Anda di halaman 1dari 5

Batuan metamorf

A. Pendahuluan
Metamorfisme adalah proses perubahan mineralogi batuan pada kondisi padat
(solid), akibat perbedaan suhu dan tekanan pada kondisi tertentu dengan kondisi baru.
Proses ini diluar proses pelapukan dan diagenesa (Wingkler, 1967). Proses metamorfisme
ini berlangsung dalam kondisi isokimia. Batuan metamorf adalah batuan yang mengalami
proses metamorfisme.

B. Tipe Metamorfisme
Ditinjau dari setting geologi, tipe metamorfisme dapat dibagi menjadi dua bagian
yaitu metamorfisme yang terjadi secara lokal dan metamorfisme yang terjadi regional
(Wingkler, 1967).
• Metamorfisme secara lokal
Tipe metorfisme ini terbagi menjadi 2, yaitu
1. Metamorfisme kontak
Metamorfisme ini terjadi karena adanya intrusi magma. Karakter
metmorfisme ini yaitu tekanan rendah dengan suhu tinggi, sehingga jarang
ditemukan hasil metamorfisme tipe ini yang mempunyai orientasi. Hasil
metamorfisme jenis ini secara umum dikenal hornfels, dengan tekstur
hornfelsik yaitu batuan metamorf yang tersusun oleh pecahan ( splintery )
kristal berukuran halus. Luasan dari metamorfisme kontak sangat
tergantung dimensi dari intrusi magma, semakin besar dimensi maka
daerah pengaruh akan semakin lebar.
2. metamorfisme kataklastik
Metamorfisme ini terjadi di sepanjang zona sesar ( shear zone ). Karakter
tipe metamorfisme ini yaitu tekanan tinggi dengan suhu rendah. Tekanan
dihasilkan oleh gerusan antar batuan. Perubahan kimia tidak terjadi secara
signifikan. Tekstur yang dihasilkan berupa mylonytict.

• Metamorfisme secara regional


Tipe metamorfisme ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu metamorfisme regional
dinemotermal dan metamorfisme burial.

1
1. Metamorfisme regional dinamotermal
Metamorfisme ini terjadi secara luas dan berasosiasi dengan proses
orogenesa ( misalnya pembentukan pegunungan ). Karakter tipe
metamorfisme ini yaitu suhu tinggi dan tekanan tinggi. Daerah dengan
metamorfisme tipe ini berada sepanjang jalur orogenesa atau zona
penunjaman. Tekanan tinggi dihasilkan dari proses penunjaman dan suhu
tinggi dihasilkan dari friksi antar lempeng dan juga magma yang dihasilkan
baik oleh peleburan sebagian ( patial melting ) atau berasal dari mantel.
Pengaruh tekanan dan suhu tersebut meningkat secara menerus dari zona 1
yang paling dangkal ke zona lainnya yang lebih dalam. Batuan yang
dihasilkan dari proses ini menunjukkan efek kuat dari tekanan searah, yaitu
berupa struktur foliasi.
2. Metamorfisme burial
Metamorfisme tipe ini terjadi karena pembebanan batuan sedimen atau
batuan volkanik pada suatu cekungan. Suhu pada metamorfisme ini
berkisar antara 400° - 450° C. Perubahan tekstur batuan tidak banyak
berubah secara megaskopis, tetapi secara mikroskopis perubahan akan
dapat diamati.
C. Tekstur batuan metamorf
Tekstur batuan metamorf secara umum dibagi menjadi dua yaitu tekstur
kristaloblastik dan tekstur sisa (relict).
• Tekstur kristaloblastik
Merupakan tekstur yang terbentuk oleh proses metamorfisme. Tekstur ini sudah
berbeda dengan tekstur batuan asalnya ( protolith ).
Macam – macam tekstur kristaloblastik :
- Lepidoblastik, adalah tekstur batuan metamorf dengan mineral – mineral penyusun
berbentuk tabular.
- Nematoblastik, adalah tekstur batuan metamorf dengan mineral – mineral
penyusun berbentuk prismatik.
- Granoblastik – granular, dalam tekstur ini tersusun oleh butiran yang relatif
equidimensional (granular) dengan batas kristal suture ( jackson, 1970 ).
- Granuloblastik, tekstur ini tersusun oleh butiran yang ralatif equidimensional
(granular) dengan batas kristal unsuture.
- Granoblastik – polygonal,
- Dekusat, tekatur granoblastik dengan individu kristalnya cenderung berbentuk
subidioblastik, prismatik dan tersusun secara acak.
2
- Porpiroblastik, tektur dengan mineral besar di dalam mineral kecil
- Tekstur mortar, tektur batuan metamorf akibat penggerusan
• Tekstur sisa ( relict )
Merupakan tekstur batuan metamorf yang masih memperlihatkan tekstur batuan
asalnya. Penamaan tekstur ini menambahkan kata Blasto - .

Bentuk butir
• Idioblastik, kristal dibatasi oleh bidangnya sendiri ( seperti euhedra pada batuan
beku ).
• Hypidioblastik, sebagian bidang batas kristal adalah bidang batas kristal lainnya
( seperti subhedra pada batuan beku ).
• Xenoblastik, seluruh bidang batas kristal adalah bidang batas kristal lainnya ( seperti
anhedra pada batuan beku ).

3
D. Struktur
Struktur batuan metamorf terbagi menjadi dua jenis yaitu struktur foliasi dan struktur
nonfoliasi.
• Struktur foliasi
Struktur foliasi adalah struktur batuan metamorf yang menampakkan penjajaran
mineral mineral.
- Slaty cleavage
Merupakan struktur foliasi planar yang
dijumpai sebagai bidang – bidang belah.

- Phylitic
Merupakan struktur foliasi dengan tingkat
rekristalisasi lebih kasar daripada slaty
cleavage.

4
- Schystossis
Merupakan struktur foliasi yang terdiri dari
perulangan mineral pipih ( missal muskovit,
klorit ) dengan mineral granular ( missal
kuarsa, feldspar ) dengan mineral pipih
bersifat menerus. Struktur ini disebut juga
closed schystossis.

- Gneissose
Merupakan struktur foliasi dengan
kenampakan berupa perulangan mineral pipih
dengan mineral granular. Foliasi tidak
menerus dan terpotong oleh kristal granular.
Strukur ini disebut juga sebgai struktur open
schystossis.

• Struktur nonfoliasi
Struktur ini tidak menunjukkan adanya penjajaran mineral – mineral dalam batuan
metamorf.
- Hornfelsic
Yaitu struktur non foliasi, tersusun oleh
mineral – mineral ekuidimensional,
berbentuk mozaik.

- Mylonitic
Struktur dengan ukuran butir halus, matriks
tergerus, gores – gores garis kuat, terdapat
kenampakan seperti mata ( augen ).

- Phylonitic
Gejala dan kenampakan seperti mylonitic,
mulai terjadi rekristalisasi