Anda di halaman 1dari 11

1.

Dasar Ontologis Sila-sila Pancasila


Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat tidak hanya menyangkut sila-silanya saja
melainkankan juga meliputi hakikat dasar dari sila-sila Pancasila atau yang disebut juga dengan
dasar ontologis sila-sila Pancasila. Pancasila yang terdiri dari lima sila memiliki satu kesatuan
dasar ontologis. Selain itu, Dasar ontologis Pancasila pada hakikatnya adalah manusia, yang
memiliki hakikat mutlak ​monopluralis​, oleh karena itu hakikat dasar ini juga disebut sebagai
dasar antropologis. Subjek pendukung sila-sila Pancasila adalah manusia, hal ini dapat dijelaskan
sebagai berikut: bahwa yang Berketuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan
beradab, yang berpersatuan, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan serta yag berkeadilan sosial pada hakikatnya adalah manusia.
Demikian juga jikalalu kita pahami dari filsafat negara bahwa Pancasila adalah dasar filsafat
negara, adapun pendukung pokok negara adalah rakyat dan unsur rakyat adalah manusia itu
sendiri, sehingga tepatlah jikalau dalam filsafat Pancasila bahwa hakikat dasar antropologis
sila-sila Pancasila adalah manusia (Kaelan, 2012: 14).
Manusia sebagai pendukung pokok sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hal-hal yang
mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat, raga, dan jiwa jasmani dan rohani, sifat kodrat mansuia
adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, serta kedudukan kodrat manusia sebagai
makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena
kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan
inilah maka secara hierarkhis sila pertama Ketuhan Yang Maha Esa mendasari dan menjiwai
keempat sila-sila Pancasila yang lainnya.

Hubungan kesesuaian antara negara dengan sila-sila Pancaisla adalah berupa hubungan sebab
akibat yaitu negara sebagai pendukung hubungan dan Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil
sebagai pokok pangkal hubungan. Landasan sila-sila Pancasila yaitu Tuhan, manusia, satu,
rakyat, dan adil adalah sebagai sebab adapun negara adalah sebagai akibat. Sebagai suatu sistem
filsafat landasan sial-sila Pancasila itu dalam hal isinya menunjukkan suatu hakikat makna yanag
bertingkat, serta ditinjau dari keluasannya memiliki bentuk piramidal.

2. Dasar Epistemologis sila-sila Pancasila


Dasar epistemologis Pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari dasar ontologisnya.
Pancasila sebagai suatu ideologi bersumber pada nilai-nilai dasarnya yaitu filsafat Pancasila.
Terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistemologi yaitu: pertama tentang sumber
pengetahuan manusia, kedua tentang teori kebenaran pengetahuan manusia, ketiga tetang watak
pengetahuan manusia. Persoalan epistemologi dalam hubungannya dengan Pancasila dapat
dirinci sebagai berikut:
Pancasila sebagai suatu objek pengetahuan pada hakikatnya meliputi masalah sumber
pengetahuan manusia dan susunan pengetahuan Pancasila. Tentang sumber pengetahuan
Pancasila, sebagaimana diketahui bersama bahwa sumber pengetahuan Pancasila adalah
nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia sendiri, bukan berasal dari bangsa lain, bukan hanya
merupakan perenungan serta pemikiran seseorang atau beberapa orang saja namun dirumuskan
oleh wakil-wakil bangsa Indonesia dalam mendirikan negara. Oleh karena sumber pengetahuan
Pancasila adalah bangsa Indonesia sendiri yang memiliki nilai-nilai, adat istiadat, dan
kebudayaan dan nilai religius, maka diantara bangsa Indonesia sebagai pendukung sila-sila
Pancasila dengan Pancasila sendiri sebagai suatu sistem pengetahuan memiliki kessuaian yang
bersifat korespondensi.

Berikutnya tentang susunan Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Sebagai suatu sistem
pengetahuan maka Pancasila memiliki susunan yang bersifat formal logis baik dalam arti
susunan sila-sila Pancasila maupun isi arti sila-sila Pancasila. Susunan kesatuan sila-sila
Pancasila adalah berbentuk hierarkhis dan berbentuk piramidal, dimana sila pertama Pancasila
mendasari dan menjiwai keempat sila lainnya serta sila kedua didasari sila pertama serta
mendasari dan menjiwai sila-sila ketiga, keempat, dan kelima, sila ketiga didasari dan dijiwai
oleh sila pertama dan kedua serta mendasari dan menjiwai sila-sila keempat dan kelima, sila
keempat didasari dan dijiwai sila pertama, kedua serta ketiga serta mendasari dan menjiwai sila
kelima, adapun sila kelima didasari dan dijiwai oleh sila pertama, kedua, ketiga, dan keempat.
Demikianlah maka susunan sila-sila Pancasila memiliki sistam logis baik yang menyangkut
kualitas maupun kuantitasnya. Dasar-dasar rasional logis Pancasila juga menyangkut isi arti
sila-sila Pancasila. Susunan isi arti Pancasila meliputi tiga hal yaitu: pertama isi arti sila-sila
Pancasila yang umum universal yaitu hakikat sila-sila Pancasila. Isi arti sila-sila Pancasila yang
umum universal ini merupakan inti sari atau esensi Pancasila sehingga merupakan tolak derivasi
baik dalam pelaksanaan pada bidang-bidang kenegaraan dan tertib hukum Indonesia serta dalam
realisasi praksis dalam berbagai bidang kehidupan konkrit. Kedua, isi arti Pancasila yang umum
kolektif, yaitu isi arti Pancasila sebagai pedoman kolektif negara dan bangsa Indonesia terutama
dalam tertib hukum Indonesia. Ketiga, isi arti Pancasila yang bersifat khusus dan konkrit yaitu isi
arti Pancasila dalam realisasi praksis dalam berbagai bidang kehidupan sehingga memiliki sifat
yang khusus konkrit serta dinamis.

Kemudian pandangan Pancasila tentang pengetahuan manusia. hakikat manusia sebagai makhluk
monopluralis merupakan dasar pijak epistemologi Pancasila. Menurut Pancasila bahwa hakikat
manusia sebagai makhluk monopluralis adalah hakikat manusia yang memiliki unsur-unsur
pokok, yitu susunan kodrat yang teridiri atas raga (jasmani) dan jiwa (rohani).selain itu manusia
juga memiliki indra sehingga dalam proses reseptif indra merupakan alat untuk mendapatkan
kebenaran pengetahuan yang bersifat empiris. Maka Pancasila juga mengakui kebenaran empiris
terutama dalam kaitannya dengan pengetahuan manusia yang bersifat positif. Potensi yang
terdapat dalam diri manusia untuk mendapatkan kebenaran terutama dalam kaitannya dengan
pengetahuan positif Pancasila juga mengakui kebenaran pengetahua manusia yang bersumber
pada intuisi. Manusia yang pada hakikatnya merupakan makhluk Tuhan Yang maha Esa sesuai
dengan sila pertama Pancasila yang mengakui kebenaran Pancasila sebagai kebenaran yang
tertinggi. Sedangkan sila ketiga, keempat, dan kelima mengakui kebenaran bahwa pada
hakikatnya manusia sebagai makhluk individu dan sosial. Sebagai suatu paham epistemologi
maka Pancasila mendasarkan pandangannya bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatya tidak
bebas dari nilai karena harus diletakkan pada moralitas kodrat manusia serta moralitas religius.

3. Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila


Yang dimaksud dengan dasar aksiologis sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat yaitu
nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya juga merupakan kesatuan (Kaelan,
2012: 18). Dalam kehidupan, terdapat banyak sekali jenis nilai yang disampaikan atau
dikemukan oleh para ahli. Notonagoro mengatakan bahwa nilai-nilai Pancasila tergolong
niali-nilai kerohanian, tetapi nilai-nilai kerohanian yang mengakui adanya nilai material dan nilai
vital. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila yang tergolong ke dalam nilai kerohanian
juga mengandung nilai-nilai lain yang lengkap dan harmonis, baik itu nilai material, nilai vital,
nilai kebenaran, nilai keindahan atau estetika, nilai kabaikan atau moral, maupun nilai-nilai
kesucian.

Substansi dari Pancasila merupakan nilai-nilai dan norma-norma. Substansi Pancasila dengan
kelima silanya terdapat pada Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.
Prinsip-prinsip tersebut telah menjelma ke tertib sosial, masyarakat, bangsa Indonesia, yang
dapat ditemukan pada adat istiadat, kebudayaan serta kehidupan bangsa Indonesia. Nilai yang
terkandung dalam sila pertama hingga sila kelima merupakan cita-cita, harapan, dan dambaan
bangsa Indonesia yang akan diwujudkan dalam kehidupan. Bangsa Indonesia dalam hal ini
merupakan pendukung dari niali-nilai Pancasila. Sebagai pendukung Pancasila, maka sudah
seharusnyalah bangsa Indonesia menghargai, mengakui, dan menerima, serta memandang
Pancasila sebagai sesuatu yang benar-benar bernilai dan berharga. Penghargaan, pengakuan,
penerimaan, dan pemandangan tersebut akan tampak jika telah mendarah daging ke dalam sikap,
tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia. Kalau keempat hal diatas telah mendarah daging
ke dalam seluruh rakyat Indonesia maka akan terbentuklah manusia Indonesia yang berjiwa
Pancasila.

Sebenarnya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila memiliki tingkat kualitas yang berbeda
namun saling antara yang satu dengan yang lainnya saling mengkait dan melengkapi dan tidak
ada satu nilaipun yang bertentangan. Dalam hal ini jika satu sila dilepas maka akan
menyebabkan sila tersebut kehilangan kedudukan dan fungsinya karena tidak akan berarti jika
tidak berada dalam kesatuan. Kesatuan nilai-nilai Pancasila merupakan suatu kesatuan yang
utuh dan bulat atau disebut juga kesatuan organik. Tiap sila mempunyai fungsi tersendiri yakni
sila pertama dan kedua sebagai moral negara, sila ketiga sebagai dasar negara, sila keempat
sebagai sistem negara, dan sila kelima sebagai tujuan negara (Bakry, 2012: 39).

1. Penjabaran Sila Kelima Pancasila


Sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia memiliki makna pokok keadilan yang
hakikatnya kesesuaian dengan hakikat adil. Berbeda dengan sila-sila sebelumnya, maka sila yang
kelima ini didasari dan dijiwai oleh empat sila sebelumnya yakni ketuhanan, kemanusiaan,
persatuan, dan kerakyatan. Sila keadilan sosial adalah merupakan tujuan dari keempat
sebelumnya. Hal ini mengandung hakikat makna bahwa keadilan adalah sebagai akibat adanya
negara kebangsaan dari manusia-manusia yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Menurut
Notonagoro hakikat keadilan yang terkandung dalam sila kedua yaitu keadilan yang terkandung
dalam hakikat manusia ​monopluralis,​ yaitu manusia yang adil terhadap diri sendiri, terhadap
sesama, dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Adapun nilai-nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
sebagaimana yang terdapat dalam Kaelan (2012: 36) meliputi:

1. Keadilan distributif; yaitu suatu hubungan keadilan antara negara terhadap warganya,
dalam arti pihak negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk keadilan
membagi, dalam bentuk kesejahteraan, bantuan, subsidi, serta kesempatan dalam
hidup bersama yang didasarkan atas hak dan kewajiban.
2. Keadilan legal (keadilan bertaat); yaitu suatu hubungan keadilan antara warga negara
terhadap negara dan dalam masalah ini pihak wargalah yang wajib memenuhi keadilan
dalam bentuk mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam negara.
3. Keadilan komutatif; yaitu suatu hubungan keadilan antara warga satu dengan lainnya
secara timbal balik.
Nilai-nilai keadilan tersebut haruslah diwujudkan oleh semua warga negara Indonesia dalam
kehidupan bersama dan berbangsa. Jika nilai-nilai tersebut terwujudkan, maak akan terbentuk
keadilan sosial seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Sebaliknya, jika nilai-nilai
tersebut tidak dapat diwujudkan maka akan terjadi disintegrasi bangsa Indonesia sebagaimana
yang telah terjadi pada masa-masa sebelumnya seperti gerakan GAM dan OPM. Tentu bangsa
Indonesia tidak menginginkan hal-hal tersebut terulang kembali. Sutoyo (2011: 31) menyebutkan
sila kelima Pancasila seperti seorang perawat dalam menangani pasien. Perawat harus mampu
bersikap adil dalam menghadapi pasien, baik pasien itu kaya maupun miskin, tua atau muda,
besar atau kecil, semuanya harus diperlakukan sama, dirawat sesuai dengan karakteristik
penyakit yang diderita pasien agar pasien tersebut cepat sehat kembali.

PANCASILA SEBAGAI PENGETAHUAN ILMIAH

Pengetahuan ilmiah dapat disebut juga dengan istilah ilmu, ilmu, menurut The Liang
Gie (1998:15) merupakan seraingaikan kegiatan manusia dengan peikirian dan
menggunakan berbagai tatacara sehingga menghasilkan sekumpulan pengetaahuan
yang teratur mengenai genjala-genjala alami, kemasyarakatan, perorangan dan tujuan
mencapai kebenaran, memperloleh pengalaman, dan memberilan penjelasan, atau
melakukan penerapan. Pengertian ilmu dapat dijelaskan dengan tiga segi yakni
kegiatan, tata cara, dan pengatahuan yang teratur sebagai hasil kegiatan.

Syarat-syarat pengetahuan ilmiah

Pengetahuan dikatakan ilmiah jika memenuhi syarat syarat sebagai berikut:

1. Berobjek yang artinya memiliki sasaran atau objek material dan titik perhatian tertentu
atau objek formal.
2. Bermetode yang artinya mempunyai metode berarti memiliki seperangkat pendekatan
sesuai dengan aturan-aturan yang logis.
3. Bersistem yang artinya memiliki sifat sistematis atau bermaksa kebulatan dan
ketuhanan.
4. Bersifat universal yang artiya memiliki sifat yang objektif.
Dari pembahasan secara ilmiah ini diketahui bahwa terdapat kesatuan logis dari
pancasila. Roseslen Abdul Gani salah sesseorang tokoh BPUPKI menoloak pendapat
yang mengatakan bahwa pancasila tidak mempunyai kesatuan logika. Dalam
menguatkan posisi argumenya. Abdul Gani mengutip pendapat khain yang mengatkan
pancasila adalah sebuah sintesis dari gagasa-gagasan islam modern, ide demokrasi
,sosialisasi, dan gagasan demokrasi asli seperi dijumpai di desa-desa dan didalam
komunalisme penduduk asli, juga,bersandar pada pendapat khain, Abdul Gani
mengatakan bahwa pancasila adalah satu filsafat social yang sudah dewasa.
Konsekuesinya dengan sifat pancasila yang demikian hendaklah dilaksanakan
sebaik-baiknya dalam arti disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
B. Dasar-Dasar Ilmiah Pancasila sebagai Suatu Kesatuan Sistematis dan
Logis

1. Kesatuan Yang Sistematis


2. Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan suatu sitem filsafat.
3. Sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling bekerja
sama, untuk suatu tujuan tertentu, dan secara keseluruhan merupakan suatu
kesatuan yang utuh.
Jadi Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian, yaitu sila-sila Pancasila, setiap sila pada
hakikatnya merupakan suatu asas sendiri, fungsi sendiri-sendiri. Namun secara
keseluruahan merupakan suatu kesatuan yang sistematis.

1. Kesatuan Yang Bersifat Organis


Pancasila merupakan suatu kesatuan yang majemuk tunggal dan bersumber pada
hakikat manusia “​monopluralis”​ yakni :
1. Susunan kodrat, jasmani rohani.
2. Sifat kodrat, individu- makhluk social.
3. Kedudukan kodrat, pribadi berdiri sendiri-makhluk Tuhan YME.
4. Kesatuan Yang Bersifat Hirarkis, Berbentuk Piramidal
Dilihat dari intinya, urut-urutan lima sila menunjukkan suatu rangkaian tingkat dalam
luasnya, dan isi sifatnya merupakan pengkhususan dari sila-sila di mukanya. Sila I
menjadi basis dari Sila II, III, IV dan V. Ketuhanan YME adalah Ketuhanan yang
berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan, serta berkeadilan sosial, sehingga setiap
sila terkandung sila-sila lainnya.

C.​ ​Pengetahuan Sistem Filsafat, Perbandingan dengan Sistem Filsafat


Lainnya.

Sistem​ adalah suatu kesatuan prosedur atau komponen yang saling berkaitan satu
dengan yang lainnya, bekerja sama sesuai dengan aturan yang diterapkan, sehingga
membentuk suatu tujuan yang sama.
Filsafat​ adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan
konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan.

Sistem Filsafat ​adalah kumpulan atau kesatuan pemikiran/ajaran yang saling


berhubungan dan mampu menjangkau seluruh realitas yang ada, mencakup pemikiran
teoritis tentang realitas adanya tuhan, alam, dan manusia, untuk mencapai tujuan
tertentu. Pancasila dikatakan sebagai Sistem Filsafat, karena di dalamnya terdapat
nilai-nilai Ketuhanan (theologi), nilai manusia (antropologi), nilai kesatuan (metafisika,
yang berhubungan dengan pengertian hakekat satu), kerakyatan (hakekat demokrasi)
dan keadilan (hakekat keadilan).

Secara filosofis, Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat memiliki dasar
ontologis, dasar epistemologis dan dasar aksiologis sendiri yang berbeda dengan sistem
filsafat yang lainnya misalnya materialisme, liberalisme, pragmatisme, komunisme,
idealisme dan lain-lain paham filsafat di dunia.

1. Dasar Ontologis Sila-sila Pancasila


Dasar ontologis Pancasila pada hakikatnya adalah manusia yang memiliki hakikat
mutlak, oleh karena itu hakikat dasar ini juga disebut sebagai dasar antropologis.
Subjek pokok pendukung sila-sila Pancasila adalah manusia.

1. Dasar Epistemologis Sila-sila Pancasila


Pancasila pada hakikatnya juga merupakan suatu sistem pengetahuan. Kalau manusia
merupakan basis ontologi Pancasila maka dengan demikian mempunyai implikasi
terhadap bangunan epistemologis dari Pancasila. Terdapat tiga persoalan yang
mendasar dalam epistemologis, yaitu : pertama tentang sumber pengetahuan manusia,
kedua tentang teori kebenaran pengetahuan manusia, ketiga tentang watak
pengetahuan manusia.

Pancasila mendasarkan pada pandangannya bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya


tidak bebas nilai karena harus diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia serta
moralitas religius dalam upaya untuk mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan yang
mutlak dalam hidup manusia.

1. Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila


Pada hakikatnya segala sesuatu itu bernilai, hanya nilai macam apa saja yang ada serta
bagaimana hubungan nilai tersebut dengan manusia. Menurut Notonegoro, nilai-nilai
tersebut dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

1. Nilai Material : segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.


2. Nilai Vital : segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk mengadakan suatu
aktivitas atau kegiatan.
3. Nilai Kerohanian : segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia yang dapat
dibedakan atas empat tingkatan sebagai berikut:
● Nilai kebenaran : nilai yang bersumber pada akal, rasio, budi atau cipta manusia.
● Nilai keindahan/estetis : nilai yang bersumber pada perasaan manusia.
● Nilai kebaikan/moral : nilai yang bersumber pada unsur kehendak (will, wollen, karsa)
manusia.
● Nilai religius : nilai kerohanian tertinggi dan bersifat mutlak yang berhubungan dengan
kepercayaan dan keyakinan manusia serta bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha
Esa.
Sedangkan jika dibandingkan dengan filsafat-filsafat lainya yaitu :

1. Materialisme
Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat
dikatakan benar-benar ada adalah materi. Dengan kata lain Materialisme merupakan
paham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau
nature (alam) dan dunia fisik adalah satu.

1. Liberalisme
Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik
yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai
politik yang utama.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh
kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan,
khususnya dari pemerintah dan agama.

1. Pragmatisme
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala
sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat
atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran
objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari
pengetahuan kepada individu-individu.

1. Komunisme
Komunisme merupakan sebuah ideologi. Berikut ini pembahasan mengenai komunisme.

1. Paham yang menganut ajaran Karl Marx yang bercita-cita menghapus hak milik
perseorangan dan mengganti hak milik secara bersama (dikontrol pemerintah).
2. Religiusisme​ mempunyai pengertian sebagai paham atau keyakinan akan adanya
kekuatan gaib yang suci, menentukan jalan hidup dan mempengaruhi kehidupan
manusia yang dihadapi secara hati-hati dan diikuti jalan dan aturan serta
norma-normanya dengan ketat agar tidak sampai menyimpang atau lepas dari
kehendak jalan yang telah ditetapkan oleh kekuatan gaib suci tersebut.
3. “​Utilitarianisme”​ berasal dari kata Latin, utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori
ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat tersebut harus
menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.
4. Sosialisme adalah paham yang bertujuan membentuk negara kemakmuran dengan
usaha kolektif yang produktif dan membatasi milik perseorangan.
5. Kata kapitalisme berasal dari capital yang berarti modal, dengan yang dimaksud
modal adalah alat produksiseperti misal tanah, dan uang. Dan kata isme berarti suatu
paham atau ajaran. Jadi arti kapitalisme itu sendiri adalah suatu ajaran atau paham
tentang modal atau segala sesuatu dihargai dan diukur dengan uang.
6. Idealisme
Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini
terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa.

1. Adanya suatu teori bahwa alam semesta beserta isinya adalah suatu penjelmaan
pikiran.
2. Untuk menyatakan eksistensi realitas, tergantung pada suatu pikiran dan
aktivitas-aktivitas pikiran.
3. Realitas dijelaskan berkenaan dengan gejala-gejala pisikis seperti pikiran-pikiran, diri,
roh, ide-ide, pikiran mutlak, dan lain sebagainya dan bukan berkenaan dengan materi.
4. Seluruh realitas sangat bersifat mental (spiritual, psikis). Materi dalam bentuk fisik
tidak ada.
5. Hanya ada aktivitas berjenis pikiran dan isi pikiran yang ada. dunia eksternal tidak
bersifat fisik.
D. Pancasila Sebagai Sisten dan Unsur Sistem

Pancasila sebagai suatu sistem memiliki unsur-unsur yang berbeda, hal ini dapat dilihat
dari sila yang memiliki ragam makna yang berbeda, namun sistem juga memiliki
kesatuan yang utuh dan bulat. Sila sila dalam pancasila saling berhubungan satu sama
lain untuk mencapai tujuan tertentu. Diantaranya pancasila sebagai dasar negara yang
mempunyai fungsi sebagai pedoman didalam berbangsa dan bernegara juga sebagai
moral bangsa Indonesia dalam membentuk suatu Negara​ .

Unsur unsur pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang digali dari bangsa
Indonesia itu sendiri. Berikut ini merupakan pemaparan contoh unsur unsur pancasila
digali dari bangsa Indonesia.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prisnsip yang berisi tuntutan untuk bersesuai
dengan hakekat “Tuhan”, yang dibuktikan dengan adanya kepercayaan dan agama
yang ada di Indonesia sepanjang sejarah dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab yaitu prisnsip yang berisi tuntutan untuk
bersesuai dengan hakekat “Manusia”, yang sudah terdapat dalam diri bangsa
Indonesia sejak dahulu yang dapat ditinjau dari unsur kemanusiaan yang adil dan
beradab dari satu generasi kegenerasi lain yang tidak terputus-putus.
3. Persatuan Indonesia adalam prisnsip yang berisi tuntutan untuk bersesuai dengan
hakekat “Satu”, yang mengandung makna bahwa persatuan tetap hidup dalam
berbagai bentuk, baik bersifat lokal maupun bersifat nasional.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh rakyat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan yaitu prisnsip yang berisi tuntutan untuk bersesuai dengan hakekat
“Rakyat”, yang mengandung makna bahwa marsyarakat Indonesia terkenal dengan
kehidupan yang rukundan saling menolong.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah prisnsip yang berisi tuntutan
untuk bersesuai dengan hakekat “Adil”, yang mengandung maksa bahwa unsur sosial
lebih menonjol dari unsur individu.
monopluralis”​ m ​ eliputi susunan kodrat manusia​, ​terdiri ​rokhani (jiwa) dan​ ​jasmani
(raga), s​ ifat kodrat manusia terdiri​ ​makhluk individu dan makhluk sosial serta​ kedudukan
kodrat manusia ​sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan makhluk Tuhan.
Hakikat
manusia menurut Pancasila adalah makhluk monopluralis. Kodrat manusia yang
monopluralis tersebut mempunyai ciri-ciri, antara lain:
a. ​ ​susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga
b. ​ ​sifat kodrat manusia sebagai individu sekaligus sosial
c. ​ ​kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk tuhan.