Anda di halaman 1dari 11

HIPERKES DAN PERANANNYA

PENDAHULUAN

Untuk dapat memahami peranan higene perusahaan dan


kesehatan kerja (hiperkes) ini, pertama-tama perlu diketahui
dahulu definisi hiperkes (Occupational health) menurut
Joint International Labour Organization (ILO)/World Health
Organization (WHO) Committee on Occupational Health.
Terjemahan bebasnya ialah sebagai berikut :
Hiperkes harus bertujuan untuk : meningkatkan dan meme-
lihara kesehatan yang setinggi-tingginya baik jasmani, rohani
maupun sosial, pada pekerja dalam semua jabatan; mencegah
timbulnya gangguan kesehatan yang disebabkan oleh keadaan
kerja mereka, melindungi pekerja dalam pekerjaan mereka
terhadap bahaya yang dihasilkan oleh faktor yang merugikan
kesehatan; menempatkan dan melestarikan pekerja dalam
suatu lingkungan kerja yang sesuai dengan faal badannya dan
rohaninya atau secara ringkas : menyesuaikan pekerjaan itu
terhadap manusia dan tiap-tiap orang terhadap jabatannya.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa maksud tujuan


hiperkes ialah meningkatkan efisiensi kerja dan produktivitas
pekerja. Cara kerja yang efisien ialah yang hasll kerjanya opti-
mal produktif tetapi tanpa menghamburkan tenaga, uang dan
waktu. Sedang yang dimaksud dengan pekerja ialah semua
orang yang bekerja, baik sebagai majikan, ataupun buruh,
pekerja bebas, petani, nelayan dan lain-lainnya.
Berhubung maksud tujuan hiperkes tersebut selalu sesuai
dengan maksud tujuan pembangunan dalam suatu negara,
hiperkes harus selalu berperanan dalam perkembangan pem-
bangunan.

RUANG LINGKUP
I lmu hiperkes dalam arti kata yang luas meliputi banyak
bidang llmu lain, termasuk :
(a) Ilmu kedokteran kerja (Occupational medicine).
(b) Ilmu higene perusahaan (Industrial hygiene).
(c) Ilmu keracunan perusahaan (Industrial toxicology).
(d) Ilmu faal kerja dan lingkungan (Work and environmental
physiology).
(e) llmu jiwa perusahaan (Industrial psychology).
(f) Ilmu perawatan perusahaan (Industrial nursing).
(g) Ilmu keselamatan kerja (Occupational safety).

Sebetulnya terjemahan yang tepat untuk occupational


health ialah "kesehatan kerja", tetapi para ahli teknik (insi-
nyur) lalu mengira bahwa ini adalah bidangnya para ahli
medik (dokter) saja. Mereka tidak merasa ikut terlibat di
dalamnya. Oleh karena itu ditambah " higene perusahaan ",
sebab dalam bidang higene ini para ahli teknik menyadari
bahwa mereka ikut terlibat. Dewasa ini istilah "hiperkes"
sudah diterima, meskipun yang dimaksud dengan hiperkes itu
sebenarnya occupational health.

Higene perusahaan adalah bidangnya ahli teknik (insinyur)


dan sasarannya adalah lingkungan kerja. Cara kerja ahli higene
perusahaan itu bersifat teknis. Kesehatan kerja adalah bidang-
nya ahli kesehatan (dokter) dan sasarannyapun adalah pekerja.
Cara kerja mereka bersifat medik. Penggabungan kedua istilah
"higene perusahaan" dan "kesehatan kerja" menjadi suatu
kesatuan, berarti bahwa ahli teknik dan medik harus bekerja
sama seerat-eratnya untuk mengsukseskan maksud tujuannya.
Ilmu kedokteran kerja ialah suatu keahlian (spesialisasi)
yang baru dalam llmu kedokteran, dan di Amerlka Serlkat
baru diakui sebagai keahlian dalam tahun 1955. Ilmu ini dalam
arti kata yang luas terdiri atas berbagai jurusan, termasuk :
(a) Ilmu kedokteran perusahaan (Industrial medicine).
(b) Ilmu kedokteran pertanian (Agricultural medicine).
(c) Ilmu kedokteran penerbangan (Aviation medicine).
(d) Ilmu kedokteran angkasa luar (Aerospace medicine).
(e) llmu kedokteran nuklir (Nuclear or Atomic medicine).
(f) Ilmu Kedokteran dibawah air (Underwater or submarine
medicine).
(g) llmu kedokteran olah raga (Sports medicine).

lni menggambarkan bahwa pekerja itu mempunyai lapangan


kerja yang luas sekali, yaitu di perindustrian, pertanian, pe-
nerbangan, angkasa luar, nuklir, bawah air, olah raga dan
sebagainya dengan berbagai macam masalah kesehatan. Masa-
lah kesehatan ini dapat berupa gangguan kesehatan, penyakit
dan kecelakaan akibat kerja, dan semuanya dapat mengurangi
produktivitas dan efisiensi kerja.
PENYAKIT JABATAN

Penyakit jabatan atau penyakit akibat kerja (occupational


disease) ialah penyakit yang disebabkan atau diakibatkan
oleh jabatan si pekerja dan diperoleh selama masa kerjanya dan
yang biasanya tidak diderita masyarakat umum. Di dalam llmu
kedokteran pencegahan (preventive medicine) dikenal tiga
unsur yang saling mempengaruhi dalam timbulnya penyakit.
Demikian pula Ilmu Kedokteran Kerja mengenal tiga unsur
tersebut, yakni : (i) Pejamu (host) ialah pekerja, (ii) Penyebab
(agent) ialah bahan yang dipakai dan dihasilkan, alat dan
mesin yang digunakan, (iii) Lingkungan (environment) ialah
lingkungan kerja.

Etiologi penyakit jabatan

Penyebab penyakit jabatan dapat dibagi dalam beberapa


golongan, yaitu :
· Fisik
misalnya :
1. Suara gaduh (noise)
yang dapat mengakibatkan ketulian syaraf. Sumber kebisingan ini adalah
mesin, kendaraan bermotor, pesawat terbang, meriam, martil di bengkel,
band musik dan lain-lain,

2. Suhu yang terlalu tinggi


yang dapat mengakibatkan heat stroke, heat cramps, hyperpyrexia,
misalnya di tempat peleburan logam, di bawah terik matahari, di
dapur dan lain-lain,
3. Penerangan lampu
yang kurang terang atau terlalu silau dapat mengganggu penglihatan dan
menyebabkan kelelahan pada mata.

· Kimia,
misalnya :
1. debu
dipertambangan, misalnya : Si (= Silika bebas)
yang mengakibatkan silikosis,
2. gas, misalnya CO (=karbonmonoksida) yang terbentuk
akibat pembakaran tidak sempurna zat organik, di antaranya minyak solar,
bensin dan sebagainya,

3. larutan
yang dapat mengakibatkan radang kulit (= dermatitis).
· Hayati,
misalnya :
1. getah tumbuh-tumbuhan di hutan, perkebunan dan per-
tanian yang dapat mengakibatkan radang kulit pula,
2. sengatan serangga, gigitan ular dan sebagainya,
3. hama penyakit yang berasal dari binatang- yang dapat
menularkan penyakit kepada manusia (zoonosis),
misalnya anthrax, psittacosis, penyakit kuku dan mulut.
· Faal kerja,
misalnya kesalahan konstruksi mesin, sikap badan kurang tepat, ukuran alat
pekerjaan tidak sesuai dengan ukuran badan sipemakai, semuanya dapat
menimbulkan kelelahan dan mengakibatkan gangguan kesehatan.
· Jiwa,
misalnya :
1. pekerjaan yang tidak cocok dengan kemampuan dan
keinginannya,
2. pekerjaan pimpinan
yang terlalu banyak dan berat tanggung jawabnya sehingga melampaui
batas kemampuan ( "managerial illness"),
3. tidak dapat bekerja sama dengan teman sekerjanya,
4. pekerjaan yang membosankan, karena monoton.

Diagnosis penyakit jabatan

Menegakkan diagnosis penyakit jabatan agak berbeda


dengan diagnosis penyakit umum, karena dalam anamnesis
harus juga ditanyakan secara terperinci mengenai pengalaman
bekerja (occupational history) sejak penderita meninggalkan
bangku sekolah dan mulai bekerja sampai sekarang. Mungkin
sekali penyakit yang sekarang dideritanya pernah timbul
ketika ia melakukan pekerjaan yang sama di tempat pekerjaan
yang lama. Pemeriksaan lingkungan kerjanya harus dilakukan, karena
di sini mungkin ditemukan penyebab penyakitnya. Apabila
dilakukan rekonstruksi pada cara kerjanya seperti sikap
badannya ketika ia melakukan pekerjaannya, bahan dan alat
apa yang dipakainya untuk pekerjaannya, bahaya kesehatan
apa yang ada di lingkungan kerjanya, maka mungkin penyebab
penyakitnya itu segera dapat diketahui. Kemudian dapat dibedakan antara
penyakit jabatan dan penyakit umum, walaupun tanda dan gejalanya serupa
atauhampir sama. Menegakkan diagnosis penyakit jabatan tanpa bukti
yang nyata mengandung risiko, karena menyangkut Undang-undang
Kecelakaan yang menetapkan bahwa majikan harus memberi ganti kerugian
kepada si penderita penyakit jabatan.

Tindakan pencegahan terhadap penyakit jabatan

Penyakit jabatan dapat dicegah, apabila ada pengertian dan


kerja sama antara pimpinan perusahaan dan pekerja. Tindakan
itu adalah sebagai berikut :
(1) Isolasi :
memencilkan suatu proses kerja yang mengganggu atau membahayakan,
misalnya mesin diesel besar yangmengeluarkan suara bising, ditempatkan di
bawah tanah atau dimasukkan kedalam rumah kecil tersendiri, agar suara
bisingnya tidak mengganggu lagi.
(2) Substitusi :
mengganti bahan yang sangat berbahaya dengan bahan yang kurang
berbahaya bagi manusia, tetapi tidak mengurangi hasil kerjanya atau
mutunya, misalnya pelarut lemak karbontetraklorida diganti dengan
trikloretilen. ..
(3) Ventilasi umum :
mengalirkan udara segar ke dalam ruang kerja melalui jendela dan pintu,
agar kadar bahan yang berbahaya di udara menurun.
(4) Penggantian udara lokal (local exhaustion) :
Mengisap keluar udara di suatu tempat kerja yang mengandung bahan
yang berbahaya.
(5) Alat pelindung perorangan :
perlengkapan yang dipakai untuk melindungi pekerja terhadap bahaya
kesehatan yang ada di lingkungan kerja, misalnya : masker khusus terhadap
gas beracun, kaca mata khusus terhadap sinar yang dapat merusak
mata, sarung tangan khusus terhadap bahan kimia yang mem-
bahayakan tangan pekerja.
(6) Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja (= Pre-employ-
ment health examination) :
walaupun pemilihan tiap-tiap calon pekerja untuk pekerjaan masing- masing
adalah tanggung jawab pimpinan perusahaan, namun dokter perusahaan
dapat memberikan bantuannya, dengan menilai kemampuan jasmani
dan rohani calon pekerja itu. Dengan demikian sicalon tidak salah
penempatannya, dan kemudian tidak merugikan diri sendiri maupun
perusahaan. Oleh karena itu pemeriksaan ini harus dilakukan secermat-
cermatnya.
(7) Penerangan sebelum bekerja :
suatu penjelasan agar pekerja mengetahui dan mentaati peraturan dan
undang-undang yang berlaku serta tahu adanya bahaya kesehatan di
lingkungan kerja, sehingga d apat bekerja lebih berhati-hati.
(8) Penyuluhan kesehatan secara kontinyu :
kepada pekerja perlu diberi penyuluhan mengenai kebersihan perorangan,
makanan yang nilai gizinya sesuai dengan jenis pekerjaan, gerak badan
untuk kesehatan, pertolongan pertama pada kecelakaan dan lain lain.

Pemeriksaan kesehatan berkala : pemeriksaan ini bertujuan untuk


menemukan dan mencegah penyakit jabatan dalam tingkatan sedini-dininya.
Perioritas diberikan kepada pekerja yang :
· bekerja di lingkungan berbahaya,
· dipindahkan dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lain,
· menderita penyakit menahun,
· perlu diperiksa atas permintaan dokter keluarganya, atau
keinginannya sendiri,
· bekerja lagi setelah penyakitnya sembuh,
· akan berhenti bekerja.

(10) Perlindungan teknis


(Engineering control) :
Apabila ada bahaya akibat kerja di lingkungan kerja, sedapat-dapatnya
bahaya itu dikurangi atau dicegah dengan cara perlindungan
teknis, misalnya : suara gaduh di ruang kerja diredam dengan
melapisi dindingnya dengan "acoustic tiles"; mesin yang ada
ban berjalannya dikelilingi pagar kawat atau besi.
Pengobatan penyakit jabatan
Seperti pada penyakit lain, pengobatan penyakit jabatan
ditujukan terhadap penyebabnya (terapi kausal) dan bila perlu
baru ditambah dengan obat untuk mengurangi atau meng-
hilangkan gejala (terapi simtomatik). Selain itu masih ada
tindakan lain, misalnya :
· dipindahkan ke pekerjaan lain, apabila pekerjaannya yang
sekarang selalu mengganggu kesehatannya, misalnya pada
silikosis.
· diberi istirahat, jikalau memang mutlak perlu untuk dapat
menyembuhkan penyakitnya, misalnya pada keracunan
sesuatu gas,
· diberhentikan dari pekerjaannya atau dipensiun, apabila
penyakit jabatan itu mengakibatkan cacad pada penderita,
tetapi sedapat-dapatnya harus diusahakan rehabilitasi,
misalnya dengan latihan fisioterapi, agar ia masih dapat
melakukan pekerjaan yang lebih ringan dan tidak berbahaya
sesuai dengan kemampuannya. Misalnya pekerja yang
mengalami kecelakaan dan kehilangan total satu anggauta
badan.

TUGAS DAN WEWENANG


Menurut dr. Suma mur PK, pembagian tugas dan wewenang
mengenai hiperkes ini di antara Departemen adalah sebagai
berikut :
(1) Departemen Tenaga Kerja
(a) melaksanakan koordinasi segala kegiatan hiperkes, antara
lain merumuskan norma-norma pelaksanaan hiperkes yang
kemudian dituangkan dalam undang-undang, peraturan
Pemerintah, instruksi, dan lain-lain.
(b) melaksanakan usaha-usaha/kegiatan dibidang ilmiah yang
membantu meningkatkan mutu hiperkes antara lain dengan riset, pendidikan,
publikasi, dan lain-lain.
(2)
Departemen Kesehatan
(a)
melaksanakan segala kegiatan hiperkes yang bersifat
melindungi masyarakat dari bahaya-bahaya pengotoran
oleh perusahaan dan dari bahaya-bahaya oleh produksi -
produksi industri sesuai dengan Undang-undang Gangguan
dan Undang-undang Higene Perusahaan.
(b)
membantu departemen-departemen, perusahaan-perusaha-
an, lembaga-lembaga dan lain-lainnya dalam hal kebutuh-
an : (i) tenaga kesehatan, dan (ii) obat-obatan dan alat-alat
kesehatan lainnya.
(3)
Departemen lainnya seperti Departemen Pertambangan
dan Energi, Departemen Perindustrian, Departemen Pertanian,
Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga, dan lain-lain adalah
penyelenggara hiperkes sesuai dengan isi Undang-undang/
Peraturan Pemerintah/Instruksi yang ada.
Dari pembagian tugas dan wewenang ini jelaslah, bahwa
Departemen Tenaga Kerja melindungi pekerja terhadap bahaya
kesehatan yang diakibatkan oleh pekerjaannya di perusahaan
dan lingkungan kerja lainnya, sedangkan Departemen Kesehat-
an melindungi masyarakat terhadap bahaya kesehatan yang
diakibatkan oleh perusahaan dan lingkungan kerja lainnya
atau dengan kata lain : Departemen Tenaga Kerja memprak-
tekkan ilmu hiperkes dan Departemen Kesehatan mempraktek-
kan ilmu kesehatan masyarakat.
PENDIDIKAN PASCA SARJANA DOKTER HIPERKES
Seirama dengan derap perkembangan pembangunan di
tanah air terasa sekali makin banyaknya kekurangan tenaga
ahli, khususnya tenaga kesehatan dalam ilmu hiperkes. Untuk
memenuhi kebutuhan ini dan berhubung terbatasnya ke-
mungkinan mengikuti pendidikan di luar negeri, telah dirintis
kerja sama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Bagian
Ilmu Kedokteran Pencegahan dan Ilmu Kesehatan Masyarakat,
dengan Pusat Bina Higene Perusahaan, Kesehatan Kerja dan
Keselamatan Kerja, Departemen Tenaga Kerja dan Transmi-
grasi, untuk menyelenggarakan pendidikan pasca sarjana
dokter hiperkes bagi para dokter yang berkecimpung dalam
bidang hiperkes. Pendidikan ini mempunyai dua jurusan,
yaitu :
Untuk mencapai gelar Master of Science (Latin : "Magis-
ter Sains") dalam hiperkes dengan tujuan :
a. membina dan mengelola pendidikan di bidang hiperkes,
b. merencanakan, melaksanakan dan menilai penelitian di
bidang hiperkes,
c. mengembangkan ilmu hiperkes ke tingkat akademik
yang lebih tinggi,
d. mengamalkan ilmu hiperkes kepada masyarakat secara
optimal.
(2) Untuk mencapai dokter spesialis dalam hiperkes dengan
tujuan :
a. merencanakan, mengkoordinasi, mengawasi dan me-
nilai pelaksanaan program hiperkes,
b. mengembangkan ketrampilan dalam hiperkes ke
jenjang keahlian yang lebih tinggi, terutama dalam
penerapan disiplin-disiplin hiperkes,
c. merencanakan dan melaksanakan penelitian di bidang
hiperkes,
d. mengamalkan ilmu hiperkes kepada masyarakat pe-
kerja, terutama dalam cara-cara pencegahan terhadap
bahaya-bahaya kesehatan akibat kerja.

PERKEMBANGAN HIPERKES DI INDONESIA

Sejak Seminar Nasional Hiperkes pertama tahun 1969


sampai Konvensi Nasional Hiperkes pertama tahun 1980,
hiperkes telah banyak mencapai kemajuan, sebagai berikut :
(1) Kegiatan latihan hiperkes : (lihat Tabel 1).
Para dokter, tenaga pan medis, teknisi, pengusaha dan
pimpinan buruh mengikuti latihan hiperkes, sehingga mereka
dapat bekerja sama sebaik-baiknya untuk kemajuan pem-
bangunan di tanah air
.
(2) pendidikan puma sarjana dokter hiperkes dimulai sejak
Juli 1978 dan telah meluluskan beberapa orang dokter. Dalam
waktu dekat ini akan lebih banyak lagi peserta baru.
(3) Oleh para perintis telah didirikan Ikatan Ahli Hiperkes
lengkap dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
.
(4) Kode etik bagi dokter hiperkes telah disusun untuk dipakai sebagai
pegangan pokok para dokter yang berkecimpung dalam hiperkes
.
(5) Disiplin baru dalam hiperkes seperti Ergonomi, Gizi
kerja, Keluarga Berencana untuk pekerja juga diterapkan dan
disesuaikan dengan situasi dan kondisi di tanah air
.
(6) Perkembangan mutakhir dalam kesehatan dan kesejah-
teraan seperti pembinaan kesegaran jasmani, penggunaan
teknik psikologi kerja, pencegahan kanker akibat kerja, mulai
diperkenalkan untuk diterapkan
.
(7) Fungsi pelayanan hiperkes semakin berkembang, apalagi
setelah laboratorium keselamatan kerja dijadikan satu dengan
laboratorium hiperkes. Baik tenaga ahli maupun peralatannya
terus bertambah.
(8) Penelitian dan pengujian tentang tekanan panas, ke-
bisingan, kadar bahan kimia, kwalitas air, pencemaran ling-
kungan, penerangan lokal dan umum, pneumokoniosis,
derma-
tosis dan keracunan, telah dilakukan.
(9) Lokakarya Standardisasi hiperkes diadakan tahun 1974
untuk menunjang dan mengamankan pembangunan, dan telah
menetapkan Nilai Ambang Batas untuk lebih dari 500 bahan
kimia.
(10) Lokakarya Ergonomi yang diadakan tahun 1978 telah
menyusun norma-norma ergonomi ditempat kerja.
(11) Selain Seminar Nasional, juga telah diadakan Seminar-
seminar hiperkes sektor perminyakan, kehutanan, perhubung-
an dan pariwisata.
(12) Dalam perundang-undangan telah ditambah dengan :
Undang-undang No. 14 tahun 1969 tentang ketentuan-ke-
tentuan pokok mengenai Tenaga Kerja dan Undang-undang
No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
(13) Dilapangan juga telah banyak dilakukan pene
litian,survey misalnya :
a. Silikosis di tempat pengolahan semen
b. Penyakit paru akibat kerja pada karyawan pergudangan
beras
c. Pneumokoniosis disebuah pabrik pengecoran besi
d. Dermatosis pads karyawan pompa bensin dan penjual
minyak tanah
e. Peranan patch testing pada dermatosis kontakta akibat
kerja
f. Batu saluran kemih bagian atas pads proyek Bendungan
Karang Kates
g. Masalah kesehatan di pabrik aspal
h. Pemberantasan tbc di PT Dok dan Perkapalan Tanjung
Priok
i. Masalah kesehatan dan penanggulangannya di Pertamina
Perkapalan, Pertamina Prabumulih dan PT. Arun
j. Pengaruh logam berat dan udara lingkungan kerja.

KESIMPULAN
1. Sejak 1969 hiperkes di Indonesia telah mencapai kemajuan
pesat dan berperanan penting dalam perkembangan pem-
bangunan industri di Indonesia.
2. Sejak 1978 telah dimulai pendidikan pasca sarjana dokter
hiperkes untuk mencapai gelar Magister Sains atau dokter
spesialis.
3. Hiperkes adalah ilmu kesehatan yang maksud tujuannya
mengandung nilai ekonomis, yakni menaikkan produktivi-
tas dan efisiensi kerja para pekerja.

KEPUSTAKAAN
1. Felton IS. Organization and Operation of an Occupational Health
Program, University of California, Los Angeles, USA, 1964.
2.ILO. Encyclopedia of Occupational Health and Safety. International
Labour Organisation. 1972.
3. PusaT Bina Hiperkes dan Kesehatan Kerja. Kesimpulan Konvensi
Nasional Pertama Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Departemen
Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 1980.
4.Sumamur PK.
Ilmu Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja.
Cetakan ke - 2. 1976.
5 . US Public Health Service. Occupational Diseases. 1977.
Cermin Dunia Kedokteran No, 22, 198135