Anda di halaman 1dari 2

2019, Tahun Lingkungan Hidup?

Hei… hei… Sobat Merah Putih, bagaimana kabar kondisi fisik dan psikis kalian mendekati
tahun politik 2019?
Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri dulu. Saya Rizki, biasa dipanggil oleh kawan
dengan A.M (Bukan nama panggung). Di sini saya akan mencoba menulis kembali di blog
setelah dua tahun vakum dan ini adalah blog baru saya. Disini saya akan mencoba
menyampaikan opini saya terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Untuk tulisan pertama
ini saya akan menyampaikan opini saya terkait tahun politik 2019 dari segi Lingkungnan
Hidup.
Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 1997, Lingkungan Hidup adalah Kesatuan ruang
dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya,
yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lainnya. Dari pengertian di atas bias diambil kesimpulan jika Lingkungan Hidup erat
kaitannya dengan kehidupan kita. Lantas mengapa saya mengambil judul ‘2019, Tahun
Lingkungan Hidup?’
Perlu kita ketahui bahwasannya setiap rezim pemerintahan memiliki kebijakan sendiri dalam
mengelola lingkungan hidup. Pada Kabinet Kerja Jokowi-JK, Kementrian Lingkungan Hidup
berganti nama menjadi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Lalu dengan
digabungkannya dua Kementrian membuat Lingkungan Hidup sudah berada pada titik
semestinya? Atau pertanyaan paling mendasar adalah apakah kesehatan lingkungan hanya
berkutat soal kebakaran hutan, limbah, air kotor, emisi karbon dan sejenisnya?
Saya mengajak pembaca untuk membuka mata lebih lebar, melihat masalah Lingkungan
Hidup yang cukup kompleks tapi jauh dari awak media, tak sering dibicarakan oleh para elit
politik kita (Kecuali menjelang tahun pemilihan), jarang dikaji di perguruan tinggi di
Indonesia. Saya sebut beberapa dari masalah tersebut, reklamas teluk Jakarta, pabrik semen
Kendeng, status cagar alam Pulau Sempu, tambang emas Tumpang Pitu, proyek batu bara di
Kalimantan, proyek kelapa sawit di tanah Sumatera, dan masih banyak lainnya. Kita seakan
menutup mata dan telinga terhadap masalah tersebut. Hanya sedikit yang mau
memperjuangkannya. Beberapa dari mereka bahkan harus rela menikmai dinginnya jeruji
besi bahkan harus merenggang nyawa. Demi apa? Apakah hanya demi mempertahankan hak
mereka atas tanah mereka? Atau hal yang lebih besar kemudian?
Pada hakekatnya, sumber daya alam memang dicipta untuk di eksploitasi. Pasar kapital yang
membuatnya seperti itu. Jadi apa kaitannya dengan tahun politik? Siapa pun presidennya,
baik petahana atau penantang, tidak ada kebijakan yang benar-benar menjaga lingkungan.
Kebijakan pemerintah hanya bersifat memanfaatkan sumber daya alam dengan pendekatan
teknologi yang dapat meminimalisir kerusakan lingkungan. Jadi tidak salah saat sekelompok
orang berjuang untuk tanah tempatnya dilahirkan, karena mereka sedang memperjuangkan
hal yang lebih besar. Lalu apakah salah pemerintah? Untuk mengetahui jawaban itu, kita
perlu melihat pada diri kita bagaimana kita memandang lingkungan. Karena pemerintah
hanya mengikuti tren pasar global yang telah tercipta sejak revolusi industri beberapa abad
silam. Apakah tahun 2019 akan menjadi tahun di mana Lingkungan Hidup akan bergerak
kearah yang lebih baik? Sepertinya belum dan tidak akan pernah terjadi.
Sekian opini saya… silahkan jika ada yang ingin berpendapat di kolom komenar. Karena
penulis menyadari bahwa dia hanyalah manusia biasa dan untuk membuka ruang diskusi
yang lebih luas, penulis sadar butuhnya banyak pendapat dari orang lain. Apalagi saya
hanyalah penulis amatiran yang ingin menyampaikan opininya.