Anda di halaman 1dari 70

KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

Teknologi Komunikasi dan Informasi merupakan suatu kebutuhan bagi suatu organisasi, dalam
mendukung kegiatan-kegiatan pemerintahan dalam pencapaian tujuannya. Selain untuk meningkatkan
efisiensi dan efektifitas, penyelenggaraan pemerintahan yang berbasis teknologi informasi dan
komunikasi juga merupakan suatu langkah penting untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas
organisasi pemerintah.
Peningkatan kualitas layanan public salah satunya ditempuh melalui pemanfaatan e-government.
Optimalisasi pemanfaatan e-goverenment dilaksanakan dalam bentuk pembangunan jaringan LAN
(local area network), penyediaan material jaringan computer dan internet, pemsangan jaringann
internet di semua SKPD Kabupaten Pekalongan, pembuatan software aplikasi data terintegrasi
berbasis desa dan peningkatan SDM pengelola jaringan TIK di semua SKPD Kabupaten Pekalongan
Capaian Pelayanan Urusan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pekalongan Tahun 2011 – 2015
No. Uraian 2011 2012 2013 2014 2015
1. Jumlah pem-publish-an data dan informasi 199 559 596 646 502
pemerintahan dan pembangunan yang akurat dan
terbaru
2. Jumlah system informasi yang dimiliki oleh 2 5 6 8 12
pemerintah daerah berbasis TI
3. Persentase SKPD yang memiliki jaringan berbasis 36 45 60 70 80
LAN (%)
4. Jumlah menara telekomunikasi - 101 119 123 133
5. Jumlah jaringan komunikasi (wi fi) aktif - - 31 42 49
6. Rasio wartel/warnet terhadap penduduk 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01
7. Jumlah surat kabar nasional/local (media) 7 7 7 7 7
8. Jumlah penyiaran radio/ tv lokal 7 7 7 7 6
9. Web site milik pemerintah daerah 1 1 1 1 1
10 Pameran/expo - - 1 1 1

PENDAHULUANA.

Latar Belakang
Pembangunan ekonomi adalah usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa
yangsering kali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riil perkapita (Soeparmoko,
2001:5).Pembangunan bukanlah semata fenomena ekonomi, pembangunan harus dipahami
sebagai salah satuproses yang berdimensi jarak yaitu melibatkan perubahan-perubahan
besar dalam struktur sosial,seluruh rakyat dan kelembagaan nasional serta percepatan
pembangunan ekonomi, pengangguranketidakmerataan, kemiskinan absolut (Todaro,
1999:29). Perekonomian seperti ini dipercayakan mampumemberikan kemakmuran bagi
rakyatnya dari generasi ke generasi. Kegiatan perekonomian sendirifluktuatif dari tahun
ketahun. Selain itu juga dalam perekonomian mempunyai siklus ekonomi apalagi diera
modernisasi ini produk barang dan jasa meningkat oleh karena itu berpengaruh
meningkatnyatenaga kerja. Perekonomian di Indonesia sedang mengalami peningkatan
dikarenakan nilai pendapatannasional yang bertambah serta pendapatan bruto negara kita
yang mengalami peningkatan di setiaptahunnya.Tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia
mengalami peningkatan didukung adanya sektorekonomi unggulan di setiap daerah yang
dapat dijadikan potensi bagi perkembangan daerah tersebut.Menurut Taufik dan Saleh
(2000:2) hal ini sangat penting karena sektor tersebut dapat memberikan duasumbangan
sebagai berikut: 1) Secara langsung menimbulkan kenaikan pada pendapatan faktor-
faktorproduksi daerah dan pendapatan daerah. 2.) Menciptakan permintaan atas produksi
industri lokal.Fatmasari (2007) menyatakan pembangunan daerah di Indonesia merupakan
sub sistem daripembangunan nasional dan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan
dari pembangunannasional. Salah satu tolak ukur adanya pembangunan ekonomi daerah yaitu
adanya pertumbuhanekonomi daerah. Dalam usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi
daerah perlu diketahui terlebihdahulu sumber daya atau potensi satu daerah yang dapat
diharapkan berkembang secara optimal.Pertumbuhan ekonomi daerah pada dasarnya
dipengaruhi oleh unggulan komparatif satu daerah,spesifikasi wilayah serta potensi ekonomi
yang dimiliki oleh daerah tersebut. Oleh karena itupemanfaatan dan pengembangan seluruh
potensi ekonomi lokal yang menjadi prioritas utama yangharus digali dan dikembangkan
dalam melaksanakan pembangunan ekonomi daerah secaraberkelanjutan (Arsyad,
1999).Kabupaten Gresik merupakan kabupaten yang menerapkan konsep PEL untuk
mengembangkanwilayahnya. Pengembangan ekonomi lokal sendiri untuk mengatasi tingginya
angka pengangguran diKabupaten Gresik menandakan bahwa sembilan sektor mata
pencaharian yang tercermin dalam PDRBbelum dimaksimalkan potensinya oleh Pemerintah
Daerah Kabupaten Gresik. Tingginya angkapengangguran secara tidak langsung juga
menggambarkan bahwa garis kesejahteraan masyarakat yangrendah, yang berarti tingkat
kemiskinan masih terbilang tinggi. Hal tersebut menandakan bahwapembangunan di
Kabupaten Gresik belum sepenuhnya dikatakan berhasil. Pembangunan yang di

dukung dengan prioritas program pengembangan potensi ekonomi lokal yang unggul
dapatmeningkatkan daya saing daerahnya. Artinya, jika pemerintah menginginkan daerahnya
memiliki dayasaing maka program-program pembangunannya harus berangkat dari
pemngembangan potensiekonomi unggulan yang dimiliki daerah tersebut. Melalui
pengembangan potensi ekonomi unggulantersebut diharapkan pertumbuhan ekonomi dapat
meningkat.
Abdullah dkk (2002, h.15) menjelaskan bahwa “daya saing daerah adalah kemampuan
perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi
danberkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan domestik dan internasi
onal.” Indikator
- indikatorutama dan prinsip-prinsip penentu daya saing daerah salah satunya adalah
perekonomian daerah.Prinsip-prinsip Kinerja perekonomian daerah yang mempengaruhi daya
saing daerah yakni :a. Nilai tambah merefleksikan produktivitas perekonomian setidaknya
jangka pendek.b. Akumulasi modal mutlak diperlukan untuk meningkatkan daya saing dalam
jangka panjang.c. Kemakmuran suatu daerah mencerminkan kinerja ekonomi dimasa lalu.d.
Kompetisi yang didorong mekanisme pasar akan meningkatkan kinerja ekonomi suatu
daerah.Semakin ketat kompetisi pada suatu perekonomian daerah, maka akan semakin
kompetitif perusahaan-perusahaan yang akan bersaing secara internasional maupun
domestik. (Abdullah dkk, 2002, h.17)
B.

Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan
dari penyusunan makalah “ANALISA PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMILOKAL
UNTUK MENGUATKAN DAYA SAING DAERAH DI KABUPATEN GRESIK” yaitu dalam
rangka
menyeleseikan tugas Mata Kuliah Pengembangan Ekonomi Lokal (RP

141407) di Jurusan PerencanaanWilayah dan Kota, FTSP

ITS.Sedangkan untuk tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu, menganalisa faktor-faktor
untukmenguatkan daya saing daerah di Kabupaten Gresik. Sehingga dari analisa faktor-
faktor tersebut dapatdijadikan untuk menentukan arahan pengembangan ekonomi lokal yang
sesuai di Kabupaten Gresik.
C.

Ruang Lingkup Pembahasan


Lingkup pembahasan pada penelitian ini adalah menganalisa faktor- faktor untuk
menguatkan dayasaing daerah di Kabupaten Gresik
ANALISA PENGEMBANGAN EKONOMI LOKALA.

Gambaran Umum
Posisi geografis, wilayah Kabupaten Gresik terletak antara 112° sampai 113° Bujur Timur
dan sampai7°

sampai 8°

Lintang Selatan.

Adapun batas-batas wilayah Kabupaten gresik sebagai berikut :


Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa

Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Madura dan Kota Surabaya

Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto

Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lamongan.Kabupaten Gresik mempunyai


wilayah kepulauan, yaitu Pulau Bawean dan beberapa pulau kecil disekitarnya. Luas wilayah
Gresik seluruhnya 1.191,25 Km
2
, terdiri dari 993,83 Km
2
luas wilayah daratanditambah sekitar 197,42 Km
2
luas Pulau Bawean. Sedangkan luas wilayah perairan adalah 5.773,80 Km
2
.

HASIL PEMBAHASAN
Analisa Pengembangan Potensi Ekonomi Lokal Kabupaten Gresik
Pendekatan yang umum digunakan dalam pengembangan potensi daerah salah satunya dengan
caramenelaah komponen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) (Muktianto, 2005, h.08
dikutip dariSumiharjo, 2008, h.12). Dalam menelaah PDRB dilakukan untuk mencari sektor

sektor yang palingpotensial untuk dikembangkan atau mencari sektor basis (unggulan).
Untuk mengetahui sektor basisdan bukan basis antara lain menggunakan metode analisis
location quantient (LQ), namun sifat LQ inihanya berguna dalam jangka pendek, oleh karena
itu disempurnakan dengan analisis
shift share
yangberguna untuk analisis jangka panjang (Triyuwono & Yustika, 2003, h.93-94). Hasil
analisis LQ dan SS diKabupaten Gresik pada tahun 2006-2011 ditunjukan pada tabel 1 dan
2.Berdasarkan hasil LQ (Tabel 1) diketahui tiga sektor yang paling potensial untuk
dikembangkanadalah sektor industri pengolahan dengan nilai LQ 1,99; kemudian disusul
dengan sektor listrik, gas, danair bersih dengan nilai LQ mencapai 1,42; posisi ketiga adalah
sektor penambangan dan penggaliansebesar 1,36. Jika sektor-sektor tersebut
dikembangkan oleh pemerintah daerah dengan dukungankebijakan dan mendapat prioritas
program maka sektor-sektor tersebut akan menambah keuntunganbagi Kabupaten Gresik
dimasa yang akan datang. Berikut ini merupakan tabelnya :
Selain itu, hasil analisis
shift share
(Tabel 2) menguatkan bahwa tiga sektor yakni industripengolahan; pertambangan dan
penggalian; serta litrik, gas, dan air bersih merupakan sektor unggulandan memiliki daya
saing dengan sektor yang sama di wilayah lain atau yang dikenal dengan sektor
Competitive advantage, specialized
. Namun, pertumbuhan ekonomi sektor industri pengolahan dansektor listrik, gas, dan air
bersih cenderung memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lambat jikadibanding dengan
sektor yang sama di wilayah Jawa Timur. Sedangkan sektor pertambangan danpenggalian
memiliki tingkat pertumbuhan yang relatif cepat.
Identifikasi Upaya Pemerintah Kabupaten Gresik dalam Mendukung Pengembangan Potensi
EkonomiLokal Unggulan untuk menguatkan Daya Saing Daerah
Sumihardjo (2008, h.114) menjelaskan bahwa pengembangan sektor unggulan yang
dimilikidaerah tercermin pada visi dan misi daerah yang tertuang di dalam rencana
pembangunan jagkapanjang daerah (RPJPD) dan rencana jangka menengah daerah (RPJMD).
Selain itu, anggaranpendapatan dan belanja Daerah (APBD) harus mencerminkan program-
program dan tujuan-tujuanpembangunan. Karena suatu renana akan bersifat operasionil
apabila anggarannya tersedia. DukunganPemerintah Kabupaten Gresik dalam pengembangan
potensi ekonomi lokalnya tercermin dalamprioritas program dalam dokumen RPJPD tahun
2005-2025 dan dokumen RPJMD tahun 2011-2015,yakni sektor yang diprioritaskan dalam
pembangunan adalah sektor industri pengolahan; perdagangan,hotel, dan restoran; serta
sektor pertanian.

Pengembangan sektor industri dinilai sudah sangat tepat karena sektor industri
berdasarkanhasil LQ mendapatkan nilai 1,99 yang berarti > 1 menandakan bahwa sektor
tersebut merupakan sektorunggulan dan masuk kategori sektor unggulan yang mampu
bersaing dengan sektor yang sama di

daerah lain. Namun, pengembangan di sektor industri hanya mendapatkan alokasi anggaran
rata-ratacukup sedikit, yakni senilai Rp. 451.329.666,67.Sedangkan, prioritas program di
sektor lainnya seperti perdagangan, hotel, dan restoran dinilaikurang tepat karena sektor
perdagangan, hotel, dan restoran secara rata-rata mendapat nilai LQ<1,menandakan bahwa
sektor tersebut bukan sektor basis (unggulan). Tetapi, faktor lokasional KabupatenGresik
yang dekat dengan pelabuhan, yakni pelabuhan perak dan pelabuhan Gresik sendiri, serta
dekatdengan akses pasar, selain itu terpenuhinya sarana prasarana seperti jalan tol, kondisi
jalan dan jembatan yang cukup baik membuat sektor ini cukup kompetitif meskipun bukan
sektor unggulan,sehingga produk yang dihasilkan mampu bersaing dengan daerah lain.

Sektor pertanian khususnya subsektor perikanan dan kelautan adalah sektor selanjutnya
yang menapatkan prioritas program. Alasanutama Kabupaten mengembangkan sektor ini
adalah karena sepertiga wilayah Gresik merupakanperairan sehingga potensial untuk
dikembangkan perikanan. Padahal jika dilihat dari hasil analisis LQsektor ini bukan sektor
unggulan karena secara rata-rata, sektor pertanian mendapatkan hasil LQ 0,59.Selain itu,
tidak mampu bersaing dengan daerah lain. Sehingga prioritas di bidang ini tidak
akanmenguntungkan pemerintah, namun disisi lain pembangunan dibidang pertanian juga
sangat diperlukanuntuk menyeimbangkan industrialisasi agar tidak terjadi konversi lahan
besar-besaran, konversi wilayahindustri harus berdasarkan RTRW, RDTRK, Program Lahan
Pertanian yang Dipertahankan. Sektorpertanian mendapatkan dukungan anggaran yang
paling besar diantara sektor lainnya yakni Rp.13.950.155.097,00.

Sedangkan, sektor listrik, gas, dan air bersih serta sektor pertambangan danpenggalian
juga tidak mendapatkan prioritas program di RPJPD, namun sektor-sektor

tersebutmendapatkan perhatian pada RPJMD. Padahal, jika dilihat berdasarkan nilai LQ


sektor listrik, gas dan airbersih termasuk sektor basis (unggulan) dengan nilai LQ sebesar
1,42; begitu pula dengan sektorpertambangan dan penggalian yang mendapat nilai LQ 1,36;
Selain itu, kedua sektor ini merupakansektor yang mampu bersaing dengan sektor yang
sama di daerah lain. Jadi, dukungan programpemerintah pada sektor tersebut sudah tepat,
namun dukungan dalam bidang anggaran dirasa kurangtepat karena pada sektor ini hanya
mendapatkan anggaran sebesar Rp. 129.221.631,67.Pengembangan potensi unggulan ini
diamanatkan melalui penyelenggaraan pemerintahandaerah agar mempecepat terwujudnya
daya saing daerah, dimana hal tersebut salah satunya dapatdilaksanakan melalui
pembangunan ekonomi daerah melalui pengembangan potensi daerahnya.Berdasarkan
dokumen RPJPD dan RPJMD Prioritas program pemerintah Kabupaten Gresik
adalahmengembangkan sektor industri pengolahan; sektor perdagangan, hotel, dan
restoran; serta sektorpertanian. Dari ketiga sektor tersebut yang cukup mencerminkan
pengembangan potensi ekonomiunggulan berdasarkan analisis
Location Quoteint
(LQ) dan
Shift Share
(SS) adalah pengembangan disektor indusri pengolahan. Jika pemerintah fokus pada
pengembangan semua sektor unggulan maka,kemungkinan besar pemerintah dapat
meningkatkan daya saing daerahnya pula. Syafar (2004) dalamSumihardjo (2008, h.9)
menjelaskan bahwa daya saing daerah berkaitan erat dengan kemampuanekonomi daerah
dalam hal ini terkait dengan pemanfaatan potensi daerah untuk menghasilkan
danmemasarkan produk atau jasa yang dibutuhkan oleh pasar secara berkesinambungan.
KESIMPULAN
Sektor yang paling potensial dikembangkan adalah Sektor industri pengolahan; sektor
listrik,gas, dan air bersih; serta sektor pertambangan dan penggalian. Namun, dari hasil
identifikasi upayapemerintah Kabupaten Gresik dalam mendukung pengembangan sektor
unggulan dilihat dari RPJPD
maupun RPJMD cenderung memprioritaskan pada sektor industri pengolahan; perdagangan,
hotel, danrestoran; serta pertanian. Sehingga, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa
pemerintah belum secaramaksimal mengolah dan mengembangkan potensi unggulan
yang dimiliki.Berdasarkan permasalahan tersebut, saran peneliti adalah Pemerintah
Kabupaten Gresiksebaiknya mengembangkan sektor unggulan dan berdaya saing yang lainnya
seperti sektor listrik, gas,dan air bersih; serta sektor pertambangan dan penggalian.
Pemerintah juga sebaiknya melakukankoordinasi antara rencana investasi pemerintah dan
rencana yang akan dilakukan oleh sektor swasta,Serta mengoptimalkan kerjasama antar
daerah disekitarnya. Selain itu, pemerintah sebaiknya gencarmelakukan upaya pemasaran
potensi ekonomi unggulan untuk menarik investor yang dituangkan dalamvisi/slogan daerah.
Yang paling penting, dalam melakukan pengembangan potensi ekonomi lokalpemerintah tetap
perlu mempertahankan local wisdom dan mendasarkan pembangunan ekonominyaterhadap
Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), agar dapat meminimalisir adanya dampak
negatifpembangunan terhadap lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Piter dkk. (2002)
Daya Saing Daerah : Konsep dan Pengukurannya di Indonesia
.Yogyakarta, BPFE.
BPS Kabupaten Gresik. (2011)
PDRB Kabupaten Gresik Tahun 2006-.2010
[Intenet], Gresik, BPSKabupaten Gresik. Available from: BPS Gresik Regegency
Websitehttp://gresikkab.bps.go.id/images/publikasi/pdrb2011/index.html (diakses pada
tanggal 28Desember 2014)Sumihardjo, Tumar. (2008)
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Melalui Pengembangan Daya SaingBerbasis potensi Daerah
. Bandung, Fokus Media.Dumairy. 1996.
“Perekonomian Indonesia”.
Yogyakarta: Erlangga.

STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMI DAERAH


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Paradigma baru pembangunan daerah adalah pembangunan dalam rangka pemberdayaan masyarakat,
termasuk petani dan buruhtani, melalui penyediaan fasilitas dan prasarana publik, pengembangan sistem
agribisnis, industri kecil dan kerajinan rakyat, pengembangan kelembagaan, penguasaan IPTEK guna
memanfaatkan potensi keunggulan sumberdaya alam.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat
mengelola sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan
sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan
ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut.
Perekonomian daerah adalah ekonomi terbuka. Ini berarti bahwa aktivitas ekspor-impor terjadi dalam
perekonomian daerah. Ekspor- impor dalam pengertian ini mencakup jual-beli barang dan jasa dari satu
daerah ke daerah lain, disamping dari dan ke negera lain. Tenagakerja yang berdomisili di suatu daerah,
tetapi bekerja dan memperoleh uang dari daerah lain termasuk dalam pengertian ekspor. Ekspor-impor
antar daerah dalam satu negara tidak pernah mengalami hambatan (barrier) apapun seperti yang dikenal
dalam perdagangan antar negara (hambatan tarif dan non-tarif).

BAB II
PEMBAHASAN

A. Tahap-Tahapan Dalam Penyusunan Strategi Pengembangan Potensi Ekonomi Daerah


Tujuan pembangunan ekonomi pada umumnya adalah peningkatan pendapatan riel perkafita serta
adanya unsur keadilan atau pemerataan dalam penghasilan dan kesempatan berusaha. Dengan
mengetahui sasaran dan tujuan pembangunan, serta kelemahan dan kelebihan yang dimiliki oleh suatu
daerah, maka strategi pengembangan potensi yang ada akan lebih terarah dan strategi tersebut akan
menjadi pedoman bagi pemerintah daerah yang akan melaksanakan kegiatan usaha didaerah yang
bersangkutan.
Oleh karena itu, dalam mempersiapkan strategi pengembangan potensi yang ada didaerah, langkah-
langkah berikut dapat ditempuh :
1. Mengidentifikasi sector-sektor yang mempunyai potensi untuk dikembangakan dengan memperhatikan
kekuatan dan kelemahan masing-masing sector.
2. Mengidentifikasi sector-sektor yang potensinya rendah untuk dikembangkan dan mencari factor-faktor
yang menyebabkan rendahnya potensi sector tersebut untuk dikembangkan.
3. Selanjutnya mengidentifikasi sumber daya (factor-faktor) yang ada termasuk sumber daya manusianya.
4. Dengan menggunakan model pembobotan terhadap variabel kekuatan dan kelembahan untuk setiap
sector dan subsector, maka akan ditemukan sector andalan yang selanjutnya dianggap sebagai potensi
ekonomi yang patut dikembangkan di daerah yang bersangkutan.
Dalam penerapan strategi pembangunan ekonomi daerah, tentunya peran pemerintah cukup penting dan
menonjol. Paling tidak ada beberapa peran yang dapat dijalankan oleh pemerintah dalam pembangunan
ekonomi daerah.
Pertama, sebagai pelopor dan koordinator dalam pemanfaatan sumber daya ekonomi. Sebagai pelopor,
pemerintah daerah melalui BUMD, dituntut untuk mempelopori penggalian sumber daya alam yang
bernilai ekonomis yang belum tersentuh oleh pihak lain. Selain itu, pemerintah daerah harus
mengkoordinasikan di antara berbagai pihak yang mengusahakan pemanfaatan sumber daya ekonomi
yang dimiliki daerah. Sebagai koordinator pemerintah daerah harus dapat melibatkan dan
mengkoordinasikan berbagai dinas terkait, pengusaha swasta, UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah)
serta masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya ekonomi daerah.
Kedua, sebagai intrepereneur pemerintah daerah dituntut untuk terlibat secara aktif dan inovatif dalam
mendorong aktivitas menjalankan bisnis di daerah.
Ketiga, sebagai stimulator dan fasilitator. Pemerintah harus dapat merangsang investor untuk masuk ke
daerahnya guna pemanfaatan sumber daya di daerahnya dengan memberikan berbagai insentif fiskal,
jangan malah menjadikan pajak dan pungutan, serta retribusi untuk memperbesar PAD (pendapatan asli
daerah), pembangunan berbagai infrastruktur yang dibutuhkan, serta menjaga kondisi ekonomi makro
daerah secara kondusif.
B. Manajemen Pembangunan Daerah Yang Pro-Bisnis
Pemerintah daerah dan pengusaha adalah dua kelompok yang paling berpengaruh dalam menentukan
corak pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah daerah, mempunyai kelebihan dalam satu hal, dan
tentu saja keterbatasan dalam hal lain, demikian juga pengusaha. Sinergi antara keduanya untuk
merencanakan bagaimana ekonomi daerah akan diarahkan perlu menjadi pemahaman bersama.
Pemerintah daerah mempunyai kesempatan membuat berbagai peraturan, menyediakan berbagai sarana
dan peluang, serta membentuk wawasan orang banyak. Tetapi pemerintah daerah tidak mengetahui
banyak bagaimana proses kegiatan ekonomi sebenarnya berlangsung. Pengusaha mempunyai
kemampuan mengenali kebutuhan orang banyak dan dengan berbagai insiatifnya, memenuhi kebutuhan
itu. Aktivitas memenuhi kebutuhan itu membuat roda perekonomian berputar, menghasilkan gaji dan
upah bagi pekerja dan pajak bagi pemerintah. Dengan pajak, pemerintah daerah berkesempatan
membentuk kondisi agar perekonomian daerah berkembang lebih lanjut.
Pemerintah daerah dalam mempertahankan keberlanjutan pembangunan ekonomi daerahnya agar
membawa dampak yang menguntungkan bagi penduduk daerah perlu memahami bahwa manajemen
pembangunan daerah dapat memberikan pengaruh yang baik guna mencapai tujuan pembangunan
ekonomi yang diharapkan. Bila kebijakan manajemen pembangunan tidak tepat sasaran maka akan
mengakibatkan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi. Maka manajemen pembangunan daerah
mempunyai potensi untuk meningkatkan pembangunan ekonomi serta menciptakan peluang bisnis yang
menguntungkan dalam mempercepat laju pertumbuhan ekonomi daerah.
Prinsip-prinsip manajemen pembangunan yang pro-bisnis adalah antara lain sebagai berikut.
1. Menyediakan Informasi kepada Pengusaha
Pemerintah daerah dapat memberikan informasi kepada para pelaku ekonomi di daerahnya ataupun di
luar daerahnya kapan, dimana, dan apa saja jenis investasi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan
yang akan datang. Dengan cara ini maka pihak pengusaha dapat mengetahui arah kebijakan
pembangunan daerah yang diinginkan pemerintah daerah, sehingga dapat digunakan sebagai dasar
pertimbangan dalam menentukan dalam kegiatan apa usahanya akan perlu dikembangkan. Pemerintah
daerah perlu terbuka mengenai kebijakan pembangunannya, dan informasi yang diterima publik perlu
diupayakan sesuai dengan yang diinginkan.

2. Memberikan Kepastian dan Kejelasan Kebijakan


Salah satu kendala berusaha adalah pola serta arah kebijakan publik yang berubah-ubah sedangkan pihak
investor memerlukan ada kepastian mengenai arah serta tujuan kebijakan pemerintah. Strategi
pembangunan ekonomi daerah yang baik dapat membuat pengusaha yakin bahwa investasinya akan
menghasilkan keuntungan di kemudian hari. Perhatian utama calon penanam modal oleh sebab itu
adalah masalah kepastian kebijakan. Pemerintah daerah akan harus menghindari adanya tumpang tindih
kebijakan jika menghargai peran pengusaha dalam membangun ekonomi daerah. Ini menuntut adanya
saling komunikasi diantara instansi-instansi penentu perkembangan ekonomi daerah. Dengan cara ini,
suatu instansi dapat mengetahui apa yang sedang dan akan dilakukan instansi lain, sehingga dapat
mengurangi terjadinya kemiripan kegiatan atau ketiadaan dukungan yang diperlukan.
Pengusaha juga mengharapkan kepastian kebijakan antar waktu. Kebijakan yang berubah-ubah akan
membuat pengusaha kehilangan kepercayaan mengenai keseriusannya membangun ekonomi daerah.
Pengusaha daerah umumnya sangat jeli dengan perilaku pengambil kebijakan di daerahnya. Kerjasama
yang saling menguntungkan mensyaratkan adanya kepercayaan terhadap mitra usaha. Membangun
kepercayaan perlu dilakukan secara terencana dan merupakan bagian dari upaya pembangunan daerah.
3. Mendorong Sektor Jasa dan Perdagangan
Sektor ekonomi yang umumnya bekembang cepat di kota-kota adalah sektor perdagangan kecil dan jasa.
Sektor ini sangat tergantung pada jarak dan tingkat kepadatan penduduk. Persebaran penduduk yang
berjauhan dan tingkat kepadatan penduduk yang rendah akan memperlemah sektor jasa dan
perdagangan eceran, yang mengakibatkan peluang kerja berkurang. Semakin dekat penduduk, maka
interaksi antar mereka akan mendorong kegiatan sektor jasa dan perdagangan. Seharusnya pedagang
kecil mendapat tempat yang mudah untuk berusaha, karena telah membantu pemerintah daerah
mengurangi pengangguran. Pada waktunya pengusaha kecil akan membayar pajak kepada pemerintah
daerah. Dengan menstimulir usaha jasa dan perdagangan eceran, pertukaran ekonomi yang lebih cepat
dapat terjadi sehingga menghasilkan investasi yang lebih besar. Adanya banyak pusat-pusat pedagang
kaki lima yang efisien dan teratur akan menarik lebih banyak investasi bagi ekonomi daerah dalam jangka
panjang.
Sebagian besar lapangan kerja yang ada dalam suatu wilayah diciptakan oleh usaha kecil dan menengah.
Namun usaha kecil juga rentan terhadap ketidakstabilan, yang terutama berkaitan dengan pasar dan
modal, walaupun secara umum dibandingkan sektor skala besar, usaha kecil dan menengah lebih tangguh
menghadapi krisis ekonomi. Pemerintah daerah perlu berupaya agar konjungtur ekonomi tidak
berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha kecil.
4. Meningkatkan Daya Saing Pengusaha Daerah
Kualitas strategi pembangunan ekonomi daerah dapat dilihat dari apa yang akan dilakukan pemerintah
daerah dalam menyiapkan pengusaha-pengusaha di daerahnya menghadapi persaingan global.
Globalisasi (atau penduniaan) akan semakin mempengaruhi perkembangan ekonomi daerah dengan
berlakunya perjanjian AFTA, APEC dan lain-lain. Mau tidak mau, siap atau tidak siap perdagangan bebas
akan menjadi satu-satunya pilihan bagi masyarakat di semua daerah. Upaya untuk menyiapkan
pengusaha daerah oleh sebab itu perlu dilakukan. Pengusaha dari negara maju telah siap atau disiapkan
sejak lama. Pengusaha daerah juga perlu diberitahu konsekuensi langsung dari ketidaksiapan
menghadapi perdagangan bebas. Saat ini, pengusaha lokal mungkin masih dapat meminta pengertian
manajer supermarket untuk mendapatkan tempat guna menjual produksinya. Tahun depan, bisa tidak
ada toleransi untuk produksi lokal yang tidak lebih murah, tidak lebih berkualitas dan tidak lebih tetap
pasokannya.
Meningkatkan daya saing adalah dengan meningkatkan persaingan itu sendiri. Ini berarti perlakuan-
perlakukan khusus harus ditinggalkan. Proteksi perlu ditiadakan segera ataupun bertahap.
Pengembangan produk yang sukses adalah yang berorientasi pasar, ini berarti pemerintah daerah perlu
mendorong pengusaha untuk selalu meningkatkan efisiensi teknis dan ekonomis. Peraturan perdagangan
internasional harus diperkenalkan dan diterapkan. Perlu ada upaya terencana agar setiap pejabat
pemerinah daerah mengerti peraturan-peraturan perdagangan internasional ini, untuk dapat mendorong
pengusaha-pengusaha daerah menjadi pemain-pemain yang tangguh dalam perdagangan bebas, baik
pada lingkup daerah, nasional maupun internasional.
5. Membentuk Ruang yang Mendorong Kegiatan Ekonomi
Membentuk ruang khusus untuk kegiatan ekonomi akan lebih langsung menggerakkan kegiatan ekonomi.
Pemerintah daerah perlu berusaha mengantisipasi kawasan-kawasan mana yang dapat ditumbuhkan
menjadi pusat-pusat perekonomian wilayah. Kawasan-kawasan yang strategis dan cepat tumbuh ini
dapat berupa kawasan yang sudah menunjukkan tanda-tanda aglomerasi, seperti sentra-sentra produksi
pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan; klaster industri, dsb.
Kawasan cepat tumbuh juga dapat berupa kawasan yang sengaja dibangun untuk memanfaatkan potensi
SDA yang belum diolah, seperti yang dulu dikembangkan dengan sistim permukiman transmigrasi.
Kawasan-kawasan ini perlu dikenali dan selanjutnya ditumbuhkan dengan berbagai upaya
pengembangan kegiatan ekonomi, seperti pengadaan terminal agribisnis, pengerasan jalan, pelatihan
bisnis, promosi dsb. Pengembangan kawasan-kawasan strategis dan cepat tumbuh ini perlu dilakukan
bersamaan dengan upaya peningkatan keterampilan, pengembangan usaha, dan penguatan keberdayaan
masyarakat.

C. Peranan Sumber Daya Ekonomi Dalam Pembangunan Ekonomi Daerah


Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam era otonomi daerah dewasa ini, kecepatan dan optimalisasi
pembangunan wilayah (daerah) tentu akan sangat ditentukan oleh kapasitas dan kapabilitas sumberdaya
ekonomi (baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia). Keterbatasan dalam kepemilikan
sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang berkulitas dapat menimbulkan kemunduran yang
sangat berarti dalam dinamika pembangunan ekonomi daerah.
Konsekuensi lain yang ditimbulkan sebagai akibat terbatasnya kapasitas dan kapabilitas sumberdaya
ekonomi yang dimiliki daerah adalah ketidakleluasaan daerah yang bersangkutan untuk mengarahkan
program dan kegiatan pembangunan ekonominya, dan situasi ini menyebabkan munculnya pula
disparitas pembangunan ekonomi wilayah. Kondisi ini tampaknya menjadi tak terhindarkan terutama
bila dikaitkan dengan pelaksanaan otonomi daerah dewasa ini.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam mempersiapkan strategi pengembangan potensi yang ada didaerah, langkah-langkah berikut
dapat ditempuh :
5. Mengidentifikasi sector-sektor yang mempunyai potensi untuk dikembangakan dengan
memperhatikan kekuatan dan kelemahan masing-masing sector.
6. Mengidentifikasi sector-sektor yang potensinya rendah untuk dikembangkan dan mencari factor-faktor
yang menyebabkan rendahnya potensi sector tersebut untuk dikembangkan.
7. Selanjutnya mengidentifikasi sumber daya (factor-faktor) yang ada termasuk sumber daya manusianya.
8. Dengan menggunakan model pembobotan terhadap variabel kekuatan dan kelembahan untuk setiap
sector dan subsector, maka akan ditemukan sector andalan yang selanjutnya dianggap sebagai potensi
ekonomi yang patut dikembangkan di daerah yang bersangkutan.
Ada beberapa peran yang dapat dijalankan oleh pemerintah dalam pembangunan ekonomi daerah.
Pertama, sebagai pelopor dan koordinator dalam pemanfaatan sumber daya ekonomi.
Kedua, sebagai intrepereneur pemerintah daerah dituntut untuk terlibat secara aktif dan inovatif dalam
mendorong aktivitas menjalankan bisnis di daerah.
Ketiga, sebagai stimulator dan fasilitator.

DAFTAR PUSTAKA
Irawan dan M. Suparmoko, 1997, Ekonomi Pembangunan, Edisi Kelima, Yogyakarta : BPFE.
Endang Mulyani, dkk, 2007, Ekonomi Pembangunan, Jakarta : Universitas Terbuka.

UPAYA PEMERINTAH DAERAH DALAM MENINGKATKAN EKONOMI


LOKAL

1. Latar Belakang

Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia diperkirakan akan mengalami banyak kerugian karena belum
siap melakukan era perdagangan bebas (ekonomi global). Untuk dapat mengambil peluang, manfaat, dan
keterlibatan dalam ekonomi global tersebut, maka bangsa Indonesia membutuhkan strategi pembangunan wilayah
yang diarahkan pada terjadinya pemerataan (equity), mendukung pertumbuhan (efficiency) dan
keberlanjutan (suistainability). Prinsip yang dapat dijadikan indikator dalam pengembangan wilayah tersebut adalah
daya saing, produktivitas, dan efisiensi. Sehingga paradigma pembangunan yang dilakukan harus lebih
diorientasikan pada pembangunan spasial pada tingkat wilayah dan lokal dengan lebih mengutamakan kapasitas
ekonomi lokal (local economic development).

Adanya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah membuka peluang
pemerintah daerah untuk mengatur dan melakukan intervensi langsung dalam pengembangan
ekonomi daerahnya. Selain itu, pemerintah daerah mempunyai wewenang dalam membuat
kebijakan pengembangan ekonomi daerah yang didasarkan pada pengembangan sektor-sektor
unggulan yang memiliki nilai kompetitif dan berorientasi global di masing-masing wilayahnya.
Hal ini bertujuan mencegah terjadinya perbedaan yang mencolok antara wilayah maju dan
wilayah yang kurang berkembang.
KonsepPengembangan ekonomi local (Local Economic Development/PEL) adalah suatu
perubahan fundamental pada factor dan kegiatan yang terkait dengan pengembangan ekonomi.
PEL pada hakekatnya merupakan proses kemitraan antara pemerintah daerah dengan para
stakeholders termasuk sector swasta dalam mengelola sumber daya alam dan sumber daya
manusia maupun kelembagaan secara baik melalui pola kemitraan dengan tujuan untuk
mendorong pertumbuhan kegiatan ekonomi daerah dan menciptakan pekerjaan baru.
Pengembangan Ekonomi Lokal menitikberatkan pada kebijakan “endogenous development” mendayagunakan
potensi sumberdaya manusia, institusional dan fisik setempat. Apapun bentuk kebijakan yang diambil, PEL
mempunyai satu tujuan, yaitu: meningkatkan jumlah dan variasi peluang kerja tersedia untuk penduduk setempat.
Dalam mencapai itu, pemerintah daerah dan kelompok masyarakat dituntut untuk mengambil inisiatif dan bukan
hanya berperan pasif saja. Setiap kebijakan dan keputusan publik dan sektor usaha, serta keputusan dan tindakan
masyarakat, harus pro-PEL, atau sinkron dan mendukung kebijakan pengembangan ekonomi daerah yang telah
disepakati bersama. Dengan kata lain kegiatan pengembangan ekonomi lokal, sebagaimana kegiatan publik lain,
sifatnya tidak berdiri sendiri atau saling terkait dengan aspek publik lainnya.
2. Case Study
Kabupaten Tanggamus merupakan salah satu kabupaten yang berada di tepi barat Propinsi
Lampung.Potensi alam di Kabupaten Tanggamus sebagian besar dimanfaatkan untuk
kegiatan pertanian. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar perekonomian di
Kabupaten Tanggamus. Jenis budidaya pertanian yang dilakukan di Kabupaten
Tanggamus mencakup budidaya tanaman pangan, tanaman obat-obatan dan hias,
tanaman perkebunan, kehutanan, dan peternakan.tanaman perkebunan merupakan
penunjang perekonomian Kabupaten Tanggamus. Kopi merupakan komoditas utama dikabupaten
Tanggamus dimana masyarakat Tanggamus banyak yang menjadi petani kopi, akan tetapi para petani
kopi hanya menjual kopi serta merta ke pasar, tanpa memperhatikan kualitas kopi yang dijual. Hal
tersebut mengakibatkan rendahnya harga kopi di Kabupaten Tanggamus selain itu banyaknya kopi di
kabupaten Tanggamus juga menyebabkan rendahnya harga kopi karena petani kopi tidak mempunyai
ide kreatif yang dapat dikembangkan untuk menjual kopi-kopi yang ada.

3. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan di bahas pada paper ini adalah bagaimana upaya yang dilakukan oleh
Pemda Kabupaten Tangggamus dalam meningkatkan ekonomi lokal?

4. Penjelasan
Upaya Pemerintah Daerah Dalam Meningkatkan Ekonomi Lokal

A. Konsep Pengembangan Ekonomi Lokal


Pembangunan Ekonomi Lokal (PEL) merupakan proses pembangunan ekonomi
dimana stakeholders endogeneous(pemerintah, swasta, dan masyarakat) yang berperan aktif
dalam mengelola sumber daya lokal untuk menciptakan lapangan kerja dan memberikan
stimulus pada pertumbuhan ekonomi di wilayahnya. Prinsip penerapannya adalah
kerjasama stakeholders yang akan sangat menentukan keberlanjutan pengembangan ekonomi
lokal (Blakely, 1984 dalam Supriyadi, 2007).

Berdasarkan fokus penerapannya, tujuan PEL meliputi:


1. Membentuk jaringan kerja kemitraan antara pelaku ekonomi untuk pemanfaatan potensi lokal
dengan meningkatkankapasitas pasar pada tingkat lokal, regional dan global.
2. Meningkatkan kapasitas lembaga lokal (pemerintah, swasta, dan masyarakat) dalam
pengelolaan PEL.
3. Terjadinya kolaborasi antar aktor baik publik, bisnis dan masyarakat
4. Secara kolektif akan mendorong kondisi yang nyaman dalam pertumbuhan ekonomi dan
ketenagakerjaan
Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah tumbuh dan berkembangnya usaha masyarakat
dan meningkatnya pendapatan masyarakat sehingga berkurangnya kesenjangan antara
masyarakat pedesaan dan perkotaan serta mendukung kebijakan pengentasan kemiskinan.
Dalam proses implementasi perencanaan dan penerapan PEL ini menggunakan prinsip
pendekatan ekonomi, kemitraan, dan kelembagaan.
1. Prinsip ekonomi
 Mulai dengan kebutuhan pasar
 Menfokuskan pada kluster dari kegiatan ekonomi yang ada, yang produksinya dijual ke daerah
luar (economic base) dan multiplier effect di daerahnya kuat
 Menhubungkan produsen skala kecil dengan supplier kepada perusahaan ekspor.
2. Prinsip Kemitraan
 Adanya tanggung jawab dari masing-masing stakeholders (pemerintah, swasta, dan masyarakat)
sebagai aktor pengembang dan pengelola ekonomi lokal.
 Masing-masing stakeholders (pemerintah, swasta, dan masyarakat) berperan aktif dalam
bekerjasama
 Kemitraan mengandalakan sumber daya lokal, bukan bantuan dari luar atau asing
 Inisiatif digerakkan oleh pembeli, pasar, dan permintaan bukan produksi atau supply

3. Prinsip Kelembagaan

 Fasilitas dialog diantara stakeholders (pemerintah, swasta, dan masyarakat) untuk menghasilkan
ide dan inisiatif
 Mobilisasi sumber daya lokal untuk menunjang inisiatif yang diusulkan
 Pengembangan kelembagaan didasarkan atas kebutuhan dari kegiatan ekonomi yang sedang
berlangsung
Ketiga prinsip tersebut dapat dijadikan sebagai strategi pendekatan dan proses perencanaan
mengembangkan ekonomi lokal yang dilakukan atas dasar partisipasi dan kemitraan dalam
kerangka pengembangan kelembagaan. Partisipasi dalam konteks pemerintah diartikan sebagai
forum yang terorganisasikan guna menfasilitasi komunikasi antar pemerintah, masyarakat dan
stakeholders dan berbagi kelompok yang berkepentingan terhadap penanganan masalah atau
pengambilan keputusan. Partisipasi dan kemitraan antar pelaku dalam PEL berkaitan erat dengan
prinsip keterbukaan, pemberdayaan, efesiensi, dan good governance.

Dengan demikian, dalam keberhasilan pengembangan ekonomi lokal dapat dilihat dari
beberapa indikator, yaitu:
1. Perluasan kesempatan bagi masyarakat kecil dalam kesempatan kerja dan usaha
2. Perluasan bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan
3. Keberdayaan lembaga usaha mikro dan kecil dalam proses produksi dan pemasaran
4. Keberdayaan kelembagaan jaringan kerja kemitraan antara pemerintah, swasta, dan masyarakat
lokal (Supriyadi, 2007)
Dalam konteks pembangunan wilayah, keberhasilan PEL akan mendorong percepatan
pertumbuhan wilayah yang berkembang dan tertinggal. Sehingga akan berkurangnya anggapan
eksploitasi pembangunan wilayah maju terhadap wilayah miskin (kesenjangan wilayah). Pada
akhirnya, konsep PEL menjadi alternatif bagi pengembangan wilayah yang didasarkan atas
pembangunan kapasitas lokal (sumberdaya alam, manusia, kelembagaan) semakin berkembang.
B. Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Tanggamus
Salah satu daerah yang telah menerapkan konsep pengembangan ekonomi lokal dalam
mengembangkan wilayahnya adalah Kabupaten Tanggamus. Dimana Strategi penerapan dalam PEL di
Kabupaten Tanggamus melalui forum kemitraan yang terbukti dapat meningkatkan kapasitas lokal baik kemampuan
kerjasama stakeholders dan optimalisasi sumber daya alam setempat. Namun, bukan berarti proses dan praktik
penerapan konsep PEL di Kabupaten Tanggamus berjalan dengan optimal. Sisi kelemahan dalam proses PEL di
Kabupaten Tanggamus perlu dikaji lebih lanjut kembali. Hal ini diperlukan, terutama sebagai bahan koreksi,
evaluasi, dan antisipasi dalam proses perencanaan penerapan PEL di wilayah lainnya. Dengan demikian, kajian
konsep PEL lebih lanjut dapat menggambarkan kerangka PEL yang lebih berkembang dalam upaya mewujudkan
pembangunan yang berkelanjutan.
Strategi yang diterapkan dalam pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Tanggamus
diterapkan melalui pendekatan Kemitraan Bagi Pengembangan Ekonomi Lokal (KPEL). KPEL
merupakan salah satu upaya pendekatan untuk mendorong aktivitas ekonomi untuk mendorong
kemitraan bagi pemerintah-masyarakat-swasta dan menfokuskan pada pembangunan aktivitas
klaster ekonomi, sehingga terbangun keterkaitan (linkages) antara pelaku-pelaku ekonomi dalam
sauatu wilayah dengan pasar. Program KPEL di Kabupten Tanggamus mulai dilaksanakan pada
tahun 2001 dengan menggunakan 3 strategi inti, yaitu:
1. Pembentukan Forum Kemitraan
Untuk menjaga kepentingan dan keterlibatan, para stakeholders bergabung dengan sebuah
Forum Kemitraan Kabupaten Bagi Pengembangan Ekonomi Lokal (FKKPEL). FKKPEL
menyiapkan forum-forum untuk berdialog, merencanakan, pengembangan strategi dan
pembuatan keputusan terkait dengan pengembangan klaster kopi dan ekonomi lokal. Anggota
FKKPEL ini meliputi pemerintah lokal (Bappeda, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas
Pemberdayaan Masyarakat), Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APKI) Lampung, perwakilan
petani dari tingkat desa, kelompok wanita tani, KUD Margo Rukun dan Universitas Negri
Lampung. Peranan FKKPEL dalam pengembangan ekonomi lokal Kabupaten Tanggamus adalah
mendorong kemapanan organisasi atau basis kolektif, meningkatkan keterampilan dan kapasitas
petani serta menyiapkan wadah bagi para produsen untuk terlibat dalam perencanaan dan
pembuatan kebijakan.

2. Pengembangan Klaster

Pada awal pemilihan klaster dilakukan oleh tim dari Fakultas Pertanian Universitas Negeri
Lampung yang menghasilkan sejumlah rekomendasi komoditas pilihan yang layak dipilih.
Kemudian penentuan komoditas dilakukan dalam forum bersama yang melibatkan seluruh
stakeholders yang berkepentingan. Hasilnya disepakati bahwa pengembangan klaster kopi
dipakai untuk menstimulasi perekembangan ekonomi lokal. Untuk mewujudakannya, terdapat
prioritas aksi yang dilakukan, yaitu:
 pembentukan jaringan dan pengembangan kerjasama antara petani dan pedagang
 pertukaran informasi dan pengetahuan
 memperbaiaki produksi dan pengelolaan pasca panen
 memperbaiki diversifikasi
 menjamin pemasaran bersama
Selanjutnya dalam perkembangannya, telah dilakukan kerjasama antara petani kopi dan PT.
Nestle Indonesia yang dikaitkan dengan pemberian bantuan teknik dan kegiatan
kapasitas building. Selain itu, muncul usaha petani kopi untuk melakukan upaya diversikasi baik
dalam rangka meningkatkan keterkaitan ke depan (forward linkages) dan dengan proses panen
menjadi kopi bubuk maupun dengan membudidayakan tanaman lain. Hal ini membuat kegiatan
petani dapat menghasilkan harga yang lebih baik dan tambahnya peluang pekerjaan. Sebagai
hasilnya, kenaikan penjualan kopi petani telah mencapai hingga 300% melalui
penjualan kolektif ke pedagang besar di Kabupaten Tanggamus seperti PT. Indoco, Pabrik Kopi I
ntan, Hotel Sartika dan Hotel Marcopolo.
Selanjutnya, petani kopi ini telah merencanakan untuk menambah add value pada produknya,
tidak sebatas biji kopi, tetapi juga menjual kopi bubuk yang diproduksi bersama-sama oleh
seluruh petani. Mereka pun juga berupaya untuk meningkatkan kualitas kopi biji dengan
mengurus berbagai perijinan termasuk sertifikasi dari Dinas Kesehatan setempat.
3. Penguatan Kapasitas Produsen dan Kelompoknya
Beberapa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produsen dan kelompok di
Kabupaten Tanggamus antara lain:
a. pembentukan basis kelompok kolektif – Kelompok tani, dimana pembentukan kelompok tani ini
dimulai dari tingkat desa;
b. peningkatan kapasitas da keterampilan
c. pembentukan jaringan da kerjasama antar petani dan pedagang
d. pertukaran informasi dan pengetahuan
e. diversifikasi
f. skala ekonomis untuk pemasaran bersama.
Dengan adanya pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Tanggamus, kepentingan
bersama para stakeholdersmenyepakati bersama untuk mengembangkan ekonomi lokal melalui
pengembangan klaster kopi termasuk peningkatan kualitas biji kopi, alternative diversikasi,
peningkatan ketrampilan dan
teknologi, perluasan pasar, penguatan posisi tawar petani, serta peningkatan pendapatan pentani.
Dalam upaya pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Tanggamus telah mengupayakan
pemanfaatan sumberdaya lokal yakni kopi, bahkan telah menjadi komoditas unggulan tingkat
propinsi. Selain itu, dalam upaya pendekatan telah tepat karena menggunakan pendekatan
pengembangan ekonomi lokal melalui kemitraan yakni dengan terbentuknya KPEL. Seperti yang
diketahui bahwa PEL itu sendiri merupakan proses pembangunan kapasitas ekonomi lokal
dimana publik, bisnis, LSM, bersama secara kolektif menciptakan kondisi yang lebih
baik bagi pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan.
Pada dasarnya, dalam pengembangan ekonomi lokal di Kabupetan Tanggamus telah
menerapkan prinsip-prinsip konsep PEL yaitu prinsip ekonomi, kemitraan dan
kelembagaan. Dalam prinsip ekonomi, PEL di Kabupaten Tanggamus tidak hanya
mempertimbangkan kebutuhan pasar, namun juga melihat peluang pasar. Sebagai penghasil kopi
terbesar di Indonesia, Kabupaten Tanggamus telah memiliki modal awal untuk
memenuhi supply kopi dalam negeri, bahkan luar negeri. Selain itu, kopi selain sebagai sebagai
komoditas unggulan, juga menjadi klaster ekonomi yang mampu menjadi multiplier effect bagi
pengembangan ekonomi setempat. Hal tersebut terbukti dengan adanya diversifikasi produk bji
kopi menjadi bubuk kopi. Para petani kopi tersebut juga telah bekerjasama dengan perusahaan
lokal, seperti PT. Nestle Indonesia, yang merupakan perusahaan internasional terbesar pengolah
biji kopi. Hasil tersebut secara tidak langsung telah meningkatkan pendapatan petani
kopi sebelumnya dan peningkatan lapangan kerja.
Sedangkan dalam prinsip kemitraan PEL, stakeholders di Kabupaten Tanggamus telah
berperan aktif dan bekerjsama dalam mengembangkan ekonomi lokal. Keterlibatan Bappeda,
Dinas Kehutanan dan Perkebunan, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan instansi lokal
lainnya, menunjukkan adanya tanggungjawab pemerintah lokal dan industri lokal terhdapa
pembangunan ekonomi setempat. Adanya koloborasi aktif dan tindakan kolektif baik publik,
bisnis, masyarakat telah menumbuhkan kondisi yang nyaman dan kondusif bagi
keberlangsungan PEL. Hal ini tentu akan berdampak positif bagi pengembangan
wilayah di Kabupaten Tanggamus.
Dalam prinsip kelembagaan, PEL Kabupaten Tanggamus juga telah mendorong
terbentuknya kelembagaan lokal dalam skala kecil yang menjadi fasilitas bagi pengembangan
komunitas setempat, seperti terbentuknya paguyuban atau “Asosiasi Petani” kopi. Terbentuknya
lembaga tersebut menunjukkan bahwa para petani sadar akan keuntungan dan
kerjasam antara produsen.
Dalam sudut pandangan pengembangan wilayah, PEL yang dilaksanakan di Kabupaten
Tanggamus belum menjelaskan dan menunjukkan suatu wilayah yang berkembang.
Padahal dari segi pelaksanaan PEL sendiri Kabupaten Tanggamus dianggaap telah berhasil. Oleh
karena itu, diperlukan suatu kebijakan untuk mendorong inovasi penerapan implementasi PEL
dalam satu struktur yang terintegrasi. Beberapa strategi yang dapat dikembangkan bagi PEL
selanjutnya adalah sebagai berikut:
a) Memperbaiki keberadaan sumberdaya ekonomi lokal melalui investasi baik modal fisik maupun
manusia unutk menjaga keberlanjutan pengembangan ekonomi lokal komoditas kopi.
b) Membangun fasilitas pendidikan dan penelitian untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas
kapasitas produksi
c) Memasarkan kemampuan dan keunggulan wilayah kepada dunia usaha di luar wilayah melalui
pameran produk

5. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka dari studi kasus penerapan PEL di Kabupaten
Tanggamus disimpulkan bahwa:
1. Upaya yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Tanggamus adalah dengan mengimplementasikan
konsep Pengembangan Ekonomi Lokal, dimana Pengembangan ekonomi lokal merupakan
konsep pengembangan wilayah dalam upaya pemanfaatan dan pemberdayaan sumber daya lokal
baik fisik, masyarakat maupun kelembagaan. Dalam prinsip penerapan pengembangan ekonomi
lokal lebih mengedepankan pendekatan kemitraan sebagai penentu keberlangsungan dan
keberlanjutan ekonomi.
2. Pengembangan ekonomi lokal di Kabupten Tanggamus telah sesuai dengan prinsip
ekonomi, kemitraan, dan kelembagaan dan berhasil dalam mengorganisasi
pengembangan ekonomi melalui kerjasama stakeholders setempat.
3. Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Tanggamus belum menunjukkan secara
pasti kemajuan Kabupaten Tanggamus. Oleh karena itu, untuk mengoptimalisasi
pengembangan ekonomi diperlukan inovasi kebijakan diantaranya adalah memperbaiki
keberadaan sumberdaya ekonomi lokal melalui investasi baik modal fisik maupun
manusia untuk menjaga keberlanjutan pengembangan ekonomi lokal komoditas kopi,
membangun fasilitas pendidikan dan penelitian untuk meningkatkan kualitas dan
kuantitas kapasitas produksi, memasarkan kemampuan dan keunggulan wilayah kepada
dunia usaha di luar wilayah melalui pameran produk.

6. Saran

Secara keseluruhan pengembangan ekonomi lokal seharusnya memiliki kekuatan dalam


pendekatan pembangunan yang bertumpu pada kemampuan lokal, keterkaitan pasar dan
keterkaitan antara desa-kota. Adanya upaya kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan
baik keterkaitan usaha hulu hilir maupun keterkaitan antara spasial desa kota akan meningkatkan
nilai tambah komoditas dan berkembangnya diversifikasi usaha. Hal ini akan memunculkan
pandangan strategis mengenai pengembangan wilayah melalui pengembangan ekonomi.

MAKALAH
“PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH”

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah
memberikan hikmat dan kemampuan sehingga makalah ini bisa terselesaikan. Adapun
tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi syarat untuk memperoleh nilaitugas
pada mata kuliah perencanaan pembangunan dengan judul “Pembangunan Ekonomi Daerah”
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah ini, dan secara khususpenulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah perencanaan pembangunan yang telah
banyak memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi penulis.
Dikarenakan pengetahuan yang terbatas, penyusun menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangannya, baik ditinjau dari segi materi maupun
dari segi tata bahasanya. Namun, penyusun telah berupaya dengan segalakemampuan dan
pengetahuan yang dimiliki untuk dapat menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Sekian
dan terimakasih.

Kupang, 21 November 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 tentang perubahan atas UU
Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi daerah, maka terjadi pula pergeseran dalam
pembangunan ekonomi yang tadinya bersifat sentralisasi (terpusat), sekarang mengarah kepada
desentralisasi yaitu dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk membangun
wilayahnya termasuk pembangunan dalam bidang ekonominya.
Dasar konseptual pembangunan daerah umumnya tidak dijelaskan secara eksplisit.
Pengertiannya lebih bermakna praktis (utilitarian), di mana pembangunan daerah di anggap
mampu secara efektif menghadapi permasalahan pembangunan di daerah. Pembangunan daerah
melalui mekanisme pengambilan keputusan otonomi diyakini mampu merespons permasalahan
aktual yang akan sering muncul dalam keadaan masih tingginya intensitas alokasi sumber daya
alam dalam pembangunan. Otonomi dalam administrasi pembangunan ini dirasakan makin
relevan sejalan dengan keragaman sosial dan ekologi (bio-social diversity) pada suatu wilayah.
Pengertian dan penerapan pembangunan daerah umumnya dikaitkan dengan kebijakan
ekonomi atau keputusan politik yang berhubungan dengan alokasi secara spasial dari kebijakan
pembangunan nasional secara keseluruhan. Dengan demikian, kesepakatan-kesepakatan nasional
menyangkut sistem politik dan pemerintahan, atau aturan mendasar lainnya, sangat menentukan
pengertian dari pembangunan daerah. Atas dasar alasan itulah pandangan terhadap pembangunan
daerah dari setiap negara akan sangat beragam. Singapura, Brunei, atau negara yang
berukuran kecil sangat mungkin tidak mengenal istilah pembangunan daerah. Sebaliknya
bagi negara besar, seperti Indonesia atau Amerika Serikat perlu menetapkan definisi-definisi
pembangunan daerah yang rinci untuk mengimplementasikan pembangunannya.
Dasar hukum penyelenggaraan pembangunan daerah bersumber dari Undang-Undang
Dasar (UUD) Negara RI 1945 Bab VI pasal 18. Hingga saat ini, implementasi formal pasal
tersebut terdiri tiga kali momentum penting, yaitu UU No 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
Pemerintahan di Daerah dan UU No 22 Tahun 1999 serta UU No 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah. Sebelum tahun 1974, bukan saja pembangunan daerah, pembangunan
nasional juga diakui belum didefinisikan dan direncanakan secara baik. Implementasi
pembangunan daerah berdasar UU No 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di
Daerah, terbukti sangat mendukung keberhasilan pembangunan nasional hingga Pelita VI tetapi
juga mampu secara langsung melegitimasi kepemimpinan Presiden Suharto. Sementara UU No
22 Tahun 1999 yang diperbaiki dengan UU No 32 Tahun 2004 lebih merupakan koreksi-koreksi
sistematis disebabkan oleh permasalahan struktural (sistemik) maupun dalam hal implementasi.
Maka dari itu kami mencoba membuat suatu pemaparan mengenai pembangunan daerah dalam
sebuah makalah yang berjudul “ Strategi Pembangunan Ekonomi Daerah ”.
1.2 Identifikasi Permasalahan
Permasalahan yang diangkat di dalam makalah ini adalah:
1. Perbedaan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi
2. Teori strategi pembangunan ekonomi
3. Strategi pembangunan ekonomi Indonesia
4. Pembangunan ekonomi daerah
5. Strategi pembangunan ekonomi daerah
1.3 Tujuan
Maksud dan tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Sistem Ekonomi Indonesia, serta untuk mengetahui strategi pembangunan ekonomi
daerah khususnya di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perbedaan Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi


Sebelum memberikan pemaparan yang lebih dalam mengenai strategi pembangunan
ekonomi daerah alangkah baiknya kita rinci terlebih dahulu apa yang di maksud dengan istilah
pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan
perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan
perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi
penduduk suatu Negara.
Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth);
pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan
ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi.
Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi
suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan Pendapatan Nasional Suatu negara
dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara
tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan
ekonomi.
Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat
kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang
dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan
produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input
pada berbagai sektor perekonomian seperti dalam lembaga,pengetahuan, sosial dan teknik.
Selanjutnya pembangunan ekonomi diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan
pendapatan perkapita penduduk meningkat dalam jangka panjang.

2.2 Teori Strategi Pembangunan Ekonomi


Strategi Penataan Kembali Indonesia yang diarahkan untuk menyelamatkan sistem
ketatanegaraan Republik Indonesia berdasarkan semangat, jiwa, nilai, dan konsensus dasar yang
melandasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi Pancasila; Undang-
Undang Dasar 1945 (terutama Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945) ; tetap tegaknya Negara
Kesatuan Republik Indonesia, dan tetap berkembangnya pluralisme dan keberagaman dengan
prinsip Bhineka Tunggal Ika.
Strategi Pembangunan Indonesia yang diarahkan untuk membangun Indonesia di segala
bidang yang merupakan perwujudan dari amanat yang tertera jelas dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 terutama dalam pemenuhan hak dasar rakyat dan penciptaan landasan
pembangunan yang kokoh.
Paradigma Pembangunan untuk semua dalam konteks Indonesia, menurut Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY), hanya dapat dilakukan dengan menerapkan enam strategi dasar
pembangunan.
a. Menerapkan strategi pembangunan yang inklusif, yang menjamin pemerataan dan keadilan,
serta mampu menghormati dan menjaga keberagaman rakyat Indonesia.
“Dalam kerangka pembangunan yang inklusif ini, pemerintah telah menjalankan berbagai
macam kebijakan. Di antaranya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)
Mandiri,” ujarnya.
b. Pembangunan Indonesia haruslah berdimensi kewilayahan.
c. Menciptakan integrasi ekonomi nasional dalam era globalisasi.
d. Pengembangan ekonomi lokal di setiap daerah, guna membangun ekonomi domestik yang kuat
secara nasional.
e. Adanya keserasian antara pertumbuhan dan pemerataan, atau Growth with Equity. Oleh sebab
itu, pemerintah menerapkan Program Keluarga Harapan (PKH), , BLT, Jamkesmas, BOS, dan
Kredit Usaha Kecil (KUR). “Strategi demikian juga merupakan koreksi atas kebijakan
pembangunan terdahulu, yang dikenal dengan trickle down effect,” ujarnya.
f. Adapun strategi yang terakhir adalah pembangunan yang menitik-beratkan pada kemajuan
kualitas manusianya. Manusia Indonesia bukan sekedar obyek pembangunan, melainkan justru
subyek pembangunan. Sumber daya manusia menjadi aktor dan sekaligus fokus tujuan
pembangunan, sehingga dapat dibangun kualitas kehidupan manusia Indonesia yang makin baik
2.3 Strategi Pembangunan Ekonomi di Indonesia
Sebelum orde baru strategi pembangunan di Indonesia secara teori telah diarahkan pada
usaha pencapaian laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun pada kenyataannya Nampak
adanya kecenderungan lebih menitik beratkan pada tujuan-tujuan politik, dan kurang
memperhatikan pembangunan ekonomi.
Sedangkan pada awal orde baru, strategi pembangunan di Indonesia labih diarahkan pada
tindakan pembersihan dan perbaikan kondisi ekonomi yang mendasar, terutama usaha untuk
menekankan laju yang sangat tinggi (hyper inflasi).
Dari keterangan pemerintah yang ada, dapat sedikit disimpulkan bahwa strategi
pembangunan di Indonesia tidak mengenal perbedaan strategi yang ekstrem. Sebagai contoh
selain strategi pemerataan pembangunan, Indonesia-pun tidak mengesampingkan stratei
pertumbuhan, dan strategi yang berwawasan ruang ( terbukti dengan dibaginya wilayah
Indonesia dengan berbagai wilayah pembangunan I,II, III dan seterusnya).
Strategi-strategi tersebut kemudian dipertegas dengan dtetapkannya sasaran-sasaran dan
titik berat setiap Repelita, yakni :
 Repelita I : meletakkan titik berat pada sector pertanian dan industry yang mendukung setor
pertanian meletakkan lendasan yang kuat bagi tehap selanjutnya.
 Repelita II : meletakkan titik berat pada sector pertanian dengan meningkatkan industry yang
mengolah bahan mentah menjadi bahan baku meletakkan landasan yang kuat bagi tahap
selanjutnya.
 Repelita III : meletakkan titik berat pada sector pertanian menuju swasembada pangan dan
meningkatkan industry yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi meletakkan landasan
yang kuat bagi tahap selanjutnya.
 Repelita IV : meletakkan titik berat pada sector pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha
menuju swasembada pangan dengan meningkatkan industry yang dapat manghasilkan mesin-
mesin industry sendiri, baik industry ringan yang akan terus dikembangkan dalam Repelita-
Repelita selanjtnya meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya.

2.4 Pembangunan Ekonomi Daerah


Sebelum menjelaskan tentang pembangunan ekonomi daerah, disini akan menjelaskan
terlebih dahulu tentang pengertian daerah (regional) itu sendiri, karena pengertian daerah dapat
berbeda-beda artinya tergantung pada sudut pandang melihatnya. Misalnya dari sudut hokum,
keamanan, kepemerintahan dan lain sebagainya. Namun kami dalam hal ini akan menjelaskan
pengertian daerah hanya melihat dari sudut pandang ekonominya saja.
Ditinjau dari sudut pandang ekonominya daerah mempunyai arti :
a) Suatu daerah dianggap sebagai raung dimana terdapat kegiatan ekonomi dan di dalam pelosok
ruang tersebut terdapat sifat-sifat yang sama, kesamaan sifat-sifat tersebut antara lain dari segi
pendapatan perkapita, sosia-budayanya, geografisnya dan lain sebagainya. Daerah yang memiliki
ciri-ciri seperti ini disebut daerah homogen.
b) Suatu daerah dianggap sebagai suatu ekonomi ruang apabila daerah tersebut dikuasai oleh sutu
atau beberapa pusat kegiatan ekonomi. Daerah dalam pengetian ini disebut sebagai daerah
modal.
c) Suatu daerah adalah suatu ekonomi ruang yang berada di bawah satu administrasi tertentu
seperti satu provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan lain sebagainya. Daerah ini didasarkan
pada pembagian administrative suatu Negara. Daerah dalam pengertian ini dinamakan daerah
adminitrasi.
Lincolin Arsyad (2000) memberikan pengertian pembangunan ekonomi daerah adalah
“sebagai proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-
sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kementrian antara pemerintah daerah dengan
sector swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan
kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut”.
Dalam pembangunan ekonomi daerah yang menjadi pokok permasalahannya adalah
terletak pada kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang
bersangkutan (endogenous) dengan menggunakan potensi sumber daya manusia, kelembagaan,
dan sumber daya fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarah pada pengambilan inisiatif-
inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk menciptakan
kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan ekonomi.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses yang mencakup pembentukan institusi-
institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang
ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih
pengetahuan dan teknologi, serta pengembangan usaha-usaha baru.
Tujuan utama dari setiap pembangunan ekonomi daerah adalah untuk meningkatkan
jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Untuk mencapai tujuan tersebut,
pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama mengambil inisiatif
pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah dengan partisipasi masyarakatnya, dengan
dukungan sumberdaya yang ada harus mampu menghitung potensi sumber daya-sumber daya
yang diperlukan untuk merancang dan membangun ekonomi daerahnya.

2.5 Strategi Pembangunan Ekonomi Daerah


Secara umum strategi pembangunan ekonomi adalah mengembangkan kesempatan kerja
bagi penduduk yan ada sekarang dan upaya untuk mencapai stabilitas ekonomi, serta
mengembangkan basis ekonomi dan kesempatan kerja yang beragam. Pembagunan ekonomi
akan berhasil bila mampu memenuhi kebutuhan dunia usaha. Hal ini untuk mengantisipasi
kemungkinan terjadinya fluktuasi ekonomi sektoral, yang pada akhirnya akan mempengaruhi
kesempatan kerja.
Lincolin Arsyad (2000) secara garis besar menggambarkan strategi pembangunan ekonomi
daerah dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu :
a) Strategi pengembangan fisik ( locality or physical development strategy)
Melalui pengembangan program perbaikan kondisi fisik/lokalitas daerah yang ditunjukkan
untuk kepentingan pembangunan isdustri dan perdagangan, pemerintah daerah akan berpengaruh
positif bagi pembangunan dunia usaha daerah. Secara khusus, tujuan strategi pembagunan fisik
ini adalah untuk menciptakan identitas masyarakat , dan memperbaiki daya tarik pusat kota
(civic center) dalam upaya memperbaiki dunia usaha daerah. Untuk mencapai tujuan
pembangunan fisik tersebut diperlukan alat-alatpendukung, yaitu :
 Pembuatan bank tanah (land banking), dengan tujuan agar memiliki data tentang tanah yang
kurang optimal penggunaannya, tanah yang belum dikembangkan,atau salah ddalam
penggunaannya dan lain sebagainya.
 Pengendalian perencanaan dan pembangunan, dengan tujuan untuk memperbaiki iklim investasi
di daerah dan meperbaiki citra pemerintah daerah.
 Penataan kota (townscaping), dengan tujuan untuk memperbaiki sarana jalan, penataan pusat-
pusat pertokoan, dan penetapan standar fisik suatu bangunan.
 Pengaturan tata ruang (zoning) dengan baik untuk merangsang pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi daerah.
 Penyediaan perumahan dan pemukiman yang baik akan berpengaruh positif bagi dunia usaha,
disamping menciptakan lapangan kerja.
 Penyediaan infrastruktur seperti : sarana air bersih, taman, sarana parkir, tempat olahraga dan
lain sebagainya.

b) Strategi pengembangan dunia usaha ( business development strategy)


Pengembangan dunia usaha merupakan komponen penting dalam pembangunan ekonomi
daerah, karena daya tarik, kerativitas atau daya tahan kegiatan ekonomi dunia usaha, adalah
merupakan cara terbaik untuk menciptakan perekonomian daerah yang sehat. Untuk mencapai
tujuan pembangunan fisik tersebut diperlukan alat-alat pendukung, antara lain :
 Penciptaan iklim usaha yang baik bagi dunia usaha, melalui pengaturan dan kebijakan yang
memberikan kemudahan bagi dunia usaha dan pada saat yang sama mencegah penurunan
kualitas lingkungan.
 Pembuatan informasi terpadu yanf dapat memudahkan masyarakat dan dunia usaha untuk
berhubungan dengan aparat pemerintah daerah yang berkaitan dengan perijinan dan informasi
rencana pembangunan ekonomi daerah.
 Pendirian pusat konsultasi dan pengembangan usaha kecil, karena usaha kecil perannya sangat
penting sebagai penyerap tenaga kerja dan sebagai sumber dorongan memajukan kewirausahaan.
 Pembuatan system pemasaran bersama untuk menghindari skala yang tidak ekonomis dalam
produksi, dan meningkatkan daya saing terhadap produk impor, seta sikap kooperatif sesama
pelaku bisnis.
 Pembuatan lembaga penelitian dan pengembangan litbang). Lembaga ini diperlukan untuk
melakukan kajian tentang pengembangan produk baru, teknologi baru,dan pencarian pasar baru.

c) Strategi pengembangan sumber daya manusia ( human resource development strategy)


Strategi pengembangan sumberdaya manusia merupakan aspek yang paling penting dalam
proses pembangunan ekonomi, oleh karena itu pembangunan ekonomi tanpa dibarengi dengan
peningkatan kualitas dan ketrampilan sumberdaya manusia adalah suatu keniscayaan.
Pengembangan kualitas seumberdaya manusia dapat dilakukan denganca cara :
 Pelatihan dengan system customized training, yaitu system pelatihan yang dirancang secara
khusus untuk memenuhi kebutuhan dan harapan sipemberi kerja.
 Pembuatan bank keahlian (skill banks), sebagai bank informasi yang berisi data tentang keahlian
dan latar belakang orang yang menganggur di penciptaan iklim yang mendukung bagi
perkembangan lembaga-lembaga pendidikan dan keterampilan di daerah.
 Pengembangan lembaga pelatihan bagi para penyandang cacat.

d) Strategi pengembangan masyarakat (community based development strategy)


Strategi pengembangan masyarakat ini merupakan kegiatan yang ditujukan untuk
memberdayakan (empowerment)suatu kelompok masyarakat tertentu pada suatu daerah.
Kegiatan-kegiatn ini berkembang baik di Indonesia belakangan ini, karena ternyata kebijakan
umum ekonomi yang tidak mampu memberikan manfaat bagi kelompok-kelompok masyarakat
tertentu.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk menciptakan manfaat social, seperti misalnya dengan
menciptakan proyek-proyek padat karya untuk memenuhi kebutuhan hidup atau untuk
memperoleh keuntungan dari usahanya.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Didalam melakukan pembangunan, setiap Pemerintaah Daerah memerlukan perencanaan
yang akurat serta diharapkan dapat melakukan evaluasi terhadap pembangunan yang
dilakukannya. Seiring dengan semakin pesatnya pembangunan bidang ekonomi, maka terjadi
peningkatan permintaan data dan indikator-indikator yang menghendaki ketersediaan data
sampai tingkat Kabupaten/Kota. Data dan indikator-indikator pembangunan yang diperlukan
adalah yang sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.
Menghadapi realitas kehidupan yang menunjukkan adanya kesenjangan kesejahteraan
mengakibatkan adanya pekerjaan berat kepada para ahli pembangunan termasuk di dalamnya
para pembuat kebijakan. Ini dimaksudkan untuk mengatasi berbagai persoalan yang muncul
akibat kesenjangan kesejahteraan, perlu dilakukan upaya pembangunan yang terencana.
Upaya pembangunan yang terencana dapat dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan
yang dilakukan. Lebih jauh lagi berarti perencanaan yang tepat sesuai dengan kondisi di suatu
wilayah menjadi syarat mutlak dilakukannya usaha pembangunan. Perencanaan pembangunan
memiliki ciri khusus yang bersifat usaha pencapaian tujuan pembangunan tertentu. Adapun ciri
dimaksud antara lain:
1. Perencanaan yang isinya upaya-upaya untuk mencapai perkembangan ekonomi
yang kuat dapat tercermin dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi positif.
2. Ada upaya untuk meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat.
3. Berisi upaya melakukan struktur perekonomian
4. Mempunyai tujuan meningkatkan kesempatan kerja.
5. Adanya pemerataan pembangunan.
3.2 Saran
Pembangunan daerah disertai dengan otonomi atau disebut juga otonomi daerah, sangat
relevan dengan pembangunan secara menyeluruh karena beberapa alasan.
 Bahwa pembangunan daerah sangat tepat diimplementasikan dalam mana perekonomian
mengandalkan kepada pengelolaan sumber-sumber daya publik (Common and public resources)
antara lain sektor kehutanan, perikanan, atau pengelolaan wilayah perkotaan.
 Pembangunan daerah meyakini mampu memenuhi harapan keadilan ek onomi bagi sebagian
banyak orang. Dengan otonomi daerah diharapkan dapat memenuhi prinsip bahwa yang
menghasilkan adalah yang menikmati, dan yang menikmati haruslah yang menghasilkan.
 Pembangunan daerah dapat menurunnya biaya-biaya transaksi ( transaction cost). Biaya
transaksi merupakan biaya total pembangunan yang dapat dipisahkan ke dalam biaya informasi ,
biaya yang melekat dengan harga komoditi, dan biaya pengamanan.
 Pembangunan daerah dapat meningkatnya domesticpurchasing power
Empat alasan yang dikemukakan di atas memiliki makna strategis dalam rangka
mengembangkan perekonomian di daerah utamanya di perdesaan. Hal tersebut bukan saja
disebabkan sumber permasalahan lebih banyak bertempat diperdesakan secara fisik, tetappi
sesungguhnya perdesaaan juga menyimpan nilai-nilai lokal yang perli diberi peluang untuk
berkembang memanfaatkan sumber-sumberdaya alam melalui otonomi daerah.
Itulah sebabnya menjadi penting bahwa pembangunan daerah memerlukan perencanaan
dan koordinasi yang terpadu, secara vertikal maupun horizontal, untuk mengantisipasi aliran
externality secara spasial maupun akumulatif. Dengan demikian, kebijakan dan program
pembangunan daerah yang disusun tidak hanya dapat memberi panduan yang terarah dan efisien
bagi pemecahan permasalahan tetapi lebiih jauh memberi jaminan akan keberlanjutan sistem
produksi dalam wilayah.

DAFTAR PUSTAKA

http://anaarisanti.blogspot.com/2010/06/strategi-pembangunan-ekonomi-daerah.html
http://www.elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/perekonomian_indonesia/bab2-
perkembangan_strategi_dan_perencanaan_pembangunan_ekonomi_indonesia.pdf

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/03/perkembangan-strategi-dan-perencanaan-
pembangunan-eko nomi-indonesia/

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/perekonomian_indonesia/bab2-
perkembangan_strategi_dan_perencanaan_pembangunan_ekonomi_indonesia.pdf
PEMBANGUNAN EKONOMI LOKAL
BAB 1 PENDAHULUAN
Setiap negara selalu berusaha mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap negara melaksanakan pembangunan
ekonomi. Salah satu ukuran berhasilnya pembangunan ekonomi adalah
pertumbuhan ekonomi. Hampir semua negara di dunia pasti melaksanakan
pembangunan ekonomi. Hal ini karena pembangunan ekonomi merupakan
upaya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan ekonomi lokal merupakan bagian dari pembangunan nasional,
pada hakekatnya adalah upaya terencana untuk meningkatkan kapasitas
pemerintahan daerah sehingga tercipta suatu kemampuan yang handal dan
profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarkat, serta
kemampuan untuk mengelola sumber daya ekonomi lokal daerah secara
berdaya guna dan barhasil guna untuk kemajuan perekonomian daerah dan
kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi lokal dilaksanakan melalui
pengembangan otonomi daerah dan pengaturan sumberdaya yang
memberikan kesempatan bagi terwujudnya tata kepemerintahan yang baik.
Pembangunan daerah juga merupakan upaya untuk memberdayakan
masyarakat di seluruh daerah sehingga tercipta suatu lingkungan yang
memungkinkan masyarakat untuk menikmati kualitas kehidupan yang lebih
baik, maju, tenteram, dan sekaligus memperluas pilihan yang dapat di
lakukan masyarakat bagi peningkatan harkat, martabat, dan harga diri.
Kemandirian ekonomi telah menjadi suatu keniscayaan atau tuntutan yang
harus segera diwujudkan. Menurut Swasono ketergantungan pada
keterdiktean oleh pihak luar-negeri digugat sebagai penyelewengan mendasar
dari cita-cita kemerdekaan nasional, sekaligus memperpuruk martabat,
prestise dan harga diri bangsa. Noorsy (2007) menggunakan istilah
perekonomian terjajah untuk membuat kontra istilah kemandirian ekonomi.
Lebih lanjut Noorsy (2007) menyatakan bahwa suatu perekonomian disebut
terjajah diukur lima indikator. Pertama, kepemilikan sumberdaya, produksi
dan distribusi. Kedua, bagaimana suatu bangsa memenuhi kebutuhan sektor
pangan, enerji, keuangan, dan infrastruktur. Ketiga, pasar domestik untuk
kebutuhan primer dan sekunder dipasok siapa dan siapa yang mendominasi.
Keempat, apakah suatu pemerintahan mempunyai kemerdekaan dan
kebebasan mengambil kebijakan ekonomi dan terlepas dari pengaruh
penguasa ekonomi dunia. Kelima, bagaimana sumber-sumber pendanaan
APBN, dan apakah APBN memberikan hak-hak ekonomi sosial budaya.
Berkaitan dengan perekonomian terjajah, Farhan (2012) menyatakan bahwa
dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI) lebih mirip kumpulan analisis tentang penawaran
terhadap barang mentah dan kekayaan alam Indonesia kepada investor asing.
Konsep pengembangan ekonomi lokal yang dikembangkan oleh Edward J.
Blakely merupakan sebuah kritik terhadap konsep-konsep pembangunan
ekonomi yang bersifat sektoral yang sempat digunakan sebagai strategi
pembangunan di sebagian besarnegara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurut Blakely, konsep pembangunan ekonomi tersebut mengabaikan
konteks kewilayahan dan partisipasi masyarakat lokal. Blakely
mengemukakan bahwa pembangunan ekonomi dan
penciptaan lapangan kerja akan lebih berhasil dan efektif jika disesuaikan
dengan kondisi dan potensi masing-masing wilayah atau komunitas. Solusi-
solusi yang bersifat umum dan global terhadap semua komunitas tidak akan
berhasil karena mengabaikan konteks kewilayahan dan partisipasi masyarakat
pada masing-masing komunitas atau wilayah. (Boulle et al, 2002)

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian, Tujuan, dan Perkembangan Ekonomi Lokal
A. Pengertian Pembangunan Ekonomi Lokal
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan
pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan
penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur
ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu
negara.
Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic
growth); pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan
sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan
ekonomi.
Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan
kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk
kenaikan pendapatan nasional. Suatu negara dikatakan mengalami
pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara
tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan
pembangunan ekonomi.
Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya
lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan
dan tingkat output produksi yang dihasilkan, sedangkan pembangunan
ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi
juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input
pada berbagai sektor perekonomian seperti dalam lembaga, pengetahuan
sosial, dan teknik.
Pembangunan ekonomi lokal adalah suatu proses dimana pemerintah daerah
dan masyarakat mengelola sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola
kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan
suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi
(pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut.
Masalah pokok dalam pembangunan ekonomi lokal adalah terletak pada
penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang berdasarkan
pada kekhasan daerah yang bersangkutan (endogenous development) dengan
menggunakan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan, dan sumberdaya
fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita kepada
pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses
pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang
kegiatan ekonomi.
Pembangunan ekonomi lokal suatu proses yaitu proses yang mencakup
pembentukan-pembentukan institusi baru, pembangunan industri-industri
alternatif, perbaikam kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan
produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu
pengetahuan, dan pengembangan perusahaan-perusahan baru.
B. Tujuan Pembangunan Ekonomi Lokal
Setiap upaya pembangunan ekonomi lokal daerah mempunyai tujuan utama
untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat
daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan tesebut, pemerintah daerah dan
masyarakat harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan
daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta daerah beserta partisipasi
masyarakatnya dan dengan dengan menggunakan sumberdaya yang ada harus
menafsir potensi sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan
membangun perekonomian daerah.
 Tujuan pembangunan ekonomi lokal
Tujuan pembangunan ekonomi lokal secara umum adalah untuk mewujudkan
masyarakat setempat yang sejahtera. Untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat tersebut, pembangunan harus diarahkan pada hal-hal berikut.
a. Meningkatkan persediaan dan pemerataan kebutuhan pokok masyarakat
setempat.
b. Meningkatkan taraf hidup termasuk menambah dan meningkatkan
pendapatan dan penyediaan lapangan kerja, pendidikan yang lebih baik,
peningkatan nilai-nilai budaya, serta martabat masyarakat setempat yang
nantinya akan berpengaruh terhadap bangsa.
c. Memperluas jangkauan pilihan ekonomi dan sosial masyarakat dengan
membebaskan dari perbudakan, ketergantungan, kebodohan dan penderitaan.
d. Mengatasi kesenjangan antar pelaku ekonomi antara pusat dan daerah
e. Untuk meningkatkan taraf hidup,kecerdasan,kesejahteraan masyarakat
yang semakin adil dan merata serta meletakkan landasan yang kuat untuk
pembangunan berikutnya.
f. Menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah
g. Meningkatkan kualitas pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat
h. Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk ikut serta
(berpartisipasi) dalam proses pembangunan.
i. Pada tahap awal pembangunan dititikberatkan pada bidang ekonomi
dengan harapan akan berpengaruh pada bidang lain.

C. Perkembangan Pembangunan Ekonomi Lokal


Indonesia merupakan salah satu negara dengan pemerintah yang mempunyai
peran penting untuk menjalankan dan mengatur ekonomi di negaranya
tersebut. Indonesia menggunakan sistem ekonomi yang berdasarkan ideologi
bangsa yaitu Pancasila dan UUD 1945 sebagai asas dalam menumbuhkan
ekonomi Indonesia yang menaruh keadilan , kemanusiaan, kebersamaan
untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Oleh sebab itu
Indonesia disebutkan sebagai salah satu negara yang termasuk memakai
sistem ekonomi campuran .
Setelah terjadinya peristiwa krisis moneter yang terjadi pada saat
pemerintahan Soeharto , membuat ekonomi Indonesia mengalami penurunan
yang drastis , seperti turunnya harga rupiah dan peningkatan inflasi yang
semakin tinggi. Pergantian pemerintahan pun dilakukan agar dapat
memulihkan krisis ekonomi yang terjadi. Selama beberapa dekade pergantian
pemerintahan sampai saat ini, ekonomi di Indonesia sudah menunjukkan
peningkatan dan perbaikan yang cukup baik, sedikit demi sedikit Indonesia
dapat meninggalkan krisis ekonomi tersebut .
Dilihat dari perkembangan ekonomi Indonesia antara tahun 2008 hingga
tahun 2010, laju pertumbuhan ekonomi seperti pertumbuhan GDP
menunjukkan indikator antara 4-6 %,laju inflasi diperketat dengan indikator
pada tahun 2010 berkisar antara 4-5%. Pada tahun 2008 laju pertumbuhan
PDB di beberapa sektor seperti sektor transportasi dan komunikasi
menunjukkan peningkatan dengan jumlah yang signifikan dibandingkan
sektor lainnya dengan persentase sebesar 16,7 % .
Angka kemiskinan semakin menurun baik di kota dan di desa ,yang semula
pada tahun 2008 sebesar 15,42 %, sedangkan pada tahun 2009 menurun
menjadi 14,15%. Lapangan pekerjaan terus diperluas dengan pencapaian
angka pengangguran pada tahun 2009 menurun menjadi 8,14% .
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah di luar Jawa, termasuk
minyak mentah, gas alam, timah, tembaga dan emas. Menjadikan Indonesia
sebagai eksportir terbesar kedua gas alam,. produk pertanian yang berlaku di
Indonesia termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah dan karet. Sumber daya
alam ini adalah aset untuk pengembangan ekspor Indonesia. Untuk
perkembangan ekspor pada tahun 2009 terjadi peningkatan pada ekspor
nonmigas sebesar 85,66 % dibandingkan dengan perkembangan import non
migas sebesar 82,10 %.
Dengan Sumber Daya Alam yang sangat melimpah di daerah-daerah tersebut,
pemerintah sudah seharusnya menggalakkan kegiatan perekonomian di luar
daerah-daerah pusat. Agar stabilitas dan kemakmuran masyarakat dapat
tercapai. Selain itu, dengan tidak hanya memusatkan kegiatan perekonomian
di daerah pusat diharapkan masyarakat di luar daerah pusat akan mampu
mengelola wilayah perekonomian yang nantinya akan dapat memperkuat
stabilitas daerah dan negara.

2.2 Peran Stakeholders dalam Pembangunan Ekonomi Lokal

Istilah stakeholder sudah sangat populer. Kata ini telah dipakai oleh banyak
pihak dan hubungannnya dengan berbagai ilmu atau konteks, misalnya
manajemen bisnis, ilmu komunikasi, pengelolaan sumberdaya alam,
sosiologi, dan lain-lain. Lembaga-lembaga publik telah menggunakan secara
luas istilah stakeholder ini ke dalam proses-proses pengambilan dan
implementasi keputusan. Secara sederhana, stakeholder sering dinyatakan
sebagai para pihak, lintas pelaku, atau pihak-pihak yang terkait dengan suatu
issu atau suatu rencana.
Pemangku kepentingan adalah perorangan dan kelompok yang secara aktif
terlibat dalam kegiatan, atau yang terkena dampak, baik positif maupun
negatif, dari hasil
pelaksanaan kegiatan. Secara garis besar, pemangku kepentingan dapat
dibedakan
atas tiga kelompok (Crosby 1992), yaitu:
1. Pemangku kepentingan utama, yakni yang menerima dampak positif atau
negatif (di luar kerelaan) dari suatu kegiatan.
2. Pemangku kepentingan penunjang, adalah yang menjadi perantara dalam
membantu proses penyampaian kegiatan. Mereka dapat digolongkan atas
pihak penyandang dana, pelaksana,pengawas, dan organisasi advokasi seperti
organisasi pemerintahan, LSM, dan pihak swasta. Dalam beberapa kegiatan,
pemangku kepentingan penunjang dapat merupakan perorangan atau
kelompok kunci yang memiliki kepentingan baik formal maupun informal.
3. Pemangku kepentingan kunci, yakni yang berpengaruh kuat atau penting
terkait dengan masalah, kebutuhan, dan perhatian terhadap kelancaran
kegiatan.
Dalam buku Cultivating Peace, Ramizes mengidentifikasi berbagai pendapat
mengenai stakeholder ini. Beberapa defenisi yang penting dikemukakan
seperti Freeman (1984) yang mendefenisikan stakeholder sebagai kelompok
atau individu yang dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh suatu
pencapaian tujuan tertentu. Sedangkan Biset (1998) secara singkat
mendefenisikan stekeholder merupakan orang dengan suatu kepentingan atau
perhatian pada permasalahan. Stakeholder ini sering diidentifikasi dengan
suatu dasar tertentu sebagaimana dikemukakan Freeman (1984), yaitu dari
segi kekuatan dan kepentingan relatif stakeholder terhadap issu, Grimble and
Wellard (1996), dari segi posisi penting dan pengaruh yang dimiliki mereka.

 Pemerintah Pusat
Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. Peran ideal pemerintah dalam
pembangunan adalah sebagai regulator, yaitu menyusun produk hukum.
Pembangunan membutuhkan payung hukum, landasan hukum, landasan
yuridis formal sampai landasan operasional. Mulai dari hulu (adanya
Bappenas dan sistem penganggaran) hingga hilir (peran pengendalian/
pengawasan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan nasional), pemerintah
dapat mengambil porsi yang dominan.
Pembangunan untuk kepentingan umum, pemerintah dapat bekerja sama
dengan pihak swasta (investor, pemodal), yang diikat dalam suatu bentuk
perjanjian kerjasama. Pelaksanaan APBN dengan sistem pengadaan
barang/jasa pemerintah.
Peranan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan terutama di negara-
negara berkembang atau Dunia Ketiga bekas jajahan harus benar-benar aktif
dan positif. karena pemerintah harus mempnyai sasaran utama bagi rakyatnya
terutama yang berkenaan denagn upaya meningkatkan taraf hidup atau
tingkat kemakmuran rakyatnya. Apalagi pemerintah mempunyai sumber daya
alam yang abnyak dan bernilai tinggi.karenanya pnjajah melakukan
penjajahan di banyak Negara terbelakang yang kaya akan sumber daya
alamnya.
Dalam zaman yang segalanya serba global,peranan pemerintah untuk
melakukan pembangunan ekonomi khususnya merupakan kunci menuju
masyarakat yang lebih makmur.bahkan pada waktunya diharapkan bisa
menjadi Negara yang maju/industry. Masalah Negara terbelakang atau
Negara berkembang begitu besarnya dan masalah itu tidak bias diserahkan
begitu saja pada mkanisme bebas kekuatan-kekuatan ekonomi.
Untuk itu dalam upaya menyeimbangkan pertumbuhan berbagai sector
perekonomian hingga penawaran harus sesuai dengan permintaan. Untuk itu
dibutuhkan pengawasan dan pengaturan oleh Negara atau pemerintah dalam
upaya mencapai pertumbuhan yang seimbang.karena kesimbangan
membutuhkan suatu pengawasan terhadap produksi,distribusi dan konsumsi
komoditas. Untuk itu pemerintah harus membuat suatu rencana pengawasan
fisik serta langkah-langkah fiscal dan moneter yang perlu dilakukan.
Langkah-langkah tersebut tidak dapat dihindarkan dalam upaya mengurangi
ketidak seimbangan ekonomi dan social yang mengancam Negara
berkembang.mengatasi perbedaan social dan menciptakan psikologis,
ideology, social, dan politik yang menguntungkan bagi pembangunan
ekonomi menjadi tugas penting pemerintah.
Oleh karena itu ruang lingkup tindakan pemerintah sangat luas dan
menyeluruh. Menurut Arthur Lewis lingkup itu menyangkut masalah :
• Penyelenggaraan pelayanan umum
Di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia, kesejahteraan
masyarakat sangat tergantung pada kemampuan mereka dalam mengakses
dan menggunakan pelayanan publik, akan tetapi permintaan akan pelayanan
tersebut umumnya jauh melebihi kemampuan pemerintah untuk dapat
memenuhinya.Sebaliknya, pemusatan segala urusan publik hanya kepada
negara, pada kenyataannya hanya sebuah retorika, sebab urusan pelayanan
publik yang demikian kompleks, mustahil dapat dikerjakan semua hanya oleh
pemerintah. Tujuan akhir dari pelayanan publik adalah terciptanya tatanan
kehidupan masyarakat yang berdaya untuk mengurus persoalannya masing-
masing
 Koperasi
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan
hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip
koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas
kekeluargaan. Koperasi bertujuan untuk menyejahterakan anggotanya.

Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa fungsi


dan peran koperasi sebagai berikut:
• Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi
anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan
kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
• Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan
manusia dan masyarakat.
• Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko-gurunya.
• Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional,
yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan
demokrasi ekonomi.
• Mengembangkan kreativitas dan membangun jiwa berorganisasi bagi para
pelajar bangsa

 Pemerintah Daerah
Peranan Pemerintah Daerah dalam pembangunan ekonomi lokal antara lain :
a. Perluasan kesempatan, ditujukan menciptakan kondisi dan lingkungan
ekonomi, politik dan sosial yang memungkinkan masyarakat miskin dapat
memperoleh kesempatan dalam pemenuhan hak-hak dasar dan peningkatan
taraf hidup secara berkelanjutan.
b. Pemberdayaan masyarakat, dilakukan untuk mempercepat kelembagaan
sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat dan memperluas partisipasi
masyarakat miskin dalam pengambilan keputusan kebijakan publik yang
menjamin kehormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak dasar.
c. Peningkatan kapasitas, dilakukan untuk pengembangan kemampuan dasar
dan kemampuan berusaha masyarakat miskin agar dapat memanfaatkan
perkembangan lingkungan.
d. Perlindungan sosial, dilakukan untuk memberikan perlindungan dan rasa
aman bagi kelompok rentan (perempuan kepala rumah tangga, fakir miskin,
orang jompo, anak terlantar, kemampuan berbeda (penyandang cacat) dan
masyarakat miskin, baik laki-laki maupun perempuan, yang disebabkan
antara lain oleh bencana alam, dampak negatif krisis ekonomi, dan konflik
sosial.
e. Kemitraan regional, dilakukan untuk pengembangan dan menata ulang
hubungan dan kerjasama lokal, regional, nasional dan internasional guna
mendukung pelaksanaan keempat strategi di atas.

 Masyarakat/ Kelompok Masyarakat


bertindak sebagai pemberi ide/ masukan, pembangun, mitra. Mereka dapat
memantau/mengawasi dan meminta pertanggungjawaban pelaku lainnya.
Kelompok masyarakat sangat penting bagi perubahan yang demokratis
menuju ekonomi hijau.

 Swasta
Perusahaan-perusahaan swasta tersebut sangat memberikan peran penting
bagi perekonomian lokal. Peran yang diberikan swasta dalam pembangunan
ekonomi lokal, antara lain.
a. Membantu meningkatkan produksi.
b. Menciptakan kesempatan dan lapangan kerja baru.
c. Membantu pemerintah dalam usaha pemerataan pendapatan.
d. Membantu pemerintah mengurangi pengangguran.
e. Menambah sumber devisa bagi pemerintah.
f. Meningkatkan sumber pendapatan negara melalui pajak.
g. Membantu pemerintah memakmurkan masyarakat setempat dan bangsa.
2.3 Fokus Pembangunan Ekonomi Lokal
Fokus dari pembangunan ekonomi lokal adalah untuk menciptakan dan
mengelola proses multi-pihak yang terjadi dalam perekonomian perkotaan
lokal dan regional. Kawasan dan daerah dihadapkan dengan dua tren walikota
dalam arah yang berlawanan: internasionalisasi dan desentralisasi.
Internasionalisasi memperburuk interaksi antara global dan tingkat lokal,
namun beroperasi secara selektif. Ini hanya mencakup aktor yang
berpartisipasi dalam jaringan di mana daya saing drive konstan transformasi
dan restrukturisasi. Desentralisasi merupakan sarana untuk mengatasi
kompleksitas dan reaksi terhadap tuntutan yang berkembang untuk respon
yang lebih besar dan keberlanjutan oleh warga negara, klien dan konsumen.
Kedua tren telah mengubah cara di mana stakeholder berhubungan satu sama
lain dalam perekonomian lokal dan regional. Kompetisi dan kerjasama yang
dicampur dalam hubungan antara perusahaan, antara perusahaan dan negara
dan aktor non-negara. Perhatian pemerintahan pusat untuk pembangunan
ekonomi lokal yang berkelanjutan adalah untuk menciptakan sinergi antara
kebijakan dan intervensi dari bisnis, negara dan aktor non-negara atau civic.
Ini datang bersama sekitar peluang khusus bagi pengembangan ekonomi
lokal untuk usaha kecil dan menengah.
Salah satu kelemahan perekonomian Indonesia saat ini adalah lemahnya
integritas struktur internal perekonomian domestik, terbukti dari timpangnya
perimbangan kontribusi/tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah.
Apabila pemerintah fair dalam hal perimbangan partisipasi/kontribusi pusat-
daerah, boleh jadi gejolak eksternal akan tetap menjalar ke domestik, namun
dengan daya-hempang yang lebih lama dan lebih kuat bertahan tentunya
dibanding kondisi kontribusi yang timpang.
Fokus pengembangan ekonomi daerah yang berorientasi jangka menengah
dan panjang akan berpotensi memberikan efek multiplier yang signifikan
bagi perekonomian nasional. Berdasarkan data Bappenas, potensi kontribusi
pembangunan di daerah akan dapat menggerakan 60% perekonomian
nasional. Ini sangat signifikan dan peran pembangunan di daerah ini akan
sangat menentukan kesuksesan perekonomian negara. Pertumbuhan ekonomi
nasional tidak akan maksimal jika kontribusi daerah belum dioptimalkan.
Revisi turun pertumbuhan ekonomi saat ini lebih disebabkan perbedaan
dalam pengambilan keputusan serta perumusan kebijakan antara pemerintah
pusat vs daerah perihal perimbangan partisipasi serta kontribusi keduanya
bagi perekonomian secara agregat.
Ada elemen dalam tim perumus kebijakan perekonomian di pemerintahan
yang sangat mendukung dan berharap pengembangan ekonomi daerah agar
segera digalakkan. Di sisi yang berbeda, ada juga elemen yang sangat kukuh
dalam mengutak-atik ranah fiskal-moneter di tingkat pusat dengan harapan
dapat mengatasi tantangan perekonomian yang dihadapi saat ini. Tarik-ulur
pusat vs daerah ini akan terus berlangsung selama “conflicting interest” yang
mewakili “different agenda” masih ada dalam tubuh tim perumus kebijakan
ekonomi nasional.
2.4 Pentingnya Pembangunan Ekonomi Lokal
Pembangunan pada awalnya diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi,
sehingga persepsi ini melahirkan pemahaman akan perlunya tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu suatu negara dikatakan
berhasil melaksanakan pembangunan, bila pertumbuhan ekonomi masyarakat
tersebut cukup tinggi. Untuk mengukur tingkat pertumbuhan ekonomi, maka
yang diukur adalah tingkat produktivitas negara tersebut setiap tahunnya.
Secara ekonomi ukuran produktivitas ini menggunakan Produk Nasional
Bruto atau Gross National Product (GNP) dan Produk Domestik Bruto atau
Gross Domestic Product (GDP).
Syarat utama dalam pembangunan adalah adanya Pemerintahan dan Rakyat.
Pembangunan tergantung pada Pemerintah dan rakyat. Pembangunan tidak
dapat berjalan apabila hanya salah satu yang menjalankan. Sehingga
pembangunan pada dasarnya adalah dari rakyat untuk rakyat. Rakyat yang
berdaulat, maka sudah sewajarnya rakyat pulalah yang menikmati hasil-hasil
pembangunan.
Pembangunan yang hanya dijalankan oleh satu pihak atau dipaksakan, artinya
tanpa melibatkan rakyat dalam arti sebenarnya bukanlah model pembangunan
yang ideal. Pembangunan semacam ini dapat terjadi, namun dalam kondisi
dimana sistem Pemerintahannya adalah diktator. Model pembangunan
diktator hanya akan melahirkan penderitaan dan kesengsaraan rakyatnya,
oleh karena itu model pembangunan yang seimbang atau ideal adalah model
pembangunan dengan melibatkan dan didukung penuh rakyat. Dukungan ini
dalam bentuk partisipasi. Jika pembangunan hanya dilakukan oleh
Pemerintah, yaitu mengandalkan sepenuhnya Pemerintah, maka dapat
dipastikan pembangunan tidak akan mencapai sasaran yang diinginkan, oleh
karena itu peran serta masyarakat menjadi sangat penting.
Penduduk merupakan aset dalam pembangunan, mengingat penduduk
sebagai suatu agent of development, sehingga tidaklah berlebihan bila
dikatakan berhasil tidaknya pembangunan ditentukan oleh sikap penduduk
selama proses pembangunan berlangsung.
Manfaat pembangunan bagi suatu negara haruslah dirasakan oleh seluruh
masyarakat. Artinya, bahwa pembangunan tidak hanya untuk segelintir orang
saja atau kelompok tertentu, tetapi harus dapat dinikmati oleh semua lapisan
dalam masyarakat. Adapun manfaat yang dapat ditimbulkan akibat adanya
pembangunan adalah sebagai berikut :
1. Tingkat produksi meningkat
Pembangunan adalah suatu proses kenaikan Gross Domestic Product (GDP).
Konsep GDP secara makro adalah sama dengan out put atau produksi, yaitu
produksi barang dan jasa. Dengan adanya pembangunan, maka perekonomian
akan mengalami perkembangan, yaitu ditandai dengan adanya peningkatan
akan produk barang dan jasa suatu negara.

2. Adanya berbagai alternatif kemudahan


Dengan adanya out put yang meningkat, akan menjadikan masyarakat
semakin terbuka untuk melakukan berbagai pilihan-pilihan. Kebebasan ini
tentu sangat menguntungkan, karena masyarakat punya kesempatan untuk
melakukan hal-hal yang disukainya. Kemudahan dalam membeli barang
misalnya atau kemudahan dalam memilih sarana transportasi yang
disukainya. Semua itu merupakan suatu alternatif yang harus
dipertimbangkan oleh masyarakat.
3. Terdapat perubahan pada aspek sosial, ekonomi, dan politik
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang terjadi dalam jangka
panjang. Pembangunan bukanlah sesuatu yang terjadi dalam sekejap, akan
tetapi melalui suatu proses yang berkesinambungan. Perubahan-perubahan
yang terjadi akibat pembangunan tidak saja secara fisik tetapi juga akan
membawa perubahan di bidang sosial. Ekonomi dan politik. Di bidang sosial,
terjadinya pergeseran-pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, seperti
wawasan atau pandangan masyarakat tentang ilmu pengetahuan, cara berpikir
yang lebih rasional. Perubahan di bidang ekonomi jelas terjadi, yaitu adanya
kenaikan tingkat pendapatan masyarakat, meningkatkan laju pertumbuhan
ekonomi. Di bidang politik, semakin terbukanya pemahaman akan demokrasi
dan sistem politik yang lebih adil.
4. Meningkatnya akan nilai-nilai kebersamaan
Apabila pembangunan ekonomi yang dijalankan oleh suatu negara berhasil,
maka masyarakat negara tersebut relatif sudah makmur. Karena kebutuhan
dirinya sudah terpenuhi, sebagai kompensasi mereka mulai memperhatikan
lingkungan sekitar. Pada taraf dimana kesejahteraan sudah begitu tingginya,
ada suatu kecenderungan mereka mulai mempertentangkan masalah-masalah
yang berhubungan dengan keadilan terutama masalah akan hak asasi manusia
(HAM).
5. Tingkat kesejahteraan penduduk meningkat
Pembangunan ekonomi yang diwujudkan dalam bentuk pertumbuhan
ekonomi yang tinggi, yang berarti pula tingkat produksi tinggi, akan
mengakibatkan perekonomian masyarakat berkembang. Perkembangan ini
secara tidak langsung dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, yang
tadinya tidak bekerja kemudian bekerja yang dengan sendirinya dapat
mengurangi tingkat pengangguran. Dengan meningkatkan pendapatan ini
maka, kesejahteraan penduduk secara otomatis juga mengalami peningkatan.
BAB 3 PENUTUP
Secara sederhana pembangunan adalah perubahan yang berguna menuju
suatu suatu system social dan ekonomi yang diputuskan sebagai kehendak
suatu bangsa, (Rogers, 1985:2).
Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses pembangunan yang terjadi
terus-menerus yang bersifat dinamis. Apapun yang dilakukan, hakikat dari
sifat dan proses pembangunan itu mencerminkan adanya terobosan yang
baru, jadi bukan merupakan gambaran ekonomi suatu saat saja.
Pembangunan ekonomi berkaitan pula dengan pendapatan perkapita riil, di
sini ada dua aspek penting yang saling berkaitan yaitu pendapatan total atau
yang lebih banyak dikenal dengan pendapatan nasional dan jumlah
penduduk. Pendapatan perkapita berarti pendapatan total dibagi dengan
jumlah penduduk.
Pembangunan ekonomi lokal adalah suatu proses saat pemerintah daerah dan
masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan selanjutnya membentuk
suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk
menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan
kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut.
Pentingnya pembangunan ekonomi lokal, yaitu :
1. Pembangunan ekonomi masa lalu telah menimbulkan kesenjangan
ekonomi antar daerah semakin melebar. Konsentrasi industrialisasi di
beberapa daerah di pulau Jawa ternyata tidak mampu menarik/menghela
(driven) ekonomi daerah-daerah lain (sebagai periphery) ke arah yang lebih
maju. . Bahkan membuat kesenjangan ekonomi antar daerah semakin
melebar.
2. Perubahan struktur ekonomi nasional pada masa lalu tidak mengakar pada
perekonomian daerah,terutama daerah luar-luar jawa.Ini berarti bahwa
pertumbuhan ekonomi nasional sebagai buah dari perubahan struktur
ekonomi nasional tidak dikontribusikan secara optimal oleh perekonomian
daerah

Contoh Makalah Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Menurut Undang-undang Kepegawaian Nomor 43 Tahun 1999, Pegawai Negeri Sipil (PNS)
selaku aparatur pemerintah memiliki kewajiban untuk bertugas memberikan pelayanan kepada
masyarakat secara professional. Selaku pelayan masyarakat, PNS harus memberikan pelayanan yang
terbaik atau prima kepada penerima pelayanan tanpa pandang bulu. Jadi PNS berkewajiban
memberikan pelayanan atau melayani, bukan minta dilayani. Dari dasar inilah penyelenggaraan
pelayanan terpadu satu pintu sangat dibutuhkan.

Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP) berkaitan dengan kegiatan


penyelenggaraan jasa perizinan dan non-perizinan, yang proses pengelolaannya di mulai dari tahap
permohonan sampai ke tahap penerbitan ijin dokumen, dilakukan secara terpadu dalam satu tempat.

Pelayanan perizinan dengan sistem terpadu satu pintu (one stop service) ini membuat waktu
pembuatan izin menjadi lebih singkat. Pasalnya, dengan pengurusan administrasi berbasis teknologi
informasi, input data cukup dilakukan sekali dan administrasi bisa dilakukan simultan.

Dengan adanya kelembagaan pelayanan terpadu satu pintu, seluruh perizinan dan
nonperizinan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota dapat terlayani dalam satu lembaga. Harapan
yang ingin dicapai adalah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi dengan
memberikan perhatian yang lebih besar pada peran usaha mikro, kecil, dan menengah.

Tujuannya adalah meningkatkan kualitas layanan publik. Oleh karena itu, diharapkan terwujud
pelayanan publik yang cepat murah, mudah, transparan, pasti, dan terjangkau, di samping untuk
meningkatkan hak-hak masyarakat terhadap pelayanan publik.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan pelayanan terpadu satu pintu ?

2. Apa saja asas-asas penyelenggaraan pelayanan public satu pintu ?

3. Bagaimana kebijakan PTSP jika didasarkan pada pendekatan system ?

4. Apa saja kendala dalam pembentukan PTSP ?

C. TUJUAN PENULISAN

1. Menjelaskan yang dimaksud dengan pelayanan terpadu satu pintu

2. Menjabarkan dan menjelaskan asas-asas pelayanan public satu pintu

3. Menjelaskan kebijakan PTSP jika didasarkan pada pendekatan system.

4. Menggambarkan kendala dalam pembentukan PTSP.

BAB II

KAJIAN TEORI

A. PELAYANAN

Secara etimologis, pelayanan ialah ”usaha melayani kebutuhan orang lain”. Pelayanan pada
dasarnya adalah kegiatan yang ditawarkan kepada konsumen atau pelanggan yang dilayani, yang
bersifat tidak berwujud dan tidak dapat dimiliki.
Pengertian lebih luas disampaikan Daviddow dan Uttal (Sutopo dan Suryanto, 2003:9) bahwa
pelayanan merupakan usaha apa saja yang mempertinggi kepuasan pelanggan.

Pelayanan publik yang dimaksud dalam Keputusan Menpan Nomor 63 Tahun 2003 (Menpan,
2003:2) adalah ”segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik
sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan
perundang-undangan.” Sejalan dengan Rancangan Undang Undang Pelayanan Publik (Republik
Indonesia, 2007:2) memaknai bahwa ”pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan dasar sesuai dengan hak-hak sipil setiap warga negara dan penduduk
atas suatu barang, jasa, dan atau pelayanan administrasi yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan
publik.”

B. PUBLIK

Publik pada dasarnya berasal dari bahasa Inggris “public” yang berarti umum, rakyat umum,
orang banyak dan rakyat. Nampaknya kata “publik” diterjemahkan oleh beberapa kalangan berbeda-
beda sebagaimana kepentingan mereka. Berikut beberapa defenisi menurut para ahli

Syafie dkk, ,mengatakan bahwa pubik adalah sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan
berpikir, perasaan, harapan, sikap dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang
mereka miliki.

H. George Fredrickson, menjelaskan konsep “public” dalam lima perspektIf, yaitu (1) public
sebagai kelompok kepentingan, yaitu public dilihat sebagai manifestasi dari interaksi kelompok yang
melahirkan kepentingan masyarakat, (2) public sebagai pemilih yang rasional, yaitu masyarakat terdiri
atas individu- individu yang berusaha memenuhi kebutuhan dan kepentingan sendiri, (3) public sebagai
perwakilan kepentingan masyarakat, yaitu kepentingan public diwakili melalui suara (4) public sebagai
konsumen, yaitu konsumen sebenarnya tidak terdiri dari individu-individu yang tidak berhubungan satu
sama lain, namun dalam jumlah yang cukup besar mereka menimbulkan tuntutan pelayanan birokrasi.
Karena itu posisinya dianggap juga dianggap sebagai public, dan (5) public sebagai warga Negara dalam
seluruh proses penyelenggaraan pemerintahan dipandang sebagai sesuatu yang paling penting.

C. PELAYANAN PUBLIK
Pelayanan public menurut Sinambela adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah
terhadap sejumlah manusia yang memiliki setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan
atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara
fisik.

Agung Kurniawan mengatakan pelayanan publik adalah pemberian pelayanan (melayani)


keperluan orang lain atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan
aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.

Jadi, Pelayanan publik dapat diartikan sebagai pemberian layanan(melayani) keperluan orang atau
masyarakat yang mempunyaikepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dantata cara
yang telah ditetapkan.

BAB III

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU

Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP) adalah kegiatan penyelenggaraan jasa
perizinan dan non-perizinan, yang proses pengelolaannya di mulai dari tahap permohonan sampai ke
tahap penerbitan ijin dokumen, dilakukan secara terpadu dalam satu tempat.

Dengan konsep ini, pemohon cukup datang ke satu tempat dan bertemu dengan petugas front
office saja. Hal ini dapat meminimalisasikan interaksi antara pemohon dengan petugas perizinan dan
menghindari pungutan-pungutan tidak resmi yang seringkali terjadi dalam proses pelayanan.
Pembentukan Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP) pada dasarnya
ditujukan untuk menyederhanakan birokrasi pelayanan perizinan dan non-perizinan dalam bentuk :

1. Mempercepat waktu pelayanan dengan mengurangi tahapan-tahapan dalam pelayanan yang kurang
penting. Koordinasi yang lebih baik juga akan sangat berpengaruh terhadap percepatan layanan
perizinan.

2. Menekan biaya pelayanan izin usaha, selain pengurangan tahapan, pengurangan biaya juga dapat
dilakukan dengan membuat prosedur pelayanan serta biaya resmi menjadi lebih transparan.

3. Menyederhanakan persyaratan izin usaha industri, dengan mengembangkan sistem pelayanan paralel
dan akan ditemukan persyaratan-persyaratan yang tumpang tindih, sehingga dapat dilakukan
penyederhanaan persyaratan. Hal ini juga berdampak langsung terhadap pengurangan biaya dan waktu.

Pelayanan perizinan dengan sistem terpadu satu pintu (one stop service) ini membuat waktu
pembuatan izin menjadi lebih singkat. Pasalnya, dengan pengurusan administrasi berbasis teknologi
informasi, input data cukup dilakukan sekali dan administrasi bisa dilakukan simultan.

Dengan adanya kelembagaan pelayanan terpadu satu pintu, seluruh perizinan dan
nonperizinan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota dapat terlayani dalam satu lembaga. Harapan
yang ingin dicapai adalah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi dengan
memberikan perhatian yang lebih besar pada peran usaha mikro, kecil, dan menengah.

Tujuannya adalah meningkatkan kualitas layanan publik. Oleh karena itu, diharapkan terwujud
pelayanan publik yang cepat murah, mudah, transparan, pasti, dan terjangkau, di samping untuk
meningkatkan hak-hak masyarakat terhadap pelayanan publik.

Bentuk pelayanan terpadu ini bisa berbentuk kantor, dinas, ataupun badan. Dalam
penyelenggaraannya, bupati/wali kota wajib melakukan penyederhanaan layanan meliputi :

1. pelayanan atas permohonan perizinan dan non perizinan dilakukan oleh Penyelenggaraan Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (PPTSP);

2. percepatan waktu proses penyelesaian pelayanan tidak melebihi standar waktu yang telah ditetapkan
dalam peraturan daerah;

3. kepastian biaya pelayanan tidak melebihi dari ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah;
4. kejelasan prosedur pelayanan dapat ditelusuri dan diketahui setiap tahapan proses pemberian perizinan
dan non perizinan sesuai dengan urutan prosedurnya;

5. mengurangi berkas kelengkapan permohonan perizinan yang sama untuk dua atau Lebih permohonan
perizinan;

6. pembebasan biaya perizinan bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ingin memulai usaha baru
sesuai dengan peraturan yang berlaku; dan

7. pemberian hak kepada masyarakat untuk memperoleh informasi dalam kaitannya dengan
penyelenggaraan pelayanan Lingkup tugas PPTSP meliputi pemberian pelayanan atas semua hentuk
pelayanan perizinan dan non perizinan yang menjadi kewenangan Kabupaten / Kota.

Selain itu PPTSP mengeiola administrasi perizinan dan non perizinan dengan mengacu pada
prinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan kearnanan berkas. Dalam pengertian sempit, pelayanan
terpadu dapat berarti sebagai satu instansi pemerintah yang memiliki semua otoritas yang diperlukan
untuk memberi pelbagai perizinan (licenses, permits, approvals dan clearances).

Tanpa otoritas yang mampu menangani semua urusan tersebut instansi pemerintah tidak dapat
mengatur pelbagai pengaturan selama proses. Oleh sebab itu, dalam hal ini instansi tersebut tidak dapat
menyediakan semua bentuk perizinan yang diperlukan dalam berbagai tingkat administrasi, sehingga
harus bergantung pada otoritas lain.

B. ASAS PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK SATU PINTU

Asas dalam penyelenggaraan pelayanan publik satu pintu yaitu :

1. Transparan, yaitu bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan
disediakan secara memadai serta mudah dimengerti oleh usaha jasa.

2. Akuntabel, yaitu dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

3. Partisipatif, yaitu mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan perizinan
dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan masyarakat.Salah satu contoh dengan
menggunakan jasa urus perijinan yang resmi
4. Kesamaan hak, yaitu tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan,
gender, dan status ekonomi.Dan juga warga yang ingin memiliki surat ijin membangun bangunan

5. Efisien, yaitu proses pelayanan perizinan pariwisata hanya melibatkan tahap-tahap yang penting dan
melibatkan personil yang telah di tetapkan.

6. Keseimbangan antara Hak dan Kewajiban, yaitu pemberi dan penerima pelayanan perizinan harus
memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak.

7. Profesional, pemprosesan perizinan melibatkan keahlian yang diperlukan, baik untuk validasi
administratif, verifikasi lapangan, pengukuran dan penilaian kelayakan, yang masing-masing prosesnya
dilaksanakan berdasarkan tata urutan dan prosedur yang telah ditetapkan

C. KEBIJAKAN PTSP BERDASARKAN PENDEKATAN SISTEM

Bagaimana seharusnya kebijakan pelayanan terpadu satu pintu dilaksanakan? Di bawah ini
akan diuraikan mulai dari pembentukan, pelaksanaan, dan monitoring/evaluasi kebijakan pelayanan
terpadu satu pintu berdasarkan pada pendekatan sistem. Sebelum sampai pada bagaimana membentuk
pelayanan terpadu satu pintu, kiranya ada baiknya terlebih dahulu ditinjau mengenai sifat dari
pelayanan terpadu itu sendiri yang dalam gambar 1 terdapat dalam kotak identifikasi sistem, sehingga
memudahkan untuk melangkah ke jenjang selanjutnya yaitu pemodelan sistem.

1. Pembentukan

Dalam pelayanan umum dikenal adanya (1) model pelayanan pembagian dan (2) model pelayanan
terpadu. Model pertama adalah model pembagian ditandai dengan pelayanan yang diberikan oleh
masing-masing sektor/dinas sesuai kewenangannya. Dengan model ini masyarakat aktif mendatangi
instansi yang berwenang. Apabila diperlukan beberapa izin untuk melakukan kegiatan penanaman
modal, maka masyarakat mendatangi satu persatu instansi yang bersangkutan. Model pembagian ini
merupakan model lama yang dijalankan di instansi pemerintah.

Model kedua adalah model pelayanan terpadu. Model ini mulai diterapkan di beberapa daerah. Secara
umum model ini diterapkan melalui pembentukan unit palayanan satu atap/pintu sebagai satu unit
tersendiri dengan mengambil alih beban kerja pelayanan umum instansi sektoralnya, mulai dari
pekerjaan administratif sampai dengan pemeriksaan substantif permohonan izin.
Pada kedua model pelayanan tersebut terdapat kebaikan dan keburukan. Pada model pelayanan
pembagian, pelayanan cenderung tertutup dan kurang transparan. Pada model ini masyarakat sulit
memantau proses permohonan izin, biasanya tidak ada standar baku mengenai lamanya waktu
pelayanan dan biayanya. Model ini kondusif bagi praktek kolusi dan korupsi. Kebaikan model ini adalah
instansi pemberi izin tidak perlu berkoordinasi atau mempertimbangan instansi terkait yang lain dalam
memberikan izin. Apabila aparat di dalamnya berorientasi pada pelayanan prima maka pelayanan dapat
diberikan dengan cepat.

Pada model terpadu, pelaksanaannya seringkali ditentang oleh instansi yang berwenang memberikan
izin. Di Indonesia seringkali suatu pekerjaan dianggap sebagai tambahan penghasilan bagi aparat yang
mengerjakannya. Dengan asumsi itu, apabila pekerjaan pemberian izin dialihkan unit kerja terpadu
maka aparat yang bersangkutan merasa penghasilannya beralih juga. Pola terpadu ini cenderung
transparan.

Kebaikan dari model ini kemudahan bagi masyarakat dalam mengurus izin. Disamping melayani
perizinan, model pelayanan terpadu dapat dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah daerah untuk
memberikan semua informasi yang dibutuhkan masyarakat. Melalui pelayanan terpadu dengan seluruh
kelengkapannya, pengurusan perizinan usaha akan menjadi mudah dan murah yang membuat pelaku
usaha terhindar dari biaya ekonomi tinggi dan waktu yang lama yang biasanya terjadi pada saat proses
pengurusan izin.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui latar belakang pembentukan pelayanan terpadu sehingga
kita dapat mengetahui filosofi dan latar belakang mengapa lembaga pelayanan itu dibentuk. Namun
demikian, saat ini bukan waktunya untuk memilih. Pelayanan satu pintu penanaman modal berdasarkan
peraturan perundang-undangan merupakan keharusan. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana
memaksimalkan kinerja lembaga itu, bagi yang telah terbentuk dan membentuknya bagi yang belum
membentuk.

Untuk membentuk Pelayanan Terpadu Satu Pintu perlu juga diperhatikan Peraturan Presiden Nomor 90
Tahun 2007 tentang Badan Koordinasi Penanaman Modal. Pasal 41 dan pasal 42 Perpres tersebut
menyebutkan:

Pasal 41
(1) Dalam pelaksanaan pelayanan penanaman modal terpadu satu pintu, di lingkungan BKPM
ditempatkan perwakilan secara langsung dari sektor dan daerah terkait dengan Pejabat yang
mempunyai kompetensi dan kewenangan.

(2) Pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertindak atas nama dan/atau mewakili dan/atau
menjadi penghubung dari instansi sektor dan Pemerintah Daerah masing-masing.

(3) Pembinaan kepegawaian Pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh dan
menjadi kewenangan instansi sektor dan Pemerintah Daerah masing-masing sebagai instansi induknya
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 42

Pejabat sebagai perwakilan secara langsung dari sektor dan daerah terkait sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 41, dalam melaksanakan pelayanan penanaman modal terpadu satu pintu dapat sehari-
hari bertugas di lingkungan BKPM atau sewaktu-waktu apabila diperlukan sesuai dengan kebutuhan.

Sejalan dengan ketentuan Peraturan Presiden tersebut, di tingkat pusat pelayanan terpadu satu pintu
dilaksanakan oleh BKPM dengan melibatkan sektor dan pemerintah daerah. Namun, daerah tidak harus
mengikuti pola pelayanan yang ada di tingkat pusat. Sebagian daerah saat ini telah membentuk Kantor
Pelayanan Teknis yang merupakan satuan kerja pemerintah tersendiri. Dengan keberadaan SKPD
(satuan kerja perangkat daerah) ini risiko penolakan dari sektor terkait sebab sektor akan merasa
kewenangannya tidak diambil oleh sektor lain. Sebaliknya apabila lembaga pelayanan ditempelkan
pada SKPMD yang telah ada (misalnya BKPMD) maka sektor-sektor akan merasa kewenangannya
diambil oleh sektor lain. Kehilangan kewenangan masih dianggap sebagai hal yang tidak boleh terjadi
oleh sebagian aparat pemerintah.

2. Pelaksanaan

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pelayanan terpadu satu pintu
terutama bagi pemerintah daerah adalah ketersediaan segala sarana yang mendukung baik perangkat
lunak maupun perangkat keras yang meliputi:

Peraturan di daerah mengenai daftar usaha yang tertutup dan terbuka bagi penanaman modal.
Peraturan ini penting karena pertama sebagai pedoman bagi aparat pemda dalam memberikan izin bagi
usaha yang akan dijalankan untuk dapat membuat perda ini penyusun perda hendaknya mengacu
pada Perpres 76 dan Perpres 77 karena dalam perpres tersebut diatur mengenai kriteria dan
persyaratan penyusunan bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan
persyaratan di bidang penanaman modal dan bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang
terbuka dengan persyaratan di bidang penanaman modal;

Peraturan di daerah mengenai penataan ruang. Peraturan tata ruang akan menjadi pegangan bagi
aparat pemda dalam mempertimbangkan pemberian izin mengenai lokasi-lokasi yang dapat diberikan
untuk kegiatan penanaman modal;

Peraturan di daerah mengenai lingkungan hidup dan kesehatan. Peraturan daerah mengenai lingkungan
hidup dapat berguna sebagai alat pengaman dalam pemberian izin penanaman modal. Maksudnya,
apabila terdapat kegiatan permohonan izin kegiatan penanaman modal berpotensi mengganggu fungsi
lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat, maka izin itu harus ditolak. Setiap daerah memang
diharapkan bisa mendatangkan modal ke wilayahnynya sebanyak-banyaknya. Namun, apabila kegiatan
dalam penanaman modal tersebut membawa kerugian yang lebih besar, dalam hal ini kerusakan
lingkungan hidup, maka permohonannya tetap harus ditolak dengan dasar peraturan daerah lingkungan
hidup.

Peraturan yang mengatur mengenai kedudukan tugas, fungsi kewenangan dan tata kerja unit pelayanan
terpadu. Dengan peraturan ini terdadapat acuan yang tegas mengenai keberadaan dari lembaga
pelayanan dimaksud.

Teknologi informasi dan komunikasi sangat penting dalam mendukung pelaksanaan tugas-tugas unit
pelayanan terpadu. Teknologi lebih memungkinkan terciptanya asas, prinsip, dan pemenuhan standar
pelayanan publik sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor 63/Kep/M.Pan/7/2003tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.

Tidak boleh diremehkan adalah peran sumber daya manusia pendukung lembaga pelayanan terpadu.
SDM merupakan ujung tombak dan etalase pelayanan. Image suatu organisasi pelayanan akan
tergantung pada SDM-nya. Oleh karena itu SDM dalam lembaga ini harus mempunyai kompetensi yang
memadai untuk melakukan tugas-tugas pelayanan. Untuk memacu komitmen dan semangat kerja,
kepada SDM dapat diterapkan sistem reward and punishment. Punishment diberikan kepada SDM yang
tidak mampu melaksanakan tugasnya, dan reward atau insentif diberikan kepada SDM yang
menunjukkan pekerjaan yang memuaskan.
3. Pemantauan dan evaluasi

Untuk memastikan pelaksanaan kebijakan PTSP sudah sesuai dengan yang direncanakan, maka
diperlukan pemantauan dan pengawasan secara berjenjang dan berkesinambungan terhadap
pelaksanaan pekerjaan serta melakukan evaluasi guna memperbaiki pelaksanaan pekerjaan. Ketentuan-
ketentuan mengenai pengawasan, pemantauan dan evaluasi dalam Permendagri Nomor 24 Tahun
2006 dapat digunakan sebagai acuan, misalnya:

Pengawasan terhadap proses penyelenggaraan PTSP dilakukan oleh aparat pengawas intern pemerintah
sesuai dengan fungsi dan kewenangannya.

Pengawasan atas penyelenggaraan PTSP dilakukan secara berjenjang dan berkesinambungan oleh
Menteri Dalam Negeri dan Kepala Daerah sesuai dengan tingkat urusan pemerintahan masing-masing
melalui mekanisme koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi.

Materi pengawasan yang dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Pemerintah Kabupaten/Kota
didasarkan pada:

a. Peraturan Daerah tentang pembentukan PTSP;

b. Pengintegrasian program PTSP dalam dokumen perencanaan pembangunan dan penyediaan


anggarannya;

c. Ketersediaan pegawai negeri sipil daerah sesuai dengan jumlah dan kualifikasi yang diperlukan;

d. Ketersediaan sarana dan prasarana untuk rnendukung PTSP; dan

e. Kinerja PTSP berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.

Bupati dan Walikota menyampaikan laporan secara tertulis kepada Gubernur mengenai perkembangan
pembentukan PTSP, penyelenggaraan pelayanan, capaian kinerja, kendala yang dihadapi, dan
pembiayaan yang disampaikan secara berkala setiap 3 (tiga) bulan.

Gubernur menyampaikan laporan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri mengenai
perkembangan proses pembentukan PTSP dan penyelenggaraan pelayanan terpadu satu pintu di
wilayahnya berdasarkan laporan dari Bupati/Walikota.
Selain pemantauan internal seharusnya dibuka pula pemantauan eksternal oleh masyarakat melalui
penerimaan pengaduan dan survey kepuasan masayarakat terhadap pelayanan yang diberikan yang
sering disebut dengan indeks kepuasan masyarakat (IKM) yang akan berfungsi sebagai feedback dalam
sebuah sistem.

D. KENDALA DALAM PEMBENTUKAN PTSP

Dalam mengatur tata kerja, penyusun Peraturan Presiden mungkin akan dihadapkan pada
benturan kepentingan berbagai pihak sebagaimana terjadi ketika mulai diberlakukan Keppres 29 Tahun
2004. Ketika itu beberapa instansi terkait enggan untuk melimpahkan atau berkoordinasi dengan BKPM
dalam melayani perizinan kepada penanam modal. Seringkali di Indonesia kewenangan perizinan
dianggap sebagai “profit center” yang mesti dipertahankan oleh suatu instansi. Mungkin hal itulah yang
mengakibatkan keengganan tersebut. Bentuk organisasi juga dapat menjadi ganjalan terlaksananya
PTSP. Apakah organisasi tersebut akan dibangun :

1. Sebagai unit promosi dan informasi penanaman modal,

2. Sebagai sekretariat/koordinator yang mendistribusikan tugas ke dinas-dinas ke instansi terkait, atau

3. Sebagai lembaga yang mempunyai otoritas mengeluarkan izin bagi penanaman modal.

Masih berkaitan dengan bentuk organisasi adalah masalah keanggotaan. Apabila yang diambil
pilihan pertama dan kedua, maka tidak terlalu menjadi masalah. Keanggotaan wakil dari instansi terkait
di Pelayanan Terpadu Satu Pintu bisa sebagai “liason officer” atau “officer on call”. Tetapi apabila pilihan
ketiga yang dipilih, maka institusi terkait harus memberikan pelimpahan wewenang kepada lembaga
PTSP.

Pelaksanaan kebijakan pelayanan terpadu satu pintu di daerah masih berpedoman pada
Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Penanaman Modal Dalam Rangka
Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri melalui Sistem Pelayanan Satu Atap dan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan
Terpadu Satu Pintu. Pemerintah daerah hendaknya juga mengetahui pengaturan pelayanan
dalamUndang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007.
Meskipun keempat peraturan perundang-undangan tersebut dapat dikatakan sejalan, dengan
menggunakan dasar Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah, maka pembuatan kebijakan dan
pelaksanaan pelayanan terpadu satu pintu menjadi lebih kuat.

Namun demikian, berkaitan dengan bentuk kelembagaan pelayanan penanaman modal,


muncul kebingungan pemerintah daerah terhadap berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun
2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Dalam Peraturan Pemerintah ini pembentukan organisasi
pelayanan satu pintu bukan merupakan keharusan. Dalam Pasal 47 diatur bahwa untuk membentuk unit
pelayanan terpadu digunakan kata ”dapat” yang artinya dapat dibentuk, tetapi boleh juga tidak
dibentuk. Personal atau pegawainya merupakan gabungan unsur-unsur perangkat daerah berbagai
sektor. Pasal tersebut berbunyi:

”Pasal 47

1) Untuk meningkatkan dan keterpaduan pelayanan masyarakat di bidang perizinan yang bersifat lintas
sektor, gubernur/bupati/walikota dapat membentuk unit pelayanan terpadu.

2) Unit pelayanan terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan gabungan dari unsur-unsur
perangkat daerah yang menyelenggarakan fungsi perizinan.

3) Unit pelayanan terpadu didukung oleh sebuah sekretariat sebagai bagian dari perangkat daerah.”

Terhadap keberadaan PTSP terdapat dua kelompok tanggapan. Kelompok pertama adalah
yang mendukung keberadaan pelayanan ini. Kelompok ini melihat pada respon yang baik dari
masyarakat maupun aparat pemerintah di beberapa kabupaten/kota terhadap keberadaan pelayanan
terpadu. Contoh keberhasilan itu adalahKabupaten Sragen yang mendapatkan penghargaan untuk mutu
pelayanan terpadunya dan menjadi contoh bagi kabupaten/kota lain. Kebijakan pelayanan terpadu
dapat mendukung terciptanya aspek-aspek dalam good governance dan memperkecil kemungkinan
terjadinya kolusi dan korupsi.

Kelompok kedua adalah kelompok yang menentang keberadaan PTSP ini. Keberadaan
pelayanan terpadu tidak akan berjalan efektif karena instansi hanya memindahkan orang dan tempat.
Bahkan di beberapa aspek menimbulkan kerugian bagi masyarakat, misalnya yang semula letak
pengurusan dekat, dengan adanya kebijakan pelayanan terpadu satu pintu pengurusannya menjadi
lebih jauh. Karena tidak ada altenatif pengurusan, maka iklim kompetisi dalam memberikan pelayanan
menjadi tidak ada.
BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

Kebijakan sistem PTSP dapat saja sebagai alternatif perbaikan dari Sistem Pelayanan Satu Atap.
Namun demikian, sistem baru ini tidak akan memberikan perubahan yang diharapkan, jika tidak dapat
menunjukan adanya efisien dalam pelayanan, memiliki standar waktu dan biaya yang jelas, memiliki
prosedur pelayanan yang sederhana, dan mudah diakses oleh yang membutuhkan. Untuk mewujudkan
sistem pelayanan administrasi penanaman modal yang memiliki karakter demikian, salah satu strategi
yang perlu dikembangkan dalam PTSP adalah melalui pembentukan Unit Pelayanan (UP) yang memiliki
kewenangan khusus dalam pemberian perizinan bidang penanaman modal. UP tersebut dapat didesain
dalam beberapa bentuk, antara lain:

1. Merupakan Satuan/Unit Kerja tertentu, yang memiliki kewenangan untuk memberikan pelayanan
perizinan penanaman modal secara terpusat. Satuan/Unit Kerja ini memiliki kewenangan untuk
memproses dan menerbitkan berbagai perizinan yang merupakan pelimpahan sebagian dari
kewenangan unit-unit kerja yang melayani perizinan.

2. Merupakan Satuan/Unit Kerja yang memberikan pelayanan perizinan penanaman modal. Satuan/Unit
kerja ini memiliki front line yang berfungsi untuk menerima semua permohonan perizinan penanaman
modal di daerah dan back line yang memiliki hubungan kerja dengan satuan/unit kerja yang secara
fungsional menerbitkan perizinan.

Kedua bentuk UP tersebut dirancang untuk mengurangi jalur birokrasi dan menyederhanakan
prosedur dalam pelayanan penanaman modal di daerah. Dengan demikian, diharapkan waktu dan biaya
yang diperlukan untuk pengurusan perizinan penanaman modal di daerah akan lebih cepat dan murah.
Selanjutnya, terkait dengan upaya perbaikan iklim penanaman modal di daerah, pembenahan
kelembagaan ini juga harus didukung oleh perbaikan dalam standar pelayanan penanaman modal,
kualitas sumber daya aparatur yang menangani bidang tersebut, dan komitmen para pimpinan di
daerah.

DAFTAR PUSTAKA

Syafie Kencana Inu, dkk. 1999. Ilmu Administrasi Publik. Jakarta : Reneka Cipta

Pasolong Harbani, 2007. Teori Administrasi Publik. Bandung : Alfabeta

Lijak Poltak Sinambela dkk. 2006. Reformasi Pelayanan Publik. Jakarta: Bumi Aksara

Undang-undang Republik Indonesia nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik


Pelayanan terpadu
1. 1. KONSEP PELAYANAN TERPADU mengacu pada PP No.9 tahun 2008 OLEH : 1.
OKTRINA SYAHYANTI 2. PANDU SILABAN 3. REVELINO F VEEP 4. RIVALDI KELAS : C
NINDYA PRAJA
2. 2. Pengertian Pelayanan Terpadu adalah serangkaian kegiatan untuk melakukan
perlindungan bagi saksi dan/atau korban tindak pidana perdagangan orang yang
dilaksanakan secara bersama- sama oleh innstansi atau lembaga terkait sebagai satu
kesatuan penyelenggaraan rehabilitasi kesehatan,rehabilitasi sosial, pemulangan,
reintegrasi sosial, dan bantuan hukum bagi saksi dan/atau korban tindak pidana
perdagangan orang. Pusat Pelayanan Terpadu, yang selanjutnya disingkat PPT, adalah
suatu unit kesatuan yang menyelenggarakan pelayanan terpadu untuk saksi dan/atau
korban tindak pidana perdagangan orang.
3. 3. Kewajiban Pusat Pelayanan Terpadu ( PPT ) a. memberikan pelayanan dan penanganan
secepat mungkin kepada saksi dan/atau korban; b. memberikan kemudahan, kenyamanan,
keselamatan, dan bebas biaya bagi saksi dan/atau korban; c. menjaga kerahasiaan saksi
dan/atau korban; dan d. menjamin keadilan dan kepastian hukum bagi saksi dan/atau
korban.
4. 4. Tujuan Penyelenggaraan pelayanan terpadu Penyelenggaraan pelayanan terpadu
bertujuan melaksanakan perlindungan dan pemenuhan hak saksi dan/atau korban atas
rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan, reintegrasi sosial, dan bantuan
hukum yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.
5. 5. Lingkup pelayanan terpadu Lingkup pelayanan terpadu bagi saksi dan/atau korban
meliputi pelayanan rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan dan reintegrasi
sosial, termasuk advokasi, konseling, dan bantuan hukum. berlaku bagi: a. setiap saksi
dan/atau korban yang berada di wilayah Republik Indonesia; dan b. setiap saksi dan/atau
korban warga negara Indonesia yang berada di luar negeri.
6. 6. PEMBENTUKAN PUSAT PELAYANAN TERPADU 1. Untuk melindungi saksi dan/atau
korban, pemerintah kabupaten/kota membentuk dan menyelenggarakan PPT. 2.
Pembentukan dan penyelenggaraan PPT diatur dalam peraturan daerah pada masing-
masing kabupaten/kota. 3. Untuk mempermudah penanganan saksi dan/atau korban, di
daerah perbatasan dapat dibentuk PPT. 4. Dalam membentuk peraturan daerah, substansi
atau materi peraturan daerah tetap mengacu pada Peraturan Pemerintah ini. 5. Dalam hal di
daerah belum dibentuk peraturan daerah, maka ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini
dan peraturan pelaksanaannya dapat dijadikan dasar untuk menyelenggarakan PPT.
7. 7. SARANA DAN PRASARANA • Pemerintah kabupaten/kota yang membentuk dan
menyelenggarakan PPT wajib menyediakan sarana dan prasarana pada PPT. • Dalam
penyediaan sarana dan prasarana wajib disesuaikan dengan standar pelayanan minimal dan
standar operasional prosedur pemulangan dan reintegrasi sosial yang berlaku. • Rumah
sakit swasta dapat menyediakan sarana dan prasarana untuk rujukan PPT bagi saksi
dan/atau korban setelah mendapat persetujuan dari dinas kesehatan di daerahnya. •
Persetujuan dimaksudkan untuk mempermudah pelaksanaan pelayanan terpadu dan
pelaksanaan evaluasi.
8. 8. PETUGAS PELAKSANA PELAYANAN TERPADU • Penyelenggaraan pelayanan terpadu
wajib didukung oleh petugas pelaksana atau petugas fungsional yang meliputi tenaga
kesehatan, psikolog, psikiater, pekerja sosial yang disediakan oleh instansi atau lembaga
terkait. • Dalam hal tenaga psikolog dan psikiater belum tersedia, maka PPT dapat meminta
bantuan kepada instansi atau lembaga lain yang tersedia dengan memberikan honorarium. •
Dalam hal diperlukan, PPT dapat melakukan kerja sama dengan lembaga tertentu dalam
penyediaan penerjemah dan relawan pendamping yang diperlukan oleh saksi dan/atau
korban.
9. 9. TATA CARA DAN MEKANISME PELAYANAN TERPADU • Saksi dan/atau korban berhak
memperoleh rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan, reintegrasi sosial, dan
bantuan hukum pada PPT. • Hak diajukan oleh saksi dan/atau korban, keluarganya,
temannya, petugas kepolisian, relawan pendamping, atau pekerja sosial. • Pimpinan atau
petugas yang ada pada PPT wajib melayani saksi dan/atau korban berdasarkan ketentuan. •
Pimpinan atau petugas PPT segera menangani saksi dan/atau korban sesuai dengan
prosedur yang ditetapkan. • Pimpinan atau petugas PPT, dalam waktu paling lama 24 (dua
puluh empat) jam sejak menerima saksi dan/atau korban yang sedang dirawat atau
dipulihkan kesehatannya, wajib melaporkannya kepada petugas kepolisian terdekat.
10. 10. PELAYANAN TERPADU SATU PINTU
11. 11. Pengertian Pelayanan Terpadu Satu Pintu Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu
Pintu (PPTSP) adalah kegiatan penyelenggaraan jasa perizinan dan non-perizinan, yang
proses pengelolaannya di mulai dari tahap permohonan sampai ke tahap penerbitan ijin
dokumen, dilakukan secara terpadu dalam satu tempat. Dengan konsep ini, pemohon cukup
datang ke satu tempat dan bertemu dengan petugas front office saja. Hal ini dapat
meminimalisasikan interaksi antara pemohon dengan petugas perizinan dan menghindari
pungutan-pungutan tidak resmi yang seringkali terjadi dalam proses pelayanan.
12. 12. Pembentukan Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP) pada dasarnya
ditujukan untuk menyederhanakan birokrasi pelayanan perizinan dan non-perizinan dalam
bentuk : • Mempercepat waktu pelayanan dengan mengurangi tahapan-tahapan dalam
pelayanan yang kurang penting. Koordinasi yang lebih baik juga akan sangat berpengaruh
terhadap percepatan layanan perizinan. • Menekan biaya pelayanan izin usaha, selain
pengurangan tahapan, pengurangan biaya juga dapat dilakukan dengan membuat prosedur
pelayanan serta biaya resmi menjadi lebih transparan. • Menyederhanakan persyaratan izin
usaha industri, dengan mengembangkan sistem pelayanan paralel dan akan ditemukan
persyaratan-persyaratan yang tumpang tindih, sehingga dapat dilakukan penyederhanaan
persyaratan. Hal ini juga berdampak langsung terhadap pengurangan biaya dan waktu.
13. 13. Pelayanan perizinan dengan sistem terpadu satu pintu (one stop service) ini membuat
waktu pembuatan izin menjadi lebih singkat. Pasalnya, dengan pengurusan administrasi
berbasis teknologi informasi, input data cukup dilakukan sekali dan administrasi bisa
dilakukan simultan. Dengan adanya kelembagaan pelayanan terpadu satu pintu, seluruh
perizinan dan nonperizinan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota dapat terlayani dalam
satu lembaga. Harapan yang ingin dicapai adalah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui
peningkatan investasi dengan memberikan perhatian yang lebih besar pada peran usaha
mikro, kecil, dan menengah. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas layanan publik. Oleh
karena itu, diharapkan terwujud pelayanan publik yang cepat murah, mudah, transparan,
pasti, dan terjangkau, di samping untuk meningkatkan hak-hak masyarakat terhadap
pelayanan publik.
14. 14. Bentuk pelayanan terpadu ini bisa berbentuk kantor, dinas, ataupun badan. Dalam
penyelenggaraannya, bupati/wali kota wajib melakukan penyederhanaan layanan meliputi :
1. pelayanan atas permohonan perizinan dan non perizinan dilakukan oleh Penyelenggaraan
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP); 2. percepatan waktu proses penyelesaian
pelayanan tidak melebihi standar waktu yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah; 3.
kepastian biaya pelayanan tidak melebihi dari ketentuan yang telah ditetapkan dalam
peraturan daerah; 4. kejelasan prosedur pelayanan dapat ditelusuri dan diketahui setiap
tahapan proses pemberian perizinan dan non perizinan sesuai dengan urutan prosedurnya;
5. mengurangi berkas kelengkapan permohonan perizinan yang sama untuk dua atau Lebih
permohonan perizinan; 6. pembebasan biaya perizinan bagi Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM) yang ingin memulai usaha baru sesuai dengan peraturan yang berlaku; dan 7.
pemberian hak kepada masyarakat untuk memperoleh informasi dalam kaitannya dengan
penyelenggaraan pelayanan Lingkup tugas PPTSP meliputi pemberian pelayanan atas
semua hentuk pelayanan perizinan dan non perizinan yang menjadi kewenangan Kabupaten
/ Kota.
15. 15. Selain itu PPTSP mengeiola administrasi perizinan dan non perizinan dengan mengacu
pada prinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan kearnanan berkas. Dalam pengertian
sempit, pelayanan terpadu dapat berarti sebagai satu instansi pemerintah yang memiliki
semua otoritas yang diperlukan untuk memberi pelbagai perizinan (licenses, permits,
approvals dan clearances). Tanpa otoritas yang mampu menangani semua urusan tersebut
instansi pemerintah tidak dapat mengatur pelbagai pengaturan selama proses. Oleh sebab
itu, dalam hal ini instansi tersebut tidak dapat menyediakan semua bentuk perizinan yang
diperlukan dalam berbagai tingkat administrasi, sehingga harus bergantung pada otoritas
lain.
16. 16. Asas Penyelenggaraan Pelayanan Publik Satu Pintu 1. Transparan, yaitu bersifat
terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan
secara memadai serta mudah dimengerti oleh usaha jasa. 2. Akuntabel, yaitu dapat
dipertanggung jawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 3.
Partisipatif, yaitu mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan
perizinan dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan masyarakat.Salah satu
contoh dengan menggunakan jasa urus perijinan yang resmi 4. Kesamaan hak, yaitu tidak
diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender, dan status
ekonomi.Dan juga warga yang ingin memiliki surat ijin membangun bangunan 5. Efisien,
yaitu proses pelayanan perizinan pariwisata hanya melibatkan tahap-tahap yang penting dan
melibatkan personil yang telah di tetapkan. 6. Keseimbangan antara Hak dan Kewajiban,
yaitu pemberi dan penerima pelayanan perizinan harus memenuhi hak dan kewajiban
masing-masing pihak. 7. Profesional, pemprosesan perizinan melibatkan keahlian yang
diperlukan, baik untuk validasi administratif, verifikasi lapangan, pengukuran dan penilaian
kelayakan, yang masing-masing prosesnya dilaksanakan berdasarkan tata urutan dan
prosedur yang telah ditetapkan
17. 17. Perbedaan Pelayanan Perizinan Satu Pintu dengan Pelayanan Perizinan Satu Atap
Aspek Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pelayanan Terpadu Satu Atap Wewenang dan
Penandatanganan Wewenang dan Penandatanganan berada di satu pihak Wewenang dan
Penandatanganan masih dibanyak SKPD Koordinasi • Koordinasi Lebih mudah dilakukan •
Kepala Penyenggara PTSP berperan sebagai koordinator berbagai SKPD dalam Analisis
Koordinasi Lebih sulit karena kewenangan dan penandatanganan di banyak SKPD Prosedur
Pelayanan Penyederhanaan Prosedur lebih mudah karena koordinasi berada di tangan
PTSP Prosedur sulit disederhanakan karena ego sektoral di banyak SKPD Pembinaan dan
Pengawasan Pembinaan dan pengawasan menjadi tanggung jawab berada di tangan PTSP
Pembinaan dan pengawasan menjadi anggung jawab di banyak SKPD Kelembagaan
Berbentuk Kantor/ Badan Biasanya hanya berperan sebagai loket penerima, yang pada
umumnya berbentuk Penyalur Pencapaian Target Retribusi Sebagai pemegang
kewenangan pelayanan perizinan, PTSP tidak diberi target pencapaian Sebagai pemegang
kewenagan pelayanan perizinan SKPD teknis diberikan beban target Status Kepegawaian
Status staf adalah Staf Tetap penyelenggara PTSP Sebagian besar staf dari SKPD teknis

peningkatan kualitas pelayanan pada kantor Badan Pelayanan Perizinan Terpadu di


Kabupaten Lombok Timur.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penerapan desentralisasi dalam sistem pemerintahan pada tahun 2001 memunculkan harapan
besar pada terjadinya tata kelola pemerintahan yang didaerah-daerah. Harapan tersebut muncul
karena sistem tersebut memungkinkan terjadinya pengambilan keputusan pada tingkat lokal
yang lebih dekat dengan warga. Dengan demikian, setiap keputusan dapat lebih merefleksikan
pemecahan masalah yang terjadi. Harapan terhadap perbaikan penyediaan pelayanan publik juga
merebak seiring penerapan desentaralisasi ini, dengan harapan ada transparansi.
Salah satu tujuan diterapkannya kebijakan otonomi daerah adalah untuk meningkatkan
kualitas pelayanan publik dari pemerintah daerah kepada warga masyarakat. Pelayanan publik
adalah pelayanan yang wajib diselenggarakan negara untuk pemenuhan kebutuhan dasar atau
hak-hak dasar warga negara (publik). Ketiadaan atau kurang mamadainnya pelayanan publik
akan mengakibatkan tidak terpenuhinya hak asasi manusia oleh penyelenggara negara.
Pelayanan publik harus diberikan pada setiap warga negara baik yang kaya maupun yang miskin,
baik yang berada dipusat kemajuan maupun didaerah terbelakang, baik yang mendatangkan
keuntungan atau membutuhkan subsidi. Karena itu negara harus mengambil peranan dan
tanggung jawab dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
Setiap warga negara berhak mendapat pelayanan publik dengan kualitas yang layak.
Pemerintah wajib melindungi segenap warga dan memastikan bahwa mereka telah mendapat
pelayanan publik dengan layak. Karena itu, pemerintah perlu mengatur hubungan antara warga
negara, sebagai konsumen pelayanan publik, pemerintah wajib melindungi konsumen pelayanan
publik untuk memperoleh hak-haknya. Namun, hingga sekarang ini kualitas pelayanan publik
masih diwarnai oleh pelayanan yang sulit untuk diakses, prosedur yang berbelit-belit ketika
harus mengurus suatu perijinan tertentu, biaya yang tidak jelas serta terjadinya prakek pungutan
liar (pungli) dan persyaratan yang terlalu banyak dan butuh biaya yang tidak sedikit, merupakan
indikator rendahnya kualitas pelayanan publik.
Sementara desentaralisasi dan reformasi menuntut perubahan-perubahan peran dari
pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah diharapkan untuk lebih terbuka, demokratis
sementara masyarakat diharapkan untuk lebih berpartisipasi dalam penyelenggaraan urusan
publik. Sebagai jawaban atas tuntutan perubahan tersebut, good governance perlu diterapkan
dalam segala aspek pembangunan, termasuk didalam nya perizinan merupakan instrument
penting bagi pemerintah Daerah dalam melaksanaan fungsi pengendalian pembangunan
diwilayahnya dan merupakan potensi untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Namun
pendapan yang diperoleh dari perizinan harus seimbang dengan pelayanan publik yang diberikan
kepada masyarakat.
Sejak diterapkannya Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 tahun 1999 yang sekarang
ini telah diganti dengan uu No.32 tahun 2004 yang kemudian menjadi undang-undang No.12
tahun 2008, perubahan kedua atas UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintah Daerah, menandai
diimplementasikannya otonomi daerah. Misi utama dari pelaksanaan otonomi daerah adalah
penyerahan sebagian besar kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.
Konsekuensi dari penyerahan kewenangan ini disatu sisi daerah diberikan keleluasaan untuk
mengurus rumah tangganya sendiri dengan segala potensi yang dimiliki, tetapi disisi lain
mengandung tanggung jawab yang besar atas keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah, karena
menurut asas otonomi daerah dan tugas pembantuan diarahkan untuk mempercepat terwujudnya
kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran masyarakat
serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demoksari, pemerataan,
keadilan hukum yang berlaku serta megutamakan kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat bergantuk pada kemampuan keuangan
daerah (PAD), sumber daya manusia yang dimiliki daerah, serta kemampuan daerah untuk
mengembangkan segenap potensi yang ada. Pelaksanaan otonomi daerah dibeberapa daerah telah
diwarnai oleh kecendrungan pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah.
Pemerintah daerah harus memperhatikan koordinasi dan potensi yang ada didaerah dalam
mengeluarkan peraturan daerah tentang pajak daerah, sehingga pelarian modal kedaerah lain
dapat dihindari dan harus berusaha memberikan berbagai kemudahan dan pelayanan untuk
menarik investor menanamkan modal didaerahnya.
Melalui Surat Edaran Mentri Dalam Negeri No.503/125/PUOD tanggal 16 januari 1997
tentang pembentukan unit pelayanan Terpadu perizinan di Daerah dan Intruksi Mentri Dalam
Negeri No. 25 tahun 1998 tentang Pelayanan Perizinan Satu Atap Didaerah. Departemen Dalam
Negeri meminta Pemerintah Daerah untuk mengembangkan pelayanan terpadu. Merespon
permasalahan tersebut, beberapa pemerintah Daerah telah mengeluarkan kebijaksanaan untuk
membantu pelayanan satu atap, dimana dengan modal tersebut masyarakat dalam mengurus
perizinan hanya perlu mendatangi kantor PT-SA untuk mengurus semua pelayanan perizinan
yang dikeluarkan oleh Pemerintah Dearah. Selanjutnya dalam rangka perbaikan iklim usaha dan
investasi, pemerintah telah mengeluarkan instruksi Presiden No. 3 tahun 2006 tentang paket
kebijakan perbaikan iklim investasi, instruksi Presiden tersebut sebagai kebijakan strategis yang
dijabarkan kedalam program kegiatan dan tindakan yang lebih kongkrit sebagai terobosan untuk
pencepatan investasi. Salah satu kegiatan/ tindakan yang sangat penting dalam inpres dimaksud
adalah menyederhanakan birokrasi perizinan untuk aktivitas inventasi pada umumnya.
Berdasarkan Pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 32
tahun 2004 tentang pemerintahan dan UU Nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan
antara pemerintaha pusat dan pemerintah Daerah, diharapkan mampu memacu tiap pemerintah
Daerah Kabupaten / kota guna melakukan percepatan kesejahteraan masyarakat serta
meningkatkan efisiesnsi dan efektivitas pemerintah daerah. Percepatan kesejahteraan masyarakat
memiliki dua tujuan utama yakni dalam melibatkan masyarakt dalam pembangunan dan
peningkatan daya saing daerah. Efisiensi dan efektivitas Pemerintah Daerah berkenaan dengan
bagaimana kelembagaan didaerah mampu melakukan fungsi-fungsi penyelenggaraan pemerintah
yang responsif sesuai dinamika dimasyarakat secara transparan. Peningkatan pelayanan kepada
masyarakat, upaya menarik investor ke daerah serta kejelasan pembagian antara kewenangan
pusat dan daerah merupakan hal-hal nyata yang akan dicapai dari pelaksanaan otonomi daerah.
Salah satu dampak dari kegiatan inpres tarsebut yaitu tertibnya Permendagri No. 24 tahun
2006 tentang pedoman penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Landasan
pemikiran dan Permendagri dimaksud adalah keinginan untuk mengintegrasikan seluruh proses
pelayanan publik, baik perizinan maupun non perizinan kedalam suatu sistem penyelenggaraan
pelayanan terpadu satu pintu. Tujuannya adalah agar birokrasi pelayanan perizinan dan non
perizinan menjadi lebih sederhana, transparan dan pasti, tanpa kehilangan fungsi pengawasan
yang melekat didalamnya.
Permendegri tersebut mendorong Pemerintah Daerah untuk melakukan penyelenggaraan
pelayanan secar terpadu disatu tempat dan untuk memotivasi Pemerintah Daerah yang selama ini
belum mereformasi birokrasi pelayanan perizinan dan non perizinan. Di Kabupaten Lombok
timur telah mereformasi birokrasi dengan penerapan peraturan pemerintah No. 41 tahun 2006
yang diimplementasikan dalam bentuk Peraturan Daerah No. 4 tahun 2008 tentang pembentukan
organisasi dan Tata kerja Perangkat Daerah dimana salah satu kelembagaan yang dibentuk
adalah Badan Pelayanan Perizinan Terpadu yang di singkat BPPT sebagai dasar operasional
diterbitkan Peraturan Bupati Lombok Timur no. 8 tahun 2008 tentang pelimpahan sebagai
wewenang kepada Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, dimana maksud pembentukan
badan ini sebagai penyelenggaraan kegiatan perizinan dan non perizinan yang proses
pengelolaannya mulai dari tahap permohonan sampai tahap terbitnya dokumen dilakukan dalam
satu tempat.
Perlunya melakukan penelitian terhadap permasalahan ini agar dalam pelaksanaan pelayanan
yang dilakukan oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Lombok Timur
dapat terlaksana secara maksimal untuk mencapai kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang
diberikan.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, salah satu kendala yang dihadapi oleh masyarakat yang
membutuhkan pelayanan perizinan yaitu menyangkut permasalahan administrasi yang berbelit-
belit, lamanya proses izin yang akan di terbitkan, serta tingginya biaya yang dikeluarkan oleh
masyarakat dalam menyelsaikan pembuatan izin.
Dengan melihat hal tersebut, maka penulis menitikberatkan pengkajian pada permasalahan
yaitu pada peningkatan kualitas pelayanan masyarakat. Dengan demikian dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut :
a. Sejauh mana peningkatan kualitas pelayanan perizinan pada kantor Badan Pelayanan Perizinan
Terpadu (BPPT) terhadap masyarakat ?
b. Sejauh mana tingkat efektifitas dan efesiensi dalam meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat.

C. LANDASAN TEORI
Pelayanan publik dewasa ini menjadi salah satu ukuran dan indikator pelaksanaan
pemerintahan yang berjalan secara sehat dan baik dalam dimensi kapasitas birokrasi yang dapat
dihandalkan dan diperdayakan. Seperti halnya pada lingkup organisasi swasta dalam upaya untuk
meningkatkan kinerja organisasinya pada seluruh lini organisasi tersebut dituntut dan
menjadikan pelayanan pada pelanggannya sebagai indikator pertama dan utama di dalam proses
pelayanan yang diberikannya. Salah satu tuntutan masyarakat yang harus dipengaruhi dalam
rangka memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya pada masyarakat adalah agar aparat
pemerintah bekerja dengan lebih professional.
Dalam kualitas pelayanan publik juga dapat diketahui dengan cara membandingkan
persepsi mereka (masyarakat) atas pelayanan yang sesungguhnya mereka inginkan. Apabila
pelayanan dalam prakteknya yang diterima masyarakat sebagai peserta ajudikasi sama dengan
harapan akan keinginan mereka, maka peserta tersebut dikatakan sudah memuaskan.
Menurut wyckof (dalam tjiptono, 1996:59) mengartikan kualitas jasa atau layanan, yaitu :
tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk
memenuhi keinginan pelanggan". ini berarti, bila jasa atau layanan yang diterima (perceived
service) sesuai dengan diharapkan, maka kualitas jasa atau layanan dipersepsikan baik dan
memuaskan, jika kualitas jasa atau layanan yang diterima lebih rendah dari yang diharapkan,
maka kualitas jasa atau layanan akan dipersepsikan buruk.
Dan menurut toeri Efektifitas yang dikemuka kan olehSondang P. Siagian (2001 : 24)
memberikan definisi Efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam
jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untukmenghasilkansejumlah
barangatas jasa kegiatan yang dijalankannya. Efektivitas menunjukan keberhasilan dari segi
tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasilkegiatan semakin mendekati sasaran,
berarti makin tinggi efektivitasnya.
D. METODE PENULISAN
Berdasarkan latar belkang masalah seperti yang telah diuraikan diatas, penulis memiliki
tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui sejauh mana peningkatan kualitas pelayanan pada kantor Badan Pelayanan
Perizinan Terpadu di Kabupaten Lombok Timur.
2. Mengetahui tingkat efektifitas dan efesiensi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada
masyarakat.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

1. Secara Akademis, diharapkan bisa menjadi bahan acuan untuk kalangan akademis dalam hal
melaksanakan atau melakukan tugas-tugas akademiknya.
2. Secara Praktis, memberi sumbangan pemikiran atau bahan masukan bagi aparatur khususnya
kantor Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Lombok Timur dalam upaya
untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat.
3. Secara Teoritis, sebagai bahan informasi bagi para peneliti lainnya yang berminat mengadakan
peelitian secara lebih mendalam.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kebijakan publik merupakan pembangunan masyarakat secara terarah melalui pemakaian
kekuasaan. Menurut Cari Fredrich kebijakan publik adalah suatu arah tindakan yang diusulkan
pleh sesoarang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu yang memberikan
hambatan-hambatan dan kesempatan terhadap kebijakan yang di usulkan untuk menggunakan
dan mengatasi dalam rangka mencapai suatu tujuan atau merealisasikan sasaran atau maksud
tertentu.
Pengertian lain menurut James A. Anderson bahwa kebijakan publik adalah serangkaian
tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh sesoarang pelaku
atau sekelompok pelaku dalam memecahkan suatu masalah tertentu.
Suatu kebijakan publik, kebijkakan negara atau kebijakan umum merupakan keputusan yang
mengikat menyangkut dan mempengaruhi masyarakat umum, serta dipahami sebagai pilihan
terbaikdari berbagai bentuk alternatif mengenai berbagai urusan yang menjadi kewenangan
pemerintah.
Ada beberapa implikasi dari pengertian diatas adalah bahwa kebijakan publik memiliki
karakteristik sebagai berikut :
1. Selalu mempunyai tujuan tertentu atau merupakan suatau tindakan yang berorientasi tujuan.
2. Berisi tindakan – tindakan atau polatindakan pejabat pemerintah.
3. Merupakan apa yang benar – benar dilakukan oleh pemerintah.
4. Bersifat positif dalam arti suatu tindakan hanya dilakukan dan negatif dalam arti keputusan itu
bermaksud untuk tidak melakukan sesuatu.
5. Kebijakan itu didasarkan pada peraturan atau undang –undang yang bersifat memaksa.
Meskipun terdapat berbagai definisi kebijakan Negara seperti yang telah dikemukakan
sebelumnya, dapat ditarik suatu kesimpulanbahwa kebijakan publik adalah serangkaian tindakan
yang ditetapkan oleh pemerintah yang mempunyai tujuan atau berorientasi pada tujuan tertentu
demi kepentingan seluruh masyarakat.
Nugroho menytakan bahwa, tugas pelayanan publik adalah tugas memberikan pelayanan
kepada umum tanpa membeda-bedakan dan memberikan secara Cuma-Cuma atau dengan biaya
sedemikian rupa sehingga terjangkau oleh konsumen kebanyakan.
BAB III
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN PELAYANAN
menurut Siagian (1998) pelayanan secara umum adalah rasa menyenangkan yang diberikan
kepada orang lain disertai kemudahan-kemudahan dan memenuhi segala kebutuhan mereka.
Dengan demikian pelayanan merupakan upaya memberikan kesenangan-kesenangan kepada
pelanggan dengan adanya kemudahankemudahan agar pelanggan dapat memenuhi
kebutuhannya.
Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik mendefinisikan pelayanan
publik sebagai berikut: Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap
warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan
oleh penyelenggara pelayanan publik.
Pelayanan publik menurut Roth adalah sebagai berikut : Pelayanan publik didefinisikan
sebagai layanan yang tersedia untuk masyarakat, baik secara umum (seperti di museum) atau
secara khusus (seperti di restoran makanan).
Sedangkan Lewis dan Gilman (2005:22) mendefinisikan pelayanan publik sebagai berikut:
Pelayanan publik adalah kepercayaan publik. Warga negara berharap pelayanan publik dapat
melayani dengan kejujuran dan pengelolaan sumber penghasilan secara tepat, dan dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik. Pelayanan publik yang adil dan dapat dipertanggung-
jawabkan menghasilkan kepercayaan publik. Dibutuhkan etika pelayanan publik sebagai pilar
dan kepercayaan publik sebagai dasar untuk mewujudkan pemerintah yang baik.

Pengertian pelayanan publik dari wikipedia adalah sebagai berikut: Pelayanan publik adalah
istilah untuk layanan yang disediaka n oleh pemerintah kepada warga negaranya, baik secara
langsung (melalui sektor publik) atau dengan membiayai pemberian layanan swasta. Istilah ini
dikaitkan dengan konsensus sosial (biasanya diwujudkan melalui pemilihan demokratis), yaitu
bahwa layanan tertentu harus tersedia untuk semua kalangan tanpa mamandang pendapatan
mereka. Bahkan apabila layanan-layanan umum tersebut tersedia secara umum atau dibiayai oleh
umum, layanan-layanan tersebut, karena alasan politis atau sosial, berada di bawah
peraturan/regulasi yang lebih tinggi daripada peraturan yang berlaku untuk sektor ekonomi.
Istilah layanan publik juga merupakan istilah lain untuk layanan sipil.
Terdapat empat unsur penting dalam proses pelayanan publik, yaitu (Bharata, 2004:11) :

1. Penyedia layanan, yaitu pihak yang dapat memberikan suatu layanan tertentu kepada
konsumen, baik berupa layanan dalam bentuk penyediaan dan penyerahan barang (goods)
atau jasa-jasa (services).
2. Penerima layanan, yaitu mereka yang disebut sebagai konsumen (costomer) atau
customer yang menerima berbagai layanan dari penyedia layanan.
3. Jenis layanan, yaitu layanan yang dapat diberikan oleh penyedia layanan kepada pihak
yang membutuhkan layanan.

4. Kepuasan pelanggan, dalam memberikan layanan penyedia layanan harus mengacu pada tujuan
utama pelayanan, yaitu kepuasan pelanggan. Hal ini sangat penting dilakukan karena tingkat
kepuasan yang diperoleh para pelanggan itu biasanya sangat berkaitan erat dengan standar
kualitas barang dan atau jasa yang mereka nikmati.
Ciri-ciri pelayanan publik yang baik adalah memiliki unsur-unsur sebagai berikut (Kasmir,
2006:34):

1. Tersedianya karyawan yang baik.


2. Tersedianya sarana dan prasarana yang baik.
3. Bertanggung jawab kepada setiap nasabah (pelanggan) sejak awal hingga akhir.
4. Mampu melayani secara cepat dan tepat.
5. Mampu berkomunikasi.
6. Memberikan jaminan kerahasiaan setiap transaksi.
7. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik.
8. Berusaha memahami kebutuhan nasabah (pelanggan).
9. Mampu memberikan kepercayaan kepada nasabah (pelanggan).

2. MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN


Untuk mengantisipasi rendahnya kualitas pelayanan publik ditanah air, sebenarnya
pemerintah telah mengeluarkan instrumen berupa Keputusan Menpan Nomor 81 tahun 1993
tentang pedoman Tata Pelayanan Umum, yaitu :
1. Kesederhanaan, prosedur pelayanan harus dilaksanakan secara mudah, cepat, tepat, lancar tidak
berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan
2. Kejelasan dan kepastian yang menyangkut prosedur / tata cara pelayanan umum, persyaratan,
baik tehnik maupun administratif, unit kerja atau pejabat yang bertanggung jawab dalam
memberikan pelayanan umum, rincian biaya/ tarif pelayanan dan tata cara pembayaran, jadwal
waktu penyelsaian, hak hak dan kewajiban baik dari pemberi maupun penerima pelayanan
berdasarkan bukti-bukti penerimaan permohonan kelengkapannya sebagai alat untuk memastikan
pemrosesan pelayanan.
3. Keamana, dalam arti bahwa selama proses dan memporoleh hasil layanan memberikan rasa
aman dan nyaman serta menjamin adanya kepastian hukum.
4. Keterbukaan Pelayanan, waktu penyelesaian dan rincian biaya /tarif dan hal-hal lain yang
berkaitan dengan proses pelayanan umum wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah
diketahui dan dipahami oleh masyaraka, baik diminta maupun tidak diminta.
5. Efesien, meliputi persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada halhal yang berkaitan langsung
dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tepat memperhatikan keterpaduan antara
persyaratan dengan produk pelayanan yang diberikan.
6. Ekonomis, dalam arti pengenaan biaya pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan
memperhatikan nilai barang atau jasa pelayanan dengan tidak menuntut biaya yang tinggi diluar
kewajaran kondisi dan kemampuan pelanggan untuk membayar secara umum.
7. Keadilan yang merata, dalam arti cakupan atau jangkauan pelayanan harus diusahakan seluas
mungkin dengan distribusi yang merata dan diperlakukan secara adil.
8. Ketepatan waktu, dalam ati pelaksanaan pelayanan diselsaikan dalam kurun waktu yang telah
ditentukan.
9. Tanggung jawab dari petugas pelayanan, yang meliputi pelayanan sesuai dengan urutan
waktunya, menghubungi pelanggan secepatnya apabila terjadi sesuatu yang perlu segera
diberitahukan.
10. Kecakapan para petugas, yaitu bahwa para petugas pelayanan menguasai keterampilan dan
pengetahuan yang dibituhkan.
11. Pendekatan kepada pelanggan dan kemudahan kontak pelanggan dengan petugas.petugas
pelayanan harus mudah dihubingi oleh penggan, tidak hanya dengan pertemuan secara langsung.
Tetapi juga melalui telpon atau internet, oleh karena itu lokasi dari fasilitas dan operasi
pelayanan juga harus diperhatikan.
12. Keramahan, meliputi kesabaran perhatian dan persahabatan dalam kontak antara petugas
pelayanan dengan pelanggan.
13. Kamunikasi antara petugas dan pealnggan, komunikasi yang baik dengan pelanggan adalah
penggan tetap memperoleh informasi yang berhak diperolehnya dari penyedia pelayanan dalam
bahasa yang mereka mengerti.
14. Kredibilitas, meliputi adanya saling percaya antara pelanggan dan penyedia pelayanan, adanya
usaha yang membuat penyedia pelayanan tetap layak dipercayai. Adanya kejujuran kepada
pelanggan.

3. AZAZ DALAM PENYELENGGARAAN PELAYANAN


Sedangkan menurut Ratminto (2006:244-249), ada beberapa asas dalam penyelenggaraan
pelayanan pemerintahan dan perizinan yang harus diperhatikan adalah :
a. Empati dengan costumers, pegawai yang melayani urusan perizinan dari instansi
penyelenggara jasa perizinan harus dapat berempati dengan masyarakat pengguna jasa
pelayanan.
b. Pembatasan prosedur, prosedur dirancang sependek mungkin, dengan demikian konsep one stop
shop benar-benar di terapkan.
c. Kejelasan tata cara pelayanan. Tata cara pelayanan harus didisain sesederhana mungkin dan
dikomunikasikan kepada masyarakat pengguna jasa pelayanan.
d. Menimalisasi persyaratan pelayanan. Persyaratan dalam mengurus pelayanan harus dibatasi
sesedikit mungkin dan sebanyak yang benar-benar diperlukan
e. Kejelasan kewenangan, kewenangan pegawai yang melayani masyarakat pengguna jasa
pelayanan harus dirumuskan sejelas mungkin dengan membuat bagan tugas dan distribusi
kewenangan. Dengan demikian tidak akan ada duplikasi tugas dan kekosongan tugas.
f. Transparasi biaya, biaya pelayanan harus ditetapkan seminimal mungkin dan se transparan
mungkin.
g. Kepastian jadwal dan durasi pelayanan. Jadwal dan durasi pelayanan juga harus pasti, sehingga
masyarakat memiliki gambaran yang jelas dan tidak resah.
h. Meminimalisasi formulir, formulir-formulir harus dirancang secara efesien, sehingga akan
dihasilkan formulir komposit ( satu formulir yang dapat dipakai untuk berbagai keperluan).
i. Maksimalisasi masa berlakunya izain. Untuk menghindari terlalu seringnya masyarakat
mengurus izin, maka masa berlakunya izin harus ditetapkan selama mungkin.
j. Kejelasan hak dan kewajiban providers dan costumers, hak-hak dan kewajiban-kewajiban baik
bagi providers maupun costumers harus dirumuskan secara jelas dan dilengkapi dengan sangsi
serta ketentuan ganti rugi.
k. Efektifitas penanganan keluhan. Pelayanan yang baik sedapat mungkin harus menghindarkan
terjadinya keluhan. Akan tetapi jika muncul keluhan, maka harus dirancang suatu mekanisme
yang dapat memastikan bahwa keluhan tersebut akan ditangani secara efektif sehingga
permasalahan yang ada dapat segera dilaksanakan dengan baik.
Kualitas pelayanan publik di bidang perizinan usaha memainkan peranan penting dalam
menarik investor untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. Kualitas pelayanan perizinan
sendiri juga dapat diidentifikasi dari peraturan pemerintah daerah dalam mendukung sekaligus
memberikan legitimasi lembaga perizinan di daerah untuk memberikan pelayanan secara lebih
efisien dan efektif. Dalam hal penyediaan pelayanan perizinan, petugas birokrasi sering kali
memberikan prosedur yang sangat rumit dan cenderung berbelit-belit, sulit diakses, memiliki
prosedur yang sangat rumit serta tidak adanya kepastian waktu dan keterbukaan biaya pelayanan
yang dibutuhkan. Jika mekanisme yang rumit terus tetap berjalan, otomatis membuat masyarakat
menjadi malas dan enggan dalam mengurus perizinan. Keberadaan Badan Pelayanan Perizinan
Terpadu (BPPT) Kabupaten Lombok Timur diharapkan dapat memberikan manfaat bagi
masyarakat umum, dunia usaha dan juga pemerintah sendiri. Bagi masyarakat, dengan adanya
BPPT masyarakat dapat memperoleh pelayanan publik yang lebih baik serta mendapatkan
kepastian dan jaminan hukum serta kemudahan dalam perizinan usaha. Sementara itu keberadaan
Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) mampu mengurangi beban administratif, karena
pelayanan yang lebih efisien dan efektif sehingga mengurangi beban SKPD lain serta
menghindari adanya duplikasi pelayanan perizinan dan non perizinan, selain itu juga berdampak
positif terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) karena masyarakat akan semakin
percaya dengan pelayanan publik pemerintah khususnya Badan Pelayanan Perizinan Terpadu
(BPPT) Kabupaten Lombok Timur
Tujuan yang ingin dicapai oleh BPPT Kabupaten Lombok Timur semoga dapat berjalan
sesuai dengan yang di inginkan oleh masyarakat banyak, diantaranya :
- Meningkatkan kualitas pelayanan perizinan serta meningkatkan kualitas SDM secara
berkelanjutan melalui penerapan dan pengembangan sistem menejemen perizinan.
- Terlaksanannya pendataan dan pengkajian terhadap potensi – potensi daerah secara
berkelanjutan dalam rangka menciptakan peluang investasi.
- Meningkatkan kreatifitas, prakarsa dan dan peran serta peran masyarakat dalm membangun
daerah, serta
- Mendorong peningkatan PAD.
Sementara sasaran yang ingin dicapai pada BPPT, yaitu :
- Terlaksananya pelayanan perizinan yang sesuai standar pelayanan minimal.
- Meningkatnya permohonan perizinan di Kabupaten Lombok Timur.
- Terlaksananya penerapan sistem perizinan secara konsisten.
- Terrealisasinya sosialisasi dan kesadaran masyarakat.
- Meningkatnya target penerimaan PAD melalui bidang perizinan.
Dengan demikian, fungsi pemerintah bukan hanya terbatas pada aktivitas pemberian
pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga harus menjamin bahwa pelayanan yang diberikan
kepada masyarakat tersebut betul-betul berkualitas. pemerintah indonesia sendiri sebenarnya
telah menyadari akan pentingnya penerapan konsep kualitas dalam pelayanan kepada
masyarakat.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan dapat ditarik kesimpulan yang merupakan ikhtisar dari hasil
pembahasan.
a. Peningkatan pelayanan perizinan pada kantor Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten
Lombok Timur cukup baik ditinjau dari segi kelembagaan yaitu pembagian tugas dan tanggung
jawab yang jelas sehingga memudahkan pelayanan kepada masyarakat. Pada waktu masih
berbentuk SINTAP pengurusan izin harus melalui Dinas/instansi terkait, hail ini membuat
masyarakat merasa pembuatan izin terlalu berbelit-belit sehingga berdampak pada kurangnya
minat masyarakat dalam pembuatan izin. Meminimalisir rendahnya kemampuan SDM dan
kurangnya pemahaman masyarakat tentang proses perizinan dengan sasaran terhindar dari
semakin menurunnya kealancaran tugas pelayanan perizinan yang tujuannya adalah mencegah
semakin menurunnya kualitas pelayanan perizinan.
b. Guna mewujudkan peningkatan kualitas SDM, maka tindakan utama dari aktifitas yang harus
dilakukan adalah menugaskan atau mengirimkan pegawai pada BPPT Lombok Timur untuk
mengikiti pelatihan Bintek, sosialisasi, diklat, rakor dan konsultasi/ magang diluar daerah,
sehingga dapat menambah wawasandan pengetahuan, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap
kemampuan pegawai yang bersangkutan untuk menyelanggarakan tugas pokok dan fungsi,
dalam mewujudkan visi dan misi serta tujuan dan sasaran yang ingin dicapai BPPT Kabupaten
Lombok Timur.

B. SARAN
a. Diharapkan dapat lebih mengoptimalkan kualitas pelayanan terutama sosialisasi dan pelayanan
langsung agar masyarakat lebih memahami tentang arti pentingnya perizinan.
b. Dapat memberikan pelayanan secara maksimal terutama dalam hal keramahtamahan daripada
staf yang berad adi bagian pelayanan, sehingga pemohon atau masyarakat merasa lebih nyaman
dengan pelayanan yang diberikan.
c. Lebih mengedepan kan kualitas pelayanan kepada masyarakat luas tanpa pandang bulu, dan
tidak membedakan pelayanan kepada keluarga atau orang-orang terdekat, semua harus sama
dilayani sesuai dengan prosedur pelayanan yang sudah ada.
DAFTAR PUSTAKA

Chitwood, Shetepen R. 1974. Social Equity and Social Service Productivity. George Washington
University.

Islamy, M Irfan. 2004. Prinsip –Preinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta : Bina Aksara.

Miles, Matthew B. And Michael A. Huberman. 1992. Analisa Data kualitatif Diterjemahkan
oleh Tjejep Rohendi Rohidi, Jakarta : Universitas Indinesia.