Anda di halaman 1dari 19

Laporan Pendahuluan

Epididimitis

A. Definisi
Epididimitis merupakan suatu proses inflamasi yang terjadi pada
epididimis. Epididimis merupakan suatu struktur berbentuk kurva (koil) yang
menempel di belakang testis dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sperma yang matur.
Epididimitis adalah suatu kondisi medis yang dalam hal ini terdapat
peradangan pada epididimis (suatu struktur melengkung di bagian belakang
testis yang fungsinya sebagai pengangkut, tempat penyimpanan, dan
pematangan sel sperma yang berasal dari testis). Kondisi ini mungkin dapat
sangat menyakitkan, dan skrotum bisa menjadi merah, hangat, dan bengkak.
Ini mungkin akut (tiba-tiba menyerang) namun jarang menjadi kronis.

B. Etiologi
Bermacam penyebab timbulnya epididimitis tergantung dari usia
klien, sehingga penyebab dari timbulnya epididimitis dibedakan menjadi :
1. Infeksi bakteri non spesifik
Bakteri coliforms (misalnya E coli, Pseudomonas, Proteus, Klebsiella)
menjadi penyebab umum terjadinya epididimitis pada anak-anak, dewasa
dengan usia lebih dari 35 tahun dan homoseksual. Ureaplasma
urealyticum, Corynebacterium, Mycoplasma, dan Mima polymorpha juga
dapat ditemukan pada golongan penderita tersebut. Infeksi yang
disebabkan oleh Haemophilus influenza dan N meningitides sangat jarang
terjadi.
2. Penyakit Menular Seksual (PMS)
Chlamydia merupakan penyebab tersering pada laki-laki berusia kurang
dari 35 tahun dengan aktivitas seksual aktif. Infeksi yang disebabkan oleh
Neisseria gonorrhoeae, Treponema pallidum, Trichomonas dan
Gardnerella vaginalis juga sering terjadi pada populasi ini.
3. Virus
Virus menjadi penyebab yang cukup dominan pada anak-anak. Pada
epididimitis yang disebabkan oleh virus tidak didapatkan adanya pyuria.
Mumps merupakan virus yang sering menyebabkan epididimitis selain
Coxsackie virus A dan Varicella.
4. TB (Tuberculosis)
Epididimitis yang disebabkan oleh basil tuberculosis sering terjadi di
daerah endemis TB dan menjadi penyebab utama terjadinya TB
urogenitalis.
5. Penyebab infeksi lain (seperti Brucellosis, Coccidioidomycosis,
Blastomycosis, Cytomegalovirus, Candidiasis, CMV pada HIV) dapat
menjadi penyebab terjadinya epididimitis namun biasanya hanya terjadi
pada individu dengan sistem imun tubuh yang rendah atau menurun.
6. Obstruksi (seperti BPH, malformasi urogenital) memicu terjadinya
refluks.
7. Vaskulitis (seperti Henoch-Schönlein purpura pada anak-anak) sering
menyebabkan epididimitis akibat adanya proses infeksi sistemik.
8. Penggunaan Amiodarone dosis tinggi
Amiodarone adalah obat yang digunakan pada kasus aritmia jantung
dengan dosis awal 600 mg/hari-800 mg/hari selama 1-3 minggu secara
bertahap dan dosis pemeliharaan 400 mg/hari. Penggunaan Amiodarone
dosis tinggi ini (lebih dari 200 mg/hari) akan menimbulkan antibodi
miodarone HCL yang kemudian akan menyerang epididimis sehingga
timbullah gejala epididimitis. Bagian yang sering terkena adalah bagian
cranial dari epididmis dan kasus ini terjadi pada 3-11 % klien yang
menggunakan obat Amiodarone.
9. Prostatitis
Prostatitis merupakan reaksi inflamasi pada kelenjar prostat yang dapat
disebabkan oleh bakteri maupun non bakteri dapat mnyebar ke skrotum
menyebabkan timbulnya epididimitis dengan rasa nyeri yang hebat,
pembengkakan, kemerahan dan jika disentuh terasa sangat nyeri. Gejala
yang juga sering menyertai adalah nyeri di selangkangan, daerah antara
penis dan anus serta punggung bagian bawah, demam dan menggigil.
Pada pemeriksaan colok dubur didapatkan prostat yang membengkak dan
terasa nyeri jika disentuh
10. Tindakan pembedahan seperti prostatektomi
Prostatektomi dapat menimbulkan epididimitis karena terjadinya infeksi
preoperasi pada traktus urinarius. Hal ini terjadi pada 13 % kasus yang
dilakukan prostatektomi suprapubik.
11. Kateterisasi dan instrumentasi
Terjadi epididimitis akibat tindakan kateterisasi maupun pemasangan
instrumentasi dipicu oleh adanya infeksi pada urethra yang menyebar
hingga ke epididimis.
12. Blood borne infection
Epididimitis terjadi melalui infeksi yang penyebarannya melalui darah
dari focus primer yang jauh, seperti kulit, gigi, telinga, dan tenggorokan.

C. Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya epididimitis masih belum jelas, dimana
diperkirakan terjadinya epididimitis disebabkan oleh aliran balik dari urin
yang mengandung bakteri, dari uretra pars prostatika menuju epididimis
melalui duktus ejakulatorius vesika seminalis, ampula dan vas deferens. Oleh
karena itu, penyumbatan yang terjadi di prostat dan uretra serta adanya
anomali kongenital pada bagian genito-urinaria sering menyebabkan
timbulnya epididimitis karena tekanan tinggi sewaktu miksi. Setiap
kateterisasi maupun instrumentasi seperti sistoskopi merupakan faktor resiko
yang sering menimbulkan epididimitis bakterial.
Infeksi berawal di kauda epididimis dan biasanya meluas ke tubuh dan
hulu epididimis. Kemudian mungkin terjadi orkitis melalui radang kolateral.
Tidak jarang berkembang abses yang dapat menembus kulit dorsal skrotum.
Jarang sekali epididimitis disebabkan oleh refluks dari jalan kemih akibat
tekanan tinggi intra abdomen karena cedera perut.
Epididimitis merupakan suatu infeksi epididimis yang biasanya turun
dari prostat atau saluran urine yang terinfeksi. Kondisi ini dapat juga terjadi
sebagai komplikasi dari Gonorrhoeae. Pada pria dibawah 35 tahun penyebab
utama epididimitis adalah Chlamydia trachomatis. Infeksi mulai menjalar
dari bagian atas melalui urethra dan duktus ejakulatorius kemudian berjalan
sepanjang vas deferens ke epididimis. Rasa nyeri dirasakan pada unilateral
dan rasa sakit pada kanalis inguinalis sepanjang jalur vas deferens kemudian
mengalami nyeri dan pembengkakan pada skrotum dan daerah lipatan paha.
Epididimis menjadi bengkak dan sangat sakit, suhu tubuh meningkat,
menggigil, demam dan urine dapat mengandung nanah (pyuria) dan bakteri
(bakteriuria).
D. Pathway Epididmitis

Infeksi bakteri non spesifik Penyakit Menular Seksual Kateterisasi dan instrumentasi

Ekskloriasi lapisan duktus dihasilkan


eksudat dan darah

Berlanjut ke veska seminalis &


vas deferens sampai epididmis

Bakteri berkembang biak

PK : Infeksi
Epididimitis

Peradangan/Infeksi Jaringan Pengeluaran Endotoksin Kurang terpapar


informasi

Rangsangan terhadap Merangsang hipotalamus


mediator reseptor nyeri pada pusat termoregulasi Tidak mengenal sumber
informasi

Nyeri dipresepsikan
Hipertermi

Kurang pengetahuan

Ggg rasa nyaman :


Nyeri Akut
E. Klasifikasi
Epididimitis dapat diklasifikasikan menjadi akut dan kronis,
tergantung pada lamanya gejala.
1. Epididimitis akut
Epididimitis akut memiliki waktu timbulnya nyeri dan bengkak hanya
dalam beberapa hari (kurang dari enam minggu). Epididimitis akut
biasanya lebih berat daripada epididimitis kronis.
2. Epididimitis kronis
Epididimitis yang telah terjadi selama lebih dari enam minggu, ditandai
oleh peradangan bahkan ketika tidak adanya suatu infeksi. Pengujian
diperlukan untuk membedakan antara epididimitis kronis dengan
berbagai gangguan lain yang dapat menyebabkan nyeri skrotum konstan,
termasuk di dalamnya kanker testis, urat skrotum membesar (varikokel),
dan kista dalam epididimis. Selain itu, saraf-saraf di daerah skrotum yang
terhubung ke perut kadang-kadang menyebabkan sakit mirip hernia.
Kondisi ini dapat berkembang bahkan tanpa adanya penyebab yang telah
dijelaskan sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini diperlukan perawatan
yang mungkin agak lama. Hal ini dikarenakan terdapat hipersensitivitas
struktur tertentu, termasuk saraf dan otot, yang dapat menyebabkan atau
berkontribusi pada epididimitis kronis.

F. Manifestasi klinis
Gejala yang timbul tidak hanya berasal dari infeksi lokal namun juga
berasal dari sumber infeksi yang asli. Gejala yang sering berasal dari sumber
infeksi asli seperti duh urethra dan nyeri atau itching pada urethra (akibat
urethritis), nyeri panggul dan frekuensi miksi yang meningkat, dan rasa
terbakar saat miksi (akibat infeksi pada vesika urinaria yang disebut Cystitis),
demam, nyeri pada daerah perineum, frekuensi miksi yang meningkat,
urgensi, dan rasa perih dan terbakar saat miksi (akibat infeksi pada prostat
yang disebut Prostatitis), demam dan nyeri pada region flank (akibat infeksi
pada ginjal yang disebut Pielonefritis). Gejala lokal pada epididimitis berupa
nyeri pada skrotum. Nyeri mulai timbul pada bagian belakang salah satu testis
namun dengan cepat akan menyebar ke seluruh testis, skrotum dan kadang ke
daerah inguinal disertai peningkatan suhu badan yang tinggi. Biasanya hanya
mengenai salah satu skrotum saja dan tidak disertai dengan mual dan muntah.
Selain itu bisa juga disertai dengan pembengkakan dan kemerahan testicular
dan/atau scrotal dan urethral discharge. Gejala lain yang mungkin ditemukan
antara lain benjolan di testis, pembengkakan testis pada sisi epididimis yang
terkena, pembengkakan selangkangan pada sisi yang terkena, nyeri testis
ketika buang air besar, keluar nanah dari urethra, nyeri ketika berkemih, nyeri
ketika berhubungan seksual atau ejakulasi, darah di dalam semen, dan nyeri
selangkangan.

G. Pemeriksaan diagnostik/penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan darah lengkap dimana ditemukan leukosit meningkat
dengan shift to the left (10.000-30.000/ µl).
b. Sperma analisa dimana terdapat leukosit > 1 juta/ml
c. Kultur semen sebagai konfirmasi untuk mendapatkan kuman
penyebab dari epididimitis.
d. Kultur urine dan pewarnaan gram untuk kuman penyebab infeksi.
e. Analisa urine untuk melihat apakah disertai pyuria atau tidak.
f. Tes penyaringan untuk Chlamydia dan Gonorrhoeae.
g. Kultur darah bila dicurigai telah terjadi infeksi sistemik pada
penderita.
2. Pemeriksaan radiologis
a. Colour Doppler Ultrasonography
1) Pemeriksaan ini memiliki rentang tentang kegunaan yang luas
dimana pemeriksaan ini lebih banyak digunakan untuk
membedakan epididimitis dengan penyebab akut skrotum lainnya.
2) Keefektifan pemeriksaan ini dibatasi oleh nyeri dan ukuran anatomi
klien (seperti ukuran bayi berbeda dengan dewasa).
3) Pemeriksaan menggunakan ultrasonografi dilakukan untuk melihat
aliran darah pada arteri testikularis. Pada epididimitis, aliran darah
pada arteri testikularis cenderung meningkat.
4) Ultrasonografi juga dapat dipakai untuk mngetahui adanya abses
skrotum sebagai komplikasi dari epididimitis.
5) Epididimitis kronis daapt diketahui melalui pembesaran testis dan
epididimis yang disertai penebalan tunika vaginalis dimana hal ini
akan menimbulkan gambaran echo yang heterogen pada
ultrasonografi.
b. Nuclear Scintigraphy
1) Pemeriksaan ini menggunakan technetium-99 tracer dan dilakukan
untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan aliran darah yang
meragukan dengan memakai ultrasonografi.
2) Pada epididimitis akut akan terlihat gambaran peningkatan
penangkapan kontras.
3) Memiliki sensitivitas dan spesifitas 90-100 % dalam menentukan
daerah iskemia akibat infeksi.
4) Pada keadaan skrotum yang hiperemis akan timbul diagnosis
negatif palsu.
5) Keterbatasan dari pemeriksaan ini adalah harga yang mahal dan
sulit dalam melakukan interpretasi.
c. Vesicourethrogram (VCUG), Cystourethroscopy, dan USG abdomen
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui suatu anomali
congenital pada klien anak-anak dengan bakteriuria dan epididimitis.

H. Diagnosis banding
Diagnosis banding epididimitis meliputi :
1. Orchitis
2. Hernia inguinalis inkarserata
3. Torsio testis
4. Seminoma testis
5. Trauma testis
I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan epididimitis meliputi dua hal yaitu penatalaksanaan medis
dan bedah, yaitu :
1. Penatalaksanaan medis
Antibiotik digunakan bila diduga adanya suatu proses infeksi. Antibiotik
yang sering digunakan adalah :
a. Fluoroquinolones, namun penggunaannya telah dibatasi karena terbukti
resisten terhadap kuman Gonorrhoeae.
b. Cefalosporin (Ceftriaxon).
c. Levofloxacin atau Ofloxacin untuk mengatasi infeksi Chlamydia, pada
kasus yang disebabkan oleh organisme enterik (seperti E. coli) dan
digunakan pada klien yang alergi penisilin.
d. Doxycycline, Azithromycin, dan Tetrasiklin digunakan untuk mengatasi
infeksi bakteri non gonokokal lainnya.
e. Pada anak-anak, Fluoroquinolones dan Doxycycline sebaiknya
dihindari. Bakteri yang menyebabkan infeksi saluran kemih sering
menjadi penyebab epididimitis pada anak. Kotrimoksasol atau penisilin
yang cocok (misalnya Sefaleksin) dapat digunakan. Jika ada penyakit
menular seksual, pasangannya juga harus dirawat.
Penanganan epididimitis lainnya berupa penanganan suportif, seperti :
a. Pengurangan aktivitas.
b. Skrotum lebih ditinggikan dengan melakukan tirah baring total selama
dua sampai tiga hari untuk mencegah regangan berlebihan pada
skrotum.
c. Kompres es/kompres dingin pada skrotum untuk mengurangi rasa sakit.
d. Pemberian analgesik dan NSAID.
e. Mencegah penggunaan instumentasi pada urethra.
2. Penatalaksanaan bedah
Penatalaksanaan di bidang bedah meliputi :
a. Scrotal exploration
Tindakan ini digunakan bila telah terjadi komplikasi dari epididimitis
dan orchitis seperti abses, pyocele, maupun terjadinya infark pada testis.
Diagnosis tentang gangguan intrascrotal baru dapat ditegakkan saat
melakukan orchiectomy.
b. Epididymectomy
Tindakan ini dilaporkan telah berhasil mengurangi nyeri yang
disebabkan oleh epididimitis kronis pada 50 % kasus.
c. Epididymotomy
Tindakan ini dilakukan pada klien dengan epididimitis akut supurativa.
J. Komplikasi
Komplikasi dari epididimitis adalah :
1. Abses dan pyocele pada scrotum
2. Infark pada testis
3. Epididimitis kronis dan orchalgia
4. Infertilitas sekunder sebagai akibat dari inflamasi maupun obstruksi dari
duktus epididimis
5. Atrofi testis yang diikuti hipogonadotropik hipogonadism
6. Fistula kutaneus
7. Penyebaran infeksi ke organ lain atau sistem tubuh

K. Pencegahan
Pada saat menjalani pembedahan, seringkali diberikan antibiotik profilaktik
(sebagai tindakan pencegahan) kepada orang-orang yang memiliki risiko
menderita epididimitis. Epididimitis akibat penyakit menular seksual bisa
dicegah dengan cara tidak melakukan hubungan seksual diluar nikah. Apabila
epididimitis yang diderita disebabkan oleh STD (Sexual Transmitted
Disease), pasangan atau partner klien juga perlu mendapatkan perawatan.
Lakukan hubunagn seksual yang aman, seperti seks monogamy (dengan 1
orang saja), dan penggunaan kondom akan membantu untuk melindungi dari
STD yang dapat menyebabkan epididimitis. Apabila klien menderita ISK
kambuhan atau faktor risiko lain yang bisa menyebabkan epididimitis, bisa
disikusikan dengan dokter untuk menentukan cara lain untuk mencegah
kekambuhan dari epididimitis tersebut.
Konsep Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian
1. Identitas
Cantumkan biodata klien secara lengkap yang mencakup umur, jenis
kelamin, suku bangsa.
2. Keluhan utama
Klien datang ke Rumah Sakit Sayang dengan keluhan nyeri dan
pembengkakan pada skrotum dan lipatan paha, menggigil, demam.
3. Riwayat penyakit
Faktor predisposisi timbulnya epididimitis tergantung usia klien dan terdiri
dari infeksi bakteri non spesifik (misalnya E coli, Pseudomonas, Proteus,
Klebsiella), PMS (Penyakit Menular Seksual), virus (misalnya Mumps),
TB (Tuberculosis), penyakit infeksi lain (seperti Brucellosis,
Coccidioidomycosis, Blastomycosis, Cytomegalovirus, Candidiasis, CMV
pada HIV), obstruksi (seperti BPH, malformasi urogenital), vaskulitis
(seperti Henoch-Schönlein purpura pada anak-anak), penggunaan
Amiodarone dosis tinggi, prostatitis, tindakan pembedahan seperti
prostatektomi, kateterisasi dan instrumentasi, dan blood borne infection.
Data fokus :
Data subjektif :
a. Klien mengatakan merasakan nyeri pada skrotum dan lipatan paha
b. Klien mengeluh demam dan menggigil
c. Klien mengeluh nyeri pada selangkangan dan panggul
d. Klien mengatakan setiap berkemih dirasakan seperti ada rasa terbakar
dan perih
e. Klien mengatakan frekuensi berkemihnya meningkat
f. Klien mengeluh nyeri ketika berkemih
g. Klien mengeluh nyeri saat melakukan hubungan seksual
h. Klien mengungkapkan perubahan dalam respon seksual
i. Klien mengungkapkan rendahnya batas kemampuan karena penyakit
j. Klien mengatakan tidak mengetahui tentang penyakitnya
Data objektif :
a. Klien tampak meringis kesakitan
b. Klien tampak gelisah
c. Tampak ada pembengkakan pada skrotum klien
d. Skala nyeri klien 1-10
e. Suhu tubuh klien > 37,5 oC
f. Denyut nadi klien > 100 x/menit
g. Klien tampak menggigil
h. Kulit klien teraba hangat
i. Kulit sekitar skrotum klien tampak kemerahan
j. Klien tampak bingung ketika ditanya tentang penyakitnya
4. Pemeriksaan diagnostik dan fisik
a. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap dimana ditemukan leukosit meningkat
dengan shift to the left (10.000-30.000/ µl).
2) Sperma analisa dimana terdapat leukosit > 1 juta/ml
3) Kultur semen sebagai konfirmasi untuk mendapatkan kuman
penyebab dari epididimitis.
4) Kultur urine dan pewarnaan gram untuk kuman penyebab infeksi.
5) Analisa urine didapatkan hasil urine mengandung nanah dan bakteri.
6) Tes penyaringan untuk Chlamydia dan Gonorrhoeae.
7) Kultur darah bila dicurigai terjadi infeksi sistemik pada penderita.
b. Pemeriksaan radiologis
1) Colour Doppler Ultrasonography
a) Pemeriksaan ini memiliki rentang tentang kegunaan yang luas
dimana pemeriksaan ini lebih banyak digunakan untuk
membedakan epididimitis dengan penyebab akut skrotum lainnya.
b) Keefektifan pemeriksaan ini dibatasi oleh nyeri dan ukuran
anatomi klien (seperti ukuran bayi berbeda dengan dewasa).
c) Pemeriksaan menggunakan ultrasonografi dilakukan untuk
melihat aliran darah pada arteri testikularis. Pada epididimitis,
aliran darah pada arteri testikularis cenderung meningkat.
d) Ultrasonografi juga dapat dipakai untuk mengetahui adanya abses
skrotum sebagai komplikasi dari epididimitis.
e) Epididimitis kronis dapat diketahui melalui pembesaran testis dan
epididimis yang disertai penebalan tunika vaginalis dimana hal ini
akan menimbulkan gambaran echo yang heterogen pada
ultrasonografi.
2) Nuclear Scintigraphy
a) Pemeriksaan ini menggunakan technetium-99 tracer dan
dilakukan untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan aliran darah
yang meragukan dengan memakai ultrasonografi.
b) Pada epididimitis akut akan terlihat gambaran peningkatan
penangkapan kontras.
c) Memiliki sensitivitas dan spesifitas 90-100 % dalam menentukan
daerah iskemia akibat infeksi.
d) Pada keadaan skrotum yang hiperemis akan timbul diagnosis
negative palsu.
e) Keterbatasan dari pemeriksaan ini adalah harga yang mahal dan
sulit dalam melakukan interpretasi.
3) Vesicourethtrogram (VCUG), Cystourethroscopy, dan USG
abdomen
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui suatu anomali
congenital pada klien anak-anak dengan bakteriuria dan epididimitis.
c. Pemeriksaan fisik
1) Pada inspeksi ditemukan skrotum menjadi merah dan bengkak. Ini
mungkin akut (tiba-tiba menyerang) namun jarang menjadi kronis,
dan terdapat pembesaran skrotum dan isinya, dan terdapat nanah
pada urine.
2) Pada palpasi ditemukan testis pada posisi normal vertical, ukuran
kedua testis sama besar, dan tidak terdapat peninggian pada salah
satu testis. Setelah beberapa hari, epididimis dan testis tidak dapat
teraba terpisah karena bengkak yang juga meliputi testis. Akan
teraba pembesaran atau penebalan dari epididimis secara
keseluruhan, di kauda atau di kaput yang mengindikasikan kuman
penyebab infeksi. Ditemukan juga rasa nyeri yang terlokalisir di
epidididimis dengan suhu yang sedikit meningkat karena aliran
darah meningkat di daerah tersebut. Kulit skrotum teraba panas,
kenyal, merah, dan bengkak karena adanya edema dan infiltrate.
Funikulus spermatikus juga turut meradang menjadi bengkak dan
nyeri.
3) Hasil pemeriksaan refleks kremaster normal.
4) Phren sign bernilai positif dimana nyeri dapat berkurang bila
skrotum diangkat ke atas karena pengangkatan ini akan mengurangi
regangan pada testis. Namun pemeriksaan ini kurang spesifik.
5) Pembesaran kelenjar getah bening di region inguinalis.
6) Pada pemeriksaan colok dubur mungkin didapatkan tanda prostatitis
kronis yaitu adanya pengeluaran secret atau nanah setelah dilakukan
masase prostat.
7) Biasanya didapatkan eritema dan selulitis pada skrotum yang ringan.
8) Pada anak-anak, epididimitis dapat disertai dengan anomaly
congenital pada traktus urogenitalis seperti ureter ektopik, vas
deferens ektopik, dan lain-lain.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermia berhubungan dengan proses inflamasi, penyakit
2. Nyeri akut berhubungan agen injuri, kerusakan jaringan
3. PK Infeksi berhubungan dengan proses inflamasi, prosedur tindakan
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi.

C. Intervensi
1. Hipertermia berhubungan dengan proses inflamasi, penyakit
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama …x24 jam diharapkan suhu
tubuh klien kembali normal dengan kriteria hasil :
a. Suhu tubuh klien dalam rentang normal (36,5 oC-37,5 oC)
b. Nadi dan RR dalam rentang normal
c. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman
Intervensi :
a. Monitor suhu tubuh, tekanan darah, nadi, dan respirasi secara berkala
Rasional : Suhu diatas 37,5oC menunjukkan proses penyakit infeksius
akut. Menggigil sering mendahului puncak suhu.
b. Berikan kompres hangat
Rasional : Membuat vasodilatasi pembuluh darah sehingga dapat
membantu mengurangi demam
c. Anjurkan klien untuk mempertahankan asupan cairan adekuat
Rasional : Untuk mencegah dehidrasi akibat penguapan cairan karena
suhu tubuh yang tinggi
d. Berikan antipiretik dan antibiotic sesuai indikasi
Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya
pada hipotalamus.
2. Nyeri akut berhubungan agen injuri, kerusakan jaringan
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama …x24 jam diharapkan nyeri
dapat terkontrol dengan kriteria hasil :
a. Mampu mengontrol nyeri
b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
c. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
d. Tanda vital dalam rentang normal
Intervensi :
a. Kaji karakteristik nyeri meliputi lokasi, waktu, frekuensi, kualitas,
faktor pencetus, dan intensitas nyeri
Rasional : Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat
menentukan jenis tindakannya.
b. Kaji faktor-faktor yang dapat memperburuk nyeri klien
Rasional : Dengan mengetahui faktor-faktor yang dapat memperburuk
nyeri klien, dapat mencegah terjadinya faktor pencetus dan menentukan
intervensi apabila nyeri terjadi.
c. Eliminasi faktor-faktor pencetus nyeri
Rasional : Dengan mengeliminasi faktor-faktor pencetus nyeri, dapat
mengurangi risiko munculnya nyeri (mengurangi awitan terjadinya
nyeri)
d. Ajarkan teknik non farmakologi (misalnya teknik relaksasi, guided
imagery, terapi music, dan distraksi) yang dapat digunakan saat nyeri
datang.
Rasional : Dengan teknik manajemen nyeri, klien bisa mengalihkan
nyeri sehingga rasa nyeri yang dirasakan berkurang
e. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Pemberian analgetik dapat memblok reseptor nyeri
3. PK Infeksi berhubungan dengan proses inflamasi, prosedur tindakan
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama …x24 jam diharapkan tidak
ada tanda-tanda infeksi dengan kriteria hasil :
a. Tidak terjadi komplikasi infeksi
Intervensi :
a. Pantau tanda dan gejala infeksi lanjut
Rasional : Agar dapat memberikan intervensi yang tepat untuk klien
b. Pantau tanda-tanda vital klien secara berkala
Rasional : Takikardia, takipnea, demam, nadi cepat dan lemah
menunjukkan terjadi sindroma peradangan sistemik.
c. Pantau tanda-tanda sepsis
Rasional : Sepsis menandakan radang sistemik dengan gejala demam,
menggigil, nadi lemah dan cepat, hipotensi, lemah serta gangguan
mental.
d. Kolaborasi pemberian antibiotic
Rasional : Agen antibiotik membantu mengeliminasi bakteri sebagai
penyebab penyakit klien
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar
informasi.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama …x24 jam diharapkan klien
memiliki pengetahuan adekuat tentang epididimitis dengan kriteria hasil :
a. Klien dapat memahami dan menjelaskan kembali penyakit epididimitis,
tanda dan gejala epididimitis
b. Klien dapat menyebutkan penatalaksanaan termasuk pengobatan
epididimitis
Intervensi :
a. Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
Rasional : untuk mengetahui sejauh mana pasien atau keluarga
memahami tentang penyakit yang dialaminya
b. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan
dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
Rasional : untuk memberikan pehaman kepada pasien atau keluarga
tentang bagaimana penyakit itu muncul.
c. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan
cara yang tepat
Rasional : agar pasien atau keluarga memahami kemungkinan-
kemungkinan yang dapat muncul selama proses sakit.
d. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
Rasional : untuk meningkatkan motivasi dan mengurangi kecemasan
klien terhadap penyakit yang dialami.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2004. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Francis X. Schneck, Mark F. Bellinger. 2002. Abnormalities of the testis and


scrotum and their surgical management. Dalam: Walsh : Campbell’s
Urology 8th ed. h267-77

John N. Krieger. 2003. Epididimitis. Dalam: Smith’s General Urology 6th ed.
h189-95

NANDA. 2012-2014, Nursing Diagnosis: Definitions and Classification,


Philadelphia, USA

Smeltzer SC. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Brunner and
Suddarth Edisi 8. Jakarta : EGC

Wilkinson, J.M., & Ahern N.R., 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan
Diagnosa NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC. Edisi
Kesembilan. Jakarta : EGC