Anda di halaman 1dari 33

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga makalah ini bisa terselesaikan
dengan baik, Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas dari mata kuliah Keperawatan Menjelang Ajal dan Paliatif.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dan mendukung dalam penyusunan makalah ini.

Penulis sadar makalah ini belum sempurna dan memerlukan berbagai


perbaikan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan
oleh penulis demi kesempurnaan penyusunan makalah nanti.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Tomohon, Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i


DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. LATAR BELAKANG ............................................................................................ 1
B. RUMUSAN MASALAH ........................................................................................ 1
C. TUJUAN PENULISAN .......................................................................................... 2
D. MANFAAT PENULISAN...................................................................................... 2
BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................................... 3
A. KONSEP DASAR KANKER ................................................................................. 3
B. PENGERTIAN PELAYANAN PALIATIF KANKER .......................................... 9
C. TAHAPAN PROGRAM PENCEGAHAN TIMBULNYA KANKER ................ 10
D. MASALAH PASIEN KANKER .......................................................................... 10
E. PRINSIP PELAYANAN PALIATIF PASIEN KANKER ................................... 11
F. INDIKASI PELAYANAN PALIATIF ................................................................. 12
G. LANGKAH-LANGKAH DALAM PELAYANAN PALIATIF .......................... 12
H. TIM DAN TEMPAT PELAYANAN PALIATIF................................................. 13
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ........................................................ 16
BAB IV CONTOH KASUS ............................................................................................ 22
BAB V PENUTUP........................................................................................................... 23
A. KESIMPULAN ..................................................................................................... 29
B. SARAN ................................................................................................................. 29
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 30

ii
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Di Indonesia, sebagian besar penyakit kanker ditemukan pada stadium
lanjut, ditambah dengan ditemukannya kasus-kasus yang tidak mendapatkan
pengobatan kanker menyebabkan angka harapan hidup yang lebih pendek.
Pasien-pasien dengan kondisi tersebut mengalami penderitaan yang
memerlukan pendekatan terintegrasi berbagai disiplin agar pasien memiliki
kualitas hidup yang baik dan pada akhirnya meninggal secara bermartabat.
Integrasi perawatan paliatif ke dalam tata laksana kanker terpadu telah lama
dianjurkan oleh Badan Kesehatan Dunia, WHO, seiring dengan terus
meningkatnya jumlah pasien kanker dan angka kematian akibat kanker.
Penatalaksanaan kanker telah berkembang dengan pesat. Walaupun demikian,
angka kesembuhan dan angka harapan hidup pasien kanker belum seperti yang
diharapkan. Sebagian besar pasien kanker akhirnya akan meninggal karena
penyakitnya. Pada saat pengobatan kuratif belum mampu memberikan
kesembuhan yang diharapakan dan usaha preventif baik primer maupun
sekunder belum terlaksana dengan baik sehingga sebagian besar pasien
ditemukan dalam stadium lanjut, pelayanan paliatif sudah semestinya menjadi
satu satunya layanan fragmatis dan jawaban yang manusiawi bagi mereka yang
menderita akibat penyakit- penyakit tersebut di atas.
Sebagai disiplin ilmu keperawatan yang relatif baru, pelayanan paliatif
merupakan filosofi dan bentuk layanan kesehatan yang perlu terus
dikembangkan, sehingga penatalaksanaan pasien kanker menjadi efektif dan
efisien. Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengambil
kasus tentang Perawatan Paliatif Pada Pasien Kanker.
B. RUMUSAN MASALAH
Yang menjadi rumusan masalah adalah:

1. Apa itu kanker?


2. Apa itu pelayanan paliatif pada pasien kanker?
3. Apa saja yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kanker?
4. Apa saja masalah yang dihadapi oleh pasien kanker?

1
5. Apa saja prinsip pelayanan paliatif pada pasien kanker?
6. Dalam kondisi bagaimanakah seorang pasien kanker memerlukan
pelayanan paliatif?
7. Langkah apa saja yang ditempuh pada perawatan paliatif klien?
8. Siapa saja yang perlu dilibatkan dalam pelayanan paliatif?
9. Bagaimana penerapan asuhan keperawatan paliatif pada pasien dengan
kanker?

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:

1. Mengetahui konsep dasar kanker


2. Memahami pengertian pelayanan paliatif kanker
3. Mengetahui tahap program pencegahan kanker
4. Mengetahui masalah pasien kanker
5. Mengetahui Prinsip pelayanan paliatif pasien kanker
6. Mengetahui Indikasi pelayanan paliatif
7. Mengetahui Langkah-langkah dalam pelayanan paliatif
8. Mengetahui Tim dan tempat pelayanan paliatif
9. Mengetahui dan menerapkan asuhan keperawatan paliatif pada pasien
kanker

D. MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat pembuatan makalah ini untuk memberikan masukan
informasi, pengetahuan, dan konsep kepada publik mengenai asuhan
keperawatan paliatif pada pasien kanker serta memberikan wawasan atau
pengetahuan bagi diri kita, sebagai penulis juga wawasan atau pengetahuan
untuk para peneliti atau orang lain yang memiliki ketertarikan terhadap asuhan
keperawatan paliatif pada pasien kanker.

2
BAB II LANDASAN TEORI
A. KONSEP DASAR KANKER
Kanker adalah penyakit yang menyerang proses dasar kehidupan sel,
mengubah genom sel (komplemen genetik total sel) dan menyebabkan
penyebaran liar dan pertumbuhan sel-sel. Kanker adalah istilah umum untuk
petumbuhan sel tidak normal(yaitu, tumbuh sangat cepat, tidak terkontrol, dan
tidak berirama) yang dapat menyusup (invasive) dan terus menyebar melalui
jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta syaraf tulang
belakang ke jaringan tubuh normal sehingga mempengaruhi fungsi tubuh.
Kanker bukan merupakan penyakit menular. Kanker merupakan penyakit atau
kelainan pada tubuh sebagai akibat dari sel – sel tubuh yang tumbuh dan
berkembang abnormal, di luar batas dan sangat liar.
1. Etiologi
Penyebab kanker biasanya tidak dapat diketahui secara pasti, karena
merupakan gabungan dari sekumpulan faktor, genetik dan lingkungan.
Namun ada beberapa faktor yang diduga meningkatkan resiko kanker,
sebagai berikut
a. Faktor Keturunan
Faktor genetik menyebabkan beberapa keluarga memiliki resiko lebih
tinggi menderita kanker tertentu dibandingkan keluarga lainnya.

b. Faktor Lingkungan
Merokok meningkatkan resiko terjadinya kanker paru-paru, mulut,
laring (pita suara), dan kandung kemih.Faktor lingkungan lainnya, yaitu
Sinar Ultraviolet matahari serta radiasi ionisasi (yang merupakan
karsinogenik) digunakan dalam sinar rontgen dihasilkan dari
pembangkit listrik tenaga nuklir dan ledakan bom atom hingga
menjangkau jarak sangat jauh.

c. Faktor Makanan Berbahan Kimia

3
Makanan juga dapat menjadi faktor risiko penting lain penyebab kanker,
terutama kanker pada saluran pencernaan. Seperti makanan junkfood,
snack, dan makanan yang mengandung bahan kimia.
d. Faktor Terserang Virus
e. Infeksi
f. Faktor Perilaku
Perilaku yang dimaksud adalah merokok dan mengkonsumsi makanan
yang banyak mengandung lemak dan daging yang diawetkan juga
peminum minuman beralkohol. Selain itu, perilaku seksual yaitu
melakukan hubungan intim diusia dini dan sering ganti pasangan.
g. Gangguan Keseimbangan Hormonal
Hormon estrogen berfungsi merangsang pertumbuhan sel yang
cenderung mendorong terjadinya kanker, sedangkan progesteron
melindungi terjadinya pertumbuhan sel yang berlebihan.Ada
kecenderungan bahwa kelebihan hormon estrogen dan
kekurangan progesteron menyebabkan meningkatnya risiko kanker
payudara, kanker leher rahim, kanker rahim dan kanker prostat dan buah
zakar pada pria.
h. Faktor Kejiwaan
Stres berat dapat menyebabkan ganggguan keseimbangan seluler tubuh.
Keadaan tegang terus menerus dapat mempengaruhi sel, dimana sel jadi
hiperaktif dan berubah sifat menjadi ganas sehingga menyebabkan
kanker.
i. Radikal Bebas
Radikal bebas adalah suatu atom, gugus atom, atau molekul yang
mempunyai electron bebas tidak berpasangan dilingkaran luarnya.
Sumber-sumber radikal bebas yaitu : 1) Radikal bebas terbentuk sebagai
produk sampingan dari proses metabolism; 2) Radikal bebas masuk ke
dalam tubuh dalam bentuk racun-racun kimiawi dari makanan ,
minuman, udara yang terpolusi, dan sinar ultraviolet dari matahari; 3)
Radikal bebas diproduksi secara berlebihan pada waktu kita makan
berlebihan (berdampak pada proses metabolisme) atau bila kita dalam

4
keadaan stress berlebihan, baik stress secara fsik, psikologis,maupun
biologis.
2. Patofisiologi
Patofisiologi Penyakit Kanker adalah kelas penyakit beragam yang
sangat berbeda dalam hal penyebab dan biologisnya.Setiap organisme,
bahkan tumbuhan, bisa terkena kanker.Hampir semua kanker yang dikenal
muncul secara bertahap, saat kecacatan bertumpuk di dalam sel kanker dan
sel anak-anaknya (lihat bagian mekanisme untuk jenis cacat yang umum).
Setiap hal yang bereplikasi memiliki kemungkinan cacat (mutasi). Kecuali
jika pencegahan dan perbaikan kecatatan ditangani dengan baik, kecacatan
itu akan tetap ada, dan mungkin diwariskan ke sel anang/(daughter cell).
Biasanya, tubuh melakukan penjagaan terhadap kanker dengan berbagai
metoda, seperti apoptosis, molekul pembantu (beberapa polimerase DNA),
penuaan/(senescence), dan lain-lain. Namun, metoda koreksi-kecatatan ini
sering kali gagal, terutama di dalam lingkungan yang membuat kecatatan
lebih mungkin untuk muncul dan menyebar.Sebagai contohnya, lingkungan
tersebut mengandung bahan-bahan yang merusak, disebut dengan bahan
karsinogen, cedera berkala (fisik, panas, dan lain-lain), atau lingkungan
yang membuat sel tidak mungkin bertahan, seperti hipoksia.Karena itu,
kanker adalah penyakit progresif, dan berbagai kecacatan progresif ini
perlahan berakumulasi hingga sel mulai bertindak berkebalikan dengan
fungsi seharusnya di dalam organisme. Kecacatan sel, sebagai penyebab
kanker, biasanya bisa memperkuat dirinya sendiri (self-amplifying), pada
akhirnya akan berlipat ganda secara eksponensial. Sebagai contohnya :
a. Mutasi dalam perlengkapan perbaikan-kecacatan bisa menyebabkan sel
dan sel anangnya mengakumulasikan kecacatan dengan lebih cepat.
b. Mutasi dalam perlengkapan pembuat sinyal (endokrin) bisa
mengirimkan sinyal penyebab-kecacatan kepada sel di sekitarnya.
c. Mutasi bisa menyebabkan sel menjadi neoplastik, membuat sel
bermigrasi dan dan merusak sel yang lebih sehat.
d. Mutasi bisa menyebabkan sel menjadi kekal (immortal), lihat telomeres,
membuat sel rusak bisa membuat sel sehat rusak selamanya.

5
Cancer Staging
Setelah terdeteksi adanya kanker dalam tubuh seseorang, maka dokter akan
melakukan biopsy (pengambilan sampel tubuh) untuk mengetahui seberapa
ganasnya tumor tersebut. Ada beberapa metode untuk menentukan tahap-tahap
kanker.Sistem yang banyak digunakan adalah sistem TNM, singkatan dari tumor
(T), node (N), dan metastasis (M). TNM didasarkan pada tiga faktor :
a. Berapa besar tumor utama dan dimana letaknya? (T). Menggunakan angka
(0-2) untuk ukuran dan huruf (a-b) untuk lokasinya.
T1: Ukuran tumor adalah 5 cm (cm) atau lebih kecil.
T1a: Tumor ini dangkal.
T1b: Tumor ini dalam.
T2: Ukuran tumor lebih besar dari 5 cm.
T2a: Tumor ini dangkal.
T2b: Tumor ini dalam.
b. Apakah sel menyebar ke kelenjar getah bening ? (N). Setiap jenis tumor
mengalir ke kelenjar getah bening di dekatnya disebut kelenjar getah bening
regional
N0: Kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening regional.
N1: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening regional.
c. Apakah sel menyebar ke bagian tubuh yang lain/ metastasis? (M)
M0: Kanker tidak metastasis.
M1: Terdapat metastasis ke bagian lain dari tubuh.
Histologis grade (G). Histologis grade menggambarkan betapa berbedanya
sel-sel kanker dari sel-sel jaringan normal ketika diperiksa di bawah
mikroskop, apakah termasuk grade (G) rendah atau G tinggi.
Kanker tahap pengelompokan
Dokter menetapkan tahap kanker dengan menggabungkan klasifikasi T, N,
dan M.
Tahap I: meliputi tumor grade rendah, T1a, T1b, T2a, T2b, dan N0, M0.
Tahap II: tumor grade tinggi, T1a atau T2a, N0, M0.
Tahap III: tumor grade tinggi ,T2b, N0, M0.

6
Tahap IV: tumor grade rendah atau tinggi, N1,M1,T1- T2.
3. Tanda dan Gejala
Gejala umum kanker biasanya tergantung pada jenis, tempat dan
stadium kanker. Dari sini kemudian, gejala umum kanker adalah sebgai
berikut :
a. Pembengkakan pada organ tubuh yang terkena ( misal ada benjolan
di payudara, diperut.
b. Terjadi perubahan warna (misal perubahan warna tahi lalat).
c. Demam kronis
d. Terjadinya batuk kronis (terutama kanker paru) atau perubahan
suara (pada kanker leher).
e. Terjadinya perubahan pada sistem pencernaan/ kandung kemih
(misal perubahan pola BAB, BAB berdarah,dsb)
f. Penurunan nafsu makan dan berat badan.
g. Keluarnya cairan atau darah tidak normal (misal keluar cairan
abnormal dari puting payudara).
Sedangkan dilihat dari penyebabnya, komplikasi akibat kanker dibagi
3 yaitu :
a. Akibat langsung kanker (misalnya, sumbatan saluran cerna pada
kanker usus, patah tulah pada kanker tulang, dst).
b. Akibat tidak langsung (misalnya, demam, penuruna berat badan,
anemia, penurunan kekebalan tubuh, dsb).
c. Akibat pengobatan (misalnya, pembengkakan akiba sumbatan
kelenjar getah bening pada radiasi kanker payudara, gangguan saraf
tepi, penurunan kadar sel darah, kebotakan pada kemoterapi)

4. Penatalaksanaan
1) Kemoterapi
Penggunaan obat anti kanker yang bertujuan mematikan sel kanker
Indikasi dan prinsip :
a. Sebanyak mungkin mematikan sel kanker seminimal mungkin
mengganggu sel normal.

7
b. Dapat digunakan untuk : pengobatan, pengendalian, paliatif.
c. Jangan diberikan jika bahaya/komplikasinya lebih besar dari
manfaatnya.
d. Obat kemotherapi umumnya sangat toksik, teliti/cermat evaluasi
kondisi pasien Kompilaksinya :
a) Efek samping :
i. Nausea, vomiting
ii. Alopecia
iii. rasa (pengecap) menurun
iv. mucositis
b) Toksik
i. hematologik : depresi sumsum tulang, anemia
ii. ginjal, hepar.
2) Radiotherapy
Menggunakan X-ray atau radiopharmaceuticals (radionuclides). Terapi
radiaisi eksternal yaitu pengobatan noninvasive dan mungkin lebih
sering disarankan untuk lansia lemah yang tidak mampu menjalani
pembedahan. (Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006).
3) Pembedahan
Pembedahan dapat digunakan sebagai upaya kuratif atau digunakan
untuk meingkatkan kualitas hidup. Pembedahan kurang menimbulkan
debilitasi dari pada kemoterapi atau terapi radiasi untuk pasien yang
cukup sehat utnuk menjalani anastesi dan hanya merupakan satu –
satunya terapi untuk banyak lansia dengan kanker. (Buku Ajar
Keperawatan Gerontik,2006).
4) Immunoterapi
Immunoterapi yang disebut juga terapi biologis merupakan jenis
pengobatan kanker yang relative baru. Sekalipun demikian diperkirakan
akan segera maju pesat dan menjadi andalan para dokter dalam upaya
penyembuhan kanker secara total. Tidak beda dengan imunisasi pada
umumnya, immunoterapi bertujuan untuk meningkatkan kekebalan

8
tubuh guna melawan sel –sel kanker. Ada tiga macam immunoterapi,
yaitu aktif (vaksin kanker), pasif, dan terapi adjuvant.
5) Terapi Gen
Terapi gen dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
a. Mengganti gen yang rusak atau hilang.
b. Menghentikan kerja gen yang bertanggung jawab terhadap
pembentukan sel kanker.
c. Menambahkan gen yang membuat sel kanker lebih mudah dideteksi
dan di hancurkan oleh system kekebalan tubuh, kemoterapi, maupun
radioterapi.
d. Menghentikan kerja gen yang memicu pembuatan pembuluh darah
baru di jaringan kanker sehingga sel – sel kankernya mati.
5. Pemeriksaan
a. Pemindaian/scanning (misalnya pemindaian hati atau tulang).
b. Pewarnaan terhadap jaringan sehingga bila ada kanker jaringan
patologis dapat diketahui.
c. CT (Computed Tomography).
d. MRI (Magnetic Resonance Imaging).
e. Mediastinoskopi.
f. Biopsi sumsum tulang, yaitu pengambilan sample jaringan tubuh.
g. Endoskopi, untuk melihat kanker di bagian dalam tubuh manusia.

B. PENGERTIAN PELAYANAN PALIATIF KANKER


Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan
mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal,
cepat dan tidak terkendali. Kanker payudara (Carcinoma mammae) adalah suatu
penyakit neoplasma yang ganas berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh
Word Health Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International
Classification of Diseases (ICD).
Stadium penyakit kanker adalah suatu keadaan dari hasil penelitian
dokter saat mendiagnosis suatu penyakit kanker yang diderita pasiennya, sudah
sejauh manakah tingkat penyebaran kanker tersebut baik ke organ atau jaringan

9
sekitar maupun penyebaran ketempat lain. Stadium hanya dikenal pada tumor
ganas atau kanker dan tidak ada pada tumor jinak. Fokus terapi pada kanker
tahap akhir bersifat paliatif (mengurangi rasa sakit). Dokter berupaya untuk
memperpanjang serta memperbaiki kualitas hidup pasien.
Pada stadium lanjut, pasien dengan penyakit kronis tidak hanya
mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak nafas, penurunan berat
badan, gangguan aktivitas tetapi juga mengalami gangguan psikososial dan
spiritual yang mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya. Maka
kebutuhan pasien pada stadium lanjut suatu penyakit tidak hanya pemenuhan/
pengobatan gejala fisik, namun juga pentingnya dukungan terhadap kebutuhan
psikologis, sosial dan spiritual yang dilakukan dengan pendekatan interdisiplin
yang dikenal sebagai perawatan paliatif.
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas
hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan
penyakit yang dapat mengancam jiwa melalui pencegahan dan peniadaan
melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan
masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual.
Pelayanan paliatif pasien kanker adalah pelayanan terintegrasi oleh tim
paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan memberikan dukungan
bagi keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan kondisi
pasien dengan mencegah dan mengurangi penderitaan melalui identifikasi dini,
penilaian yang seksama serta pengobatan nyeri dan masalah masalah lain, baik
masalah fisik, psikososial dan spiritual (WHO, 2002), dan pelayanan masa duka
cita bagi keluarga (WHO 2005).

C. TAHAPAN PROGRAM PENCEGAHAN TIMBULNYA KANKER


1. Pendidikan Masyarakat
2. Pencegahan penyakit stadium lanjut melalui program deteksi dini
3. Penurunan angka kematian dengan terapi kanker
4. Pencegahan penderita dengan perawatan paliatif
D. MASALAH PASIEN KANKER
1. Fisik

10
Gejala fisik juga dapat muncul karena pengobatan yang dilakukan.
Kemoterapi atau radiasi dibagian tertentu dapat memberikan efek
samping mual, muntah, tidak nafsu makan, cepat lelah dsb. Nyeri atau
gangguan fungsi bagian tubuh yang dioprasi dapat terjadi akibat oprasi.
Kondisi tirah baring dalam waktu lama dapat menimbilkan pasien
merasa semakin lelah, gangguan buang air besar, luka dibagian tubuh
yang tertindih dsb. Kondisi lain yang menyertai yang telah ada
sebelumnya juga dapat menambah gejala yang muncul.
2. Psikologis
Gangguan psikologis dapat juga muncul akibat gejala fisik, progresifitas
penyakit, kecacatan yang timbul, perubahan bentuk tubuh,
ketergantungan fisik, kelelahan fisik, kegagalan pengobatan, biaya yang
harus dibayarkan, komunikasi yang buruk dengan petugas kesehatan.
3. Spiritual dan Agama
Masalah spiritual dan agama seperti menganggap penyakit akibat
hukuman, menyalahkan diri sendiri, hidup tidak berguna dapat menjadi
sumber penderitaan.

E. PRINSIP PELAYANAN PALIATIF PASIEN KANKER


Pada pelayanan paliatif, pasien memiliki peran yang penting dalam
membuat keputusan yang akan diambil. Tujuan pelayanan paliatif bagi setiap
pasien berbeda dan dibuat dengan memperhatikan hal yang ingin dicapai oleh
pasien bila memungkinkan, hal ini biasanya disampaikan dalam bentuk fungsi
tubuh misalnya Aku ingin bisa melakukan….atau kejadian penting misalnya
Aku ingin melihat anakku menikah. Secara umum pelayanan paliatif bertujuan
untuk menghilangkan nyeri dan gejala lain, meningkatkan kualitas hidup,
memberikan dukungan psikososial dan spiritual serta memberikan dukungan
kepada keluarga selama pasien sakit dan selama masa dukacita. Prinsip-prinsip
pada pelayanan paliatif pasien kanker yaitu :
1. Menghilangkan nyeri dan gejala fisik lain
2. Menghargai kehidupan dan menganggap kematian sebagai proses normal
3. Tidak bertujuan mempercepat atau menghambat kematian

11
4. Mengintegrasikan aspek psikologis, sosial dan spiritual
5. Memberikan dukungan agar pasien dapat hidup seaktif mungkin
6. Memberikan dukungan kepada keluarga sampai masa dukacita
7. Menggunakan pendekatan tim untuk mengatasi kebutuhan pasien dan
keluarganya
8. Menghindari tindakan yang sia sia
F. INDIKASI PELAYANAN PALIATIF
Pelayanan paliatif dimulai sejak diagnosis kanker ditegakkan bila
didapatkan satu atau lebih kondisi di bawah ini :
1. Nyeri atau keluhan fisik lainnya yang tidak dapat diatasi
2. Stres berat sehubungan dengan diagnosis atau terapi kanker
3. Penyakit penyerta yang berat dan kondisi sosial yang diakibatkannya
4. Permasalahan dalam pengambilan keputusann tentang terapi yang akan atau
sedang dilakukan
5. Pasien/keluarga meminta untuk dirujuk ke perawatan paliatif
6. Angka harapan hidup < 12 bulan (ECOG > 3 atau kanofsky < 50%,
metastasis otak, dan leptomeningeal, metastasis di cairan interstisial, vena
cava superior sindrom, kaheksia, serta kondisi berikut bila tidak dilakukan
tindakan atau tidak respon terhadap tindakan yaitu: kompresi tulang
belakang, bilirubin ≥2,5 mg/dl, kreatinin ≥3 mg/dl ). *tidak berlaku pada
pasien kanker anak
7. Pada pasien kanker stadium lanjut yang tidak respon dengan terapi yang
diberikan .
G. LANGKAH-LANGKAH DALAM PELAYANAN PALIATIF
1. Menentukan tujuan perawatan dan harapan pasien
2. Membantu pasien dalam membuat Advanced Care Planning (wasiat atau
keingingan terakhir)
3. Pengobatan penyakit penyerta dan aspek sosial yang muncul
4. Tata laksana gejala ( sesuai panduan dibawah )
5. Informasi dan edukasi perawatan pasien
6. Dukungan psikologis, kultural dan social

12
7. Respon pada fase terminal: memberikan tindakan sesuai wasiat atau
keputusan keluarga bila wasiat belum dibuat, misalnya: penghentian atau
tidak memberikan pengobatan yang memperpanjang proses menuju
kematian (resusitasi, ventilator, cairan, dll)
8. Pelayanan terhadap pasien dengan fase terminal

EVALUASI, apakah
a. Nyeri dan gejala lain teratasi dengan baik
b. Stress pasien dan keluarga berkurang
c. Merasa memiliki kemampuan untuk
mengontrol kondisi yang ada
d. Beban keluarga berkurang
e. Hubungan dengan orang lain lebih baik
f. Kualitas hidup meningkat
g. Pasien merasakan arti hidup dan
bertumbuh secara spiritual
Jika Pasien MENINGGAL
a. Perawatan jenazah
b. Kelengkapan surat dan keperluan
pemakaman
c. Dukungan masa duka cita ( berkabung )

H. TIM DAN TEMPAT PELAYANAN PALIATIF


Dalam mencapai tujuan pelayanan paliatif pasien kanker, yaitu mengurangi
penderitaan pasien , beban keluarga, serta mencapai kualitas hidup yang lebih
baik, diperlukan sebuah tim yang bekerja secara terpadu ( lihat tabel tim paliatif
). Pelayanan paliatif pasien kanker juga membutuhkan keterlibatan keluarga dan
tenaga relawan.
Dengan prinsip interdisipliner (koordinasi antar bidang ilmu dalam
menentukan tujuan yang akan dicapai dan tindakan yang akan dilakukan guna

13
mencapai tujuan ), tim paliatif secara berkala melakukan diskusi untuk
melakukan penilaian dan diagnosis, untuk bersama pasien dan keluarga
membuat tujuan dan rencana pelayanan paliatif pasien kanker, serta melakukan
monitoring dan follow up.
Kepemimpinan yang kuat dan manajemen program secara keseluruhan
harus memastikan bahwa manajer lokal dan penyedia layanan kesehatan bekerja
sebagai tim multidisiplin dalam sistem kesehatan, dan mengkoordinasikan erat
dengan tokoh masyarakat dan organisasi yang terlibat dalam program ini, untuk
mencapai tujuan bersama. Komposisi tim perawatan paliatif terdiri :
1. Dokter
Dokter memainkan peran penting dalam pelayanan paliatif
interdisipliner, harus kompeten di kedokteran umum, kompeten dalam
pengendalian rasa sakit dan gejala lain, dan juga harus akrab dengan prinsip-
prinsip pengelolaan penyakit pasien. Dokter yang bekerja di pelayanan
paliatif mungkin bertanggung jawab untuk penilaian, pengawasan dan
pengelolaan dari banyak dilema pengobatan sulit.
2. Perawat
Merupakan anggota tim yang biasanya akan memiliki kontak
terlama dengan pasien sehingga memberikan kesempatan unik untuk
mengetahui pasien dan pengasuh, menilai secara mendalam apa yang terjadi
dan apa yang penting bagi pasien, dan untuk membantu pasien mengatasi
dampak kemajuan penyakit. Perawat dapat bekerja sama dengan pasien dan
keluarganya dalam membuat rujukan sesuai dengan disiplin ilmu lain dan
pelayanan kesehatan. Peran perawat dalam
a. Konsultasi layanan paliatif
b. Penanggulangan nyeri
c. Penanggulangan keluhan lain penyerta penyakit primer
d. Bimbingan psikologis, social dan spiritual
e. Persiapan kemampuan keluarga untuk perawatan pasien dirumah
f. Kunjungan rumah berkala, sesuai kebutuhan pasien dan keluarga
g. Bimbingan perawatan untuk pasien dan keluarga
h. Membantu penyediaan tenaga perawat homecare

14
i. Membantu penyediaan pelaku perawat (caregiver)
j. Membantu kesiapan akhir hayat dengan tenang dalam iman
k. Membantu dukungan masa duka cita
l. Konsultasi melalui telepon.
3. Pekerja sosial dan psikolog
Perannya membantu pasien dan keluarganya dalam mengatasi
masalah pribadi dan sosial, penyakit dan kecacatan, serta memberikan
dukungan emosional/konseling selama perkembangan penyakit dan proses
berkabung. Masalah pribadi biasanya akibat disfungsi keuangan, terutama
karena keluarga mulai merencanakan masa depan.
4. Konselor spiritual
Konselor spiritual harus menjadi pendengar yang terampil dan tidak
menghakimi, mampu menangani pertanyaan yang berkaitan dengan makna
kehidupan. Sering juga berfungsi sebagai orang yang dipercaya sekaligus
sebagai sumber dukungan terkait tradisi keagamaan, pengorganisasian ritual
keagamaan dan sakramen yang berarti bagi pasien kanker. Sehingga
konselor spiritual perlu dilatih dalam perawatan akhir kehidupan

15
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara,
pengumpulan riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan
laboratorium dan diagnostik, serta review catatan sebelumnya. Langkah-
langkah pengkajian yang sistemik adalah pengumpulan data, sumber data,
klasifikasi data, analisa data dan diagnosa keperawatan. Pengkajian meliputi
:
a. Pengumpulan data
Adalah bagian dari pengkajian keperawatan yang merupakan landasan
proses keperawatan. Kumpulan data adalah kumpulan informasi yang
bertujuan untuk mengenal masalah klien dalam memberikan asuhan
keperawatan .
b. Sumber data
Data dapat diperoleh melalui klien sendiri, keluarga, perawat lain dan
petugas kesehatan lain baik secara wawancara maupun observasi.
c. Data biografi /biodata meliputi identitas klien dan identitas penanggung
antara lain : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan
dan alamat.
d. Riwayat keluhan utama meliputi : adanya benjolan yang menekan
payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak,
nyeri.
e. Riwayat kesehatan masa lalu, apakah pasien pernah mengalami penyakit
yang sama sebelumnya. Apakah ada keluarga yang menderita penyakit
yang sama.
f. Pengkajian fisik meliputi keadaan umum, tingkah laku, BB dan TB,
Pengkajian head to toe
g. Pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan darah hemoglobin biasanya
menurun, leukosit meningkat, trombosit meningkat jika ada penyebaran
ureum dan kreatinin. Pemeriksaan urine, diperiksa apakah ureum dan
kreatinin meningkat.

16
h. Tes diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita carsinoma mammae
adalah sinar X, ultrasonografi, xerora diagrafi, diaphanografi dan
pemeriksaan reseptor hormon.
i. Pengkajian pola kebiasaan hidup sehari-hari meliputi
nutrisi, eliminasi, istirahat dan tidur, personal hygiene, identifikasi
masalah psikologis, sosial dan spritual

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor.
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi
c. Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh
d. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah
e. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.
f. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta
pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.
g. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake
tidak adekuat.

3. Perencanaan
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya penekanan
massa tumor
Tujuan : Nyeri teratasi.
Kriteria Hasil :
– Klien mengatakan nyeri berkurang
– Nyeri tekan tidak ada
– Ekspresi wajah tenang
Intervensi :
1) Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan
penyebaran.
2) Beri posisi yang menyenangkan.
3) Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.

17
4) Ukur tanda-tanda vital
5) Penatalaksanaan pemberian analgetik

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi


lengan/bahu.
Tujuan : Klien dapat beraktivitas
Kriteria Hasil :
– Klien dapat beraktivitas sehari – hari.
– Peningkatan kekuatan bagi tubuh yang sakit.
Intervensi :
1) Latihan rentang gerak pasif sesegera mungkin.
2) Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan
3) Bantu ambulasi dan dorong memperbaiki postur.

c. Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.


Tujuan : Kecemasan dapat berkurang.
Kriteria Hasil :
– Klien tampak tenang
– Mau berpartisipasi dalam program terapi
Intervensi :
1) Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.
2) Diskusikan tanda dan gejala depresi.

3) Diskusikan tanda dan gejala depresi


4) Diskusikan kemungkinan untuk bedah rekonstruksi atau
pemakaian prostetik.

d. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah


Tujuan : Klien dapat menerima keadaan dirinya.
Kriteria Hasil :
– Klien tidak malu dengan keadaan dirinya.
– Klien dapat menerima efek pembedahan.

18
Intervensi :
1) Diskusikan dengan klien atau orang terdekat respon klien terhadap
penyakitnya.
2) Tinjau ulang efek pembedahan
3) Berikan dukungan emosi klien.
4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu mendampingi klien.

e. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.


Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria Hasil :
– Tidak ada tanda – tanda infeksi.
– Luka dapat sembuh dengan sempurna.
Intervensi :
1) Kaji adanya tanda – tanda infeksi.
2) Lakukan pencucian tangan sebelum dan sesudah prosedur
tindakan.
3) Lakukan prosedur invasif secara aseptik dan antiseptik.
4) Penatalaksanaan pemberian antibiotik.

f. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta


pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Klien mengerti tentang penyakitnya.
Kriteria Hasil :
– Klien tidak menanyakan tentang penyakitnya
– Klien dapat memahami tentang proses penyakitnya dan
pengobatannya
Intervensi :
1) Jelaskan tentang proses penyakit, prosedur pembedahan dan
harapan yang akan datang.
2) Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi, makanan
dan pemasukan cairan yang adekuat.
3) Anjurkan untuk banyak beristirahat dan membatasi aktifitas yang

19
berat.
4) Anjurkan untuk pijatan lembut pada insisi/luka yang sembuh
dengan minyak.
5) Dorong pemeriksaan diri sendiri secara teratur

g. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake


yang tidak adekuat
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil :
- Nafsu makan meningkat
- Klien tidak lemah
- Hb normal (12 – 14 gr/dl)
Intervensi :
1) Kaji pola makan klien
2) Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering
3) Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.
4) Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.
5) Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien

4. Implementasi
Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan dimana
rencana keperawatan dilaksanakan : melaksanakan intervensi/aktivitas yang
telah ditentukan, pada tahap ini perawat siap untuk melaksanakan intervensi
dan aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan klien.
Agar implementasi perencanaan dapat tepat waktu dan efektif terhadap
biaya, pertama-tama harus mengidentifikasi prioritas perawatan klien,
kemudian bila perawatan telah dilaksanakan, memantau dan mencatat
respons pasien terhadap setiap intervensi dan mengkomunikasikan
informasi ini kepada penyedia perawatan kesehatan lainnya. Kemudian,
dengan menggunakan data, dapat mengevaluasi dan merevisi rencana
perawatan dalam tahap proses keperawatan berikutnya
5. Evaluasi

20
Tahapan evaluasi menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil
yang diinginkan dan respons pasien terhadap dan keefektifan intervensi
keperawatan kemudian mengganti rencana perawatan jika diperlukan.
Tahap akhir dari proses keperawatan perawat mengevaluasi kemampuan
pasien ke arah pencapaian hasil.

21
BAB IV CONTOH KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. N DENGAN CA. LAMBUNG
METASTASE PADA HEPAR STADIUM TERMINAL (HOME CARE)

PENGKAJIAN

Tanggal Pengkajian : 12 November 2017

Jam : 10.00 WITA

Tempat : Rumah Klien, Jalan Keadilan I no.5 Glodok,


Jakarta Barat

A. IDENTITAS PRIBADI
Nama : Tn. N
Umur : 70 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Kristen Protestan
Suku Bangsa : Minahasa, Indonesia
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Wiraswasta
Status : Menikah
Diagnose medis : Ca. Lambung metastase hepar
Diagnosa saat pengkajian: Ca. Lambung metastase hepar stadium terminal
B. IDENTITAS PENANGGUNGJAWAB
Nama : Nn. O
Umur : 24 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Hubungan dengan klien: Anak
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Pendidikan : S2
Alamat : Jalan Keadilan I no.53, Glodok, Jakarta Barat
C. KEADAAN UMUM
Lemah, klien hanya berbaring
Keluhan Utama : Mual

22
Riwayat Keluhan Utama
Keluarga mengatakan bahwa klien merasa mual saat akan diberi makan
atau minum dengan air mineral, susu atau jus dan merasa kesulitan
menelan
Keluhan yang menyertai: nafsu makan berkurang

TANDA-TANDA VITAL
Kesadaran : E3V4M6, GCS 13, Kesimpulan: Apatis
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Suhu Tubuh : 37,2 C
Nadi : 65x/m
Respirasi : 18x/m
D. 11 POLA FUNGSI GORDON
1. Pola Persepsi Kesehatan dan Manajemen Kesehatan
Riwayat penyakit lainnya : Tidak ada
a. Data Subyektif
1) Sebelum sakit
Keluarga mengatakan klien tidak pernah mengalami sakit
yang serius seperti ini, bila sakit, klien dan keluarga
memeriksakan diri ke rumah sakit. Dalam anggota
keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular atau
penyakit kronis, klien tidak memiliki alergi obat atau
makanan, tidak merokok dan tidak mengonsumsi alcohol.
Klien rutin melakukan perawatan diri dengan mandi
setiap hari.
2) Saat sakit
Keluarga mengatakan bahwa klien didiagnosa menderita
Ca. Lambung pada Desember 2016, dan sudah menjalani
kemotherapy selama 8x di RS Singapura. Saat dokter
Singapura menyatakan bahwa Tn. N sudah tidak dapat
menjalani kemotherapy, ia dipulangkan ke Indonesia.
Pada tanggal 7 November 2017, Klien dibawa ke RS Puri

23
karena drop. Saat dirawat, klien terus meminta untuk
pulang dan tidak di rawat di RS. Akhirnya, pada tanggal
10 Novermber 2017 klien dipulangkan dan memutuskan
menjalani perawatan di rumah.
b. Data Obyektif
Kebersihan klien tetap dijaga dengan baik, kulit kepala terawat,
rongga mulut kotor dan tampak keputihan, kebersihan anus dan
genitalia terjaga
2. Pola Nutrisi Metabolik
a. Data Subyektif
1) Sebelum sakit
Keluarga mengatakan bahwa nafsu makannya sangat
baik, makan 3x sehari 1 porsi, makan nasi, sayur dan lauk
pauk, minum 7 gelas per hari, jenis minuman air mineral
dan teh manis, tidak ada pantangan makan.
2) Sejak sakit
Keluarga mengatakan bahwa klien sangat kehilangan
nafsu makan, hanya minum air mineral 2 gelas (400 cc),
diberi susu dan jus bayam, tapi sering merasa mual dan
ingin muntah dan kesulitan untuk menelan
b. Data Objektif
Hidrasi kulit jelek (kembali >2 detik), kemampuan menelan sangat
kurang, kemampuan mengunyah keras (-), gigi sudah banyak yang
tanggal, mulut kotor dan tampak berwarna keputihan, bibir kering
dan pucat, asites(+)
3. Pola Eliminasi
a. Data Subjektif
1) Sebelum sakit
Keluarga mengatakan klien biasanya buang air kecil 6-
7x/hari lancar, berwarna kuning jernih dan buang air
besar 1x/hari lunak dan berwarna kuning kecoklatan
2) Saat sakit

24
Keluarga mengatakan klien buang air kecil 2-3x/hari
sangat sedikit, berwarna kuning dan buang air besar
1x/hari berwarna cokelat kehitaman.
b. Data objektif
Peristaltic usus 10x/m, kandung kemih dalam keadaan kosong,
tidak terdapat peradangan pada anus maupun mulut uretra.
4. Pola Aktivitas dan Latihan
a. Data Subjektuf
1) Sebelum Sakit
Keluarga mengatakan klien melaksanakan aktivitas
dengan baik, pergi ke kantor mengendarai mobil, dan
melakukan semua aktivitas secara mandiri
2) Saat Sakit
Keluarga mengatakan bahwa klien mengalami kesulitan
untuk melakukan semua aktivitas fisik, dan perlu bantuan
untuk menjalani aktivitas kesehariannya
b. Data Objektif
1) Observasi
ADL
Makan 2
Mandi 2
Berpakaian 2
Kerapihan 2
Buang air besar 2
Buang air kecil 2
Mobilisasi di tempat tidur 0
Ambulasi Kursi roda
Ket:
0 : Mandiri
1 : bantuan dengan alat
2 : Bantuan orang
3 : bantuan orang dan alat

25
4 : Bantuan penuh
2) Pemeriksaan fisik
Perfusi pembuluh perifer kuku : Cukup Baik (kembali
dalam 2 detik)
Thorax dan pernapasan
Inspeksi : Bentuk thorax normal, tidak ada
kelainan, stridor (-), Dyspneu d’Effort (-), sianosis (-)
Perkusi : sonor
Auskultasi : Suara napas vesicular, suara ucapan
normal, klien mengalami batuk berdahak
Jantung
Inspeksi : tidak terpasang alat pacu jantung
Palpasi :Ictus cordis terdapat pada
SIC(Spatinum intercosta) V di sebelah medial linea
midclavikularis sinistra
Auskultasi : HR 65x/m
Lengan dan tungkai
Atrofi otot : negative
5. Pola Istirahat dan Tidur
a. Data Subjektif
1) Sebelum sakit
Keluarga mengatakan klien biasanya tidur 5-6 jam
dimalam hari dan siang hanya istirahat sejenak karena
bekerja
2) Saat sakit
Keluarga mengatakan klien mengalami susah tidur,
sering menguap.
b. Data Objektif
Saat pengkajian, klien tampak mengantuk dan sering menguap,
palpebrae berwarna gelap
6. Pola Persepsi Kognitif
a. Data Subjektif

26
Keluarga mengatakan bahwa klien masih bisa mendengar dengan
baik, melihat dengan jelas, tidak ada gangguan penciuman dan bisa
merasakan makanan dengan baik sebelum dan saat saki
b. Data objektif
Tidak dijumpai kelainan
7. Pola Persepsi dan Konsep diri
a. Data Subjektif
1) Sebelum sakit
Keluarga mengatakan bahwa klien sangat percaya diri
dengan penampilannya, tidak merasa malu dengan
kondisi tubuhnya
2) Sejak sakit
Keluarga mengatakan bahwa klien sudah menerima
penyakitnya sejak mulai menjalani kemotherapy.
b. Data Objektif
Klien tampak cukup tenang, tidak ada kelainan tubuh.
8. Pola Peran Hubungan Sosial
a. Data Subjektif
Keluarga mengatakan hubungan antara anggota keluarga
harmonis, meskipun dalam keluarga terdapat perbedaan agama,
begitu juga dengan masyarakat sekitarnya. Banyak saudara,
tetangga klien yang datang menjenguk dan menunggu secara
bergantian. Istri klien sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Saat ini
keluarga sementara menunggu kepulangan salah satu anak klien
dari luar negeri.
b. Data Objektif
Klien tampak cukup tenang, keluarga selalu mendampingi klien
dan mengajak klien untuk bercakap apabila klien bangun atau saat
merasa susah tidur
9. Pola Reproduksi-seksualitas
a. Data Subyektif

27
Keluarga mengatakan bahwa klien tidak pernah mengalami
gangguan reproduksi apapun, dan klien memiliki 4 orang anak.
10. Pola Koping- Toleransi Stres
a. Data Subjektif
Keluarga mengatakan bahwa klien selalu menghadapi masalah
dengan tenang, dan selalu mengomunikasikan apa yang menjadi
masalahnya atau keluhan kepada keluarganya, dan saat ini klien
sudah menerima kondisi penyakitnya
b. Data Objektif
Klien mampu untuk beradaptasi dengan penyakitnya, TD 120/70
mmHg, denyut nadi 65x/menit, tidak berkeringat dingin
11. Pola Nilai Kepercayaan
a. Data Subjektif
Keluarga mengatakan klien menganut agama Kristen dan rutin
mengikuti kebaktian/ibadah di hari Minggu
b. Data Objektif
Klien tetap berdoa dan percaya bahwa ia bisa melewati segala
sesuatu yang terjadi dengan tuntunan Tuhan. Sudah dipanggilkan
pendeta untuk selalu mendoakan klien
E. DATA PENUNJANG
Dokter pemeriksa menyatakan bahwa usia klien sekitar 3 hari lagi.
F. PENGUMPULAN DATA
 Keluarga mengatakan bahwa klien sangat kehilangan nafsu makan,
hanya minum air mineral 2 gelas (400 cc), diberi susu dan jus bayam,
tapi sering merasa mual dan ingin muntah dan kesulitan untuk menelan
 Hidrasi kulit jelek (kembali >2 detik), kemampuan menelan sangat
kurang, kemampuan mengunyah keras (-), mulut kotor dan tampak
berwarna keputihan, bibir kering dan pucat, asites(+)
 Keluarga mengatakan klien buang air kecil 2-3x/hari sangat sedikit,
berwarna kuning tua dan buang air besar 1x/hari berwarna cokelat
kehitaman.

28
 Keluarga mengatakan bahwa klien mengalami kesulitan untuk
melakukan semua aktivitas fisik, dan perlu bantuan untuk menjalani
aktivitas kesehariannya
 Respirasi : 18x/m
 klien mengalami batuk berdahak
 Keluarga mengatakan klien mengalami susah tidur, sering menguap.
 klien tampak mengantuk dan sering menguap, palpebrae berwarna
gelap
G. KLASIFIKASI DATA

BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas
hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan
dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa melalui pencegahan dan
peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta
penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual.
Perawatan palliatif diantaranya yaitu penanganan rasa nyeri, pengambilan
keputusan yang tepat dalam penggunaan kemoterapi palliative
B. SARAN
Melalui makalah ini diharapkan setiap tenaga kesehatan dapat saling
bersinergi guna menerapkan perawatan yang yang maksimal bagi pasien
paliatif khususnya pada klien dengan kanker.

29
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Pedoman teknis pelayanan paliatif kanker.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Jakarta
Mansjoer, dkk. (2009). Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. EGC : Jakarta
Sjamsuhidajat. (2007). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi. EGC : Jakarta
Tapan. (2005). Kanker, Anti Oksidan dan Terapi Komplementer, Elex Media
Komputindo, Jakarta

30

Anda mungkin juga menyukai