Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS

GASTRITIS

IDENTITAS PASIEN

Nama : Pipa, Ny
Jenis kelamin : Perempuan
Tanggal lahir : 04 Februari 1961
Umur : 54 tahun
Nomor RM : 049692
Alamat : Jl. Sepakat No.6
Tanggal masuk : 17 November 2015

I. SUBJEKTIF

Anamnesis : Heteroanamnesis
Keluhan Utama : Heteroanamnesis
Keluhan utama : Nyeri ulu hati
Anamnesis Terpimpin
Nyeri ulu hati dirasakan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri
ulu hati di rasakan hilang timbul, nyeri dirasakan terutama sebelum makan. Nyeri
seperti tertusuk-tusuk, tembus ke belakang. Disertai perut kembung, mual dan
muntah. Muntah berisi sisa makanan dan minum, frekuensi 8 kali. Pasien
mengaku muntah terjadi sesaat setelah makan. Demam tidak ada, sakit kepala

1
tidak ada, batuk tidak ada. Pasien mengalami penurunan nafsu makan dan merasa
lemah. Pasien memiliki kebiasaan mengkonsumsi obat anti nyeri tanpa resep
dokter untuk mengobati nyeri kepala dan nyeri sendi.
BAB : Konsistensi lembek, warna kuning, riwayat BAB hitam tidak ada.
BAK : lancar, warna kuning. Nyeri saat berkemih tidak ada.
-Riwayat menderita keluhan yang sama ada sejak 1 tahun yang lalu.
-Riwayat pengobatan tidak ada.
-Riwayat dengan keluhan yang sama di dalam keluarga tidak ada.

II. OBJEKTIF
 Status Present : Sakit Sedang/Gizi baik/Compos mentis
 BB : 72 kg
 TB : 150 cm
 IMT : 32 kg/m2 (Obesitas 2)
 Tanda Vital :
o Tensi : 130/80 mmHg
o Nadi : 82 x/menit
o Pernapasan : 22 x/menit
o Suhu : 36.8°C
 Kepala
o Ekspresi : Biasa
o Simetris muka : Simetris kiri=kanan
o Deformitas : (-)
o Rambut : Hitam, lurus, sukar dicabut
 Mata
o Eksoftalmus/enoftalmus : (-)
o Gerakan : Dalam batas normal
o Tekanan bola mata : Tidak dilakukan pemeriksaan
o Kelopak mata : Edema -/-
o Konjungtiva : Anemis -/-
o Kornea : Jernih
o Sklera : Ikterus -/-
o Pupil : Bulat, isokor, Ɵ 2,5mm/ Ɵ 2,5mm

 Telinga
o Tophi : (-)
o Pendengaran : Dalam batas normal
o Nyeri tekan di prosessus mastoideus : (-)
 Hidung
o Perdarahan : (-)

2
o Sekret : (-)
 Mulut
o Bibir : Sianosis (-), kering (-)
o Tonsil : T1-T1, hiperemis (-)
o Gigi geligi : Caries (-)
o Farings : Hiperemis (-)
o Gusi : Perdarahan (-), hipertrofi (-)
o Lidah : Kotor (-)
 Leher
o Kelenjar getah bening : Tidak ada pembesaran
o Kelenjar gondok : Tidak ada pembesaran
o DVS : R-1 cm H2O
o Pembuluh darah : Tidak ada kelainan
o Kaku kuduk : (-)
o Tumor : (-)
 Dada
o Inspeksi
 Bentuk : Normochest, simetris kiri=kanan
 Pembuluh darah : Tidak ada kelainan
 Buah dada : Simetris kiri=kanan, gynecomasti (-)
 Sela iga : Dalam batas normal
 Paru
o Palpasi
 Fremitus raba : Kiri=kanan
 Nyeri tekan : (-)
o Perkusi
 Paru kiri : Sonor
 Paru kanan : Sonor
 Batas paru hepar : ICS VI dextra anterior
 Batas paru belakang kanan : CV Th. IX dextra
 Batas paru belakang kiri : CV Th. X sinistra
o Auskultasi
 Bunyi pernapasan : Vesikuler
 Bunyi tambahan : Rh -/- Wh -/-
 Jantung
o Inspeksi : Ictus Cordis tidak tampak
o Palpasi : Ictus Cordis tidak teraba
o Perkusi : Pekak
: Batas kanan : Linea parasternalis dextra
: Batas Kiri : Linea midclavicula sinistra
: Batas Atas : ICS II sinistra
: Batas Bawah : ICS V sinistra

3
o Auskultasi : BJ I/II murni regular, bising (-)
 Abdomen
o Inspeksi : Datar, ikut gerak napas
o Palpasi : Nyeri tekan epigastrium (+), massa tumor (-)
 Hepar : Tidak teraba
 Lien : Tidak teraba
 Ginjal : Tidak ada Ballotement
o Perkusi : Timpani (+)
o Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal

 Punggung :
o Palpasi : Nyeri tekan (-), massa tumor (-), deformitas (-).
o Nyeri ketok : (-)
o Auskultasi : BP: vesicular, Rh -/- Wh -/-
o Gerakan : Dalam batas normal
 Alat Kelamin : Tidak dilakukan pemeriksaan.
 Anus dan Rektum : Tidak dilakukan pemeriksaan.
 Ekstremitas : Pitting edema -/-

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG

HASIL LABORATORIUM ( 17 November 2015 )

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal


Darah Lengkap
Hemoglobin 12,5 g/dl 12 – 14
Hematokrit 38,7 % 37 – 47
Eritrosit 4,170,00 10^6/µl 4,5 - 5,5
Leukosit 8,6 10^3/µl 4,0 - 10,0
Hitung Jenis
N.Segmen 55 % 51 – 67
Limfosit 14 % 20 – 30
Monosit 19 % 6 – 92
Trombosit 316 10^3/µl 150,000 - 450,000
Faal Ginjal
Ureum 18 Mg/dl 10 - 50
Creatinin 0.5 Mg/dl 0,5 – 0,9
Faal Hati
SGOT 36 U/L 0 - 37

4
SGPT 32 U/L 0 - 42
Metabolisme 76 Mg/dl <110
Karbohidrat
Glukosa sewaktu

V. RESUME
Perempuan berusia 54 tahun masuk dengan keluhan nyeri ulu hari sejak 3 hari
sebelum masuk rumah sakit, nyeri tembus belakang, riwayat konsumsi
analgetik tanpa resep dokter untuk mengobati cephalgia dan mialgia. Mual(+),
muntah(+) frekuensi 8x, malaise (+), nyeri kepala(-). Dari hasil pemeriksaan
fisis tanda vital dalam batas normal, nyeri tekan epigastrium(+). Pasien
memiliki riwayat dengan keluhan yang sama 1 tahun yang lalu. Riwayat
pengobatan tidak ada. Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama tidak ada.

VI. ASSESMENT
Diagnosis Kerja Diagnosis banding
1. Gatritis 1. Tukak lambung
2. GERD

VII. PLANNING
a. Rencana Terapi
- Infus NaCl 0,9% 18 tetes/menit
- Omeprazole 40 mg/12jam/intravena
- Sotatic 1 ampul/8jam/intravena
- Ranitidin 25mg/12jam/intravena
b. Rencana Diagnosis
- Pemeriksaan darah rutin
- Pemeriksaan Endoskopi

IX. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

X. ANALISA KASUS

5
Gastritis umumnya tanpa gejala. Mereka yang mempunyai keluhan
biasanya berupa keluhan yang tidak khas. Keluhan yang sering dihubung-
hubungkan dengan gastritis adalah nyeri panas dan pedih di ulu hati disertai mual
dan muntah. Pada pasien didapatkan keluhan nyeri ulu hati sejak 3 hari yang lalu,
disertai mual dan muntah dengan frekuensi 8 kali berisi sisa makanan dan minum.
Tidak ada keluhan demam, dan nyeri kepala. Dari pemeriksaan fisik didapatkan
nyeri tekan midepigastrium ada dan tanda vital lain dalam batas normal. Pada
pasien ini dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan darah rutin
dengan hasil yang sesuai dengan nilai normal. Selain itu, dilakukan pemeriksaan
endoskopi dengan hasil sebagai berikut :
-Endoskopi
Esophagus
Upper Third : Normal
Middle Third : Normal
Lower Third : Normal

Stomach
Cardia : Normal
Fundus : Normal
Corpus : Normal
Antrum : Patcy Eritem
Pylorus : Intak

Duodenum
1st part : Normal
2nd part : Normal

CONCLUSION : Antralis Gastritis Superfisialis


NOTES : Helicobacter Pylori Positif

6
Hasil pemeriksaan endoskopi

Maka, berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


endoskopi pasien di diagnosa dengan gastritis.
Setelah penegakan diagnosis, pasien akan diberikan rencana terapi.
Berdasarkan penatalaksanaan gastritis, yaitu 1). Diet , 2). Eradikasi H.pylori, dan
3). edukasi dan perubahan gaya hidup. Pada pasien ini terapi yang diberikan yaitu
diet lunak dengan tujuan mengurangi kerja lambung agar mengembalikan rasa
nyaman dan kesehatan pasien secara optimal. Pengobatan juga diberikan
eradikasi/ anti H.pylori yaitu, Omeprazole 40mg/12jam/intravena diberikan
dengan tujuan mengurangi produksi asam lambung, Ranitidin
25mg/12jam/intravena diberikan dengan tujuan menghambat seksresi asam
lambung. Selain itu, diberikan sotatic 1 ampul/8jam/intravena dengan tujuan
mengurangi rasa mual dan muntah pada pasien. Ada pun edukasi yang di berikan
kepada pasien yaitu merubah gaya hidup dengan makan teratur dengan porsi yang

7
cukup serta menghindari makanan yang merangsang produksi asam lambung
seperti makanan terlalu asam dan terlalu pedas.

PENDAHULUAN

8
Gastrtitis merupakan gangguan kesehatan yang paling sering di jumpai di
klinik, karena diagnosisnya sering hanya berdasarkan gejalan klinis bukan
pemeriksaan histopatologis. Pada sebagian besar kasus inflamasi mukosa gaster
tidak berkorelasi dengan keluhan dan gejala klinis pasien. Sebaliknya, keluhan
dan gejala klinis pasien berkolerasi positif dengan komplikasi gastritis.

TINJAUAN PUSTAKA

I. Definisi
Gastritis adalah suatu proses inflamasi atau peradangan pada lapisan
mukosa lambung sebagai mekanisme proteksi mukosa apabila terdapat akumulasi
bakteri atau bahan iritan lain. Proses inflamasi dapat bersifat akut, kronis, difus,
atau lokal.

II. Epidemiologi
Gatritis merupakan suatu masalah kesehatan yang umum terjadi, hampir
10% dari orang-orang yang di rawat di unit gawat darurat rumah sakit di
Indonesia. Badan penelitian kesehatan dunia (WHO) tahun 2011 melakukan
tinjauan terhadap beberapa negara di dunia dan mendapatkan hasil presentase
angka kejadian gastritis di Inggris 22%, China 31%, Kanada 35%, Perancis
29,5%.
Di dunia, insiden gastritis sekitar 1,8 - 2,1 juta dari jumlah penduduk
setiap tahunnya. Prevalensi gastritis yang di konfirmasi melalui endoskopi pada
populasi di Shanghai sekitar 17,2% yang secara substantial lebih tinggi daripada
populasi di barat yang berkisar 4,1% dan bersifat asimptomatik.
Angka kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO pada tahun 2011 adalah
40,8%. Angka kejadian beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan
prevalensi 274.396 kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk. Berdasarkan profile
kesehatan di Indonesia tahun 2011, merupakan salah satu penyakit dalam 10

9
penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan
jumlah 30.154 kasus atau sekitar 4,9%.

III. Etiologi
1) Infeksi bakteri; seperti H. pylori (paling sering), H. heilmanii, Streptococci,
Staphylococci, Protecus species, Clostridium species, E.coli, Tuberculosis,
dan secondary syphilis
2) Infeksi virus oleh Sitomegalovirus.
3) Infeksi jamur; seperti Candidiasis, Histoplasmosis, dan Phycomycosis.
4) Iskemia, akibat penurunan aliran darah ke lambung, trauma langsung pada
lambung, berhubungan dengan keseimbangan antara agresi dan mekanisme
pertahanan untuk menjaga integritas mukosa, yang dapat menimbulkan
respons peradangan pada mukosa lambung.
5) Makanan dan minuman yang bersifat iritan. Makanan berbumbu dan
minuman dengan kandungan kafein dan alcohol merupakan agen-agen
penyebab iritasi mukosa lambung.
6) Kondisi imunologi (autoimun) didasarkan pada kenyataan, terdapat kira-
kira 60% serum pasien gastritis kronik mempunyai antibodi terhadap sel
parietalnya.
7) Gastropati akibat kimia, dihubungkan dengan kondisi refluk garam empedu
kronis dan kontak dengan OAINS (Indomestasin, Ibuprofen, dan Asam
Salisilat), Sulfonamide, Steroid, Kokain, agen kemoterapi (Mitomisin, 5-
fluoro-2-deoxyuridine), Salisilat, dan Digitalis bersifat mengiritasi mukosa
lambung atau Aspirin
8) Gastritis granuloma non-infeksi kronis yang berhubungan dengan berbagai
penyakit, meliputi penyakit Crohn, Sarkoidosis, Wegener granulomatus,
penggunaan kokain, Isolated granulomatous gastritis, penyakit
granulomatus kronik pada masa anak-anak, Eosinophilic granuloma,
Allergic granulomatosis dan vasculitis, Plasma cell granulomas,
Rheumatoid nodules, Tumor amyloidosis, dan granulomas yang
berhubungan dengan kanker lambung.

10
IV. Patogenesis
Patogenesis gastritis yaitu mukosa barier lambung umumnya melindungi
lambung dari pencernaan terhadap lambung itu sendiri, yang disebut proses
autodigesti acid, prostaglandin yang memberikan perlindungan ini. Ketika
mukosa barier ini rusak maka timbul gastritis. Setelah barier ini rusak terjadilah
perlukaan mukosa dan diperburuk oleh histamin dan stimulasi saraf colinergic.
Kemudian HCL dapat berdifusi balik kedalam mukus dan menyebabkan luka pada
pembuluh yang kecil, yang mengakibatkan terjadinya bengkak, perdarahan, dan
erosi pada lambung. Alkohol, aspirin dan refluk isi duodenal diketahui sebagai
penghambat difusi barier.
Pada keadaan normal, asam lambung dan pepsin tidak akan menyebabkan
kerusakan mukosa lambung dan duodenum. Bila oleh karena sesuatu sebab
ketahanan mukosa rusak (misalnya karena salisilat, empedu, iskemia mukosa)
maka akan terjadi difusi balik H+ dari lumen masuk ke dalam mukosa. Difusi
balik H+ akan menyebabkan reaksi berantai yang dapat merusak mukosa lambung
dan menyebabkan pepsin dilepas dalam jumlah besar.
Na+ dan protein plasma banyak yang masuk kedalam lumen dan terjadi
pelepasan histamin. Selanjutnya terjadi peningkatan sekresi asam lambung oleh
sel parietal, peningkatan permeabilitas kapiler, oedema dan perdarahan. Di
samping itu akan merangsang parasimpatik lokal akibat sekresi asam lambung
makin meningkat dan tonus muskularis mukosa meninggi, sehingga kongesti vena
makin hebat dan menyebabkan perdarahan. Keadaan ini merupakan lingkaran
setan yang menyebabkan kerusakan mukosa makin berlanjut, dapat terjadi erosi
superfisial atau ulserasi.

Iritasi pada mukosa yang berlangsung lama menyebabkan kerusakan mukosa


yang berulang-ulang sehingga dapat terjadi radang lambung kronis dan tukak
lambung. Hal ini terjadi misalnya pada pecandu alkohol, perokok, pengguna
analgetik non steroid jangka panjang dan refluks empedu. Keadaan serupa terjadi
juga pada fungsi pengosongan lambung yang lambat, sehingga mukosa lambung
kontak lama dengan isi lambung.

11
V. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinik gastritis terbagi menjadi yaitu gastritis akut dan gastritis kronik.
a. Manifestasi klinik gastritis akut
Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung, muntah,
merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan pula
perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena, kemudian disusul
dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya, jika dilakukan
anamnesis lebih dalam, terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan
kimia tertentu.

b. Manifestasi klinik gastritis kronik


Kebanyakan pasien tidak mempunyai keluhan. Hanya sebagian kecil
mengeluh nyeri ulu hati, anoreksia, nausea, dan pada pemeriksaan fisik tidak
dijumpai kelainan.

VI. Diagnosa
Kebanyakan gastritis tanpa gejala. Mereka yang mempunyai keluhan
biasanya berupa keluhan yang tidak khas. Keluhan yang sering diohubung-
hubungkan dengan gastritis adalah nyeri panas dan pedih diulu hati disertai mual
kadang-kadang sampai muntah. Keluhan-keluhan tersebut juga tidak dapat
digunakan sebagai alat evaluasi keberhasilan pengobatan. Pemeriksaan fisis juga
tidak dapat memberikan informasi yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan endoskopi dan histopatologi.
Sebaiknya biopsi dilakukan dengan sistematis sesuai dengan update sydney
system yang mengharuskan mencantumkan topografi. Gambaran endoskopi yang
dapat dijumpai adalah eritema, eksudatif, flat erosion, raised erosion, perdarahan,
edematous rugae. Perubahan-perubahan histopatologi selain menggambarkan
perubahan morfologi sering juga menggambarkan proses yang mendasari,
misalnya otoimun atau respon adaptif mukosa lambung. Peubahan-perubahan
yang terjadi berupa degradasi epitel, hyperplasia foveolar, infiltrasi netrofil,

12
inflamasi sel mononuklear, folikel limpoid, atropi, intestinal metaplasia,
hyperplasia sel endokrin, kerusakan sel parietal.

VII. Diagnosis Banding

Diagnosa banding penyakit gastritis yaitu:

1) Tukak duodenum
2) GERD (gastroesophageal reflux disease)

3) Ulkus peptikum

VIII. Penatalaksanaan
Gastritis kronik
1) Eradikasi Helicobacter pylori
2) Eradikasi dikombinasikan dengan penghambat pompa proton dan antibiotik.
Antibiotik dapat berupa tetrasiklin, metronidasol, klaritromisin dan
amoksisilin. Untuk hasil pengobatan yang lebih baik dapat digunakan lebih
dari satu macam antibiotik.
3) Antagonis H2 (seperti ranitidin) dikombinasikan dengan penghambat pompa
proton dapat menurunkan sekresi asam lambung
4) Pemberian vitamin B12 melalui parenteral untuk memperbaiki keadaan
anemianya.

Pengobatan gastritis akibat infeksi kuman Helicobacter pylori bertujuan untuk


melakukan radikasi kuman tersebut. Eradikasi dilakukan dengan kombinasi
antaraberbagai antibiotik dan proton pump inhibitor (PPI). Antibiotika yang
dianjurkan adalah klaritomisin, amoksisilin, metronidazole, dan tetrasiklin. Bila
PPI dan kombinasi 2 antibiotika gagal dianjurkan menambahkan bismuth
subsalisilat/subsitral. Regimen tersebut diberikan selama 7 hari.

Gastritis Akut
1) Pemberian antasida
Mengatasi perasaan begah (penuh) dan tidak enak di abdomen dan
menetralisir asam lambung dengan meningkatan pH lambung sekitar 4-6.

13
2) Gastrektomi adalah pembedahan gaster dengan indikasi absolut.

IX.Komplikasi

Komplikasi yang paling sering ditimbulkan pada penyakit gastritis yaitu:

-Perdarahan saluran cerna bagian atas

-Ulkus peptikum

-Perforasi lambung

-Anemia

X.Prognosis

Prognosis sangan tergantung pada kondisi pasien saat datang, ada/tidaknya


komplikasi, dan pengobatannya. Umumnya prognosis gastritis adalah bonam asal
penderita cepat berobat. Namun, penyakit gastritis dapat terjadi berulang bila pola
hidup tidak berubah. Mortalitas pada penderita yang dirawat ialah 6%.

DAFTAR PUSTAKA

14
1. Sudoyo, Aru, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Edisi V.
Jakarta: Interna Publishing. 2009.
2. Tanto, Chris, dkk. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ke-4. Jakarta: Media
Aesculapius. 2014.
3. Price, Sylvia, Anderson dan Wilson. Loraine M. C. Patofisiologi: Konsep
Klinis Prises-Proses Penyakit Edisi 6 Vol 2. Jakarta: EGC. 2006.
4. Allison MC, Howaston AG, Caaroline MB et al. gastrointestinal damage
associated with the use of nonsteroidal anti inflammatory drugs. NL Med J.
1992;237:749-63.
5. Panduan praktik klinik dokter di fasilitas layanan primer. Edisi 1. 2013. Hal
109-111.
6. Sutadi, Sri Maryuni. Gastritis. Divisi Gastroenterologi dan Hepatologi FK
USU/RSUP Adam Malik
Gastritits Alvailable from http://www.medscape.com/viewarticle/410726_2.
Diakses tanggan 19 November 2015

15