Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Om swastyastu
Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa lagi Maha Memberi Rahmat.Karena
ramhat serta inayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “PROSES
PENUAAN: TEORI BIOLOGIS” ini tepat pada waktunya. Penyusunan makalah ini sebagai
pemenuhan tugas kelompok dari mata kuliah Keperawatan Gerontik
Selain itu, penyusunan makalah ini bermanfaat untuk mengetahui dan menambah
wawasan penyusun sebagai mahasiswa serta pembaca mengenai teori biologis dari proses
penuaan pada manusia secara lebih mendalam dan runtut.
.Dan tak lupa kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam proses penyusunan makalah ini baik secara material maupun moril, dan karena
keterbatasn kami tidak dapat menyebutkan satu persatu.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan segala rahmat dan karunia-
Nya kepada kami dan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
pembuatan makalah ini.
Tentunya karena keterbatasan yang dimiliki penyusun sebagai manusia, makalah ini
belum sempurna. Sehingga penyampaian atau pemberian kritik dan saran mengenai
penyusunan makalah ini sangat diharapkan oleh penyusun.
Om santih, santih, santih om

Denpasar, 11 September 2018

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghlangnya secara perlahan-lahan
kemapuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan
yang diderita (Constantinides, 1994 dalam Nugroho. W, 2000). Dengan kata lain, proses
menua merupakan tahap lanjut dari suatu kehidupan yang ditandai dengan menurunnya
kemampuan tubuh untuk beradaptasi terhadap stres atau pengaruh lingkungan, dimulai
dari kemunduran secara fisik maupun psikis (kejiwaan), atau yang lazim dikatakan adalah
keuzuran.
Pada perkembangan sekarang ini, pendapat tersebut mulai tergeser dengan suatu
pengertian bahwa masa tua merupakan suatu hal yang wajar dan tetap dapat menjalani sisa
hidupnya dengan tenang, aman, sejahtera dan berguna bagi lingkungannya. Secara global,
bila ditinjau dari aspek peradaban umat manusia, maka terdapat konsep transisi
kependudukan yang oleh berbagai pakar, termasuk para pakar gerontologi (Comfort 1964
dan Myers 1984) menggambarkan pertumbuhan jumlah lansia akibat penurunan pada
angka morbiditas (S. Tamher & Noorkasiani, 2011).
Berkenaan dengan hal tersebut, berbagai upaya telah dilaksanakan oleh instansi
pemerintah, para profesional kesehatan, serta bekerja sama dengan pihak swasta dan
masyarakat untuk mengurangi angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas)
lansia. Salah satu wujud upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan lansia
adalah dengan disahkannya UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia
(tambahan lembaran negara Nomor 3796) sebagai pengganti UU No. 4 Tahun 1965
tentang Pemberian Bantuan bagi Orang Jompo (R. Siti Maryam, dkk., 2012).
Sehingga dirasa perlu adanya sumbangsih dari lapis masyarakat, khususnya
penyusun sebagai mahasiswa kesehatan untuk membantu upaya pemerintah dalam
mensejahterakan lansia. Salah satu upaya primer yang dapat dilakukan adalah menambah
wawasan dan pemahaman mengenai keperawatan pada usia lanjut atau gerontik. Oleh
karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai “PROSES PENUAAN: TEORI
BIOLOGIS”.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah, sebagai berikut:
1. Bagaimana proses penuaan dari sudut pandang teori biologis?
2. Bagaimana aspek biologis yang terdapat pada usia lanjut?

C. Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami teori proses penuaan
khususnya pada teori biologisnya.

D. Manfaat
1. Bagi penulis
Dengan adanya penyusunan makalah ini, penulis dapat manambah wawasan dan pengetahuan
serta dapat mengembangkan ilmu pengetahuan mengenai hormon pada organ reproduksi
wanita, khususnya mekanisme kerjanya.
2. Bagi pembaca
Adanya penyusunan makalah ini, supaya dapat dimanfaatkan sebagai bahan referensi
pembaca.Selain itu, dapat dimanfaatkan sebagai sumber bacaan untuk menambah atau
memahami tentang hormon pada organ reproduksi wanita, khususnya mekanisme kerjanya.
BAB II
ISI

A. PROSES PENUAAN
Penuaan atau proses terjadinya tua adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi serta
memperbaiki kerusakan yang diderita. Seiring dengan proses menua tersebut, tubuh akan
mengalami berbagai masalah kesehatan atau yang biasa disebut sebagai penyakit
degenararif (Constantinides, 1994 dalamR. Siti Maryam, dkk: 2012).
Aging process (proses penuaan) dalam perjalanan hidup manusia merupakan suatu
hal yang wajar, dan ini akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai umur panjang,
hanya cepat dan lambatnya proses tersebut bergantung pada masing-masing individu.
Secara teori perkembangan manusia yang dimulai dari masa bayi, anak, remaja, dewasa,
tua, dan akhirnya akan masuk pada fase usia lanjut dengan umur diatas 60 tahun. Pada usia
ini terjadilah proses penuaan secara alamiah. Perlu persiapan untuk menyambutb hal
tersebut agar nantinya tidak menimbulkan fisik, mental, sosial, ekonomi bahkan
psikologis. Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghlangnya secara perlahan-lahan
kemapuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan
yang diderita (Constantinides, 1994 dalam Nugroho. W, 2000)
Sehingga dapat diartikan proses penuaan merupakan tahap dewasa yang dimana
tahap pertumbuhan manusia mencapai titik perkembangan yang maksimal, dengan disertai
mulai menyusutnya tubuh yang dikarenakan berkurangnya jumlah sel-sel dalam tubuh.
Sehingga fungsi tubuh juga akan mengalami penurunan secara perlahan-lahan yang
biasanya disertai masalah atau gangguan pada kesehatan.
Selain itu, proses menua juga merupakan proses yang terus-menerus (berkelanjutan)
secara alamiah yang dimulai sejak manusia lahir sampai udzhur/tua. Pada usia lansia ini
biasanya seseorang akan mengalami kehilangan jaringan otot, susunan saraf, dan jaringan
lain sehingga tubuh akan “mati” sedikit demi sedikit. Secara individu, pengaruh proses
menua dapat menimbulkan berbagai masalah sosial-ekonomi, mental, maupun fisik-
biologis. Dari aspek fisik-biologis terjadi perubahan pada beberapa sistem, seperti sistem
organ dalam, sistem muskuloskeletal, sistem sirkulasi (jantung), sel jaringan dan sistem
saraf yang tidak dapat diganti karena rusak atau mati. Ditambahkan, terutama sel otak
yang berkurang 10-20% dalam setiap harinya dna sel ginjal yang tidak bisa membelah,
sehingga tidak ada regenerasi sel. Berkurangnya jumlah sel saraf (neuron) dan kematian
sel secara terus-menerus menyebabkan seseorang menjadi demensia (Khalid
Mujahidullah, 2012)
World Health Organization (WHO) menyebutkan batasan-batasan usia lanjut
adalah, sebagai berikut:
1. Usia pertengahan (midle age) kelompok usia 45-59 tahun,
2. Usia lanjut (elderly) antara 60-70 tahun,
3. Usia lanut tua (old) antara 75-90 tahun,
4. Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun.

B. TEORI PENUAAN
Berdasarkan perkembangan ilmu dan banyaknya teori-teori mengenai proses penuaan
yang salah satu contohnya berkembangnya ilmu keperawatan geiatrik atau gerontik. Maka
penting bagi manusia khususnya yang bergelut dalam bidang keperawatan geriatik atau
gerontik untuk menyumbangkan kontribusinya terhadap masalah-masalah kesehatan yang
dihadapi oleh mansyarakat. Hal tersebut dapat dimulai dengan menggali pengetahuan
mengenai teori-teori dari proses penuaan. Berikut ini beberapa teori yang berkenaan dengan
proses penuaan, yakni:
1. Teori Biologis
2. Teori Psikologis
3. Teori Sosial
4. Teori Spriritual.

C. TEORI BIOLOGIS
Teori biologis dalam proses menua mengacu pada asumsi bahwa proses menua
merupakan perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi tubuh selama masa hidup (Zairt,
1980 dalam Khalid Mujahidullah, 2012). Teori ini lebih menekankan pada perubahan kondisi
tingkat struktural sel/organ tubuh, termasuk di dalamnya adalah pengaruh agen patologis.
Fokus dari teori ini adalah mencari determinan-determinan yang menghambat proses
penurunan fungsi organisme yang dalam korteks sistemik dapat memengaruhi/memberikan
dampak terhadap organ/sistem tubuh lainnya dan berkembang sesuai dengan peningkatan
usia kronologis (Hayflick, 1977 dalam Khalid Mujahidullah, 2012).
Adapun beberapa teori menua yang termasuk dalam lingkup proses menua biologia
antara lain, sebagai berikut:
1. Teori Keterbatasan Hayflick (Hayflick Limit Theory)
Hayflick dan Moorrehead (1961) menyatakan bahwa sel-sel mengalami perubahan
kemampuan reproduksi sesuai dengan bertambahnya usia (Lueeckenote, 1996). Selain
diatas, dikenal juga istilah “Jam Biologis Manusia” diasumsikan sebagai waktu dimana
sel-sel tubuh manusia masih dapat berfungsi secara produktif untuk menunjang fungsi
kehidupan. Teori Hayflick menekankan bahwa perubahan kondisi fisik pada manusia
dipengaruhi oleh adanya kemampuan reproduksi dan fungsional sel organ yang menurun
sejalan dengan bertambahnya usia tubuh setelah usia tertentu.

2. Teori kesalahan (Error Theory)


Adanya perkembangan umur sel tubuh, maka terjadi beberapa perubahan alami pada
sel pada DNA dan RNA, yang merupakan substansi pembangunan/pembentuk sel baru.
Peningkatan usia memengaruhi perubahan sel dimana sel-sel Nukleus menjadi lebih
besar tetapi tidak diikuti dengan peningkatan jumlah substansi DNA. Konsep yang
diajukan oleh ORGEL (1963) menyampaikan bahwa kemungkinan terjadinya proses
menua adalah akibat keslahan padaa saat transkrip sel pada saat sintesa protein, yang
berdampak pada penurunan kemampuan kualitas (daya hidup) sel atau bahkan sel-sel
baru relatif sedikit terbentuk. Kesalahan yang terjadi pada proses transkripsi ini
dimungkinkan oleh karena reproduksi dari enzim dan rantai peptida (protein) tidak dapat
melakukan penggandaan substansi secara tepat. Kondisi ini akhirnya mengakibatkan
proses transkripsi sel berikutnya juga mengalami perubahan dalam beberapa generasi
yang akhirnya dapat mengubah komposisi yang berbeda dari sel awal (Sonneborn,1979).

3. Teori Pakai dan Usang (Wear &Tear Theory )


Teori ini menyatakan bahwa sel-sel tetap ada sepanjang hidup mana kala sel-sel
tersebut digunakan secara terus-menerus. Teori ini dikenalakn oleh Weisman (1891).
Hayflick menyatakan bahwa kematian merupakan akibat dari tidak digunakannya sel-sel
karena dianggap tidak diperlukan lagi dan tidak dapat meremajakan lagi sel-sel tersebut
secara mandiri. Teori ini memandang bahwa proses menua merupakan proses pra-
program yaitu proses yang terjadi akibat akumulasi stress dan injuri dari trauma. Menua
dianggap sebagai “Proses fisiologis yang ditentukan oleh sejumlah penggunaan dan
keusangan dari organ seseorang yang terpapar dengan lingkungan.” (Matesson
,Mc.Connell,1988).

4. Teory Radikal Bebas (Free Radical Theory)


Teori radikal bebas mengasumsikan bahwa proses menua terjadi akibat
kekurangefektifan fungsi kerja tubuh dan hal itu dipengaruhi oleh adanya berbagai
radikal bebas dalam tubuh. Secara normal radikal bebas ada pada setiap individu dan
dapat digunakan untuk memprediksi umur kronologis individu. Disebut sebagai radikal
bebas disini adalah molekul yang memiliki tingkat afinitas yang tinggi, merupakan
molekul, fragmen molekul atau atom dengan elektron yang bebas tidak berpasangan.
Radikal bebas merupakan zat yang terbentuk dalam tubuh manusia sebagai salah satu
hasil kerja metabolisme tubuh. Walaupun secara normal ia terbentuk akibat;
a. Proses oksigenisasi lingkungan seperti pengaruh polutan,ozon dan pestisida.
b. Reaksi akibat paparan dengan radiasi
c. Sebagai reaksi beranti dengan molekul bebas lainnya.
Radikal bebas yang reaktif mampu termasuk merusak sel, termasuk mitokondria,
yang akhirnya mampu menyebabkan cepatnya kematian (apoptosis) sel, menghambat
proses reproduksi sel. Hal lain yang mengganggu fungsi sel tubuh akibat radikal bebas
adalah bahwa radikal bebas yang ada dalam tubuh dapat menyebabkan mutasi pada
transkripsi DNA-RNA pada genetik walaupun ia tidak mengandung DNA. Dalam sistem
saraf dan jaringan otot, dimana radikal bebas memiliki tingkat afinitas yang relatif tinggi
dibanding lainnya, terdapat/ditemukan substansi yang disebut juga dengan Lipofusin,
yang dapat digunakan juga untuk mengukur usia kronologis seseorang. Lipofusin yang
merupakan pigmen yang diperkaya dengan lemak dan protein ditemukan terakumulasi
dalam jaringan-jaringan orang tua. Kesalahan kulit brangsur-angsur menurun akibat
suplai oksigen dan nutrisi yang makin sedikit yang akhirnya dapat mengakibatkan
kematian jaringan kulit itu sendiri.
Vitamin C dan E merupakan dua substansi yang dipercaya dapat menghambat kerja
radikal bebas (sebagai anti oksidan) yang memungkinkan menyebabkan kerusakan
jaringan kulit. Rockkestein dan sussman (1979) menyatakan bahwa Butilat
Hidroksitoluent dapat memiliki efek anti oksidan ketika diberikan kepada tikus.

5. Teori Imunitas (Immunity Theory)


Ke”tua”an disebabakan oleh adanya penurunan fungsi sistem immun. Perubahan itu
lebih tampak secara nyata pada Limposit-T, di samping perubahan juga terjadi pada
Limposit-B. Perubahan yang terjadi meliputi penurunan sistem imun humoral, yang
dapat menjadi faktor predisposisi pada orang tua untuk:
a. Menurunkan resistensi melawan pertumbuhan tumor dan perkembangan
kanker
b. Menurukan kemampuan untuk mengadakan inisiasi proses dan agresif
memobillisasi pertahanan tubuh terhadap patogen
c. Meningkatkan produksi autoantigen, yang berdampak pada semakin mening
berdampak pada semakin meningkatnyyaa resiko terjadinya penyakit yang
berhubungan dengan autoimmun.

6. Teori Ikatan Silang (Cross Lingkage Theory)


Dikenalakan oleh J. Bjorksten pada tahun 1942, menekankan pada postulat bahwa
proses menua terjadi sebagai akibat adanya ikatan-ikatan dalam kimiawi tubuh. Teori ini
menyebutkan bahwa secara normal, struktur molekuler dari sel berikatan secara bersama-
sama membentuk reaksi kimia. Termasuk didalamnya adalah kolagen yang relatif
panjang yang dihasilkan oleh fibroblast. Dengan terbentuknya jaringan baru, maka
jaringan tersebut akan bersinggungan dengan jaringan yang lama dan membentuk ikatan
silang kimiawi. Hasil akhir dari proses ikatan silang ini adalah peningkatan densitas
kolagen dan penurunan kapasitas untuk transpot nutrient serta untuk membuang produk-
produk sisa metabolisme dari sel.
Zat ikatan silang ditemukan pada lemak tidak jenuh, ions polyvalen seperti
Alumunium, Seng, dan Magnesium. Dari konsep diatas, maka implikasi keperawatan
yang dapat diterapkan antara lain:
a. Dalam hubungan dengan orang yang sudah tua, perlu bagi perawat untuk
memperhatikan teori proses menua.
b. Aktivitas (kegiatan) sehari-hari merupakan salah satu bagian dari perilaku kehidupan
normal yang tidak perlu dipatasi secara berlebihan, tetapi lebih cenderung untuk
memodifikasi perilaku sebagai akibat perubahn fisik dari menula itu sendiri. Perilaku
hidup sehari-hari diperlukan untuk menjaga kondisi fisik tetap dalam batas normal
dan mengoptimalkan kemampuan diri.
c. Pola hidup sehat yang dilakukan dapat memengaruhi perubahan-perubahan dasar
biologis dari proses menua itu sendiri. Konsumsi makanan yang sehat, cukup gizi dan
menhindari faktor-faktor resiko pencetus stres fisik dan pembentuk radikal bebas
merupakan salah satu upaya untuk menurangi proses menua secara biologis.
d. Melakukan kehidupan dengan melakukan kerja seimbang dan pemenuhan kebutuhan
seimbang mampu memberikan kontribusi yang positifdalam peningkatn performen
individu itu sendiri.
e. Menghindari lingkungan dengan tingkat resiko radiasi atau polutan yang tinggi
merupakan langkah yang bisa ditempuh untuk menghindari cepatnya proses menua
secara biologis.
f. Perlu bagi perawat untuk memperhatikan upaya-upaya pemenuhan kebutuhan pasien
akan sarana dari prasarana yang menunjang pencapaian kebutuhan hidup serta
meningkatkan kualitas hidup melalui pengadaan alat-alat aktivitas yang memadai,
mengurangi resiko stres fisik berlebih serta terindar dari polusi.

Sedangkan dalam buku “Ilmu Keperawatan Komunitas: Konsep dan Aplikasi,


Buku 2” Wahit Iqbal Mubarok, dkk., membagi teori biologi menjadi 9 teori kecil, yakni:
a. Teori Genetik Clock
b. Teori Mutasi Somatik (Error Catastrophe Theory)
c. Teori Autoimun (Auto Immune Theory)
d. Teori radikal Bebas
e. Pemakaian dan Rusak
f. Teori Virus yang Perlahan-lahan Menyerang Sistem Kekebalan Tubuh
(Immunology Slow Virus Theory)
g. Teori Stres
h. Teori Rantai Silang
i. Teori Program.
A. ASPEK BIOLOGIS PADA PROSES PENUAAN
Proses penuaan yang ditandai dengan meningkatnya angka kematian usia khusus
merupakan ciri umum pada mamalia, burung, reptil, dan kebanyakan hewan tak bertulang
belakang (Comford, 1979 dan Vinch, 1990). Dengan angka kematian usia khusus
dimaksudkan untuk mengukur angka kematian pada selang usia tertentu dengan ciri atau
karakteristik serupa. Misalnya bayi, balita, dewasa muda, dewasa tua, lansia, dan jompo. (S.
Tamher & Noorkasiani, 2011)
Sehingga terdapat beberapa aspek biologis yang memengaruhi terjadinya proses
penuaan. Aspek biologis pada proses penuaan terbagi menjadi dua bagian, yakni:
1. Proses Penuaan pada Tingkat Sel
Sebagaimana layaknya manusia yang bertumbuh semakin lama semakin tua,
pada dasarnya sel juga bertumbuh semakin lama semakin tua dan pada akhirnya sel-sel
tua itu mengalami kematian sel. Kematian tersebut bergantung pada masing-masing jenis
sel yang membentuk jaringan tubuh.
Secara umum dapat dikatakan bahwa setelah melewati masa dewasa, sel-
sel jaringan tubuh mulai menua. Pada masa dewasa sel-sel mencapai maturitas
(kematangan). Sebagai contoh, sel saraf tidak bereproduksi lagi. Pada masa ini bila
seseorang mengalami cedera atau penyakit tertentu yang berakibat pada kematian sel
saraf itu, maka selnya sendiri tidak akan tergantikan lagi. Fungsinya akan diambil-alih
oleh sel-sel lain yang tertinggal. Akibat pekerjaan ekstra itu, maka sel-sel yang
bersangkutan akan mengalami proses penuaan yang lebih cepat lagi. Kemudian dengan
berlanjutnya usia, organ tubuh kehilangan sebagian kemampuannya untuk dapat
berfungsi secara optimal. Sehingga secara keseluruhan fungsi tubuh semakin berkurang
saja.

2. Proses Penuaan menurut Sistem Tubuh


Proses tumbuh kembang (growth and development) dalam fase kehidupan
setiap individu dapat dibagi ke dalam 3 fase menurut tingkat kecepatan
perlangsungannya, yaitu:
a. Fase progresif (tumbuh kembang cepat),
b. Fase stabil (tumbuah kembang stasioner),
c. Fase regresif (kemundurang tumbuh kembang).
Dalam fase ketiga (fase kemunduran), secara mikro berlangsung kemunduran
biologis dan fungsional, dengan akibat terjadinya perubahan-perubahan secara makro,
yang meliputi perubahan pada kulit, sistem indra, sistem kardiovaskular, sistem respirasi,
sistem gastrointestinal, sistem perkemihan dna reproduksi, serta sistem neurologis.

Tabel 1. Perubahan-perubahan Fisik yang Terjadi pada Usia Lanjut


No. Sistem Perubahan
1. Sel Jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh
menurun, dan cairan intraseluler menurun.
2. Kardiovaskuler Katup jantung menebal dan kaku, kemampuan
memompa darah menurun (menurunnya
kontraksi dna volume), elastisitas pembuluh
darah menurun, serta meningkatnya resistensi
pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah
meningkat.
3. Respirasi Otot-otot pernapasan kekuatannya menurun dan
kaku, elastisitas paru menurn, kapasitas residu
meingkat sehingga menarik napas lebih berat,
alveoli melebar dan jumlahnya menurun,
kemampuan batuk menurun, serta terjadi
penyempitan pada bronkus.
4. Persarafan Saraf panca indra mengecil sehingga fungsinya
menurun serta lambat dalam merespons dan
waktu bereaksi khususnya yangberhubungan
dengan stres. Berkurangnya atau hilangnya
lapisan mielin akson, sehingga menyebabkan
berkurangnya respons motorik dan refleks.
5. Muskuloskeletal Cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh
(osteoporosis), bungkuk (kifosis), persendian
membesar dan menjaid kaku, (atrofi otot),
kram, tremor, tendon mengerut, dan mengalami
sklerosis.
6. Gastrointestinal Esofagus melebar, asam lambung menurun, lapar
mennurun, dan peristaltik menurun seingga
daya absorpsi juga ikut menurn. Ukuran
lambung mengscil serta fungsi organ aksesori
menurun sehingga menyebabkan berkurangnya
produksi hormon dan enzim pencernaan.
7. Genitourinasia Ginjal: mengecil, aliran darah ke ginjal menurun,
penyaringan di glomerulus menuru, dan fungsi
tubulus menurun sehingga kemampuan
mengonsentrasi urine ikut menurun.
8. Vesika urinaria Otot-otot melemah, kapasitasnya menurun dan
retemsi urine. Prostat: hipertrofi pada 75%
lansia.
9. Vagina Selaput lendir mengering dan sekresi menurun.
10. Pendengaran Membran timpani atrofi sehingga terjadi gangguan
pendengaran. Tulang-tulang pendengaran
mengalamu kekakuan.
11. Penglihatan Respons terhadap sinar menurun, adaptasi terhadap
gelap menurun, akomodasi menurun, lapangan
padang menurun, dan katarak.
12. Endokrin Produksi hormon menurun.
13. Kulit Keriput serta kulit kepala dan rambut menipis.
Rambut dalam hidung dan telingan menebal.
Elastisitas menurun, vaskularisasi menurun,
rambut memutih (uban) , kelenjar keringat
menurun, kuku keras dan rapuh,serta kuku kaki
tumbuh berlebihan seperti tanduk
14. Belajar dan Memori Kemampuan belajar masih ada tetapi relatif
menurun. Memori (daya ingat) menurun karena
proses encoding menurun.
15. Intelegensi Secara umum tidak banyak perubahan
16. Personality dan Tidak banyak perubahan, hampir setiap muda.
adjustment
(Pengaturan )
17. Pencapaian Sains, filosofi, seni, dan musik sangat memengaruhi
(Achievment)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari ulasan yang diperoleh pada Bab 2 Tinjauan Teori dan Bab 3 Pembahasan maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa:
Proses penuaan merupakan tahap dewasa yang dimana tahap pertumbuhan manusia
mencapai titik perkembangan yang maksimal, dengan disertai mulai menyusutnya tubuh
yang dikarenakan berkurangnya jumlah sel-sel dalam tubuh. Sehingga fungsi tubuh juga
akan mengalami penurunan secara perlahan-lahan yang biasanya disertai masalah atau
gangguan pada kesehatan.
Terdapat berbagai teori mengenai proses penuaan, salah satunya teori biologi yang
terbagi menjadi 6 teori kecil, yakni: Teori Keterbatasan Hayflick (Hayflick Limit Theory),
Teori kesalahan (Error Theory), Teori Pakai dan Usang (Wear &Tear Theory ), Teory
Radikal Bebas (Free Radical Theory), Teori Imunitas (Immunity Theory), dan Teori Ikatan
Silang (Cross Lingkage Theory). Kemudian pada usia lanjut juga terdapat aspek
biologisnya yang terbagi dalam dua garis besar yakni Proses Penuaan pada Tingkat Sel
dan Proses Penuaan menurut Sistem Tubuh.

B. SARAN
Begitu banyak teori mengenai proses penuaan yang semuanya perlu untuk
digali lebih dalam lagi, khususnya bagi praktisi kesehatan ataupun mahasiswa kesehatan
agar menambah wawasan dalam melakukan praktik sebagai praktisi kesehatan. Dan
didalam makalah ini hanya dibahas mengenai satu teori besar mengenai proses penuaan
yakni teori biologis. Sehingga akan labih baik jika diperluas dengan mempelajari teori
proses penuaan yang lainnya agar lebih memahami bagaimana proses penuaan dalam
beberapa sudut pandang teori.

DAFTAR PUSTAKA
Maryam, R. Siti, dkk. 2012. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba
Medika.
Mubarak, Iqbal Wahit, dkk. 2012. Ilmu Keperawatan Komunitas: Konsep dan Aplikasi, Buku
2. Jakarta: Salemba Medika.
Mujahidullah, Khalid. 2012. Keperawatan Gerontik: Merawat Lansia dengan Cinta dan
Kasih Sayang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Stanley, Mickey dan Patricia Gauntlett Beare. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik, Edisi
2. Jakarta: EGC.
Tamher, S., dan Noorkasiani. 2011. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.