernyataan ijab dan qabul modal keuntungan mudharabah kegiatan
usaha oleh pengelola (mudharib). Dan ada beberapa ketentuan terkait pembiayaan
mudharabah. Skema mudharabah yaitu pemilik modal (shahibul mal) menyerahkan modalnya
kepada pengelola dana (mudharib) untuk diolah dalam sebuah proyek/usaha. Kemudian
keduanya melakukan perjanjian bagi hasil. jika untung, dibagi sesuai nisbah. jika rugi
ditanggung pemilik dana.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Kasani, Alauddin, Bada’i As-Syana’i fi Tartib Asy-Syara’i, Juz VI

Asy-Syarbini, Muhammad, Mugni Al-Muhtaj, Juz II

Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 07/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan


Mudharabah (Qiradh)

Sabiq, Sayyid, Fiqhus Sunnah, Asep Sobari, Fiqih Sunah, (Jakarta : Al-I’tishom, 2008)

Syafei, Rachmat, Fiqih Muamalah, (Bandung : Pustaka Setia, 2001)