Anda di halaman 1dari 27

BAB 5

MASALAH KHUSUS
METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN RETAINING WALL
DAN PERBAIKAN KEBOCORAN PADA LANTAI BASEMENT
1, AS 1 GRID C

5.1 LATAR BELAKANG


Perkembangan zaman yang semakin maju menjadikan infrastruktur
khususnya di perkotaan mengalami kemajuan yang pesat. Inovasi dan terobosan
banyak ditemukan dengan adanya gedung-gedung yang memiliki desain dan
bentuk yang unik, namun tetap memiliki kekuatan dan kekokohan yang memenuhi
syarat. Pertambahan jumlah penduduk diperkotaan semakin meningkat seiring
dengan perkembangan zaman, sehingga kebutuhan tempat tinggal semakin
ditingkatkan. Apartemen atau kantor-kantor yang berkapasitas besar di perkotaan,
sangat memerlukan lahan parkir yang luas, sehingga diperlukan lantai bawah
tanah atau basement untuk dijadikan lahan parkir guna menghindari pemakaian
lahan yang lebih luas.
Retaining wall adalah suatu struktur konstruksi yang dibangun untuk
menahan tanah yang mempunyai kemiringan/lereng dimana kemantapan tanah
tersebut tidak dapat dijamin oleh tanah itu sendiri. Bangunan dinding penahan
tanah digunakan untuk menahan tekanan tanah lateral yang ditimbulkan oleh
tanah urugan atau tanah asli yang labil akibat kondisi topografinya, atau membantu
proses pengerjaan galian serta memberi kekuatan pada struktur bawah dalam
menahan tanah.
Pembangunan retaining wall harus berdasarkan perhitungan kestabilan
dan faktor keselamatan, karena kesalahan yang terjadi dalam pembangunan
dinding penahan tanah dapat berakibat fatal, yaitu kerugian harta dan hilangnya
korban jiwa.
Proyek Pembangunan Gedung Mabes Polri Sisi Barat struktur dalam
retaining wall dibuat dari besi dan beton. Keduanya merupakan gabungan antara
material yang tahan tarikan dan tekanan.

59
5.2 METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN RETAINING WALL
Struktur retaining wall pada bangunan setebal 30 cm. Detail penulangan
adalah D16-150 untuk tulangan vertikal dan D13-200 untuk tulangan horizontal.
Pengerjaan pembesian dengan cara pabrikasi dirakit pada lokasi pengecoran.
Tahapan yang dilakukan pada proses pengerjaan retaining wall akan ditampilkan
dalam diagram alir seperti berikut:

Mulai

Perancangan Bekisting

Pabrikasi Tulangan

Pemasangan Tulangan

Tidak

Proses Checklist (Sesuai


Shop Drawing)

Ya

Proses Pengecoran

Pelepasan Bekisting

Curing Beton

Selesai

Gambar 5.1 Diagram Alir Pelaksanaan Pekerjaan Retaining Wall

60
Metode pelakasanaan pekerjaan retaining wall dibagi menjadi beberapa
tahapan yaitu:
1. Tahapan sebelum pelaksanaan
a. Persiapan alat dan bahan
b. Marking
c. Perancangan bekisting
d. Pabrikasi tulangan
2. Tahapan saat pelaksanaan
a. Pemasangan besi
b. Pemasangan bekisting
c. Pengadaan beton ready mix
d. Proses pengecoran
3. Tahapan sesudah pelaksanaan
a. Pelepasan bekisting
b. Pengerjaan curing

5.2.1 Tahapan Sebelum Pelaksanaan


Pelaksanaan pekerjaan retaining wall memiliki beberapa tahapan
sebelum pelaksanaan dimulai antara lain yaitu:

Persiapan Alat dan Bahan


Persiapan alat yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan retaining
wall antara lain yaitu:
1. Tower Crane
Tower crane dipergunakan pada proses pengecoran untuk membawa beton
yang berada di dalam concrete bucket menuju lokasi pengecoran.

61
Gambar 5.2 Tower Crane

2. Cutting Wheel
Cutting wheel adalah alat pemotong profil baja yang akan digunakan
sebagai angkur pada bekisting yang akan digunakan.

Gambar 5.3 Cutting Wheel

3. Concrete Vibrator
Pengecoran beton dibutuhkan kepadatan yang utuh, sehingga tidak
terdapat rongga dalam adukan beton, karena rongga tersebut dapat mengurangi

62
mutu dan kekuatan beton. Pelaksanaan pengecoran dibutuhkan vibrator yang
fungsinya untuk memadatkan adukan beton pada saat setelah pengecoran. Cara
pengoprasian dengan memasukkan selang penggetar ke dalam adukan beton
yang telah dituang ke dalam bekisting.
4. Concrete Bucket
Concrete bucket adalah alat bantu yang digunakan untuk mengangkut
campuran beton ke lokasi yang akan di cor dan biasanya juga digunakan sebagai
alat untuk mengecor retaining wall.

Gambar 5.4 Concrete Bucket

5. Bar Bender
Bar bender Merupakan alat yang digunakan untuk membengkokkan
tulangan berdiameter besar, seperti pada pembengkokan tulangan sengkang,
pembengkokan pada sambungan/overlaping tulangan kolom, juga pada
tulangan balok, pelat, dan dinding geser.

Gambar 5.5 Bar Bender

63
6. Bar Cutter
Bar Cutter merupakan alat pemotongan tulangan yang dioperasikan secara
manual dengan menggunakan tenaga manusia, karena baja tulangan yang
dipesan dengan ukuran standar, jika ada keperluan tulangan yang pendek maka
perlu dilakukan pemotongan sesuai dengan baja tulangan yang direncanakan.

Gambar 5.6 Bar Cutter

Bahan-bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan retaining


wall antara lain yaitu:
1. Admixture
Admixture bahan/material selain air, semen dan agregat yang ditambahkan
ke dalam beton atau mortar sebelum atau selama pengadukan. Admixture
digunakan untuk memodifikasi sifat dan karakteristik beton. Admixture yang
digunakan dalam Proyek Mabes Polri Sisi Barat adalah integral waterproofing
421. Integral WP 421 digunakan untuk menjadikan beton kedap terhadap air.

64
Gambar 5.7 Cairan Admixture

2. Waterstop
Waterstop adalah penyumbat aliran air pada celah antara dinding beton dan
lantai beton. Sistem waterstop ada dua yang umum digunakan yaitu
menggunakan bahan PVC dan swellable waterstop. Proyek Pembangunan
Mabes Polri Sisi Barat menggunakan dua sistem waterstop dalam pelaksanaan
pekerjaan retaining wall.

Gambar 5.8 Waterstop

65
3. Baja Tulangan
Baja tulangan memiliki fungsi sebagai penahan tegangan tarik pada beton.
Pemilihan penggunaan baja tulangan dan jumlahnya tergantung dari kekuatan
struktur beton rencana. Baja tulangan yang digunakan dalam proyek Mabes Polri
Sisi Barat dengan jenis ulir. Mutu yang digunakan harus sesuai dengan SNI 07-
2052-2002 atau ASTM 615M dan kuat leleh minimal untuk baja tulangan ulir 400
Mpa. Baja tulangan yang digunakan memiliki bermacam-macam ukuran sesuai
dengan gambar rencana penulangan beton, sedangkan panjang tulangan yang
dibutuhkan bervariasi, sehingga sering dilakukan pemotongan dan
penyambungan tulangan. Sesuai ketentuan baja tulangan sebaiknya disimpan
pada tempat yang menjamin keutuhan kualitasnya. Tempat penyimpanan baja di
proyek ini adalah di udara terbuka, sehingga dapat dipengaruhi langsung oleh
cuaca.

5.9 Baja Tulangan

4. Multiplex
Multiplex adalah bahan yang terbuat dari kayu dan berbentuk lembaran
yang digunakan menjadi cetakan bekisting. Ketebalan multiplex yang digunakan
dalam proyek ini yaitu 15 mm untuk bekisting lantai dan 18 mm untuk bekisting
kolom, retaining wall dan shear wall.

66
Gambar 5.10 Multiplex

5. Beton Decking
Beton decking dipasang pada tulangan yang berdekatan dengan bekisting
saat pengecoran, untuk memberikan jarak 5 cm dari tulangan dengan bekisting,
atau biasa disebut dengan selimut beton.

Gambar 5.11 Beton Decking

Proses Marking
Garis batas pengecoran atau letak bekisting diperoleh dari hasil
pekerjaan pengukuran dan pematokan, pada tahap itu dilakukan marking atau
memberi tanda berupa garis pada pelat lantai, marking dapat dijadikan sebagai

67
dasar penentuan ketebalan retaining wall. Cara penentuan batas pengecoran
adalah dengan menggunakan alat theodolite, yaitu dengan menarik garis lurus
dari posisi kolom menuju sisi terluar retaining wall yang tertera pada gambar, maka
itulah batas pengecoran pada retaining wall.

Gambar 5.12 Proses Marking

Perancangan Bekisting
Pelaksanaan pekerjaan retaining wall dalam proses pengecoran
memelurkan bekisting yang digunakan sebagai cetakan beton. Bekisting yang
digunakan memiliki dua bentuk yang berbeda yaitu, bentuk lurus untuk bagian
yang tidak terdapat kolom dan bagian yang yang terdapat kolom. Multiplex yang
digunakan pada bekisting retaining wall dengan ketebalan 18 mm, lebih tebal dari
multiplex bekisting pelat lantai dengan ketebalan 15 mm.

Pabrikasi Tulangan
Pelaksanaan pekerjaan retaining wall pada Proyek Pembangunan Mabes
Polri Sisi Barat tulangan retaining wall, shear wall, balok dan kolom tidak dipasang
langsung di lapangan, tetapi sebelumnya tulangan tersebut di pabrikasi di tempat
yang sudah dipersiapankan oleh proyek. Detail penulangan adalah D16-150 untuk

68
tulangan vertikal dan D13-200 untuk tulangan horizontal, berikut ini beberapa
tahapan pabrikasi tulangan untuk retaining wall sebagai berikut :
1. Pemotongan Besi
Besi yang datang dari pabrik berukuran 12 meter, sedangkan kebutuhan di
lapangan pada umunya kurang dari 12 meter, sehingga dilakukan pemotongan
dengan alat bar cutter. Pemotongan besi dilakukan agar panjang besi yang
direncanakan terpenuhi.

Gambar 5.13 Pemotongan Besi dengan Bar Cutter

2. Pembengkokan Besi
Tulangan pada retaining wall terbagi dua yaitu tulangan yang membentuk
lembaran dan tulangan yang memberikan jarak di antara dua lembaran tulangan
atau bisa disebut ties. Tulangan yang membentuk jarak antara kedua lembaran
tersebut akan mengait, sehingga perlu dibengkokan dengab alat bar bender.
Proyek ini menggunakan seluruh diameter tulangan yang sama pada retaining wall
hanya penggabungannya yang berbeda, ada yang menyatu dengan kolom, shear
wall, dan balok.

69
Gambar 5.14 Pembengkokan Besi dengan Bar Bender

3. Perangkaian Tulangan
Tulangan yang mengarah horizontal dan vertikal disusun diimbangi dengan
diikat menggunakan kawat, kemudian setelah terbentuk dua lapisan tulangan yang
mengarah horizontal dan vetikal, dipasang pengait di antara dua lapisan tersebut
untuk membuat jarak, sepanjang 30 cm.

Gambar 5.15 Tempat Pabrikasi Tulangan

5.2.2 Tahapan Saat Pelaksanaan


Pelaksanaan pekerjaan retaining wall memiliki beberapa tahapan pada
saat pelaksanaan antara lain sebagai berikut:

70
Pemasangan Besi
Pekerjaan pemasangan tulangan retaining wall dibantu dengan alat tower
crane. Pertama dilakukan proses pengangkatan tulangan retaining wall menuju
lokasi pengecoran, kemudiaan tulangan retaining wall disambung dengan
tulangan retaining wall yang dibawahnya dengan kawat bendrat pada bagian
overlaping sambungan tulangan, setelah itu dilakukan pengecekan kelurusan dari
pemasangan tulangan tersebut. Overlaping yang tidak memenuhi jarak
persyaratan, maka dilakukan sambungan dengan metode coupler.
Besi yang telah terpasang dilanjutkan dengan pemasangan beton
decking untuk mendapatkan selimut beton setebal 5 cm, dan waterstop untuk
menyumbat aliran air yang mengalir melalui celah beton.

Gambar 5.16 Besi Fabrikasi yang Terpasang

Pemasangan Bekisting
Proses pemasangan bekisting retaining wall memiliki beberapa tahapan
sebagai berikut:
1. Membersihkan tulangan retaining wall dilakukan sebelum pemasangan
bekisting.

71
Gambar 5.17 Membersihkan Tulangan Retaining Wall

2. Sebelum bekisting dipasangkan dengan tulangan retaining wall, diberikan


beton decking agar dapat dicapai ketebalan selimut beton yang
direncanakan.

Gambar 5.18 Pemasangan Beton Decking

3. Waterstop dipasang terlebih dahulu, sebelum bekisting dipasangkan pada


tulangan

Gambar 5.19 Pemasangan Waterstop

72
4. Sebelum dilakukan pemasangan bekisting, besi yang telah dipasang akan
dilakukan pengecekan. Pengecekan meliputi ukuran besi yang digunakan,
jarak antara besi yang ditentukan, serta terpasangnya besi pengait.
5. Sebelum dilakukan pemasangan, bekisting terlebih dahulu dibersihkan dari
sisa-sisa pengecoran sebelumnya, dan bagian dalam bekisting dilapisi
dengan solar agar memudahkan proses pelepasan bekisting.
6. Setelah pelapisan dengan solar selesai dilakukan, dilanjutkan dengan
mengangkat bekisting dengan tower crane menuju retaining wall yang akan
dilakukan pengecoran.
7. Bekisting dipasang pada tulangan retaining wall dengan cara memasang tie
rod yang mengait pada bekisting dan menancap pada soldier pile.
Memasang penopang yang sebelumnya sudah di angkur pada lantai, agar
saat proses pengecoran posisi bekisting tidak berubah-ubah posisi.

Gambar 5.20 Pemasangan Bekisting

8. Bekisting yang telah terpasang harus dicek kelurusannya atau biasa disebut
dengan verticality, agar pada saat beton telah mengeras, dan bekisting
dibuka, tidak ada kesalahan posisi pengecoran.

73
Gambar 5.21 Verticality Retaining Wall

Pengadaan Beton Ready Mix


Beton adalah suatu campuran komposit dari agregat kasar (batu pecah),
agregat halus (pasir), air, serta semen portland, sedangkan beton ready mix
merupakan adukan beton yang siap dipakai dan dibuat sesuai dengan mutu yang
dipesan. Beton merupakan material penyusun utama dalam struktur bangunan,
namun dalam pekerjaan retaining wall menggunakan cairan kimia integral
waterproofing. Penggunaan integral dengan cara dimasukkan kedalam ready mix
truck sebelum pengecekan slump pada campuran beton. Cairan kimia tersebut
membuat beton menjadi kedap air.

Gambar 5. 22 Beton Ready Mix

74
Proses Pengecoran
Retaining wall yang telah terpasang bekisting sudah siap dilakukan
pekerjaan pengecoran, sebelum dilakukan pengecoran campuran beton harus
dilakukan uji slump dan pengambilan sample untuk uji kuat tekan beton.

Gambar 5.23 Uji Slump Beton

Pengecoran retaining wall dapat dilakukan dengan menggunakan concrete


bucket untuk daerah yang sulit digapai kendaraan ready mix truck, saat campuran
beton di masukan ke concrete bucket dalam keadaan terkunci sehingga campuran
beton tidak tumpah kedalam pipa karet. Concrete bucket diangkat ketempat
retaining wall yang akan dicor menggunakan tower cane yang kemudian diarahkan
oleh pekerja agar pipa karet masuk kedalam bekisting, langkah selanjutnya adalah
membuka penutup lubang concrete bucket agar campuran beton mengalir dari
pipa karet ke dalam bekisting. Pengecoran berlangsung dilakukan pula
penggetaran adukan beton dengan menggunakan concrete vibrator, agar
campuran beton memenuhi seluruh ruangan yang ada dalam bekisting, dan tidak
terdapat rongga-rongga udara diantara beton yang dapat membuat beton menjadi
keropos, dan berkurangnya kekuatan beton yang seharusnya terpenuhi.

75
5.2.3 Tahapan Sesudah Pelaksanaan
Pelaksanaan pekerjaan retaining wall memiliki beberapa tahapan
sesudah pelaksanaan antara lain sebagai berikut:

Pelepasan Bekisting
Retaining wall yang sudah berumur 24 jam setelah pengecoran dapat
melakukan pelepasan pada bekisting, karena beton sudah kering dan dapat
digunakan untuk pengecoran daerah yang lain.

Gambar 5.24 Retaining Wall

Pengerjaan Curing
Pengerjaan curing dilakukan dengan menyiram air pada bagian beton
yang baru saja melakukan pelepasan bekisting. Curing dilakukan agar tidak ada
penguapan secara drastis sehingga beton menjadi retak dan mengurangi kualitas
beton tersebut.

5.3 PERBAIKAN KEBOCORAN RETAINING WALL PADA LANTAI


BASEMENT 1, AS 1 GRID C DENGAN METODE INJEKSI
Injeksi pada beton adalah salah satu metode perbaikan untuk menangani
terjadinya penetrasi air yang menembus tebalnya beton, baik itu akibat dari beton
yang keropos ataupun beton yang mengalami retak atau pecah.

76
Gambar 5.25 Perbaikan dengan Metode Injeksi

5.3.1 Penyebab Kebocoran pada Retaining Wall


Kebocoran yang terjadi pada retaining wall disebabkan beberapa faktor
antara lain yaitu:
1. Kurang meratanya komponen beton akibat penggunaan vibrator yang
kurang maksimal, menjadi factor terdapatnya celah pada beton, sehingga
beton menjadi mudah retak dan keropos. Beton yang keropos dan retak
menjadi tempat mengalirnya air, sehingga air dari tanah dapat mengalir
kedalam struktur.
2. Menjatuhkan campuran beton maksimal setinggi 1 m dari concrete bucket
maupun media yang lain. Jatuhnya campuran beton yang terlalu tinggi
mengakibatkan agregat kasar dan halus menjadi terpisah, sehingga terjadi
segregasi pada beton dan beton mudah retak atau kropos.
3. Penambahan air yang dilakukan pada saat sebelum pengecoran,
menjadikan campuran beton tidak sesuai dengan kriteria yang
direncanakan, sehingga kualitas beton menjadi berkurang dan mudah
keropos atau retak.
4. Campuran beton pada retaining wall menggunakan tambahan cairan kimia
integral yang sesuai, dengan nilai slump 16 atau +2. Nilai slump yang tidak
memenuhi mempengaruhi kualitas beton yang direncanakan.

77
5. Pemasangan bekisting yang kurang rapat pada bagian bawahnya,
mengakibatkan air semen mengalir keluar dari bekisting, sehingga air semen
pada campuran tidak memenuhi rencana, dan beton menjadi kropos.

5.3.2 Lokasi Injeksi


Lokasi injeksi pada pelaksanaan pekerjaan retaining wall dilakukan pada
lantai basement 1 as 1 grid C. Pengambilan lokasi ini dikarenakan kebocoran yang
saling berhubungan antara titik yang satu dengan yang lain.

Gambar 5.26 Lokasi Injeksi

5.3.3 Prosedur Pelaksanaan Metode Injeksi


Prosedur pelaksanaan metode injeksi pada perbaikan kebocoran
retaining wall memiliki beberapa tahapan antara lain yaitu:

Persiapan Alat dan Bahan


Pelaksanaan metode injeksi pada perbaikan kebocoran retaining wall
memerlukan persiapan alat dan bahan antara lain yaitu:

78
1. Mesin Injeksi
Mesin injeksi berguna untuk mengaliri formula waterproofing kedalam lubang
yang mengalami kebocoran. Tekanan yang diberikan mesin menjadikan formula
waterproofing menyebar ke segela retakan yang ada di dalam beton.

Gambar 5.27 Mesin Injeksi

2. Packer
Packer adalah alat yang digunakan untuk menyambungkan bagian ujung
selang mesin injeksi, dengan lubang yang telah dibuat pada bagian kebocoran.
Packer memiliki panjang bervariasi dan bagian ujung yang terbuat dari karet,
sehingga dapat mengembang serta mengunci, dan menahan formula
waterproofing yang diberi tekanan.

Gambar 5.28 Packer

79
3. PU 300
PU 300 adalah formula waterproofing yang berbahan dasar poliuretan yang
sangat efektif dalam mengatasi kebocoran yang terjadi pada bangunan. PU 300
akan mengembang pada saat terkena udara.

Gambar 5.29 PU 300

4. Alat Bor
Alat bor berguna untuk memperbesar bagian dari kebocoran pada dinding,
agar packer dapat dimasukkan kedalam bagian yang bocor.

2018-2-12 14:00

Gambar 5.30 Alat Bor

5. Socket
Socket digunakan untuk mengencangkan packer yang telah masuk ke dalam
lubang, sehingga tidak longgar pada saat melakukan injeksi.

80
2018-2-12 14:23
Gambar 5.31 Socket

Pelaksanaan Injeksi
Metode injeksi memiliki beberapa tahapan dalam pengerjaannya antara
lain yaitu:
1. Mencari Titik Kebocoran Berasal
Mencari titik kebocoran berasal, dilakukan dengan mengupas atau memahat
lapisan beton yang telah terekspos, maupun pada saat dinding belum diekspos.
Titik kebocoran berasal harus jelas dan tepat sebelum dilanjutkan dengan
pengeboran.

2018-2-12 14:00

Gambar 5.32 Mencari Titik Kebocoran

2. Mengebor Titik Kebocoran


Mengebor titik kebocoran berasal, untuk membuat lubang sesuai dengan
diameter packer yang akan dimasukkan.

81
2018-2-12 14:00
Gambar 5.33 Pengeboran Titik Kebocoran

Lubang yang terbentuk dari pengeboran akan berbentuk mengerucut,


sehingga semakin dalam semakin sempit dan semakin mengeluarkan air lebih
besar, karena telah diperbesar dengan di bor.

Gambar 5.34 Titik Kebocoran

3. Memasang Packer
Memasang packer diawali dengan menggunakan tangan. Lubang yang
terbentuk pada saat pengeboran semakin mengerucut dibagian ujung lubang,
sehingga digunakan palu untuk memasukkan packer dengan memukulnya
menggunakan perantara agar packer tidak rusak. Perantara yang digunakan bisa
menggunakan tang ataupun socket.

82
2018-2-12 14:20

Gambar 5.35 Memasukkan Packer

4. Memutar Packer
Memutar packer bertujuan untuk mengencangkan posisi packer yang berada
di dalam lubang. Packer terbentuk dari alumunium, dan karet dibagian ujungnya
yang bebentuk tabung bulat, di antara alumunium dan karet terdapat ulir, sehingga
pada saat packer diputar, bagian alumunium akan menekan bagian karet, maka
karet akan mengembang dan menekan kesegala arah sisi karet, dan posisi packer
akan mengencang di dalam lubang.

2018-2-12 14:23

Gambar 5.36 Memutar Packer

5. Proses Injeksi
Packer yang telah terpasang akan dilanjutkan dengan pelaksanaan injeksi.
Pelaksanaan injeksi diawali dengan menuang formula water proffing kedalam
tabung mesin injeksi. Mesin injeksi yang akan digunakan harus dibersihkan

83
terlebih dahulu, agar tidak mengalami penyumbatan pada saat penggunaan,
terutama pada bagian selang injeksi yang sering tersumbat, karena formula
waterproofing yang telah mengembang pada saat terkena udara.

2018-2-12 14:26
Gambar 5.37 Formula Waterproofing

Formula waterproofing yang telah dituang, dilanjutkan dengan memasang


ujung selang injeksi pada packer, kemudian membuka tuas yang berada di posisi
pengangan selang injeksi.

Gambar 5.38 Pegangan Selang Injeksi

Tuas yang telah dibuka dilanjutkan dengan menekan tombol yang berada
pada mesin injeksi, untuk menggerakkan mesin dan memulai injeksi. Tekanan

84
yang diberikan dapat dilihat pada dial mesin injeksi, untuk jenis kebocoran
mencapai tekanan 15 psi, sedangkan untuk jenis rembesan mencapai 10 psi.

6. Pemotongan Packer
Titik kebocoran yang telah diinjeksi dan telah didiamkan selama 24 jam,
maka packer dapat dipotong. Pemotongan dapat menggunakan palu dengan
memukulnya, setelah packer terpotong dapat dilanjutkan pelaksanaan ekspos.

Gambar 5.39 Pemotongan Packer

85