Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan

rahmatNyasehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kemandirian Sehari-hari Pada

lansia”.Penyusunan skripsi ini merupakan syarat dalam rangka menyelesaikan

studi S1 Keperawatan di Stikes getsempena . Penyusunan skripsi telah dapat

diselesaikan, atas bimbingan, arahan, dan bantuan berbagai pihak yang tidak bisa

disebutkan satu persatu. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih

kepada:

1.Ns,Dedi Ahmadi,S,Kep, M.Kes selaku Ketua Stikes Getsempena Lhoksukon

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kebaikan kepada semuanya, sebagai

imbalan atas segala amal kebaikan dan bantuannya. Akhirnya besar harapan

penulis semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan memahami

ilmu pengetahuan.
DAFTAR ISI

KATA PENANTAR............................................................................i

DAFTAR ISI........................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN....................................................................1

A. LATAR BELAKANG.................................................................................1

B. RUMUS MASALAH..................................................................................3

C. TUJUAN PENELITI...................................................................................4

D. MANFAAT PENELITI...............................................................................4

BAB II TINJAUAN TIORITIS.........................................................6

A. TINJAUAN UMUM TENTANG KELUARGA........................................6


BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut WHO dan Undang-Undang No 13 Tahun 1998 kesejahteraan

lanjut usia pada pasal 1 ayat 2 yang menyebutkan bahwa umur 60 tahun adalah

usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, akan tetapi merupakan

proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif,

merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan

dari dalam dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian (Padilla, 2013).

Hatta (2006) menyatakan, Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah

penduduk terpadat ke 4 di dunia. Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 200

juta jiwa pada tahun 2000, 7,5% atau 15 juta jiwa adalah penduduk lansia.

Berdasarkan proyeksi Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2005-2010 jumlah

penduduk lanjut usia akan sama dengan jumlah balita yaitu 8,5% dari jumlah

penduduk atau sekitar 19 juta jiwa. Menurut ramalan WHO penduduk lansia

di Indonesia pada tahun 2020 mendatang sudah mencapai angka 11,34% atau

tercatat 28,8 juta orang, balitanya tinggal 6,9% yang menyebabkan jumlah

penduduk lansia terbesar di dunia. Melihat tingkat kesehatan dan kesejahteraan

kian membaik maka angka harapan hidup penduduk Indonesia juga kian

meningkat (Kresnawati Indah, 2012).

Beberapa wilyah di Indonesia akan mengalami ledakan jumlah penduduk

lansia pada tahun 2010 hingga tahun 2020. Jumlah lansia diperkirakan

naik 11,34% dari jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat

Statistik (BPS) tahun 2007, jumlah lansia di Indonesia mencapai 18,96 juta jiwa.

Dari jumlah tersebut 14% diantaranya berada di Daerah Istimewa Yogyakarta


atau yang tertinggi di Indonesia disusul Jawa Tengah (11,16%), Jawa Timur

(11,14%), dan Bali (11,01%) (Media Indonesia Nasional, 2009 dalam Kresnawati

Indah, 2012).

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 di Sulawesi Selatan sendiri

jumlah lansia adalah 721.353 jiwa atau 9,19 % dari total jumlah penduduk Sulsel

dan Makassar berada diurutan kedua dengan jumlah lansia sebanyak 79.581 jiwa

untuk kabupaten kota penduduk dengan lansia terbanyak di Sulsel setelah Kab.

Bone.

Kepala Dinas Sosial Aceh, Drs Alhudri MM menyebutkan tahun 2015

sebanyak 25.553 jiwa Lansia Aceh telantar. Hal itu dikatannya saat membuka

acara seminar rangkaian Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN), Dalam

sambutannya, Alhudri menyampaikan bahwa Pemerintah Aceh selama ini telah

melaksanakan program pro lansia, seperti memberikan diskon di bidang

transportasi, dan menyediakan kursi khusus lansia di kereta api maupun busway.

“Di bidang kesehatan, kami juga telah meningkatkan layanan puskesmas dan

posyandu lansia, bantuan yang diberikan Dissos Aceh belum sebanding dengan

jumlah lansia Aceh yang terlantar, dimana hingga tahun 2015 mencapai 25.553

jiwa. “Maka dari itu, peringatan HLUN 2016 menjadi penting untuk menggugah

semua pihak, untuk bersama-sama peduli lansia.

Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap

keterbatasannya, pasti akan dialami oleh seseorang apabila dia panjang umur. Di

Indonesia istilah untuk kelompok usia ini belum baku, orang memiliki sebutan

yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan usia lanjut ada pula yang

menggunakan lanjut usia, atau jompo dengan pedanaan kata dalam bahasa Inggris
biasa disebut the aged, the elders, older adult, atau senior citizen (Tamher S dan

Noorkasiani, 2009).

Berbagai upaya telah dilakukan oleh instansi pemerintah, para profesional

kesehatan, serta bekerja sama dengan pihak swasta dan masyarakat untuk

mengurangi angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) lansia.

Pelayanan kesehatan, sosial, dan ketenagakerjaan, dan lain-lainnya telah

dikerjakan pada berbagai tingkatan, yaitu tingkat individu lansia, kelompok lansia,

keluarga. Panti Sosial Tresna Werda (PSTW), SaranaTresna Werda (STW),

Sarana Pelayanan Kesehatan Tingkat Dasar (primer), Saran Pelayanan Kesehatan

Rujukan Tinngkat Pertama (sekunder), dan Sarana Pelayanan Kesehatan Tingkat

Lanjutan (tersier) untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada lansia

(Maryam Siti dkk, 2009).

Kondisi umum lansia yang tinggal bersama keluarga menunjukkan keluarga

memegang peranan penting pada kehidupan orang lanjut usia, apalagi bila orang

lanjut usia tersebut mengalami berbagai gangguan fungsi fisik dan mental.

Berdasarkan fenomena diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan

judul hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian lansia dalam pemenuhan

aktifitas sehari-hari.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka rumusan masalah pada

penelitian ini adalah “adakah hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian

lansia dalam pemenuhan aktifitas sehari-hari?”


C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap kemandirian

lansia dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari di wilayah kerja Puskesmas

Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui dukungan keluarga secara emosional dengan

kemandirian lansia dalam pemenuhan aktifitas sehari-hari.

b. Untuk mengetahui dukungan keluarga dalam segi fisik dengan

kemandirian lansia dalam pemenuhan aktifitas sehari-hari.

c. Untuk mengetahui dukungan keluarga secara sosial ekonomi dengan

kemandirian lansia dalam pemenuhan aktifitas sehari-hari.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Ilmiah

Sebagai sumbangan ilmiah dan masukan untuk pengembangan ilmu

pengetahuan serta dapat digunakan sebagai bahan pustaka atau bahan

perbandingan untuk penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Institusi

Memberikan masukan kurikulum atau pengembangan tindakan

keperawatan yang dapat diberikan kepada peserta didik.


3. Manfaat Bagi Peneliti selanjutnya

Sebagai sumbangan ilmiah dan informasi dalam memperkaya khasanah

ilmu pengetahuan serta merupakan salah satu bacaan bagi peneliti selanjutnya.
BAB II

TINJAUAN TIORITIS

A. Tinjauan Umum Tentang Keluarga

1. Definisi Keluarga

Keluarga merupakan sasaran keperawatan komunitas selain individu,

kelompok, dan masyarakat. Pelayanan keperawatan keluarga merupakan salah

satu area pelayanan keperawatan yang dapat dilaksanakan dimasyarakat. Depkes

2010 mendefenisikan keluarga sebagai suatu sistem sosial yang terdiri dari dua

orang atau lebih yang dihubungkan karena hubungan darah, hubungan

perkawinan, hubungan adopsi dan tinggal bersama untuk menciptakan suatu

budaya tertentu (Faisaldo Candra, 2014).

Sesuai budaya Indonesia lansia harus mendapat tempat yang tertinggi,

dihormati, dihargai, diperhatikan, dikasihi dan dianggap sebagai pepunden.

Pandangan ini harus dipupuk dan dilstarikan dalam masyarakat karrena lansia

dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman dan kearifan, yang dapat

dimanfaatkan oleh masyarakat yang lebih muda (Nugroho Wahjudi, 2009).

Pada usia lanjut terjadi penurunan kondisi fisik/biologis, kondisi psikologis

serta perubahan kondisi sosial. Para usia lanjut bahkan masyarakat menganggap

seakan-akan tugasnya sudah selesai, mereka berhenti bekerja dan semakin

mengundurkan diri dari pergaulan masyarakat yang merupakan salah satu ciri fase

ini. Dalam fase ini ciri usia lanjut biasanya merenungkan hakikat hidupnya

dengan lebih intensif serta mencoba mendekatkan dirinya pada tuhan (Tamher S

dan Noorkasiani, 2009).


Menurut Nugroho (2008), kondisi idaman seperti ini tidak semua lansia

dapat menikmatinya. Proses menua tetap menimbulkan permasalahan baik secara

fisik, mental dan sosial ekonomi (Khulaifah Siti dkk, 2011).

Friedman (2003), bertambahnya usia diharapkan lansia tetap mendapatkan

kualitas hidup tetap baik, tetap melakukan aktivitas hidup sehari-hari dengan

mandiri serta tetap menjaga kesehatannya, tentunya hal ini terutama merupakan

tugas dari keluarga, menurut Watson (2003) namun kenyataanya banyak di

temukan penurunan kemandirian pada lansia yang tinggal dengan keluarga, hal ini

karena banyak keluarga lansia sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing di

samping itu meningkatnya kebutuhan ekonomi membuat semua anggota keluarga

bekerja diluar rumah, sehingga menyebabkan keluarga yang mempunyai lansia

kurang memperhatikan atau memberi dukungan yang optimal kepada lansia

(Khulaifah Siti, 2011).

Menurut Ismayadi (2004), dukungan dari keluarga terdekat dapat saja

berupa anjuran yang bersifat meningatkan si lanjut usia untuk tidak bekerja secara

berlebihan (jika lansia masih bekerja), memberikan kesempatan kepada lansia

untuk melakukan aktivitas yang menjadi hobinya, memberi kesempatan kepada

lansia untuk menjalankan ibadah dengan baik, dan memberikan waktu istirahat

yang cukup kepadanya sehingga lanjut usia tidak mudah stress dan cemas (Nusi

Ferani dkk, 2010).

Menurut Klicker (2010), lanjut usia akan mengalami penurunan fungsi

tubuh akibat perubahan fisik, psikososial, kultural, spiritual. Perubahan fisik akan

mempengaruhi berbagai sistem tubuh salah satunya adalah sistem kardiovaskuler.


Masalah kesehatan akibat dari proses penuaan dan sering terjadi pada sistem

kardiovaskuler yang merupakan proses degeneratif, diantaranya yaitu penyakit

hipertensi. Penyakit hipertensi pada lansia merupakan suatu keadaan yang

ditandai dengan hipertensi sistolik diatas 140 mmHg dan diastoliknya menetap

atau kurang dari 90 mmHg yang memberi gejala yang berlanjut, seperti stroke,

penyakit jantung koroner (Herliah Lily dkk, 2011).

Menurut Efendi (2009), peran keluarga sangat penting dalam tahap-tahap

perawatan kesehatan, mulai dari tahap peningkatan kesehatan, pencegahan,

pengobatan, sampai dengan rehabilitasi. Dukungan sosial sangat diperlukan oleh

setiap individu di dalam setiap siklus kehidupannya. Dukungan sosial akan

semakin dibutuhkan pada saat seseorang sedang mengalami masalah atau sakit, di

sinilah peran anggota kelurga diperlukan untuk menjalani masa-masa sulit dengan

cepat (Handayani Dwi, dkk, 2009).