Anda di halaman 1dari 6

KERANGKA ACUAN

SEMINAR NASIONAL Update Laboratory Diagnosis of Multi Drug Resistant Tuberculosis

BANJARMASIN, 15 DESEMBER 2018

A. LATAR BELAKANG

Tuberculosis (TB) termasuk dalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian di dunia.
Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB di dunia, terjadi pada negara-negara
berkembang. Data WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2015, Indonesia termasuk dalam 6 besar
negara dengan kasus baru TB tertinggi di dunia. Menurut data WHO pada tahun 2010, Estimasi
prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 dan estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru
per tahun. Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya. Demikian juga,
kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas.

Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah resistensi ganda kuman TB
terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak
berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang
sulit ditangani. Pada tahun 2011, Badan kesehatan dunia (World Health Organization/ WHO)
memperkirakan di dunia terdapat sekitar 500.000 kasus TB yang resistan terhadap INH dan Rifampisin
(TB MDR) setiap tahunnya dengan angka kematian sekitar 150.000. Dari jumlah tersebut baru sekitar
10% yang telah ditemukan dan diobati.

Prevalensi TB MDR di dunia diperkirakan 2-3 kali lipat lebih tinggi dari insidens. Global TB report dari
WHO tahun 2011 mengenai hasil surveilans resistansi OAT di beberapa negara menunjukkan
terdapatnya negara atau wilayah yang memiliki angka resistansi terhadap OAT yang sangat tinggi.
Indonesia telah melakukan beberapa survei resistansi OAT untuk mendapatkan data resistansi OAT.
Survei tersebut diantaranya dilakukan di Kabupaten Timika Papua pada tahun 2004, menunjukkan data
kasus TB MDR diantara kasus baru TB adalah sebesar 2%; di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006, data
kasus TB MDR di antara kasus baru TB adalah 1,9% dan kasus TB MDR pada TB yang pernah diobati
sebelumnya adalah 17,1%; di Kota Makasar pada tahun 2007, data kasus TB MDR diantara kasus baru TB
adalah sebesar 4,1 % dan pada TB yang pernah diobati sebelumnya adalah 19,2%. Hasil Survei terbaru
yang dilakukan di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2010 menunjukkan angka 2% untuk kasus baru dan
9,7% untuk kasus pengobatan ulang. Secara global, WHO pada tahun 2011 menggunakan angka 2%
untuk kasus baru dan 12% untuk kasus pengobatan ulang untuk memperkirakan jumlah kasus TB MDR di
Indonesia.

Resistensi kuman M.tuberculosis terhadap OAT (Obat Anti Tuberkulosis) adalah keadaan di mana
kuman tersebut sudah tidak dapat lagi dibunuh dengan OAT. TB resistan OAT pada dasarnya adalah
suatu fenomena buatan manusia, sebagai akibat dari pengobatan pasien TB yang tidak adekuat maupun
penularan dari pasien TB resistan OAT. Penerapan Manajemen Terpadu Pengendalian TB Resistan Obat
menggunakan kerangka kerja yang sama dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment,
Shortcourse chemotherapy).

Salah satu Komponen dalam Manajemen Terpadu Pengendalian TB Resistan Obat adalah Strategi
penemuan pasien TB resistan obat yang rasional melalui pemeriksaan biakan dan uji kepekaan.
Diagnosis yang akurat dan tepat waktu adalah landasan utama dalam Program Pengendalian TB
Nasional, termasuk mempertimbangkan perkembangan teknologi yang sudah ada maupun baru.
Resistensi obat harus didiagnosis secara tepat sebelum dapat diobati secara efektif.

Proses penegakan diagnosis TB resistan obat adalah pemeriksaan apusan dahak secara mikroskopis,
biakan, dan uji kepekaan konvensional yang dilakukan di laboratorium rujukan yang sudah tersertifikasi
maupun penggunaan tes cepat yang sudah mendapatkan pengakuan dari Badan Kesehatan Dunia dan
Kementerian Kesehatan RI.

Berdasarkan hal tersebut, untuk membantu tercapainya eliminasi penyakit Tuberculosis di Indonesia
dalam strategi ketepatan diagnosa laboratorium dan tata laksana penyakit TB, akan diselenggarakan
kegiatan temu ilmiah yaitu “2nd Borneo Lestari National Seminar on Medical Laboratory (NSML) Update
2018”.

B. TUJUAN KEGIATAN

Setelah mengikuti seminar peserta diharapkan mendapatkan informasi terbaru mengenai Update
Diagnosa dan Tata Laksana Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) untuk bisa diterapkan di tempat
kerja.

C. METODE DAN MATERI

Pelaksanaan kegiatan dengan menggunakan metode seminar/presentasi ilmiah dan diskusi.

Materi :

1. Kebijakan pengendalian dan pencegahan TB dan MDR TB di Indonesia


2. Update tatalaksana TB dan MDR TB di Malaysia
3. Update Diagnosis Laboratorium MDR TB di RSUD Soetomo Surabaya
4. Tinjauan Imunologis Infeksi Mycobacterium Tuberculosis
5. Mini review : TB sebagai re-emerging disease

D. NARASUMBER

Narasumber dalam kegiatan seminar ini antara lain :

1. Gubernur Kalsel
2. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan
3. Pemateri dari Lincoln University College, Malaysia
4. Pemateri dari Universitas Airlangga, Surabaya
5. Akademisi AAK Borneo Lestari , Banjarbaru

E. PESERTA
1. Tenaga laboratorium medik (Ahli Teknologi Laboratorium Medik/ATLM) di Puskesmas,
Rumah Sakit dan Laboratorium Klinik Swasta
2. Tenaga Teknis Kefarmasian (lulusan SMK Farmasi, D3 Farmasi dan S1 Farmasi) di Apotek,
Puskesmas dan Rumah Sakit
3. Apoteker di Apotek, Puskesmas dan Rumah Sakit
4. Tenaga Kesehatan lain yang bergerak di bidang Tata Laksana TB
5. Para akademisi bidang kesehatan dari berbagai Perguruan Tinggi Kesehatan
6. Civitas Akademika Akademi Analis Kesehatan Borneo Lestari

F. FASILITAS
1. Seminar Kit
2. Coffee Break
3. Lunch/ Makan Siang
4. Sertifikat

G. PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari : Sabtu
Tanggal : 15 Desember 2018
Jam : 08.00 wita s.d selesai
Tempat : Ballroom Hotel Golden Tulip Galaxy Banjarmasin
2. Pembiayaan
a. Umum dan Alumni
Early Bird (10-20 Nov 2018) : Rp. 250.000
Reguler (20 Nov– 13 Des 2018) : Rp. 275.000
On the Spot (15 Des 2018) : Rp. 300.000

b. Mahasiswa : Rp. 250.000

H. SERTIFIKASI
PATELKI : 2 SKP
IAI : 4 SKP
PAFI : 4 SKP

I. PENDAFTARAN
Sekretariat
Kampus AAK Borneo Lestari Banjarbaru
Jl. Kelapa Sawit 8, Bumi Berkat, Kel. Sungai Besar, Kec. Banjarbaru Selatan, Banjarbaru
e-mail : nsmlborles2018@gmail.com
No. rekening : BRI 453701002744538 a.n. Akademi Analis Kesehatan Borneo Lestari

Contact Person
Dian (087816953523)
Reza (081253335200)
Bio (082251902939)
J. JADWAL KEGIATAN
No Waktu (wita) Acara Keterangan
1. 08.00 - 09.00 Registrasi peserta seminar Panitia
09.00 - 09.15 Persembahan tarian daerah Panitia
2. 09.15 - 09.45 Sambutan dan Pembukaan Seminar 2nd Gubernur Kalsel
National Seminar Medical Laboratory
(NSML) Borneo Lestari 2018 dengan
simbolis “Pemukulan gong”
3. 09.45 - 10.15 Sambutan-sambutan : MC :
1. Ketua Yayasan Borneo Lestari Vebruati, S.S, M.Pd
2. Ketua Pelaksana
4. 10.15 - 10.30 Coffee break
5. 10.30 - 11.30 Session 1 Kepala Dinas Kesehatan
Presentasi oral dan tanya jawab : Provinsi Kalimantan
Kebijakan pengendalian & pencegahan TB Selatan
dan MDR TB di Indonesia Moderator :
M.Nazarudin, S.ST,
M.Imun
6. 11.45 – 13.00 Session 2 Lincoln Uni, Malaysia
Presentasi oral dan tanya jawab : Update Moderator :
tatalaksana TB dan MDR TB di Malaysia Ika Maulida N, S.K.M,
M.Kes
7. 13.00 – 14.00 ISHOMA
8. 14.00 – 15.30 Session 3
Presentasi oral dan tanya jawab :
1. Update Diagnosis Laboratorium MDR Universitas Airlangga
TB di RSUD Soetomo Surabaya Surabaya

2. Tinjauan Imunologis Infeksi Moderator :


Mycobacterium Tuberculosis M. Reza Pahlevi,
M.Farm, Apt
9. 15.30 – 16.45 Session 4 Dosen AAK Borneo
Presentasi oral dan tanya jawab : Lestari
Mini review : TB sebagai re-emerging Moderator :
disease Rahma Maulida,
S.Tr.Kes

10. 17.00 penutupan Panitia