Anda di halaman 1dari 41

KOMPILASI ARTIKEL

PENGENALAN PASAR MODAL

DAN

YUK NABUNG SAHAM

PENYELENGGARA
DAFTAR ISI
Mengenal Pasar Modal ........................................................................................................................3

Belajar saham.......................................................................................................................................7

Perusahaan yang untung itu seperti mesin uang...................................................................................9


"Yuk Nabung Saham" adalah Kampanye Menyesatkan? ..................................................................13
Pengalaman ‘Orang Bodoh’ Yang Kaya Dari Saham.............................................................18
Cara Menabung Saham : Penjelasan dan Simulasi.............................................................................26

Pengertian Capital Gain dan Capital Loss serta Contohnya...............................................................34

Daftar Pustaka
Mengenal Pasar Modal1
Firman Maulana10/14/2014 12:42:00 AM
Dalam memasuki dunia Pasar Modal, ada dua hal yang diperhatikan, yakni:
1. Fundamental. Fundamental ini bisa dilihat contohnya dari laporan keuangan.
2. Technical. Technical ini bisa dilihat contohnya dari pergerakan harga indeks dan harga saham

Ada dua tipe orang yang memasuki dunia pasar modal, yaitu Investor dan Trader. Perbedaan
mendasar dan sederhana dari dua tipe ini adalah perilakunya dalam dunia pasar modal.
Seorang Trader hampir bisa dipastikan ia akan selalu mengecek grafik harga saham yang sedang
berlangsung, bisa jadi ia melihatnya tiap sekian jam, tiap satu jam, tiap lima menit atau bahkan tiap
menit. Seorang Trader biasanya menginginkan keuntungan secepatnya setelah ia memasuki dunia
pasar modal. Berbeda dengan Trader, seorang Investor cenderung lebih sabar dalam meraih
keuntungan di dunia pasar modal, sehingga ia tidak selalu mengecek grafik harga saham
sesering Trader.
Four Big Reason
People doesn't like invest in Capital Market
Ada empat alasan utama yang sering dilontarkan seseorang untuk tidak memasuki dunia pasar
modal, yakni:
1. Don't know atau tidak tahu. Mereka tidak tahu apa itu pasar modal, bagaimana sistemnya,
bagaimana aturan mainnya dan sebagainya.
2. Expensive atau mahal. Kebanyakan orang berpendapat bahwa bermain di pasar modal
membutuhkan biaya yang amat besar. Namun, faktanya harga termurah untuk membeli satu lembar
saham di Indonesia adalah Rp 50,00 (lima puluh rupiah), dengan minimal pembelian 1 lot (1 lot =
100 lembar saham) maka harga paling murah sebesar Rp 5.000,00 (lima ribu rupiah). Sementara
harga termahal untuk satu lembar saham dapat mencapai Rp 1.1 juta yang artinya dengan minimal
pembelian 1 lot maka biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp 110.000.000.
3. Capital Loss atau kerugian. Tidak dipungkiri bahwa kerugian bisa saja terjadi dalam dunia pasar
modal. Hal lainnya adalah turunnya harga saham secara anjlok (dalam suatu kasus bahkan bisa
turun sampai 1500%), namun naik-turunnya harga saham dalam dunia pasar modal adalah suatu hal
yang biasa.
                                                                                                                       
1
Firman Maulana, Mengenal Pasar Modal, diakses dari
4. Don't have time and money. Tidak mempunyai waktu dan uang. Untuk masalah waktu, maka
solusi yang tepat adalah dnegan mengatur kembali penggunaan waktu, sementara untuk masalah
uang, tentunya memang menjadi sebuah masalah.

Empat Manfaat Saham


Ada empat manfaat saham atau membeli saham, yakni:
1. Be Owner, menjadi pemilik dari suatu perusahaan yang kita beli sahamnya. Bahkan bila kata
hanya punya satu lot pun kita sudah menjadi pemilik perusahaan (namun tentunya dengan
kepemilikan yang sangat kecil suara kita tak akan didengar).
2. Deviden, dengan bermain di pasar modal dan membeli saham suatu perusahaan, maka kita bisa
mendapat deviden dengan besaran tertentu tiap tahunnya. Besaran ini tentunya bergantung pada
seberapa banyak saham yang dimiliki di perusahaan tersebut.
3. Capital Gain. Mendapatkan keuntungan, yakni bila harga saham tersebut naik (berkebalikan
dengan Capital Loss).
4. RUPS atau Rapat Umum Pemegang Saham. Mereka yang hanya memiliki sedikit saham pun
diundang ke RUPS, namun begitu suara mereka tak akan banyak didengar.
Konsumsi vs Investor
Kebanyakan orang Indonesia masih berpikir saving (menabung), belum ke arah Invest(berinvestasi).
Mayoritas pula memilih berinvestasi ke dalam tiga hal, yakni deposito, emas, serta tanah. Semua
ada risikonya.
Deposito bisa hilang saat Bank tersebut bangkrut atau kolaps atau bermasalah (seperti kasus Bank
Century). Emas mempunyai risiko kehilangan emas itu sendiri. Sementara tanah, di beberapa kota
besar seperti Jakarta, bila tanah yang dimiliki tidak segera dibangun sebuah bangunan di atasnya,
bisa jadi ada orang lain yang seenaknya membangun di atas tanah kita.
Begitupun dengan pasar modal, risiko dari bermain pasar modal adalah bangkrut.
Struktur Pasar Modal
Struktur pasar modal di Indonesia dapat dilihat dari bagan berikut:
Bagan struktur pasar modal di Indonesia. Sumber: http://www.idx.co.id
Bila dianalogikan, Bursa Efek Indonesia (BEI / IDX - Indonesia Stock Exchange) ini ibarat
pengelola mall / pusat perbelanjaan di mana ada pembeli, penjual dan ada barang yang dijual, yakni
saham.
Proses Investasi di Pasar Modal
Empat langkah untuk berinvestasi di pasar modal, yakni:
1. Pergi ke sekuritas, yakni tempat di mana kita bisa membuat Rekening Efek. Sekuritas ini banyak
jumlahnya. Layaknya sebuah Bank yang mewajibkan adanya saldo minimal bagi mereka yang akan
membuat rekening, maka begitu pula sekuritas, ada saldo minimal yang harus dipenuhi, dari mulai
Rp 100.000 sampai dengan Rp.10.000.000,-
2. Isi form dan lengkapi berkas. Isi form yang diberikan di sekuritas lalu lengkapi berkas-berkas
kelengkapannya, dari mulai KTP, NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), serta tabungan. Untuk di
BEI sendiri, hanya ada lima bank yang bekerjasama dengan BEI, yakni BCA, BNI, Bank Mandiri,
Bank Permata, serta CIMB.
3. Setor ke rekening efek. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, saldo minimal yang harus
disetorkan berbeda-beda di setiap sekuritas, maka sesuaikanlah dengan kocek kita.
4. Mulai bertransaksi. Setelah semua proses dilalui -biasanya memerlukan beberapa hari- maka kita
bisa mulai bertransaksi, berinvestasi di pasar modal.
Prinsip Dasar Investasi
1. Cari perusahaan yang bagus. Ini bisa dilihat dari laporan keuangannya, untuk laporan keuangan
sendiri, ada aplikasi layanan yang dapat menunjukkan laporan keuangan suatu perusahaan. Aplikasi
ini ada yang gratis ada pula yang berbayar (lebih lengkap, lebih update).
2. Beli sahamnya.
3. Sabar dan tekun. Inilah perbedaan antara menjadi seorang investor dan trader.
Seorang investor harus memiliki kesabaran dan ketekunan lebih, karena keuntungan besar bisa
bermain di pasar modal ini. Target ini pula yang mendukung prinsip dasar ketiga (sabar dan tekun).
Saham vs Tabungan
Menurut data LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) dan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia),
dari sekitar 240 juta jiwa orang di Indonesia, terdapat sekitar 150 juta rekening tabungan(rekening,
bukan orang yang membuka rekening, karena bisa jadi satu orang mempunyai rekening di beberapa
bank), sementara hanya sekitar 400 ribu orang saja yang menjadi investor saham.
Cara Smart Berinvestasi
1. Baca laporan keuangan suatu perusahaan yang akan kita beli sahamnya. Ada enam hal yang
harus diperhatikan ketiga melihat laporan keuangan suatu perusahaan, yakni:
- EPS (Earning per Share).
- PER (Price Earning Ratio).
- PBV (Price to Book Value).
- ROE (Return on Equities).
- DER (Debt-Equity Ratio).
- Devident Yield.
2. Gunakan alat-alat pendukung untuk memantau perkembangan saham. Aplikasi yang bisa
digunakan adalah di antaranya RTI, Yahoo! Finance, Bloomberg, dan lain-lain.
3. Insting. Gunakan insting. Ketika akan membeli sebuah perusahaan yang besar dan sudah dikenal,
maka insting lebih digunakan daripada melihat laporan keuangan. Contoh kecil dalam
menggunakan insting di pasar modal adalah bila kita ingin membeli saham Unilever, maka dengan
menggunakan insting atau logika jelas bahwa selama orang Indonesia masih mandi, Unilever tetap
akan hadir di Indonesia
Pasar Modal Indonesia
Salah satu alasan mengapa orang luar Indonesia menanam di pasar modal Indonesia adalah
perkembangan pasar modal Indonesia di dunia tinggi, yakni mencapai posisi ke-3 di Asia.
Berdasarkan data, total saham di BEI sekitar 5.10852,00 trilliun, sementara total saham 20
perusahaan terbesar sekitar 2936,80 trilliun.
Sementara bila dibandingkan dengan dua perusahaan besar di dunia, yakni Facebook dan Apple.
Facebook memiliki saham senilai 1.641 triliun, sementara Apple senilai lebih dari 5.000 triliun.
Kisah Menarik
Ada sebuah kisah menarik, pada tahun 2012 seseorang dari Nusa Tenggara Timur (NTT) datang ke
BEI untuk menanyakan perihal lembaran bukti kepemilikan PT Unilever Indonesia, Tbk. tahun
1992. Saat itu harga sahamnya sekitar beberapa juta saja, namun saat tahun 2012 harganya
meningkat menjadi Rp 1 miliar, sementara pada 1 Oktober 2014 mencapai Rp 1.73 miliar. Maka
inilah bukti bahwa bila ingin berinvestasi di pasar modal, kesabaran dan ketekunan sangatlah
penting.
Tertarikkah anda untuk bermain di pasar modal?
Hanya ada satu hal yang pasti dalam dunia pasar modal, yakni ketidakpastian.
BELAJAR SAHAM2
Saham adalah bukti kepemilikan suatu perusahaan yang merupakan klaim atas penghasilan dan
kekayaan perseroan. Perusahaan yang sahamnya dapat dibeli di Bursa Efek Indonesia disebut
Perusahaan Tercatat. Saham merupakan salah satu produk pasar modal yang menjadi salah satu
instrumen investasi untuk jangka panjang.
Satuan pembelian saham = 1 Lot (100 lembar)
Dengan membeli saham perusahaan, maka kita menjadi pemilik perusahaan tersebut.
Keuntungan Saham:
1. Mendapatkan Capital Gain (Keuntungan dari kenaikan Harga)
2. Mendapatkan Dividen (Pembagian keuntungan perusahaan)
Risiko Saham:

1. Capital Loss (Kerugian atas penurunan harga)


2. Risiko Likuidasi (Jika perusahaan bangkrut)

PASAR MODAL & BURSA EFEK INDONESIA

Pasar Modal mempertemukan pihak yang membutuhkan dana jangka panjang dengan pihak yang
membutuhkan sarana investasi pada produk keuangan (Saham, Obligasi, Reksa Dana dan lain-lain)
Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan tempat atau wadah bagi para pelaku saham untuk
memperdagangkan/memperjualbelikan setiap saham/efek yang mereka miliki dan ingin beli.
                                                                                                                       
BEI ibarat mal yang menyediakan tempat kepada para pihak untuk bertransaksi.
Jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI adalah3
579Perusahaanper tanggal 18 Mei 2018
Untuk memudahkan investor memilih saham, BEI mengeluarkan beberapa indeks daftar saham
berdasarkan berbagai karakteristik, salah satunya Indeks LQ45
Indeks LQ45 berisi daftar saham yang hanya terdiri dari 45 saham yang telah terpilih melalui
berbagai kriteria pemilihan, sehingga akan terdiri dari saham-saham dengan likuiditas dan
kapitalisasi pasar yang tinggi dari jumlah keseluruhan saham yang ada di Bursa Efek Indonesia.
Pemilihan daftar Saham LQ45 dilakukan setiap 6 bulan.
1. saham lq 45 : http://bit.ly/2OtjV8u
2. saham yuknabungsaham : http://bit.ly/2D2Rf4X
3. saham di bei : http://bit.ly/2OyvpHK

CARA BELI & JUAL SAHAM4

Untuk pembelian saham, investor harus menyiapkan dana sesuai harga saham dan membayar biaya
transaksi untuk perusahaan sekuritas (fee broker). Sedangkan untuk penjualan saham, total dana
yang didapat investor adalah nilai sesuai harga jual saham dikurangi biaya transaksi dan PPh.
Biaya transaksi tersebut berbeda-beda di setiap perusahaan sekuritas, namun umumnya 0,2—0,3%
dari nilai transaksi pembelian saham (termasuk PPN) dan ditambah PPh 0.1% khusus untuk
transaksi penjualan saham
Contoh:
Pada bulan Januari 2016 investor ingin membeli saham.

                                                                                                                       
3
diakses dari http://yuknabungsaham.idx.co.id/daftar-saham-detail, pada tanggal 16 September
2018 pukul 20.37
Pada bulan Desember 2016 investor ingin menjual saham.

Lo Khenghong: Perusahaan yang untung itu seperti mesin uang5


Rika | 30 August 2012 dibaca sebanyak 66690 kali

                                                                                                                       

5
Rika, Lo Khenghong: Perusahaan yang untung itu seperti mesin uang diakses dari
Sukses dan nama besar Warren Buffett di dunia investasi menuai kekaguman dari pemain saham di
penjuru dunia. Tak sedikit investor yang menjadikan Buffett sebagai panutan, mempelajari strategi
investasinya, dan menerapkannya. Di Indonesia, salah satu yang terinspirasi oleh Buffet adalah Lo
Kheng Hong.
Pria berusia 53 tahun ini berpegang pada metode analisis fundamental Buffett. Ia tak bergeming dan
tak pernah sekali pun mencoba jurus investasi saham lain.
Bagi Lo, Buffett adalah gurunya. Ia hafal di luar kepala banyak petuah Buffett, kisah hidup sang
maestro, bahkan menghormati prinsip hidupnya. Rupanya tak sia-sia Lo membaca puluhan buku
‘ajaran’ Buffett, ia menarik pelajaran dari situ dan hasilnya? Lo telah memetik keuntungan besar
dari bursa saham. Keuntungannya dari saham berlipat ribuan persen.
Nafkah hidupnya pun hanya berasal dari saham. Ia mengaku tak punya usaha atau pekerjaan apapun
selain berinvestasi saham. Tak heran, pelaku bursa banyak menjuluki ayah dua orang anak ini
sebagai Warren Buffett-nya Indonesia.
Simak kisah, pandangan hidup, dan strategi investasi Lo dari pengakuannya sendiri kepada
KONTAN berikut.
Saya ini hanya seorang investor, 100% uang saya taruh di saham.
Jadi saya tidak bekerja dan saya tak punya kantor. Saya hanya punya satu sopir untuk mengantar-
antar saya dan dua pembantu di rumah. Saya bangga jadi investor saham. Kalau mengisi formulir,
misalnya di bank pun, saya selalu tulis profesi saya investor saham.
Saya ini sudah berinvestasi saham selama 23 tahun. Tentu saja tidak semua investasi saya berhasil,
saya pernah jatuh. Saya juga tidak langsung pintar.
Semakin lama orang bermain saham, dia bisa belajar dari kesalahannya dan akan semakin
terlatih. Saya percaya, orang yang berhasil itu adalah orang yang jatuh tapi bangun lagi.
Pertama kali saya membeli saham tahun 1989. Berapa modal awal saya? Nol. Waktu itu saya masih
orang lain membelanjakan penghasilannya untuk macam-macam, saya belanjakan sebagian gaji
setiap bulan untuk membeli saham.
Saya ingat, di awal saya invest, saya mengantre untuk membeli saham penawaran perdana (IPO) PT
Gajah Surya Multifinance. Antrenya panjang sekali. Saya semangat membeli, eh nggak tahunya
begitu listing saham itu jeblok. Hahaha...
Tapi saya tetap yakin dan terus berinvestasi sampai akhirnya pendapatan dari saham bisa
menghidupi saya. Ketika saya sudah merasa cukup, pada tahun 1996, saya berhenti dari Bank
Ekonomi pada saat saya sudah jadi Kepala Cabang.
Ada empat alasan kenapa saya memilih menjadi investor saham.
Pertama, investor saham bisa menjadi orang terkaya di dunia. Contohnya? Ya, Warren Buffett. Saya
belajar dari dia. Selama 10 tahun terakhir ini, saya sudah baca 40-an buku tentang Buffet. Buku itu
tak hanya saya baca sekali, tapi saya ulangi dua tiga kali, benar-benar saya pahami isinya.
Kedua, keuntungan perusahaan itu hak si pemegang saham. Bayangkan, yang bekerja direksi dan
karyawan, tapi begitu untung yang menerima pemegang saham. Enak kan? Membeli perusahaan
yang untung besar itu seperti membeli mesin pencetak uang.
Ketiga, dalam jangka panjang imbal hasil saham lebih tinggi dari instrumen investasi lainnya,
seperti obligasi, emas, dan properti.
Keempat, jadi investor itu waktu luangnya banyak. Anda tahu, di dunia ini ada empat macam
manusia. Tipe pertama, orang yang punya banyak waktu tapi tidak punya uang. Contohnya, orang
pengangguran.
Tipe kedua, yang punya banyak uang tapi tidak punya waktu. Yang ini biasanya para pengusaha.
Lalu tiga, orang yang tidak punya waktu dan tidak punya banyak uang juga. Ini kebanyakan para
pegawai yang bergaji kecil.
Tipe terakhir, orang yang punya waktu dan punya uang. Tipe terakhir inilah yang saya inginkan
sebagai investor saham. Orang bilang, time is money. Buat saya tidak, waktu lebih berarti dari uang.
Uang bisa dicari, tapi uang tidak bisa mengembalikan waktu.
Sekarang saya merasa punya banyak waktu. Saya bisa travelling menjelajahi berbagai kota di lima
benua. Sekali saya pergi, tidak sebentar lho, saya bisa tinggal sampai sebulan di sana.
Tapi saya juga memanfaatkan waktu saya untuk membaca. Setiap pagi, bangun, lalu saya pergi ke
taman, duduk membaca dan berpikir. Itu hobi saya. Laporan keuangan itu makanan sehari-hari.
Saya juga berlangganan empat koran, tiga di antaranya koran bisnis termasuk KONTAN. Semuanya
saya baca dari halaman satu sampai habis.
Sering saya baru mandi jam satu, kemudian keluar, kadang pergi ke sekuritas. Saya ini manusia
gaptek. Saya tidak punya laptop, tidak mengerti apa itu email atau internet apalagi online trading.
Jadi saya membeli saham selalu lewat telepon kepada beberapa sekuritas. Saya tidak takut
kehilangan momentum meskipun membeli lewat telepon, kan saya bermain saham untuk jangka
panjang.
Dalam berinvestasi, saya berusaha membeli perusahaan yang bagus di harga murah dan saya
Saya punya lima kriteria untuk membeli perusahaan publik.
Pertama, lihat manajemennya apakah dikelola orang yang jujur, profesional, berintegritas, dan saya
kagumi. Jarang sekali orang membeli saham dengan melihat ini, biasanya orang hanya lihat laporan
keuangan. Tapi bagi saya, kalau dalam properti itu ada istilah lokasi, lokasi, lokasi, dalam ekuiti itu
harus manajemen, manajemen, manajemen.
Kedua, perhatikan usahanya. Di masa depan akan seperti apa bisnis itu? Memang, hari esok itu
misteri. Tapi saya sendiri berpendapat, masa depan itu ditentukan juga dari masa lalu. Bagi
perusahaan yang sudah memenuhi syarat pertama tadi, kita bisa lihat masa lalunya dalam jangka
panjang misalnya 5-10 tahun ke belakang. Kalau itu untung, kemungkinan ke depan juga akan
untung.
Ketiga, cari perusahaan yang labanya besar. Hitung berapa besar profit margin-nya dan return on
equity atau ROE-nya (tingkat pengembalian modal: rasio laba bersih terhadap total modal).
Keempat, pilih perusahaan yang terus bertumbuh dalam jangka panjang.
Kelima, cermati valuasi dari PER (price earning ratio) atau PBV (price to book value), bandingkan
dengan kompetitornya. Belilah yang murah. Kesempatan emas untuk membeli saham bagus dengan
harga murah tentu saja di tengah kondisi krisis. Saya selalu ikuti prinsip Buffet, be greedy when the
others are fearful.
Dengan lima prinsip sederhana itu nyatanya saya berhasil.
Pada tahun 2005, saya membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI). Waktu itu
harga perusahaan ternak ayam terbesar kedua di Indonesia ini baru Rp 250 per saham. Saya
kumpulkan pelan-pelan sahamnya sampai akhirnya punya 8,29% saham. Tahun lalu, harga
sahamnya sudah mencapai Rp 31.500, jadi naik 12.600%. Keuntungan itu saya realisasikan. Saham
itu saya jual karena dia akan merger dengan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA).
Saya juga pernah punya saham PT Timah Tbk (TINS). Saya beli di tahun 2002 seharga Rp 285.
Dalam dua tahun harganya naik ke Rp 2.900. Saya jual, tapi setelah saya lepas, dia terbang lebih
tinggi lagi. Waktu itu ilmu memang belum tinggi. Begitu harga saham naik banyak, saya gemetar.
Menyesalkah saya? Begini, kalau investor saham tidak bijak, maka seluruh hidupnya akan berisi
penyesalan. Jual sekarang, besok harga lebih tinggi lagi. Tahan, enggak tahunya harga turun terus.
Selain dua saham itu, saya pernah mendapat keuntungan cukup besar dari PT United Tractors Tbk
(UNTR), PT Gadjah Tunggal Tbk (GJTL), PT Charoen Pokphan Tbk (CPIN), PT Polychem
Indonesia Tbk (ADMG), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).
Sekarang, portofolio saya berisi sekitar 20-an saham dengan jumlah saham maksimal 4%. Tidak
banyak kelihatannya, tapi rata-rata perusahaan besar. Saya juga merotasinya. Kalau ketemu satu
perusahaan bagus, maka saya cari mana di portofolio yang sudah menurun dan saya buang satu
juga.
Saya juga pernah rugi.
Saya pernah rugi karena margin. Makanya sejak tahun 1998 saya enggak pernah memakai fasilitas
margin lagi.
Saya sekarang bebas utang. Pernah dengar kisah Jesse Livermore? Dia salah satu investor yang
sangat sukses di jaman dulu. Dari tukang tulis papan bursa dia investasi saham dan jadi investor
besar. Tapi dia berutang dan akhirnya ketika investasinya gagal, dia bunuh diri.
Saya tidak mau seperti itu. Kalau tidak punya utang, meskipun saham saya hancur, saya tidak apa-
apa. Saya masih punya saham itu yang ke depan juga bisa naik lagi.
Karena itu, meskipun harga saham jatuh dan uang saya tinggal 15%, saya tetap membeli saham.
Tentu saja istri tidak tahu...ha ha ha. Saya membeli saham United Tractors (UNTR), saham bagus
yang harganya sudah murah sekali. Waktu itu pernah jatuh sampai Rp 125, tapi saya baru masuk di
Rp 250. Padahal, laba operasi per sahamnya sudah 7.800.
Saya belikan semua sisa uang saya untuk satu saham itu. Dan benar, UNTR naik terus. Pada tahun
2004, saya akhirnya jual. Waktu itu harga UNTR Rp 1.350, tapi ini harga sesudah stock split. Kalau
dihitung itu kira-kira setara Rp 15.000, jadi saya untung sekitar 6.000%.
Saya ini tidak sama dengan investor saham umumnya.
Saya tidak suka mengejar dividen. Menurut saya, lebih baik saya investasi pada perusahaan yang
menggunakan devidennya sebagai modal kerja. Itu akan lebih memberi saya keuntungan.
Saya juga tidak mengejar saham-saham IPO. Dari pengalaman, kalau kita beli saham IPO, ketika
sahamnya naik ternyata kita cuma dikasih beberapa lot saja. Tapi kalau jeblok, seringnya kita pesan
berapa pun dikasih.
Saat ini, saya melihat IHSG bagus, sudah di atas 4.000 di kondisi krisis seperti ini.
Tapi bukan berarti semuanya mahal. Makanya investor harus melakukan pekerjaan rumahnya,
risetlah mana yang masih murah. Saya sendiri sekarang memiliki saham di sektor perbankan,
consumer goods, peternakan, sawit, bahkan batubara.
Sejauh ini, saya masih bermain saham di bursa dalam negeri. Tapi bulan depan saya rencananya
akan pergi ke Yunani. Saya akan mendalami bursa di sana, pasti banyak saham bagus yang
harganya murah. Ini kesempatan.
Terakhir, saran saya bagi investor sekarang: kerjakan PR.
Berapa banyak dari investor yang masih baca laporan keuangan? Berapa yang melakukan analisis
fundamental? Membeli saham perusahaan tanpa melihat lima hal dasar yang saya sebut tadi itu dan
hanya melihat chart menurut saya tidak benar, keliru, dan menyesatkan. Investor harus tahu apa
yang dia beli.
Main saham itu juga bukan perkara hoki. Tuhan itu maha pengampun, tapi bursa saham tidak punya
belas kasihan pada orang yang tidak tahu apa yang dia beli.

"Yuk Nabung Saham" adalah Kampanye Menyesatkan? 6

                                                                                                                       
RYAN FILBERT Kompas.com - 28/11/2017, 12:00 WIB
Sumber: IDX Website - http://yuknabungsaham.idx.co.id(Dok. Asosiasi FinTech)

Bursa Efek Indonesia memulai sebuah gerakan bernama ‘ Yuk Nabung Saham’ semenjak 12
November 2015. Seiring dengan waktu kampanye atau gerakan ini semakin sering didengar oleh
masyarakat umum bahwa negara dan Bursa Efek Indonesia mengajak masyarakat jangan hanya
menabung uang namun juga menabung saham.
Namun beberapa waktu terakhir banyak pihak yang menghubungi saya berupaya untuk
mengingatkan, memberikan saran dan dimohon untuk menyampaikan kepada pihak Bursa Efek
Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa kampanye ‘Yuk Nabung Saham’ adalah
menyesatkan, apalagi saya di bulan Oktober 2017 juga memberikan dukungan pada gerakan
tersebut hingga menerbitkan buku berjudul ‘Yuk Belajar Nabung Saham’ Yuk Nabung Saham(Dok.
Ryan Filbert)
Mengapa kampanye ‘Yuk Nabung Saham’ dapat dikatakan menyesatkan? Mengapa saya
sebagai praktisi dan inspirator investasi di Indonesia malah turut mendukung gerakan ini? Saya kira
saya perlu mengulasnya menjadi sebuah tulisan pendek untuk menjadi bahan pertimbangan kita
bersama. Saya ingin kemukakan diawal ini bahwa kampanye apapun akan memiliki pandangan
positif dan negatif tergantung dari sudut pandang nya (point of view).
Jangankan gerakan ‘Yuk Nabung Saham’ gerakan ‘Menanam Pohon’ pun akan
mendapatkan respon negatif bagi orang yang sangat memahami konteks gerakan tersebut dan dapat
berdampak positif maupun tidak ada gunanya bagi orang lainnya. Apabila gerakan menanam pohon
hanya menanam pohon yang bentuknya pohon-pohon kecil seperti pohon cabai maka makna dari
gerakan menanam pohon akan tidak ada gunanya. Atau gerakan menanam pohon dan tidak dirawat
dikemudian hari maka mungkin akan lebih tepatnya gerakan membuang-buang uang karena
menanam pohon bisa saja terjadi.
Namun bisa juga menjadi sangat negatif meskipun sudah menanam pohon yang bisa
berdampak penghijauan maupun menjadi sumber cadangan air tapi menanam pohon yang akarnya
bisa merusak jalan sehingga jalanan bergelombang dan mengakibatkan potensi terjadinya
kecelakaan. Mengapa saya bisa menganggap bahwa gerakan tersebut menjadi buruk? Adalah karena
saya paham bahwa ternyata dalam sebuah gerakan apapun memerlukan ‘terms and condition
applied’ sama seperti sebuah program marketing dan iklan!
Yes… inilah poin ke 2, sebuah gerakan sebenarnya adalah sebuah judul ataupun sebuah
kata-kata pilihan yang dianggap menjual dan mudah diingat sehingga ‘merangsang’ orang lain
untuk penasaran (courious) dan bergabung (join).
Kembali pada ‘Yuk Nabung Saham’, atas dasar apa sampai nama gerakannya adalah
demikian? Ini versi saya, yang saya tidak memvalidasi ini kepada Bursa Efek Indonesia sehingga
menggunakan kata-kata itu ya… Coba kita lihat pemetaan di Indonesia seberapa besar partisipasi

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         
masyarakat Indonesia dalam berinvestasi pada pasar modal? Jumlah investor pasar modal saat ini
sudah mencapai 1 juta investor, ini adalah berita di Kompas yang lalu. Baca juga : Jumlah Investor
Pasar Modal Capai 886.574 Orang. Cukup banyak bukan 1 juta orang?
Banyak dan sedikit itu nyatanya adalah relatif, bagi Anda yang punya uang Rp 250.000.000
maka uang Rp 1.000.000 kecil betul? Namun bila Anda memiliki uang hanya Rp 10.000.000 maka
uang Rp 1.000.000 sudah sebesar 10 persen dari uang Anda saat ini.
Di Indonesia jumlah penduduknya adalah 250 juta penduduk dengan investor atau investasi
di pasar modal adalah 1 juta orang saja yang berinvestasi. Jadi mirip dengan kondisi ilustrasi uang
diatas sebelumnya bukan?
Dan apakah Anda tau bahwa negara Indonesia merupakan negara dengan partisipasi
masyarakatnya terhadap sektor pasar modal terendah di Asia Tenggara? Dimana untuk negara
tetangga kita adalah 20-30 persen (Sumber dari Ibu Nurhaida – Wakil Ketua Dewan Komisioner
Otoritas Jasa Keuangan pada tanggal 18 Maret 2017 di Bursa Efek Indonesia).
Lalu mari berangkat pada data lainnya, apakah Anda tau seberapa besar jumlah simpanan
pada tabungan bank masyarakat Indonesia di bank yang ada di Indonesia? Besarnya adalah 4.900
triliun (Sumber LPS akhir tahun 2016).
Apakah Anda tau juga berapa banyak korban penipuan investasi bodong atau investasi abal-
abal di Indonesia? Per September 2017, Satgas Waspada Investasi telah menutup 48 perusahaan
yang menjalankan investasi illegal maupun berbentuk skema penipuan investasi dimana salah
satunya merugikan 549.000 orang dengan taksiran kerugian 3,8 triliun rupiah.
Mari kita ambil benang merah satu persatu dari semua fakta-fakta sederhana ini. Menabung
Saham Banknya Vs Menabung di Bank Bank dalam kondisi hari ini telah mengalami perubahan
fungsi, Anda suka dan tidak suka, sadar dan tidak sadar maka bank sudah mengalami perubahan
fungsi utama.
Anda menggunakan bank sebagai alat lalu lintas uang dengan semakin majunya
perkembangan teknologi hal tersebut sudah terjadi. Anda membayar tagihan Anda, mengirimkan
dana kepada orang lain, membeli sesuatu dan lain sebagainya.
Padahal fungsi utama bank dulu memang benar sebagai tempat menyimpan dan meminjam
uang, memang itulah salah satu fungsinya sampai dengan saat ini, namun arus pendapatan bank dari
hari ke hari semakin beragam, dan bukan tidak mungkin suatu hari suatu saat arus pendapatan
terbesar bank bukan lagi dari selisih bunga yang diberikan kepada yang menabung dengan yang
dipinjamkan uang oleh bank.
Bank adalah sebuah institusi yang menarik, apakah Anda setuju? Saya agak bingung bila
ada orang yang sampai dengan hari ini tidak memiliki rekening di bank meski ternyata saya berikan
berita sedihnya bahwa di Indonesia baru terdapat 36% penduduk di Indonesia yang memiliki
rekening di bank (2014) meski saya yakin saat ini sudah lebih banyak lagi.
Bila Anda melihat bank adalah bisnis yang bagus apakah Anda mau membeli sebuah bank
dan menjadi pemilik dari salah satu bank di Indonesia? Jawabannya adalah Anda mungkin sama
mengetahui Bank Rakyat Indonesia (BRI) maka Anda cukup memiliki uang Rp 405 triliun maka
BRI bisa menjadi milik Anda (per September 2017). Punya uang sebesar itu? Saya tidak punya,
saya tidak tau apakah Anda punya atau tidak. Atau bila Anda punya 405 triliun rupiah pun apakah
iya negara mau menjual Bank Rakyat Indonesia kepada Anda? Secara penuh? Wah itu bisa jadi
geger se Indonesia.
Atau Anda mau buat sebuah bank baru dengan modal 405 triliun untuk menyaingi BRI yang
sudah berusia 121 tahun di Indonesia? (BRI lahir di 16 Desember 1895). Bank besar seperti BRI
tentunya meyakinkan untuk Anda titipkan uang Anda disana dalam hal ini menabung atau deposito
di Bank tersebut bukan? Bila Anda tau bahwa BRI bila Anda ingin beli sepenuhnya 405 triliun tidak
diperbolehkan, tapi bila Anda beli sebagian perusahaannya diperbolehkan apakah menjadi suatu hal
yang menarik? Itulah yang dikenal dengan membeli saham BRI di Bursa Efek Indonesia.
Maka saya punya ilustrasi menarik dalam membeli perusahaan BRI dan 3 bank besar
lainnya di Indonesia (BCA, Mandiri dan BNI) untuk 13 tahun kebelakang dengan modal Rp
5.000.000 setiap bulan di Bursa Efek Indonesia : -(Dok. Ryan Filbert) Bila Anda melakukan
kegiatan tersebut di BRI selama 13 tahun dengan membeli perusahaannya secara ‘ngangsur’
bulanan sebesar Rp 5.000.000 ketika tahun 2017 bulan Oktober berakhir uang Anda yang ditotal Rp
780.000.000 telah menjelma menjadi Rp 1.690.463.944.
Bila dengan besaran uang yang sama Anda perlakukan dengan membuka rekening deposito
atau tabungan di Bank BRI selama 13 tahun dengan kondisi bulanan yang sama maka Anda perlu
meminta kepada BRI ‘Mbak, saya minta bunganya dari tabungan saya adalah net tanpa potongan
pajak sebesar 12,5 persen setahun ya selama 13 tahun’ Dimana hal itu akan sangat sulit untuk
terjadi. Dan kondisi 12,5 persen itu juga belum termasuk ‘bonus’ Anda sebagai pemilik sebagian
perusahaan Bank Rakyat Indonesia yang dikenal sebagai pembagian keuntungan tahunan atau
Dividen perusahaan BRI.
Berinvestasi di pasar saham vs di money game Masyarakat Indonesia begitu luar biasa
hartanya, mengapa dapat dikatakan demikian? 4900 triliun dalam tabungan dan 549 ribu orang
untuk mengumpulkan 3,8 triliun artinya secara rata-rata mampu berinvestasi pada sebuah peluang
investasi adalah 7 juta rupiah kurang dikit per orang adalah angka yang hebat bukan?
Ketika sebuah money game atau skema penipuan yang dikenal dengan skema piramida
digembar-gemborkan dapat memberikan keuntungan, masyarakat Indonesia mau berkontribusi
(berinvestasi) hingga 7 juta rupiah pada perusahaan yang tidak memiliki sebuah kejelasan dan
pengawasan. Jangankan bisnis dan investasi, pertandingan apapun tanpa pengawasan akan sangat
berbahaya bukan? Oleh karena itulah ada yang namanya wasit pada semua pertandingan.
Investasi di saham terdapat pengatur dan pengawasan yang sudah lebih terawasi dengan
jauh-jauh-jauh lebih baik, bukankah investasi di saham jauh lebih menenangkan dibandingkan
mendorong uang sebesar Rp 7 juta rupiah ke tempat yang hanya mengumbar janji besar namun
hasilnya tidak ada track record nya? -(Dok. Ryan Filbert) Setidaknya dalam 27 tahun terakhir
Bursa Efek Indonesia sudah ada dan berhasil meningkatkan nilai 600 poin menjadi 6000 poin atau
patokan untuk masa depan sehingga kinerja keuntungan masa lalu dan baiknya semua fakta tersebut
tidak serta merta akan menjamin Anda untung di kemudian hari?
Benar. Disitulah perlunya menjadi orang yang terlatih dan terdidik. Bisnis apapun perlu
pemahaman lebih lanjut. Anda pernah mendengar sebuah jargon ‘Investasi properti pasti untung?’
Apakah benar semua pasti untung? Jelas tidak. Apakah juga dengan ‘Untung besar dari bisnis
kuliner?’ Apakah semuanya untung besar? Siapa yang untung besar? Yang untung besar adalah
yang sudah membuktikan untungnya besar.
Bila Anda katakan bahwa hitung-hitungan dibelakang seperti data perbandingan menabung
perusahaan hingga potensi 27 tahun adalah sebuah hal yang tidak perlu kita lihat maka saya ingin
mulai hari ini Anda juga tidak lagi perlu mempersiapkan CV (curriculum vitae) dalam melamar
pekerjaan maupun mencari kandidat di perusahaan Anda. Loh buat apa? Katakan kepada pembuka
lowongan “Buat apa Anda melihat masa lalu saya dalam CV saya? Kinerja saya kedepan di
perusahaan ini tidak dicerminkan dari CV saya kebelakang.”
Atau silahkan Anda menerima semua yang melamar pekerjaan di perusahaan Anda karena
kinerja masa lalu orang itu tidak akan menjadi jaminan untuk orang itu bekerja lebih baik di tempat
Anda sekarang. Bursa Efek Indonesia menjadi sebuah tempat orang-orang yang ingin mencari
perusahaan yang menarik untuk di investasikan oleh dana nya dimana telah difasilitasi sedemikian
rupa oleh Bursa Efek Indonesia, diatur dan diawasi sedemikian rupa oleh Otoritas Jasa Keuangan
dibandingkan Anda berinvestasi ditempat yang belum ada pengawasnya namun hanya mengumbar
janji, janji dan janji.
Namun karena minimnya pengetahuan hari ini perlu sebuah slogan kampanye menarik yang
sudah akrab ditelinga dan bawah sadar masyarakat Indonesia yang sudah lebih akrab dengan
konteks menabung. Anda tidak mampu bukan membeli dan membuat perusahaan sekelas BRI atau
Astra Internasional dari 0 ataupun sekaligus? Disini Anda menabung jumlah kepemilikan atau
keikutsertaan Anda pada sebuah perusahaan yang dalam Bahasa dewa nya dikenal dengan saham
perusahaan tersebut.
Salah persepsi nya karena konteks menabung diambil sebagai suatu kegiatan yang perlu
kepastian dan keamanan. Apakah iya menabung di celengan di rumah Anda dan menabung di bank
dijamin dengan kepastian penuh dan keamanan? Jelas di celengan tidak aman, karena bisa saja
rumah Anda kemalingan, namun dibank dijamin aman?
Bisa saja karena ada penjaminan simpanan (LPS) hingga 2 miliar rupiah, diatas 2 miliar?
Tidak juga. Ketika Anda menabung atau mengakumulasi kepemilikan saham di perusahaan Anda
mendapatkan sebuah kepastian bahwa jumlah kepemilikan di perusahaan tersebut seiring dengan
waktu Anda semakin banyak porsi kepemilikannya namun tidak dengan kepastian untung nya.
Mana ada di dunia ini yang dijamin untung? Anda perlu memahami yang mana yang
menguntungkan dan tidak untuk terhindar dari yang merugikan bukan? Saya tidak juga membahas
bahwa metode menabung saham sebenarnya adalah sebuah metode memecah risiko pada
kepemilikan sebuah investasi atau dikenal dengan diverisifikasi dan lainnya.
Terlalu kompleks, bagi saya gerakan Yuk Nabung Saham adalah sebuah slogan menarik
untuk membuat masyarakat Indonesia menjadi penasaran dan mau mencoba bahwa ada sebuah
peluang di Indonesia yang selama ini sudah ada dan kita lewatkan peluangnya.
Semua dimulai dengan penasaran dan mencoba, untuk menjadi untung dan berkembang
apalagi mahir saya kira sama seperti kita belajar berenang. Anda bisa langsung berenang? Rasanya
semua orang mulai dengan terminum beberapa liter air kolam ataupun hingga masuk airnya
ketelinga, setelah beberapa saat Anda baru menjadi bisa berenang. Anda tidak akan memulai latihan
berenang di kolam sedalam 10 meter bukan?
Ketika Anda mencoba maka disitulah Anda mulai memahami, Anda tidak pernah mencoba
mana mungkin Anda akan bisa menjadi ahli. Semua keahlian Anda hari ini diakibatkan serangkaian
kegagalan hingga pada akhirnya Anda tidak gagal lagi maka Anda bisa, ketika Anda berhasil
berkali-kali maka Anda bukan beruntung namun itulah yang disebut ahli.
Anda ingin menjadi tambah ahli? Maka ‘cetaklah’ orang-orang lain menjadi sama ahlinya
dengan Anda hari ini. Akhir kata saya mendukung Yuk Nabung Saham dengan juga menuliskan
langkah-langkah yang benar kalau Anda mau menabung saham dalam buku Yuk Belajar Nabung
Saham. Salam investasi untuk Indonesia
Pengalaman “Orang Bodoh” Yang Kaya dari Saham.7
October 2, 2017

Selama ini sosok Investor ritel yang paling dikenal publik adalah bapak Lo Kheng Hong, beliau
adalah sosok investor yang bukan hanya sangat sukses, namun juga sangat bersahaja, dan tidak
keberatan menceritakan berbagai prinsip-prinsip investasi dan kesuksesannya di bursa saham
kepada publik. Beliau adalah sosok yang sangat sederhana, gaya dan pembawaanya juga tidak
pernah berubah sejak pertama kali saya bertemu beliau sampai dengan kemarin ketika kami sama-
sama diminta untuk menjadi pembicara dalam acara INFEST 2017.
Yang tidak banyak diketahui adalah, selain pak Lo Kheng Hong sebenarnya masih banyak investor-
investor sukses lainnya di bursa saham kita, namun bedanya mayoritas dari investor-investor
tersebut bukanlah tipe orang yang mengejar popularital atau mau dikenal orang banyak, mereka
juga tidak memiliki ‘passion’ untuk mengajar atau berbagi pengetahuan atau pengalaman mereka
di acara-acara publik. Sehingga untuk mengenal mereka memang sering kali dibutuhkan ‘koneksi’
yang lebih baik.
Setelah hampir 10 tahun saya ‘jatuh-bangun’ di dunia pasar modal, saya memiliki kesempatan
untuk bertemu dengan beberapa investor yang masuk dalam kategori tersebut, mereka yang sudah
memperoleh kekayaan dalam jumlah besar dari berinvestasi di Bursa Saham Indonesia, namun
memilih untuk menyembunyikan indentitasnya, dari sorotan publik.
Investor-investor sukses tersebut umumnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda, profesi
yang berbeda-beda dan metode yang juga berbeda-beda dalam memperoleh keuntungan dari bursa
saham. Ada yang senang ‘main’ saham Blue Chip, ada juga yang hobbynya ‘ngumpulin sampah’
(cara beliau mendeskripsikan metode yang digunakannya) investor yang membeli saham-saham di
harga 50an dan di pasar nego, ada juga yang dari gaya ngomongnya saya memprediksi kalau
investor tersebut adalah ‘bandar saham’, dan banyak metode lainnya. Ada investor yang percaya
100% terhadap analisa fundamental, ada juga yang menggunakan analisa bandarmologi, atau
bahkan hanya menggunakan beberapa metode analisa teknikal yang paling dasar.
Jadi saya bisa mengambil keputusan bahwa memang ada banyak cara untuk bisa kaya raya dari
pasar modal, tugas kita sebagai investor adalah mencari metode mana yang paling cocok dengan
kita, dan setia mempraktekan metode tersebut, dan akan ada saatnya kerja keras, dan ketekunan
tersebut akan terbayar.
Di antara investor-investor yang pernah saya temua saya menemukan salah seorang investor yang
memiliki metode yang sangat-sangat sederhana, jauh lebih sederhana dibanding investor-investor
sukses lainnya, begitu sederhananya metode tersebut sehingga banyak yang menganggap metode
tersebut adalah metode yang ‘bodoh’.

                                                                                                                       
7
Argha J Karo Karo, Pengalaman “Orang Bodoh” Yang Kaya Dari Saham, diakses dari
Untuk mempelajari metode tersebut tidak perlu ikut seminar berhari-hari, tidak perlu membuat
berbagai perhitungan valuasi dan matematika seperti yang dilakukan para analisa sekuritas. Metode
beliau dalam memperoleh keuntunngan bisa dirangkum dalam 1 kalimat.
Ketika punya uang lebih, belikan saham BBCA.
Hanya itulah yang beliau lakukan selama bertahun-tahun menjadi investor di pasar modal kita,
kalau beliau punya uang lebih dibelikan saham BBCA, beliau membeli saham BBCA hampir setiap
bulan, karena memang ada bagian dari pendapatannya yang dialokasikan untuk investasi.
Metode tersebut sudah dilakukannya sejak awal tahun 2000an dan masih terus dilakukannya sampai
sekarang. Jadi setiap kali saham BBCA mencetak record tertinggi barunya seperti yang terjadi hari
Jumat lalu, saya selalu ingat dengan beliau, sambil terkadang ‘agak menyesal’ karena saya tidak
ikut mengalokasikan sebagain dari uang saya setiap bulannya untuk mengikuti metode ‘bodoh’
tersebut.

Keuntungan yang sudah beliau peroleh dari ‘metode bodoh’ tersebut jelas sudah bisa sama-sama
kita bayangkan, dalam grafik di atas kita bisa melihat saham BBCA sejak IPO tahun 2000 lalu
sampai penutupan akhir bulan September kamarin. Dalam 17 tahun BBCA hanya turun di tahun
2008, sisanya harga saham BCA selalu naik setiap tahunnya.
Pada saat IPO harga BBCA ada di level 203/ lembar saham (sudah di dikonversi pasca stocksplit) ,
dan pada penutupan bulan September 2017 lalu harga BBCA sudah berada di level 20.300 / lembar
saham, artinya harga saham BBCA sudah naik 10.000% dalam 17 tahun.
Dalam perbincangan saya dengan investor tersebut yang kalau tidak salah terjadi di tahun 2012 lalu,
saya menanyakan kepada beliau apa alasan beliau memilih saham BBCA, apa yang membuat beliau
begitu yakin dan terus membeli saham BBCA hampir setiap bulan.
Tujuan saya menanyakan hal tersebut karena pada saat itu saya menganggap harga saham BBCA
sudah terlalu mahal, dimana di tahun 2012 lalu harga BBCA sudah berada di level 8000an, jadi saya
beranggapan sudah terlambat untuk saya mengikuti metode yang beliau gunakan.
Jadi saya mencoba ‘mengorek’ ilmu beliau, guna mendapatkan ilmunya sehingga saya juga bisa
menemukan saham-saham sejenis BBCA yang lainnya, yang harganya masih murah dan bisa saya
Jawaban beliau justru ‘menohok’ saya lagi, beliau mengatakan dia adalah orang sibuk, dan tidak
memiliki latar belakang dunia keuangan sama sekali, jadi dia tidak mengerti bagaimana caranya
menghitung valuasi, dia juga tidak punya waktu mengamati market setiap hari, atau mempelajari
analisa-analisa canggih untuk membeli saham di waktu dan harga yang paling tepat.
Beliau mendeskripsikan dirinya sebagai ‘orang bodoh’ di dunia pasar modal, dimana satu-satunya
‘ilmu’ yang dia miliki dan dia percaya adalah: “kalau perusahaannya bagus, cepat atau lambat harga
sahamnya akan naik”.Menurut dia daripada uangnya ditabung di Bank, lebih baik dia tabungkan
untuk membeli saham perusahaan bagus tersebut.
Alasan memilih saham BBCA malah lebih sederhana lagi, karena ‘kebodohan’ nya beliau tidak
banyak mengenal emiten-emiten yang berada di bursa kita, dari banyak peliihan hanya BCA yang
beliau kenal dan percaya kalau perusahaannya bagus. Alasan lainnya adalah beliau juga merupakan
nasabah dari Bank BCA, jadi beliau merasa bisa memantau perkembangan perusahaan ‘dari dalam’
dengan melihat bagaimana Bank BCA dioperasikan.
Itulah alasan beliau memilih saham BCA, alasan yang sangat sederhana dan semua orang tahu,
namun tidak banyak yang mengambil kesempatan tersebut, mungkin karena kita merasa diri kita
‘terlalu pintar’ atau terlalu fokus mencari waktu paling tepat untuk membeli suatu saham, terlalu
fokus mencari saham-saham yang akan terbang harganya tepat setelah kita membeli saham tersebut.
Dalam perbincangan saya dengan investor tersebut, beliau tidak pernah bercerita seberapa besar
untung yang beliau peroleh setelah menggunakan ‘metode bodoh’ tersebut sejak tahun 2000an,
namun yang pasti beliau mengatakan bahwa sejak dia tidak pernah menjual 1 lot pun sejak awal dia
membeli saham BBBA. Dan dari beberapa orang lainnya saya mendapat info bahwa orang tersebut
adalah investor ‘kelas kakap’ yang kerjanya hanya mengumpulkan saham BBCA.
Kemungkinan ‘metode bodoh’ itulah yang ditiru oleh pihak BEI ketika mereka merilis
program Yuk Nabung Saham, dimana investor disarankan untuk memilih salah satu saham dengan
fundamenal yang baik, dan menglokasikan sebagian dari penghasilannya untuk secara rutin
menabung saham tersebut.
Strategi nabung saham memang tidak banyak dibahas oleh para praktisi pasar modal, karena selama
ini praktisi pasar modal di bursa kita umumnya berasal (atau memiliki latar belakang dari sekuritas),
dan kita sama-sama tahu Sekuritas hidup dan bertumbuh dari banyaknya transaksi yang dilakukan
oleh investor. Bagi sebuah sekuritas keaktivan investor adalah tujuan utama, karena mereka hidup
dari banyaknya transaksi dan bukan dari pembagian persentasi keuntungan yang diperoleh investor.
Jadi tidak heran gerakan Yuk Nabung Saham ini baru dimulai Bursa Efek Indonesia dan bukan oleh
para analis atau praktisi pasar modal/sekuritas yang setiap hari kerjanya memberikan rekomendasi
untuk dengan tujuan memberikan keuntungan bagi para investor, sesering mungkin.
Karena BEI adalah pihak yang tidak ‘dikejar setoran’ target transaksi tiap bulannya, target dan
tujuan BEI adalah untuk memperkenalkan investasi di bursa efek ke masyarakat seluas mungkin.
Namun meskipun program Yuk Nabung Saham sudah berjalan cukup berhasil jika dilihat dari
peningkatan jumlah investor di bursa kita dalam 2 tahun terakhir. Namun banyak investor baru yang
investor akhirnya terjerumus di saham-saham gorengan, dan sebagian lagi memilih untuk diam
karena kurangnya edukasi yang tersedia untuk mendukung program ini.

Itulah sebabnya pihak Bursa Efek Indonesia meminta perusahaan kami untuk melakukan riset dan
meng-edukasi para Investor di bursa kita, dan mencari metode terbaik dalam menabung saham.
Kami diminta untuk mencari ‘metode-metode bodoh’ lainnya, dan membantu para investor mencari
saham yang akan menjadi ‘The Next BBCA’ di masa yang akan datang.
Kebetulan perusahaan kami memiliki keunikan dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan
lainnya, karena tidak seorangpun yang berada di Team Riset Creative Trader yang pernah bekerja di
sekuritas. Tidak seorangpun penah mendapatkan ‘title’ atau ‘sertifikasi’ yang umumnya diberikan
oleh para analis senior kepada para analis junior.
Kami hanyalah sekumpulan orang-orang creative yang kebetulan juga adalah investor dan trader
saham. Setiap hari kami fokus mencari metode-metode baru dan creative untuk memperoleh
keuntungan di bursa saham, metode-metode yang selama ini tidak pernah diajarkan bahkan
dipikirkan orang lain. Dan kami percaya Nabung Saham adalah salah satu metode menguntungkan
tersebut.
Kami juga beruntung karena dipertemukan dengan pihak MNC Sekuritas, sebuah sekuritas yang
memiliki visi jauh kedepan, dan bersedia mensupport kami dari sisi teknologi dalam
melaksanakan Riset Yuk Nabung Saham.
Pastikan anda membaca: Pengalaman ‘Orang Pintar’ yang Nabung Saham BUMI
Dalam beberapa bulan terakhir kami sudah melakukan riset mengenai Nabung saham, project
pertama yang kami buat adalah membuat aplikasi khusus yang dapat menghitung proyeksi
keuntungan yang diperoleh dengan menabung saham menggunakan berbagai metode yang kami
pikirkan.
Setelah aplikasi tersebut selesai dibuat, saham BBCA menjadi saham pertama yang kami jadikan
contoh kasus, karena kami sangat penasaran kurang lebih berapa keuntungan yang diperoleh
investor yang diceritakan di atas dengan menggunakan ‘metode bodoh’ tersebut.
Berikut kami lampirkan hasilnya :
NABUNG SETIAP BULAN DI BBCA SEJAK IPO
Simulasi pertama yang kami lakukan adalah dengan menghitung jika sejak IPO BBCA tahun 2000
yang lalu anda memutuskan untuk mengalokasikan uang sebesar 1 juta rupiah setiap bulannya
untuk dibelikan saham BBCA, dimana jika ada sisa uang cash dari pembelian tersebut (karena sisa
uagnnya tidak cukup untuk dibelikan 1 lot saham BBCA), maka uang tersebut akan disimpan untuk
pembelian bulan selanjutnya.
Pertanyaanya, jika kita melakukan hal tersebut secara konsisten setiap bulan sejak IPO tahun 2000
sampai akhir bulan lalu, berapa keuntungan yang kita peroleh ? Apakah hasilnya lebih besar
daripada mendepositokan uang tersebut setiap bulannya ?
Dalam tabel di atas kita bisa mendapatkan hasil dari perhitungan yang dilakukan aplikasi tersebut,
sejak awal IPO sampai sekarang, BBCA sudah diperdagangkan selama 209 bulan artinya jika setiap
bulan kita menabung 1 juta maka total uang yang kita investasikan untuk membeli saham
BBCA ini sebesar 209 juta sampai akhir bulan September lalu.
Hasil dari investasi tersebut ternyata sangat mencengankan, uang 209 juta tersebut sudah berubah
menjadi saham BBCA senilai 3.6 Milyar, artinya persentasi keuntungan yang diperoleh sebesar
1.623%. Jangan lupa dalam kasus ini kita tidak sedang membeli saham BBCA senilai 209 juta
ketika IPO dan menyimpannya sampai hari ini.
Yang kita lakukan hanya membeli saham BBCA senilai 1 juta rupiah setiap awal bulan sejak IPO
sampai sekarang, dan dengan metode yang begitu sederhana nilai uang yang kita investasikan sudah
naik sebanyak 1.623% dari total yang kita tabungkan.
Sebagai perbandingan jika uang yang sama kita masukan ke dalam Deposito setiap bulan, dan
bunga dari deposito tersebut kembali dimasukan ke dalam deposito bulan selanjutnya ditambahkan
dengan uang 1 juta yang dialokasikan bulan tersebut. Jika kami mengambil asumsi bunga Deposito
sebesar 10% setahun, tanpa dipotong pajak. Maka setelah 209 bulan, uang kita ‘hanya’ bertumbuh
sebesar 170% dari modal atau sebesar 567 juta di akhir bulan September lalu.
Artinya menabung saham BBCA memberikan hasil 7 kali lipat dibandingkan dengan desposito
dengan bunga 10% per tahun, dan 16 kali lipat daripada kita menyimpan cash selama 209 bulan.
Berikut kami lampirkan grafik perbandingan antara Nabung Saham, Deposito, dan Simpan Cash
Perhitungan ini menunjukan kepada kita bahwa metode yang begitu sederhana dan terkesan ‘bodoh’
pun bisa menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Di tengah keterbatasan infomasi, investor ini
memilih untuk berinvestasi di perusahaan yang dia tahu, dan karena dia hanya tahu BCA dia
memilih hanya berinvestasi di saham BBCA. Padahal dalam periode yang sama dipercaya ada
puluhan ribu investor ritel yang jauh lebih pintar justru gagal berinvestasi di pasar modal, karena
memilih berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang tidak mereka kenal, hanya karena
mengharapkan keuntungan luar biasa dalam jangka pendek.
Untuk lebih meyakingkan anda tentang kekuatan dari sistem ‘Menabung Saham’, kami juga
melakukan simulasi dengan menggunakan periode-periode lainnya, bagaimana jika kita baru mulai
menabung tahun 2010, atau bahkan baru mulai menabung pada tahun 2015 lalu.
Berikut kami lampirkan hasilnya :
Dari kedua simulasi di atas kita melihat bahwa meskipun kita ‘terlambat’ memulai dan baru mulai
menabung saham BBCA sejak tahun 2015 lalu ketika harga BBCA sudah di 13.000an tetap saja
keuntungan yang diperoleh dari menabung saham jauh lebih tinggi daripada deposito.
Dengan menggunakan aplikasi tersebut kami menguji beberapa metode yang kami anggap
berpotensi memberikan keuntungan. Bagaimana kalau kita menabung setiap 3 bulan sekali ?
Bagaimana kalau menabung di saham-saham yang harganya sempat turun signigikan, seperti di
saham-saham batubara yang sudah turun dari tahun 2010 sampai tahun 2015 lalu ? Bagaimana jika
kita hanya menabung saham-saham yang harganya sudah turun dibawah MA 200 ? Dan banyak
strategi lainnya.
Kami akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam SEMINAR YUK NABUNG SAHAM
yang untuk pertama kali diadakan di Jakarta, pada tanggal 28 Oktober 2017. Acara ini terlaksana
berkat kerjasama antara Bursa Efek Indonesia, Creative Trading System dan MNC Sekuritas. Acara
ini dapat diikuti oleh setiap Investor atau Calon Investor secara Gratis, cara mendapatkan
undangannya dapat bisa dilihat disini
Argha J Karo Karo
Founder & Creative Director of Creative Trading System. Creative Thinker, Stock Trader, Typo
Writer & Enthusiastic Teacher. Big believer of Sowing and Reaping. Just A Simple Man with
Extraordinary God
CARA MENABUNG SAHAM: PENJELASAN DAN SIMULASI8
JrPlanner March 8, 2017 Investasi, Saham 22 Comments
Pernah dengar kan program dari Bursa Efek Indonesia (BEI) tentang Yuk Nabung Saham? Ini
konsep yang sangat menarik lho, dan ditujukan untuk nasabah-nasabah retail yang bahkan masih
awam terhadap pasar modal.
Saya jadi tertarik membahas topik ini setelah ikut serta dalam acara Financial Planning for
Runner yang disampaikan oleh Pak Nicky Hogan, Direktur Pengembangan BEI. Selain materi yang
berhubungan dengan lari, juga ada paparan singkat mengenai investasi saham dan skema Yuk
Nabung Saham yang sangat membuka wawasan mengenai investasi.
Tapi sebelum kita bicara lebih jauh tentang gerakan investasi saham bernama Yuk Nabung Saham
ini, simak dulu tulisan tentang beberapa hal dalam investasi saham yang penting untuk
diperhatikan terlebih dahulu. Biar jelas kenapa sih kita perlu investasi melalui cara seperti
menabung saham.
Sekilas Update Bursa Efek Indonesia (BEI)
Per Januari 2017, total ada 535 perusahaan yang telah tercatat di BEI. Dengan kata lain, ada
sebanyak 535 perusahaan yang bisa menjadi pilihan kita untuk menginvestasikan uang dalam
bentuk kepemilikan saham.

                                                                                                                       
8
JrPlanner, Cara Menabung Saham : Penjelasan dan Simulasi , diakses dari
Hampir semua perusahaan besar di Indonesia telah tercatat sebagai perusahaan terbuka di BEI.
Hampir semua perusahaan ini adalah perusahaan yang memproduksi atau menawarkan jasa yang
sehari-hari kita gunakan.
Saat ini nilai kapitalisasi (nilai keseluruhan) saham yang diperdagangkan di BEI berjumlah Rp
5,749 triliun (Red: Lima ribu tujuh ratus empat puluh sembilan triliun Rupiah. Wow…), dengan
nilai transaksi rata-rata per hari di level Rp 5.68 triliun.
Ada 114 anggota bursa (perusahaan sekuritas) yang terdaftar di BEI, dimana transaksi saham dari
masyarakat bisa dilakukan melalui perantaraan mereka.
[BACA JUGA: Apa sih Bitcoin? Gimana sih sejarahnya Bitcoin? Gimana cara beli Bitcoin? Simak
lengkapnya di Bitcoin: uang masa depan?]
Kinerja IHSG 10 Tahun Terakhir
Data yang digunakan adalah dari Desember 2006 sampai dengan Februari 2017, dimana
fluktuasinya bisa tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan / IHSG di bawah ini.

Bisa dilihat kan jika investasi saham adalah investasi yang menarik karena menawarkan kesempatan
untuk memperoleh keuntungan tinggi, sekaligus memiliki resiko yang sepadan karena bisa turun
cukup dalam pada waktu-waktu tertentu.
Namun harus diperhatikan, bahwasannya walaupun terjadi beberapa kali penurunan dalam jangka
pendek, trend yang terjadi selama 10 tahun terakhir ini tetap menunjukkan pola peningkatan.
Artinya apa? Saham adalah investasi jangka panjang dan tidak cocok dijadikan alat untuk mencapai
tujuan jangkan pendek.
So, lupakan pembahasan mengenai trading saham dulu ya. Itu butuh keahlian dan pengetahuan
berbeda. Kali ini kita hanya akan membahas saham secara murni sebagai sebuah instrumen
investasi.
Untung Rugi Investasi Saham
Jangan salah, walaupun saham adalah investasi jangka panjang, namun bukan berarti semua saham
menjanjikan trend yang sama dari segi keuntungan. Analisa dan pemilihan saham tetap penting
Investasi saham ini kan ceritanya kita akan menjadi pemilik dari suatu usaha. Namanya juga usaha,
ada yang untung dan ada yang rugi. Ada yang untung gede, ada yang untung seadanya atau malah
cuma impas saja. Masalah untung/rugi ini juga kadang disebabkan oleh hal-hal diluar kuasa kita
seperti keadaan ekonomi atau bahkan info negatif tentang usah kita.
Nah investasi saham ini kira-kira sejalan dengan cerita usaha ini. Naik turunnya harga saham
mengikuti kinerja perusahaan dan keadaan ekonomi, serta juga sentimen atau rumor yang ada di
pasar modal.
Kinerja Saham 10 Tahun Terakhir

Di atas adalah infografis mengenai kinerja semua saham yang per Desember 2016 tercatat di BEI.
Sekedar keterangan, secara gampang CAGR (compound annual growth rate) adalah cara
menghitung imbal hasil dengan memperhitungkan bunga berbunga. CAGR ini dianggap paling
tepat untuk menghitung imbal hasil suatu investasi dalam periode tertentu.
Mari kita perhatikan infografisnya, penting banget nih informasinya. Dalam 10 tahun terakhir, dari
537 saham yang ada, ternyata tidak semuanya mengalami kenaikan. Ada 175 saham, atau sekitar
1/3 dari total saham yang ada, mengalami penurunan. Artinya rugi dong?! Ya gitu deh. Sisa 364
saham, atau 2/3 dari total saham yang tercatat, mengalami peningkatan alias berhasil mencetak
keuntungan.
Secara rata-rata 10 tahun terakhir, pasar saham (yang tercermin dari IHSG), menghasilkan
pertumbuhan sebesar 11.4% per tahun. Lumayan banget, jauh diatas inflasi dan bunga deposito
pada periode yang sama.
Tapi itu rata-rata pertumbuhan ya, karena pada kenyataanya ada saham yang tumbuh dengan
kencang dan dan ada yang malah nyungsep. Detailnya bisa terbaca di infografis di atas.
rendah. Artinya? Ada 42.3% dari saham di BEI yang bisa memberikan return per tahun lebih
baik dari deposito.  
▪ Jika standar pertumbuhan atau return dinaikkan ke 10%, masih ada 160 saham (29.7%) yang
berhasil masuk di level ini. Dan seterusnya bisa dilihat di infografis.  
▪ Yang paling dahsyat, ada 33 saham, atau 6.1% dari total saham yang ada, ternyata mampu
menghasilkan pertumbuhan lebih dari 40% per tahun. Wow…  
Apa yang bisa kita pelajari dari gambar di atas? Investasi saham memiliki resiko yang cukup besar,
sehingga sikap hati-hati dan teliti mutlak dibutuhkan dalam pemilihan saham. Yang penting nasib
saham pilihan tidak masuk dalam golongan 1/3 yang mengalami penurunan, sukur-sukur termasuk
dalam golongan saham dengan pertumbuhan >40% per tahun, hehehe…
Pilih Saham Anggota LQ45
Pe-er juga emang kalau harus nyari sendiri dan memilih satu-satu saham dari total 537 saham yang
tercatat. Biar ngga susah, coba cek daftar saham yang termasuk dalam LQ45 deh. Ini adalah daftar
saham yang terdiri dari 45 saham terlikuid dan berkapitalisasi besar di BEI. Daftar ini diupdate
setiap 6 bulan sekali (Februari dan Agustus).
Sebagian besar saham dalam LQ45 adalah saham perusahaan dengan produk-prduk yang umumnya
sudah dikenal dengan baik oleh masyarakat. Jadi minimal kita bisa terhindar dari istilah membeli
kucing dalam karung.
Perbandingan Investasi Saham
Nah sekarang kita bermain simulasi sedikit nih, dengan menggunakan real datadari beberapa aset
investasi (termasuk saham) selama 10 tahun terakhir.

Oke, data pertama yang paling penting, inflasi rata-rata selama 10 tahun terakhir ada di
5.66%. Inflasi inilah target yang harus kita kalahkan pada saat melakukan investasi.
Data kedua yang harus dipahami juga adalah: rata-rata bunga tabungan dan deposito (bunga
deposito setelah pajak: 5.52%) dalam 10 tahun terakhir belum mampu mengalahkan inflasi. Artinya
untuk tujuan jangka panjang, kedua instrumen ini bukanlah pilihan yang tepat.
[Baca juga: Bagaimana deposito bisa mengalahkan inflasi untuk tujuan jangka pendek
dalam Deposito vs Inflasi]
Emas masih lumayan, tipis mengalahkan inflasi. Namun perlu diperhatikan, itu terjadi karena
adanya peningkatan harga secara signifikan pada periode 2009-2012 lalu. Hanya obligasi negara
dan saham yang secara rata-rata bisa memberikan imbal hasil yang cukup signifikan mengalahkan
inflasi.
Dari contoh di atas, jika 10 tahun yang lalu kita membeli saham dengan uang Rp 100.000, berapa
hasil pengembangannya pada saat ini? Dengan investasi saham maka uang itu akan berkembang
menjadi Rp 293.190, atau hampir tiga kali lipat dari nilai awal. Pencapaian tertinggi dibanding
instrumen investasi lainnya.
Ini baru perbandingan dengan menggunakan IHSG sebagai dasar perhitungan ya. Gimana coba
kalau menggunakan saham-saham yang masuk level 40% tadi?! Uang Rp 100.000 kita akan
berkembang menjadi Rp 2.9juta, bertumbuh 29x lipat. Wuiiih…
Simulasi: Yuk Nabung Saham
Nah sekarang gimana skema dan hitung-hitungannya kalau mau investasi saham ala yuk nabung
saham? Ya simpel aja, cukup alokasikan sejumlah uang secara tetap secara rutin, misalnya per
bulan.
Bagi yang sudah terbiasa menabung rutin atau melakukan investasi rutin reksadana, ini mah hal
gampang. Beda instrumen saja.
Biasanya menabung rutin di tabungan, atau rutin beli reksadana atau logam mulia, sekarang
rutinnya beli saham. Lebih keren judulnya, hehehe…

Sumber: http://www.lantaibursa.id
nominal tertentu secara rutin setiap bulannya. Tentunya dengan menggunakan data historis asli
pergerakan harga saham yang digunakan.
Asumsinya, kita menabung secara rutin setiap bulannya sebesar Rp 500 ribu. Maksudnya menabung
disini adalah kita melakukan pembelian saham tertentu secara rutin setiap bulannya.
Lah kan harga sahamnya berbeda setiap bulan, emang cukup duit Rp 500 ribu? Tenang aja, tanpa
program autodebet pun bisa dijalankan.
Saat membuka akun saham di sekuritas, kita akan memiliki rekening khusus yang biasa disebut
Rekening Dana Investor. Nah setiap bulan kita transfer uang Rp 500 ribu ke rekening RDI tersebut,
dan dari situ baru dibelikan saham.
Jadi kalau ada sisa uang setelah pembelian saham, biarkan saja mengendap dulu. Nanti jika saat
pembelian berikutnya harga saham sedang tinggi dan Rp 500 ribu menjadi kurang, tinggal
menggunakan saldo mengendap sebagai tambahan.
#1 Menabung Saham Unilever (UNVR)

Dengan membeli saham UNVR secara rutin sebesar Rp 500 ribu per bulan selama 11 tahun (total
Rp 66 juta), maka pada akhir tahun 2016 uang kita akan berkembang menjadi Rp 341 juta.
Ini sudah meliputi investasi saham pada saat harga UNVR sedang berfluktuasi. Ada yang dibeli di
harga rendah dan ada juga yang dibeli pada harga tinggi.
Hasil yang diperoleh hampir 3.5x lipat lebih banyak dibandingkan investasi rutin pada deposito
dengan tingkat bunga 6%. Ini juga dengan asumsi penempatan deposito bisa dilakukan dengan
nominal hanya Rp 500 ribu, plus belum memperhitungkan pajak sebesar 20%
#2 Menabung Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
Bagaimana dengan BBRI? Apa yang terjadi jika selama 11 tahun terakhir kita berinvestasi saham
BBRI secara rutin sebesar Rp 500 ribu setiap bulannya?
Hasil yang akan diperoleh adalah sebesar Rp 294 juta. Sedikit lebih rendah daripada hasil investasi
saham rutin pada UNVR, namun tetap jauh lebih besar dibandingkan hasil investasi di deposito.
Sama seperti UNVR, saham BBRI juga adalah saham langganan LQ45 yang seharusnya lebih
memberikan rasa aman pada investornya.
Poin penting: Resiko
Yang harus tetap diperhatikan adalah faktor resiko investasi. Walaupun kedua saham ini
memberikan imbal hasil yang sangat memuaskan, namun tetap harus diingat bahwa investasi ini
dijalankan selama 11 tahun. Jangka waktu yang lumayan panjang.
Perhatikan grafik yang terkadang menukik dengan tajam. Apa artinya? Dalam jangka pendek saham
adalah instrumen yang memiliki risiko tinggi. Jadi pemahaman akan saham itu sendiri dan tujuan
investasi menjadi hal yang sangat krusial untuk menjaga agar jantung kita tetap sehat saat pasar
saham sedang bergejolak.
Jangan terpancing beli saham hanya dengan pertimbangan harga
Resiko lain terkait ke masalah besaran investasi / tabungan rutin ini sendiri. Karena semua saham
memiliki harga masing-masing dan pembelian di BEI paling sedikit 1 lot (100 saham), maka
besaran investasi rutin yang kecil dengan sendirinya memiliki pilihan saham yang terbatas.
Bukan masalah sih, namun yang perlu diingat adalah, jangan sampai tergoda untuk membeli saham-
saham bernilai kecil namun beresiko tinggi. Tetap fokus pada saham-saham yang lapis atas atau
gampangnya pilih dari daftar LQ45.
At least buat belajar dulu lah. Jika nanti sudah lebih paham tentang saham dan resikonya, bisa lah
coba-coba untuk berinvestasi pada saham-saham lapis kedua, hehehe…
Keuntungan Tambahan Investasi Saham: Dividen
Plus poin lagi dalam berinvestasi saham: ada dividen atau pembagian keuntungan dari perusahaan
pada para pemegang sahamnya. Imbasnya? Hasil investasi kita semakin meningkat.
Dalam simulasi di atas, asumsinya kita berinvestasi pada saham pembagi dividen sebesar Rp 10 juta
selama 10 tahun. Hasilnya? Selain ada keuntungan dari kenaikan harga saham atau capital gain, ada
juga keuntungan dari sisi dividen. Lumayan banget kan?
Hasil investasi yang diperoleh tentu akan semakin maksimal jika investasi dilakukan secara rutin
seperti pada skema Yuk Nabung Saham.
[BACA JUGA: Belum tau apa itu P2P lending yang mulai ngetrend di dunia keuangan Indonesia?
Simak yuk definisi lengkap peer-to-peer lending]
Penutup
Investasi secara rutin dengan jumlah yang sama adalah salah satu cara untuk mengurangi risiko
investasi. Konsep yang ngetop dengan sebutan dollar cost averaging ini sering diterapkan dalam
berbagai instrumen investasi, seperti emas ataupun reksadana.
Dan saat ini konsep ini dibawa oleh BEI dalam kampanye Yuk Nabung Saham untuk semakin
memasyarakatkan investasi saham. Konsep Yuk Nabung Saham ini adalah suatu skema yang sangat
menarik untuk diterapkan, dengan memperhatikan faktor-faktor risiko dalam berinvestasi saham.
Terima kasih kepada Pak Nicky Hogan yang telah mengijinkan penggunaan materi presentasinya
untuk saya bahas dalam tulisan ini.
Selamat berinvestasi.
Pengertian Capital Gain dan Capital Loss serta Contohnya9

By Maila Niamas

Pengertian Capital Gain dan Capital Loss serta Contohnya | Dalam pasar modal, kalian pasti
mengenal istilah Capital Gain dan Capital Loss. Kedua istilah tersebut banyak dipakai saat kita
melakukan Trading Saham. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai pengertian dan
contoh dari capital gain dan capital loss.
Trading saham merupakan jual beli suatu saham dengan jangka waktu yang sedikit atau pendek.
Pengertian Capital Gain
Tahukah kamu?
Capital gain adalah sebuah keuntungan yang didapatkan seorang investor dari selisih harga jual
dikurangi dengan harga beli suatu saham atau properti sewaan tersebut.
Seorang yang mendapatkan keuntungan capital gain tersebut, wajib membayar pajak yang berlaku.
Capital gain mulai berlaku sejak tanggal 20 September 1985, jika kalian membeli properti sewaan
sebelum tanggal tersebut dan suatu hari akan menjualnya maka tidak akan dikenakan capital gain.
Namun sebaliknya, jika kalian membeli suatu properti sewaan sejak tanggal tersebut maka kalian
akan terkena dampak dari capital gain tersebut.
Untuk individu yang memiliki investasi properti lebih dari 12 bulan, maka pada saat mereka
menjual properti tersebut, mereka akan mendapatkan diskon sebesar 50% atas capital gain yang
terjadi
Ada beberapa macam biaya yang tidak bisa dimasukkan dalam perhitungan capital gain yaitu bunga
pinjaman bank, biaya pengecetan yang dibayar ketika properti disewakan, dan biaya body
                                                                                                                       

9
Maila Niamas, Pengertian Capital Gain dan Capital Loss serta Contohnya , diakses dari
corporate. Karena ketiga biaya tersebut nantinya akan diklaim dalam pelaporan pajak penghasilan
tahunan sebagai pengurang pajak untuk penghasilan kena pajak.
Baca juga:
1. Pengertian Deposito Beserta Manfaat, Jenis-Jenis Dan Karakteristik
2. Pengertian Giro (Rekening Koran) Beserta Fungsi, Jenis-Jenis Dan Manfaat
3. Pengertian, Perbedaan Cek Dan Bilyet Giro Beserta Jenis-Jenisnya
Contoh Capital Gain
1. Arman membeli saham ACES seharga Rp 800 sebanyak 10 lot, kemudian Arman menjual
kembali saham tersebut seharga Rp 1.000 sebanyak 10 lot. Maka Arman mendapatkan keuntungan
capital gain sebesar :
Rp 1.000.000 – Rp 800.000 = Rp 200.000
Untuk lebih mudahnya mari lihat ilustrasi dibawah ini :

2. A dan B bersama-sama membeli sebuah flat pada tahun 1999 dengan harga beli $500.000 dan
menempatinya sampai tahun 2006. Karena mereka membeli rumah baru dan pindah, maka mereka
memutuskan untuk menyewakan flat tersebut.
Pada tahun 2010, A dan B menjual flat tersebut dengan harga $800.000. Mereka mengeluarkan
biaya sebesar $15.000 untuk membayar pengacara dan agen real estate yang berhubungan dengan
penjualan flat tersebut.
Maka keuntungan capital gain yang didapat oleh A dan B adalah sebesar :
$800.000 – $500.000 – $15.000 = $285.000
Pengertian Capital Loss
Capital loss adalah sebuah kerugian yang didapatkan seorang investor dari selisih harga beli
dikurangi dengan harga jual suatu saham.
Dengan kata lain, Capital loss dapat terjadi jika seseorang menjual saham dengan harga saham lebih
rendah dari harga belinya.
Contoh Capital Loss
1. Seorang investor membeli sebuah saham ABCD dengan harga sebesar Rp 15.000 per saham dan
ia menjual kembali saham tersebut dengan harga Rp 14.500 persaham. Sehingga ia mendapatkan
kerugian atau capital loss seharga Rp 500.
2. Andi membeli saham TLDM dengan harga beli seharga $5000 per saham, dan menjual kembali
saham tersebut seharga $4950. Maka Andi akan mendapatkan capital loss saham atau kerugian
saham sebesar :
$5000 – $4950 = $50.
3. April membeli saham kepada JPFA pada harga sebesar Rp 1.200 sebanyak 100 lot dan menjual
kembali saham JPFA tersebut dengan harga sebesar Rp 1.150 sebanyak 10 lot. Maka jumlah
kerugian atau capital loss saham yang didapat oleh April adalah sebesar :
Rp 1.200.000 – Rp 1.150.000 = Rp 50.000.
Demikianlah artikel diatas yang membahas mengenai Capital Gain dan Capital Loss (Pengertian +
Contoh). Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan serta bermanfaat bagi anda yang
membacanya.. Terimakasih atas kunjungannya, Jangan lupa Share and Vote yaa!
Kunjungi artikel terbaru:
1. “Pengertian dan Contoh” Saham Biasa dan Saham Preferen
2. Pengertian Rapat Umum Pemegang Saham [Lengkap]
3. [Lengkap] Proses Penyusunan Anggaran Menyeluruh
4. Fungsi dan Manfaat Anggaran [Lengkap]
5. [Lengkap] Pengertian, Jenis-Jenis serta Manfaat Reksa Dana
DAFTAR PUSTAKA
Filbert, Ryan. Yuk Nabung Saham" adalah Kampanye Menyesatkan. 16 September 2018.
https://ekonomi.kompas.com/read/2017/11/28/120000726/-yuk-nabung-saham-adalah-
kampanye-menyesatkan-
#ampshare=http://ekonomi.kompas.com/read/2017/11/28/120000726/-yuk-nabung-saham-
adalah-kampanye-menyesatkan-

JrPlanner. Cara Menabung Saham : Penjelasan dan Simulasi. 16 September 2018.


https://www.catatankeluargamuda.com/cara-menabung-saham/

Karo Karo ,Argha J. Pengalaman “Orang Bodoh” Yang Kaya Dari Saham. 16 September 2018.
http://www.creative-trader.com/pengalaman-orang-bodoh-yang-kaya-dari-saham

Maulana, Firman. Mengenal Pasar Modal. 16 September 2018.


http://www.semogabermanfaat.web.id/2014/10/mengenal-pasar-modal.html
Niamas , Maila. Pengertian Capital Gain dan Capital Loss serta Contohnya. 16 September 2018.
http://www.akuntansilengkap.com/keuangan/pengertian-capital-gain-dan-capital-loss-serta-
contohnya/

Rika. Lo Khenghong: Perusahaan yang untung itu seperti mesin uang . 16 September 2018 .
https://lipsus.kontan.co.id/v2/warren_buffett/read/59/Lo-Khenghong-Beli-perusahaan-yang-
untung-itu-seperti-beli-m
Daftar Link bermanfaat

link idx
http://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/profil-perusahaan-tercatat/detail-profile-perusahaan-
tercatat/
http://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/laporan-keuangan-dan-tahunan/
http://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/ringkasan-performa-perusahaan-tercatat/
http://www.idx.co.id/data-pasar/data-saham/indeks-saham/
http://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/prospektus/
http://www.ksei.co.id/education/akses-facility

tools analisa gratis


https://investor2.rti.co.id/analytics/index_anly.jsp

berita berita ekonomi dan pasar modal


https://www.miraeasset.co.id/
http://www.bisnis.com/
https://investasi.kontan.co.id/rubrik/27/marketrekomendasi/
http://market.bisnis.com/rekomendasi-prediksi
http://id.beritasatu.com/marketandcorporatenews
https://www.detik.com/tag/saham/
https://www.liputan6.com/bisnis/saham
https://id.investing.com/
https://www.bloomberg.com/quote/JCI:IND
https://www.indopremier.com/ipotnews/
https://www.cnnindonesia.com/tag/saham
https://www.investopedia.com/
https://www.teguhhidayat.com/

Penawaran Umum Saham PT Tertutup menjadi PT Terbuka (Go Public/ Initial Public Offering)
https://gopublic.idx.co.id/
https://gopublic.idx.co.id/2016/06/22/frequently-asked-questions/
https://gopublic.idx.co.id/2016/06/23/ipo-success-story/
https://gopublic.idx.co.id/2016/06/22/persiapan-awal/
https://gopublic.idx.co.id/2016/06/22/peraturan-go-public/
https://gopublic.idx.co.id/2016/06/22/peraturan-terkait-insentif-pajak/
link idx
http://www.idx.co.id/perusahaan-­‐tercatat/profil-­‐perusahaan-­‐tercatat/detail-­‐profile-­‐perusahaan-­‐
tercatat/
http://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/laporan-keuangan-dan-tahunan/
http://www.idx.co.id/data-­‐pasar/laporan-­‐statistik/ringkasan-­‐performa-­‐perusahaan-­‐tercatat/
http://www.idx.co.id/data-pasar/data-saham/indeks-saham/
http://www.idx.co.id/perusahaan-­‐tercatat/prospektus/
http://www.ksei.co.id/education/akses-­‐facility

tools analisa gratis


https://investor2.rti.co.id/analytics/index_anly.jsp

berita berita ekonomi dan pasar modal


https://www.miraeasset.co.id/
http://www.bisnis.com/
https://investasi.kontan.co.id/rubrik/27/marketrekomendasi/
http://market.bisnis.com/rekomendasi-­‐prediksi
http://id.beritasatu.com/marketandcorporatenews
https://www.detik.com/tag/saham/
https://www.liputan6.com/bisnis/saham
https://id.investing.com/
https://www.bloomberg.com/quote/JCI:IND
https://www.indopremier.com/ipotnews/
https://www.cnnindonesia.com/tag/saham
https://www.investopedia.com/
https://www.teguhhidayat.com/

Penawaran Umum Saham PT Tertutup menjadi PT Terbuka (Go Public/ Initial Public Offering)
https://gopublic.idx.co.id/
https://gopublic.idx.co.id/2016/06/22/frequently-asked-questions/
https://gopublic.idx.co.id/2016/06/23/ipo-success-story/
https://gopublic.idx.co.id/2016/06/22/persiapan-awal/
https://gopublic.idx.co.id/2016/06/22/peraturan-go-public/
https://gopublic.idx.co.id/2016/06/22/peraturan-terkait-insentif-pajak/
Hubungi Kami di :
1. Telegram : http://bit.ly/2C4iYC5
2. Instagram : http://bit.ly/2SPiiVq