Anda di halaman 1dari 2

12-3 REGULASI FASILITAS UMUM

Dalam bagian ini kita mendefinisikan fasilitas umum dan monopoli alamiah, dan kita akan
membahas perlunya regulasi untuk kedua hal tersebut serta dilema yang biasanya dihadapi
dalam menentukan cara yang tepat dan seberapa jauh regulasi dilakukan.

Fasilitas Umum sebagai Monopoli Alamiah

Dalam beberapa industri, skala ekonomi bisa terjadi ( artinya, kurva biaya rata-rata jangka
panjang bisa turun ) secara terus menerus sejalan dengan bertambahnya output, sehingga satu
perusahaan saja sudah cukup untuk memasok keseluruhan pasar dengan lebih efisien,
ketimbang beberapa perusahaan berukuan kecil. Perusahaan besar yang memasok
keseluruhan pasar seperti itu disebut dengan onopolo alamiah (natural monopoly). Ciri yang
membedakan monopoli alamiah adalah bahwa biaya rata-rata jangka panjang perusahaan,
masih terus turun ketika perusahaan itu memasok seluruh kebutuhan pasar. Dalam hal ini
monopoi adalah suatu akibat yang terjadi secara alamiah ketika suatu perusahaan besar
mempunyai biaya perunit yang lebih rendah dari perusahaan perusahaan kecil lainnya,
sehingga mampu membuat perusahaan perusahaan kecil tersebut keluar dari bidang usaha
tersebut. Contoh monopoli alamiah adalah fasilitas umum (public utilities)-perusahaan listrik,
gas, air, dan transportasi lokal. Jika terdapat lebih dari satu perusahaan dalam pasar, garis
penawaran akan mengalami publikasi dan biaya perunit akan menjadi terlalu mahal. Untuk
menghindari hal itu, pemerintah lokal biasanya mengizinkan satu perusahaan beroperasi
dalam pasar tersebut, tetapi melakukan regulasi atas harga dan kualitas jasa yang diberikan,
sehingga memungkinkan perusahaan tersebut hanya memperoleh tingkat pengembalian
investasi yang normal ( setelah dikurangi faktor risiko ).

Kesulitan dalam Regulasi Fasilitas Umum

Meskipun pembahasan tentang regulasi fasilitas umum diatas kelihatanny cukup sederhana
dan jelas, dalam praktiknya, penentuan tingkat harga untuk jasa fasilitas umum oleh komisi
regulasi (sering disebut rate case) sangatlah rumit. Salah satu alasannya adalah sangat sulit
untuk menentukan nilai dari pabrik atau aset tetap dalam perhitungan tingkat pengembalian
yang normal. Apakah biaya investasi aslinya atau biaya penggantinya? Lebih sering, komisi
regulasi memilih untuk menggunakan biaya investasi asli. Lebih jauh, kareana perusahaan
penyedia fasilitas umum memasok jasa kepada berbagai macam kelas pelanggan, masing-
masing dengan elastisitas harga permintaan yang berbeda, terdapat banyak tingkatan harga
yang dapat digunakan untuk memungkinkan perusahaan tersebut mencapai titik impas. Yang
lebih sulit lagi adalah kenyataan bahwa perusahaan penyedia fasilitas umum biasanya
menjual jasa yang dihasilkan secara gabungan (jointly produced), sehingga tidak mungkin
untuk mengalokasikan biaya rasional atas berbagai jasa yang diberikan dan atas berbagai
kalangan pelanggan yang dilayani.

Regulasi juga bisa menyebabkan terjadinya inefisiensi. Ini muncul dari kenyataan
bahwa, telah dijaminnya tingkat pengembalian investasi yang normal, sehingga perusahaan
penyedia fasilitas umum kurang mempunyai insentif untuk menekan biaya.Misalnya, para
manajer mungkin memutuskan untuk menaikkan gaji mereka sendiri, yang melebihi yang
akan mereka peroleh jika mereka bekerja ditempat lain yang setara, serta menyediakan kantor
yang meah dan rekening biaya yang tinggi untuk diri mereka sendiri. Karena itu, komisi
regulasi harus memeriksa biaya biaya yang terjadi untuk mencegah penyalahgunaan seperti
itu.

Inefisiensi yang lain juga bisa muncul karena jika tarif yang diterapkan terlalu tinggi,
fasilitas umum akan terlalu banyak melakukan investasi dalam aset tetap dan menggunakan
teknik produksi yang terlalu padat modal untuk menghindari tingkat pengembalian diatas
normal (yang bisa menyebabkan pengurangan tarif). Sebaliknya, jika tarif fasilitas umum
terlalu rendah, perusahaan penyedia fasilitas umum akan terlalu sedikit melakukan investasi
dalam aset tetap (yaitu, untuk pabrik dan peralatan) dan terlalu banyak menghabiskan uang
untuk input variabel, seperti buruh dan bahan bakar, dan cenderung menurunkan kualitas
pelayanannya. Kelebihan dan kekurangan investasi atas pabrik dan peralatan akibat
penerapan tarif fasilitas umum yang tidak tepat, dikenal sebagai efek Averch-johnson atau
efek A-J berasal dari Harvey Averch dan Leland Johnson, yang pertama kali mengidentifikasi
masalah ini dan bisa menyebabkan terjadinya inefisiensi yang besar. Dan tetap saja sangatlah
sulit bagi komisi regulasi untuk menemukan tarif yang tepat karena sulitnya menilai aset
tetap fasilitas umum dan karena lamanya periode perencanaan dn pembangunan proyek
investasi fasilitas umum.

Terakhir, biasanya terdapat tenggang waktu selama 9 hingga 12 bulan sejak


munculnya kebutuhan untuk mengubah tarif hingga dikabulkannya permohonan kenaikan
tarif tersebut. Tenggang waktu regulasi ini muncul karen debat publik harus dilaksanakan
sebelum komisi regulasi bisa menyetujui perubahan tarif yang diminta. Karena anggota
komisi regulasi adalah perwakilan politik atau pejabat yang dipilih oleh karena itu
memperoleh tekanan politis dari kelompok kelompok konsumen, mereka biasaya mengulur-
ulur peningkatan tarif selama mungkin dan cenderung menyetujui kenaikan yang lebih kecil
dari yang diperlukan. Selama priode yang penuh inflasi, hal ini menyebabkan kurangnya
investasi dalam aset tetap dan menyebabkan inefisiensi yang telah dibahas diatas. Untuk
mencegah tenggang waktu regulasi ini, kadang kadang tarif dikaitkan dengan biaya bahan
bakar dan secara otomatis mengalami penyesuaian biaya jika biaya variabel berubah.
Meskipun begitu, kebanyakan fasiltas umum saat ini sedang mengalami proses deregulasi.