Anda di halaman 1dari 12

JURNAL READING

COMPLICATION OF OPEN TIBIAL FRACTURE MANAGEMENT: RISK

FACTOR AND TREATMENT

(Lua JYC, Tan VH, Sivasubramanian H, Kwek EBK)

Pembimbing :

dr. Bambang Agus Teja K., Sp.OT

Disusun oleh:

Nadya Hasna Rasyida DA G1A014005

SMF ILMU BEDAH

RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO

2018
LEMBAR PENGESAHAN

JURNAL READING

COMPLICATION OF OPEN TIBIAL FRACTURE MANAGEMENT: RISK

FACTOR AND TREATMENT

(Lua JYC, Tan VH, Sivasubramanian H, Kwek EBK)

Disusun Oleh :

Nadya Hasna RDA G1A014005

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik di bagian Ilmu

Bedah RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo

Telah disetujui dan dipresentasikan

Pada tanggal : Oktober 2018

Dokter Pembimbing,

dr. Bambang Agus Teja K., Sp.OT

2
COMPLICATION OF OPEN TIBIAL FRACTURE MANAGEMENT: RISK

FACTOR AND TREATMENT

Komplikasi Tatalaksana Fraktur Terbuka Tibia: Faktor Resiko Dan Pengobatan

Fraktur tibia terbuka adalah salah satu jenis fraktur yang paling banyak terjadi,

sekitar 25% dari seluruh kasus di bidang orthopedi. Penyebab terbanyak fraktur ini

adalah adanya trauma dengan velositas tinggi, seperti kecelakaan. Fiksasi menjadi satu

satunya pengobatan pada fraktur tibia terbuka. Namun, terdapat komplikasi post operasi,

baik yang berupa infeksi sistemik maupun komplikasi pada tulang.

Pada penelitian ini, melibatkan 173 sampel, yang akan diteliti dengan variabel

umur, jenis kelamin, ada atau tidaknya diabetes melitus, lokasi fraktur, klasifikasi gustilo

anderson, dan waktu yang diperlukan dari injury dan fiksasi, komplikasi infeksi,

komplikasi pada tulang dan kondisi jaringan ikat post operasi.

Hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Faktor resiko post operasi pasien

Tabel 2. Komplikasi Post Operatif

3
Tabel 3. Hasil Analisis Multivariat

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi klasifikasi Gustilo-

Anderson, maka semakin tinggi pula resiko pasien tersebut mengalami komplikasi

post operasi, yang mana kebanyakan komplikasi yang terjadi adalah infeksi sistemik

yang disebabkan oleh bakteri nosokomial, salah satunya adalah bakteri Gram Positif.

Sehingga, pemberian ntibiotik profilaksis sangat diperlukan pada operasi fraktur tibia

terbuka.

Selain itu, didapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara lokasi fraktur

maupunn rentang waktu yang dibutuhkan antara kejadian fraktur dengan fiksasi

dengan komplikasi post operasi, karena banyak faktor lain yang mempengaruhi, misal

cara perawatan luka.

4
COMPLICATION OF OPEN TIBIAL FRACTURE MANAGEMENT: RISK

FACTOR AND TREATMENT

Komplikasi Tatalaksana Fraktur Terbuka Tibia: Faktor Resiko Dan Pengobatan

A. Abstrak

Fraktur terbuka tibia menyebabkan banyak komplikasi yang terjadi. Penelitian ini

bertujuan untuk menjelaskan faktor resiko yang menyebabkan komplikasi pada

fraktur terbuka tibia dan memberikan saran penggunaan antibiotik yang tepat

bedasarkan regimen kuman yang muncul pasca operasi. Selama lima tahun, 173

pasien menderita fraktur terbuka tibia dan telah menjalani operasi pada suatu rumah

sakit. Data rekam medis didapatkan secara retrospektif melalui rekam medis online.

Tiga puluh satu pasien (17.9%) menderita komplikasi post-operatif pada tulang yang

berkelanjutan, sedangkan pada tiga puluh tujuh pasien (21.4%) menderita komplikasi

infektif post-operasi. Pasien dengan diagnosa Gustilo tipe 3, cenderung menderita

infeksi post-operasi tiga kali lebih banyak (p= 0.007) dibandingkan Gustilo tipe 1

maupun 2 (p=0.015). Lokasi dan onset fraktur tidak mempengaruhi secara signifikan

pada kemungkinan infeksi yang dialami pasien. Penyebab tersering dari infeksi

pasca-operasi adalah bakteri yang ada di rumah sakit (hospital acquired organisms),

misal Methicillin-resistant staphylococcus aureus (40.5%). Observasi ketat pada

pasien dengan skor Gustilo yang tinggi dan ditambah pemberian antibiotik profilaksis,

akan menghasilkan outcome yang lebih baik pada pasien. Penelitian selanjutnya

dengan sampel yang lebih besar sangat dibutuhkan, untuk mengetahui hubungan

signifikansi dari lokasi fraktur dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan fiksasi

dengan tingkat komplikasi.

5
B. Pendahuluan

Fraktur tibia adalah jenis fraktur yang paling sering terjadi di tulang panjang. Dari

seluruh kasus yang ada, 25% diantaranya adalah fraktur terbuka. Penyebab fraktur

tibia paling sering adalah adanya trauma yang disebabkan oleh kelanjuan yang tinggi,

misal pada kecelakaan lalu lintas. Penanganan pada fraktur jenis ini cenderung

kompleks, dikarenakan sedikitnya jumlah jaringan ikat dan suplai darah pada bagian

tulang tibia. Prognosis tergantung pada pergeseran, kominuti dan kerusakan pada

jaringan ikat. Rekonstruksi tulang dan jaringan ikat diperlukan untuk mendapatkan

hasil yang optimal untuk penyembuha tulang dan jaringan. Tingkat komplikasi pada

kasus fraktur tibia terbuka cukup tinggi. Infeksi, ununion adalah penyebab terbanyak

kematian pada kasus ini.

Penanganan pada kasus ini membutuhkan pendekatan pada banyak disiplin ilmu

dalam rangka untuk mencapai penyembuhan yang cepat bagi pasien. Berbagai macam

klasifikasi pada fraktur tibia terbuka telah dijelaskan dalam berbagai literatur, sebagai

cara untuk memudahkan penentuan prognosis. Klasifikasi yang paling sering

digunakan adalah Gustilo-Anderson, yang membagi menjadi tiga klasifikasi

berdasarkan lebar luka, derajat kontaminasi dan luasnya kerusakan jaringan ikat.

Fraktur terbuka banyak menyebabkan infeksi karena adanya hubungan dengan

lingkungan eksternal. Untuk menanganinya, perlu diberikan antibiotik profilaksis

yang biasa diberikan sebelum, saat dan sesudah operasi.

Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari faktor resiko yang

menyebabkan infeksi maupun komplikasi pada fraktur tibia terbuka. Mempelajari

mengenai faktor resiko dapat membantu menurunkan tingkat komplikasi. Lebih

6
labjut, penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data organisme organisme yang

menyebabkan komplikasi infeksi dengan tujuan untuk membantu merekomendasikan

antibiotik profilaktif yang tepat

C. Metode

Data dikumpulkan dari tahun 2006-2011. Semua pasien terdiagnosa fraktur tibia

terbuka dan dilakukan operasi pada trauma center. Kriteria eksklusi : trauma yang

membutuhkan amputasi sebagai tatalaksana definitif. 2) pasien yang lose follow up.

Variabel yang digunakan antara lain : umur, jenis kelamin, ada atau tidaknya

diabetes melitus, lokasi fraktur, klasifikasi gustilo anderson, dan waktu yang

diperlukan dari injury dan fiksasi, komplikasi infeksi, komplikasi pada tulang dan

kondisi jaringan ikat post operasi.

Lokasi fraktur didefinisikan sebagai posisi fraktur, dapat berupa proksimal,

middle atau sepertiga distal dari tibia. Komplikasi infeksi didefinisikan sebagai

osteomyelitis, infeksi dari pemasangan implant, dan infeksi pada jaringan ikat.

Komplikasi pada tulang didefinisikan sebagai malunion, non union, delayed union

atau kegagalan dari pemasangan implant.

Analisis statistik di lakukan menggunakan STATA 13(StataCorp, College Station,

TX). Variabel numerik di laporkan sebagai rata rata plus minus deviasi standa dengan

t test, sedangkan variabel kategori ditampilkan sebagai angka dan persentase. Chi

square atau fisher test dilakukan apabila memenuhi kriteria. P<0.2 dari univariate di

pilih untuk multivariat. Signifikansi 2 tailed 0.05 digunakan pada semua penelitian.

7
D. Hasil

185 pasien ditatalaksana di rumah sakit tersebut selama 5 tahun dari 2006 hingga

2011, tetapi 12 pasien lost follow up. Sehingga hasilnya, 173 pasien termasuk di

penelitian ini. Dari seluruh pasien, 6 pasien terdiagnosa fraktur tibia terbuka bilateral,

dengan 167 diantaranya fraktur tibia terbuka unilateral. Rata rata usia pasien adalah

38.4 tahun (18-92, standart deviation 14.5). Terdapat 153 pasien laki laki (88%) dan

20 pasien perempuan (12%).

Tabel 1. Faktor resiko post operasi pasien

Tabel 1 menggambarkan faktor resiko komplikasi post operasi pada pasien fraktur

tibia terbuna. 17 pasien (9.82%) menderita diabetes melitus. 24 pasien (14.1%)

mengalami fraktur pada seperriga proksimal tibia, 80 (47.1%) pada sepertiga middle

tibia, dan 66 pasien (38.8%) pada sepertiga distal tibia. Dalam klasifikasi Gustilo, 31

pasien (17.7%) pasien menderita Gustilo tipe 1, 59 pasien (34.0%) Gustilo tipe 2, dan

83 pasien (48.3%) adalah Gustilo tipe IIA, IIIB, atau IIIC.

8
Tabel 2. Komplikasi Post Operatif

Dari tabel 2, dapat dilihat bahwa dalam kelompok komplikasi post operatif, 31

pasien (17.9%) menderita komplikasi pada tulangnya, sedangkan 37 pasien (21.4%)

mengalami komplikasi infeksi. Dari 37 pasien yang mengalami infeksi, 40.5%

terinfeksi oleh Methicilin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). 16.2% terserang

oleh genus enterobacter sedangkan 8.1% lainnya adalah genus serratia marcescens.

Tabel 3. Hasil Analisis Multivariat

Tabel 3 menjelaskan mengenai hasil analisis multivariat yang dilakukan,

didapatkan hasil pasien yang menderita fraktur Gustillo tipe 3, 3.72 kali lebih mudah

terserang infeksi dibandingkan Gustilo tipe 1 dan 2 setelah menyesuaikan dari lokasi,

waktu fiksasi, umur dan diabetes. Sama dengan hasil diatas, Gustilo tipe 3 terserang

komplikasi pada tulang 4.18 kali lebih rentan dibandingkan dengan gustilo tipe 1 dan

2.

9
E. Diskusi

Klasifikasi Gustilo-Anderson adalah jenis klasifikasi yang paling banyak

digunakan, meskipun masih terdapat kontroversi mengenai batasan batasannya,

namun klasifikasi ini yang paling banyak diterima masyarakat luas. Dari penelitian ini,

dapat dibuktikan bahwa semakin tinggi klasifikasi Gustilo-Anderson, maka semakin

banyak komplikasi pada pasien tersebut, sehingga dapat menjadi suatu antisipasi

untuk selalu mengawasi pasien dengan klasifikasi Gustilo-Anderson yang tinggi.

Rentang waktu antara fraktur dengan fiksasi sering menjadi perdebatan. Beberapa

literatur menyatakan bahwa terdapat hubungan antara komplikasi pada tulang dengan

rentang waktu yang diperlukan antara kejadian dengan fiksasi. Namun, beberapa

literatur menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan anatara rentang

waktu dengan komplikasi pada tulang. Pihak yang menyatakan bahwa terdapat

hubungan yang signifikan menyatakan bahwa semakin cepat kerusakan pada jaringan

ikat ditangani, maka akan menurunkan kemungkinan komplikasi seperti osteomyelitis.

Sedangkan disisi lain, dikemukakan pendapat bahwa operasi untuk memperbaiki

jaringan ikat apabila dikerjakan >72 jam setelah kejadian tidak akan menimbulkan

komplikasi apabila dilakukan perawatan luka yang baik dan benar.

Pada penelitian ini, lokasi fraktur dengan rentang waktu antara kejadian dengan

fiksasi tidak terdapat hubungan yang signifikan. Hal ini bisa disebabkan karena

jumlah partisipan dalam penelitian ini tidak cukup memadai

Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa mikroorganisme yang sering

menginfeksi adalah bakteri nosokomial. Berbagai macam cara dapat digunakan untuk

mencegah tersebarnya bakteri, seperti perawatan luka yang benar dan menjaga

10
sterilitas. Biasanya, pada Gustilo-Anderson tipe 1, digunakan antibiotik cefazolin dan

pada Gustilo-Anderson 2 dan 3 digunakan aminoglikosid misal gentamisin dan

penggunaan metronidazol atau penisilin untuk bakteri anaerob.

Pada Maret 2013, The Antimicrobal Stewardship Group For the Royal Devon and

Exeter National Health Service Fondation Trust merekomendasikan penggunaan co-

aminoklav (amoxicillin dan asam klavulanat) sebelum operasi pertama pada

ekstremitas bawah. Disisi lain, The Surgical Infection’s Society merekomendasikan

penggunaan Sefalosporin. Sedangkan pada penelitian ini, didapatkan hasil bahwa

penggunaan antibiotik profilaksis sangat diperlukan, misal menggunakan vankomisin

sebagai tambahan untuk antibiotik yang sering digunakan untuk bakteri Gram Positif,

yaitu Cefazolin.

F. Kesimpulan

1. Semakin tinggi klasifikasi Gustilo-Anderson, semakin tinggi pula kemungkinan

terkena komplikasi post operasi

2. Lokasi fraktur tidak memiliki pengaruh signifikan pada komplikasi post operasi

3. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rentang waktu dari fraktur dan

fiksasi terhadap komplikasi post operasi

4. Bakteri yang paling sering menyebabkan komplikasi post operasi adalah bakteri

nosokomial

5. Antibiotik profilaksis dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menurunkan

angka komplikasi post operasi

11
6. Penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih banyak diperlukan untuk

mengetahui lebih lanjut faktor lain yang berhubungan dengan komplikasi post

operasi

12