Anda di halaman 1dari 21

RUMAH LAMIN

Rumah Adat Kalimantan Timur Rumah adat Kalimantan Timur adalah rumah
lamin. Rumah ini yang sebetulnya merupakan rumah identitas suku Dayak Kenyah
ini ditetapkan menjadi rumah tradisional Provinsi Kalimantan Timur pada tahun
1967. Keunikan yang dimiliki oleh rumah adat ini terletak pada struktur dan
ukuran bangunannya. Perlu diketahui bahwa rumah Lamin dapat menampung
sedikitnya hingga 100 orang. Daya tampung tersebut ditunjang dengan ukuran
rumah Lamin yang terbilang sangat besar yaitu panjang 300 m, lebar 15 m, dan
tinggi 3 m.

Rumah lamin adalah rumah panggung dengan daya tampung yang sangat besar.
Besarnya daya tampung rumah ini merupakan tanda bahwa masyarakat Dayak di
daerah Kalimantan Timur memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi. Mereka hidup
berkelompok dalam satu rumah. Antara 12 sampai 30 keluarga hidup bersama-
sama dalam rumah ini. Konstruksi dan Arsitektur Rumah Adat Kalimantan Timur
Beberapa ciri khas unik yang dimilikinya telah membuat rumah Lamin begitu
mudah dikenali. Beberapa ciri khas tersebut antara lain: a. Terdapat Ukiran Ciri
khas rumah Lamin yang pertama adalah terdapatnya ukiran-ukiran etnik berupa
gambar bermakna. Gambar-gambar tersebut umumnya bermotif makhluk hidup
seperti wajah manusia, kisah perburuan, tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya.
Ukiran-ukiran ini menurut kepercayaan, disebut dapat menjaga keluarga yang
tinggal di rumah itu dari bahaya ilmu hitam yang kapan saja bisa menyerang.
Masyarakat suku Dayak sendiri dikenal sebagai suku yang kuat dalam hal ilmu
spiritualis dan kebatinan.

b. Warna yang Khas Rumah adat Kalimantan Timur ini juga mempunyai ciri khas
berupa warna-warna kontras yang menghiasi dasar dindingnya. Warna khuning,
hitam, merah, biru, dan putih adalah warna-warna utama dalam arsitektur rumah
adat ini. Warna merah melambangkan keberanian, kuning melambangkan
kewibawaan, putih melambangkan kebersihan jiwa, dan hitam melambangkan
keteduhan. c. Kontruksi Bahan Ciri unik rumah adat Lamin selanjutnya terletak
pada kontruksi bahan pembuatannya. Rumah adat suku Dayak ini dibuat
menggunakan kayu ulin. Kayu ulin adalah kayu terbaik yang hanya dapat diperoleh
dari hutan Kalimantan. Kayu ini sangat kuat dan tak mudah melapuk. Bahkan jika
terkena air, kayu ulin ini justru akan bertambah tingkat kekerasan dan
kekuatannya. Oleh karena itu, kayu yang mendapat julukan kayu besi digunakan
sebagai tiang penyangga, dinding, sekaligus untuk alas rumah adat Kalimantan
Timur ini. d. Pembagian Ruangan Rumah Lamin dibagi menjadi tiga ruangan,
antara lain ruang tamu, ruangan tidur, dan dapur. Ruang tamu adalah ruang
kosong panjang yang digunakan untuk menerima tamu atau pertemuan adat.
Ruang tidur dipisahkan berdasarkan kegunaannya, yaitu untuk laki-laki dan untuk
perempuan. Namun, ada pula ruangan tidur yang dikhususkan untuk pasangan
yang sudah resmi menikah. e. Tangga dan Kolong Rumah Karena berwujud
panggung, rumah adat Lamin khas Kalimantan Timur ini juga dilengkapi dengan
sebuah tangga. Tangga ini berfungsi untuk jalan masuk ke dalam rumah. Adapun
pada bagian bawah, kolong rumah ini umumnya digunakan sebagai kandang
pemeliharaan ternak, seperti kambing atau sapi.

f. Aksesoris Rumah Rumah Lamin umumnya juga dilengkapi dengan ornamen atau
aksesoris tertentu. Aksesoris yang paling diutamakan misalnya patung-patung
atau totem seperti yang tersaji pada gambar di atas. Patung-patung atau totem ini
merupakan dewa-dewa yang dipercaya oleh masyarakat Dayak kuno sebagai
penjaga rumah dari bahaya. Demikianlah sekilas pemaparan yang dapat kami
sampaikan tentang rumah Lamin. Rumah adat Kalimantan Timur ini merupakan
bukti nyata bahwa Kalimantan Timur memiliki budaya yang maju di masa silam.
Kebudayaan Kalimantan Timur yang maju ini juga dibuktikan dengan peninggalan
nenek moyang berupa senjata tradisional Mandau yang akan dijelaskan pada
artikel selanjutnya

Sumber: http://kisahasalusul.blogspot.com/2016/01/rumah-adat-kalimantan-
timur-rumah-lamin.html
Disalin dari Blog Kisah Asal Usul.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
------------------Rumah Lamin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Berkas:Rumah Lamin Kalimantan Timur.jpg
250px

Rumah Lamin adalah rumah adat dari Kalimantan Timur.[1] Rumah Lamin adalah
identitas masyarakat Dayak di Kalimantan Timur.[1] Rumah Lamin mempunyai
panjang sekitar 300 meter, lebar 15 meter, dan tinggi kurang lebih 3 meter. [1]
Rumah Lamin juga dikenal sebagai rumah panggung yang panjang dari sambung
menyambung.[2] Rumah ini dapat ditinggal oleh beberapa keluarga karena ukuran
rumah yang cukup besar.[1] Salah satu rumah Lamin yang berada di Kalimantan
Timur bahkan dihuni oleh 12 sampai 30 kelurga.[3] Rumah Lamin dapat
menampung kurang lebih 100 orang.[2] Pada tahun 1967, rumah Lamin diresmikan
oleh pemerintah Indonesia.[1]

Ciri Khas

Rumah Lamin memiliki beberapa ciri khas yang umumnya dapat langsung dikenali.
[1]
Pada badan rumah Lamin, banyak ditemukan ukiran-ukiran atau gambar yang
mempunyai makna bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Timur.[1] Salah satu
fungsi dari ukiran-ukiran atau gambar pada tubuh rumah Lamin adalah untuk
menjaga keluarga yang hidup dalam rumah dari bahaya.[1] Bahaya disini adalah
ilmu-ilmu hitam yang umumnya ada di masyarakat Dayak yang digunakan untuk
mencelakai seseorang.[1] Rumah Lamin mempunyai warna khas yang dipakai untuk
menghias badan rumah.[1] Warna khas itu adalah warna kuning dan hitam.[1]
Namun, tidak hanya dua warna itu yang digunakan untuk menghias rumah Lamin.
[4]
Setiap warna yang dipakai untuk menghias rumah Lamin mempunyai makna.[4]
Warna kuning melambangkan kewibawaan, warna merah melambangkan
keberanian, warna biru melambangkan kesetiaan, dan warna putih
melambangkan kebersihan jiwa.[4] Rumah Lamin dibuat dari kayu.[1] Kayu yang
digunakan untuk membuat rumah Lamin adalah kayu Ulin.[1] Kayu ini dikenal oleh
masyarakat Dayak dengan nama kayu besi.[1] Konon, apabila kayu ulin terkena air
maka kayu ini akan semakin keras.[1] Hal ini terbukti dari lamanya usia rumah
Lamin yang dibuat dengan menggunakan kayu ulin.[1] Hanya saja, ada berbagai
kesulitan untuk menemukan kayu ini di hutan.[1] Halamn rumah Lamin biasanya
dipenuhi dengan patung-patung atau totem.[3] Patung-patung atau totem ini
merupakan dewa-dewa yang dipercaya oleh masyarakat Dayak sebagai penjaga
rumah dari bahaya.[3] Rumah Lamin terbagi atas tiga ruangan yaitu ruangan dapur,
ruangan tidur, dan ruang tamu.[3] Ruang tidur terletak berderet dan umumnya
dimiliki oleh masing-masing keluarga yang tinggal di dalam rumah tersebut.[2]
Ruang tidur juga dibedakan antara ruang tidur lelaki dan ruang tidur perempuan
kecuali jika sang lelaki dan perempuan sudah menikah.[2] Ruang tamu umumnya
digunakan untuk menerima tamu dan juga untuk pertemuan adat.[3] Ruang tamu
adalah ruangan kosong yang panjang.[2] Di sisi luar rumah Lamin, ada sebuah
tangga yang digunakan untuk masuk ke dalam.[3] Tangga ini mempunyai bentuk
dan model yang sama baik pada rumah Lamin yang dihuni masyarakat Dayak kelas
menengah ke atas maupun masyarakat Dayak kelas menengah ke bawah.[3] Di
bagian bawa rumah Lamin biasanya digunakan untuk memelihara ternak.[3]

Bentuk

Rumah Lamin berbentuk persegi panjang dan memiliki atat yang berbentuk
seperti pelana.[4] Rumah ini mempunyai tinggi kurang lebih 3 meter dari tanah.[4]
Rumah Lamin memiliki lebar kurang lebih 15-25 meter dan panjang 200-300
meter.[4] Rumah Lamin dibangun dengan beberapa tiang penyangga untuk
menopang rumah.[4] Tiang-tiang penyangga rumah Lamin dibagi atas dua bagian.[4]
Tiang penyangga inti adalah tiang yang menyangga atap rumah Lamin.[4] Tiang
penyangga lainnya adalah tiang yang menopang lantai-lantai rumah lamin.[4]
Tiang-tiang ini berbentuk seperti tabung.[4] Pintu masuk rumah Lamin
dihubungkan dengan beberapa tangga sebagai jalan masuk ke dalam rumah.[4]
Pada halaman depan rumah Lamin terdapat patung-patung atau totem yang
dibuat dari kayu.[4] Pada bagian tengah rumah ada sebuah tiang besar yang dibuat
dari kayu yang berfungsi untuk mengikat ternak atau hewan peliharaan.[4] Bagian
ujung atap rumah Lamin dihiasi dengan kepala Naga yang terbuat dari kayu.[5]

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Lamin

Lamin
Rumah lamin merupakan hunian adat Masyarakat Dayak, khususnya yang berada
di Kalimantan Timur. Kata Rumah Lamin memiliki arti rumah panjang, yang
diasumsikan dengan milik kita semua, sebab rumah ini digunakan untuk beberapa
keluarga yang tergabung dalam satu keluarga besar, bisa digunakan untuk 25
sampai 30 keluarga sekaligus, bahkan dapat mencapai 60 keluarga. Bentuk
arsitektur rumah lamin antara suku yang satu dengan yang lain memiliki
kemiripan. Perbedaan hanya terdapat pada penamaan komponen bangunan dan
motif ornamennya. Namun diantara semua suku, Suku Dayak Kenyah memiliki ciri
yang paling khas, yakni ornamen yang lebih meriah dengan hiasan seni ukir dan
lukisan yang bermotif lebih khas dan dinamis.

Satu hal yang menarik, bahwa kepercayaan pada alam gaib sangat mempengaruhi
proses pembangunan rumah adat. Nilai spiritual yang dijunjung tinggi tersebut
membentuk suatu ikatan kultural yang kuat antara manusia dan alam. Terdapat
dua roh nenek moyang yang dipercaya mempunyai kekuatan besar dan berperan
sebagai pengatur seluruh kehidupan. Roh nenek moyang tersebut dinamakan
Jalong Nyelong (roh lelaki yang menciptakan manusia) dan Bungan Malan (roh
wanita yang mengatur seluruh kehidupan manusia). Dalam kehidupan sehari-hari,
kekuatan kedua roh nenek moyang itu menjelma dalam bentuk binatang seperti
kijang, musang, ular dan beberapa jenis burung. Simbol ini merupakan pertanda
untuk kebaikan yang bisa menyebabkan masyarakat hidup makmur atau celaka.
Maka dalam pembuatan rumah adatpun, pertanda dari roh nenek moyang
tersebut juga memegang peranan penting.

Pemilihan Lokasi
Proses pembangunan lamin harus memperhatikan segala aspek. Sejumlah
pertimbangan yang dipilih untuk mencari lokasi pendirian rumah lamin menjadi
hal penting, sebab lokasi yang strategis akan memberi keberuntungan dan
kebahagiaan bagi warga yang bermukim di dalamnya. Sebelum pembuatan lamin
dimulai, terlebih dahulu kepala kampung, kepala adat dan para orang tua memilih
dua orang warga untuk mencari lahan tempat didirikannya lamin yang disebut
lasan palaki (lapangan elang), yang mengandung makna apakah daerah tersebut
akan mendatangkan kebaikan atau celaka. Syarat utama yang dipilih yaitu
sebidang tanah yang subur, kering dan menghadap ke sungai, baik sungai besar
ataupun kecil. Selalu diutamakan menghadap ke sungai, karena terdapat suatu
kepercayaan bahwa jika meninggal dunia, jiwa dan raganya akan pergi ke suatu
tempat yang sempurna, yang biasanya dilihat dalam impian. Tempat tersebut
disebut Alam Malao, yang diartikan sebagai sungai yang indah dan makmur, atau
semacam surga bagi orang beragama.

Untuk menentukan lahan yang tepat, dua orang yang telah ditugaskan tersebut
menunggu pertanda dari roh nenek moyang. Selama masa tersebut, dua orang
terpilih ini harus menjalani sejumlah pantangan, yaitu berpuasa dengan tidak
memakan apapun kecuali nasi, tidak berkumpul dengan istri, tidak bepergian jauh,
tidak boleh mengenakan pakaian berwarna dan rambut digundul. Pada hari
pertama, utusan tersebut akan pergi ke sebuah daerah atau lapangan dengan
membawa sesaji kepada para roh nenek moyang berupa beberapa ekor ayam
yang sudah dipotong dan telur ayam mentah. Hal ini dilakukan agar mendapat
restu dari roh nenek moyang. Kemudian mereka berjalan terus selama beberapa
hari hingga mendapatkan pertanda melalui perantara burung elang. Pertanda baik
akan didapatkan jika dijumpai burung elang yang datang tepat diatas sebidang
lahan, berputar di udara sebanyak delapan kali dan meninggalkan tempat tersebut
menuju ke suatu arah dengan tidak berbelok. Lahan tersebut lah yang kemudian
ditetapkan sebagai lasan palaki. Setelah lasan palaki ditemukan, barulah para
utusan tersebut diperbolehkan pulang kampung dan mengabarkan kepada kepala
adat, maka kepala adat akan mengumumkan kepada warga dan seluruh anggota
masyarakat akan menyambut gembira kabar tersebut.

Sebelum memulai pembangunan lamin, terlebih dahulu diadakan sebuah upacara


adat dengan sesaji berupa puluhan ternak seperti ayam, babi dan kerbau. Upacara
tersebut dilanjutkan dengan acara pesta yang melibatkan seluruh warga, baik tua
maupun muda. Setelah upacara adat dan pesta selesai diadakan, barulah
pembangunan lamin dapat dimulai.
Seperti diketahui, jiwa dan semangat gotong royong sudah menjadi tradisi yang
mendarah daging. Oleh sebab itu, pencarian bahan-bahan untuk mendirikan
lamin pun dilakukan secara suka rela, begitu juga pada proses pembangunannya.

Rumah lamin untuk para bangsawan berbeda dengan masyarakat biasa. Rumah
lamin bangsawan dibangun dengan bahan-bahan yang lebih bagus, dinding
berbahan papan. Sedangkan rumah lamin masyarakat biasa, dinding bagian luar
terbuat dari kayu.

Komponen Lamin

Tiangbawah
Sukaq adalah tiang bawah (tiang utama) yang berfungsi sebagai pondasi
bangunan lamin. Sukaq dibuat dari kayu ulin (kayu besi) berdiameter ½ - 1 m dan
panjang 6 m, dipancang ditanah dengan kedalaman 2 m dan berjarak 4 m antar
tiang satu dengan tiang yang lain.

Tangga
Lamin mempunyai beberapa buah can (tangga) yang dibuat dari batang pohon
berdiameter 30 - 40 cm. Tangga ini bisa dibalik atau kalau perlu dinaikkan dan
diturunkan.
Lantai
Asoq (lantai lamin) terdiri dari tiga bagian, yaitu usoq (serambi), bilik (kamar tidur)
dan jayung (dapur). Asoq tersusun atas 4 lapisan, yaitu merurat (gelagar
pertama), matuukng (gelagar kedua), lala (lantai bagian bawah) dan
diatas lala dipasang lantai yang sebenarnya. Asoq terbuat dari jejeran kayu
meranti yang di buat papan dengan ukuran 1x10 m.

Dinding dan Tiang Atas


Dinding lamin terbuat dari jejeran papan berbahan kayu meranti. Dinding inilah
yang akan membentuk peruntukan ruang pada lamin. Dinding bagian luar dilapisi
dengan ornamen-ornamen ukiran khas suku Dayak. Sedangkan tiang atas dibuat
dari batang pohon belengkanai berdiameter 0,5 m. Fungsi utama tiang-tiang atas
adalah untuk menyangga atap pada bagian usoq (serambi) karena tidak
berdinding. Tiang-tiang atas juga berfungsi sebagai hiasan karena dipahat menjadi
patung-patung dengan berbagai bentuk, pada umumnya berbentuk wajah
manusia dan binatang.

Atap
Kepang (Atap), terbuat dari jejeran kepingan kayu keras berukuran 70 x 40 cm.
Setiap lembaran kayu tersebut diberi lubang sebagai tempat pengikat, kemudian
disusun dengan teratur, sehingga bagian tepi lembar yang satu menutupi tepi
lembar yang lainnya. Bagian puncak atap ditutup dengan kulit kayu keras yang
diikat sedemikian rupa sehingga cukup kuat untuk menahan terpaan angin. Pada
bagian ujung-ujung atap dipasang hiasan berupa kayu les yang sudah diukir dan
mencuat hingga 2 m. Ukiran tersebut bermotif kepala naga sebagai simbol
keagungan, budi luhur, dan kepahlawanan.
Ukuran sebuah lamin bervariasi menyesuaikan kebutuhan. Panjangnya berkisar
antara 100 - 200 m dan lebarnya antara 20 – 25 meter, serta dapat menampung
60 keluarga. Secara umum pembagian ruang pada lamin adalah sebagai berikut :

Rumah Lamin dihiasi dengan ornamen dan dekorasi yang memiliki makna filosofis
khas adat Masyarakat Dayak. Ornamen yang khusus dari rumah lamin milik
bangsawan adalah hiasan atapnya memiliki dimensi dengan ukuran mencapai 4 m
dan terletak di bumbungan. Warna-warna yang digunakan untuk rumah lamin
juga memiliki makna tersendiri. Warna kuning melambangkan kewibawaan, warna
merah melambangkan keberanian, warna biru melambangkan loyalitas dan warna
putih melambangkan kebersihan jiwa.
Fungsi Sosial Lamin

Karena begitu panjangnya rumah lamin, ketika berada di ujung sisi tertentu, maka
manusia pada ujung sisi yang lain, hanya terlihat kecil. Selain untuk bermukim
warga, dalam rumah yang panjang ini dapat menampung ribuan orang tamu.

Di rumah lamin ini pula sering diadakan upacara-upacara perkawinan, kelahiran,


kematian, pesta sebelum menanam padi, pesta sesudah panen, dan lain-lain yang
kesemuanya dilakukan secara gotong royong. Upacara-upacara adat tersebut
biasanya dipimpin oleh Kepala Adat dan melibatkan seluruh warga.

Ciri utama rumah ini adalah berbentuk panggung dengan ketinggian kolong
kurang kebih 2 m. Pada kolong biasanya digunakan untuk memelihara
ternak. Usoq yang panjang dapat menampung ratusan tamu, ditempat inilah
diadakan beberapa upacara atau ritual adat yang diselenggarakan secara gotong
royong. Namun jika usoq sudah tidak mampu menampung, maka upacara
tersebut diadakan di halaman/pekarangan. Halaman lamin yang luas juga menjadi
tempat bermain anak-anak setiap hari. Selain itu, di pojok-pojok halaman menjadi
tempat peletakan patung-patung persembahan nenek moyang berukuran besar
berdiameter ½ - 1 m dan tingginya 3 - 4 m. Wajah-wajah patung tersebut
bervariasi, diantaranya berupa sosok hantu-hantu yang mengerikan, sosok wajah
wanita cantik, sosok manusia jadi-jadian dan lain-lain. Patung kayu yang terbesar
dan tertinggi berada di tengah-tengah, bernama sambang lawing yang digunakan
untuk mengikat binatang korban yang dipersembahkan dalam upacara adat.
Halaman bagian samping sampai belakang lamin berfungsi sebagai kebun, dengan
ditumbuhi bermacam-macam pohon sayur-sayuran dan buah-buahan.

Sumber :
 Taman Budaya Kalimantan Timur. (1976) Kumpulan Naskah Kesenian
Tradisional Kaltim. Samarinda: Taman Budaya Kalimantan Timur.

 Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur. (2011) Profil Dayak Kalimantan Timur:
Profil Seni Budaya dan Adat Istiadat Dayak Kalimantan Timur. Samarinda:
CV. Hagitadharma.

http://www.wisatapedia.net/index.php/telusur/kalimantan-timur/komponen-
budaya/lamin/

2. Rumah Adat Suku Lamin Dayak Kalimantan Timur

Rumah lamin Kalimantan Timur Sumber : http://www.kidnesia.com

a) Ciri Khas

Rumah Lamin memiliki beberapa ciri khas yang umumnya dapat langsung dikenali. ciri
utama rumah ini adalah berbentuk panggung dengan ketinggian kolong kurang kebih 2 m,
kemudian pada badan rumah Lamin, banyak ditemukan ukiran-ukiran atau gambar yang
mempunyai makna bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Timur. Rumah Lamin mempunyai
warna khas yang dipakai untuk menghias badan rumah. Warna khas itu adalah warna kuning dan
hitam biru dan merah. Halamn rumah Lamin juga biasanya dipenuhi dengan patung-patung atau
totem.
b) Fungsi

Rumah Lamin adalah rumah adat dari Kalimantan Timur yang merupakan identitas
masyarakat Dayak di Kalimantan Timur. Rumah ini dapat ditinggal oleh beberapa keluarga
karena ukuran rumah yang cukup besar. Salah satu rumah Lamin yang berada di Kalimantan
Timur bahkan dihuni oleh 12 sampai 30 kelurga. Rumah Lamin pada umumnya terbagi atas tiga
ruangan yaitu dapur, ruangan tidur, dan ruang tamu. Ruang tidur terletak berderetdan umumnya
dimiliki oleh masing-masing keluarga yang tinggal di dalam rumah tersebut. Ruang tidur juga
dibedakan antara ruang tidur lelaki dan ruang tidur perempuan kecuali jika sang lelaki dan
perempuan sudah menikah. Ruang tamu umumnya digunakan untuk menerima tamu dan juga
untuk pertemuan adat. Ruang tamu adalah ruangan kosong yang panjang. Di sisi luar rumah
Lamin, ada sebuah tangga yang digunakan untuk masuk ke dalam. Tangga ini mempunyai bentuk
dan model yang sama baik pada rumah Lamin yang dihuni masyarakat Dayak kelas menengah ke
atas maupun masyarakat Dayak kelas menengah ke bawah. Kemudian pada bagian bawa rumah
Lamin biasanya digunakan untuk memelihara ternak.

Selain sebagi rumah tinggal rumah lamin juga di fungsikan sebagai tempat diadakan
upacara-upacara perkawinan, kelahiran, kematian, pesta sebelum menanam padi, pesta sesudah
panen, dan lain-lain yang kesemuanya dilakukan secara gotong royong yang dipimpin oleh
Kepala Adat dan melibatkan seluruh warga.

Usoq yang panjang pada Rumah Lamin dapat menampung ratusan tamu, namun
jika usoq sudah tidak mampu menampung, maka upacara tersebut diadakan di
halaman/pekarangan. Halaman lamin yang luas juga menjadi tempat bermain anak-anak setiap
hari. Halaman bagian samping sampai belakang lamin berfungsi sebagai kebun, dengan
ditumbuhi bermacam-macam pohon sayur-sayuran dan buah-buahan.

c) Bentuk

Rumah Lamin berbentuk persegi panjang dan memiliki atap berbentuk seperti pelana. Rumah ini
mempunyai tinggi kurang lebih 3 meter dari tanah. Rumah Lamin memiliki lebar kurang lebih
15-25 meter dan panjang 200-300 meter deengan bentuk atap menyerupai bentuk atap pelana.

d) Struktur dan Bahan :

 Tiang bawah

Sukaq adalah tiang bawah (tiang utama) yang berfungsi sebagai pondasi bangunan
lamin. Sukaq dibuat dari kayu ulin (kayu besi) berdiameter ½ – 1 m dan panjang 6 m, dipancang
ditanah dengan kedalaman 2 m dan berjarak 4 m antar tiang satu dengan tiang yang lain.

Kayu ulin di pilih sebagai bahan utama dalam struktur bangunan lamin dikarenakan konon,
apabila kayu ulin terkena air maka kayu ini akan semakin keras. Hal ini terbukti dari lamanya
usia rumah Lamin yang dibuat dengan menggunakan kayu ulin. Hanya saja, ada berbagai
kesulitan untuk menemukan kayu ini di hutan.
Struktur Rumah lamin Sumber : www. wisatapedia.net

 Tangga
Lamin mempunyai beberapa buah can (tangga) yang dibuat dari batang pohon
berdiameter 30 – 40 cm. Tangga ini bisa dibalik atau kalau perlu dinaikkan dan diturunkan.

Tangga Rumah Lamin Sumber : www. wisatapedia.net

 Lantai
Asoq (lantai lamin) terdiri dari tiga bagian, yaitu usoq (serambi), bilik (kamar tidur)
dan jayung (dapur). Asoq tersusun atas 4 lapisan, yaitu merurat (gelagar
pertama), matuukng (gelagar kedua), lala (lantai bagian bawah) dan diatas lala dipasang lantai
yang sebenarnya. Asoq terbuat dari jejeran kayu meranti yang di buat papan dengan ukuran
1×10 m.
Lantai Rumah Lamin Sumber : www. wisatapedia.net

 Dinding dan Tiang Atas

Dinding lamin terbuat dari jejeran papan berbahan kayu meranti. Dinding inilah yang
akan membentuk peruntukan ruang pada lamin. Dinding bagian luar dilapisi dengan ornamen-
ornamen ukiran khas suku Dayak. Sedangkan tiang atas dibuat dari batang pohon belengkanai
berdiameter 0,5 m. Fungsi utama tiang-tiang atas adalah untuk menyangga atap pada
bagian usoq (serambi) karena tidak berdinding. Tiang-tiang atas juga berfungsi sebagai hiasan
karena dipahat menjadi patung-patung dengan berbagai bentuk, pada umumnya berbentuk wajah
manusia dan binatang.
Dinding Rumah Lamin Sumber : www. wisatapedia.net

 Atap
Kepang (Atap), terbuat dari jejeran kepingan kayu keras berukuran 70 x 40 cm. Setiap lembaran
kayu tersebut diberi lubang sebagai tempat pengikat, kemudian disusun dengan teratur,
sehingga bagian tepi lembar yang satu menutupi tepi lembar yang lainnya. Bagian puncak atap
ditutup dengan kulit kayu keras yang diikat sedemikian rupa sehingga cukup kuat untuk
menahan terpaan angin. Pada bagian ujung-ujung atap dipasang hiasan berupa kayu les yang
sudah diukir dan mencuat hingga 2 m. Ukiran tersebut bermotif kepala naga sebagai simbol
keagungan, budi luhur, dan kepahlawanan.
Atap Rumah Lamin Sumber : www. wisatapedia.net

e) Ornament

Rumah Lamin dihiasi dengan ornamen dan dekorasi yang memiliki makna filosofis khas
adat Masyarakat Dayak. Pada badan rumah Lamin Salah satu fungsi dari ukiran-ukiran atau
gambar pada tubuh rumah Lamin adalah untuk menjaga keluarga yang hidup dalam rumah dari
bahaya. Bahaya disini adalah ilmu-ilmu hitam yang umumnya ada di masyarakat Dayak yang
digunakan untuk mencelakai seseorang. Ornamen yang khusus dari rumah lamin milik
bangsawan adalah hiasan atapnya memiliki dimensi dengan ukuran mencapai 4 m dan terletak di
bumbungan.

Pada bagian pojok bangunan juga terdapat patung-patung persembahan nenek moyang
berukuran besar berdiameter ½ – 1 m dan tingginya 3 – 4 m. Wajah-wajah patung tersebut
bervariasi, diantaranya berupa sosok hantu-hantu yang mengerikan, sosok wajah wanita cantik,
sosok manusia jadi-jadian dan lain-lain. Patung kayu yang terbesar dan tertinggi berada di
tengah-tengah, bernama sambang lawing yang digunakan untuk mengikat binatang korban yang
dipersembahkan dalam upacara adat.

f) Filosofi :

Warna-warna yang diterapkan untuk rumah lamin memiliki makna tersendiri.


Warna kuning melambangkan kewibawaan, warna merah melambangkan keberanian,
warna biru melambangkan loyalitas dan warna putih melambangkan kebersihan jiwa.

Ilustrasi Warna Rumah lamin Sumber : www. wisatapedia.net

Kepercayaan masayrakat Dayak pada alam gaib sangat mempengaruhi proses pembangunan
rumah adat. Nilai spiritual yang dijunjung tinggi tersebut membentuk suatu ikatan kultural yang
kuat antara manusia dan alam. Terdapat dua roh nenek moyang yang dipercaya mempunyai
kekuatan besar dan berperan sebagai pengatur seluruh kehidupan. Roh nenek moyang tersebut
dinamakan Jalong Nyelong (roh lelaki yang menciptakan manusia) dan Bungan Malan (roh
wanita yang mengatur seluruh kehidupan manusia). Dalam kehidupan sehari-hari, kekuatan
kedua roh nenek moyang itu menjelma dalam bentuk binatang seperti kijang, musang, ular dan
beberapa jenis burung. Simbol ini merupakan pertanda untuk kebaikan yang bisa menyebabkan
masyarakat hidup makmur atau celaka. Maka dalam pembuatan rumah adatpun, pertanda dari
roh nenek moyang tersebut juga memegang peranan penting.

Halamn rumah Lamin yang di penuhi patung-patung atau totem ini adalah merupakan
perwujudan dewa-dewa yang dipercaya oleh masyarakat Dayak sebagai penjaga rumah dari
bahaya.

2. Kondisi saat ini Rumah Adat Suku Dayak Lamin Kalimantan Timur

a) Kondisi Fisik

Ditinjau dari segi Fisik, jika adapun pembangunan rumah lamin pada saat ini, sayangnya
tak lagi sepenuhnya mengikuti prinsip bangunan Lamin Dayak. Hal ini tampak dari bentuk
bangunannya yang bertingkat, sementara rumah panjang Dayak tidak ada yang bertingkat.

Lamin Tradisional. Sumber : houhousetraditional.blogspot.com

Lamin pada saat ini.Sumber : www. wisatapedia.net

Pada umumnya Rumah Lamin seluruh bangunannya terbuat dari kayu, ulin atau kayu besi.
Kayu ulin di pilih sebagai bahan utama dalam struktur bangunan lamin dikarenakan konon,
apabila kayu ulin terkena air maka kayu ini akan semakin keras. Hal ini terbukti dari lamanya
usia rumah Lamin yang dibuat dengan menggunakan kayu ulin. Hanya saja, ada berbagai
kesulitan untuk menemukan kayu ini di hutan. Oleh karena itu rumah lamin jikapun ada pada
saat ini, namun tidak murni terbuat dari kayu Ulin.

Pada bagian dasar rumah lamin juga menggunakan cor beton pada pembangunan rumah
lamin pada saat ini, ntuk mengantisipasi debu pada area kolong bangunan yang merupakan
sumber penyakit.

b) Kondisi Non Fisik

Pada saat ini, suku Dayak yaing tinggal di rumah panjang yaitu lamin semakin menipis.
Dua agama yang mereka anut, yaitu Kristen dan Islam, sam-sama mengganggap bahwa tinggal
di rumah panjang kurang higenis. Anggapan ini muncul karena suku dayak tinggal bersam hewan
ternak mereka yang bderada pada bagian kolong Lamin atau bagian bawah Lamin.

Hal ini dulunya dikarenakan beberapa alasan yang menggoyahkan keberadaan rumah panjang
antara lain sejak tahun 1904 saat pemerintahan kolonial Belanda mengeluarkan peraturan, antara
lain tertulis: “Setiap kepala keluarga yang mampu harus membuat rumah tinggal masing-masing
yang permanen. Selain itu juga, mereka diharuskan berkebun ke luar di sekitaran kampungnya.
Beberapa pengamat menganggap kehadiran misi dan zending di pehuluan sungai juga ikut
menggoyahkan keberadaan dan makna rumah panjang. Bangunan masyarakat adat Dayak itu
dianggap kurang higienis dan mudah memancing kebakaran besar. Serta merupakan gelanggang
upacara adat lokal yang kurang berkenan bagi ajaran agama baru dan pengembangannya. Selain
itu, pada masa kolonial Belanda sampai masa Orde Baru, rumah panjang diawasi ketat karena
ditakutkan sebagai gelanggang rapat gelap kelompok bahaya laten negara.

Kehidupan modern dan kegiatan pembangunan saat ini, juga menyebabkan perubahan
social dan kebudayaan sehingga terjadinya pergeseran nilai-nilai social di pedesaan. Hal ini
mempengaruhi bentuk dan fungsi lamin dan segala aktifitas dan kegiatan di dalamnya.
Kemudian akibat penebangan hutan yang marak saat ini untuk pertambangan atau lahan
perkebunan mendorong masayarakat meninggalkan hutan yang merupakan tempat tinggal
mereka. Seperti yang terjadi di kampung Datah Bilah, suku Dayak kenyah yang terkenal dengan
seni ukirnya, awalnya hidup tentram dalam bilik-bilik rumah panggung mereka, namun pada
tahun 1969, suku yang sebelumnya mengghuni daerah Apao Kayan ini berimigrasi karena hal
tersebut dan kebutuhan akan garam, minyak dan msg, mendorong mereka

Akhirnyapun saat ini, rumah Lamin hanya mewadahi kegiatan-kegiatan bersifat


umum/public, digunakan saat ada acara adat ataupun sebagai destinasi wisata semata. Perubahan
fungsi lamin yang dulunya merupakan sistem komunitas menjadi lamin adat yang lebih berfungsi
sebagai fasilitas umum memiliki perbedaan sistem spasial.