Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR KIMIA FARMASI

SEMESTER GANJIL 2017-2018

IDENTIFIKASI ANION

Hari / Jam Praktikum : Rabu / 07.00 – 10.00 WIB


Tanggal Praktikum : 11 Oktober 2017
Kelompok :3
Asisten : 1. Luthfi Utami
2. Siti Utami

Alifia Syifa Pebrianti


260110170013

LABORATORIUM ANALISIS FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2017
I. Tujuan
Mengidentifikasi anion dalam larutan dengan menggunakan
metode kualitatif.

II. Prinsip
2.1 Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif membahas identifikasi zat-zat.
Urusannya adalah unsur atau senyawaan apa yang terdapat
dalam sebuah sampel atau contoh. Pada pokoknya, tujuan
analisis kualitatif adalah untuk memisahkan dan
mengidentifikasi sejumlah unsur (Underwood, 1986).
2.2 Anion
Anion merupakan unsur non logam yang bermuatan
negatif. Anion juga dapat berfungsi sebagai logam apabila
memiliki minimal satu pasang ion pusat yang disebut
bilangan koordinat, ikatan kovalen koordinat (Yamin,
2000).

III. Reaksi
3.1 Identifikasi ion CH3COO-
CH3COO- + KHSO4  CH3COOH + K+ + SO42-
(Svehla, 1985).

3.2 Identifikasi ion BO33-


1. H2SO4 + Bo33+ H3Bo3 + SO42-
2. H3Bo3 CH3OH B(OCH3)3 + 3H2O
(Svehla, 1985).

3.3 Identifikasi ion SO42- dan CO32-


a) ion karbonat
1. CO32- + Ba2+ BaCO3
2. BaCO3 + NO3-
b) ion sulfat
1. SO42- + Ba2+ BaSO4
3-
2. BaSO4 + NO
(Svehla, 1985).

3.4 Identifikasi ion CO3- dan HCO32-


a. 1. Ca2+ + CO32- CaCO3
2+ -
2. Ca + HCO3 Ca(HCO3)2
b. 1. 2HCO3- + H2SO4 SO42- + 2Co3
2. CO3 + Ca(OH)2 CaCO3 + H2O
(Svehla, 1985).

3.5 Identifikasi ion SO3- dan SO42-


1. SO32- + Ba2+ BaSO4
2. SO32- + 2H+ H2SO3
3. SO42- + Ba2 + BaSO4
4. SO42- + 2H+ H2SO4
(Svehla, 1985).

3.6 Identifikasi ion S2-


a) S2- + Pb(NO3)2 PbS + 2NO3+
b) S2- + 2HCl H2S + 2Cl-
S2- + H2SO4 H2S + SO42-
S2- + 2HNO3 H2S + 2NO3-
(Svehla, 1985).

3.7 Identifikasi S2O32-


S2O32- + 2H+ → S↓+ SO2 ↑+ H2O
2S2O32- + Fe3+ → [Fe (S2O3)2]-
[Fe (S2O3)2]- + Fe3+ → 2Fe2+ + S4O62-
2S2O3- + 2Fe3+ → S4O62- + 2Fe2+
(Svehla, 1985).
3.8 Identifikasi ion SCN-
(a) SCN- + HNO3 → HSCN + NO3-
HSCN + AgNO3 → AgSCN + HNO3
(b) SCN- + HNO3 → HSCN + NO3-
3HSCN + FeCl3 → Fe(SCN)3 + 3HCl
(Svehla, 1985)
3.9 Identifikasi ion CrO42-
CrO42- + Ag+ Ag2CrO4
Ag2CrO4 + 2Cl- 2AgCl + CrO42-
2Ag2CrO4 + 2H+ 4Ag+ + Cr2O72- + H2O
Ag2CrO4 + 4NH8 2[Ag(NH3)2]+ + CrO42-
K2CrO4 + Pb[(C2H2O2)2] PbCrO4 + 2KC2H3O2
PbCrO4 + 4NaOH Na2(PbO2) + Na2CrO4 + 2H2O
2PbCrO4 + 2HNO3 Pb(NO3)2 + PbCrO7 + H2O

3.10 Identifikasi ion Cl-, Br-, I-


Percobaan a
Cl- + Ag+ AgCl
AgC l + 2NH3 [Ag(NH2)2]+ + Cl-
[Ag(NH3)2]+ + Cl- + 2H+ AgCl + 2NH4+
Br- + Ag+ AgBr
AgBr+2NH3 [Ag(NH3)2]+ + Br-
AgBr+2CN- [Ag(CN)2]- + Br-
AgBr + 2S2O32- [Ag(S2O3)2]3- + Br-
I- + Ag+ AgI
-
AgI + 2CN [Ag(CN)2]- + I-
AgI + 2S2O32- [Ag(S2O3)2]3- + I-
(Svehla, 1985).
Percobaan b
Ion klorida
2Cl- + 2H2SO4 + MnO2 → Cl2↑ + Mn2+ + 2SO42- + 2H2O
Ion bromida
2KBr + 2H2SO4 + MnO2 → Br2↑ + Mn2+ + 2K+ + 2SO42-
+ 2H2O
Ion iodida
2I- + 2H2SO4 + MnO2 → I2↑ + Mn2+ + 2SO42- + 2H2O
(Svehla, 1985).

Percobaan c
Klorida dengan H2SO4
Cl- + H2SO4 → HCl↑ + HSO4-
Bromida dengan H2SO4
KBr + H2SO4 → HBr + HSO4- + K+
2KBr + H2SO4 → Br2↑ + SO2↑ + SO42- + 2K+ + 2H2O
(Svehla, 1985).

3.11 Identifikasi ion NO2- dan NO3-


Fe2+ + SO42- + NO [FeNO]SO4
2NO3- + 4H2SO4 + 6Fe2+ 6Fe2+ + NO + 4SO42- +
4H2O
Fe2+ + NO [FeNO]2+
NO2- + CH3COOH HNO2 + CH3COO-
3HNO2 H2O + HNO3 + 2NO
(NH2)3 + HNO2 N2S + H+ + SCN
(Svehla, 1985).
3.12 Identifikasi ion C2O42-
C2O42- + H2SO4 H2C2O4 + SO42-
H2C2O4 + 2KMnO4 2CO2 + K2O + 2MnO3+ H2O
C2O42- + CaCl2 2CCl + CaO42-
(Svehla, 1985).

3.13 Identifikasi ion CrO42- dan CrO72-


CrO42- + BaCl2 BaCrO4 + 2Cl-
BaCrO4 + CH3COOH tidak larut
2CrO42- + 2H+ CrO42- + H2O
(Svehla, 1985).

IV. Teori Dasar


Ilmu kimia analitik adalah ilmu yang mendasari pemisahan-
pemisahan dari analisa suatu bahan. Analisa bertujuan untuk
menentukan susunan bahan baik secara kuantitatif, kualitatif maupun
struktur. Susunan kualitatif merupakan komponen-komponen bahan
yang menyatakan berapa banyak penyusun setiap komponen tersebut
(Sarjono, 1988).
Dalam kimia analisis kualitatif dikenal suatu cara untuk
menentukan ion (kation atau anion) tertentu dengan menggunakan
pereaksi selektif dan spesifik. Pereaksi tersebut yaitu pereaksi yang
memberikan reaksi tertentu untuk beberapa jenis kation atau anion.
Sedangkan, pereaksi spesifik adalah pereaksi yang memberikan reaksi
tertentu satu jenis kation atau anion (Rifai, 1994).
Metode untuk mendeteksi anion tidaklah sistematik seperti pada
metode untuk mendeteksi kation. Sampai saat ini, belum pernah
ditemukan ataupun dikemukakan suatu skema yang benar-benar
memuaskan, yang memungkinkan pemisahan anion-anion yang umum
ke dalam golongan utama, dan masing-masing golongan menjadi
anggota golongan tersebut yang berdiri sendiri (Svehla, 1985).
Proses yang melibatkan identifikasi produk-produk yang mudah
menguap yang diperoleh pada pengolahan dengan asam-asam dibagi
ke dalam sub kelas:
1. Gas-gas yang dilepaskan dengan asam klorida atau asam sulfat
encer;
2. Gas atau uap yang dilepaskan dengan asam klorida encer;
Sedangkan, proses yang bergantung pada reaksi-reaksi dalam larutan
dibagi dua sebagai berikut:
1. Reaksi pengendapan;
2. Oksidasi-reduksi larutan.
Penentuan anion tidak harus dilarutkan terlebih dahulu ke dalam
air atau asam klorida. Perlakuan anion berlaku untuk dua bagian.
Untuk penentuan ini CO3- dan HCO3- dan untuk penentuan anion-
anion yang lain (Schank, 1990).
Ion sulfat yang bersifat larut yang merupakan bentuk oksidasi
utama sulfur adalah salah satu anion utama di perairan yang
menempati urutan kedua setelah bikarbonat (Rizkiyah, 2013).
Untuk penentuan anion-anion yang lain, bahan atau sampel diberi
larutan Na2CO3 lalu dimasak. Bila terjadi endapan, campuran ini
digunakan lalu disaring dan dicuci filtrat yang digunakan. Untuk
setiap anion diambil sebagian dari cairan tersebut dan dilakukan
reaksi-reaksi yang membedakan antara dicuci atau tidak (Schank,
1990).
Anion juga pada dasarnya adalah penyerap sisa garam fosfat
(Hidayati dkk, 2012).
Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik, anion diklasifikasikan
ke dalam beberapa golongan. Reagen golongan yang dipakai pada
umumnya AgNO3, Ba(NO3)2, dan HNO4. Prinsipnya adalah
terbentuknya endapan atau tidak (Harjadi, 1986).
Untuk penentuan CO3- dan HCO3- bahan ditambahkan HCl
encer dan jikalau perlu disertai dengan proses pemanasan. Akan
terjadi penguraian H2CO3 karena pemanasan tersebut lalu dihasilkan
gas CO2. Selanjutnya, pengujian CO2 itu mudah. Keseluruhan
pengujian ini spesifik untuk ion CO3- dan HCO3- tetapi tidak
menetapkan apa yang benar terjadi dan apa yang ada (Anwar, 1981).
Cara lain yang digunakan untuk analisa campuran adalah dengan
mengunakan reaksi-reaksi selektif. Tujuan pokoknya adalah
memisahkan segolongan kation dari yang lain. Misalnya bila suatu
pereaksi menyebabkan sebagian kation mengendap dan sisanya tetap
larut, maka setelah endapan disaring, terdapatlah dua kelompok
campuran yang isinya masing-masing terpisah satu sama sebelumnya.
Dengan cara tersebut, akhirnya kation dapat terpisah satu sama lain.
Reaksi-reaksi di sini menyebabkan terjadinya zat-zat satu yang
berbeda dari semula dan dikenali perbedaan sifatnya (Harjadi, 1990).
Sehingga, pada umumnya anion digolongkan menjadi :
1. Anion grup 1 (Volatile)
Pereaksi : H2SO4
Member : CO32- , S2- , SO32- ,dll. (Schank, 1990).
2. Anion grup 2 (Barium)
Pereaksi : Ba(NO3)2 dan Ca(NO3)2
Member : SO42- , CrO42- , PO4, dll. (Schank, 1990).
3. Anion grup 3 (Silver)
Pereaksi : AgNO3 suasana asam
Member : I- , SCN- , Br- ,dll. (Schank, 1990).
4. Anion grup 4 (Soluble)
Pereaksi : tidak ada pereaksi khusus
Member : NO3- dan C2H3O2- (Schank, 1990).

V. Alat dan Bahan


5.1 Alat
a. Kaca objek
b. Kawat Ni-Cr
c. Lakmus
d. Pelat tetes
e. Penjepit kayu
f. Pereaksi
g. Rak tabung reaksi
h. Spatula
i. Tabung reaksi
5.2 Bahan
a. Asetat
b. BO3-
c. Br-
d. C2O4-
e. Cl-
f. CO32-
g. CrO42-
h. I-
i. NO2-
j. PO43-
k. S2O32-
l. S2-
m. SCN-
n. SO32-
o. SO42-

5.3 Gambar Alat


a. Kaca Objek h. Plat tetes

b. Kawat Ni-Cr i. Rak tabung reaksi

c. Penjepit kayu j. Spatula

d. Pereaksi k. Tabung reaksi


VI. Prosedur
6.1 Identifikasi ion CH3COO-
Kedalam mortir porselen dimasukkan larutan ion asetat,
lalu ditambahkan KHSO4 padat, digerus dan dicium bau
yang timbul.

6.2 Identifikasi ion BO33-


Kedalam cawan porselen dimasukkan ion borat, lalu
ditambahkan beberapa tetes asam sulfat dan beberapa tetes
metanol (CH3OH), dibakar dan diamati warna nyala yang
terjadi.

6.3 Identifikasi ion CO32- dan HCO3-


a. Untuk membedakan ion karbonat dan bikarbonat,
disediakan 2 tabung reaksi. Tabung 1 diisi dengan larutan

ion CO32-, dan tabung 2 diisi dengan larutan Larutan ion

HCO3-. Kedalam tiap tabung ditambahkan larutan


Ca(OH)2 atau Ba(OH)2 lalu diamati perubahan yang
terjadi. Dipanaskan dan diamati perubahan yang terjadi.
b. Disediakan 2 tabung reaksi, diisi seperti pada
percobaan a. Ke dalam tiap tabung ditambahkan 1ml
H2SO4 4M, lalu dipanaskan. Gas yang terjadi dialirkan
ke dalam tabung reaksi yang berisi larutan Ca(OH)2
atau larutan Ba(OH)2. Lalu dimati perubahan yang terjadi
pada tabung yang berisi Ca(OH)2.

6.4 Identifikasi ion SO42- dan CO32-


Disediakan 2 tabung reaksi. Tabung 1 diisi larutan ion sulfat
dan tabung 2 diisi larutan ion karbonat. Kedalam tiap tabung
ditambahkan larutan BaCl2, diamati perubahan yang terjadi.
Lalu ditambahkan kedalamnya HNO3 encer dan diamati
perubahan yang terjadi.

6.5 Identifikasi ion SO3- dan SO42-


a. Untuk membedakan ion sulfit dan sulfat, disediakan 2
tabung reaksi. Tabung 1 diisi larutan ion sulfit dan tabung
2 diisi larutan ion sulfat. Ditambahkan larutan BaCl2
ledalam tiap tabung, perubahan yang terjadi diamati,
lalu ditambahkan pula HNO3 encer dan diamati
perubahan yang terjadi.
b. Masing-masing larutan sulfit dan sulfat ditotolkan
pada kertas K2Cr2O7 – H2SO4 encer, diamati
perubahan warna pada kertas.

6.6 Identifikasi ion S2-


a. Kedalam tabung reaksi berisi larutan ion sulfida,
ditambahkan larutan Pb(NO3)2 lalu diamati perubahan
yang terjadi.
b. Kedalam tabung reaksi berisi larutan ion sulfida,
ditambahkan asam kuat (HCl/H2SO4 atau HNO3) encer.
Lalu dicium bau yang timbul.
6.7 Identifikasi S2O3
a. Kedalam tabung yang berisi larutan ion tiosulfat,
d i tambahkan HCl 4M dan diamati perubahan yang
terjadi.
b. Kedalam tabung yang berisi larutan ion tiosulfat
ditambahkan larutan iodium/FeCl3 dan diamati
perubahan yang terjadi. Didiamkan lalu diamati
perubahan yang terjadi.

6.8 Identifikasi ion SCN-


Disediakan 2 tabung reaksi lalu diisi dengan larutan ion

SCN-. Tabung 1 ditambah HNO3 2M dan larutan AgNO3.


Tabung 2 ditambah HNO3 2M dan larutan FeCl3. Lalu
dimati perubahan yang terjadi pada masing-masing tabung.

6.9 Identifikasi ion CrO42-


a. Tiga lubang pada pelat tetes diisi masing-masing
dengan 2 tetes larutan kromat dan 1 tetes AgNO3.
Diamati perubahan yang terjadi. Pada lubang pertama,
ditambahkan 1 tetes HCl 4M. Lalu perubahan
yang terjadi diamati. Pada lubang kedua, ditambahkan
1 tetes asam HNO3 2M. Diamati perubahan yang terjadi.
Pada lubang ketiga, ditambahkan 1-2 tetes larutan
NH4OH 4M lalu perubahan yang terjadi diamati.
b. Pada pelat tetes, isi tiga lubang masing-masing dengan
2 tetes larutan kromat dan 1 tetes larutan timbal asetat.
Dimati perubahan yang terjadi. Pada lubang kedua,
tambahkan 1 tetes asam HNO3 2M. Diamati perubahan
yang terjadi. Pada lubang ketiga, tambahkan 3 tetes
larutan NaOH 2M. Diamati perubahan yang terjadi.
6.10 Identifikasi ion Cl-, Br-, I-
a. Disediakan 3 tabung reaksi. Tabung 1 diisi larutan
ion klorida, tabung 2 diisi larutan ion bromida, dan
tabung 3 diisi larutan ion iodida. Ke dalam tiap tabung
ditambahkan HNO3 encer dan 2 tetes larutan AgNO3,
lalu diamati perubahan yang terjadi. Setelah itu,
ditambahkan larutan amonia berlebih dan diamati
perubahan yang terjadi.
b. Disediakan 3 tabung reaksi, masing-masing diisi
dengan larutan seperti pada percobaan a. Ke dalam tiap
tabung ditambahkan larutan H2SO4 encer dan
beberapa tetes larutan KMnO4, dikocok, kemudian
ditambahkan larutan amilum dan diamati perubahan yang
terjadi.
c. Disediakan 3 tabung reaksi, masing-masing diisi
dengan larutan seperti pada percobaan a. Ditambahkan ke
dalamnya H2SO4 encer, 1 mL CHCl3 atau CCl4 , dan
beberapa tetes larutan KMnO4 , dikocok lalu diamati
warna dari lapisan CHCl3 atau CCl4 .

6.11 Identifikasi ion NO2+ dan NO3-


a. Disediakan 2 tabung reaksi, tabung 1 diisi dengan
larutan ion nitrit dan tabung 2 diisi dengan larutan ion
nitrat. Ke dalam tiap tabung ditambahkan H2SO4 4M,
dan FeSO4 padat lau dikocok dan diamati perubahan
yang terjadi. Melalui dinding tabung ditambahkan
perlahan-lahan 1 ml H2SO4 peka dan amati perubahan
yang terjadi.
b. Ke dalam tabung reaksi berisi larutan ion nitrit,
ditambahkan asam asetat encer dan larutan thioureum
10%, lalu didiamkan selama 5 menit dan diamati
perubahan yang terjadi. Ditambahkan juga HCl encer dan
larutan FeCl3, lalu diamati perubahan yang terjadi.

6.12 Identifikasi ion C2O42-


a. Ke dalam tabung reaksi berisi larutan sampel (ion
oksalat) ditambahkan 10 tetes H2SO4 4 M, kocok.
Kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan KMnO4
0,002 M sampai warna larutan KMnO4 hilang.
b. Ke dalam tabung reaksi berisi larutan sampel
(ion oksalat) ditambahkan 2 tetes larutan CaCl2.
Jika reaksi (+) maka akan terbentuk endapan kristalin
yang dapat dilihat di bawah mikroskop.

6.13 Identifikasi ion CrO42- dan CrO72-


a. Warna kedua ion tersebut dilihat.
b. Ke dalam dua tabung reaksi yang berisi masing-masing
larutan ion, ditambahkan larutan BaCl2, lalu diamati
endapan yang terjadi. Kemudian masing-masing tabung
ditambahkan asam asetat dan diamati perubahan yang
terjadi. Kemudian masing-masing tabung ditambahkan
asam nitrat encer dan perubahan yang terjadi diamati.

VII. Data Pengamatan


7.1 Identifikasi ion CH3COO-
No Perlakuan Hasil

1. Kedalam
mortir
porselen
dimasukkan
larutan ion
asetat
2. Ditambahkan KHSO4 padat tidak tersedia
KHSO4 padat
3. Digerus dan
dicium bau
yang timbul
4. Asam asetat
dan Pb Asetat
dibakar

5. Dicium bau Timbul bau cuka


yang timbul

7.2 Identifikasi ion BO33-


No Perlakuan Hasil

1. Kedalam
cawan
porselen
dimasukkan
ion borat
2. Ditambahkan Ion borat, H2SO4 dan methanol
beberapa bercampur. Tidak terjadi perubahan
tetes asam apapun
sulfat dan
beberapa
tetes metanol
(CH3OH)
3. Dibakar dan Terbentuk
diamati warna nyala
warna nyala api hijau
yang terjadi
7.3 Identifikasi ion CO32-
No Perlakuan Hasil
1. Larutan yang Larutan yang berisi ion karbonat
berisi ion membentuk gelembung gas dengan
CO32- H2SO4.
dimasukan
kedalam
tabung reaksi
kemudian
ditambahkan
beberapa
tetes H2SO4.

2. Larutan yang Larutan yang berisi karbonat


berisi ion membentuk endapan putih ketika
CO32- ditambah BaNO3.
dimasukan
kedalam
tabung reaksi
kemudian
ditambahkan
larutan
barium nitrat
kemudian
dipanaskan.
Dan terbentung gelembung gas
ketika dipanaskan.
7.4 Identifikasi ion CO3- dan HCO32-
No Perlakuan Hasil
1. Larutan yang Larutan ion karbonat berwarna
berisi ion bening, ketika ditambah BaCl2
CO32- terbentuk endapan putih.
kedalam
tabung reaksi
setelah itu
dilakukan
penambahan
BaCl2
kedalam (Sebelum)
tabung.
Setelah itu
dilakukan
penambahan
larutan HNO3
encer pada
tabung, amati (Sesudah)

yang terjadi. Ketika ditambah HNO3 encer


endapan menjadi larut dan terbentuk
gelembung gas.
2. Larutan yang Larutan ion sulfat berwarna bening,
berisi ion ketika ditambah BaCl2 terbentuk
SO42- endapan putih.
kedalam
tabung reaksi
setelah itu
dilakukan
penambahan
BaCl2
kedalam (Sebelum)
tabung.
Setelah itu
dilakukan
penambahan
larutan HNO3
encer pada
(Sesudah)
tabung, amati
Ketika ditambah HNO3 encer
yang terjadi.
endapan tidak berubah.
7.5 Identifikasi ion SO3- dan SO42-
No Perlakuan Hasil

Percobaan a

1. Disediakan 2
tabung reaksi
2. Tabung 1 diisi
larutan ion sulfit
dan tabung 2
diisi larutan ion
sulfat
3. Ditambahkan Tabung 1:
larutan BaCl2 Terbentuk
ke dalam tiap endapan
tabung putih di dasar
tabung
Tabung 2:
Terbentuk
endapan
putih di dasar
tabung
4. Perubahan yang
terjadi diamati
5. Ditambahkan Tabung 1:
pula HNO3 tetap
encer mengendap
dan terlihat
warna bening
di atas
endapan
Tabung 2:
tidak terjadi
perubahan

6. Diamati
perubahan yang
terjadi
Percobaan b

1. Masing-masing SO32- :
larutan sulfit menjadi
dan sulfat warna hijau
ditotolkan pada SO42- :
kertas K2Cr2O7 menjadi
– H2SO4 encer warna orange

2. Diamati
perubahan warna
pada kertas

7.6 Identifikasi ion S2-


No Perlakuan Hasil

Percobaan a

1. Kedalam tabung Tidak dilakukan dikarenakan


reaksi berisi sulfida menghasilkan gas
larutan ion yang dinilai berbahaya
sulfida,
ditambahkan
larutan Pb(NO3)2
2. Diamati perubahan
yang terjadi
Percobaan b

1. Kedalam tabung Tidak dilakukan dikarenakan


reaksi berisi sulfida menghasilkan gas
larutan ion sulfida, yang dinilai berbahaya
ditambahkan asam
kuat (HCl/H2SO4
atau HNO3) encer
2. Dicium bau yang
timbul

7.7 Identifikasi S2O32-


No Perlakuan Hasil

Percobaan a

1. Kedalam tabung
yang berisi larutan
ion tiosulfat
2. D i tambahkan HCl Larutan
4M menjadi keruh
dan terdapat
endapan putih
dalam larutan
kuning pucat
3. Diamati perubahan
yang terjadi
Percobaan b

1. Kedalam tabung Warna larutan


yang berisi larutan berubah
ion tiosulfat menjadi warna
ditambahkan kuning
larutan lembayung
iodium/FeCl3

2. Diamati
perubahan yang
Terjadi

3. Didiamkan lalu
diamati perubahan
yang terjadi

7.8 Identifikasi ion SCN-


No Perlakuan Hasil

1. Disediakan 2
tabung reaksi lalu
diisi dengan

larutan ion SCN-


2. Tabung 1 Tabung 1
ditambah HNO3 + HNO3 :
2M dan larutan tetap bening
AgNO3 +AgNO3 :
menjadi pink
Tabung 2
+ HNO3 :
tetap bening
+AgNO3 :
menjadi
merah darah
3. Tabung 2 Tabung 1:
ditambah HNO3 Menjadi
2M dan larutan jingga
FeCl3 Tabung 2:
Tetap merah
darah
4. Diamati
perubahan yang
terjadi pada
masing-masing
tabung

7.9 Identifikasi ion CrO42-


No Perlakuan Hasil

Percobaan a

1. Tiga lubang
pada pelat tetes
diisi masing-
masing dengan
2 tetes larutan
kromat dan 1
tetes AgNO3
2. Diamati
perubahan yang
terjadi
3. Pada lubang Berubah
pertama, menjadi
ditambahkan 1 warna
tetes HCl 4M oranye
4. Diamati
perubahan yang
terjadi
5. Pada lubang Berubah
kedua, menjadi
ditambahkan 1 warna
tetes asam oranye
HNO3 2M

6. Diamati
perubahan yang
terjadi
7. Pada lubang Berubah
ketiga, menjadi
ditambahkan 1- warna
2 tetes larutan kuning
NH4OH 4M
8. Diamati
perubahan yang
terjadi
Percobaan b

1. Pada pelat
tetes, d i i isi
tiga lubang
masing-masing
dengan 2 tetes
larutan kromat
dan 1 tetes
larutan timbal
asetat
2. Diamati
perubahan yang
terjadi
3. Pada lubang Terbentuk
kedua, endapan
tambahkan 1 warna
tetes asam kuning
HNO3 2M

4. Diamati
perubahan yang
terjadi
5. Pada lubang Tidak
ketiga, tersedia
tambahkan 3 NaOH di
tetes larutan laboratorium
NaOH 2M
6. Diamati
perubahan yang
terjadi

7.10 Identifikasi ion Cl-, Br-, I-


No Perlakuan Hasil

Percobaan a

1. Disediakan 3
tabung reaksi
2. Tabung 1 diisi
larutan ion
klorida, tabung 2
diisi larutan ion
bromida, dan
tabung 3 diisi
larutan ion iodida

3. Ke dalam tiap Tidak


tabung terjadi
ditambahkan perubahan
HNO3 encer dan warna
2 tetes larutan
AgNO3
4. Diamati
perubahan yang
terjadi
5. Ditambahkan
larutan amonia
berlebih
6. Ditambahkan Tabung 1:
larutan amonia Tidak
berlebih terjadi
perubahan
Tabung 2:
Putih
kekuninga
n
Tabung 3:
Merah
kecoklata
n
Percobaan b

1. Disediakan 3
tabung reaksi,
masing-masing
diisi dengan
larutan seperti
pada percobaan a

2. Ke dalam tiap +H2SO4


tabung Tabung 1:
ditambahkan putih
larutan H2SO4 Tabung 2:
encer dan putih
beberapa tetes keruh
larutan KMnO4 Tabung 3:
coklat
kemeraha
n

+KmnO4
Tabung 1:
ungu
Tabung 2:
kuning
Tabung 3:
hitam
3. Dikocok, Tidak
kemudian tersedia
ditambahkan amilum
larutan amilum
4. Diamati
perubahan yang
terjadi
Percobaan c

1. Disediakan 3
tabung reaksi,
masing-masing
diisi dengan
larutan seperti
pada percobaan a
2. Ditambahkan ke +H2SO4
dalamnya H2SO4 Tabung 1:
encer, 1 mL sangat
CHCl3 atau CCl4 putih
dan beberapa tetes Tabung 2:
larutan KMnO4 putih
keruh
Tabung 3:
coklat
kemeraha
n

+KmnO4
Tabung 1:
ungu
Tabung 2:
kuning
Tabung 3:
coklat
3. Dikocok lalu
diamati warna
dari lapisan
CHCl3 atau CCl4

7.11 Identifikasi ion NO2- dan NO3-


No Perlakuan Hasil

Percobaan a

1. Disediakan 2
tabung reaksi,
tabung 1 diisi
dengan larutan
ion nitrit dan
tabung 2 diisi
dengan larutan
ion nitrat
2. Ke dalam tiap FeSO4 tidak tersedia sehingga
tabung diganti dengan FeCl3
ditambahkan
H2SO4 4M, dan
FeSO4 padat lau
dikocok
3. Diamati Tabung 1:
perubahan yang warna
terjadi kuning
pekat

Tabung 1
Tabung 2:
warna
kuning
dan
gelembung
gas Tabung 2
(Gelembung gas
tidak terlihat)
4. Melalui dinding Tabung 1:
tabung tidak
ditambahkan terbentuk
perlahan-lahan 1 cincin
ml H2SO4 coklat
Tabung 2: Tabung 1
pekat
terbentuk
cincin
putih dan
larutan
berwarna
sedikit
kecoklatan Tabung 2

5. Diamati
perubahan yang
terjadi
Percobaan b

1. Ke dalam tabung Larutan thioureum 10% tidak


reaksi berisi tersedia di laboratorium
larutan ion nitrit,
ditambahkan
asam asetat encer
dan larutan
thioureum 10%
2. Didiamkan
selama 5 menit
dan diamati
perubahan yang
terjadi
3. Ditambahkan
juga HCl encer
dan larutan
FeCl3
4. diamati
perubahan yang
terjadi
7.12 Identifikasi ion C2O42-
No Perlakuan Hasil

Percobaan a

1. Ke dalam Warna
tabung reaksi larutan tetap
berisi larutan bening
sampel (ion
oksalat)
ditambahkan 10
tetes H2SO4 4 M
2. Dikocok

3. Ditambahkan Semula
beberapa tetes warna ungu
larutan KMnO4 kemudian
0,002 M sampai menjadi
warna larutan bening
Sebelum
KMnO4 hilang kembali

Setelah
Percobaan b

1. Ke dalam
tabung reaksi
berisi larutan
sampel (ion
oksalat)
ditambahkan 2
tetes larutan
CaCl2
2. Diamati bentuk
endapan kristalin
yang dapat
dilihat di bawah
mikroskop

7.13 Identifikasi ion Permanganat


No Perlakuan Hasil
1. Sampel Sampel
dilarutkan dalam tersedia
air. dalam bentuk
larutan yang
berwarna
ungu

2. Ditambahkan Tidak terjadi


dua tetes asam perubahan
sulfat pekat dan (warna tetap
dua tetes larutan ungu)
H2O2 ke dalam
tabung reaksi
berisi ion
permanganat.

3. Perubahan yang Larutan


terjadi diamati. menjadi
warna bening
dan terdapat
gelembung.
7.14 Identifikasi ion CrO42- dan CrO72-
No Perlakuan Hasil

Percobaan a

1. Warna kedua Kromat:


ion diamati warna
kuning
Bikromat:
warna
oranye Kromat

Bikromat
Percobaan b

1. Ke dalam dua Tabung 1:


tabung reaksi kuning
yang berisi keruh
masing-masing Tabung 2:
larutan ion, Terbentuk
ditambahkan sedikit Tabung 1
larutan BaCl2 endapan
putih

Tabung 2
2. Diamati
endapan yang
terjadi

3. Masing- Tabung 1:
masing tabung tidak ada
ditambahkan perubahan
asam asetat warna
dan diamati Tabung 2:
perubahan tidak ada
yang terjadi perubahan
warna
4. Masing- Tabung 1:
masing tabung warna
ditambahkan oranye
asam nitrat Tabung 2:
encer dan tidak
perubahan mengalami
yang terjadi perubahan
diamati

VIII. Pembahasan
8.1 Identifikasi ion CH3COO-
Identifikasi ion asetat dilakukan dengan menggunakan uji
organoleptis yaitu dengan mencium bau gas yang dihasilkan
dari proses pembakaran. Bau gas dihasilkan dari pemanasan
larutan sampel adalah bau khas dari ion asetat yaitu bau cuka.

8.2 Identifikasi ion BO33-


Identifikasi ion borat dilakukan dengan flame test atau uji
nyala api. Warnya nyala yang dihasilkan adalah hijau hal ini
disebabkan oleh pembentukan metil borat B(OCH3)3 hasil
campuran borat dengan asam sulfat pekat dan metanol,
alkohol akan terbakar dengan nyala yang pinggirannya hijau.
8.3 Identifikasi ion CO3- dan HCO32-
Larutan yang berisi ion karbonat akan menghasilkan
gelembung gas jika ditambahkan dengan H2SO4. Hal tersebut
terjadi menurut persamaan reaksi CO32- + 2H+ → CO2↑ +
H2O dalam persamaan tersebut terlihat bahwa
gelembung gas yang dihasilkan merupakan gelembung gas
CO2. Larutan yang berisi ion karbonat membentuk endapan
putih ketika ditambah Ba(NO3)2, endapan tersebut merupakan
senyawa BaCO3 berdasarkan reaksi CO32- + Ba(OH)2 →
BaCO3↓ + H2O (Svehla, 1985).

8.4 Identifikasi ion SO42- dan CO32-


Larutan CO32- dan SO42- berwarna bening pada awalnya,
setelah ditambahkan BaCl2 maka akan dihasilkan endapan
putih dalam kedua tabung, endapan tersebut merupakan
senyawa BaCO3 dan BaSO4. BaCO3 adalah senyawa yang
larut dalam asam mineral dan asam karbonat, sedangkan
BaSO4 adalah senyawa yang tidak larut dalam asam klorida
encer panas dan asam nitrat encer, tetapi larut sedang-sedang
saja dalam asam klorida pekat yang mendidih. BaCO3 akan
larut dengan HNO3 dan membentuk gelembung gas CO2
sesuai dengan persamaan reaksi : BaCO3 + H+ → Ba2+ +
CO2↑ +H2O. Sementara itu, endapan BaSO4 tidak larut dalam
HNO3 menurut persamaan reaksi BaSO4 + 2HNO3 →
Ba(NO3)2 + H2SO4. Produk yang berupa senyawa Ba(NO3)2
merupakan endapan berwarna putih yang akan larut jika
ditambahkan air (Svehla,1985).

8.5 Identifikasi ion SO3- dan SO42-


Pada saat melakukan identifikasi ion sulfat, digunakan
senyawa alumunium sulfat dan untuk mengidentifikasi ion
sulfit digunakan senyawa sodium sulfit. Tujuan
ditambahkannya BaCl2 adalah untuk menguji terbentuknya
endapan putih atau tidak. Karena menurut literatur jika sulfat
dan sulfit ditambahkan BaCl2 maka akan terbentuk endapan
putih. Pada ion sulfit ketika ditambahkan dengan kalium
dikromat dan asam sulfat maka warna larutannya akan
berubah menjadi warna hijau. Hal ini terjadi karena terjadi
karena pembentukan ion-ion kromium(III).

8.6 Identifikasi ion S2-


Identifikasi sulfida tidak dilakukan karena gas sulfida
dinilai berbahaya. Gas sulfida juga sering disebut gas busuk
sebab baunya seperti telur busuk. Gas sulfida tidak memiliki
warna, termasuk gas racun dan bisa meledak, dan hasil
dekomposisi dari senyawa belerang.

8.7 Identifikasi S2O32-


Identifikasi untuk ion tiosulfat adalah dengan
ditambahkannya asam klorida, dari hasil penambahan
tersebut akan dihasilkan warna larutan yang keruh dan
terdapat endapan putih karena terdapat pemisahan belerang
dan pada larutan terdapat asam sulfit. Pada percobaan ini
ditambahkan pula larutan besi (III) klorida, dihasilkan warna
larutan lembayung tua karena terbentuknya senyawa
kompleks ditiosulfatobesi (III).

8.8 Identifikasi ion SCN-


Identifikasi untuk ion tiosianat adalah dengan
ditambahkannya HNO₃ 2M ke dalam tabung reaksi, dari
hasil penambahan tersebut tidak ada perubahan yang terjadi
pada larutan. Larutan tetap berwarna bening tetapi ketika
ditambahkan larutan AgNO₃ larutan berubah warna menjadi
warna pink. Lalu, ketika ditambahkan FeCl₃ larutan berubah
menjadi merah darah yang ditimbulkan karena terbentuknya
suatu kompleks.

8.9 Identifikasi ion CrO42-


Identifikasi ion kromat adalah dengan ditambahkannya
asam klorida, penambahan ini menghasilkan warna oranye.
Lalu ditambahkan pula asam nitrat yang masih menghasilkan
warna oranye dan saat ditambahkan dengan ammonium
hidroksida dihasilkan warna larutan yang berubah warnanya
menjadi kuning. Ketika ditambahkan dengan timbal asetat
akan dihasilkan endapan kuning yang tidak larut dalam asam
asetat. Saat lubang kedua ditambahkan dengan asam nitrat
menjadi warna larutan dan endapan.

8.10 Identifikasi ion Cl-, Br-, I-


Identifikasi golongan halogen dilakukan dengan tiga
perlakuan yang berbeda untuk setiap ion halogen, pada ion
Cl- digantikan dengan larutan BaCl2 kemudian ditambahkan
HNO3 encer dan 3 tetes AgNO3, namun tidak menyebabkan
terjadinya perubahan pada larutan BaCl2, tetapi menurut
literatur seharusnya ketika ion dan larutan tersebut
direaksikan akan terbentuk endapan putih, hal ini disebabkan
karena HNO3 termasuk oksidator kuat dan asam kuat, lalu
larutan tersebut ditambahkan dengan ammonia berlebih
namun tidak terjadi perubahan.
Saat amonium direaksikan dengan klorin tidak akan
dihasilkan amonium klorida dan jika direaksikan dengan
klorin berlebih akan menghasilkan nitrogen triklorida.
Pada ion Br- yang pada percobaan ini digunakan sampel
larutan kalium bromida, larutan tersebut ditambahkan HNO3
encer dan 3 tetes AgNO3, hasilnya adalah tetap atau tidak
terjadi perubahan warna pada larutan tersebut. Tetapi
menurut literatur, ketika larutan tersebut direaksikan
seharusnya akan terbentuk endapan kuning AgBr, hal ini
dikarenakan saat dititrasi menggunakan AgNO3, larutan
makin lama makin mengental akibat terbentuknya koloid.
Koloid ini terbentuk karena reaksi antara ion Br- dalam
sampel dengan Ag+.
Ketika direaksikan dengan ammonia terjadi perubahan
warna menjadi putih kekuningan. Reaksi amonia dengan
bromin akan menghasilkan amonium bromida dan gas
nitrogen.
Pada percobaan ion I-, karena ketidaktersedian bahan di
laboratorium maka ion tersebut digantikan dengan larutan
KI3. Larutan tersebut ditambahkan HNO3 encer dan 3 tetes
AgNO3. Setelah direaksikan, didapatkan hasil yaitu tidak
terjadi perubahan warna pada larutan tersebut. Tetapi
menurut literatur, ketika larutan tersebut direaksikan maka
seharusnya akan terbentuk endapan kuning AgI, hal ini
dikarenakan saat dititrasi menggunakan AgNO3, larutan
makin lama makin mengental akibat terbentuknya koloid.
Koloid ini terbentuk karena reaksi antara ion I- dalam sampel
dengan Ag+.
Ketika direaksikan dengan ammonia terjadi perubahan
warna menjadi merah kecoklatan.
Perlakuan kedua, untuk ion Cl- larutan yang digunakan
adalah larutan BaCl2 ,kemudian ditambahkan H2SO4 encer,
belum terjadi perubahan warna yang signifikan , hal ini
terjadi karena H2SO4 tidak bereaksi secara warna.
Kemudian, ditambahkan beberapa tetes KMnO4 dan
terbentuk larutan bewarna ungu, hal ini terjadi karena
KMnO4 merupakan oksidator sehingga mereduksi larutan
tersebut. Setelah itu ditambahkan amilum pada larutan yang
bertujuan sebagai indikator yang dapat mengidentifikasi
keberadaan ion Cl- pada larutan melalui perubahan warna
yang terjadi, namun pada percobaan kali ini amilum tidak
tersedia dilaboratorium akibatnya tidak bisa ditentukannya
keberadaan ion Cl-. Namun menurut literatur apabila larutan
ditambahkan amilum akan menghasilkan warna ungu pekat.
Untuk ion Br- larutan yang digunakan adalah larutan kalium
bromida, kemudian ditambahkan H2SO4 encer, dan berwarna
putih keruh, akan tetapi, menurut literatur jika ion Br-
ditambahkan H2SO4 encer maka akan terbentuk larutan
bewarna cokelat-kemerahan karena terbentuk uap brom yang
berasap dalam udara lembab.
Kemudian, saat ditambahkan beberapa tetes KMnO4 dan
terbentuk larutan bewarna cokelat kemerahan, hal ini terjadi
karena KMnO4 merupakan oksidator sehingga mereduksi
larutan tersebut. Setelah itu ditambahkan amilum pada
larutan hal ini bertujuan sebagai indikator yang dapat
mengidentifikasi keberadaan ion Br pada larutan melalui
perubahan warna yang terjadi, namun pada percobaan kali ini
amilum tidak tersedia dilaboratorium akibatnya tidak bisa
ditentukannya keberadaan ion Br. Namun menurut literatur
apabila larutan ditambahkan amilum akan menghasilkan
warna kuning.
Perlakuan ketiga, untuk ion Cl- digantikan dengan larutan
BaCl₂ ,kemudian ditambahkan H₂SO₄ encer, dan bewarna
sangat keruh, hal ini terjadi karena menurut literatur, ion
klorida banyak terurai dalam keadaan dingin, dan sempurna
saat pemanasan, yang disertai dengan pelepasan hidrogen
klorida.
Lalu ditambahkan CHCl₃ atau CCl₄, tetapi tidak tersedia di
laboratorium, menurut literatur jika ion Cl-ditambahkan
CHCl₃ atau CCl₄ akan sukar larut dalam pelarut nonpolar,
karena ion Cl- lebih mudah larut dalam air. Kemudian,
ditambahkan beberapa tetes KMnO₄ dan terbentuk larutan
bewarna ungu, hal ini terjadi karena KMnO₄ merupakan
oksidator sehingga mereduksi larutan tersebut.
Untuk ion Br-digantikan dengan larutan kalium bromida,
kemudian ditambahkan H₂SO₄ encer, dan bewarna putih
keruh, akan tetapi, menurut literature jika ion Brֿ
ditambahkan H₂SO₄ encer maka akan terbentuk larutan
bewarna cokelat-kemerahan karena terbentuk uap brom yang
berasap dalam udara lembab.
Lalu ditambahkan CHCl₃ atau CCl₄, tetapi tidak tersedia di
laboratorium, menurut literatur jika ion Br- ditambahkan
CHCl₃ atau CCl₄ akan terbentuk larutan yang bewarna
kuning-cokelat hal ini terjadi karena Brֿ sukar larut dalam
pelarut nonpolar, dan ion Brֿ lebih mudah larut dalam air.
Kemudian, ditambahkan beberapa tetes KMnO₄ dan
terbentuk larutan bewarna cokelat kemerahan, hal ini terjadi
dikarenakan KMnO₄ merupakan oksidator sehingga dapat
mereduksi larutan tersebut.
Untuk ion yang diganti dengan larutan KI3 ditambahkan
H2SO4 encer dan KMnO4. Ketika larutan KI3 yang
berwarna cokelat ditambahkan H2SO4 perubahan warna
yang terlihat adalah cokelat kemerahan. Selanjutnya larutan
ditambahkan larutan KMnO4 dan perubahan warna yang
terlihat adalah cokelat gelap. Dalam uji ini seharusnya
digunakan larutan CHCl3 atau CCl4 sebelum ditambahkan
dengan KMnO4 agar perubahan warna untuk uji spesifik ion
iodida sesuai dengan literatur, yaitu berwarna endapan
kuning. Karena ketidaktersediaan larutan CHCl3 maupun
CCl4 warna perubahan akhir yang timbul adalah cokelat.
8.11 Identifikasi ion NO2+ dan NO3-
Percobaan selanjutnya bertujuan untuk membedakan ion
nitrat dan nitrit. Pada percobaan ini, ion-ion tersebut
dimasukkan ke dalam dua tabung yang berbeda, lalu
dilarutkan oleh H2SO4 dan FeSO4. Tetapi, dikarenakan
ketidaksediaan larutan FeSO4 di laboratorium, maka
digunakan larutan FeCl3 sebab dalam rekasi yang tertera
literatur, disebutkan bahwa yang berikatan dengan nitrit atau
nitrat adalah unsur Fe. Penambahan H2SO4 dan FeSO4 pada
ion nitrit akan berbeda hasilnya ketika ditambahkan pada ion
nitrat. Ion nitrit merupakan anion golongan 1 (Acid Volatile
Group) yang bila ditambah suatu larutan asam ke dalam zat
atau larutan yang akan diuji (larutan NaNO2) akan
menghasilkan gas. Dari hasil percobaan yang dilakukan,
didapatkan hasil yang positif. Sedangkan, ketika ion nitrat
dari sampel asam nitrat ditambahkan H2SO4 dan FeCl3
literatur menyatakan akan dihasilkan cincin coklat. Namun,
dari hasil percobaan hanya didapatkan perubahan warna dari
larutan ion nitrat menjadi kuning pekat. Faktor yang
menyebabkan hasil percobaan ini negatif adalah digantinya
larutan FeSO4 dengan FeCl3.

8.12 Identifikasi ion C2O42-


Asam oksalat saat ditambah asam sulfat warnanya tetap
bening, hal ini disebabkan dengan ditambahkannya asam
sulfat suasana reaksi menjadi asam. Ketika larutan
dicampurkan dengan kalium permanganat (KMnO4), terjadi
perubahan warna pada kalium permanganat yang telah
ditambahkan ion oksalat yang semula berwarna ungu menjadi
bening kembali Hal ini karena kalium permanganat
mengoksidasi asam oksalat menjadi CO2 dan H2O.
Erlenmeyer perlu dikocok untuk menghindari terbentuknya
endapan. Saat asam oksalat ditambahkan dengan KMnO4,
warna permanganatnya akan hilang dan juga terbentuk
gelembung-gelembung udara. Gelembung ini merupakan
karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari reaksi kalium
permanganat dengan asam oksalat.

8.13 Identifikasi ion MnO42-


Ditambahkannya asam sulfat pada larutan ion permanganat
agar reaksi dalam suasana asam. Penggunaan Hidrogen
Peroksida (H2O2) ini bermanfaat ketika mengubah kalium
permanganat yang berwarna ungu menjadi cairan bening. Hal
ini dapat terjadi dikarenakan kalium permanganat memiliki
atom mangan (Mn) tersebut dengan keadaan oksidasi +7.
Reaksi dengan hydrogen peroksida ini yang mengubah atom
mangan (Mn) menjadi keadaan oksidasi +2, hal inilah yang
menyebabkan KMnO4 kehilangan warna ungu yang
dimilikinya. Produk yang dihasilkan dari reaksi ini yaitu gas
Oksigen (O2) dan air (H2O) yang ditandai dengan adanya
gelembung pada reaksi campuran tersebut.

8.14 Identifikasi ion C2O42-


Ion kromat akan membentuk endapan bila di reaksikan
dengan BaCl2 karena dengan ditambahkan nya pereaksi akan
terbentuk endapan BaCrO2 yang mengakibatkan larutan
menjadi berwarna kuning. Namun dalam ion bikromat hanya
terdapat sedikit endapan putih (2BaCrO4), hal ini dikarenakan
terdapat suatu asam kuat terbentuk yang mengakibatkan
endapan hanyalah parsial atau sebagian. Setelah itu larutan
kembali bereaksi ketika ditambahkan reagen asam nitrat
encer, khususnya pada ion kromat. Hal ini dikarenakan
terjadi pereduksian oleh asam nitrat sehingga ion kromat
kembali ke warna asalnya yakni warna kuning.

IX. Kesimpulan
Anion dalam larutan dapat diidentifikasi dengan menggunakan
metode kualitatif. Namun, tidak semua anion bernilai positif hasilnya
karena ketidaksediaan bahan atau sampel.
Daftar Pustaka

Anwar, M. 1981. Kimia Dasar II. Bogor: Kimia IPB Press.


Hidayati, dkk. 2012. Pengaruh Penambahan H3PO4 dan Resin Kation-Anion
terhadap Persen Total Gliserol Hasil Samping Pembuatan Biodiesel. Jurnal
Teknik Kimia Vol. 14. No. 6.
Rifai, H. 1994. Kimia Dasar. Jakarta: Gramedia.
Rizkiyah, I. 2013. Identifikasi Kandungan Mineral Sulfat, Klorida, Magnesium
dan Kalsium dalam Air Panas Pada Objek Wisata Pemandian Air Panas Gua
Tegal. Jurnal Penelitian IAIN Walisongo.
Sarjono, K. 1988. Analisis Farmasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Schank, G. H. 1990. Qualitatif Analyis dan Ionic Equilibrium 2nd Edition.
Boston: Mujhan Company.
Svehla, G. 1985. Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro Bagian I Edisi V. Jakarta: PT. Kalma Media Pustaka.
Underwood, A. 1993. Analisis Kimia Kualitatis Edisi IV. Jakarta: Erlangga.