Anda di halaman 1dari 14

Nama : Hari Susanto

Kelas : 9-2

No.Absen : 12

Tugas I : Resume Chapter 7 Asset Buku Godfrey dan Perbedaan Konsep dengan
Kerangka Konseptual Terbaru

A. Definisi Aset dan Aplikasinya


 Definisi erangka IASB (AASB) untuk Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
(paragraf 49) mendefinisikan aset sebagai berikut: “aset adalah sumber daya yang
dikendalikan oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana
manfaat ekonomi masa depan diharapkan mengalir ke entitas.”

Kerangka Konseptual Maret 2018 terkait “Konsep Definisi Aset”


Aset adalah sumber daya ekonomi masa kini yang dikendalikan oleh entitas
sebagai hasil dari kejadian atau transaksi masa lalu.

 Tiga karakteristik penting dalam definisi asset:


o manfaat ekonomi masa depan
o kontrol oleh suatu entitas
o peristiwa masa lalu.
Hal yang menjadi perdebatan tambahan 'aturan pengakuan' ketika
mengidentifikasi aset.

Kerangka Konseptual Maret 2018 terkait “Konsep Karakteristik Utama”


1. Hak
2. Potensi menghasilkan manfaat ekonomi
3. Penguasaan oleh entitas

1. Konsep terkait manfaat ekonomi masa depan

Kerangka lASB mengartikan poin-poin penting dari aset sebagai manfaat ekonomi
masa depan. Di antaranya sebagai berikut :
a) Manfaat dari entitas dengan orientasi laba dihubungkan dengan aktivitas yang
menghasilkan keuntungan.
b) Aset memiliki potensi dalam memberikan kontribusi baik secara langsung atau
tidak langsung pada arus kas atau setara kas pada entitas. Definisi aset disini
lebih kepada bagaimana cara untuk mencari keuntungan, sehingga aset harus
memiliki manfaat ekonomi dalam membantu entitas mencapai tujuannya
seperti mengendalikan kas keluar.
c) Gagasan manfaat ekonomi masa depan berkaitan dengan sumber daya
ekonomi. Dua karakteristik sumber daya ekonomi menurut God Frey dan
kawan-kawan terdiri atas:
- Kelangkaan
- utilitas.
Dengan demikian, jika ada kekurangan pasokan komoditas tertentu, dan jika
komoditas itu memiliki utilitas yang diinginkan atau dituntut oleh orang, maka
itu dikatakan memiliki nilai ekonomi. Oleh karena itu, semua sumber daya
ekonomi memiliki nilai.
d) Sprague melihat aset sebagai penyimpanan manfaat yang akan diterima.
Paton dan Littleton menyatakan: Layanan dalam hal ini manfaat adalah elemen
penting di balik akun, yaitu, layanan-potensi, yang jika ditukar, tetap membawa
jasa. Selain itu Vetter juga mendifiniskan aset sebagai perwujudan kepuasan
masa depan dalam bentuk potensi layanan yang dapat diubah, ditukar, atau
disimpan terhadap peristiwa masa depan. Dengan demikian aset adalah
sesuatu yang ada sekarang dan memiliki kemampuan memberikan jasa atau
manfaat saat ini atau di masa depan atau 'Hal' yang ada disebut sebagai
properti, atau hak milik, atau sumber daya ekonomi, atau 'perwujudan' atau
'penyimpanan layanan masa depan.
Kerangka Konseptual Maret 2018 “Konsep terkait manfaat ekonomi masa
depan”
 Sumber daya ekonomi adalah hak yang memiliki potensi untuk menghasilkan
manfaat ekonomi. Hak tersebut terdiri dari beberapa jenis, seperti:
o Hak yang terkait dengan kewajiban oleh pihak lain. Contoh: hak untuk
menerima kas, hak untuk menerima barang dan jasa, hak untuk menukar
sumber daya ekonomi dengan pihak lain dalam kondisi yang
menguntungkan (forward contract), dsb.
o Hak yang tidak terkait dengan kewajiban oleh pihak lain. Contoh: hak
menggunakan objek fisik, seperti property, bangunan, peralatan,
 Sumber daya ekonomi adalah hak yang memiliki potensi untuk menghasilkan
manfaat ekonomi. Hak tersebut terdiri dari beberapa jenis, seperti:
o Hak yang terkait dengan kewajiban oleh pihak lain. Contoh: hak untuk
menerima kas, hak untuk menerima barang dan jasa, hak untuk menukar
sumber daya ekonomi dengan pihak lain dalam kondisi yang
menguntungkan (forward contract), dsb.
o Hak yang tidak terkait dengan kewajiban oleh pihak lain. Contoh: hak
menggunakan objek fisik, seperti property, bangunan, peralatan,
persediaan, termasuk property intelektual.
 Hak dalam sumber daya ekonomi didapatkan dari kontrak, legislasi, dan
semacamnya. Contohnya, dari leasing, kepemilikan instrument utang,
kepemilikan paten, dsb.
 Untuk dikategorikan sebagai aset, hak pada entitas harus memiliki potensi
untuk menghasilkan manfaat ekonomi dan dikendalikan oleh entitas.
 Suatu hak dapat disebut sumber daya ekonomi, dan dikelompokkan sebagai
aset, meskipun hanya memiliki kemungkinan kecil untuk menghasilkan
manfaat ekonomi. Manfaat ekonomi bisa berbentuk manfaat langsung
maupun tidak langsung.
 Manfaat ekonomi misalnya:
o Menerima cash flow kontraktual atau sumber daya ekonomi lainnya
o Pertukaran sumber daya ekonomi dengan pihak lain dalam kondisi yang
menguntungkan
o Mengahsilkan pemasukan kas atau menurunkan kas yang keluar
o Menerima kas atau sumber daya ekonomi lainnya dengan menjual sumber
daya ekonomi tertentu
 Walaupun SDE mendapatkan nilainya dari potensi yang ada untuk
mendapatkan manfaat ekonomi di masa depan, SDE adalah hak yang ada
saat ini, bukan manfaat ekonomi di masa mendatang.
2. Dikendalikan Oleh Badan Usaha
 Manfaat ekonomi harus dikendalikan oleh entitas yang bersangkutan untuk
memenuhi syarat, sebagai aset. Ijiri mengatakan: Akuntansi tidak menaruh perhatian
pada sumber daya ekonomi secara umum, tetapi hanya yang berada di bawah kendali
yang diberikan oleh entitas. Sprague berkomentar kepemilikan sesuatu hanyalah hak
untuk menggunakan atau mengontrol aset tersebut.
 Pengendalian pemilik dalam memiliki properti tidaklah mutlak. Pernyataan Paton
menunjukkan bahwa ruang lingkup kepentingan pribadi selalu tunduk pada hak-hak
umum negara. Sehingga ada asset yang boleh dimiliki dan ada yang tidak boleh
dimiliki. Jadi, apabila kita dapat mengendalikan aset tersebut maka dapat kita katakan
bahwa kita memperoleh manfaat dari aset tersebut.
 Kepemilikan biasanya sesuai dengan pengendalian, tetapi ini bukan merupakan
karakteristik aset yang penting. Sebagai contoh adanya agen yang mempunyai
kewajiban menjual barang milik prinsipal. Barang tersebut bukan aset dari agen tetapi
aset prinsipal. Tapi karena agen yang mengendalikan, maka itu adalah kepemilikan
agen.
 Secara teknis god frey mengatakan “the real asset is the right to use the asset, not
the assets itself” aset riil adalah hak untuk menggunakan aset, bukan aset itu sendiri.
3. Peristiwa Masa Lalu
Aset tidak termasuk aset yang masih direncanakan. Misalnya, mesin sudah diperoleh
oleh perusahaan adalah aset, tapi mesin yang akan diperoleh sesuai dengan
anggaran bukanlah aset sampai telah aset itu diperoleh, karena kejadian transaksi
pembelian belum terjadi.

Kerangka Konseptual Maret 2018:


Tidak terdapat perubahan essential.

4. Dapat Dipertukarkan
Salah satu kriteria Aset adalah dapat dipertukarkan. Seperti yang dikatakan oleh
godfrey bahwa nilai jualnya adalah terpisah dari nilai dari entitas. Selain itu, sebuah
barang yang kurang dapat dipertukarkan dari badan usaha pasti nilai ekonomiknya
juga rendah karena pembelian atau penjualannya sangat sulit dilakukan dan tidak ada
harga pasarnya. Aset, khususnya yang sangat terpengaruh oleh kondisi ini contohnya
adalah goodwill. Namun ada argument yang menentang kalau nilai pertukaran atau
nilai jual-beli yang diperoleh hanyalah salah satu cara untuk memperoleh manfaat dari
asset. Misalnya, persediaan adalah salah satu jenis aset yang manfaat utamanya
adalah melalui pertukaran. Tapi manfaat aset seperti pabrik, mesin dan gedung
perkantoran yang diperoleh melalui penggunaan asset tersebut.
Moonitz, pertukaran tidak membuat nilai-nilai ekonomi. Pertukaran hanyalah
karateristik yang menunjukkan keberadaan asset.

Kerangka Konseptual Maret 2018:


Tidak secara khusus mengelaborasi past event sebagai bagian tersendiri untuk
aset dan hanya menekankan past event pada liabilitas. Akan tetapi, definisi tidak
menghilangkan terminology past event.
B. Pengakuan Aset

Mengakui aset dalam neraca juga melibatkan kondisi yang bisa disebut 'aturan
pengakuan'.
Dua contoh aturan pengakuan konvensional adalah:
a. Sebuah piutang akun dicatat sebagai aset ketika penjualan kredit terjadi
b. Peralatan dicatat sebagai aset ketika dibeli.
Aturan pengakuan adalah aturan spesifik untuk mengidentifikasikan aset tertentu,
yang terdiri dari dua tipe, conventions dan authoritative pronouncements. Recognition
criterion adalah panduan umum yang menyediakan bantuan dalam formulasi recognition
rules, bukan menjadi ketentuan. Recognition criterion terdapat dalam framework sebagai
ekstensi dari karakteristik kualitatif. Terdiri dari: manfaat ekonomi masa depan sangat
mungkin terjadi, dan dapat diukur dengan andal.
Kriteria pengakuan aset di masa lalu yang kini tidak digunakan lagi:
 Use of the conservatism principle – anticipate losses, but not gains
 Reliance on the law – control, rather than legal ownership, is used to determine the
existence of an asset
 Determination of economic substance of the transaction event – if the event is
economically significant, it is important enough to record and to report

Kerangka Konseptual Maret 2018:


 Pemilihan unit of account diperlukan untuk menentukan kriteria
pengakuan dan konsep pengukuran yang akan digunakan pada aset
tertentu. Bisa saja menggunakan unit of account yang berbeda antara
pengakuan dan pengukuran. Missal, kontrak bisa diakui secara individual,
namun diukur sebagai bagian dari keseluruhan portofolio kontrak.
o Unit of account misalnya:
hak individual,hak keseluruhan dari satu sumber (missal kontrak).sub
grup dari hak yang berbeda disbanding sub grup yang lain, kelompok
hk yng timbul dari portfolio item serupa, kelompok hak yang timbul dari
portfolio item tidak serupa (missal portofolio aset dan kewajiban yang
akan di dispose dalam 1 transaksi), risiko dalam portofolio item.
 Aset diakui jika memenuhi kriteria definisi aset, dan memberikan informasi
yang relevan serta faithful representation.
 Tidak seluruh item yang memenuhi kriteria tersebut diakui, jika tidak
memberikan tambahan informasi yang bermanfaat.
 Aset juga diakui hanya jika manfaat dari informasi yang disediakan kepada
pengguna laporan keuangan dari pengakuan tersebut melebihi biaya yang
dikeluarkan untuk pengakuan dan penggunaan informasi tersebut.
 Pertimbangan dibutuhkan saat memutuskan untuk mengakui aset atau
tidak, sehingga recognition requirements bisa berbeda dalam standar satu
dengan lainnya.
 Namun, meskipun tidak diakui, entitas tetap perlu menyediakan informasi
mengenai aset di dalam catatan atas laporan keuangan.

Relevance
 Pengakuan aset harus memberikan informasi yang relevan kepada
pengguna laporan keuangan.
 Jika tidak relevan, tidak perlu diakui di dalam laporan, namun perlu
dimasukkan ke dalam catatan atas laporan keuangan.

Derecognition
 Derecognition adalah penghapusan seluruh atau sebagian aset yang
diakui dari laporan keuangan entitas. Derecognition umumnya muncul
ketika item tidak lagi memenuhi definisi dari aset. Misalnya: ketika entitas
kehilangan kendali atas sebagian atau selurh aset tersebut.
C. PENGUKURAN ASET

Kerangka IASB telah menguraikan karakteristik kualitatif informasi keuangan dan


memberikan bimbingan tentang atribut isi dari laporan keuangan. saat definisi dan kriteria
pengakuan diketahui, akuntan harus memutuskan bagaimana mengukur aset. Saat sudah
terukur, sebuah aset harus dicatat dalam neraca. Namun, Pendekatan pengukuran yang
harus digunakan untuk mencapai karakteristik kualitatif yang diingnkan belum dapat
ditentukan.
1. Aset Berwujud
 Pendekatan tradisional Menggunakan historical cost, yang merefleksikan pendekatan
konservatif dalam pengkuran aset.
 IASB memperbolehkan subsequent remesurement (current value) namun tidak
mensyaratkan. dengan menemukan beberapa pendekatan:
o fair value: exit value or value in use
 Mengapa penyaji laporan keuangan menggunakan model pengukuran yang berbeda
(revaluasi)?
o Argumen bahwa revalued asset menyediakan informasi yang relevan bagi
pengguna laporan keuangan;
o Revaluasi dapat menyediakan informasi terkini tentang nilai dari sebuah aset
o Manajer dapat merevaluasi aset ketika terjadi kenaikan harga, untuk memastikan
aset tidak understated.
o Current value dalam neraca mungkin relevan untuk pengambilan keputusan, dan
diminati untuk perhitungan rasio keuangan
 Argumen dari penggunaan current measurement model
o Unreliable – fair value is estimated rather than being observed
o Subjective – it involves valuation inputs which are obtained by management (could
be self-interest)
 Studi tentang pengaruh revaluasi terhadap pengambilan keputusan:
o Barth and Clich: asset revaluation is value relevant – investors make use of
managers’ information about asset value
o Horton: fair value measures of assets are potentially providing useful information
for financial decision making

2. Aset tak Berwujud


Pengukuran aset tak berwujud dalam akuntansi secara umum bersifat konservatif,
berdasarkan biaya perolehan.
 Secara umum diukur pada biaya akuisisi (dikurangi akumulasi amortisasi dan
impairment)
 Model revaluasi untuk aset tak berwujud jarang, namun diperbolehkan dengan nilai
mengacu pada pasar aktif. Karena itu lebih sering menggunakan pendekatan biaya.
 Internally generated intangible assets tidak dapat diakui. Dapat muncul pada neraca
melalui kapitalisasi biaya pada tahap pengembangan.

3. Instrumen Keuangan
 FASB/IASB: derivative diukur pada nilai wajar dari pada biaya historis.
 IASB: pengukuran aset keuangan dengan nilai pasar memberikan informasi yang
relevan pada pengguna laporan keaungan. Keuntungan dan kerugian dari instrument
keuangan harus diakui saat mereka muncul untuk melaporkan risiko yang terkait,
untuk membuat laporan keuangan yang lebih transparan dan untuk menghindari
kompleksitas perlakuan akuntansi yang ada (missal lindung nilai).
 Pendapat yang menentang IASB: pengukuran nilai wajar tidak akan meningkatkan
relevansi, keandalan, understandability, dan keterbandingan dalam pelaporan.
 IAS 39:
o Pengunaan beberapa metode pengukuran
o Pada subsequent recognition, entitas boleh memilih untuk mengukur dengan nilai
wajar, dengan perubahan fair value menghasilkan pendapatan.
o Entitas boleh mengklasifikasikan aset ke dalam kategori lain, sesuai persyaratan
IAS 39.

Menurut Kerangka Konseptual IFRS Maret 2018

 Basis pengukuran akan menghasilkan perbedaan pada keguanan informasi


keuangan dan biaya yang timbul untuk pengakuannya di dalam laporan
keuangan.
 Basis pengukuran terdiri dari historical cost dan current cost.
 Historical cost measurement diaplikasikan pada aset keuangan dan diukur pada
amortized cost, sehingga merefleksikan estimasi future cash flow, yang
didiskontokan pada rate yang ditentukan saat pengakuan awal.
 Kerangka konseptal membebaskan pemilihan basis pengukuran, dengan
mempertimbangkan sifat dan karakteristik informasi yang akan dihasilkan oleh
basis pengukuran tersebut dalam laporan keuangan.
 Pengukuran aset dengan historical cost digunakan jika entitas ingin mengetahui
informasi yang relevan mengenai aset dan biaya transaksi untuk memperoleh
aset tersebut.
 Faktor yang perlu dipertimbangkan saat memilih basis pengukuran:
o Karakteristik informasi yang ingin disajikan kepada pengguna laporan
keuangan
o Faktor dipertimbangkan tergantung pada fakta dan kondisi serta keadaan
yang ada.
o Memenuhi karakter relevansi dan faithfull representation
o Relevansi dipengaruhi oleh: karakteristik aset dan bagaimana kontribusi aset
pada cash flow masa depan
o Jika nilai aset sensitive pada faktor pasar dan risiko, current value akan
memberikan informasi yang lebih relevan kepada pengguna laporan
keuangan.
o Jika aset dapat menghasilkan cash flow secara langsung, maka aset tersebut
lebih tepat dinilai berdasarkan current value nya.
D. TANTANGAN BAGI PENYUSUN STANDAR
1. Model pengukuran mana yang digunakan
 Dewan mengevaluasi dan memeringkat metode pengukuran yang paling memenuhi
karakteristik kualitatif laporan keuangan
 Fair value is the frontrunner
 IASB dan FASB mendukung penyebarluasan penggunaan pengukuran nilai wajar.
 Bantahan oleh Cairns: meluasnya penggunaan pengukuran nilai wajar berdasarkan
IFRS lebih menrupakan persepsi daripada kenyataan.
2. Bagaimana menghitug pengukuran nilai wajar
 Teknik valuasi yang digunakan untuk mengestimasi fair value:
o The market approach – penggunaan harga yang dapat diamati dan data transaksi
actual untuk aset dan liabilitas yang identic, mirip, atau dapat dibandingkan.
o Income approach – konversi junlah yang akan datang – arus kas atau pendapatan
– ke jumlah sekarang yang didiskontokan
o Cost approach – jumlah yang saat ini diperlukan untuk mengganti kapasitas
layanan (current replacement cost)
Pendekatan manapun yang digunakan, valuasi harus menekankan pada input
pasar, yaitu asumsi dan data yang akan digunakan oleh partisipan dalam
mengestimasi fair value.
 Fair value hierarchy oleh FASB, nominasi tiga kategori untuk input yang digunakan
untuk mengestimasi nilai wajar:
o Level 1 – menggunakan harga pasar untuk aset dan kewajiban yang sama di pasar
referensi aktif tiap kali informasi harga tersedia, tanpa penyesuaian harga.
o Level 2 – jika level 1 tidak tersedia, nilai wajar diperkirakan berdasarkan harga
pasar aset sejenis atau kewajiban sejenis di pasar aktif, disesuaikan dengan
perbedaan.
o Level 3 – jika level 2 tidak tersedua, atau jika perbedaan antara aset dan kewajiban
yang sama tidak objektif ditemukan, nilai wajar diperkirakan dengan menggunakan
beberapa teknik penilaian yang konsisten dengan pendekatan pasar, pendapatan,
dan biaya.

E. ISU UNTUK AUDITOR


Proses audit untuk nilai wajar menciptakan kesulitan bagi para auditor, karena
membutuhkan aplikasi dari model valuasi, dan penggunaan ahli valuasi. Untuk itu, auditor
perlu:
 Memahami proses dan pengendalian klien dalam menentukan fair value
 Membuat judgement tentang apakah metode pengukuran dan asumsi yang digunakan
telah tepat dan dapat menjadi basis pengukuran fair value.
 Melihat potensi bias dan eror manajemen (alasan insentif)
 Terdapat potensi kegagalan perusahaan yang dapat mengarah pada tindakan hukum
terhadap auditor yang gagal untuk melakukan pendekatan audit tentang fair value
secara tepat.
Tugas II. Bagaimanakah perlakuan akuntansi bagi bitcoin dan sejenisnya berdasarkan
pemahaman anda atas konsep-konsep aset dalam kerangka konseptual? - 40%

a. Sekilas terkait cryptocurrency

Bitcoin adalah mata uang virtual yang digunakan untuk pembayaran. Bitcoin disebut juga
mata uang kripto yang merupakan alat pembayaran digital. Seperti dikutip dari laman
Tempo.co pada 20 Februari 2014, Chief Executive Officer Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan
menjelaskan pada dasarnya Bitcoin merupakan e-money seperti halnya perfect money dan
paypal. Namun, kata dia, kedua mata uang tersebut beredar dengan server yang
mengaturnya. Sedangkan dalam peredaran Bitcoin, seluruh komputer pengguna merupakan
server Bitcoin. "Dalam peredaran Bitcoin, tidak ada server yang mengatur,". Beberapa fitur
bitcoin yaitu:

1. Transfer instant secara peer to peer.

Peer-to-peer sendiri artinya Bitcoin berjalan tanpa memiliki server pusat. Server
penyimpanannya bersifat desentralisasi dan terdistribusi—dibagi ke berbagai server
yang dijalankan oleh setiap pengguna yang terhubung ke dalam jaringan.

2. Transfer ke mana saja

Tidak seperti emas, Bitcoin bisa dikirimkan kemana saja dalam hitungan detik, kapanpun
dan darimanapun yang Anda mau. Pengiriman dengan Bitcoin bisa terjadi hanya dengan
modal sebuah smartphone dan koneksi internet.

3. Biaya transfer sangat kecil.

Biaya pengiriman pun bisa dihilangkan sampai gratis, namun untuk mempercepat
transaksi, biasanya dompet Bitcoin Anda akan memotong biaya sekitar 500 – 3,000
rupiah, tidak peduli berapa jumlah bitcoin yang dikirimkan.

4. Transaksi bersifat irreversible, artinya sekali ditransfer tidak bisa dibatalkan.

Bitcoin diberikan ke tangan orang lain, transaksi tidak dapat dibatalkan kecuali orang itu
bersedia mengirimkan Bitcoinnya kembali;

5. Transaksi bitcoin bersifat pseudonymous.

Semua transaksi yang pernah dilakukan sekaligus saldo Bitcoin yang dimiliki seseorang
bisa kita lihat, namun kita tidak tahu siapa pemilik alamat Bitcoin tersebut bila si pemilik
tidak memberitahukannya. Setiap pengguna Bitcoin sebenarnya bisa memilih apakah
namanya ingin dimunculkan atau tidak, namun meskipun si pengguna ingin
merahasiakan identitasnya, semua transaksinya tetap tercatat dan dapat dipantau oleh
publik.

6. Bitcoin tidak dikontrol oleh lembaga atau pemerintah apapun.

Bitcoin yang menggunakan database Blockchain tidak dikontrol oleh suatu pihak,
melainkan sangat terbuka untuk umum sehingga mustahil bagi seseorang untuk
memalsukan transaksi di Blockchain. Seluruh transaksi tercatat secara live, transparan,
dan tersebar ke jutaan server. Mereka yang ingin mengubah atau memalsukan data
transaksi Bitcoin, harus meretas jutaan server tersebut di saat yang bersamaan.
7. Jumlahnya terbatas

Suplai Bitcoin hanya akan ada 21 juta Bitcoin di seluruh dunia. Sistem penciptaan
Bitcoin yang terus berkurang setiap 4 tahun sekali ini menyerupai sistem ekonomi
berdasarkan deflasi dan dengan makin terbatasnya supply bitcoin, harga bitcoin
cenderung naik.

Eforia Bitcoin banyak dipengaruhi oleh spekulasi terhadap teknologi blockchainyang


diharapkan akan semakin berpengaruh di masa depan. Artikel artikel mengenai
teknologi blockchain di jagad maya biasanya mengagung-agungkan keuntungan dan
manfaatnya. Secara sederhana teknologi blockchain adalah seperti excel spreadsheet di
internet yang mana siapa saja dapat menambahkan baris baru di dalam file tersebut. Setiap
baris mencerminkan transaksi antar pihak – bisa transaksi tunai kas atau transfer aset lainnya.
Dan bila suatu baris telah tercipta maka transaksi tersebut tidak bisa diubah atau dihilangkan.
Sebelum transaksi tersebut “tertulis”, komputer para pengguna blockchain diseluruh dunia
berkomunikasi dan memverifikasi para pihak yang akan bertransaksi. Bila ada pihak yang
berusaha mengakali system maka transaksi akan ditolak. Teknologi blockchain dianggap
membuat transaksi lebih transparan, aman, dan menghilangkan fungsi perantara (seperti
bank misalnya).

Banyak perusahaan yang sedang mempertimbangkan teknologi blockchain ini untuk


memperkuat operasional mereka seperti proses penagihan ke pelanggan. Seiring dengan
teknologi blockchain yang meningkat, banyak orang berspekulasi bahwa
harga cryptocurrency seperti Bitcoin juga akan meningkat karena Bitcoin menggunakan
teknologi blockchain. Meningkatnya harga Bitcoin yang tidak wajar (bila dibandingkan dengan
mata uang normal suatu negara), ditengarai bukan karena semakin banyak yang
menggunakannya sebagai alat tukar, namun banyak yang membeli Bitcoin untuk tujuan
investasi dengan harapan nilainya akan berlipat ganda di masa depan..

Adapun bitcoin dapat digunakan untuk sebagai:

1. alat tukar

Bitcoin dapat digunakan sebagai alat tukar digital dalam transaksi online. Namun,
transaksi menggunakan bitcoin dalam transaksi online juga masih sangat kecil. Hal ini
disebabkan oleh minimnya pedagang online yang mau menerima pembayaran dengan
Bitcoin. Misalnya, laporan yang dibuat JP Morgan pada pertengahan 2017 menyebutkan
bahwa dari 500 penjual di internet hanya tiga saja yang menerima pembayaran menggunakan
Bitcoin. Padahal tahun 2016 ada lima penjual yang menerima pembayaran Bitcoin.

2. instrumen investasi

Nilai mata uang suatu negara biasanya turun apabila perekonomian Negara tersebut
memburuk, namun naik turunnya harga Bitcoin murni disebabkan karena hukum permintaan
dan penawaran. Apabila Bitcoin jarang digunakan sebagai alat tukar dalam transaksi
perdagangan, maka tidak mungkin permintaannya menjadi sangat kuat sehingga harganya
melambung fantastis. Maka dapat dipastikan bahwa permintaan lebih didorong oleh motif
spekulasi atau investasi. Para investor harus berhati-hati jika ingin berinvestasi dalam bitcoin
karena tidak dijamin nilainya oleh bank sentral manapun. Hal ini mirip dengan demam
tanaman hias Anthurium atau Batu Akik belum lama ini, di mana harganya bisa sangat
melambung tinggi, namun bisa saja kemudian turun mendekati nol. Bedanya para investor
batu akik, bila harganya turun sampai nol setidaknya masih bisa mengelus ngelus batu akik
mereka, nah kalau investor bitcoin tidak ada sesuatu yang dimiliki kecuali digital trail saja.

b. Klasifikasi—kriteria dari kerangka konseptual

Berdasarkan IFRS Conceptual Framework for Financial Reporting (March 2018):

“An asset is a present economic resource controlled by the entity as a result of past
events.”

Berdasarkan pengertian di atas, mari kita teliti satu persatu karaktersitik pengertian aset
ke dalam hakikat bitcoin.

1. Present economic resource. Bitcoin merupakan present economic resource karena


fungsinya seperti uang dimana uang pada hakikatnya adalah economic resource.
Economic resource menurut Kerangka Konseptual terbaru memiliki potensi untuk
menghasilkan manfaat ekonomi, begitu juga dengan bitcoin berpotensi menghasilkan
manfaat ekonomi.
2. Controlled by the entity. Meskipun bitcoin dimiliki tanpa akta, namun tetap saja
penggunaannya dikendalikan oleh pemilik bitcoin sehingga bitcoin memenuhi karakteristik
kedua ini.
3. Past events. Bitcoin diperoleh akibat adanya peristiwa transfer kepemilikan di masa lalu.
Bitcoin dapat diperoleh dengan cara membeli atau mining (menambang). Cara mining ini
adalah cara untuk mendapatkan bitcoin secara gratis. Namun, untuk mendapatkannya
gratis tidaklah mudah. Untuk itu bitcoin juga memenuhi karakteristik ketiga ini.

Mengingat bitcoin memenuhi semua kriteria pengertian di atas, maka BITCOIN ADALAH
ASET. Bitcoin adalah mata uang virtual yang tidak berwujud maka dia diklasifikasikan sebagai
Aset Tidak Berwujud.

c. Pengakuan BitCoin berdasarkan kerangka konseptual

Pada dasarnya Cryptocurrency memenuhi definisi aset tak berwujud karena tidak memiliki
bentuk fisik, bersifat non keuangan dan memenuhi definisi aset. Namun bagaimana perlakuan
akuntansinya?

Apakah tunduk pada PSAK 19 tentang Aset Tak Berwujud? Bitcoin adalah Aset Tak
Berwujud yang bersifat lancar karena transaksinya biasanya kurang dari 1 tahun sedangkan
PSAK 19 lebih mengatur tentang aset tak berwujud untuk kategori tidak lancar yang
dimanfaatkan atau digunakan oleh perusahaan. Misalnya hak paten, merk, royalti, piranti
lunak, dan sebagainya. Maka, Bitcoin tidak sesuai untuk menggunakan PSAK 19. Lantas
PSAK mana yang sesuai untuk dijadikan standard? Berikut adalah ulasan sesuai dengan
kondisinya:

1. Bila entitas memiliki Bitcoin sebagai alat pembayaran, maka bitcoin akan memenuhi
kriteria sebagai aset tersedia untuk dijual sehingga akan dikecualikan dari ruang lingkup
PSAK 19 dan akan tunduk pada PSAK 58.
2. Bila entitas memiliki bitcoin dimana fokusnya untuk jual beli Bitcoin mungkin saja dapat
menggunakan PSAK 14 Persediaan.
3. Namun bila entitas yang memiliki Bitcoin bertindak sebagai broker atau trader maka PSAK
14 mengecualikan pengukurannya dan meminta entitas untuk mengukur komoditasnya
dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dengan selisih nilai wajar diakui dalam
laba rugi. Hal ini dengan asumsi Bitcoin dianggap sebagai komoditas seperti emas
batangan.

d. Pengukuran BitCoin berdasarkan kerangka (termasuk penghitungannya)

Dalam Kerangka Konseptual IFRS terbaru Maret 2018, tidak mewajibkan secara rinci
mengenai basis pengukuran yang harus digunakan untuk tiap jenis aset. Entitas
diperbolehkan memilih basis pengukuran yang tersedia, baik historical cost maupun current
cost, sepanjang informasi yang dihasilkan relevan dan memenuhi konsep faithfull
representation. Pemilihan basis pengukuran untuk bitcoin dan cryptocurrency lainnya harus
memperhatikan karakter informasi yang ingin dihasilkan dan karakter dari bitcoin itu sendiri.

Kerangka Konseptual menyebutkan dalam pasal 6.43 dan 6.45:

“Dalam memilih basis pengukuran untuk aset atau liabilitas dan untuk pendapatan dan
pengeluaran terkait, perlu mempertimbangkan sifat dari informasi yang akan dihasilkan
basis pengukuran baik dalam pernyataan posisi keuangan dan pernyataan kinerja keuangan
, serta faktor lainnya” - 6.43

“Informasi yang disediakan oleh basis pengukuran harus berguna bagi pengguna laporan
keuangan. Untuk mencapai hal ini, informasi harus relevan dan harus mewakili dengan tepat
apa yang dimaksudkan untuk diwakilkan. Selain itu, informasi yang diberikan harus, sedapat
mungkin, dapat dibandingkan, dapat diverifikasi, tepat waktu, dan dapat dimengerti. ” – 6.45

Relevansi informasi yang disediakan dari basis pengukuran bergantung pada dua hal,
yaitu karakteristik aset dan kontribusinya pada cash flow di masa depan. Maka, pertama-tama,
kita harus tau terlebih dahulu bagaimana karakteristik bitcoin.

e. Karakteristik Bitcoin

Umummnya Bitcoin sendiri dapat dianggap sebagai uang tunai di dunia internet. Bitcoin
dapat memiliki nilai karena didukung oleh sifat matematika, dan memiliki sifat uang (tahan
lama, ringkas, bisa ditukarkan, langka, bisa dibagi, dan bisa dikenali) berdasarkan rumus
matematika. Harga bitcoin murni ditentukan oleh permintaan dan penawaran.

Bitcoin sendiri memiliki risiko tinggi dan potensi menjadi tidak berharga, sebagaimana
yang disebutkan dalam situsnya pada laman bitcoin.org. Laman tersebut menyebutkan
bahwa harga bitcoin dapat naik turun secara tidak terduga dalam waktu yang sangat singkat,
serta memiliki risiko yang sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat secara langsung pada tahun 2017,
dimana nilai bitcoin pada awal tahun yang kurang dari US$1000 meningkat menjadi
US$19.783.06 di akhir tahun.

Dalam hal keamanan, sampai saat ini kemanan kriptografi bitcoin masih terbukti ampuh.
Namun, bukan berarti di masa depan keamanan sistem akan selalu stabil. Jika suatu saat
kemaanan hancur dan bitcoin menjadi tidak bernilai, maka entitas akan menanggung kerugian
yang sangat besar, karena tidak ada aset nyata yang dipegang, melainkan hanya ”digital trail”
saja. Sementara itu, kelemahan utama bitcoin adalah pada kesalahan penggunanya, dimana
data wallet bitcoin dapat terhapus, hilang, atau dicuri.
f. Basis Pengukuran yang tepat

Apabila ditinjau dari karakteristik dan risiko dari bitcoin, maka menurut kami, sebenarnya
historical cost tidak memberikan informasi yang relevan kepada pengguna laporan keuangan.
Pada initial recognition, karena sifatnya sebagai aset tak berwujud, bitcoin memang diukur
berdasarkan nilai perolehannya. Pada periode setelah initial recognition, menurut kami, yang
paling tepat adalah bitcoin diukur berdasarkan fair value-nya. Hal ini berdasarkan pedoman
pada kerangka konseptual:

“Jika nilai suatu aset atau liabilitas sensitif terhadap faktor pasar atau risiko lainnya, biaya
historisnya mungkin berbeda secara signifikan dari nilainya saat ini. Akibatnya, biaya historis
mungkin tidak memberikan informasi yang relevan jika informasi tentang perubahan nilai
penting bagi pengguna laporan keuangan.” 6-51

““Untuk aset dan liabilitas yang menghasilkan arus kas secara langsung, seperti aset yang
dapat dijual secara independen dan tanpa penalti ekonomi yang signifikan (misalnya, tanpa
gangguan bisnis yang signifikan), basis pengukuran yang memberikan informasi paling
relevan kemungkinan akan menjadi arus nilai yang menggabungkan perkiraan saat ini dari
jumlah, waktu dan ketidakpastian arus kas masa depan.” 6-56

Baik sebagai persediaan maupun intangible asset, bitcoin seharusnya diukur


berdasarkan nilai wajar. Bagi trader atau broker, bitcoin sebagai persediaan atau komoditas
dihitung berdarakan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dengan selisih nilai wajar diakui
dalam laba rugi.

Sementara, jika dikelompokkan sebagai Intangible asset, bitcoin pada awalnya diukur
berdasarkan at cost. Namun, entitas masih dapat menggunakan fair value jika dapat
menjustifikasi terdapat pasar aktif untuk bitcoin sebagai acuan perubahan nilai bitcoin pada
akhir periode. Jika terdapat kenaikan nilai maka akan catat pada OCI, sedangkan jika rugi
maka akan dicatat pada laporan laba rugi.

g. Penyajian dan Pengungkapan Bitcoin

Penyajian bitcoin dan cryptocurrency lainnya oleh entitas jika nilainya material dan dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan pengguna laporan keuangan. Penyajiannya di
laporan keuangan bergantung pada klasifikasi yang digunakan entitas, apakah termasuk
intangible asset atau persediaan. Baik dalam intangible asset maupun persediaan, menurut
kami, bitcoin dan cryptocurrency harus disajikan secara terpisah dari kelompok lainnya.Hal ini
dilakukan karena karakteristik cryptocurrency berbeda dengan kelompok aset tak berwujud
atau persediaan lainnya.

Penggabungan penyajian akan mengaburkan relevansi informasi, mengurangi


kepemahaman serta bisa jadi tidak memenuhi prinsip faithfull representation, sebagaimana
yang disebutkan dalam Kerangka Konseptual pasal 7.9:

“Klasifikasi diterapkan pada unit akun yang dipilih untuk suatu aset atau liabilitas. Namun,
kadang-kadang mungkin tepat untuk memisahkan aset atau kewajiban ke dalam komponen
yang memiliki karakteristik berbeda dan mengklasifikasikan komponen-komponen itu secara
terpisah. Itu akan tepat ketika mengklasifikasikan komponen-komponen itu secara terpisah
akan meningkatkan kegunaan informasi keuangan yang dihasilkan. Sebagai contoh, itu
mungkin tepat untuk memisahkan aset atau kewajiban ke dalam komponen saat ini dan
tidak lancar dan untuk mengklasifikasikan komponen-komponen itu secara terpisah.”- 7.9

Pada catatan atas laporan keuangan, entitas juga harus mencantumkan informasi yang
relevan terkait bitcoin. Minimalnya, mengungkapkan alasan kenapa entitas menggunakan
bitcoin, bagimana kesesuaiannya dengan model bisnis, dan bagaimana risikonya dimitigasi.
Hal ini dilakukan untuk memberikan kelengkapan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna
laporan keuangan.

h. Simpulan
 Bitcoin diklasifikasikan sebagai aset tersedia untuk dijual apabila digunakan sebagai
alat pembayaran
 Belum pedoman atau standar eksplisit untuk pencatatan bitcoin dan cryptocurrency
lainnya.
 Kekosongan pedoman atau standar tersebut mengharuskan entitas berpedoman pada
standar lain yang sesuai atau serupa dengan karakteristik bitcoin, dalam hal ini adalah
intangible asset dan/atau persediaan.
 Bitcoin memiliki risiko yang besar dan perubahan harga yang fluktuatif, sehingga basis
pengukuran yang tepat adalah current value, dalam hal ini adalah fair value.
 Pengungkapan pada catatan atas laporan keuangan berupa alasan penggunaan,
kesesuaian dengan model bisnis, dan mitigasi risiko.
 Bitcoin dan cryptocurrency lainnya harus disajikan dalam laporan keuangan
berdasarkan klasifikasi yang digunakan, apakah intangible asset atau persediaan.
Penyajian dipisahkan dari kelompok lainnya karena karakteristiknya berbeda

i. Referensi

https://bisnis.tempo.co/read/1040241/membuat-sri-mulyani-khawatir-apa-itu-
bitcoin/full&view=ok
https://blog.indodax.com/apa-itu-bitcoin/
http://etw-accountant.com/mengagas-akuntansi-untuk-cryptocurrencies/
http://fortune.com/2017/12/17/bitcoin-record-high-short-of-20000/
http://www.businessinsider.com/merchants-arent-accepting-bitcoin-2017-7/?IR=T
https://www.gold.org/what-we-do/official-institutions/accounting-for-gold
https://support.zebpay.com/hc/en-us/articles/208092049-Treatment-of-bitcoin-in-accounting-
books
https://ion.icaew.com/talkaccountancy/b/weblog/posts/accounting-for-bitcoin
https://bitcoin.org/id/yang-perlu-anda-ketahui
https://www.capium.com/accounting-bitcoin/
https://pwc.blogs.com/ifrs/2017/11/accounting-for-cryptocurrency.html
https://www.accaglobal.com/us/en/member/discover/cpd-articles/financial-
management/bitcoinacc-cpd.html
Chabot, Raymond dan Grant Thornton. Adviser Alert – IFRS Viewpoint – Accounting for
Cryptocurrencies – The Basics. May 2018.

IFRS Conceptual Framework for Financial Reporting March 2018


Chartered Proffessional Accountants Canada. An Introduction to Accounting for
Cryptocurrencies. May 2018.
IFRS news: Cracking the cryptocurrency code; or what is a ‘bitcoin’ anyway? Edition March
2017