Anda di halaman 1dari 8

Berkenalan Dengan Surat Tagihan Pajak

Tahukah Anda , bila utang pajak tidak dibayar-bayar, akan ada tindakan dari pihak otoritas pajak untuk
menagihnya. Jika dipersepsi secara positif, terbitnya surat yang bernama Surat Tagihan Pajak (STP)
merupakan suatu bentuk perhatian lebih dari pihak otoritas kepada Wajib Pajak. Benarkah demikian...?

Kreasi Me - Bila di telaah lebih lanjut, banyak alasan mengapa pihak otoritas menerbitkan surat tagihan
ini. Walau secara penyebutan mudah dihafal, tapi tidak banyak orang yang tahu mengapa surat dari
pihak otoritas pajak ini diterbitkan. Sampai dengan saat ini, masih saja ada wajib pajak yang tidak
mengetahui mekanisme yang harus dilakukan ketika menerima SPT dari pihak otoritas pajak. Lebih
ironisnya lagi, STP tersebut terbit hanya gara-gara masalah sepele, yaitu lantaran ada utang pajak yang
tidak dilunasi. Kasusu ini pun dialami oleh Pak Rudi (bukan nama sebenarnya), yang kebetulan baru
memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) enam bulan yang lalu.

Pak Rudi adalah seorang karyawan swasta yang juga berwirausaha menjual baju secara grosir
maupun eceran yang dilakukan disebuah kios di Pasar Tanah Abang. Usaha yang dijalankan sejak enam
bulan lalu ini, talah mencapai omzet yang terbilang cukup besar. Bahkan, dalam satu bulan, Pak Rudi bisa
meraup keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan penghasilan yang diperoleh dari
pekerjaannya.

Namun demikian, saat ini Pak Rudi sedang kebingungan. Pasalnya, beberapa hari yang lalu, ia
menerima STP dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang kewenangannya mencakup tempatnya
menjalankan usaha tersebut. Isinya menjelaskan bahwa Pak Rudi berkewajiban untuk melakukan
penyetoran dan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25, sehubungan
dengan usaha yang dijalankannya itu. Merasa awam dengan STP tersebut, Pak Rudi lantas mendatangi
Konsultan Pajak yang dipercayainya untuk mendapatkan penjelasan.

Kejadian seperti ini, bisa jadi pernah dialami oleh Wajib Pajak Baru yanga lain. Atau mungkin juga
dialami oleh Anda. Bagi sebagian orang yang awam dengan ketentuan perpajakan, pertanyaan mengenai
apa sebetulnya yang dimaksud dengan STP, mengapa ada STP, atau pertanyaan-pertanyaan lain seputar
STP, mungkin kerap kali muncul di benak anda.

Dasar Penagihan.

Secara gramatikal,pengertian STP sebetulnya dapat dipahami dengan mudah. Dari kepanjangan
katanya saja, dapat diartikan bahwa STP adalah surat untuk menagih pajak. Namun demikian, dalam
melaksanakan kewajiban perpajakannya, STP tidak serta merta dapat diartikan semudah itu. Alasannya,
setiap tindakan penagihan mempunyai patokan-patokan tertentu yang sudah digariskan dalam peraturan
perundang-undangan perpajakan.
Merujuk pada ketentuan Pasal 1 angka 20 Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan (s.t.d.t.d) UU
Nomor 16 Tahun 2009 (UU KUP), STP didefinisikan sebagai surat untuk melakukan penagihan pajak dan
atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda. Dari pengertian ini, dapat diketahui bahwa STP
tidak hanya digunakan untuk menagih pajak saja, tetapi untuk menagih sanksi administrasi berupa bunga
dan atau denda yang terkait dengan kewajiban perpajakan. Dengan kata lain, STP merupakan sarana bagi
pihak otoritas untuk melakukan penagihan, seperti yang diatur dalam Pasal 18 UU KUP.

Melihat ketentuan Pasal 18 UU KUP tersebut, selain STP, masih ada surat keterangan lain seperti
surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), serta surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
(SKPKB), dan Surak Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan
Peninjauan Kembali, yang mempunyai karakteristik sama, yaitu menyebabkan jumlah pajak yang masih
harus dibayar bertambah. Menurut pasal ini, STP merupakan dasar penagihan pajak.

Sebab Terbitnya STP

Meskipun STP merupakan sarana yang digunakan pihak otoritas pajak untuk menagih utang pajak,
tetepi pihaknya tidak serta merta menerbitkan STP secara sembarangan. Ada hal-hal yang di jadikan
dasar untuk menerbitkan surat tagihan ini. Berdasarkan pada ketentuan Pasal 2 ayat (1) Peraturan
Menteri Keuangan (PMK) Nomor 189/PMK.30/2007 tentang Tata Cara Penerbitan Surat Tagihan Pajak
s.t.d.t.d. PMK Nomor 84/PMK.03/2010, STP diterbitkan setelah dilakukan penelitian administrasi
perpajakan atau berdasarkan hasil pemeriksaan pajak.

Ruang lingkup penelitian yang dimaksutkan disini adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
untuk menilai kelengkapan pengisian SPT dan lampiran-lampirannya, termasuk penelitian tentang
kebenaran penulisan dan penghitungannya. Artinya, penelitian ini dilakukan oleh fiskus terbatas pada
data yang telah disampaikan oleh Wajib Pajak saja. Atas penelitian ini, fiskus tidak perlu melakukan
konfirmasi kepada Wajib Pajak yang bersangkutan.

Berbeda dari penelitian, pemeriksaan yang dilakukan otoritas pajak didahului dengan memberikan
konfirmasi kepada Wajib Pajak, yakni dengan menyampaikan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak (SP3).
Kegiatan pemeriksaan ini dilakukan dalam rangka menguji keputusan Wajib Pajak, sehingga diketahui
apakah Wajib Pajak telah membayar pajak dengan benar atau tidak. Kegiatannya dilakukan dengan cara
menghimpun dan mengolah data keterangan, dan atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan
profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dan atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan.

Secara khusus, sebab terbitnya STP telah di atur Pasal 14 ayat (1) UU KUP jo. Pasal 1 PMK
Nomor.84/PMK.03/2010. Dalam ketentuan itu, setidaknya terdapat beberapa alasan yang dapat
digunakan oleh pihak otoritas pajak untuk menerbitkan STP. Seperti, PPh dalam tahun berjalan tidak atau
kurang dibayar, dari hasil penelitian terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis
dan atau salah hitung, dan lain-lain.(lihat box 1)
Jangka waktu Penerbitan

Setelah mengetahui sebab musababnya diterbitkannya STP, lantas kapan STP itu akan di terbitkan?.
Merujuk kembali pada Pasal 2 ayat (1) PMK Nomor. 189/PMK.03/2010, STP akan diterbitkan jika pihak
otoritas pajak telah melakukan penelitian atas data yang diberikan oleh pihak Wajib Pajak yang
bersangkutan. Atau bisa juga dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan. Berikut kutipan aturannya, "Surat
Tagihan Pajak sebagaimana dimaksut dalam Pasal 1 diterbitkan setelah dilakukan penelitian administrasi
perpajakan atau berdasarkan hasil pemeriksaan pajak."

Ternyata, dalam peraturan ini juga di atur secara khusus mengenai kapan pihak otoritas akan
menerbitkan STP yang disebabkan oleh adanya PPh yang tidak atau kurang dibayar pada tahun berjalan.
Menurut Pasal 2 ayat (2) PMK diatas, penerbitannya dilakukan setelah lewat satu bulan sejak masa pajak
yang bersangkutan. Hal ini diatur dengan tujuan untuk memberikan kepastian hukum. Pasalnya,
pelaksanaan pembayaran dan pelaporan PPh dalam tahun berjalan dilakukan setiap masa pajak.
Contohnya, PPh Pasal 25 yang dibayar sendiri oleh wajib pajak atau PPh yang dipotong oleh pihak ketiga
sebagai pemberi penghasilan, yang biasanya dikenal dengan withholding tax.

Berkenaan dengan hal ini, setiap STP tersebut diterbitkan untuk suatu masa pajak atau bagian
tahun pajak. Hal ini disesuaikan dengan masa pajak yang tercakup dalam SPT masa PPh dan SPT Tahunan
PPh. STP tersebut diterbitkan berdasarkan atas pembuatan nota penghitungan. Dimana, satu nota
penghitungan dibuat untuk satu STP. Kecuali, untuk STP yang semata-mata diterbitkan untuk menagih
sanksi administrasi yang tidak terdapat pokok pajaknya, dapat diterbitkan satu STP yang meliputi
beberapa masa pajak, sepanjang masa pajak tersebut tidak melompat. Maksutnya, tidak ada jeda waktu
antara masa pajak yang akan diterbitkan STP.

Sebagai contoh, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh pihak otoritas, Wajib Pajak
dikenai sanksi administrasi karena telat melaporkan STP PPh Pasal 25 untuk Masa Pajak Januari, Februari,
Maret, dan April 2008. Dengan demikian, nota penghitungan dan STP yang diterbitkan boleh dibuat
hanya satu saja, yaitu untuk Masa Pajak Januari s.d Aprik 2008. Namun, apabila sanksi tersebut hanya
dikenakan untuk Masa Pajak Januari dan Maret saja, maka nota penghitungan dan STP-nya harus dibuat
secara terpisaj untuk masing-masing masa pajak tersebut.

Box 1:

Alasan Terbitnya STP

Menurut ketentuan Pasal 4 ayat (1) UU KUP, Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak dapat menerbitkan
STP apabila:

a. PPh dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar;

b. Dari hasil penelitian terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis dan atau salah
hitung;

c. Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda dan atau bunga;
d. Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), tetapi tidak membuat Faktur
Pajak atau membuat Faktur Pajak, tetapi tidak tepat waktu;

e. Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP yang tidak mengisi Faktur Pajak secara lengkap
sebagaimana dimaksut dalam Pasal 13 ayat (5) UU Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 1984 dan
perubahannya selain;

1. Identitas pembeli sebagaimana dimaksut dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b UU PPN Tahun 1984 dan
perubahannya;

2. Identitas pembeli serta nama dan tanda tangan sebagaimana dimaksut dalam Pasal 13 ayat (5) huruf
b dan huruf g UU PPN Tahun 1984 dan perubahannya, dalam hal penyerahannya dilakukan oleh PKP
pedagang eceran;

f. PKP melaporkan Faktur Pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan Faktur Pajak; atau

g. PKP yang gagal berproduksi dan telah diberikan pengembalian Pajak Masukan sebagaimana dimaksut
dalam Pasal 9 ayat (6a) UU PPN Tahun 1984 dan perubahannya.

Tengat Pelunasan

Dalam hal penerimaan STP, maka Wajib Pajak dianggap memiliki utang pajak yang harus segera
dilunasi sesuai dengan jatuh tempo pembayarannya. Dengan demikian, Wajib Pajak yang bersangkutan
berkewajiban untuk membayar utang pajak yang tercantum dalam STP tersebut. Pelunasannya harus
dilakukan paling lama satu bulan sejak tanggal penerbitan STP. Dengan kata lain, apabila Wajib Pajak
menerima STP tertanggal 10 Mei 2011, maka jatuh tempo pembayaran STP adalah 9 Juni 2011.

Jangka waktu satu bulan ini, tidak berlaku bagi Wajib Pajak usaha kecil dan Wajib Pajak yang berada
didaerah tertentu. Pasalnya, khusus untuk kedua Wajib Pajak ini, pihak otoritas memberikan waktu yang
lebih lama dibandingkan dengan Wajib Pajak pada umumnya. Jangka waktu pelunasan pajak bagi kedua
kriteria Wajib Pajak tersebut dapat diperpanjang menjadi dua bulan sejak tanggal penerbitan STP,
seperti disebutkan dalam Pasal 1 ayat (2) PMK Nomor. 187/PMK.03/2007 tentang Jangka Waktu
Pelunasan Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Kurang Bayar, dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan, serta Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan
Keberatan, Putusan Banding, dan Putusan Peninjauan Kembali, yang Menyebabkan Jumlah Pajak yang
Harus Dibayar Bertambah bagi Wajib Pajak Usaha Kecil dan Wajib Pajak di Daerah Tertentu.

Meskipun demikian, jangka waktu pelunasan pajak ini bukanlah harga mati. Ada sedikit perlakuan
berbeda, khususnya bagi Wajib Pajak dengan kondisi tertentu. Sejatinya, jumlah hutang pajak yang
tercantum dalam STP harus dibayar sekaligus oleh Wajib Pajak. Namun dalam praktiknya, Wajib Pajak
seringkali dihadapkan pada keaadaan yang tidak memungkinkan untuk membayar tagihan secara
sekaligus.
Kondisi ini bisa terjadi jika dihadapkan pada kondisi cash flow perusahaan yang tidak
memungkinkan atau Wajib Pajak sedang mengalami keadaa diluar kekuasaannya (force majeur). Wajib
Pajak tersebut sangat dimungkinkan untuk menunda atau mengangsur utang pajaknya. Hal ini tentu
dapat menjadi solusi bagi Wajib Pajak yang tidak dapat membayar jumlah pajak dan atau sanksi
administrasi yang ditagih melalui STP.

Tata cara penundaan atau pengangsuran pajak tersebut dilakukan oleh Wajib Pajak dengan
membuat surat permohonan secara tertulis. Surat permohonan itu harus diajukan dengan menggunakan
formulir yang ada dalam lampiran I Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-38/PJ./2008 tentang Tata Cara
Pemberian Angsuran atau Penundaan Pembayaran Pajak. Permohonan ini wajib disampaikan paling lama
sembilan hari kerja sebelum jatuh tempo pembayaran.

Untuk mengajukan permohonan penundaan atau pengangsuran pembayaran pajak, Wajib Pajak
harus menyertakan alasan yang jelas dilengkapi dengan bukti-buktinya.Bila ternyata Wajib Pajak
bermaksut untuk mengangsur, maka bukti yang harus dilampirkan adalah jumlah pembayaran pajak yang
dimohon untuk diangsur, masa angsuran, serta besaran angsuran. Sementara itu, apabila ternyata Wajib
Pajak bermaksud untuk menunda pembayaran, maka bukti yang perlu dilampirkan adalah jumlah
pembayaran pajak yang dimohon untuk ditunda dan jangka waktu penundaan yang diinginkan.

PER-38/PJ./2008 juga mengatur tentang syarat pengajuan permohonan penundaan atau


pengangsuran pembayaran pajak. Dalam Pasal 3 produk hukum tersebut, dinyatakan bahwa Wajib Pajak
yang mengajukan permohonan karena memang mengalami kesulitan likuiditas harus memberikan
jaminan yang besarnya ditetapkan berdasarkan pertimbangan Kepala KPP, kecuali bila pejabat tersebut
menganggapnya tidak perlu. Jaminan ini bisa berupa garansi Bank, surat atau dokumen kepemilikan
barang bergerak, penanggungan utang oleh pihak ketiga, dan sertifikat tanah atau sertifikat deposito.

Mempunyai Kekuatan Hukum

Dalam ranah perpajakan, STP merupakan surat yang kekuatan hukumnya sama dengan jenis surat
ketetapan pajak lainnya, seperti SKPKB, SKPKBT, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan
Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali. Maksutnya, jika Wajib Pajak tidak
melakukan pembayaran pajak yang ditagih melalui STP yang telah diterbitka, maka akan diterbitkan
Surat Teguran. Dengan demikian, dalam melakukan penagihannya nanti dapat dilakukan dengan Surat
Paksa, seperti yang diatur dalam ketentuan Pasal 20 ayat (1) UU KUP.

Meskipun STP memiliki kekuatan hukum yang sama dengan surat ketetapan pajak, namun dalam
tata cara penerbitannya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Surat ketetapan pajak biasanya
hanya dapat diterbitkan atas dasar hasil pemeriksaan. Sedangkan STP dapat diterbitkan bukan hanya
berdasarkan hasil pemeriksaan saja, tetapi berdasarkan hasil penelitian. Khususnya, STP yang diterbitkan
pada saat Wajib Pajak tidak juga melunasi pajak yang masih harus dibayar dalam surat ketetapan,
sampai dengan batas waktunya berakhir, yaitu satu bulan sejak terbitnya surat ketetapan dimaksud.
Atas kelalaian ini, Wajib Pajak akan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per
bulan untuk seluruh masa. Penghitungannya dilakukan sejak tanggal jatuh tempo sampai dengan tanggal
pelunasan atau tanggal diterbitkannya STP. Tidak mengherankan jika STP ini dikenal dengan nama STP
Bunga/Denda Penagihan.Sebab lain diterbitkannya STP Bunga/Denda Penagihan ini adalah ketika Wajib
Pajak yang diperbolehkan melakukan penundaan atau pengangsuran utang pajak, tetapi membayar tidak
sesuai dengan tanggal jatuh temponya. Sama halnya dengan sebab pertama, sebab kedua diterbitkannya
STP ini pun dikenakan sanksi administrasi berupa bunga.

Contohnya, Wajib Pajak menerima SKPKB sebesar Rp. 1.120.000,00 yang diterbitkan pada 2 Januari
2009, dengan batas akhir pelunasan pada 1 Februari 2009. Wajib Pajak tersebut diperbolehkan untuk
menunda pembayaran pajak sampai dengan 30 Juni 2009. Jadi, penghitungan sanksi administrasi bunga
atas penundaan pembayaran SKPKB tersebut adalah sebesar 5x2%xRp.1.120.000,00.

Selain kedua hal diatas, STP bunga/denda Penagihan juga dapat diterbitkan dalam hal Wajib Pajak
mengajukan keberatan, tetapi ditolak atau dikabulkan sebagian. Keberatan Wajib Pajak yang ditolak atau
dikabulkan sebagian ini menyebabkan adanya sanksi administrasi berupa denda sebesar 50%. Sanksi ini
dihitung dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar
sebelum mengajukan keberatan. Nilai inilah yang nantinya akan muncul dalam STP dimaksud.

Terakhir, STP Bung/Denda Penagihan ini juga digunakan oleh pihak otoritas untuk melakukan
penagihan pajak dalam hal Wajib Pajak mengajukan banding, tetepi ditolak atau dikabulkan sebagian.
Sanksi yang akan ditagihkan dalam STP ini adalah sebesar 100%, yang dihitung dari jumlah pajak
berdasarkan putusan banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum
mengajukan keberatan.

Masa Daluwarsa

Dalam peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku di Indonesia, selalu diatur


mengenai jangka waktu penerbitan dan pelunasan Pajak. Selain itu, diatur juga mengenai masa
daluwarsanya. Begitu juga dalam hal penagihan hutang pajak melalui STP ini. Lagi-lagi, hal ini dilakukan
untuk memberikan kepastian hukum kepada Wajib Pajak. Berdasarkan Pasal 22 ayat (1) UU KUP, masa
daluwarsa STP ini ditetapkan selama lima tahun, yang dihitung sejak STP diterbitkan. Oleh karenanya,
apabila masa daluwarsa ini telah terlewati, pihak otoritas tidak dapat lagi melakukan penagihan pajak.

Namun demikian, jangka waktu lima tahun sebagaimana dimaksut dalam ketentuan tersebut dapat
ditangguhkan apabila diterbitkan Surat Paksa. Selain itu, penangguhan ini dapat terjadi lantaran ada
pengakuan utang pajak dari Wajib Pajak baik secara langsung maupun tidak langsung dalam hal
diterbitkan SKPKB/SKPKBT atau dapat juga terjadi karena dilakukan penyidikan tindakan pidana dibidang
perpajakan. Secara detail, alasan mengapa daluwarsa penagihan pajak bisa melampaui lima tahun, dapat
dirinci sebagai berikut:

a. Dirjen Pajak menerbitkan dan memberitahukan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak yang tidak
melakukan pembayaran utang pajak sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran. Dalam hal ini,
daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal pemberithuan Surat Paksa tersebut.
b. Wajib Pajak menyatakan pengakuan utang pajak dengan cara mengajukan permohonan angsuran
atau penundaan pembayaran utang pajak sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran. Dan disini,
daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal surat permohonan surat angsuran atau penundaan
pembayaran utang pajak diterima oleh Dirjen Pajak.

c. Terdapat SKPKB atau SKPKBT yang diterbitkan karena Wajib Pajak melakukan tindak pidana dibidang
perpajakan dan tindak pidana lain yang dapat merugikan pendapatan negara berdasarkan putusan
pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dalam hal ini, daluwarsa penagihan pajak
dihitung sejak tanggal penerbitan surat ketetapan pajak tersebut.

d. Terhadap Wajib Pajak dilakukan penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan, daluwarsa penagihan
pajak dihitung sejak tanggal penerbitan Surat Perintah Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.

Bentuk dan Isi

Sebagai Wajib Pajak, anda memang tidak perlu mengetahui secara detail bagaimana tata cara
pengisian STP. Meskipun STP ini diterbitkan oleh pihak otoritas, namun penting kiranya bagi Anda
mengetahui bagaimana bentuk dan isi dari STP tersebut. Sebagai informasi, penggunaan formulir STP ini
telah diatur dalam PER-25/PJ./2008 tentang bentuk dan isi Nota Penghitungan, Surat Ketetapan Pajak,
dan Surat Tagihan Pajak s.t.d.t.d.PER-21/PJ./2010.

Dalam Dirjen ini, terdapat lima jenis formulir STP yang dapat digunakan oleh fiskus untuk menagih
pajak atau sanksi administrasi pajak. Masing-masing formulir tersebut berfungsi untuk menagih pajak
yang berbeda-beda. Adapun jenis formulir STP tersebut adalah STP PPh Badan/Orang Pribadi (F.51.23),
STP PPh Pemotongan/Pemungutan (F.5.1.23), STP PPN (F.5.2.23), STP Penjualan Barang Mewah/PPh BM
(F.5.2.23) dan masing-masing lampirannya, serta formulirnya STP Bunga/Denda Penagihan (F.5.0.23).

STP ini dibuat rangkap lima, dengan menggunakan kertas berukuran folio. Lembar pertama,
diberikan untuk Wajib Pajak yang bersangkutan. Lembar kedua, diberikan untuk Seksi Penagihan. Lembar
ketiga, diberikan untuk Seksi Pengawasan dan Konsultasi. Lembar keempat, diberikan untuk Seksi
Pelayanan/Seksi TUP. Sedangkan lembar kelima, diberikan untuk Seksi/Unit pembuat nota penghitungan.

Mengenai isi STP, dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi tentang data/identitas,
seperti nama KPP yang menerbitkan STP tersebut, nomor ketetapan, tahun pajak, tanggal penerbitan,
dan tanggal jatuh tempo. Selain itu, juga berisi identitas Wajib Pajak seperti nama Wajib Pajak dan
NPWP.

Untuk bagian kedua, berisi tentang pengisian jumlah rupiah. Jumalah ini sama dengan jumlah
dalam nota penghitungan pajak. Terdiri dari jumlah angsuran atau pokok pajak yang harus dibayar,
jumlah angsuran/pokok pajak yang telah dibayar dan nilai yang kurang dibayar. Selain itu, juga terdapat
nilai sanksi administrasi pajak, jumlah yang harus masih dibayar, serta nilai terbilang. Untuk lebih
jelasnya berikut contoh-contoh beberapa bentuk STP.